Tuesday, January 27, 2009

Kebanyakan manusia memahami kewajiban sebagai beban berat yang harus dipikul dan dipertanggungjawabkan di hadapan pemberi kewajiban itu. Sehingga yang terbayang adalah pemberat-pemberat yang ada di pundak bahunya. Dan semakin banyak kewajiban yang ada maka semakin terasa berat pula beban hidupnya. Sungguh kasihan hidup yang penuh beban, selalu merasa dalam penderitaan dan tekanan.


Berbeza dengan orang beriman, ia memahami kewajiban yang telah Allah tetapkan dengan pemahaman yang indah dan menyenangkan, ia memahami kewajiban itu sebagai :
1. Peluang terbesar untuk mendekatkan diri kepada-Nya,
2. Peluang untuk meningkatkan kualiti diri, dan
3. Jalan untuk memperoleh cinta Allah, yang dengan cinta itu manusia akan terjaga dirinya,
4. Menjauhkan diri dari tarikan dunia dan menfokuskan diri pada sikap rabbani.


Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah swt berfirman dalam hadits Qudsi.

Barang siapa yang memusuhi kekasih-Ku maka Aku nyatakan perang kepadanya.
Dan tidak ada amal ibadah yang dilakukan hamba-Ku untuk mendekatkan diri kepada-Ku lebih Aku cintai dari pada kewajiban yang telah Aku tetapkan atasnya. Dan hamba-Ku akan terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka ketika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, mata yang dipergunakan untuk melihat, tangan yang dipergunakan untuk memegang, kaki yang dipergunakan untuk berjalan. Jika ia meminta-Ku pasti akan Aku berikan, dan jika ia meminta perlindungan-Ku pasti akan Aku lindungi.” (HR Bukhari)

Kadar kewajiban
Allah swt telah memberikan kewajiban kepada manusia ini sesuai dengan kapasiti dan kemampuan setiap orang, Firman Allah:


Dan Allah tidak membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan apa yang dimampui.” (QS. 2/Al Baqarah: 286)

Kewajiban guru berbeza dengan kewajiban murid, kewajiban imam berbeza dengan kewajiban makmum, kewajiban orang miskin berbeza dengan kewajiban orang kaya dan sebagainya. Masing-masing telah mendapatkan amanah kewajiban yang sebanding dengan keperluan kebaikan yang hendak dicapai iaitu:


1. Kewajiban dzatiyah (pada diri sendiri) menjadi keperluan orang untuk mendapatkan kualiti peribadi yang baik, sehingga ia menjadi soleh bagi dirinya secara fizikal, intelektual, dan spiritual.


2. Kewajiban kepada Allah, berfungsi untuk tautsiqushshilah (menguatkan hubungan dengan Allah), sehingga setiap saat pertolongan Allah dapat diraih untuk mendapatkan kecemerlangan hidup dunia dan akhirat.


3. Kewajiban kepada sesama manusia berfungsi untuk membina keharmonian kehidupan dalam ikatan nilai dan kebaikan. Kewajiban itu mencakupi:


a. Kewajiban kepada kedua orang tua.
b. Kewajiban suami isteri.
c. Kewajiban kepada anak.
d. Kewajiban kepada kerabat.
e. Kewajiban kepada tetangga.
f. Kewajiban kepada saudara.
g. Kewajiban kepada manusia dan masyarakat pada umumnya.

Dimana posisi kita dari semua kewajiban itu?
1. Jika kita hanya dapat menunaikan kewajiban dzatiyah maka, kita baru dapat mensolehkan diri sendiri, secara fizikal, intelektual, dan spiritual. Dan jika kita tidak mampu mensolehkan diri dalam aspek-aspek penting itu, bagaimana mungkin kita akan mampu mesolehkan orang lain.


2. Jika kewajiban kepada Allah tidak terpenuhi dengan baik, maka akankah ada kedekatan jarak dengan Allah? Jika tidak dekat dengan Allah, akankah pertolongan Allah dapat diterima.


3. Jika kewajiban kepada sesama manusia dalam berbagai statusnya tidak dapat dilaksanakan dengan baik, akankah mereka bersimpati dan bersikap dan bersangka baik dengan kita? Rasulullah saw yang senantiasa bersikap baik, menunaikan kewajiban kemanusiaan kepada siapapun masih juga berhadapan dengan perlakuan yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh manusia kepada baginda saw.


a. Bagaimana mungkin orang tua akan bersimpati dan mahu mendengar ucapan anaknya, jika si anak tidak menunaikan kewajibannya kepada kedua orang tuanya?
b. Bagaimana mungkin pasangan hidup akan mahu menerima dengan utuh pasangannya jika ia tidak menunaikan kewajibannya dengan baik?
c. Akankah anak menghargai dan menghormati kedua orang tuanya dengan ikhlas, jika kedua orang tuanya tidak menunaikan kewajibannya dengan baik?
d. Akankah kerabat kita akan bersimpati jika kewajiban kepada mereka tidak terpenuhi?
e. Akankah tetangga akan menjadi saksi dan pembela yang ikhlas kepada kita, jika kewajiban kepada mereka tidak ditunaikan?
f. Akankah sanak saudara mahu menjadi penolong kesulitan kita, jika kewajiban kepada mereka tidak dilaksanakan?
g. Akankah masyarakat mahu bersama kita dan menghormati kita, jika kewajiban kepada mereka tidak kita berikan?


Dan kita memerlukan mereka semuanya, untuk kepentingan dakwah dan pembinaan kehidupan yang lebih baik dan lebih mulia. Tidak akan bererti apa-apa kesolehan peribadi yang kita bangun tinggi jika tidak memberi kesan atas kesolehan kita kepada lingkungan persekitaran hidup kita

.
Semakin banyak peranan yang ingin kita laksanakan, maka semakin banyak pula kewajiban yang harus kita tegakkan. Banyak peranan dengan sedikit kewajiban yang ditunaikan adalah kebangkrapan, dan banyak kewajiban tanpa peranan yang dilaksanakan adalah kemandulan. Dan kita hanya ingin memiliki muslim yang yang berperanan aktif, produktif, dan dinamik dalam menjana kewibawaan Islam sebagai peneraju kejayaan ummah.

Justeru untuk semua itu, kewajiban yang ada pada kita harus dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh dan penuh bertanggujawab. Hasan al-Banna mewasiatkan agar kita nasihat menasihati satu dengan yang lain dalam masalah menguruskan kewajipan. Katanya: “Kewajipan lebih banyak dari masa. Bantulah orang lain agar mereka memanfaatkan masa mereka. Jika kamu ada urusan (peribadi) lakukanlah dengan ringkas.”


Wallahu a’lam.










Muhasabah Mengurus Kewajipan Dalam Kehidupan

Kebanyakan manusia memahami kewajiban sebagai beban berat yang harus dipikul dan dipertanggungjawabkan di hadapan pemberi kewajiban itu. Sehingga yang terbayang adalah pemberat-pemberat yang ada di pundak bahunya. Dan semakin banyak kewajiban yang ada maka semakin terasa berat pula beban hidupnya. Sungguh kasihan hidup yang penuh beban, selalu merasa dalam penderitaan dan tekanan.


Berbeza dengan orang beriman, ia memahami kewajiban yang telah Allah tetapkan dengan pemahaman yang indah dan menyenangkan, ia memahami kewajiban itu sebagai :
1. Peluang terbesar untuk mendekatkan diri kepada-Nya,
2. Peluang untuk meningkatkan kualiti diri, dan
3. Jalan untuk memperoleh cinta Allah, yang dengan cinta itu manusia akan terjaga dirinya,
4. Menjauhkan diri dari tarikan dunia dan menfokuskan diri pada sikap rabbani.


Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah swt berfirman dalam hadits Qudsi.

Barang siapa yang memusuhi kekasih-Ku maka Aku nyatakan perang kepadanya.
Dan tidak ada amal ibadah yang dilakukan hamba-Ku untuk mendekatkan diri kepada-Ku lebih Aku cintai dari pada kewajiban yang telah Aku tetapkan atasnya. Dan hamba-Ku akan terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka ketika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, mata yang dipergunakan untuk melihat, tangan yang dipergunakan untuk memegang, kaki yang dipergunakan untuk berjalan. Jika ia meminta-Ku pasti akan Aku berikan, dan jika ia meminta perlindungan-Ku pasti akan Aku lindungi.” (HR Bukhari)

Kadar kewajiban
Allah swt telah memberikan kewajiban kepada manusia ini sesuai dengan kapasiti dan kemampuan setiap orang, Firman Allah:


Dan Allah tidak membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan apa yang dimampui.” (QS. 2/Al Baqarah: 286)

Kewajiban guru berbeza dengan kewajiban murid, kewajiban imam berbeza dengan kewajiban makmum, kewajiban orang miskin berbeza dengan kewajiban orang kaya dan sebagainya. Masing-masing telah mendapatkan amanah kewajiban yang sebanding dengan keperluan kebaikan yang hendak dicapai iaitu:


1. Kewajiban dzatiyah (pada diri sendiri) menjadi keperluan orang untuk mendapatkan kualiti peribadi yang baik, sehingga ia menjadi soleh bagi dirinya secara fizikal, intelektual, dan spiritual.


2. Kewajiban kepada Allah, berfungsi untuk tautsiqushshilah (menguatkan hubungan dengan Allah), sehingga setiap saat pertolongan Allah dapat diraih untuk mendapatkan kecemerlangan hidup dunia dan akhirat.


3. Kewajiban kepada sesama manusia berfungsi untuk membina keharmonian kehidupan dalam ikatan nilai dan kebaikan. Kewajiban itu mencakupi:


a. Kewajiban kepada kedua orang tua.
b. Kewajiban suami isteri.
c. Kewajiban kepada anak.
d. Kewajiban kepada kerabat.
e. Kewajiban kepada tetangga.
f. Kewajiban kepada saudara.
g. Kewajiban kepada manusia dan masyarakat pada umumnya.

Dimana posisi kita dari semua kewajiban itu?
1. Jika kita hanya dapat menunaikan kewajiban dzatiyah maka, kita baru dapat mensolehkan diri sendiri, secara fizikal, intelektual, dan spiritual. Dan jika kita tidak mampu mensolehkan diri dalam aspek-aspek penting itu, bagaimana mungkin kita akan mampu mesolehkan orang lain.


2. Jika kewajiban kepada Allah tidak terpenuhi dengan baik, maka akankah ada kedekatan jarak dengan Allah? Jika tidak dekat dengan Allah, akankah pertolongan Allah dapat diterima.


3. Jika kewajiban kepada sesama manusia dalam berbagai statusnya tidak dapat dilaksanakan dengan baik, akankah mereka bersimpati dan bersikap dan bersangka baik dengan kita? Rasulullah saw yang senantiasa bersikap baik, menunaikan kewajiban kemanusiaan kepada siapapun masih juga berhadapan dengan perlakuan yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh manusia kepada baginda saw.


a. Bagaimana mungkin orang tua akan bersimpati dan mahu mendengar ucapan anaknya, jika si anak tidak menunaikan kewajibannya kepada kedua orang tuanya?
b. Bagaimana mungkin pasangan hidup akan mahu menerima dengan utuh pasangannya jika ia tidak menunaikan kewajibannya dengan baik?
c. Akankah anak menghargai dan menghormati kedua orang tuanya dengan ikhlas, jika kedua orang tuanya tidak menunaikan kewajibannya dengan baik?
d. Akankah kerabat kita akan bersimpati jika kewajiban kepada mereka tidak terpenuhi?
e. Akankah tetangga akan menjadi saksi dan pembela yang ikhlas kepada kita, jika kewajiban kepada mereka tidak ditunaikan?
f. Akankah sanak saudara mahu menjadi penolong kesulitan kita, jika kewajiban kepada mereka tidak dilaksanakan?
g. Akankah masyarakat mahu bersama kita dan menghormati kita, jika kewajiban kepada mereka tidak kita berikan?


Dan kita memerlukan mereka semuanya, untuk kepentingan dakwah dan pembinaan kehidupan yang lebih baik dan lebih mulia. Tidak akan bererti apa-apa kesolehan peribadi yang kita bangun tinggi jika tidak memberi kesan atas kesolehan kita kepada lingkungan persekitaran hidup kita

.
Semakin banyak peranan yang ingin kita laksanakan, maka semakin banyak pula kewajiban yang harus kita tegakkan. Banyak peranan dengan sedikit kewajiban yang ditunaikan adalah kebangkrapan, dan banyak kewajiban tanpa peranan yang dilaksanakan adalah kemandulan. Dan kita hanya ingin memiliki muslim yang yang berperanan aktif, produktif, dan dinamik dalam menjana kewibawaan Islam sebagai peneraju kejayaan ummah.

Justeru untuk semua itu, kewajiban yang ada pada kita harus dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh dan penuh bertanggujawab. Hasan al-Banna mewasiatkan agar kita nasihat menasihati satu dengan yang lain dalam masalah menguruskan kewajipan. Katanya: “Kewajipan lebih banyak dari masa. Bantulah orang lain agar mereka memanfaatkan masa mereka. Jika kamu ada urusan (peribadi) lakukanlah dengan ringkas.”


Wallahu a’lam.










Sunday, January 25, 2009

Baru-baru ini penulis diziarahi oleh seorang penggerak dakwah kampus dan bertanyakan apakahkah kaedah dan cara terbaik bagi seorang da’i menjayakan misi dakwah, khususnya dakwah fardiah memandangkan terlalu banyak hambatan dan cabaran yang sedang melanda generasi muda hari ini.

Penulis lebih suka memberikan tumpuan kepada persediaan, kefahaman dan kesungguhan kepada para da’i dalam bagi melaksanakan tugas dan tanggujawab dakwah yang cukup berat ini. Dalam mentarbiyah manusia kita perlu menguasai kaedah yang bijak dan hikmah agar dakwahnya dapat diterima oleh sesiapa sahaja yang didekatinya. Ada beberapa pendekatan dan kaedah terbaik yang perlu kita adaptasikan dalam dakwah yang boleh kita pelajari dari baginda Rasulullah saw., antaranya :


1. Ar-Rifq, iaitu kelemah lembutan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Imran : 159 yang bermaksud:

“Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), Engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah Engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu…”


Dan firman Allah swt lagi yang bermaksud:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mauidzoh hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)


Kelemah lembutan adalah asas dalam bermuamalah, seoarang da’i tidak dapat mengambil hati mad’unya, kecuali bila ia mempergaulinya dengan penuh lemah lembut sehingga menjadi mudah untuk menguasai hatinya. Sabda Nabi saw. yang bermaksud:


Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari Muslim).


“Sesungguhnya tidaklah kelemah-lembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kelemah-lembutan itu tercabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya menjadi jelek.” (HR. Muslim)


Bersikap lemah lembut dalam dakwah bukan bererti tidak punya pendirian, apalagi bersikap toleran terhadap keburukan. Lemah lembut hanya suatu cara untuk menyampaikan kebenaran dan mendidik orang lain agar tunduk kepada kebenaran. Lemah lembut di dalam berdakwah mempunyai banyak sekali kebaikannya. Salah satu di antaranya adalah dapat menyedarkan orang-orang yang telah terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat. Allah berfirman yang ertinya,


“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Al-Fushshilat: 34)

Rasulullah saw. adalah suri teladan bagi kita dalam hal akhlaq dan dakwah, apatah lagi dalam hal lemah lembut baginda dalam berdakwah. Alangkah indahnya kisah beliau ketika menasihati seseorang yang hendak berbuat kemaksiatan. Kisah ini dituturkan oleh sahabat beliau, Abu Umamah. Beliau bercerita,


“Sesungguhnya ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berbuat zina’. Lalu ada sekelompok orang yang mendatangi dan menegurnya, ‘Diam… Diam…!!’ Lalu beliau bersabda (kepada para sahabat beliau), ‘Dekatkan ia kepadaku.’ Lalu ia pun mendekati beliau. Setelah ia duduk, beliau bertanya, ‘Apakah kamu se

nang apabila ada orang menzinai ibumu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai ibunya’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai puterimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai puterinya’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai saudarimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai saudarinya…’ Lalu beliau meletakkan tangannya kepada pemuda tadi sambil berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan jagalah ke

maluannya’. Setelah peristiwa itu, pemuda tadi tidak berfikir untuk berbuat zina lagi’. (HR. Ahmad)


2. Al-Ibti’adu anidzdzammi wattaa’aatubi, iaitu menjauhkan sikap agresif yang cenderung mencela, memperlekeh dan mencemuh orang lain. Sesungguhnya dakwah tidak dibangun di atas celaan dan cemuhan, melainkan dengan Tanashuh (menjaga) dan Taghafur (memaafkan) serta Al-Irsyad bil husna (membimbing dengan cara – cara yang baik. Sebagaimana Ibnussamak seorang Ulama yang zuhud – Rahimahullah- ketika seseorang berkata kepaadanya : “Kita bertemu lagi esok dalam rangka saling mencela”, lalau jawab Ibnu Samak : “Bal baini wa bainaka ghodan nataghafar” (Tidak, akan tetapi kita bertemu esok untuk saling memaafkan).


Kombinasi 3 ciri ini iaitu Tanashuh (menjaga) dan Taghafur (memaafkan) serta Al-Irsyad bil husna (membimbing dengan cara – cara yang baik) dimiliki oleh Rasulullah Saw dan diajarkannya kepara sahabatnya. Dalam sebuah riwayat dikisahkan sebagai berikut: Pada suatu hari, datanglah seorang arab badwi kepada Rasulullah saw untuk meminta sesuatu. Beliau memberi apa yang dimintanya sambil bertanya: “ Bukankah aku telah berbuat baik kepadamu?” Orang tersebut menjawab: “ Tidak! Engkau tidak berbuat baik.” Mendengar jawaban tersebut,kaum muslimin yang hadir bangkit hendak memukulnya. Tetapi mereka segera ditegah oleh Rasulullah.

Beliau kemudian berdiri, dan masuk ke dalam rumahnya, lalu memberi tambahan kepada orang badwi tersebut seraya berkata: “Bukankah aku telah berbuat baik kepadamu?” Orang badwi itu menyahut: “ Ya, mudah-mudahan Allah membalas kebaikan anda sekeluarga”. Kepada orang badwi tersebut Rasulullah berkata: “ Engkau tadi telah mengucapkan sesuatu yang membuat para sahabatku merasa tersinggung. Jika engkau mahu, ucapkanlah kembali apa yang engkau katakan kepadaku sekarang ini di hadapan mereka, agar kejengkelan mereka kepada dirimu lenyap dari dadanya.”

Keesokan harinya badwi tersebut datang lagi. Kepada para sahabat baginda berkata, ”Orang Arab badwi ini kelmarin berkata sebagaimana yang telah kalian dengar,kemudian kuberikan kepadanya, dan sekarang ia merasa puas, bukankah demikian hai Arab badwi? “ Orang Arab badwi tersebut menyahut: “Ya benar, mudah-mudahan Allah membalas kebaikan anda sekeluarga.”

Setelah itu, Rasululah menambahkan: “Aku dan dia ibarat seorang yang mempunyai seekor unta yang lepas dan lari bertebaran. Ramai orang mengejarnya, tetapi semakin dikejar, unta itu semakin jauh. Pemilik unta kemudian berteriak-teriak kepada orang-orang yang membantu mengejar untanya: “ Biarkan saja untaku itu! Aku dapat menjinakkan dia kerana aku lebih mengenalnya daripada kalian!” Ia lalu mendekati untanya, diambilnya rumput dari tanah dan diagah-agahkannya kepada unta itu sehingga unta itu kembali. Unta itu disuruh berjongkok, lalu ia duduk di atas punggungnya.

Kemudian baginda berkata kepada para sahabatnya, “Jika kelmarin kalian kubiarkan bertindak terhadap orang badwi itu kerana ia mengucapkan perkataan yang tidak enak didengar, lantas dia kalian bunuh, dia tentu masuk neraka…”

3. At-tarbiyah Tamhid wattasywiq, Tarbiah itu harus dijalankan dengan perlahan bukan dengan paksaan dan tergesa-gesa, hal ini tentu saja memerlukan kesabaran kerana untuk dapat menikmati buahnya terkadang harus menunggu masa yang agak lama. Para da’i jangan isti’jal (tergesa-gesa) Salah satu bahagian dari dakwah manhaj salafus soleh adalah tidak tergesa-gesa dalam berdakwah. Dalam berdakwah tidak boleh serta merta ingin memperoleh hasil dan segera memetik buah dari dakwahnya kerana ini adalah penyakit dalam dakwah.

Mengapa dakwah Rasulullah saw. di Mekah tidak ditempuh dua tahun atau lima tahun saja? Beliau berdakwah di Mekah selama 13 tahun, dan hanya menperoleh pengikut 45 orang sahabat sahaja, namun beliau tetap bersabar dan terus mendidik dan mentarbiyah sahabatnya, walaupun dalam keadaan tertindas dan terasing ditengah-tengah masyarakat Mekah saat itu. Setelah 13 tahun kemudian, beliaupun berhijrah ke Madinah. Beberapa tahun setelah hijrah baru terjadi Fathul-Mekah? Peristiwa ini terjadi pada tahun 8 H. Mengapa tidak dilaksanakan pada tahun 5 H atau jauh sebelumnya? Dan tidak ada pembukaan daerah kekuasaan kaum muslimin secara luas kecuali setelah baginda wafat. Hal ini menunjukkan bahawasanya dakwah dan perjuangan Islam ini dilakukan tidak dengan tergesa-gesa. Ini adalah buah kesabaran Rasulullah saw. dalam mentarbiyah para sahabat yang jumlahnya kurang lebih hanya empat puluh lima orang yang kemudian melahirkan orang-orang yang membuka penjuru-penjuru dakwah yang lebih luas bahkan sampai sepertiga belahan dunia, sungguh sangat menakjubkan!.

Oleh kerana itu sebagai seorang da’i, hendaknya tidak tergesa-gesa dalam berdakwah kerana sesungguhnya ia adalah dari syaitan. Sebahagian da’i yang tidak sabar untuk segera melihat hasil dari perjuanganya, ingin cepat mendapatkan pengikut yang ramai sedangkan Nabi dan Rasul dahulu yang berdakwah sekian tahun hanya memiliki beberapa pengikut bahkan ada yang tidak memiliki pengikut seorangpun sebagaimana yang digambarkan dalam hadith Rasulullah saw. bahawa pada hari kiamat nanti ada seorang rasul yang datang dengan seorang pengikut bahkan ada yang tanpa pengikut, apakah mereka dikatakan gagal berdakwah? Mereka adalah manusia pilihan yang diutus oleh Allah Subhaanahu Wa Ta'ala dengan membawa risalah yang bertujuan memperbaiki manusia. Kerana tujuan kita adalah memperbaiki manusia maka hendaknya kita bersabar jangan tergesa-gesa, tergesa-gesa merupakan penyakit yang dapat merosakan bangunan dakwah, oleh itu harus senantiasa bersabar. Demikianlah manhaj Rasulullah saw.

Perhatikan sejarah silam ketika para pemerintah negara Islam menguasai para ulama, seperti Imam Ahmad, dipenjara selama dua tahun empat bulan dan disiksa namun tetap bersabar. Demikian pula dengan Imam Malik, Imam Syafi’i mereka juga mengalami tentangan seperti itu. Syaikul Islam Ibnu Taimiyah dipenjara selama 26 tahun hingga akhirnya meninggal dalam penjara tetapi tidak sampai mengkafirkan penguasa yang memenjarakannya.

4. At-Tasyji’, iaitu motivasi sang da’i Murabbi terhadap mad’unya, berupa “reward”, inspirasi dan penghargaan, untuk menambah semangat dan mendorongnya untuk beramal, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. kepada sahabat Suhaib bin Sinan Ar-Rumy, yang hijrah ke Madinah dengan meninggalkan seluruh hartanya setelah diambil seluruhnya oleh orang-orang musyrikin, dan dia hanya mampu menyelamatkan agamanya, Rasulullah menyambut kedatangannya seraya berkata : “Rabiha Suhaib” (beruntunglah Suhaib).

Disebutkan juga oleh al-Banna dengan pengertian yang cukup mendalam dan mendasar akan peranan murabbi. Murabbi / da’i adalah umpama seorang ayah yang menjaga anak-anaknya, seorang guru yang mengajarkan murid dan bagaikan seorang sheikh yang mengasuh muridnya.

Oleh kerana itu, penting bagi para murabbi / da’i untuk berusaha semaksima mungkin menjadi peribadi murabbi teladan agar keteladanannya memberi keberkahan bagi perkembangan dakwah dan peningkatan kualiti mahupun kuantiti para mutarabbi yang mereka bina. Justeru itu para murabbi perlu berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang tercatat sejarah sebagai murabbi teladan, setidaknya melalui suratun hayawiyyah (gambaran kehidupan mereka), khusunya dalam melakukan aktiviti pentarbiyahan (mendidik mutarabbi).

Pendekatan Asas Dalam Dakwah Fardiah

Baru-baru ini penulis diziarahi oleh seorang penggerak dakwah kampus dan bertanyakan apakahkah kaedah dan cara terbaik bagi seorang da’i menjayakan misi dakwah, khususnya dakwah fardiah memandangkan terlalu banyak hambatan dan cabaran yang sedang melanda generasi muda hari ini.

Penulis lebih suka memberikan tumpuan kepada persediaan, kefahaman dan kesungguhan kepada para da’i dalam bagi melaksanakan tugas dan tanggujawab dakwah yang cukup berat ini. Dalam mentarbiyah manusia kita perlu menguasai kaedah yang bijak dan hikmah agar dakwahnya dapat diterima oleh sesiapa sahaja yang didekatinya. Ada beberapa pendekatan dan kaedah terbaik yang perlu kita adaptasikan dalam dakwah yang boleh kita pelajari dari baginda Rasulullah saw., antaranya :


1. Ar-Rifq, iaitu kelemah lembutan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Imran : 159 yang bermaksud:

“Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), Engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah Engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu…”


Dan firman Allah swt lagi yang bermaksud:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mauidzoh hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)


Kelemah lembutan adalah asas dalam bermuamalah, seoarang da’i tidak dapat mengambil hati mad’unya, kecuali bila ia mempergaulinya dengan penuh lemah lembut sehingga menjadi mudah untuk menguasai hatinya. Sabda Nabi saw. yang bermaksud:


Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari Muslim).


“Sesungguhnya tidaklah kelemah-lembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kelemah-lembutan itu tercabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya menjadi jelek.” (HR. Muslim)


Bersikap lemah lembut dalam dakwah bukan bererti tidak punya pendirian, apalagi bersikap toleran terhadap keburukan. Lemah lembut hanya suatu cara untuk menyampaikan kebenaran dan mendidik orang lain agar tunduk kepada kebenaran. Lemah lembut di dalam berdakwah mempunyai banyak sekali kebaikannya. Salah satu di antaranya adalah dapat menyedarkan orang-orang yang telah terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat. Allah berfirman yang ertinya,


“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Al-Fushshilat: 34)

Rasulullah saw. adalah suri teladan bagi kita dalam hal akhlaq dan dakwah, apatah lagi dalam hal lemah lembut baginda dalam berdakwah. Alangkah indahnya kisah beliau ketika menasihati seseorang yang hendak berbuat kemaksiatan. Kisah ini dituturkan oleh sahabat beliau, Abu Umamah. Beliau bercerita,


“Sesungguhnya ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berbuat zina’. Lalu ada sekelompok orang yang mendatangi dan menegurnya, ‘Diam… Diam…!!’ Lalu beliau bersabda (kepada para sahabat beliau), ‘Dekatkan ia kepadaku.’ Lalu ia pun mendekati beliau. Setelah ia duduk, beliau bertanya, ‘Apakah kamu se

nang apabila ada orang menzinai ibumu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai ibunya’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai puterimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai puterinya’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai saudarimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai saudarinya…’ Lalu beliau meletakkan tangannya kepada pemuda tadi sambil berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan jagalah ke

maluannya’. Setelah peristiwa itu, pemuda tadi tidak berfikir untuk berbuat zina lagi’. (HR. Ahmad)


2. Al-Ibti’adu anidzdzammi wattaa’aatubi, iaitu menjauhkan sikap agresif yang cenderung mencela, memperlekeh dan mencemuh orang lain. Sesungguhnya dakwah tidak dibangun di atas celaan dan cemuhan, melainkan dengan Tanashuh (menjaga) dan Taghafur (memaafkan) serta Al-Irsyad bil husna (membimbing dengan cara – cara yang baik. Sebagaimana Ibnussamak seorang Ulama yang zuhud – Rahimahullah- ketika seseorang berkata kepaadanya : “Kita bertemu lagi esok dalam rangka saling mencela”, lalau jawab Ibnu Samak : “Bal baini wa bainaka ghodan nataghafar” (Tidak, akan tetapi kita bertemu esok untuk saling memaafkan).


Kombinasi 3 ciri ini iaitu Tanashuh (menjaga) dan Taghafur (memaafkan) serta Al-Irsyad bil husna (membimbing dengan cara – cara yang baik) dimiliki oleh Rasulullah Saw dan diajarkannya kepara sahabatnya. Dalam sebuah riwayat dikisahkan sebagai berikut: Pada suatu hari, datanglah seorang arab badwi kepada Rasulullah saw untuk meminta sesuatu. Beliau memberi apa yang dimintanya sambil bertanya: “ Bukankah aku telah berbuat baik kepadamu?” Orang tersebut menjawab: “ Tidak! Engkau tidak berbuat baik.” Mendengar jawaban tersebut,kaum muslimin yang hadir bangkit hendak memukulnya. Tetapi mereka segera ditegah oleh Rasulullah.

Beliau kemudian berdiri, dan masuk ke dalam rumahnya, lalu memberi tambahan kepada orang badwi tersebut seraya berkata: “Bukankah aku telah berbuat baik kepadamu?” Orang badwi itu menyahut: “ Ya, mudah-mudahan Allah membalas kebaikan anda sekeluarga”. Kepada orang badwi tersebut Rasulullah berkata: “ Engkau tadi telah mengucapkan sesuatu yang membuat para sahabatku merasa tersinggung. Jika engkau mahu, ucapkanlah kembali apa yang engkau katakan kepadaku sekarang ini di hadapan mereka, agar kejengkelan mereka kepada dirimu lenyap dari dadanya.”

Keesokan harinya badwi tersebut datang lagi. Kepada para sahabat baginda berkata, ”Orang Arab badwi ini kelmarin berkata sebagaimana yang telah kalian dengar,kemudian kuberikan kepadanya, dan sekarang ia merasa puas, bukankah demikian hai Arab badwi? “ Orang Arab badwi tersebut menyahut: “Ya benar, mudah-mudahan Allah membalas kebaikan anda sekeluarga.”

Setelah itu, Rasululah menambahkan: “Aku dan dia ibarat seorang yang mempunyai seekor unta yang lepas dan lari bertebaran. Ramai orang mengejarnya, tetapi semakin dikejar, unta itu semakin jauh. Pemilik unta kemudian berteriak-teriak kepada orang-orang yang membantu mengejar untanya: “ Biarkan saja untaku itu! Aku dapat menjinakkan dia kerana aku lebih mengenalnya daripada kalian!” Ia lalu mendekati untanya, diambilnya rumput dari tanah dan diagah-agahkannya kepada unta itu sehingga unta itu kembali. Unta itu disuruh berjongkok, lalu ia duduk di atas punggungnya.

Kemudian baginda berkata kepada para sahabatnya, “Jika kelmarin kalian kubiarkan bertindak terhadap orang badwi itu kerana ia mengucapkan perkataan yang tidak enak didengar, lantas dia kalian bunuh, dia tentu masuk neraka…”

3. At-tarbiyah Tamhid wattasywiq, Tarbiah itu harus dijalankan dengan perlahan bukan dengan paksaan dan tergesa-gesa, hal ini tentu saja memerlukan kesabaran kerana untuk dapat menikmati buahnya terkadang harus menunggu masa yang agak lama. Para da’i jangan isti’jal (tergesa-gesa) Salah satu bahagian dari dakwah manhaj salafus soleh adalah tidak tergesa-gesa dalam berdakwah. Dalam berdakwah tidak boleh serta merta ingin memperoleh hasil dan segera memetik buah dari dakwahnya kerana ini adalah penyakit dalam dakwah.

Mengapa dakwah Rasulullah saw. di Mekah tidak ditempuh dua tahun atau lima tahun saja? Beliau berdakwah di Mekah selama 13 tahun, dan hanya menperoleh pengikut 45 orang sahabat sahaja, namun beliau tetap bersabar dan terus mendidik dan mentarbiyah sahabatnya, walaupun dalam keadaan tertindas dan terasing ditengah-tengah masyarakat Mekah saat itu. Setelah 13 tahun kemudian, beliaupun berhijrah ke Madinah. Beberapa tahun setelah hijrah baru terjadi Fathul-Mekah? Peristiwa ini terjadi pada tahun 8 H. Mengapa tidak dilaksanakan pada tahun 5 H atau jauh sebelumnya? Dan tidak ada pembukaan daerah kekuasaan kaum muslimin secara luas kecuali setelah baginda wafat. Hal ini menunjukkan bahawasanya dakwah dan perjuangan Islam ini dilakukan tidak dengan tergesa-gesa. Ini adalah buah kesabaran Rasulullah saw. dalam mentarbiyah para sahabat yang jumlahnya kurang lebih hanya empat puluh lima orang yang kemudian melahirkan orang-orang yang membuka penjuru-penjuru dakwah yang lebih luas bahkan sampai sepertiga belahan dunia, sungguh sangat menakjubkan!.

Oleh kerana itu sebagai seorang da’i, hendaknya tidak tergesa-gesa dalam berdakwah kerana sesungguhnya ia adalah dari syaitan. Sebahagian da’i yang tidak sabar untuk segera melihat hasil dari perjuanganya, ingin cepat mendapatkan pengikut yang ramai sedangkan Nabi dan Rasul dahulu yang berdakwah sekian tahun hanya memiliki beberapa pengikut bahkan ada yang tidak memiliki pengikut seorangpun sebagaimana yang digambarkan dalam hadith Rasulullah saw. bahawa pada hari kiamat nanti ada seorang rasul yang datang dengan seorang pengikut bahkan ada yang tanpa pengikut, apakah mereka dikatakan gagal berdakwah? Mereka adalah manusia pilihan yang diutus oleh Allah Subhaanahu Wa Ta'ala dengan membawa risalah yang bertujuan memperbaiki manusia. Kerana tujuan kita adalah memperbaiki manusia maka hendaknya kita bersabar jangan tergesa-gesa, tergesa-gesa merupakan penyakit yang dapat merosakan bangunan dakwah, oleh itu harus senantiasa bersabar. Demikianlah manhaj Rasulullah saw.

Perhatikan sejarah silam ketika para pemerintah negara Islam menguasai para ulama, seperti Imam Ahmad, dipenjara selama dua tahun empat bulan dan disiksa namun tetap bersabar. Demikian pula dengan Imam Malik, Imam Syafi’i mereka juga mengalami tentangan seperti itu. Syaikul Islam Ibnu Taimiyah dipenjara selama 26 tahun hingga akhirnya meninggal dalam penjara tetapi tidak sampai mengkafirkan penguasa yang memenjarakannya.

4. At-Tasyji’, iaitu motivasi sang da’i Murabbi terhadap mad’unya, berupa “reward”, inspirasi dan penghargaan, untuk menambah semangat dan mendorongnya untuk beramal, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. kepada sahabat Suhaib bin Sinan Ar-Rumy, yang hijrah ke Madinah dengan meninggalkan seluruh hartanya setelah diambil seluruhnya oleh orang-orang musyrikin, dan dia hanya mampu menyelamatkan agamanya, Rasulullah menyambut kedatangannya seraya berkata : “Rabiha Suhaib” (beruntunglah Suhaib).

Disebutkan juga oleh al-Banna dengan pengertian yang cukup mendalam dan mendasar akan peranan murabbi. Murabbi / da’i adalah umpama seorang ayah yang menjaga anak-anaknya, seorang guru yang mengajarkan murid dan bagaikan seorang sheikh yang mengasuh muridnya.

Oleh kerana itu, penting bagi para murabbi / da’i untuk berusaha semaksima mungkin menjadi peribadi murabbi teladan agar keteladanannya memberi keberkahan bagi perkembangan dakwah dan peningkatan kualiti mahupun kuantiti para mutarabbi yang mereka bina. Justeru itu para murabbi perlu berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang tercatat sejarah sebagai murabbi teladan, setidaknya melalui suratun hayawiyyah (gambaran kehidupan mereka), khusunya dalam melakukan aktiviti pentarbiyahan (mendidik mutarabbi).

Wednesday, January 21, 2009

TAFSIR SURAH YASIN AYAT 20 -32 :
NI’MAT UNTUK SEORANG DA’I DAN BALASAN KAUM YANG MENGINGKARI DA’WAH


20. Dan telah datang dari hujung kota, seorang lelaki dengan bergegas-gegas, ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah rasul-rasul itu.
21. Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu, dan mereka (rasul-rasul) adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
22. Mengapa aku tidak menyembah (Rab) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?
23. Apakah wajar bagiku menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, nescaya syafa’at mereka (tuhan-tuhan itu) tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?
24. Sesungguhnya aku, kalau begitu (jika berbuat demikian), pasti berada dalam kesesatan yang nyata.
25. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabmu, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.”
26. Dikatakan (kepadanya setelah ia dibunuh): "Masuklah ke syurga". Ia berkata: "Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.
27. Apa yang menyebabkan Rabku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".
28. Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal dunia) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak kami menurunkannya.
29. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja, maka tiba-tiba mereka semuanya mati.
30. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.
31. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah kami binasakan, bahawasanya orang-orang (yang telah kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.
32. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.


TAFSIRAN AYAT-AYAT:

1) Ayat-ayat di atas memperlihatkan contoh orang yang mengikut al-Quran dan takut kepada Allah walaupun ia tidak melihat-Nya, berbanding dengan orang-orang yang memiliki hati-hati yang tertutup dari da’wah para rasul.

2) Fitrah yang sihat akan menyambut da’wah yang benar dan lurus dengan sambutan yang mudah dan hangat. Lelaki yang dinyatakan dalam ayat-ayat di atas telah mendengar da’wah para rasul dan terus menyambutnya setelah mendengar dalil-dalil yang benar dan nyata.

3) Apabila hatinya merasai hakikat iman, maka iman itu akan bergerak. Lelaki ini tidak lagi dapat berdiam diri. Dia tidak dapat lagi berdiam diri di rumahnya apabila melihat kesesatan, kekufuran dan kejahatan di sekelilingnya. Dia terus keluar mendapatkan kaumnya dengan membawa keimanan yang tertanam di dalam hatinya, sedangkan kaumnya mendusta dan mengancam para rasul. Dia datang mendapatkan mereka dari daerah pedalaman untuk melaksanakan kewajipannya sebagai da’i, iaitu menyeru kaumnya kepada kebenaran dan menghalang mereka daripada melakukan kezaliman dan pendustaan terhadap para rasul.

4) Lelaki itu, nampaknya, bukanlah seorang yang mempunyai pangkat dan kuasa. Bukan pula seorang yang disegani di kalangan kaumnya atau mempunyai keluarga yang kuat di belakangnya, tetapi iman yang hidup di dalam hatinya telah mendorongnya datang dari daerah pedalaman untuk berda’wah.


20. Dan telah datang dari hujung kota, seorang lelaki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.


5) Orang yang berda’wah tanpa meminta upah dan mencari keuntungan adalah penda’wah yang benar. Bukti kebenarannya ialah apabila ia sanggup bersusah payah memikul beban da’wah semata-mata untuk menjunjung perintah Allah, dalam menghadapi manusia yang berlainan ‘aqidah. Ia juga sanggup mendedahkan dirinya kepada gangguan tindakan jahat, ejekan dan penindasan orang-orang yang menentang da’wah, sedangkan ia tidak mendapat apa-apa hasil dan tidak pula meminta apa-apa upah daripada manusia.

21. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”


6) Tanda da’i yang mendapat hidayah daripada Allah dapat dilihat dengan jelas pada tabiat da’wahnya, iaitu ia menyeru manusia supaya menyembah Allah Yang Maha Esa serta mengikut jalan yang terang. Ia menyeru kepada satu aqidah yang tidak ada di dalamnya sebarang khurafat dan kesamaran.

7) Kemudian lelaki (da’i) itu kembali menceritakan kepada kaumnya tentang dirinya dan sebab-sebab mengapa dia beriman kepada Allah:

Pertanyaan telah terbit dari fitrah yang mengakui adanya Khaliq yang menjadi punca kewujudannya:

22. Mengapa aku tidak menyembah (Rab) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?


Mengapa fitrah yang berih seharusnya menyeleweng daripada jalan yang tabi’i? Fitrah manusia, sebenarnya, tertarik kepada Pencipta yang menjadikannya. Ia tidak akan menyeleweng daripada keadaan asalnya melainkan disebabkan dorongan lain yang bertentangan dengannya. Ia tidak akan membelok ke jalan yang lain melainkan dengan pengaruh yang asing. Dari awal-awal lagi, fitrah itu bertawajjuh kepada Allah Yang Maha Pencipta.

Lelaki yang beriman itu merasakan semua hakikat ini di lubuk hatinya. Oleh sebab itulah dia mengeluarkan kata-katanya yang amat jelas dan lurus tanpa berpura-pura dan berbelit-belit.

Dia juga sedar terhadap fitrahnya yang benar dan bersih bahawa seluruh makhluk, pada akhirnya, akan kembali kepada Khaliqnya sepertimana segala sesuatu itu akan pulang kepada asalnya.

22. ...hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?


Dia memperkatakan tentang pengembalian kaumnya kepada Allah yang telah menciptakan mereka. Oleh itu mereka sepatutnya menyembah-Nya.


8) Kemudian lelaki ini menyebut tentang tabi’at yang bententangan dengan fitrah yang lurus dan memandangnya sebagai suatu kesesatan yang nyata:

23. Apakah wajar bagiku menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka (tuhan-tuhan itu) tidak memberi manfa’at sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?
24. Sesungguhnya aku, kalau begitu, pasti berada dalam kesesatan yang nyata.


Siapakah lagi orang yang lebih sesat daripada orang yang meninggalkan logik fitrah yang menyeru supaya menyembah Penciptanya (yang memeliharanya daripada segala bencana)?


Lelaki itu telah menyatakan keputusannya yang muktamad di hadapan kaumnya (yang telah mendustakan para rasul) berasaskan fitrahnya yang sangat kuat.

25. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabmu, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.


Inilah pengakuan iman yang yakin dan menjadikan kaumnya sebagai saksi-saksi di atas keimanannya. Dia menyarankan mereka supaya membuat pengakuan beriman sepertinya dan tidak mempedulikan apa yang mereka katakan.


9) Ayat berikut menggambarkan (walaupun tidak disebut secara terus terang) bahawa lelaki itu telah syahid akibat dibunuh oleh kaumnya. Kemudian lelaki yang syahid itu berada di ‘alam akhirat dan melihat penghormatan yang disediakan Allah untuknya, iaitu penghormatan yang layak dengan darjatnya sebagai mu’min yang berani dan ikhlas:


26. Dikatakan (kepadanya setelah ia dibunuh): "Masuklah ke syurga". Ia berkata: "Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.
27. Apa yang menyebabkan Rabku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".


10) Hidup di dunia sebenarnya berhubung dengan hidup di akhirat. Kematian itu hanyalah suatu perpindahan dari ‘alam fana’ ke alam baqa’. Kematian itu adalah satu hayunan langkah yang menyelamatkan orang beriman daripada kesempitan bumi kepada keluasan syurga, daripada kekacauan kebatilan kepada ketenteraman kebenaran, daripada ancaman kezaliman kepada keselamatan ni’mat hidup yang kekal abadi.


11) Ayat-ayat seterusnya menerangkan balasan untuk orang-orang yang melakukan kezaliman dan melampaui batas. Bagi Allah balasan itu lebih mudah daripada mengirimkan bala tentera malaikat untuk menghancurkan mereka. Ini kerana mereka terlalu lemah.

28. Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak kami menurunkannya.
29. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja, maka tiba-tiba mereka semuanya mati.


Al-Qur’an tidak menerangkan dengan panjang lebar tentang bentuk kebinasaan yang menimpa kaum itu kerana memperkecilkan taraf kedudukan mereka. Hanya dengan satu pekikan sahaja, maka mereka binasa dan mati. Maka kesudahan mereka itu amat malang dan hina.


12) Ayat-ayat yang berikutnya menekankan lagi tentang akibat orang-orang yang mendustakan da’wah.

30. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.
31. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah kami binasakan, bahawasanya orang-orang (yang telah kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.
32. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.


Allah telah menggambarkan golongan manusia sesat di sepanjang zaman. Mereka akan kecewa pada kesudahannya. Tidak dapat tidak mereka akan dikumpulkan kembali di hadapan Allah pada hari Qiyamat.

Rujukan:
Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an, Syed Qutb.

NI’MAT UNTUK SEORANG DA’I DAN BALASAN KAUM YANG MENGINGKARI DA’WAH

TAFSIR SURAH YASIN AYAT 20 -32 :
NI’MAT UNTUK SEORANG DA’I DAN BALASAN KAUM YANG MENGINGKARI DA’WAH


20. Dan telah datang dari hujung kota, seorang lelaki dengan bergegas-gegas, ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah rasul-rasul itu.
21. Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu, dan mereka (rasul-rasul) adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
22. Mengapa aku tidak menyembah (Rab) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?
23. Apakah wajar bagiku menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, nescaya syafa’at mereka (tuhan-tuhan itu) tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?
24. Sesungguhnya aku, kalau begitu (jika berbuat demikian), pasti berada dalam kesesatan yang nyata.
25. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabmu, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.”
26. Dikatakan (kepadanya setelah ia dibunuh): "Masuklah ke syurga". Ia berkata: "Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.
27. Apa yang menyebabkan Rabku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".
28. Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal dunia) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak kami menurunkannya.
29. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja, maka tiba-tiba mereka semuanya mati.
30. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.
31. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah kami binasakan, bahawasanya orang-orang (yang telah kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.
32. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.


TAFSIRAN AYAT-AYAT:

1) Ayat-ayat di atas memperlihatkan contoh orang yang mengikut al-Quran dan takut kepada Allah walaupun ia tidak melihat-Nya, berbanding dengan orang-orang yang memiliki hati-hati yang tertutup dari da’wah para rasul.

2) Fitrah yang sihat akan menyambut da’wah yang benar dan lurus dengan sambutan yang mudah dan hangat. Lelaki yang dinyatakan dalam ayat-ayat di atas telah mendengar da’wah para rasul dan terus menyambutnya setelah mendengar dalil-dalil yang benar dan nyata.

3) Apabila hatinya merasai hakikat iman, maka iman itu akan bergerak. Lelaki ini tidak lagi dapat berdiam diri. Dia tidak dapat lagi berdiam diri di rumahnya apabila melihat kesesatan, kekufuran dan kejahatan di sekelilingnya. Dia terus keluar mendapatkan kaumnya dengan membawa keimanan yang tertanam di dalam hatinya, sedangkan kaumnya mendusta dan mengancam para rasul. Dia datang mendapatkan mereka dari daerah pedalaman untuk melaksanakan kewajipannya sebagai da’i, iaitu menyeru kaumnya kepada kebenaran dan menghalang mereka daripada melakukan kezaliman dan pendustaan terhadap para rasul.

4) Lelaki itu, nampaknya, bukanlah seorang yang mempunyai pangkat dan kuasa. Bukan pula seorang yang disegani di kalangan kaumnya atau mempunyai keluarga yang kuat di belakangnya, tetapi iman yang hidup di dalam hatinya telah mendorongnya datang dari daerah pedalaman untuk berda’wah.


20. Dan telah datang dari hujung kota, seorang lelaki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.


5) Orang yang berda’wah tanpa meminta upah dan mencari keuntungan adalah penda’wah yang benar. Bukti kebenarannya ialah apabila ia sanggup bersusah payah memikul beban da’wah semata-mata untuk menjunjung perintah Allah, dalam menghadapi manusia yang berlainan ‘aqidah. Ia juga sanggup mendedahkan dirinya kepada gangguan tindakan jahat, ejekan dan penindasan orang-orang yang menentang da’wah, sedangkan ia tidak mendapat apa-apa hasil dan tidak pula meminta apa-apa upah daripada manusia.

21. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”


6) Tanda da’i yang mendapat hidayah daripada Allah dapat dilihat dengan jelas pada tabiat da’wahnya, iaitu ia menyeru manusia supaya menyembah Allah Yang Maha Esa serta mengikut jalan yang terang. Ia menyeru kepada satu aqidah yang tidak ada di dalamnya sebarang khurafat dan kesamaran.

7) Kemudian lelaki (da’i) itu kembali menceritakan kepada kaumnya tentang dirinya dan sebab-sebab mengapa dia beriman kepada Allah:

Pertanyaan telah terbit dari fitrah yang mengakui adanya Khaliq yang menjadi punca kewujudannya:

22. Mengapa aku tidak menyembah (Rab) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?


Mengapa fitrah yang berih seharusnya menyeleweng daripada jalan yang tabi’i? Fitrah manusia, sebenarnya, tertarik kepada Pencipta yang menjadikannya. Ia tidak akan menyeleweng daripada keadaan asalnya melainkan disebabkan dorongan lain yang bertentangan dengannya. Ia tidak akan membelok ke jalan yang lain melainkan dengan pengaruh yang asing. Dari awal-awal lagi, fitrah itu bertawajjuh kepada Allah Yang Maha Pencipta.

Lelaki yang beriman itu merasakan semua hakikat ini di lubuk hatinya. Oleh sebab itulah dia mengeluarkan kata-katanya yang amat jelas dan lurus tanpa berpura-pura dan berbelit-belit.

Dia juga sedar terhadap fitrahnya yang benar dan bersih bahawa seluruh makhluk, pada akhirnya, akan kembali kepada Khaliqnya sepertimana segala sesuatu itu akan pulang kepada asalnya.

22. ...hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?


Dia memperkatakan tentang pengembalian kaumnya kepada Allah yang telah menciptakan mereka. Oleh itu mereka sepatutnya menyembah-Nya.


8) Kemudian lelaki ini menyebut tentang tabi’at yang bententangan dengan fitrah yang lurus dan memandangnya sebagai suatu kesesatan yang nyata:

23. Apakah wajar bagiku menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka (tuhan-tuhan itu) tidak memberi manfa’at sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?
24. Sesungguhnya aku, kalau begitu, pasti berada dalam kesesatan yang nyata.


Siapakah lagi orang yang lebih sesat daripada orang yang meninggalkan logik fitrah yang menyeru supaya menyembah Penciptanya (yang memeliharanya daripada segala bencana)?


Lelaki itu telah menyatakan keputusannya yang muktamad di hadapan kaumnya (yang telah mendustakan para rasul) berasaskan fitrahnya yang sangat kuat.

25. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabmu, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.


Inilah pengakuan iman yang yakin dan menjadikan kaumnya sebagai saksi-saksi di atas keimanannya. Dia menyarankan mereka supaya membuat pengakuan beriman sepertinya dan tidak mempedulikan apa yang mereka katakan.


9) Ayat berikut menggambarkan (walaupun tidak disebut secara terus terang) bahawa lelaki itu telah syahid akibat dibunuh oleh kaumnya. Kemudian lelaki yang syahid itu berada di ‘alam akhirat dan melihat penghormatan yang disediakan Allah untuknya, iaitu penghormatan yang layak dengan darjatnya sebagai mu’min yang berani dan ikhlas:


26. Dikatakan (kepadanya setelah ia dibunuh): "Masuklah ke syurga". Ia berkata: "Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.
27. Apa yang menyebabkan Rabku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".


10) Hidup di dunia sebenarnya berhubung dengan hidup di akhirat. Kematian itu hanyalah suatu perpindahan dari ‘alam fana’ ke alam baqa’. Kematian itu adalah satu hayunan langkah yang menyelamatkan orang beriman daripada kesempitan bumi kepada keluasan syurga, daripada kekacauan kebatilan kepada ketenteraman kebenaran, daripada ancaman kezaliman kepada keselamatan ni’mat hidup yang kekal abadi.


11) Ayat-ayat seterusnya menerangkan balasan untuk orang-orang yang melakukan kezaliman dan melampaui batas. Bagi Allah balasan itu lebih mudah daripada mengirimkan bala tentera malaikat untuk menghancurkan mereka. Ini kerana mereka terlalu lemah.

28. Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak kami menurunkannya.
29. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja, maka tiba-tiba mereka semuanya mati.


Al-Qur’an tidak menerangkan dengan panjang lebar tentang bentuk kebinasaan yang menimpa kaum itu kerana memperkecilkan taraf kedudukan mereka. Hanya dengan satu pekikan sahaja, maka mereka binasa dan mati. Maka kesudahan mereka itu amat malang dan hina.


12) Ayat-ayat yang berikutnya menekankan lagi tentang akibat orang-orang yang mendustakan da’wah.

30. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.
31. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah kami binasakan, bahawasanya orang-orang (yang telah kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.
32. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.


Allah telah menggambarkan golongan manusia sesat di sepanjang zaman. Mereka akan kecewa pada kesudahannya. Tidak dapat tidak mereka akan dikumpulkan kembali di hadapan Allah pada hari Qiyamat.

Rujukan:
Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an, Syed Qutb.

Sunday, January 11, 2009


Kekuatan Doa


Saudaraku,

Persoalan doa kepada Allah sering diungkapkan oleh Presiden HALUAN, Dr. Abdullah Sudin Ab Rahman yang kita kasihi dalam setiap pertemuan dan penyampaian beliau kepada kita semua. Mari kita bersama menyingkap khazanah berharga dari sumber utama rujukan kita, Al Quran, hadith berserta sirah Rasulullah saw. , para sahabat dan salafusoleh untuk memahamkan lagi kepada kita nilai dan keutamaan doa buat para dai’e Ilallah. Tahukah kita seberapa besar kekuatan doa di saat-saat genting? Situasi genting yang paling genting, adalah saat para pejuang Allah swt menghadapi kekuatan musuh Allah swt yang lebih besar. Kegentingan yang pernah dialami hampir oleh para Rasul Allah swt, tidak terkecuali Rasulullah Muhammad saw.


Saudaraku,

Bayangkanlah kegentingan yang dialami Nabiyullah Musa as saat ia dan kaumnya dikejar Fir’aun dan bala tenteranya, sehingga di tepi laut. Perhatikanlah bagaimana kegentingan ini digambarkan oleh Al-Qur’anul Karim. “Maka, ketika kedua kelompok itu saling melihat, berkatalah pengikut Musa , “Sungguh kita akan benar-benar akan ditawan” Musa menjawab, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Tuhanku menyertaiku (dengan pemuliharaan dan pertolongannya). Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy Syu ’ara:62).


Betapa kegentingan dan kengerian menyinggap ke hati kaum Bani Israel yang saat itu dipimpin Musa as. Tapi Musa as memiliki keyakinan dan ketergantungan yang kuat dengan Allah swt. Ia yakin, Allah pasti membelanya. Ia yakin, bahawa tidak ada yang memiliki kekuatan kecuali Allah swt. Musa as, begitu dekat dengan Allah swt.


Saudaraku,

Mari kita lihat lagi jejak para pejuang di jalan Allah swt yang ditinggalkan dalam lembar-lembar sejarah. Kita ingin mengetahui dan turut merasakan bagaimana kedudukan keyakinan dan doa kepada Allah sebagai senjata paling ampuh hingga kemenangan berhasil mereka raih.

Lihatlah saudaraku,


Di malam senyap dan gelap. Malam peperangan Badar Kubra. Para sahabat radhiallahuanhum tertidur. Kecuali Rasulullah saw sedang terjaga dan solat di berhampiran sebuah pohon. Ia berulangkali sujud dengan mengatakan, “Yaa hayyu yaa Qayyuuum... (Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri) Rasulullah saw terus menerus mengulang-ulang ucapan itu, agar Allah swt mendatangkan kemenangan pada kaum beriman. (Rujukan kitab Al Bidayah wa An Nihayah , 5/82). Seperti itulah keyakinan berpadu permohonan yang amat sangat dari seorang Rasulullah saw saat menghadapi suasana genting. Lalu, ketika melihat pasukan Quraisy, ia mengatakan, “Ya Allah inilah Quraisy telah datang dengan kesombongan dan keegoannya. Mereka mendustai Rasul-Mu. Ya Allah timpakanlah bencana kepada mereka esok. (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, 3/168)


Umar bin Khattab meriwayatkan, detik-detik pecahnya pertempuran di Badar, Rasulullah saw memandang para sahabatnya yang berjumlah tiga ratusan orang. Lalu ia melihat barisan kaum Musyirikin yang jumlahnya lebih dari 1000 orang. Utusan Allah swt itu bersabda,


“Ya Allah, berikanlah kepadaku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau musnahkan kelompok Islam ini, Engkau tidak lagi disembah di muka bumi selamanya.” Kata Umar, Rasulullah saw terus menerus berdoa sampai selendangnya terjatuh dari pundaknya. Abu Bakar ra yang memungutnya mengatakan, “Wahai Nabi Allah, cukup sudah doamu kepada Allah swt. Dia pasti memberimu apa yang dijanjikan kepadamu...” (HR.Ahmad)


Saudaraku,

Pernahkah kita mendengar kisah Nu’man bin Maqran? Seorang pejuang Islam yang memimpin peperangan melawan Parsi. Ketika itu, pasukan Islam telah berminggu- minggu mengepung benteng Parsi yang kukuh kerana pertahanannya melewati parit parit. Nu’man berdiskusi dengan komandan perangnya. Mereka merumuskan strategi untuk memancing pasukan Parsi keluar dari parit-parit mereka. Caranya, pasukan Islam berpura-pura lari meninggalkan medan tempur sehingga apabila orang-orang Parsi keluar dari parit, barulah pasukan Islam berbalik menyerang mereka. Nu’man sepakat dengan strategi ini. Ia mengatakan kepada rakan-rakannya, “Nanti akulah yang akan meneriakkan takbir tiga kali. Jika kalian mendengar teriakan takbir ketiga, bererti saat itulah kalian mulai peperangan.” Setelah itu, Nu’man pergi ke salah satu tempat dan berdo’a kepada Allah swt dengan mengatakan, “Ya Allah, muliakanlah agamamu, menangkanlah hamba-Mu. Ya Allah aku memohon kepada-Mu agar mataku sejuk dengan kemenangan yang menjadikan Islam mulia, dan matikanlah aku dalam keadaan syahid.” Orang-orang yang mendengar doa Nu’man menangis. Mereka sama-sama larut dalam munajat dan do’a dengan penuh khusyuk dan tunduk.


Saudaraku,

Allah swt mengabulkan doa mereka. Kaum Muslimin diberikan kemenangan oleh Allah swt dengan kemenangan yang luar biasa. Allah swt juga mengabulkan doa Nu’man bin Maqran kerana dialah perajurit pertama yang syahid di medan perang ketika itu. (Rujukan Al Bidayah wa An Nihayah, 7/89).


Seorang sahabat yang bernama Qutaibah bin Muslim dan Muhammad bin Wasi ’. Ibnul Jauzi dalam Shifatu Shafwah menceritakan pengalaman keduanya menjelang peperangan meletus. Tiba-tiba Muhammad bin Wasi ’ menghilang dari barisan. Qutaibah lalu memerintahkan pasukannya melihat siapa yang ada di dalam masjid. Pasukannya mengatakan, “Tidak ada seorangpun kecuali Muhammad bin Wasi ’. Ia sedang mengangkat jari-jarinya.” Qutaibah mengatakan,, “Jari-jarinya yang terangkat itu lebih aku sukai daripada tiga puluh ribu pemuda yang kuat dengan pedang terhunus.”


Perhatikanlah saudaraku,

Bagaimana kedudukan dan kekuatan doa dalam pandangan para salafusoleh. Lihatlah lagi saudaraku, bagaimana Solehuddin Al Ayyubi, tokoh pahlawan pembebas Al Quds dari tangan pasukan salib. Dikisahkan, “Solehuddin, ketika mendengar pasukan salib berhasil mendesak kaum Muslimin, ia tersungkur sujud kepada Allah swt sambil berdoa, “Ya Allah aku telah terputus dari sebab-sebab bumi untuk memenangkan agama-Mu. Tidak ada yang tersisa kecuali menyerahkan semuanya kepada-Mu, sambil tetap berpegang pada ajaran-Mu dan bersandar pada kurnia-Mu. Engkaulah Penolongku dan sebaik-baik Pelindung.” Dalam sujudnya itu ia menangis dan air matanya masih menitik di antara janggut hingga membasahi sejadahnya. Dan ketika itulah Allah swt menurunkan kemenangan pasukan Islam atas pasukan salib.


Saudaraku,

Beristighfarlah dan ucapkan dengan tekun akan kalimah-kalimah doamu untuk para mujahidin di Palestin, Afghanistan, Iraq, Selatan Thailand, Mindanao, Sudan, dan para pejuang kebenaran di mana pun mereka berada. Mohonlah dalam doa-doamu agar tanggungjawab dakwahmu mampu dipikul dengan penuh ketaatan, keringanan dan penuh keistiqamahan… dan semoga dengan doa anda sekalian, dakwah Islam beroleh kemenangan dan kita semua ditempatkan di syurga firdausi… InsyaAllah… Berdoalah…

Kekuatan Doa


Kekuatan Doa


Saudaraku,

Persoalan doa kepada Allah sering diungkapkan oleh Presiden HALUAN, Dr. Abdullah Sudin Ab Rahman yang kita kasihi dalam setiap pertemuan dan penyampaian beliau kepada kita semua. Mari kita bersama menyingkap khazanah berharga dari sumber utama rujukan kita, Al Quran, hadith berserta sirah Rasulullah saw. , para sahabat dan salafusoleh untuk memahamkan lagi kepada kita nilai dan keutamaan doa buat para dai’e Ilallah. Tahukah kita seberapa besar kekuatan doa di saat-saat genting? Situasi genting yang paling genting, adalah saat para pejuang Allah swt menghadapi kekuatan musuh Allah swt yang lebih besar. Kegentingan yang pernah dialami hampir oleh para Rasul Allah swt, tidak terkecuali Rasulullah Muhammad saw.


Saudaraku,

Bayangkanlah kegentingan yang dialami Nabiyullah Musa as saat ia dan kaumnya dikejar Fir’aun dan bala tenteranya, sehingga di tepi laut. Perhatikanlah bagaimana kegentingan ini digambarkan oleh Al-Qur’anul Karim. “Maka, ketika kedua kelompok itu saling melihat, berkatalah pengikut Musa , “Sungguh kita akan benar-benar akan ditawan” Musa menjawab, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Tuhanku menyertaiku (dengan pemuliharaan dan pertolongannya). Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy Syu ’ara:62).


Betapa kegentingan dan kengerian menyinggap ke hati kaum Bani Israel yang saat itu dipimpin Musa as. Tapi Musa as memiliki keyakinan dan ketergantungan yang kuat dengan Allah swt. Ia yakin, Allah pasti membelanya. Ia yakin, bahawa tidak ada yang memiliki kekuatan kecuali Allah swt. Musa as, begitu dekat dengan Allah swt.


Saudaraku,

Mari kita lihat lagi jejak para pejuang di jalan Allah swt yang ditinggalkan dalam lembar-lembar sejarah. Kita ingin mengetahui dan turut merasakan bagaimana kedudukan keyakinan dan doa kepada Allah sebagai senjata paling ampuh hingga kemenangan berhasil mereka raih.

Lihatlah saudaraku,


Di malam senyap dan gelap. Malam peperangan Badar Kubra. Para sahabat radhiallahuanhum tertidur. Kecuali Rasulullah saw sedang terjaga dan solat di berhampiran sebuah pohon. Ia berulangkali sujud dengan mengatakan, “Yaa hayyu yaa Qayyuuum... (Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri) Rasulullah saw terus menerus mengulang-ulang ucapan itu, agar Allah swt mendatangkan kemenangan pada kaum beriman. (Rujukan kitab Al Bidayah wa An Nihayah , 5/82). Seperti itulah keyakinan berpadu permohonan yang amat sangat dari seorang Rasulullah saw saat menghadapi suasana genting. Lalu, ketika melihat pasukan Quraisy, ia mengatakan, “Ya Allah inilah Quraisy telah datang dengan kesombongan dan keegoannya. Mereka mendustai Rasul-Mu. Ya Allah timpakanlah bencana kepada mereka esok. (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, 3/168)


Umar bin Khattab meriwayatkan, detik-detik pecahnya pertempuran di Badar, Rasulullah saw memandang para sahabatnya yang berjumlah tiga ratusan orang. Lalu ia melihat barisan kaum Musyirikin yang jumlahnya lebih dari 1000 orang. Utusan Allah swt itu bersabda,


“Ya Allah, berikanlah kepadaku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau musnahkan kelompok Islam ini, Engkau tidak lagi disembah di muka bumi selamanya.” Kata Umar, Rasulullah saw terus menerus berdoa sampai selendangnya terjatuh dari pundaknya. Abu Bakar ra yang memungutnya mengatakan, “Wahai Nabi Allah, cukup sudah doamu kepada Allah swt. Dia pasti memberimu apa yang dijanjikan kepadamu...” (HR.Ahmad)


Saudaraku,

Pernahkah kita mendengar kisah Nu’man bin Maqran? Seorang pejuang Islam yang memimpin peperangan melawan Parsi. Ketika itu, pasukan Islam telah berminggu- minggu mengepung benteng Parsi yang kukuh kerana pertahanannya melewati parit parit. Nu’man berdiskusi dengan komandan perangnya. Mereka merumuskan strategi untuk memancing pasukan Parsi keluar dari parit-parit mereka. Caranya, pasukan Islam berpura-pura lari meninggalkan medan tempur sehingga apabila orang-orang Parsi keluar dari parit, barulah pasukan Islam berbalik menyerang mereka. Nu’man sepakat dengan strategi ini. Ia mengatakan kepada rakan-rakannya, “Nanti akulah yang akan meneriakkan takbir tiga kali. Jika kalian mendengar teriakan takbir ketiga, bererti saat itulah kalian mulai peperangan.” Setelah itu, Nu’man pergi ke salah satu tempat dan berdo’a kepada Allah swt dengan mengatakan, “Ya Allah, muliakanlah agamamu, menangkanlah hamba-Mu. Ya Allah aku memohon kepada-Mu agar mataku sejuk dengan kemenangan yang menjadikan Islam mulia, dan matikanlah aku dalam keadaan syahid.” Orang-orang yang mendengar doa Nu’man menangis. Mereka sama-sama larut dalam munajat dan do’a dengan penuh khusyuk dan tunduk.


Saudaraku,

Allah swt mengabulkan doa mereka. Kaum Muslimin diberikan kemenangan oleh Allah swt dengan kemenangan yang luar biasa. Allah swt juga mengabulkan doa Nu’man bin Maqran kerana dialah perajurit pertama yang syahid di medan perang ketika itu. (Rujukan Al Bidayah wa An Nihayah, 7/89).


Seorang sahabat yang bernama Qutaibah bin Muslim dan Muhammad bin Wasi ’. Ibnul Jauzi dalam Shifatu Shafwah menceritakan pengalaman keduanya menjelang peperangan meletus. Tiba-tiba Muhammad bin Wasi ’ menghilang dari barisan. Qutaibah lalu memerintahkan pasukannya melihat siapa yang ada di dalam masjid. Pasukannya mengatakan, “Tidak ada seorangpun kecuali Muhammad bin Wasi ’. Ia sedang mengangkat jari-jarinya.” Qutaibah mengatakan,, “Jari-jarinya yang terangkat itu lebih aku sukai daripada tiga puluh ribu pemuda yang kuat dengan pedang terhunus.”


Perhatikanlah saudaraku,

Bagaimana kedudukan dan kekuatan doa dalam pandangan para salafusoleh. Lihatlah lagi saudaraku, bagaimana Solehuddin Al Ayyubi, tokoh pahlawan pembebas Al Quds dari tangan pasukan salib. Dikisahkan, “Solehuddin, ketika mendengar pasukan salib berhasil mendesak kaum Muslimin, ia tersungkur sujud kepada Allah swt sambil berdoa, “Ya Allah aku telah terputus dari sebab-sebab bumi untuk memenangkan agama-Mu. Tidak ada yang tersisa kecuali menyerahkan semuanya kepada-Mu, sambil tetap berpegang pada ajaran-Mu dan bersandar pada kurnia-Mu. Engkaulah Penolongku dan sebaik-baik Pelindung.” Dalam sujudnya itu ia menangis dan air matanya masih menitik di antara janggut hingga membasahi sejadahnya. Dan ketika itulah Allah swt menurunkan kemenangan pasukan Islam atas pasukan salib.


Saudaraku,

Beristighfarlah dan ucapkan dengan tekun akan kalimah-kalimah doamu untuk para mujahidin di Palestin, Afghanistan, Iraq, Selatan Thailand, Mindanao, Sudan, dan para pejuang kebenaran di mana pun mereka berada. Mohonlah dalam doa-doamu agar tanggungjawab dakwahmu mampu dipikul dengan penuh ketaatan, keringanan dan penuh keistiqamahan… dan semoga dengan doa anda sekalian, dakwah Islam beroleh kemenangan dan kita semua ditempatkan di syurga firdausi… InsyaAllah… Berdoalah…

Tuesday, January 06, 2009

Kekalahan Fatah pimpinan Mahmood Abbas dalam pilihanraya pertama di Palestin pada Januari 2006 sebenarnya memberi tamparan hebat kepada rejim Zionis dan AS.


Dengan segala bantuan yang diberi termasuklah sumber kewangan, ketenteraan dan kebendaan, mereka mengharapkan Mahmud Abbas dan Fatah boleh menang dalam pilihanraya ini.


Seterusnya mereka juga mengharapkan Mahmud Abbas dapat mendirikan sebuah negara sekular Palestin, bukan sekadar berjiran dengan Israel malah sanggup menurut segala kemahuan rejim Zionis dan AS.


Kemenangan Hamas pula merupakan kemenangan perjuangan Islam di bumi Palestin. Walaupun Hamas telah berjaya menubuhkan sebuah kerajaan pakatan dengan Fatah, rejim Zionis dan AS masih tidak berpuashati. Ini disebabkan mereka masih melihat kerajaan baru ini dikuasai oleh Hamas kerana majoriti kerusi di Parlimen dikuasai oleh Hamas.


Hakikatnya mereka tidak akan menerima sebuah negara yang diperintah oleh Hamas yang ingin menegakkan syariat Islam.


Oleh itu apa yang berlaku sepanjang tiga tahun ini (2006 hingga 2008) dibumi Palestin khususnya di jalur Gaza sehinggalah tamatnya tempoh “truce” pada 19 Disember baru-baru ini ialah rejim Zionis dan AS telah merancang dan melakukan berbagai usaha untuk melumpuhkan kerajaan pimpinan Hamas (yang dianggap pengganas oleh rejim Zionis dan AS) dan seterusnya cuba memadamkan api perjuangan umat Islam dibumi Palestin.


Walaupun sepanjang tempoh ini terdapat berbagai perjanjian damai yang diusahakan terutama sekali oleh AS, tetapi bertujuan lebih untuk mengembalikan pimpinan Mahmud Abbas dan ingin mendapatkan sokongan antarabangsa terutama sekali negara Arab dan Islam dengan memberi harapan palsu tentang kedamaian. Tentu sekali semua perjanjian damai ini bukan bertujuan untuk mencari kedamaian dalam ertikata yang sebenarnya.


Bermula seawal bulan Januari 2006 (selepas piliharaya di Palestin), segala usaha untuk memberi tekanan kepada Hamas dan pengikutnya telah bermula. Dengan adanya tembok batu pemisah-yang pembinaannya di haramkan oleh PBB- yang dibina oleh Ariel Sharon ( yang kini dalam keadaan azab nazak yang panjang) memudahkan segala usaha jahat ini. Segala pergerakan keluar-masuk penduduk dan kegiatan ekonomi rakyat Palestin melalui tembok batu pemisah ini menjadi semakin sukar. Ini secara langsung memberi kesan buruk kepada kehidupan rakyat Palestin yang sebelum ini memang telah lama menderita. Keadaan ini sepertimana yang di sebut oleh Jimmy Carter (bekas President AS) bahawa rakyat Palestin telah menjadi pelarian dan banduan di negara mereka sendiri akibat tembok batu pemisah ini dan dasar apartheid rejim Zionis.


Bila Gilad Shalit, seorang tentera IDF ( Israeli Defend Force), di tawan - tetapi rejim Zionis mengatakan beliau diculik- oleh pejuang Islam (Popular Resistance Committee) pada bulan Jun 2006, gelombang kezaliman rejim Zionis kembali melanda penduduk Palestin.


Sepatutnya perkara ini boleh diselesaikan dengan pertukaran tawanan perang sahaja sepertimana yang dituntut oleh pejuang Islam ini, sebaliknya rejim Zionis mengambil peluang ini untuk melakukan kemusnahan yang maksima terhadap penduduk Palestin iaitu satu kaedah yang disebut sebagai “disproportionate force”.


Antara tindakan yang diambil rejim Zionis ialah membunuh beratus-ratus orang awam Palestin dan memusnahkan rumah, bangunan dan hartabenda penduduk Palestin demi membebas hanya seorang rakyat Israel .


Bukan setakat itu saja rejim Zionis juga telah menahan hampir seribu penduduk Palestin termasuklah berpuluh-puluh orang ahli Parliamen Hamas. Tindakan ini sekali lagi dillihat sebagai usaha untuk melemahkan lagi kerjaan pimpinan Hamas ini.


Kerajaan pakatan Hamas/Fatah tidak mampu bertahan lama apabila Mahmud Abbas keluar dari kerajaan pakatan ini pada bulan Jun 2007.


Hamas pula dituduh “merampas kuasa” tetapi sebenarnya tiada rampasan kuasa kerana Hamas memang pemerintah yang sah dan berkuasa. Akibatnya, pemerintahan kerajaan baru Palestin berpecah dua. Mahmud Abbas, yang masih mengaku President PA berkuasa di Tebing Batar dan tentu saja mendapat sokongan dari rejim Zionis dan AS.


Manakala Hamas terus berkuasa di jalur Gaza dengan mandat diberi oleh penduduk Palestin.


Kini kezaliman rejim Zionis lebih tertumpu di jalur Gaza di mana Hamas berkuasa.

Tindakan ini jelas bertujuan untuk mengulingkan Hamas. Malah melalui kaedah “collective punishment” -yang diharamkan oleh pertubuhan hak asasi manusia antarabangsa- dimana seluruh penduduk dijalur Gaza juga turut di hukum kerana terus memberi sokongan kepada Hamas.


Antara tindakan-tindakan kejam yang dilakukan oleh rejim Zionis ialah melancarkan pencerobohan di jalur Gaza , membunuh beratus-ratus penduduk awam dan merosak harta-benda penduduk di jalur Gaza . Malah yang lebih kejam lagi ialah Rejim Zionis juga mengenakan sekatan dan kepungan di jalur Gaza yang disebut sebagai “Gaza Siege”.


Melalui tindakan kejam ini semua pintu masuk ke jalur Gaza ditutup, menyekat semua bahan-bahan keperluan asas seperti makanan, ubat-ubatan dan keperluan lain untuk kegiatan ekonomi. Akibatnya, jalur Gaza mengalami krisis kemanusiaan yang teruk.


Dalam tahun yang sama juga iaitu pada bulan November 2007, Mahmud Abbas telah menandatangi satu perjanjian damai diantara Ehud Olmert dan George W. Bush. Perjanjian damai ini yang dipanggil sebagai Sidang Damai Annapolis, menjanjikan sebuah Negara Palestin yang berjiran negara Israel (two state solution). Perjanjian ini dibuat semasa penduduk dijalur Gaza sedang menderita akibat sekatan dan kepungan rejim Zionis.


“Gaza Siege” yang zalim ini berlangsung sehingga tahun 2008. Hujung bulan Januari 2008 dunia telah dikejutkan dengan peristiwa Hamas meletupkan tembok batu pemisah berdekatan dengan Rafah. Tindakan ini dilakukan demi untuk menyelamatkan 1.5 juta penduduk di jalur Gaza yang sedang mengalami krisis kemanusiaan yang meruncing. Hasilnya, Hamas dan krisis kemanusiaan penduduk di jalur Gaza menjadi perhatian dunia.


Walaupun begitu sikap angkuh rejim Zionis yang tidak kenal erti kemanusiaan telah mengenakan satu lagi tindakan yang zalim iaitu memberhentikan bekalan bahanapi untuk menjalankan operasi janakuasa elektrik di jalur Gaza . Jalur Gaza bergelap, hospital berhenti beroperasi dan semua kegiatan ekonomi lumpuh sama sekali.


Hasil dari tindakan zalim dan kejam rejim Zionis iaitu melalui sekatan, kepungan dan pencerobohan selama hampir 3 tahun terutama sekali di jalur Gaza hampir 1000 rakyat Palestin yang telah dibunuh termasuk bayi yang baru berumur 4 bulan hinggalah orang tua yang berumur 65 tahun, hampir 5000 rakyat Palestin yang ditahan dan kemusnahan tempat tinggal dan harta-benda rakyat Palestin makin meningkat.


Malah yang menyedihkan lagi lebih dari 261 orang pesakit di jalur Gaza mati akibat kekurangan ubat-ubatan ataupun tidak dapat permit dari rejim Zionis untuk keluar dari jalur Gaza bagi mendapat rawatan lanjut. Antara yang mati termasuklah kanak-kanak yang baru lahir hinggalah kepada orang tua.


Beberapa statistiks telah dikeluarkan oleh beberapa pertubuhan hak manusia seperti URWA, bagi menggambarkan betapa terusknya krisis kemanusiaan di jalur Gaza seperti berikut : 77 % penduduk sangat memerlukan dengan segara bantuan kemanusiaan seperti makanan, ubat-ubatan dan lain-lain lagi; kadar ‘malnutrition’ adalah paling tinggi di dunia; simpanan makanan (food insecurity) berada pada tahap paling bahaya iaitu 56%. Dan 42% dari penduduk disini tidak mempunyai pekerjaan.


Namun dengan segala penderitaan dan kesusahan yang ditanggung Hamas dan penduduk Islam di jalur Gaza , mereka masih mampu bertahan hingga saat ini. Malah sepanjang sekatan dan kepungan ini Hamas dan pejuang Islam masih mampu memberi serangan-balas terhadap rejim Zionis. Perkara ini merupakan mimpi ngeri untuk orang Yahudi.


Tindakan balas ini memberi kesan buruk kepada pemimpin politik rejim Zionis. Mereka di lihat tidak mampu mengalahkan Hamas dan seterusnya memberhentikan serangan roket terutama sekali di selatan Israel . Bukan setakat itu sahaja, tindakan Hamas ini juga memberi kesan kepada Sidang Damai Annapolis.


Faktor politik dalaman Israel, isu pembebasan Gilad Shalit, tekanan antarabangsa dan pengaruh Hamas dikalangan penduduk Palestin memaksa rejim Zionis menerima Hamas sebagai rakan-runding dalam sebuah perjanjian sementara yang disebut sebagai “truce” (”calm” ataupun “lull”) dengan Mesir menjadi orang tengah (broker).


Dalam “Truce Agreement” ini kedua-dua pihak (rejim Zionis dan Hamas) diminta memberhentikan semua serangan supaya proses perdamaian yang utama dapat diteruskan. Hamas bersetuju dengan “truce’ ini tetapi dengan syarat rejim Zionis menamatkan semua sekatan dan kepungan, membuka semua pintu masuk ke jalur, menghentikan sekatan ekonomi dan semua pencerobohan. Hamas dan beberapa pejuang bersenjata Islam yang lain mula mematuhi ‘truce’ ini pada 19 Jun 2008. Dari tarikh ini Hamas berjanji memberhentikan semua serangan roket ke wilayah Israel kecuali rejim Zionis memulakan serangan ataupun pencerobohan terlebih dahulu.


Hamas memberi tempoh selama 6 bulan kepada rejim Zionis untuk mematuhi segala persetujuan yang terdapat dalam truce ini terutama sekali menghentikan semua sekatan dan kepungan, membenarkan semua bantuan kemanusiaan masuk ke jalur Gaza dan menghentikan semua sekatan ekonomi.


Pada 19 Disember yang lalu Hamas mengistiharkan bahawa tempoh 6 bulan telah berakhir dan tidak akan menyambungkan tempoh ini. Rejim Zionis menuduh bahawa Hamas tidak berminat untuk melakukan perdamaian dan memilih peperangan.


Tetapi Hamas pula mengatakan “truce” ini gagal mencapai matlamatnya. Rejim Zionis masih lagi meneruskan sekatan dan kepungan di jalur Gaza .


Tindakan ganas dan pencerobohan oleh Israel masih dilakukan oleh rejim Zionis sepanjang tempoh “truce’.Buktinya apa yang telah dilaporkan oleh Palestinian Information Center pada 19 Disember : Sepanjang tempoh 6 bulan ini seramai 49 rakyat Palestin dibunuh termasuk 7 orang kanak-kanak. Bulan November juga menyaksikan kadar kematian yang tertinggi di jalur Gaza dalam satu bulan iaitu seramai 17 orang.


Menurut Brigade Qassam pula sepanjang tempoh 6 bulan “truce” ini IOF (Israel Occupation Force) telah melakukan serangan sebanyak 185 kali, manakala Qassam Brigades melakukan serangan balas sebanyak 170 kali yang mengakibat 38 rakyat Yahudi tercedera (tiada kematian dilaporkan).


Oleh itu, siapakah sebenarnya yang bertanggungjawab menyebabkan situasi di Palestin semakin runcing?

Kronologi Tindakan Israel Zionis Di Palestin 2006 - 2008

Kekalahan Fatah pimpinan Mahmood Abbas dalam pilihanraya pertama di Palestin pada Januari 2006 sebenarnya memberi tamparan hebat kepada rejim Zionis dan AS.


Dengan segala bantuan yang diberi termasuklah sumber kewangan, ketenteraan dan kebendaan, mereka mengharapkan Mahmud Abbas dan Fatah boleh menang dalam pilihanraya ini.


Seterusnya mereka juga mengharapkan Mahmud Abbas dapat mendirikan sebuah negara sekular Palestin, bukan sekadar berjiran dengan Israel malah sanggup menurut segala kemahuan rejim Zionis dan AS.


Kemenangan Hamas pula merupakan kemenangan perjuangan Islam di bumi Palestin. Walaupun Hamas telah berjaya menubuhkan sebuah kerajaan pakatan dengan Fatah, rejim Zionis dan AS masih tidak berpuashati. Ini disebabkan mereka masih melihat kerajaan baru ini dikuasai oleh Hamas kerana majoriti kerusi di Parlimen dikuasai oleh Hamas.


Hakikatnya mereka tidak akan menerima sebuah negara yang diperintah oleh Hamas yang ingin menegakkan syariat Islam.


Oleh itu apa yang berlaku sepanjang tiga tahun ini (2006 hingga 2008) dibumi Palestin khususnya di jalur Gaza sehinggalah tamatnya tempoh “truce” pada 19 Disember baru-baru ini ialah rejim Zionis dan AS telah merancang dan melakukan berbagai usaha untuk melumpuhkan kerajaan pimpinan Hamas (yang dianggap pengganas oleh rejim Zionis dan AS) dan seterusnya cuba memadamkan api perjuangan umat Islam dibumi Palestin.


Walaupun sepanjang tempoh ini terdapat berbagai perjanjian damai yang diusahakan terutama sekali oleh AS, tetapi bertujuan lebih untuk mengembalikan pimpinan Mahmud Abbas dan ingin mendapatkan sokongan antarabangsa terutama sekali negara Arab dan Islam dengan memberi harapan palsu tentang kedamaian. Tentu sekali semua perjanjian damai ini bukan bertujuan untuk mencari kedamaian dalam ertikata yang sebenarnya.


Bermula seawal bulan Januari 2006 (selepas piliharaya di Palestin), segala usaha untuk memberi tekanan kepada Hamas dan pengikutnya telah bermula. Dengan adanya tembok batu pemisah-yang pembinaannya di haramkan oleh PBB- yang dibina oleh Ariel Sharon ( yang kini dalam keadaan azab nazak yang panjang) memudahkan segala usaha jahat ini. Segala pergerakan keluar-masuk penduduk dan kegiatan ekonomi rakyat Palestin melalui tembok batu pemisah ini menjadi semakin sukar. Ini secara langsung memberi kesan buruk kepada kehidupan rakyat Palestin yang sebelum ini memang telah lama menderita. Keadaan ini sepertimana yang di sebut oleh Jimmy Carter (bekas President AS) bahawa rakyat Palestin telah menjadi pelarian dan banduan di negara mereka sendiri akibat tembok batu pemisah ini dan dasar apartheid rejim Zionis.


Bila Gilad Shalit, seorang tentera IDF ( Israeli Defend Force), di tawan - tetapi rejim Zionis mengatakan beliau diculik- oleh pejuang Islam (Popular Resistance Committee) pada bulan Jun 2006, gelombang kezaliman rejim Zionis kembali melanda penduduk Palestin.


Sepatutnya perkara ini boleh diselesaikan dengan pertukaran tawanan perang sahaja sepertimana yang dituntut oleh pejuang Islam ini, sebaliknya rejim Zionis mengambil peluang ini untuk melakukan kemusnahan yang maksima terhadap penduduk Palestin iaitu satu kaedah yang disebut sebagai “disproportionate force”.


Antara tindakan yang diambil rejim Zionis ialah membunuh beratus-ratus orang awam Palestin dan memusnahkan rumah, bangunan dan hartabenda penduduk Palestin demi membebas hanya seorang rakyat Israel .


Bukan setakat itu saja rejim Zionis juga telah menahan hampir seribu penduduk Palestin termasuklah berpuluh-puluh orang ahli Parliamen Hamas. Tindakan ini sekali lagi dillihat sebagai usaha untuk melemahkan lagi kerjaan pimpinan Hamas ini.


Kerajaan pakatan Hamas/Fatah tidak mampu bertahan lama apabila Mahmud Abbas keluar dari kerajaan pakatan ini pada bulan Jun 2007.


Hamas pula dituduh “merampas kuasa” tetapi sebenarnya tiada rampasan kuasa kerana Hamas memang pemerintah yang sah dan berkuasa. Akibatnya, pemerintahan kerajaan baru Palestin berpecah dua. Mahmud Abbas, yang masih mengaku President PA berkuasa di Tebing Batar dan tentu saja mendapat sokongan dari rejim Zionis dan AS.


Manakala Hamas terus berkuasa di jalur Gaza dengan mandat diberi oleh penduduk Palestin.


Kini kezaliman rejim Zionis lebih tertumpu di jalur Gaza di mana Hamas berkuasa.

Tindakan ini jelas bertujuan untuk mengulingkan Hamas. Malah melalui kaedah “collective punishment” -yang diharamkan oleh pertubuhan hak asasi manusia antarabangsa- dimana seluruh penduduk dijalur Gaza juga turut di hukum kerana terus memberi sokongan kepada Hamas.


Antara tindakan-tindakan kejam yang dilakukan oleh rejim Zionis ialah melancarkan pencerobohan di jalur Gaza , membunuh beratus-ratus penduduk awam dan merosak harta-benda penduduk di jalur Gaza . Malah yang lebih kejam lagi ialah Rejim Zionis juga mengenakan sekatan dan kepungan di jalur Gaza yang disebut sebagai “Gaza Siege”.


Melalui tindakan kejam ini semua pintu masuk ke jalur Gaza ditutup, menyekat semua bahan-bahan keperluan asas seperti makanan, ubat-ubatan dan keperluan lain untuk kegiatan ekonomi. Akibatnya, jalur Gaza mengalami krisis kemanusiaan yang teruk.


Dalam tahun yang sama juga iaitu pada bulan November 2007, Mahmud Abbas telah menandatangi satu perjanjian damai diantara Ehud Olmert dan George W. Bush. Perjanjian damai ini yang dipanggil sebagai Sidang Damai Annapolis, menjanjikan sebuah Negara Palestin yang berjiran negara Israel (two state solution). Perjanjian ini dibuat semasa penduduk dijalur Gaza sedang menderita akibat sekatan dan kepungan rejim Zionis.


“Gaza Siege” yang zalim ini berlangsung sehingga tahun 2008. Hujung bulan Januari 2008 dunia telah dikejutkan dengan peristiwa Hamas meletupkan tembok batu pemisah berdekatan dengan Rafah. Tindakan ini dilakukan demi untuk menyelamatkan 1.5 juta penduduk di jalur Gaza yang sedang mengalami krisis kemanusiaan yang meruncing. Hasilnya, Hamas dan krisis kemanusiaan penduduk di jalur Gaza menjadi perhatian dunia.


Walaupun begitu sikap angkuh rejim Zionis yang tidak kenal erti kemanusiaan telah mengenakan satu lagi tindakan yang zalim iaitu memberhentikan bekalan bahanapi untuk menjalankan operasi janakuasa elektrik di jalur Gaza . Jalur Gaza bergelap, hospital berhenti beroperasi dan semua kegiatan ekonomi lumpuh sama sekali.


Hasil dari tindakan zalim dan kejam rejim Zionis iaitu melalui sekatan, kepungan dan pencerobohan selama hampir 3 tahun terutama sekali di jalur Gaza hampir 1000 rakyat Palestin yang telah dibunuh termasuk bayi yang baru berumur 4 bulan hinggalah orang tua yang berumur 65 tahun, hampir 5000 rakyat Palestin yang ditahan dan kemusnahan tempat tinggal dan harta-benda rakyat Palestin makin meningkat.


Malah yang menyedihkan lagi lebih dari 261 orang pesakit di jalur Gaza mati akibat kekurangan ubat-ubatan ataupun tidak dapat permit dari rejim Zionis untuk keluar dari jalur Gaza bagi mendapat rawatan lanjut. Antara yang mati termasuklah kanak-kanak yang baru lahir hinggalah kepada orang tua.


Beberapa statistiks telah dikeluarkan oleh beberapa pertubuhan hak manusia seperti URWA, bagi menggambarkan betapa terusknya krisis kemanusiaan di jalur Gaza seperti berikut : 77 % penduduk sangat memerlukan dengan segara bantuan kemanusiaan seperti makanan, ubat-ubatan dan lain-lain lagi; kadar ‘malnutrition’ adalah paling tinggi di dunia; simpanan makanan (food insecurity) berada pada tahap paling bahaya iaitu 56%. Dan 42% dari penduduk disini tidak mempunyai pekerjaan.


Namun dengan segala penderitaan dan kesusahan yang ditanggung Hamas dan penduduk Islam di jalur Gaza , mereka masih mampu bertahan hingga saat ini. Malah sepanjang sekatan dan kepungan ini Hamas dan pejuang Islam masih mampu memberi serangan-balas terhadap rejim Zionis. Perkara ini merupakan mimpi ngeri untuk orang Yahudi.


Tindakan balas ini memberi kesan buruk kepada pemimpin politik rejim Zionis. Mereka di lihat tidak mampu mengalahkan Hamas dan seterusnya memberhentikan serangan roket terutama sekali di selatan Israel . Bukan setakat itu sahaja, tindakan Hamas ini juga memberi kesan kepada Sidang Damai Annapolis.


Faktor politik dalaman Israel, isu pembebasan Gilad Shalit, tekanan antarabangsa dan pengaruh Hamas dikalangan penduduk Palestin memaksa rejim Zionis menerima Hamas sebagai rakan-runding dalam sebuah perjanjian sementara yang disebut sebagai “truce” (”calm” ataupun “lull”) dengan Mesir menjadi orang tengah (broker).


Dalam “Truce Agreement” ini kedua-dua pihak (rejim Zionis dan Hamas) diminta memberhentikan semua serangan supaya proses perdamaian yang utama dapat diteruskan. Hamas bersetuju dengan “truce’ ini tetapi dengan syarat rejim Zionis menamatkan semua sekatan dan kepungan, membuka semua pintu masuk ke jalur, menghentikan sekatan ekonomi dan semua pencerobohan. Hamas dan beberapa pejuang bersenjata Islam yang lain mula mematuhi ‘truce’ ini pada 19 Jun 2008. Dari tarikh ini Hamas berjanji memberhentikan semua serangan roket ke wilayah Israel kecuali rejim Zionis memulakan serangan ataupun pencerobohan terlebih dahulu.


Hamas memberi tempoh selama 6 bulan kepada rejim Zionis untuk mematuhi segala persetujuan yang terdapat dalam truce ini terutama sekali menghentikan semua sekatan dan kepungan, membenarkan semua bantuan kemanusiaan masuk ke jalur Gaza dan menghentikan semua sekatan ekonomi.


Pada 19 Disember yang lalu Hamas mengistiharkan bahawa tempoh 6 bulan telah berakhir dan tidak akan menyambungkan tempoh ini. Rejim Zionis menuduh bahawa Hamas tidak berminat untuk melakukan perdamaian dan memilih peperangan.


Tetapi Hamas pula mengatakan “truce” ini gagal mencapai matlamatnya. Rejim Zionis masih lagi meneruskan sekatan dan kepungan di jalur Gaza .


Tindakan ganas dan pencerobohan oleh Israel masih dilakukan oleh rejim Zionis sepanjang tempoh “truce’.Buktinya apa yang telah dilaporkan oleh Palestinian Information Center pada 19 Disember : Sepanjang tempoh 6 bulan ini seramai 49 rakyat Palestin dibunuh termasuk 7 orang kanak-kanak. Bulan November juga menyaksikan kadar kematian yang tertinggi di jalur Gaza dalam satu bulan iaitu seramai 17 orang.


Menurut Brigade Qassam pula sepanjang tempoh 6 bulan “truce” ini IOF (Israel Occupation Force) telah melakukan serangan sebanyak 185 kali, manakala Qassam Brigades melakukan serangan balas sebanyak 170 kali yang mengakibat 38 rakyat Yahudi tercedera (tiada kematian dilaporkan).


Oleh itu, siapakah sebenarnya yang bertanggungjawab menyebabkan situasi di Palestin semakin runcing?

Thursday, January 01, 2009

Awal tahun baru hijrah 1430H menyaksikan satu lagi tindakan biadap rejim zionis Israel. Rakyat Gaza yang menderita sejak 18 bulan yang lalu akibat penutupan sempadan oleh Israel sehingga terputus bekalan makanan dan ubat-ubatan kini menghadapi seranga bertubi-tubi Israel dengan menggunakan jet-jet pejuang F-16 dan helikopter penggempur Apachee ke atas sasaran awam. Bilangan orang awam di Gaza yang terbunuh kini telah mencecah lebih dari 300 orang dan Lebih 1500 orang mengalami kecederaan. Bilangan kematian dikalangan rakyat Palestin akan terus meningkat kerana masih ramai mangsa yang tertimbus dalam runtuhan bangunan. Serangan juga akan diteruskan oleh Israel tanpa ada tanda-tanda ia akan dihentikan. Bahkan pasukan darat tentera Israel juga sedang bersedia di perbatasan Gaza dan akan melancarkan serangan besar-besaran pada bila-bila masa. Sudah tentu ini akan meningkatkan lagi kemusnahan, dan kematian di kalangan penduduk Gaza.

Allah Ta’ala berfirman:

4:75

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita mahupun anak-anak yang semuanya berdoa: “”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah.

Kita diperingatkan oleh Allah SWT di dalam Al Quran:

9:71

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”


Isu Palestin bukan isu Arab atau isu rakyat Palestin, tetapi ia adalah isu umat Islam. Malangnya umat Islam yang sudah dihinggapi oleh sejenis virus yang disebarkan oleh penjajah iaitu ideology kebangsaan sempit atau assobiyah, kita tidak lagi melihat umat Islam diluar dari sempadan politik Negara kita sebagai saudara seislam yang wajib di bela dan dipertahankan.


Sabda Rasulullah SAW:

Seorang muslim adalah saudara kepada muslim yang lain, dia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya”


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah. Sesungguhnya membantu saudara seislam yang diserang, dizalimi dan ditindas oleh musuh-musuhnya adalah merupakan satu tuntutan ukhuwah. Tuntutan ukhuwah di Dalam Islam tidak mengenal batas-batas Negara, bangsa dan keturunan. Selama mana seseorng itu mengucap kalimah syahadah maka dia ada saudara dalam Islam yang wajib dibela dan dipertahankan. Jika dia disakiti dan dianiaya menjadi tanggungjawab umat Islam untuk merawat, menghilangkan sebab-sebab yang menimbulkan kesakitan tersebut dan menghapuskan penganiayaan dan kezaliman yang dilakukan ke atas dirinya. Ini adalah kerana Rasulullah SAW bersabda yang membawa maksud:


Umat Islam adalah ibarat satu tubuh. Jika sebahagian tubuh merasa sakit maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya dan tidak boleh tidur malam.”


Saudara sidang Jumaat yang dirahmati Allah.

Saudara-saudara kita di Gaza dan di Palestin sudah dizalimi dan dianiaya sejak lebih 60 tahun lalu. Bahkan sejak tahun 1948, 5 juta rakyat Palestin terpaksa meneruskan kehidupan di khemah-khemah pelarian baik di luar mahupun di dalam Negara Palestin yang terjajah. Mereka langsung tidak mendapat sebarang perlindungan dan pembelaan dari Negara-negara Islam baik yang berjiran mahupun dari seluruh dunia Islam. Bahkan penderitaan mereka semakin getir sejak 18 bulan yang lalu apabila Israel dengan penuh biadap menutup sempadan Gaza dan menyekat bekalan makanan, ubat-ubatan, bahan api dan bekalan air bersih.


Tindakan tidak berperikemanusiaan ini disokong oleh kuasa-kuasa besar Amerika, Kesatuan Eropah dan Rusia. Bahkan Bangsa-bangsa bersatu turut bersekongkol dengan kuasa-kuasa besar merestui tindakan penuh kezaliman yang tidak pernah disaksikan di dalam sejarah tamaddun kemanusiaan iaitu 1.5 juta rakyat Palestin dikepung di dalam penjara terbesar di dunia dan kemudian dibiarkan menderita kebuluran. Keadaan begitu genting sehingga ada di kalangan penduduk Gaza yang terpaksa memakan rumput di tepi jalan untuk meneruskan kehidupan. Dan yang paling malang lagi saudara-saudara seagama yang jumlahnya mencecah 1.6 billion orang mengambil sikap acuh tak acuh atau tidak mengambil peduli tentang nasib saudaranya yang berada di ambang kematian. Negara-negara Islam yang merupakan Negara-negara pengeluar minyak yang kaya sanggup membiarkan umat Islam diperlakukan dengan biadap tanpa peri kemanusiaan oleh musuh-musuhnya. Bahkan lebih hina lagi apabila Mesir yang berjiran dengan Gaza tunduk kepada kehendak Isreal dan Amerika dan menutup sempadannya dengan Gaza. Bahkan sehingga saat ini pintu sempadan masih ditutup sehingga rakyat Gaza yang tercedera dalam serangan biadap Israel tidak dapat menyeberang untuk mendapatkan rawatan.


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah.

Di manakah kita hendak letak ayat-ayat al Quran dan hadis Nabi SAW yang menekankan tentang tanggungjawab ukhuwah Islam. Bagaimanakah umat Islam hendak berdiri di hadapan Rabbul Jalil dan memberi alasan di atas kealpaan mereka membantu saudara-saudara mereka di Gaza dan dipuluhan malah ratusan tempat yang lain di mana umat Islam dizalimi, ditindas dan disakiti.


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah. Lebih malang lagi apabila ada Negara-negara Islam bahkan pemimpin-pemimpin Islam yang turut meletakkan kesalahan ke atas rakyat Palestin. Ini adalah perkara yang sangat pelik. Israel yang melakukan serangan besar-besaran sehingga membunuh ratusan rakyat Palestin, sebahagian besarnya wanita dan kanak-kanak, tiba-tiba kesalahan itu dilonggokkan ke atas bahu rakyat Palestin?


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah.

Jangan terpengaruh dan terpedaya dengan propaganda pihak musuh. Mereka mengulang-ulang gesaan supaya pejuang palestin menghentikan serangan roket ke atas sasaran Israel. Mereka mendakwa serangan roket inilah yang telah mengundang amarah Israel sehingga mereka melancarkan serangan udara sejak seminggu yang lalu. Hakikatnya rakyat Palestin hanya mempertahankan diri dari pencerobohan tentera Israel yang berlaku acap kali ke atas wilayah Gaza. Pencerobohan ini pula berlaku pada saat gencatan senjata berlangsung di antara kedua belah pihak. Apakah pilihan yang ada pada rakyat Palestin ketika mereka dikepung dan dinafikan hak untuk hidup, kemudian dinafikan pula hak untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Undang-undang antarabangsa dan Konvensyen Geneva memperakui tindakan mana-mana Negara atau bangsa yang dijajah untuk mempertahankan hak, diri dan tanah air mereka dari segala bentuk penjajahan asing.


Dunia tidak boleh diperdaya oleh regim zionis dengan siri-siri penipuan mereka. Kemampuan pejuang Palestin dan Hamas untuk bertindak balas ke atas kebiadapan Israel sangat terbatas. Bagaimana mungkin Palestin yang hanya memiliki roket buatan sendiri yang tidak pernah tepat mengenai sasaran boleh menjadi ancaman kepada Israel yang merupakan kuasa tentera yang terbesar di dunia. Dengan sokongan Amerika, Israel memiliki semua peralatan dan senjata tercanggih termasuklah kereta kebal Merkeva, helicopter Apache’ dan Jet pejuang F16, F17 dan F18 yang dibekalkan oleh Amerika Syarkiat. Hakikatnya tindakan serangan roket yang dilancarkan oleh pejuang Palestin sejak sepuluh tahun yang lalu hanya membunuh sekitar 20 orang rakyat Israel, dan itupun dalam rangka untuk mempertahankan diri setiap kali tentera Israel menggempur rakyat Palestin. Bilangan rakyat Palestin yang terbunuh akibat serangan Isreal sudah mencecah ribuan jiwa. Ini tidak termasuk puluhan ribu yang tercedera dan 10,000 termasuk 300 orang wanita yang diseksa dalam penjara Israel. Dan hari ini dalam satu serangan sahaja Israel membunuh 300 orang sekelip mata. Di manakah ’sense of proportion’ atau kemampuan menimbang masyarakat antarabangsa di antara kejahatan Israel dengan kemampuan rakyat Palestin untuk mempertahankan diri mereka.


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah.

Atas rasa tanggungjawab dan prihatin yang amat mendalam terhadap kezaliman yang sedang berlaku ke atas umat Islam, khatib mengsyorkan beberapa tindakan praktikal yang boleh dilakukan oleh umat Islam.


Pertama, khatib menyeru umat Islam supaya bermunajat kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh agar Allah mengeluarkan kita dari keadaan yang lemah ini dan mengampuni kealpaan selama ini. Seterusnya kita memohon kepada Allah agar memberi kekuatan kepada seluruh umat Islam supaya bangkit dari kelemahan ini untuk berhadapan dengan musuh-musuh Islam. Seterusnya secara khusus kita memohon kepada Allah agar diberikan kemenangan ke atas umat Islam di Palestin ke atas musuh-musuh zionis yahudi.


Kedua, khatib mengsyorkan agar setiap kariah dan kawasan mngadakan solat hajatperdana memohon kepada Allah agar saudara-saudara kita di Palestin diselamatkan dari kejahatan musuh-musuh zionis dan memenangkan mereka dengan ‘karamah’ dari Allah SWT. Kita yakin golongan yang dizalimi dan teraniaya pasti didengari doa mereka dan akan mendapat pertolongan Allah SWT.


Ketiga khatib mengsyorkan agar umat Islam tidak teragak-agak untuk menghulurkan bantuan kewangan kepada suadara-saudaranya di Palestin. Ini bersesuaian dengan anjuran Allah SWT agar umat Islam berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. Firman Allah SWT dari surah as Saff:


Wahai orang yang beriman. Sukakah kamu diberitahu satu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari seksa api neraka iaitu kamu beriman dengan Allah dan Rasulnya, dan berjihad pada jalannya dengan harta-harta kamu dan jiwa raga kamu. Itulah yang baik bagi kamu jika kamu mengetahui.


Akhirnya khatib ingin mengingatkan umat Islam bahawa kezaliman dan penganiayaan itu menimpa bumi yang diberkati, bumi para Nabi, bumi Isra’ dan mikraj dan bumi di mana terletak masjid al Aqsa yang dimuliakan Allah SWT di samping masjid al Haram dan masjid a-Nabawi.


Khatib juga ingin merakamkan rasa sedih seluruh umat Islam yang amat mendalam ke atas penderitaan yang menimpa rakyat Palestin d Gaza dalam suasana ketika seluruh dunia Islam menyambut Ma’al Hijrah (tahun baru Hijrah 1430H dan ketika tahun 2008 akan melabuhkan tabirnya menjelang ketibaan tahun baru 2009. Apakah ia menandakan tahun baru ini menjanjikan penderitaan berpanjangan kepada rakyat Palestin? Oleh kerana itu khatib menggesa seluruh lapisan masyarakat bangkit untuk menggesa supaya kebiadaban dan keangkuhan rejim zionis yang disokong oleh USA dihentikan dengan segera.


Disediakan oleh

Dr Hafidzi Mohd Noor

Palestine Centre of Excellence

Teks Khutbah Palestin, Jumaat 2 Januari 2009

Awal tahun baru hijrah 1430H menyaksikan satu lagi tindakan biadap rejim zionis Israel. Rakyat Gaza yang menderita sejak 18 bulan yang lalu akibat penutupan sempadan oleh Israel sehingga terputus bekalan makanan dan ubat-ubatan kini menghadapi seranga bertubi-tubi Israel dengan menggunakan jet-jet pejuang F-16 dan helikopter penggempur Apachee ke atas sasaran awam. Bilangan orang awam di Gaza yang terbunuh kini telah mencecah lebih dari 300 orang dan Lebih 1500 orang mengalami kecederaan. Bilangan kematian dikalangan rakyat Palestin akan terus meningkat kerana masih ramai mangsa yang tertimbus dalam runtuhan bangunan. Serangan juga akan diteruskan oleh Israel tanpa ada tanda-tanda ia akan dihentikan. Bahkan pasukan darat tentera Israel juga sedang bersedia di perbatasan Gaza dan akan melancarkan serangan besar-besaran pada bila-bila masa. Sudah tentu ini akan meningkatkan lagi kemusnahan, dan kematian di kalangan penduduk Gaza.

Allah Ta’ala berfirman:

4:75

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita mahupun anak-anak yang semuanya berdoa: “”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah.

Kita diperingatkan oleh Allah SWT di dalam Al Quran:

9:71

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”


Isu Palestin bukan isu Arab atau isu rakyat Palestin, tetapi ia adalah isu umat Islam. Malangnya umat Islam yang sudah dihinggapi oleh sejenis virus yang disebarkan oleh penjajah iaitu ideology kebangsaan sempit atau assobiyah, kita tidak lagi melihat umat Islam diluar dari sempadan politik Negara kita sebagai saudara seislam yang wajib di bela dan dipertahankan.


Sabda Rasulullah SAW:

Seorang muslim adalah saudara kepada muslim yang lain, dia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya”


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah. Sesungguhnya membantu saudara seislam yang diserang, dizalimi dan ditindas oleh musuh-musuhnya adalah merupakan satu tuntutan ukhuwah. Tuntutan ukhuwah di Dalam Islam tidak mengenal batas-batas Negara, bangsa dan keturunan. Selama mana seseorng itu mengucap kalimah syahadah maka dia ada saudara dalam Islam yang wajib dibela dan dipertahankan. Jika dia disakiti dan dianiaya menjadi tanggungjawab umat Islam untuk merawat, menghilangkan sebab-sebab yang menimbulkan kesakitan tersebut dan menghapuskan penganiayaan dan kezaliman yang dilakukan ke atas dirinya. Ini adalah kerana Rasulullah SAW bersabda yang membawa maksud:


Umat Islam adalah ibarat satu tubuh. Jika sebahagian tubuh merasa sakit maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya dan tidak boleh tidur malam.”


Saudara sidang Jumaat yang dirahmati Allah.

Saudara-saudara kita di Gaza dan di Palestin sudah dizalimi dan dianiaya sejak lebih 60 tahun lalu. Bahkan sejak tahun 1948, 5 juta rakyat Palestin terpaksa meneruskan kehidupan di khemah-khemah pelarian baik di luar mahupun di dalam Negara Palestin yang terjajah. Mereka langsung tidak mendapat sebarang perlindungan dan pembelaan dari Negara-negara Islam baik yang berjiran mahupun dari seluruh dunia Islam. Bahkan penderitaan mereka semakin getir sejak 18 bulan yang lalu apabila Israel dengan penuh biadap menutup sempadan Gaza dan menyekat bekalan makanan, ubat-ubatan, bahan api dan bekalan air bersih.


Tindakan tidak berperikemanusiaan ini disokong oleh kuasa-kuasa besar Amerika, Kesatuan Eropah dan Rusia. Bahkan Bangsa-bangsa bersatu turut bersekongkol dengan kuasa-kuasa besar merestui tindakan penuh kezaliman yang tidak pernah disaksikan di dalam sejarah tamaddun kemanusiaan iaitu 1.5 juta rakyat Palestin dikepung di dalam penjara terbesar di dunia dan kemudian dibiarkan menderita kebuluran. Keadaan begitu genting sehingga ada di kalangan penduduk Gaza yang terpaksa memakan rumput di tepi jalan untuk meneruskan kehidupan. Dan yang paling malang lagi saudara-saudara seagama yang jumlahnya mencecah 1.6 billion orang mengambil sikap acuh tak acuh atau tidak mengambil peduli tentang nasib saudaranya yang berada di ambang kematian. Negara-negara Islam yang merupakan Negara-negara pengeluar minyak yang kaya sanggup membiarkan umat Islam diperlakukan dengan biadap tanpa peri kemanusiaan oleh musuh-musuhnya. Bahkan lebih hina lagi apabila Mesir yang berjiran dengan Gaza tunduk kepada kehendak Isreal dan Amerika dan menutup sempadannya dengan Gaza. Bahkan sehingga saat ini pintu sempadan masih ditutup sehingga rakyat Gaza yang tercedera dalam serangan biadap Israel tidak dapat menyeberang untuk mendapatkan rawatan.


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah.

Di manakah kita hendak letak ayat-ayat al Quran dan hadis Nabi SAW yang menekankan tentang tanggungjawab ukhuwah Islam. Bagaimanakah umat Islam hendak berdiri di hadapan Rabbul Jalil dan memberi alasan di atas kealpaan mereka membantu saudara-saudara mereka di Gaza dan dipuluhan malah ratusan tempat yang lain di mana umat Islam dizalimi, ditindas dan disakiti.


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah. Lebih malang lagi apabila ada Negara-negara Islam bahkan pemimpin-pemimpin Islam yang turut meletakkan kesalahan ke atas rakyat Palestin. Ini adalah perkara yang sangat pelik. Israel yang melakukan serangan besar-besaran sehingga membunuh ratusan rakyat Palestin, sebahagian besarnya wanita dan kanak-kanak, tiba-tiba kesalahan itu dilonggokkan ke atas bahu rakyat Palestin?


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah.

Jangan terpengaruh dan terpedaya dengan propaganda pihak musuh. Mereka mengulang-ulang gesaan supaya pejuang palestin menghentikan serangan roket ke atas sasaran Israel. Mereka mendakwa serangan roket inilah yang telah mengundang amarah Israel sehingga mereka melancarkan serangan udara sejak seminggu yang lalu. Hakikatnya rakyat Palestin hanya mempertahankan diri dari pencerobohan tentera Israel yang berlaku acap kali ke atas wilayah Gaza. Pencerobohan ini pula berlaku pada saat gencatan senjata berlangsung di antara kedua belah pihak. Apakah pilihan yang ada pada rakyat Palestin ketika mereka dikepung dan dinafikan hak untuk hidup, kemudian dinafikan pula hak untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Undang-undang antarabangsa dan Konvensyen Geneva memperakui tindakan mana-mana Negara atau bangsa yang dijajah untuk mempertahankan hak, diri dan tanah air mereka dari segala bentuk penjajahan asing.


Dunia tidak boleh diperdaya oleh regim zionis dengan siri-siri penipuan mereka. Kemampuan pejuang Palestin dan Hamas untuk bertindak balas ke atas kebiadapan Israel sangat terbatas. Bagaimana mungkin Palestin yang hanya memiliki roket buatan sendiri yang tidak pernah tepat mengenai sasaran boleh menjadi ancaman kepada Israel yang merupakan kuasa tentera yang terbesar di dunia. Dengan sokongan Amerika, Israel memiliki semua peralatan dan senjata tercanggih termasuklah kereta kebal Merkeva, helicopter Apache’ dan Jet pejuang F16, F17 dan F18 yang dibekalkan oleh Amerika Syarkiat. Hakikatnya tindakan serangan roket yang dilancarkan oleh pejuang Palestin sejak sepuluh tahun yang lalu hanya membunuh sekitar 20 orang rakyat Israel, dan itupun dalam rangka untuk mempertahankan diri setiap kali tentera Israel menggempur rakyat Palestin. Bilangan rakyat Palestin yang terbunuh akibat serangan Isreal sudah mencecah ribuan jiwa. Ini tidak termasuk puluhan ribu yang tercedera dan 10,000 termasuk 300 orang wanita yang diseksa dalam penjara Israel. Dan hari ini dalam satu serangan sahaja Israel membunuh 300 orang sekelip mata. Di manakah ’sense of proportion’ atau kemampuan menimbang masyarakat antarabangsa di antara kejahatan Israel dengan kemampuan rakyat Palestin untuk mempertahankan diri mereka.


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah.

Atas rasa tanggungjawab dan prihatin yang amat mendalam terhadap kezaliman yang sedang berlaku ke atas umat Islam, khatib mengsyorkan beberapa tindakan praktikal yang boleh dilakukan oleh umat Islam.


Pertama, khatib menyeru umat Islam supaya bermunajat kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh agar Allah mengeluarkan kita dari keadaan yang lemah ini dan mengampuni kealpaan selama ini. Seterusnya kita memohon kepada Allah agar memberi kekuatan kepada seluruh umat Islam supaya bangkit dari kelemahan ini untuk berhadapan dengan musuh-musuh Islam. Seterusnya secara khusus kita memohon kepada Allah agar diberikan kemenangan ke atas umat Islam di Palestin ke atas musuh-musuh zionis yahudi.


Kedua, khatib mengsyorkan agar setiap kariah dan kawasan mngadakan solat hajatperdana memohon kepada Allah agar saudara-saudara kita di Palestin diselamatkan dari kejahatan musuh-musuh zionis dan memenangkan mereka dengan ‘karamah’ dari Allah SWT. Kita yakin golongan yang dizalimi dan teraniaya pasti didengari doa mereka dan akan mendapat pertolongan Allah SWT.


Ketiga khatib mengsyorkan agar umat Islam tidak teragak-agak untuk menghulurkan bantuan kewangan kepada suadara-saudaranya di Palestin. Ini bersesuaian dengan anjuran Allah SWT agar umat Islam berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. Firman Allah SWT dari surah as Saff:


Wahai orang yang beriman. Sukakah kamu diberitahu satu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari seksa api neraka iaitu kamu beriman dengan Allah dan Rasulnya, dan berjihad pada jalannya dengan harta-harta kamu dan jiwa raga kamu. Itulah yang baik bagi kamu jika kamu mengetahui.


Akhirnya khatib ingin mengingatkan umat Islam bahawa kezaliman dan penganiayaan itu menimpa bumi yang diberkati, bumi para Nabi, bumi Isra’ dan mikraj dan bumi di mana terletak masjid al Aqsa yang dimuliakan Allah SWT di samping masjid al Haram dan masjid a-Nabawi.


Khatib juga ingin merakamkan rasa sedih seluruh umat Islam yang amat mendalam ke atas penderitaan yang menimpa rakyat Palestin d Gaza dalam suasana ketika seluruh dunia Islam menyambut Ma’al Hijrah (tahun baru Hijrah 1430H dan ketika tahun 2008 akan melabuhkan tabirnya menjelang ketibaan tahun baru 2009. Apakah ia menandakan tahun baru ini menjanjikan penderitaan berpanjangan kepada rakyat Palestin? Oleh kerana itu khatib menggesa seluruh lapisan masyarakat bangkit untuk menggesa supaya kebiadaban dan keangkuhan rejim zionis yang disokong oleh USA dihentikan dengan segera.


Disediakan oleh

Dr Hafidzi Mohd Noor

Palestine Centre of Excellence

Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

There was an error in this gadget

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah