Wednesday, September 30, 2009


Rasulullah saw pernah bersabda yang maksudnya, "Setiap umat mempunyai sumber kepercayaan, sumber kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah." Itulah penghargaan bintang mahaputra yang diterima oleh Abu Ubaidah dari Rasulullah saw. Penghargaan yang tidak diberikan Rasulullah kepada sahabat yang lainnya. Tapi ini bukan bererti, bahawa Rasulullah saw tidak percaya kepada sahabat yang lainnya. Memang kalau dilihat dari kenyataan yang ada Abu Ubaidah layak mendapatkan gelar seperti itu. Sekalipun ia tidak mengharapkannya.

Dari susuk tubuhnya yang tinggi, kurus tapi bersih, tampak di sana tersimpan sifat-sifat mulia yang tidak dimiliki orang lain. Jujur, tawadu', pemalu itulah diantara sifat yang paling menonjol dari Abu 'Ubaidah bin Jarrah r.a. Muhammad bin Ja'far pernah bercerita, suatu ketika datang rombongan Nasrani Najran menemui Rasulullah saw. "Ya Abalqasim," kata utusan itu, "Datangkanlah utusanmu ke negeri kami untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang kami hadapi. Kami betul-betul redha dan yakin terhadap kaum muslimin." Rasulullah menyanggupinya dan menjanjikan kepada mereka seraya berkata, "Esok hari aku akan mengutus bersama kalian seorang yang benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya." Rasululah menyebut "amin" (terpercaya) sehingga diulanginya tiga kali.

Tidak lama kemudian beritapun tersebar ditengah-tengah para sahabat ra. Masing-masing ingin ditunjuk oleh Rasulullah saw menjadi utusan. Umar ra mengungkapkan, "Aku benar-benar mengharap agar aku ditunjuk Rasulullah saw untuk mengurusi tugasan itu.

Aku sengaja mengangkat kepalaku agar baginda dapat melihatku dan mengutusku untuk melaksanakan tugasan yang diamanahkannya. Rasul masih tetap mencari seseorang, sehingga beliau melihat Abu Ubaidah dan berkata, "Wahai Abu Ubaidah, pergilah engkau bersama-sama dengan penduduk Najran. Jalankan hukum-hukum dengan penuh kebenaran terhadap segala apa yang mereka perselisihkan. " Itulah mulianya ahklak Abu Ubaidah bin Jarrah.

Masuk kedalam saf da'wah Islamiyah.
Setelah Abu Bakar masuk Islam, dia senantiasa mengajak kawan-kawan dekatnya untuk mengikuti jejaknya. Keislaman beliau adalah atas ajakan Abu Bakar. Suatu ketika ia sedar dan memahami apa yang dimaksudkan Abu Bakar terhadap dirinya. Akhirnya dia berangkat bersama Abdurrahman bin 'Auf, Ustman bin Maz'un dan Arqam bin Abi Arqam untuk menemui Rasulullah saw. Di depan Rasulullah saw mereka sama-sama mengucapkan kalimat syahadah.

Pengorbanan
Setelah masuknya Abu Ubaidah dalam Islam, beliau sedar bahawa seluruh apa yang dia miliki harus sepenuhnya diberikan untuk Islam. Bukan setengah atau pun sebahagiannya. Harta, tenaga dan raga beliau persembahkan untuk Islam. Kalau Islam meminta hartanya akan dia infakkan, kalau tenaganya yang diperlukan, akan diberikan, bahkan kalaupun nyawa yang akan di minta itupun akan dikorbankan. Dia adalah seorang pemuda yang gagah berani yang sangat ditakuti oleh musuh-musuhnya dan sulit sekali untuk di kalahkan.
Setiap musuh mendekatinya pasti lehernya dipenggal. Itulah keistimewaan sahabat yang satu ini, hasil dari binaan madrasah Rasulullah saw. Ini dapat terlihat di dalam perjuangannya membela Islam. Dimana saat terjadinya perang Badar, Abu Ubaidah tampil kedepan, memerangi tentera musyrikin. Tatkala Abu Ubaidah lagi berhadapan dengan musuh, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang lelaki yang mengasuhnya sejak kecil. Ayah kandungnya yang masih musyrik. Sebelumnya dia sudah berusaha agar jangan bertemu bapanya ditengah-tengah kancah peperangan.
Tapi apa hendak dikata, peperangan saat itu bukanlah peperangan antara Qabilah atau peperangan yang hanya untuk mempertahankan status quo. Akan tetapi adalah peperangan antara hizbullah(tentera Allah) dengan hizb syaithan (tentera musuh), peperangan antara yang haq dengan bathil, yang tidak mungkin disatukan selama matahari masih terbit dari sebelah timur. Akhirnya? dengan keimanan yang menyala-nyala terjadilah perlawanan antara sang anak dengan ayah, yang berakhir dengan gugurnya ayah kandung di depan matanya sendiri.

Setelah peristiwa tersebut Allah menurunkan firmannya:

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahawa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." (QS Al Mujadilah: 22).


Itulah Abu Ubaidah bin Jarrah, yang betul-betul menyerahkan hidup beliau sepenuhnya untuk Islam. Dia tidak menghiraukan sanak famili ataupun kaum kerabat, kalau Islam yang berbicara tidak dapat ditawar-tawar lagi, yang batil tidak mungkin didirikan diatas yang haq ataupun sebaliknya.

Di saat peperangan lagi berkecamuk, Rasulullah saw sempat terjatuh sehingga gigi depannya retak, keningnya luka, pipinya kena dua mata rantai perisai. Melihat keadaan seperti itu, Abu Bakar kasihan dan ingin mencabutnya, tapi ia dicegah Abu Ubaidah bin Jarrah. "Biarkan itu bahagian saya," pintanya. Abu Ubaidah tahu kalau ini di cabut dengan tangan Rasulullah pasti kesakitan, akhirnya dia mencuba mencabutnya dengan gigi depannya. Disaat mata rantai pertama tercabut, giginya masih utuh dan kuat, namun ketika mencabut mata rantai kedua giginya pun ikut tercabut juga. Subhanallah. Saat itu Abu Bakar berkata, "Sebaik-baik gigi yang terputus, itulah gigi Abu Ubaidah bin Jarrah."

Perjuangan
Jabir bin Abdullah pernah bercerita, "Suatu ketika Rasullah saw.mengutus kami dalam suatu peperangan yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Jarrah. Kami hanya dibekali sekarung kurma untuk tiga ratus orang. Padahal perjalanan sungguh jauh dan melewati padang pasir yang luas dan tandus. Di tengah-tengah perjalanan, disaat tentera sudah mulai lapar, Abu Ubaidah membahagi-bahagikan makanan untuk satu orang satu genggam kurma. Namun disaat bekal sudah mulai habis Abu Ubaidah membahagi-bahagikannya dengan satu kurma untuk satu orang.

Kurma yang satu itulah diisap-isap airnya sehingga menambah semangat kami dalam melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian bekalpun habis, badan terasa letih dan lapar. Namun perjalanan masih jauh. Akhirnya kamipun memilih jalan dekat pantai. Tiba-tiba disaat kami betul-betul lapar, kami mendapati ikan besar yang sudah mati, mula-mula Abu Ubaidah melarang kami untuk memakannya. Akan tetapi, kerana keadaan sudah memaksa akhirnya kamipun memakannya, setelah itu kami meneruskan perjalanan."

Perjuangan Abu Ubaidah bin Jarrah pernah diutarakan oleh Umar bin Khattab. Pada suatu kesempatan Umar bin Khattab mengajukan pertanyaan kepada para sahabat,
"Tunjukkan kepada saya cita-cita tertinggi kalian." Salah seorang dari mereka mengangkatkan tangan dan berkata, "Wahai Amirulmukminin sekiranya rumah ini penuh dengan emas, akan saya infakkan seluruhnya untuk jalan Allah."

Umarpun mengulangi pertanyaannya, "Apa masih ada yang lebih baik dari itu?", lantas sahabat yang lainpun menjawab, "Wahai Amirulmukminin sekiranya rumah ini dipenuhi dengan intan, emas dan permata, niscaya akan saya infakkan seluruhnya untuk Allah." Umar bin Khattab kembali bertanya lagi dengan lafaz yang sama. Merekapun serentak menjawab, "Wahai Amirulmukminin kami tidak tahu lagi apa yang terbaik dari itu."
Umar bin Khathab kemudian menjelaskan, "Cita-cita yang terbaik adalah, seandainya ruangan ini Allah penuhi dengan pejuang muslim seperti Abu Ubaidah bin Jarrah yang jujur, adil dan bijaksana."

Menjelang hari kematiannya, Khalifah Umar pernah berkata, "Kalau Abu Ubaidah masih hidup maka aku akan menunjuknya sebagai khalifah penggantiku. Dan bila kelak Allah swt bertanya tentang apa sebabnya, maka aku akan menjawabnya, 'Aku memilih dia kerana dia seorang pemegang amanat umat dan pemegang amanat Rasulullah.' "

Demikianlah suriteladan dan keperibadian sahabat kita yang satu ini. Ia tidak pernah mundur dalam memperjuangkan kesucian Islam. Tenaga, harta, waktu, dan jiwanya ia korbankan demi Islam dan kejayaan umatnya.


Pemegang Kunci Amanah Ummah: Abu Ubaidah bin al Jarrah ra.


Rasulullah saw pernah bersabda yang maksudnya, "Setiap umat mempunyai sumber kepercayaan, sumber kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah." Itulah penghargaan bintang mahaputra yang diterima oleh Abu Ubaidah dari Rasulullah saw. Penghargaan yang tidak diberikan Rasulullah kepada sahabat yang lainnya. Tapi ini bukan bererti, bahawa Rasulullah saw tidak percaya kepada sahabat yang lainnya. Memang kalau dilihat dari kenyataan yang ada Abu Ubaidah layak mendapatkan gelar seperti itu. Sekalipun ia tidak mengharapkannya.

Dari susuk tubuhnya yang tinggi, kurus tapi bersih, tampak di sana tersimpan sifat-sifat mulia yang tidak dimiliki orang lain. Jujur, tawadu', pemalu itulah diantara sifat yang paling menonjol dari Abu 'Ubaidah bin Jarrah r.a. Muhammad bin Ja'far pernah bercerita, suatu ketika datang rombongan Nasrani Najran menemui Rasulullah saw. "Ya Abalqasim," kata utusan itu, "Datangkanlah utusanmu ke negeri kami untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang kami hadapi. Kami betul-betul redha dan yakin terhadap kaum muslimin." Rasulullah menyanggupinya dan menjanjikan kepada mereka seraya berkata, "Esok hari aku akan mengutus bersama kalian seorang yang benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya." Rasululah menyebut "amin" (terpercaya) sehingga diulanginya tiga kali.

Tidak lama kemudian beritapun tersebar ditengah-tengah para sahabat ra. Masing-masing ingin ditunjuk oleh Rasulullah saw menjadi utusan. Umar ra mengungkapkan, "Aku benar-benar mengharap agar aku ditunjuk Rasulullah saw untuk mengurusi tugasan itu.

Aku sengaja mengangkat kepalaku agar baginda dapat melihatku dan mengutusku untuk melaksanakan tugasan yang diamanahkannya. Rasul masih tetap mencari seseorang, sehingga beliau melihat Abu Ubaidah dan berkata, "Wahai Abu Ubaidah, pergilah engkau bersama-sama dengan penduduk Najran. Jalankan hukum-hukum dengan penuh kebenaran terhadap segala apa yang mereka perselisihkan. " Itulah mulianya ahklak Abu Ubaidah bin Jarrah.

Masuk kedalam saf da'wah Islamiyah.
Setelah Abu Bakar masuk Islam, dia senantiasa mengajak kawan-kawan dekatnya untuk mengikuti jejaknya. Keislaman beliau adalah atas ajakan Abu Bakar. Suatu ketika ia sedar dan memahami apa yang dimaksudkan Abu Bakar terhadap dirinya. Akhirnya dia berangkat bersama Abdurrahman bin 'Auf, Ustman bin Maz'un dan Arqam bin Abi Arqam untuk menemui Rasulullah saw. Di depan Rasulullah saw mereka sama-sama mengucapkan kalimat syahadah.

Pengorbanan
Setelah masuknya Abu Ubaidah dalam Islam, beliau sedar bahawa seluruh apa yang dia miliki harus sepenuhnya diberikan untuk Islam. Bukan setengah atau pun sebahagiannya. Harta, tenaga dan raga beliau persembahkan untuk Islam. Kalau Islam meminta hartanya akan dia infakkan, kalau tenaganya yang diperlukan, akan diberikan, bahkan kalaupun nyawa yang akan di minta itupun akan dikorbankan. Dia adalah seorang pemuda yang gagah berani yang sangat ditakuti oleh musuh-musuhnya dan sulit sekali untuk di kalahkan.
Setiap musuh mendekatinya pasti lehernya dipenggal. Itulah keistimewaan sahabat yang satu ini, hasil dari binaan madrasah Rasulullah saw. Ini dapat terlihat di dalam perjuangannya membela Islam. Dimana saat terjadinya perang Badar, Abu Ubaidah tampil kedepan, memerangi tentera musyrikin. Tatkala Abu Ubaidah lagi berhadapan dengan musuh, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang lelaki yang mengasuhnya sejak kecil. Ayah kandungnya yang masih musyrik. Sebelumnya dia sudah berusaha agar jangan bertemu bapanya ditengah-tengah kancah peperangan.
Tapi apa hendak dikata, peperangan saat itu bukanlah peperangan antara Qabilah atau peperangan yang hanya untuk mempertahankan status quo. Akan tetapi adalah peperangan antara hizbullah(tentera Allah) dengan hizb syaithan (tentera musuh), peperangan antara yang haq dengan bathil, yang tidak mungkin disatukan selama matahari masih terbit dari sebelah timur. Akhirnya? dengan keimanan yang menyala-nyala terjadilah perlawanan antara sang anak dengan ayah, yang berakhir dengan gugurnya ayah kandung di depan matanya sendiri.

Setelah peristiwa tersebut Allah menurunkan firmannya:

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahawa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." (QS Al Mujadilah: 22).


Itulah Abu Ubaidah bin Jarrah, yang betul-betul menyerahkan hidup beliau sepenuhnya untuk Islam. Dia tidak menghiraukan sanak famili ataupun kaum kerabat, kalau Islam yang berbicara tidak dapat ditawar-tawar lagi, yang batil tidak mungkin didirikan diatas yang haq ataupun sebaliknya.

Di saat peperangan lagi berkecamuk, Rasulullah saw sempat terjatuh sehingga gigi depannya retak, keningnya luka, pipinya kena dua mata rantai perisai. Melihat keadaan seperti itu, Abu Bakar kasihan dan ingin mencabutnya, tapi ia dicegah Abu Ubaidah bin Jarrah. "Biarkan itu bahagian saya," pintanya. Abu Ubaidah tahu kalau ini di cabut dengan tangan Rasulullah pasti kesakitan, akhirnya dia mencuba mencabutnya dengan gigi depannya. Disaat mata rantai pertama tercabut, giginya masih utuh dan kuat, namun ketika mencabut mata rantai kedua giginya pun ikut tercabut juga. Subhanallah. Saat itu Abu Bakar berkata, "Sebaik-baik gigi yang terputus, itulah gigi Abu Ubaidah bin Jarrah."

Perjuangan
Jabir bin Abdullah pernah bercerita, "Suatu ketika Rasullah saw.mengutus kami dalam suatu peperangan yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Jarrah. Kami hanya dibekali sekarung kurma untuk tiga ratus orang. Padahal perjalanan sungguh jauh dan melewati padang pasir yang luas dan tandus. Di tengah-tengah perjalanan, disaat tentera sudah mulai lapar, Abu Ubaidah membahagi-bahagikan makanan untuk satu orang satu genggam kurma. Namun disaat bekal sudah mulai habis Abu Ubaidah membahagi-bahagikannya dengan satu kurma untuk satu orang.

Kurma yang satu itulah diisap-isap airnya sehingga menambah semangat kami dalam melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian bekalpun habis, badan terasa letih dan lapar. Namun perjalanan masih jauh. Akhirnya kamipun memilih jalan dekat pantai. Tiba-tiba disaat kami betul-betul lapar, kami mendapati ikan besar yang sudah mati, mula-mula Abu Ubaidah melarang kami untuk memakannya. Akan tetapi, kerana keadaan sudah memaksa akhirnya kamipun memakannya, setelah itu kami meneruskan perjalanan."

Perjuangan Abu Ubaidah bin Jarrah pernah diutarakan oleh Umar bin Khattab. Pada suatu kesempatan Umar bin Khattab mengajukan pertanyaan kepada para sahabat,
"Tunjukkan kepada saya cita-cita tertinggi kalian." Salah seorang dari mereka mengangkatkan tangan dan berkata, "Wahai Amirulmukminin sekiranya rumah ini penuh dengan emas, akan saya infakkan seluruhnya untuk jalan Allah."

Umarpun mengulangi pertanyaannya, "Apa masih ada yang lebih baik dari itu?", lantas sahabat yang lainpun menjawab, "Wahai Amirulmukminin sekiranya rumah ini dipenuhi dengan intan, emas dan permata, niscaya akan saya infakkan seluruhnya untuk Allah." Umar bin Khattab kembali bertanya lagi dengan lafaz yang sama. Merekapun serentak menjawab, "Wahai Amirulmukminin kami tidak tahu lagi apa yang terbaik dari itu."
Umar bin Khathab kemudian menjelaskan, "Cita-cita yang terbaik adalah, seandainya ruangan ini Allah penuhi dengan pejuang muslim seperti Abu Ubaidah bin Jarrah yang jujur, adil dan bijaksana."

Menjelang hari kematiannya, Khalifah Umar pernah berkata, "Kalau Abu Ubaidah masih hidup maka aku akan menunjuknya sebagai khalifah penggantiku. Dan bila kelak Allah swt bertanya tentang apa sebabnya, maka aku akan menjawabnya, 'Aku memilih dia kerana dia seorang pemegang amanat umat dan pemegang amanat Rasulullah.' "

Demikianlah suriteladan dan keperibadian sahabat kita yang satu ini. Ia tidak pernah mundur dalam memperjuangkan kesucian Islam. Tenaga, harta, waktu, dan jiwanya ia korbankan demi Islam dan kejayaan umatnya.


Monday, September 28, 2009


1. PENGERTIAN TAKABBUR
Rasulullah SAW mendefinisikan “takabbur” sebagai sikap “menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”.

Pengertian itu Nabi sampaikan kepada orang yang mempertanyakan sikap salah seorang sahabat yang suka memakai baju dan sendal bagus. Sabda Nabi : Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Takabbur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.

2. BAHAYA TAKABBUR
Takabbur sangat berbahaya bagi manusia. Ia merupakan kesalahan pertama yang dilakukan makhluk Allah (iblis) di dunia ini, yang menyebabkannya diusir dari syurga. Pada kenyataannya takabbur itu menyebabkan hal-hal berikut :

1. Jauh dari kebenaran. Firman Allah :

“ Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku” (7:146)

2. Terkunci mati hatinya. Firman Allah :

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (40:35)

3. Mengalami kegagalan dan kebinasaan. Firman Allah :

“..dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala” (14:35)

4. Tidak disukai Allah. Firman Allah :

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong” (16: 23)

5. Tidak akan masuk syurga. Sabda Nabi :

“Tidak akan masuk syurga orang yang di hatinya ada sebiji sawi kesombongan”
(HR. Muslim)

6. Akan menjadi penghuni neraka Jahannam.

“ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku(berdoa) akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”( 40: 60)
Ketika seseorang memiliki sifat sombong, maka ia akan tertutup dari akhlak mulia, antara lain :
1. Tidak akan mencintai sesama muslim sebagaimana ia mencintai diri sendiri. ia selalu memandang orang lain lebih rendah dari dirinya sendiri.
2. Tidak akan tawadhu’(rendah hati), kerana selalu merasa lebih baik.
3. Tidak akan dapat meninggalkan rasa dendam, kerana merasa mampu membalas pihak yang merugikannya.
4. Tidak dapat bersikap jujur. Kerana untuk menutupi kekurangan tidak jarang ia harus berdusta.
5. Tidak akan dapat mengendalikan marah. Kerana merasa mampu menempiaskannya
6. Tidak dapat melepaskan diri dari sifat hasad (iri)
7. Tidak dapat menasihati atau menerima nasihat dengan lembut dan halus
8. Selalu memandang rendah orang lain.


3. JENIS TAKABBUR
a. Takabbur kepada Allah
Inilah bentuk takabbur terburuk, seperti yang pernah dilakukan oleh Namrud, Fir’aun dan sejenisnya. Sila rujuk Al Quran (QS. 40:60), (25:60)

b. Takabbur kepada Rasul
Iaitu sikap tinggi hati, menolak mengikuti dan mematuhi Nabi, kerana menganggapnya sebagai manusia biasa (QS. 23:34, 36:15). Seperti yang dinyatakan kaum kafir Quraisy kepada Nabi : “Bagaimana kami dapat duduk di sisimu hai Muhammad, sementara yang ada di sekitarmu orang-orang faqir”

c. Takabur atas sesama manusia
Iaitu dengan membanggakan diri dan meremehkan orang lain. Takabbur ini meskipun tidak seberat yang pertama dan kedua, namun masih sangat berbahaya kerana :
- Kebesaran dan kehormatan hanya milik Allah, selainnya lemah dan terbatas.
- Ketika seseorang takabbur, ia merampas salah satu sifat kebesaran Allah.

4. PENYEBAB TAKABBUR
Pada umumnya orang yang sombong adalah orang yang memiliki kebanggaan diri, kerana memiliki sifat,kemampuan atau prestasi lebih dari yang lain.

1. Ilmu
Takabbur kerana ilmu sangat mudah terjadi, Iaitu dengan munculnya perasaan lebih mulia dari orang lain. Atau merasa telah mendapatkan tempat mulia di sisi Allah dengan ilmunya (QS 58:11). Ia lebih mengkhuatirkan orang lain daripada diri sendiri. Kesombongan kerana ilmu ini mudah terjadi kerana dua hal :

a. Ilmu yang dipelajari bukan ilmu hakiki. Kerana hakikat ilmu adalah yang mampu memperkenalkan manusia akan Rabb-nya, keadaan ketika bertemu Allah dan hijab yang menghalanginya dari Allah. Ilmu yang demikian akan melahirkan sikap tawadhu’(rendah hati) bukan takabbur. (QS 35:28)

b. Keadaan hati yang kotor saat menuntut ilmu, sehingga salah niatnya dan jadilah takabbur dengan ilmu yang didapatnya.

2. Amal Ibadah
Orang yang masuk dalam kehidupan zuhud (konsentrasi dalam ibadah) tidak automatic terbebas dari takabbur. Misalnya dengan zuhudnya itu, merasa lebih layak dikunjungi daripada mengunjungi. Lebih layak dibantu daripada membantu, menganggap orang lain sengsara di neraka dan merasa hanya dirinya yang selamat dan sebagainya. Rasulullah bersabda :

“Jika kamu mendengar ada orang yang berkata : “Binasa semua manusia” maka dialah yang paling dahulu binasa.” (HR Muslim.)

Dengan pernyataan ini ia membanggakan diri dan meremehkan orang lain.

3. Hasab (kedudukan) dan Nasab (keturunan)
Orang yang berasal dari keluarga terhormat mudah meremehkan orang lain yang datang dari keluarga bukan terhormat, meskipun orang itu lebih baik ilmu dan amalnya, dan bahkan takabbur kerana faktor ini sering kali membuat ia menganggap orang lain sebagai budaknya, dan rasa keberatan untuk bergaul dengan mereka.

Dari Abu Dzarr ra berkata: Suatu hari pernah aku bersengketa dengan seseorang (Bilal) di hadapan Nabi. Lalu aku berkata kepada orang itu “Hai anak hitam”. Nabi segera memotong ucapanku: “Hai Abu Dzarr, tiada lebih baik orang putih dari yang hitam, kecuali dengan taqwa”. Mendengar itu saya berbaring dan mempersilakan Bilal untuk menginjak-injak muka saya. (HR Ahmad.)

Dalam hadits di atas, Rasulullah segera menegur orang yang merasa lebih baik keturunannya. Dan Abu Dzarr segera bertaubat menyesali perbuatannya.

4. Al Jamal (ketampanan/kecantikan)
Takabbur kerana faktor ini lebih banyak terjadi di kalangan wanita, terwujud dalam celaan, atau gunjingan terhadap kekurangan pihak lain.

Aisyah ra berkata : Ada seorang wanita yang ingin bertemu Nabi, dan aku katakan kepada Nabi dengan isyarat tanganku yang menunjukkan bahawa wanita itu pendek. Sabda Nabi ketika itu :”Sesungguhnya kamu telah menggunjingnya”.

Sikap ini muncul kerana adanya kesombongan dalam diri orang seperti Aisyah yang berpostur tubuh lebih baik dari orang tadi. Sebab jika ia berpostur tubuh pendek seperti orang yang diceritakan itu, tentu ia tidak akan mengatakannya.

5. Al Maal (kekayaan)
Takabbur kerana kekayaan ini banyak terjadi di kalangan pegawai atasan, penguasa, usahawan, pemilik hartanah, dan mereka yang memiliki kekayaan kebendaan. Orang yang merasa lebih kaya meremehkan orang yang dipandang kurang kaya dengan ucapan mahupun sikap-sikap lainnya. Seperti ungkapan : “wang saku sekolah anak saya sehari, cukup kamu makan seumur hidupmu, dan pelbagai lagi ungkapan
.
Hal ini terjadi kerana ketidak tahuannya akan fadhilah (keutamaan) orang miskin dan bahaya kekayaan. Seperti yang pernah terjadi pada pemilik dua kebun yang tamak dan akhirnya binasa (QS. 18:34-42) atau Qarun yang akhirnya binasa bersama hartanya (QS 28:79-81).

6. Al Quwwah (kekuatan)
Kekuatan dan kegagahan dapat memunculkan takabbur atas mereka yang lemah dan tidak berdaya.

7. Al Atba’ (pengikut/pendukung)
Ramainya pengikut, pendukung, murid, keluarga, kerabat dan sebagainya sering memunculkan kesombongan pada orang yang memilikinya. Seorang guru menjadi takabbur kerana merasa ramai muridnya. Seorang pemimpin menjadi takabbur kerana merasakan ramai pengikutnya dan lain-lain lagi.

Secara umum, setiap nikmat yang dapat dianggap sebagai nilai lebih pada seseorang berpotensi untuk melahirkan benih takabbur pada seseorang.

5. TERAPI TAKABBUR
Takabbur adalah penyakit berbahaya yang dapat menyerang sesiapa saja. Pencegahan dan pembanterasan penyakit ini harus dilakukan dengan serius. Pengubatan intensif terhadap pengidap penyakit ini harus dilakukan dengan cermat dan saksama.

Terdapat dua tahapan utama dalam melakukan terapi penyakit takabbur, iaitu :

1. Pencabutan akar dan pohonnya dari hati.
Untuk mencabut pohon takabbur beserta akar-akarnya diperlukan dua kekuatan, iaitu ilmu dan amal
.
Ilmu yang dimaksudkan dalam hal ini adalah ma’rifatunnafsi (mengenal diri sendiri) dan ma’rifatullah (mengenal Allah). Dua hal ini sudah cukup untuk mencabut akar takabbur dari hati manusia. Sebab jika seseorang sudah mengenali dirinya sendiri dengan pengenalan yang benar, maka ia akan sedar bahawa ia adalah makhluk hina, lebih lemah dari lainnya, lebih miskin dari siapapun juga. Tidak ada yang pantas baginya kecuali tawadhu’ kepada sesama. Dan jika ia mengenali Allah dengan sebenarnya maka akan diketahuinya bahawa tidak ada yang layak untuk takabbur kecuali Allah – Allahu Akbar.

Amal yang dimaksudkan adalah sikap tawadhu’ kepada sesama manusia kerana Allah, dengan senantiasa meneladani akhlak orang-orang soleh sebelumnya seperti akhlak Rasulullah SAW yang makan di atas tanah (tanpa kerusi) dan mengatakan :”Sesungguhnya aku adalah hamba biasa yang makannya seperti hamba lainnya”

Tawadhu’ tidak cukup dengan ilmu, ia harus berupa amal. Dari itulah rukun Islam utama setelah syahadat adalah menegakkan solat kerana dalam solat itu terdapat sekian banyak rahsia hidup dan yang terpenting adalah pembiasaan agar seorang muslim yang mendirikan solat dengan ruku’ dan sujudnya terbiasa tawadhu’ serta tidak lagi sombong.

Ada banyak hal yang dapat digunakan untuk menguji keberadaan takabbur pada diri seseorang, antara lain lima hal berikut:

a. Berdiskusi dengan sesama teman. Jika kebenaran muncul dari orang lain, bagaimanakah tanggapannya, keberatan atau menrima dengan senang.
b. Berkumpul dalam sebuah haflah (program islami). Lalu ada orang lain yang lebih diutamakan, apakah sikapnya keberatan atau tidak.
c. Memenuhi undangan orang miskin. Pergi ke pasar membelikan sesuatu untuk orang lain
d. Membawa keperluan sendiri, keluarga, atau sahabat dari pasar atau tempat lainnya sampai rumah. Jika keberatan maka ada takabbur. Jika mahu kerana terpaksa maka itu kemalasan. Jika mhau kerana disaksikan ramai orang maka itu riya’.
e. Mengenakan pakaian yang sudah kusam. Dsb.

Inilah beberapa situasi berkumpulnya riya’ dan takabbur pada seseorang. Jika dalam keramaian maka riya’ ikut menjebak, jika dalam kesepian takabbur terus mengintai.
Dengan mengenali keburukan kita kenali kebaikan. Dan dengan mengenali penyakit kita temukan ubatnya.

2. Penghindaran dan pengendalian diri
Penyebab takabbur adalah prestasi yang pernah dicapai manusia. Ketidak siapan dan ketidak mampuan menerima hasil dari penyebab-penyebab tertentu berpotensi melahirkan sikap takabbur.

Wallahu a’lam

Penyakit Takabbur: Bahaya dan Terapinya


1. PENGERTIAN TAKABBUR
Rasulullah SAW mendefinisikan “takabbur” sebagai sikap “menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”.

Pengertian itu Nabi sampaikan kepada orang yang mempertanyakan sikap salah seorang sahabat yang suka memakai baju dan sendal bagus. Sabda Nabi : Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Takabbur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.

2. BAHAYA TAKABBUR
Takabbur sangat berbahaya bagi manusia. Ia merupakan kesalahan pertama yang dilakukan makhluk Allah (iblis) di dunia ini, yang menyebabkannya diusir dari syurga. Pada kenyataannya takabbur itu menyebabkan hal-hal berikut :

1. Jauh dari kebenaran. Firman Allah :

“ Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku” (7:146)

2. Terkunci mati hatinya. Firman Allah :

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (40:35)

3. Mengalami kegagalan dan kebinasaan. Firman Allah :

“..dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala” (14:35)

4. Tidak disukai Allah. Firman Allah :

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong” (16: 23)

5. Tidak akan masuk syurga. Sabda Nabi :

“Tidak akan masuk syurga orang yang di hatinya ada sebiji sawi kesombongan”
(HR. Muslim)

6. Akan menjadi penghuni neraka Jahannam.

“ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku(berdoa) akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”( 40: 60)
Ketika seseorang memiliki sifat sombong, maka ia akan tertutup dari akhlak mulia, antara lain :
1. Tidak akan mencintai sesama muslim sebagaimana ia mencintai diri sendiri. ia selalu memandang orang lain lebih rendah dari dirinya sendiri.
2. Tidak akan tawadhu’(rendah hati), kerana selalu merasa lebih baik.
3. Tidak akan dapat meninggalkan rasa dendam, kerana merasa mampu membalas pihak yang merugikannya.
4. Tidak dapat bersikap jujur. Kerana untuk menutupi kekurangan tidak jarang ia harus berdusta.
5. Tidak akan dapat mengendalikan marah. Kerana merasa mampu menempiaskannya
6. Tidak dapat melepaskan diri dari sifat hasad (iri)
7. Tidak dapat menasihati atau menerima nasihat dengan lembut dan halus
8. Selalu memandang rendah orang lain.


3. JENIS TAKABBUR
a. Takabbur kepada Allah
Inilah bentuk takabbur terburuk, seperti yang pernah dilakukan oleh Namrud, Fir’aun dan sejenisnya. Sila rujuk Al Quran (QS. 40:60), (25:60)

b. Takabbur kepada Rasul
Iaitu sikap tinggi hati, menolak mengikuti dan mematuhi Nabi, kerana menganggapnya sebagai manusia biasa (QS. 23:34, 36:15). Seperti yang dinyatakan kaum kafir Quraisy kepada Nabi : “Bagaimana kami dapat duduk di sisimu hai Muhammad, sementara yang ada di sekitarmu orang-orang faqir”

c. Takabur atas sesama manusia
Iaitu dengan membanggakan diri dan meremehkan orang lain. Takabbur ini meskipun tidak seberat yang pertama dan kedua, namun masih sangat berbahaya kerana :
- Kebesaran dan kehormatan hanya milik Allah, selainnya lemah dan terbatas.
- Ketika seseorang takabbur, ia merampas salah satu sifat kebesaran Allah.

4. PENYEBAB TAKABBUR
Pada umumnya orang yang sombong adalah orang yang memiliki kebanggaan diri, kerana memiliki sifat,kemampuan atau prestasi lebih dari yang lain.

1. Ilmu
Takabbur kerana ilmu sangat mudah terjadi, Iaitu dengan munculnya perasaan lebih mulia dari orang lain. Atau merasa telah mendapatkan tempat mulia di sisi Allah dengan ilmunya (QS 58:11). Ia lebih mengkhuatirkan orang lain daripada diri sendiri. Kesombongan kerana ilmu ini mudah terjadi kerana dua hal :

a. Ilmu yang dipelajari bukan ilmu hakiki. Kerana hakikat ilmu adalah yang mampu memperkenalkan manusia akan Rabb-nya, keadaan ketika bertemu Allah dan hijab yang menghalanginya dari Allah. Ilmu yang demikian akan melahirkan sikap tawadhu’(rendah hati) bukan takabbur. (QS 35:28)

b. Keadaan hati yang kotor saat menuntut ilmu, sehingga salah niatnya dan jadilah takabbur dengan ilmu yang didapatnya.

2. Amal Ibadah
Orang yang masuk dalam kehidupan zuhud (konsentrasi dalam ibadah) tidak automatic terbebas dari takabbur. Misalnya dengan zuhudnya itu, merasa lebih layak dikunjungi daripada mengunjungi. Lebih layak dibantu daripada membantu, menganggap orang lain sengsara di neraka dan merasa hanya dirinya yang selamat dan sebagainya. Rasulullah bersabda :

“Jika kamu mendengar ada orang yang berkata : “Binasa semua manusia” maka dialah yang paling dahulu binasa.” (HR Muslim.)

Dengan pernyataan ini ia membanggakan diri dan meremehkan orang lain.

3. Hasab (kedudukan) dan Nasab (keturunan)
Orang yang berasal dari keluarga terhormat mudah meremehkan orang lain yang datang dari keluarga bukan terhormat, meskipun orang itu lebih baik ilmu dan amalnya, dan bahkan takabbur kerana faktor ini sering kali membuat ia menganggap orang lain sebagai budaknya, dan rasa keberatan untuk bergaul dengan mereka.

Dari Abu Dzarr ra berkata: Suatu hari pernah aku bersengketa dengan seseorang (Bilal) di hadapan Nabi. Lalu aku berkata kepada orang itu “Hai anak hitam”. Nabi segera memotong ucapanku: “Hai Abu Dzarr, tiada lebih baik orang putih dari yang hitam, kecuali dengan taqwa”. Mendengar itu saya berbaring dan mempersilakan Bilal untuk menginjak-injak muka saya. (HR Ahmad.)

Dalam hadits di atas, Rasulullah segera menegur orang yang merasa lebih baik keturunannya. Dan Abu Dzarr segera bertaubat menyesali perbuatannya.

4. Al Jamal (ketampanan/kecantikan)
Takabbur kerana faktor ini lebih banyak terjadi di kalangan wanita, terwujud dalam celaan, atau gunjingan terhadap kekurangan pihak lain.

Aisyah ra berkata : Ada seorang wanita yang ingin bertemu Nabi, dan aku katakan kepada Nabi dengan isyarat tanganku yang menunjukkan bahawa wanita itu pendek. Sabda Nabi ketika itu :”Sesungguhnya kamu telah menggunjingnya”.

Sikap ini muncul kerana adanya kesombongan dalam diri orang seperti Aisyah yang berpostur tubuh lebih baik dari orang tadi. Sebab jika ia berpostur tubuh pendek seperti orang yang diceritakan itu, tentu ia tidak akan mengatakannya.

5. Al Maal (kekayaan)
Takabbur kerana kekayaan ini banyak terjadi di kalangan pegawai atasan, penguasa, usahawan, pemilik hartanah, dan mereka yang memiliki kekayaan kebendaan. Orang yang merasa lebih kaya meremehkan orang yang dipandang kurang kaya dengan ucapan mahupun sikap-sikap lainnya. Seperti ungkapan : “wang saku sekolah anak saya sehari, cukup kamu makan seumur hidupmu, dan pelbagai lagi ungkapan
.
Hal ini terjadi kerana ketidak tahuannya akan fadhilah (keutamaan) orang miskin dan bahaya kekayaan. Seperti yang pernah terjadi pada pemilik dua kebun yang tamak dan akhirnya binasa (QS. 18:34-42) atau Qarun yang akhirnya binasa bersama hartanya (QS 28:79-81).

6. Al Quwwah (kekuatan)
Kekuatan dan kegagahan dapat memunculkan takabbur atas mereka yang lemah dan tidak berdaya.

7. Al Atba’ (pengikut/pendukung)
Ramainya pengikut, pendukung, murid, keluarga, kerabat dan sebagainya sering memunculkan kesombongan pada orang yang memilikinya. Seorang guru menjadi takabbur kerana merasa ramai muridnya. Seorang pemimpin menjadi takabbur kerana merasakan ramai pengikutnya dan lain-lain lagi.

Secara umum, setiap nikmat yang dapat dianggap sebagai nilai lebih pada seseorang berpotensi untuk melahirkan benih takabbur pada seseorang.

5. TERAPI TAKABBUR
Takabbur adalah penyakit berbahaya yang dapat menyerang sesiapa saja. Pencegahan dan pembanterasan penyakit ini harus dilakukan dengan serius. Pengubatan intensif terhadap pengidap penyakit ini harus dilakukan dengan cermat dan saksama.

Terdapat dua tahapan utama dalam melakukan terapi penyakit takabbur, iaitu :

1. Pencabutan akar dan pohonnya dari hati.
Untuk mencabut pohon takabbur beserta akar-akarnya diperlukan dua kekuatan, iaitu ilmu dan amal
.
Ilmu yang dimaksudkan dalam hal ini adalah ma’rifatunnafsi (mengenal diri sendiri) dan ma’rifatullah (mengenal Allah). Dua hal ini sudah cukup untuk mencabut akar takabbur dari hati manusia. Sebab jika seseorang sudah mengenali dirinya sendiri dengan pengenalan yang benar, maka ia akan sedar bahawa ia adalah makhluk hina, lebih lemah dari lainnya, lebih miskin dari siapapun juga. Tidak ada yang pantas baginya kecuali tawadhu’ kepada sesama. Dan jika ia mengenali Allah dengan sebenarnya maka akan diketahuinya bahawa tidak ada yang layak untuk takabbur kecuali Allah – Allahu Akbar.

Amal yang dimaksudkan adalah sikap tawadhu’ kepada sesama manusia kerana Allah, dengan senantiasa meneladani akhlak orang-orang soleh sebelumnya seperti akhlak Rasulullah SAW yang makan di atas tanah (tanpa kerusi) dan mengatakan :”Sesungguhnya aku adalah hamba biasa yang makannya seperti hamba lainnya”

Tawadhu’ tidak cukup dengan ilmu, ia harus berupa amal. Dari itulah rukun Islam utama setelah syahadat adalah menegakkan solat kerana dalam solat itu terdapat sekian banyak rahsia hidup dan yang terpenting adalah pembiasaan agar seorang muslim yang mendirikan solat dengan ruku’ dan sujudnya terbiasa tawadhu’ serta tidak lagi sombong.

Ada banyak hal yang dapat digunakan untuk menguji keberadaan takabbur pada diri seseorang, antara lain lima hal berikut:

a. Berdiskusi dengan sesama teman. Jika kebenaran muncul dari orang lain, bagaimanakah tanggapannya, keberatan atau menrima dengan senang.
b. Berkumpul dalam sebuah haflah (program islami). Lalu ada orang lain yang lebih diutamakan, apakah sikapnya keberatan atau tidak.
c. Memenuhi undangan orang miskin. Pergi ke pasar membelikan sesuatu untuk orang lain
d. Membawa keperluan sendiri, keluarga, atau sahabat dari pasar atau tempat lainnya sampai rumah. Jika keberatan maka ada takabbur. Jika mahu kerana terpaksa maka itu kemalasan. Jika mhau kerana disaksikan ramai orang maka itu riya’.
e. Mengenakan pakaian yang sudah kusam. Dsb.

Inilah beberapa situasi berkumpulnya riya’ dan takabbur pada seseorang. Jika dalam keramaian maka riya’ ikut menjebak, jika dalam kesepian takabbur terus mengintai.
Dengan mengenali keburukan kita kenali kebaikan. Dan dengan mengenali penyakit kita temukan ubatnya.

2. Penghindaran dan pengendalian diri
Penyebab takabbur adalah prestasi yang pernah dicapai manusia. Ketidak siapan dan ketidak mampuan menerima hasil dari penyebab-penyebab tertentu berpotensi melahirkan sikap takabbur.

Wallahu a’lam

Thursday, September 24, 2009


Al-Quran telah menetapkan matlamat dan sasaran hidup manusia. Al-Quran juga menjelaskan bahawa ada manusia yang tumpuan hidup mereka hanyalah makan dan berseronok. Allah berfirman:

"Dan (sebaliknya) orang-orang yang kafir menikmati kesenangan di dunia serta mereka makan minum sebagaimana binatang-binatang ternak makan minum, sedang nerakalah menjadi tempat tinggal mereka." (Muhammad: 12)


Al-Quran juga ada menjelaskan tentang sekumpulan manusia yang matlamat mereka hanyalah hiasan dan kesenangan hidup yang akan fana’. Allah berfirman:

"Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga)." ('Ali Imran: 14)

Al-Quran juga menjelaskan tentang sekumpulan manusia yang menjadikan hidup mereka hanya untuk mewujudkan huru-hara, mencetus suasana yang tidak selamat dan tidak aman. Mereka ini disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

"Dan di antara manusia ada orang yang tutur katanya mengenai hal kehidupan dunia, menyebabkan engkau tertarik hati (mendengarnya), dan dia (bersumpah dengan mengatakan bahawa) Allah menjadi saksi atas apa yang ada dalam hatinya, padahal dia adalah orang yang amat keras permusuhannya (kepadamu). Kemudian apabila dia pergi (dengan mendapat hajatnya), berusahalah dia di bumi, untuk melakukan bencana padanya, dan membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan (binatang ternak dan manusia; sedang Allah tidak suka kepada bencana kerosakan." (Al-Baqarah: 204-205)


Inilah antara matlamat manusia dalam hidup ini. Semoga Allah menjauhkan orang yang beriman daripada matlamat seperti ini dan menyerahkan kepada mereka peranan yang lebih besar. Sememangnya Allah telah serahkan di bahu mereka tanggungjawab yang jauh lebih mulia iaitu memimpin manusia ke arah jalan yang benar, membimbing manusia ke arah jalan yang baik dan memancarkan cahaya Islam ke seluruh dunia. Ini dinyatakan oleh firman Allah:

"Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah serta sujudlah (mengerjakan sembahyang), dan beribadatlah kepada Tuhan kamu (dengan mentauhidkan-Nya), serta kerjakanlah amal-amal kebajikan; supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat). Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya Dia lah yang memilih kamu (untuk mengerjakan suruhan ugama-Nya); dan Dia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara ugama, ugama bapa kamu Ibrahim. Ia menamakan kamu: “orang-orang Islam” semenjak dahulu dan di dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu, dan supaya kamu pula layak menjadi orang-orang yang memberi keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah). Oleh itu, dirikanlah sembahyang, dan berilah zakat, serta berpegang teguhlah kamu kepada Allah! Dia lah Pelindung kamu. Maka (Allah yang demikian sifat-Nya) Dia lah sahaja sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Pemberi pertolongan." (Al-Haj: 77-78)


Ini bermakna al-Quran telah meletakkan umat Islam sebagai pembimbing umat manusia seluruhnya. Al-Quran telah menyerahkan hak menguasai dunia ini kepada mereka untuk menunaikan tanggungjawab yang suci ini. Oleh itu ini adalah hak kita bukan hak Barat. Ini adalah hak tamadun Islam dan bukan hak tamadun materialisme

Matlamat Hidup Menurut Al Quran


Al-Quran telah menetapkan matlamat dan sasaran hidup manusia. Al-Quran juga menjelaskan bahawa ada manusia yang tumpuan hidup mereka hanyalah makan dan berseronok. Allah berfirman:

"Dan (sebaliknya) orang-orang yang kafir menikmati kesenangan di dunia serta mereka makan minum sebagaimana binatang-binatang ternak makan minum, sedang nerakalah menjadi tempat tinggal mereka." (Muhammad: 12)


Al-Quran juga ada menjelaskan tentang sekumpulan manusia yang matlamat mereka hanyalah hiasan dan kesenangan hidup yang akan fana’. Allah berfirman:

"Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga)." ('Ali Imran: 14)

Al-Quran juga menjelaskan tentang sekumpulan manusia yang menjadikan hidup mereka hanya untuk mewujudkan huru-hara, mencetus suasana yang tidak selamat dan tidak aman. Mereka ini disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

"Dan di antara manusia ada orang yang tutur katanya mengenai hal kehidupan dunia, menyebabkan engkau tertarik hati (mendengarnya), dan dia (bersumpah dengan mengatakan bahawa) Allah menjadi saksi atas apa yang ada dalam hatinya, padahal dia adalah orang yang amat keras permusuhannya (kepadamu). Kemudian apabila dia pergi (dengan mendapat hajatnya), berusahalah dia di bumi, untuk melakukan bencana padanya, dan membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan (binatang ternak dan manusia; sedang Allah tidak suka kepada bencana kerosakan." (Al-Baqarah: 204-205)


Inilah antara matlamat manusia dalam hidup ini. Semoga Allah menjauhkan orang yang beriman daripada matlamat seperti ini dan menyerahkan kepada mereka peranan yang lebih besar. Sememangnya Allah telah serahkan di bahu mereka tanggungjawab yang jauh lebih mulia iaitu memimpin manusia ke arah jalan yang benar, membimbing manusia ke arah jalan yang baik dan memancarkan cahaya Islam ke seluruh dunia. Ini dinyatakan oleh firman Allah:

"Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah serta sujudlah (mengerjakan sembahyang), dan beribadatlah kepada Tuhan kamu (dengan mentauhidkan-Nya), serta kerjakanlah amal-amal kebajikan; supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat). Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya Dia lah yang memilih kamu (untuk mengerjakan suruhan ugama-Nya); dan Dia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara ugama, ugama bapa kamu Ibrahim. Ia menamakan kamu: “orang-orang Islam” semenjak dahulu dan di dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu, dan supaya kamu pula layak menjadi orang-orang yang memberi keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah). Oleh itu, dirikanlah sembahyang, dan berilah zakat, serta berpegang teguhlah kamu kepada Allah! Dia lah Pelindung kamu. Maka (Allah yang demikian sifat-Nya) Dia lah sahaja sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Pemberi pertolongan." (Al-Haj: 77-78)


Ini bermakna al-Quran telah meletakkan umat Islam sebagai pembimbing umat manusia seluruhnya. Al-Quran telah menyerahkan hak menguasai dunia ini kepada mereka untuk menunaikan tanggungjawab yang suci ini. Oleh itu ini adalah hak kita bukan hak Barat. Ini adalah hak tamadun Islam dan bukan hak tamadun materialisme


Da’ie diharapkan memiliki darjah kepekaan yang sangat tinggi dalam menyerap kepentingan, hajat dan keinginan masyarakat, terutamanya keinginan kepada keamanan dan keimanan yang kadang-kadang berlaku di luar kesedaran mereka.

Syed Qutb pernah membayangkan dirinya berada di atas bukit yang tinggi dan membayangkan masyarakat sebagai kanak-kanak yang bermain dengan pisau tajam yang akan memudharatkan diri mereka sendiri

Abbas Assisi pernah suatu hari menangis melihat ummat yang rosak dan ketika itu Imam Hassan Al Banna mengatakan padanya “Sekarang baru kamu faham makna dakwah”. Inilah hakikat dakwah yang sebenar dimana kepekaan jiwa adalah ruh yang membekalkan tenaga dan ransangan yang menghidupkannya untuk terjun ke dalam masyarakat dan bergelumang dengan penyakit-penyakit yang cuba meruntuhkan ummat.

Kepekaan jiwa inilah yang telah merasuk sanubari generasi pertama hingga mereka menjadikan dakwah sebagai kehidupan mereka dan kehidupan mereka untuk dakwah yang dengannya mereka mewaqafkan segala apa yang mereka ada sambil membaca ayat-ayat Allah SWT:

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan- Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (9:24).

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”(61:10-11)Kepekaan ini akan menggerakkan jiwa Da’ie dari terus berehat. Seorang Da’ie yang peka terhadap permasalahan ummat akan merasai kepedihan dari jaluran pada luka-luka di tubuh ummat. Jiwanya gelisah dan tidak dapat memejamkan matanya ketika orang lain sedang nyenyak diulit mimpi. Apa tidaknya…setiap hari luka-luka baru menjaluri tubuh ummat sedangkan luka-luka semalam masih belum sembuh. Hati-hati ummat semakin hilang kepekaan dan sensitivitinya kepada tuntutan keimanan sedang kebendaan terus mengembalai mereka dengan penuh keangkuhan dan tak berperi kemanusiaan.

Kepekaan ini menjadikan jiwanya bergantung penuh pada rahmat dan kekuasaan Allah; munajatnya mengiringi pagi dan petangnya manakala malamnya adalah saat-saatnya tersimpuh dengan penuh tawadhu’ memohon pengampunan dan kekuatan Ilahi. Kepekaan jiwanya memancarkan satu sumber kekuatan yang menjalar melalui urat sarafnya dan berdenyut senada dengan degupan jantungnya hinggakan segala permasalahan duniawi dipandang enteng dan sedikitpun tidak mampu menghentikan langkah-langkah perjuangannya.

Umar bin al-Khattab RA selalu berjalan di malam gelap-gelita memeriksa keadaan rakyatnya. Apa yang terjadi di tengah kehidupan mereka, apa yang muncul daripada benak mereka, apa yang menjadi perbincangan utama di tengah rakyatnya. Hatinya selalu terpaut dengan hati rakyatnya, fikirannya sentiasa terkuras untuk meringankan kepedihan hati mereka. Nuraninya berusaha memberikan jalan terang bagi kegelapan rakyatnya. Umarlah yang memikul sendiri makanan untuk ibu tua miskin di malam hari. Umarlah yang merasa gelisah jika melihat orang bawahannya melakukan kesalahan dengan menggunakan kemudahan jawatan yang dia miliki. Kepekaan jiwanya memancar dan menebarkan rahmat bagi semesta.

Kepekaan Rasulullah SAW sendiri dilukiskan oleh Al-Quran dalam firman Allah berikut,

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”. (At-Taubah:128)


Rasulullah SAW pernah suatu hari solat dalam keadaan tubuh badannya mengeluarkan bunyi geretu tulang-temulangnya, menyebabkan sahabat-sahabat lain gelisah. Selesai saja Solat, Saidina Umar terus bertanya “Ya Rasulullah SAW, adakah engkau sakit?” Jawab baginda “Tidak”. Saidina Umar bertanya lagi “Kenapa kami mendengar tulang-tulang kamu berbunyi begitu dan engkau bergerak dalam keadaan payah” Rasulullah SAW lalu mengangkat bajunya dan ditunjukkan ketul-ketul batul yang diikatkan diperutnya. Umar dengan penuh kesedihan berkata “Ya Rasulullah, adakah sekiranya kamu meminta kepada kami, kami tidak akan penuhi permintaanmu?” Jawab baginda “Bahkan kamu akan penuhi apa saja permintaan ku tetapi aku takut di Akhirat nanti aku dipersalahkan kerana membebani ummatku.”

Kepekaan harus menjadi sebahagian daripada nafas kepedulian kita, dari darah budaya kerja kita dan dari degup jantung kita. Keperihatinan yang menjadi pancaran dari untaian indah keimanan kita, bahawa “barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan orang mukmin yang lain, maka dia bukan sebahagian daripada mereka”. Kepekaan akan menjadi sumsum yang menguatkan makna tarbiyah kita dan akan menjadi darah yang melincahkan gerak tarbiyah dan dakwah kita.

Kepekaan Jiwa Dai'e


Da’ie diharapkan memiliki darjah kepekaan yang sangat tinggi dalam menyerap kepentingan, hajat dan keinginan masyarakat, terutamanya keinginan kepada keamanan dan keimanan yang kadang-kadang berlaku di luar kesedaran mereka.

Syed Qutb pernah membayangkan dirinya berada di atas bukit yang tinggi dan membayangkan masyarakat sebagai kanak-kanak yang bermain dengan pisau tajam yang akan memudharatkan diri mereka sendiri

Abbas Assisi pernah suatu hari menangis melihat ummat yang rosak dan ketika itu Imam Hassan Al Banna mengatakan padanya “Sekarang baru kamu faham makna dakwah”. Inilah hakikat dakwah yang sebenar dimana kepekaan jiwa adalah ruh yang membekalkan tenaga dan ransangan yang menghidupkannya untuk terjun ke dalam masyarakat dan bergelumang dengan penyakit-penyakit yang cuba meruntuhkan ummat.

Kepekaan jiwa inilah yang telah merasuk sanubari generasi pertama hingga mereka menjadikan dakwah sebagai kehidupan mereka dan kehidupan mereka untuk dakwah yang dengannya mereka mewaqafkan segala apa yang mereka ada sambil membaca ayat-ayat Allah SWT:

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan- Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (9:24).

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”(61:10-11)Kepekaan ini akan menggerakkan jiwa Da’ie dari terus berehat. Seorang Da’ie yang peka terhadap permasalahan ummat akan merasai kepedihan dari jaluran pada luka-luka di tubuh ummat. Jiwanya gelisah dan tidak dapat memejamkan matanya ketika orang lain sedang nyenyak diulit mimpi. Apa tidaknya…setiap hari luka-luka baru menjaluri tubuh ummat sedangkan luka-luka semalam masih belum sembuh. Hati-hati ummat semakin hilang kepekaan dan sensitivitinya kepada tuntutan keimanan sedang kebendaan terus mengembalai mereka dengan penuh keangkuhan dan tak berperi kemanusiaan.

Kepekaan ini menjadikan jiwanya bergantung penuh pada rahmat dan kekuasaan Allah; munajatnya mengiringi pagi dan petangnya manakala malamnya adalah saat-saatnya tersimpuh dengan penuh tawadhu’ memohon pengampunan dan kekuatan Ilahi. Kepekaan jiwanya memancarkan satu sumber kekuatan yang menjalar melalui urat sarafnya dan berdenyut senada dengan degupan jantungnya hinggakan segala permasalahan duniawi dipandang enteng dan sedikitpun tidak mampu menghentikan langkah-langkah perjuangannya.

Umar bin al-Khattab RA selalu berjalan di malam gelap-gelita memeriksa keadaan rakyatnya. Apa yang terjadi di tengah kehidupan mereka, apa yang muncul daripada benak mereka, apa yang menjadi perbincangan utama di tengah rakyatnya. Hatinya selalu terpaut dengan hati rakyatnya, fikirannya sentiasa terkuras untuk meringankan kepedihan hati mereka. Nuraninya berusaha memberikan jalan terang bagi kegelapan rakyatnya. Umarlah yang memikul sendiri makanan untuk ibu tua miskin di malam hari. Umarlah yang merasa gelisah jika melihat orang bawahannya melakukan kesalahan dengan menggunakan kemudahan jawatan yang dia miliki. Kepekaan jiwanya memancar dan menebarkan rahmat bagi semesta.

Kepekaan Rasulullah SAW sendiri dilukiskan oleh Al-Quran dalam firman Allah berikut,

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”. (At-Taubah:128)


Rasulullah SAW pernah suatu hari solat dalam keadaan tubuh badannya mengeluarkan bunyi geretu tulang-temulangnya, menyebabkan sahabat-sahabat lain gelisah. Selesai saja Solat, Saidina Umar terus bertanya “Ya Rasulullah SAW, adakah engkau sakit?” Jawab baginda “Tidak”. Saidina Umar bertanya lagi “Kenapa kami mendengar tulang-tulang kamu berbunyi begitu dan engkau bergerak dalam keadaan payah” Rasulullah SAW lalu mengangkat bajunya dan ditunjukkan ketul-ketul batul yang diikatkan diperutnya. Umar dengan penuh kesedihan berkata “Ya Rasulullah, adakah sekiranya kamu meminta kepada kami, kami tidak akan penuhi permintaanmu?” Jawab baginda “Bahkan kamu akan penuhi apa saja permintaan ku tetapi aku takut di Akhirat nanti aku dipersalahkan kerana membebani ummatku.”

Kepekaan harus menjadi sebahagian daripada nafas kepedulian kita, dari darah budaya kerja kita dan dari degup jantung kita. Keperihatinan yang menjadi pancaran dari untaian indah keimanan kita, bahawa “barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan orang mukmin yang lain, maka dia bukan sebahagian daripada mereka”. Kepekaan akan menjadi sumsum yang menguatkan makna tarbiyah kita dan akan menjadi darah yang melincahkan gerak tarbiyah dan dakwah kita.
This entry was posted in :

Thursday, September 17, 2009


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (SURAH Al-Baqarah: 183).

Itqa dan taqwa maknanya adalah menjauhi. Dan taqwallah ertinya menjauhi kemarahan dan murka Allah SWT, serta meninggalkan apa yang memyebabkan kemarahan Allah SWT. Dengan demikian, taqwa harus diwujudkan dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Taqwa dasarnya adalah takut kepada Allah SWT. Perkara ini (taqwa) merupakan hasil daripada amalan hati yang bersih. Hal ini dijelaskan Allah SWT. dalam firman-Nya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketaqwaan hati” (SURAH Al-Hajj: 32). Rasulullah SAW. juga menegaskan, “Taqwa itu ada di sini”. Beliau mengulanginya sampai tiga kali sambil menunjuk ke dada beliau (HADITH RIWAYAT Muslim dari Abu Hurairah). Ini bererti taqwa berada di dalam hati.

Para salafus soleh mendefinisikan taqwa dengan sebuah ungkapan, “Mentaati Allah dan tidak melakukan kemaksiatan kepadaNya, selalu berdzikir dan tidak melupakanNya, sentiasa bersyukur dan tidak kufur kepadaNya.”
Nilai-nilai ketaqwaan tidak dapat tertanam dan buahnya tidak dapat dipetik, kecuali jika Seorang Muslim memiliki pengetahuan tentang agama Allah yang menuntut dirinya mencapai darjat muttaqin. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (SURAH Fathir: 28).

Mengapa demikian? Kerana orang yang tidak berilmu tidak tahu apa saja yang wajib dikerjakan dan apa saja yang harus ditinggalkannya. Itulah sebabnya mengapa menuntut ilmu merupakan ibadah yang utama, jalan yang menghubungkan ke surga dan menjadi tanda bahawa seseorang mempunyai keinginan baik.

Taqwa adalah wasiat dari Allah SWT. Dalam firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (SURAH Ali Imran: 102).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW. bersabda,

“Bertaqwalah kalian kepada Allah di mana pun kamu berada. Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan keburukan. Dan perlakukanlah manusia itu dengan akhlak terpuji” (HADITH RIWAYAT Tirmidzi).

Taqwa menjadi wasiat abadi kerana mengandungi kebaikan dan manfaat yang sangat besar bagi mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Taqwa merupakan himpunan dari semua kebaikan dan pencegah segala kejahatan. Dengan taqwa, seseorang mukmin akan mendapatkan sokongan dan pertolongan dari Allah SWT.

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (SURAH An-Nahl: 128).

Perintah untuk mencapai derajat taqwa kemudian dilanjutkan dengan penjelasan lebih luas tentang cara-cara untuk mencapainya dalam sebuah firman Allah SWT., yang bermaksud; “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa” (SURAH Al-Baqarah: 21).

Ibadah yang dimaksud dalam ayat ini mencakupi perbahasan yang luas, mencakup ibadah wajib dan ibadah sunnah. Ibadah wajib terdiri dari solat, puasa, zakat, dan haji, ditambah dengan kewajiban-kewajiban masyarakat yang diperintahkan oleh Al-Qur`an, seperti berbuat baik kepada orang tua, kaum kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga, teman, dan kepada orang bermusafir. Sedangkan yang termasuk ibadah sunnah misalnya berdzikir kepada Allah SWT., berdoa kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan membaca Al-Qur`an. Ibadah-ibadah tersebut semuanya dipersiapkan untuk membentuk setiap Muslim menjadi insan bertaqwa.

Antara kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan tersebut, secara lebih khusus, Allah SWT. menekankan pada perintah puasa sebagai saranan pembentukan insan bertaqwa, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (SURAH Al-Baqarah: 183).

Dan terdapat hadith yang bermaksud; “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memberinya pengetahuan (pemahaman) tentang agama” (Muttafaqun ‘alaih). Berdasarkan hadits di atas, taqwa merupakan gabungan antara ilmu dan ketaatan. Ilmu akan meningkatkan ketaatan kepada Allah, dan ketaatan akan menambah motivasi untuk meningkatkan ilmu.

Mengapa puasa Ramadhan diarahkan oleh Allah sebagai jalan untuk mencapai darjat taqwa? Ini adalah kerana di dalam bulan Ramadhan terkumpul hampir semua bentuk peribadatan seperti puasa, ada solat Tarawih, solat Witir, tilawah al-Qur`an, berbincang tentang Islam, zakat, infaq, sadaqah, dan i’tikaf. Selain itu, balasan pahala di bulan Ramadhan juga dilipat gandakan untuk merangsang umat Islam meningkatkan amal solehnya. Oleh kerana itu, mari kita menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kerinduan dan suka cita. Siapkanlah diri kita untuk meraih rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari siksa neraka.

Tazkirah 8: Muhasabah Ramadhan Ke Arah Mencapai Taqwa


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (SURAH Al-Baqarah: 183).

Itqa dan taqwa maknanya adalah menjauhi. Dan taqwallah ertinya menjauhi kemarahan dan murka Allah SWT, serta meninggalkan apa yang memyebabkan kemarahan Allah SWT. Dengan demikian, taqwa harus diwujudkan dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Taqwa dasarnya adalah takut kepada Allah SWT. Perkara ini (taqwa) merupakan hasil daripada amalan hati yang bersih. Hal ini dijelaskan Allah SWT. dalam firman-Nya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketaqwaan hati” (SURAH Al-Hajj: 32). Rasulullah SAW. juga menegaskan, “Taqwa itu ada di sini”. Beliau mengulanginya sampai tiga kali sambil menunjuk ke dada beliau (HADITH RIWAYAT Muslim dari Abu Hurairah). Ini bererti taqwa berada di dalam hati.

Para salafus soleh mendefinisikan taqwa dengan sebuah ungkapan, “Mentaati Allah dan tidak melakukan kemaksiatan kepadaNya, selalu berdzikir dan tidak melupakanNya, sentiasa bersyukur dan tidak kufur kepadaNya.”
Nilai-nilai ketaqwaan tidak dapat tertanam dan buahnya tidak dapat dipetik, kecuali jika Seorang Muslim memiliki pengetahuan tentang agama Allah yang menuntut dirinya mencapai darjat muttaqin. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (SURAH Fathir: 28).

Mengapa demikian? Kerana orang yang tidak berilmu tidak tahu apa saja yang wajib dikerjakan dan apa saja yang harus ditinggalkannya. Itulah sebabnya mengapa menuntut ilmu merupakan ibadah yang utama, jalan yang menghubungkan ke surga dan menjadi tanda bahawa seseorang mempunyai keinginan baik.

Taqwa adalah wasiat dari Allah SWT. Dalam firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (SURAH Ali Imran: 102).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW. bersabda,

“Bertaqwalah kalian kepada Allah di mana pun kamu berada. Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan keburukan. Dan perlakukanlah manusia itu dengan akhlak terpuji” (HADITH RIWAYAT Tirmidzi).

Taqwa menjadi wasiat abadi kerana mengandungi kebaikan dan manfaat yang sangat besar bagi mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Taqwa merupakan himpunan dari semua kebaikan dan pencegah segala kejahatan. Dengan taqwa, seseorang mukmin akan mendapatkan sokongan dan pertolongan dari Allah SWT.

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (SURAH An-Nahl: 128).

Perintah untuk mencapai derajat taqwa kemudian dilanjutkan dengan penjelasan lebih luas tentang cara-cara untuk mencapainya dalam sebuah firman Allah SWT., yang bermaksud; “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa” (SURAH Al-Baqarah: 21).

Ibadah yang dimaksud dalam ayat ini mencakupi perbahasan yang luas, mencakup ibadah wajib dan ibadah sunnah. Ibadah wajib terdiri dari solat, puasa, zakat, dan haji, ditambah dengan kewajiban-kewajiban masyarakat yang diperintahkan oleh Al-Qur`an, seperti berbuat baik kepada orang tua, kaum kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga, teman, dan kepada orang bermusafir. Sedangkan yang termasuk ibadah sunnah misalnya berdzikir kepada Allah SWT., berdoa kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan membaca Al-Qur`an. Ibadah-ibadah tersebut semuanya dipersiapkan untuk membentuk setiap Muslim menjadi insan bertaqwa.

Antara kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan tersebut, secara lebih khusus, Allah SWT. menekankan pada perintah puasa sebagai saranan pembentukan insan bertaqwa, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (SURAH Al-Baqarah: 183).

Dan terdapat hadith yang bermaksud; “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memberinya pengetahuan (pemahaman) tentang agama” (Muttafaqun ‘alaih). Berdasarkan hadits di atas, taqwa merupakan gabungan antara ilmu dan ketaatan. Ilmu akan meningkatkan ketaatan kepada Allah, dan ketaatan akan menambah motivasi untuk meningkatkan ilmu.

Mengapa puasa Ramadhan diarahkan oleh Allah sebagai jalan untuk mencapai darjat taqwa? Ini adalah kerana di dalam bulan Ramadhan terkumpul hampir semua bentuk peribadatan seperti puasa, ada solat Tarawih, solat Witir, tilawah al-Qur`an, berbincang tentang Islam, zakat, infaq, sadaqah, dan i’tikaf. Selain itu, balasan pahala di bulan Ramadhan juga dilipat gandakan untuk merangsang umat Islam meningkatkan amal solehnya. Oleh kerana itu, mari kita menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kerinduan dan suka cita. Siapkanlah diri kita untuk meraih rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari siksa neraka.

Tuesday, September 15, 2009


Berikut antara petikan ucapan Sheikh Hussein Khalil Saqar al-Awawidah atau lebih dikenali sebagai Syeikh Abu Bakr, Penasihat Kanan Rabithah Ulama Palestin di Perjumpaan Bersama HALUAN Selangor dan Wilayah Persekutuan sempena Program Ramadhan Bersama Ulama Palestin Anjuran HALUANPalestin dengan kerjasama KESUMA JAKIM. Semoga bermanfaat.

Assalamualaikum wrh [SSR SAW]

Demi Allah swt yang memberikan kita kekuatan, saya disini bukan untuk berbicara politik, tetapi untuk berbicara dari hati ke hati, jiwa ke jiwa. Saya ingin berbicara kepada kalian bagaimana kami para ulama dan para pejuang Palestin bertungkus-lumus membina generasi yang terbaik. Bagaimana tarbiyah dan kebaikan itu bermula...kita harus tahu.


Wahai saudara-saudaraku,
sebenarnya masalah Palestina bukan merupakan masalah rakyat palestin semata-mata tetapi merupakan permasalahan umat Islam yang berada di seluruh dunia. Mengapa ? Kerana Palestina merupakan tanah wakaf yang diberikan oleh Khalifah Islam ke-2, Umar Al-Khattab dan di amanahkan oleh Panglima Salahuddin Al-ayubbi kepada kita kaum muslimin, kemudian amanah itu dilanjutkan oleh nenek moyang kita yang berada di Palestina, sehinggalah akhirnya oleh Sultan Abdul Hamid ke-2 menyerahkan bendera Islam kepada rakyat Palestin sebelum kejatuhan Khilafah Islam di Turkey. Perjuangan untuk mempertahankan Al-aqsa telah bermula semenjak dari semenjak Inggeris ingin menguasai Palestina. Secara tepatnya pada tahun 1922 terjadi revolusi penentangan di antara para tentera mujahidin dengan tentera Inggeris. Kemudian dilanjutkan lagi pada tahun seterusnya yang dipimpin oleh 3 orang Ulama seterusnya kepimpinan tentera mujahidin Palestin dipimpin oleh Ulama Syeikh Izzuddin Al-qassam hinggalah seterusnya dan kini. Perjuangan Palestina tercatit dalam catatan yang panjang dan kami tidak sedikitpun redha terhadap pendudukan Israel ke atas tanah palestin. Orang-orang yang berjuang ditarbiyah dengan tarbiyah yang tinggi, tarbiyah Al-Quran, tujuan yang satu untuk syahid mempertahankan Palestin. Sebenarnya, apa yang kalian lihat pada perjuangan Hamas adalah hasil didikan Ikhwanul Muslimin dibawah pimpinan Imam As-syahid Hassan Al-Banna ketika para tentera Ikhwan mulai masuk ke Palestina. Banyak dari pasukan ikhwan yang syahid disana dan sejak dari saat itu, mulai tertanam benih-benih jihad ke dalam penduduk Palestina.


Dan dari situ jugalah As-syahid Syeikh Ahmad Yassin dan beberapa lagi, mula tersuntik semangatnya untuk membangunkan jihad di kalangan para pemuda Palestin. Mereka melihat bagaimana tarbiyah Ikhwanul Muslimin membentuk pasukan yang kuat. Mereka mula merubah dari dasarnya iaitu menjadikan Islam sebagai pola pemikiran mereka dan juga mereka menjadikan Islam sebagai corak hidup mereka. Sehinggakan kata As-syahid Syeikh Ahmad Yassin, apa yang kita perlu lakukan dari pengalaman kita bersama-sama dengan Ikhwanul Muslimin iaitu kita perlu mula dari mengikut cara Rasulullah saw dengan mentarbiyah diri kita, mentarbiyah keluarga kita seterusnya masyarakat untuk mendapat redha Allah swt. Dengan reda Allah, kita akan mendapat kemenangan.


Dari sana, kami mula memasuki kota-kota serta kampung..kami mula membangunkan masjid-masjid, kami mula membangunkan institusi-institusi islam, universiti-universiti islam serta kami mula membentuk suatu persatuan serta ikatan islam yang lebih luas. dari sanalah lahir apa yang dikatakan sebagai satu gerakan Islam. kami berusaha mentarbiah diri kami, roh kami dengan tarbiyah Islam, kami tarbiyah akhlak kami dengan akhlak Islam. Ketika itu kami ditanya oleh kaum muslimin yang lain, mengapa kalian tidak melakukan jihad dan hanya melakukan tarbiyah sahaja? ..jawab kami, yea tidakkah kalian tahu dan melihat tentang kaum muslimin yang bersabar dan menahan dirinya dari mengangkat senjatanya tetapi mereka melakukan tarbiyah untuk mendidik diri mereka dengan dasar-dasar taqwa sepertimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw.


Saudara-saudaraku....
Kami bertiga ini yang berada di hadapan kalian ini adalah hasil tarbiyah yang dilakukan oleh As-syahid Syeikh Ahmad Yassin. Kami adalah generasi pertama yang ditarbiyah dimasjid-masjid, di madrasah-madrasah, di universiti-universiti yang dipimpin oleh Ikhwan dan As-syahid Syeikh Ahmad Yassin serta bersama para mujahidin lainnya. Saudara-saudaraku, sebenarnya apa yang kalian lihat dari perjuangan di palestina merupakan hasil dari perjalanan tarbiyah yang sangat panjang yang dilakukan dengan sabar dan taat. Kami diwajibkan untuk melakukan puasa dengan kerap. Mulai dari isnin dan khamis hinggalah kewajiban puasa beberapa kali dalam sebulan serta puasa-puasa sunat.


Kemudian, kami juga dibentuk sebagai pasukan-pasukan kecil yang bermula dari solat asar sehingga solat subuh. Di dalamnya, kami melakukan tilawah-tilawah, tazkirah-tazkirah. Kami juga dilatih untuk melakukan tadhrib di gunung-gunung, bukit dan lembah-lembah di Palestina. Kami dilatih dengan pelbagai ketangkasan serta kemahiran olahraga serta ketaatan kepada ketua. Pada tahun 1987 terjadilah apa yang dikatakans ebagai Intifadah Pertama dan revolusi seterusnya. Saudara-saudaraku, apa yang menjadi kewajiban sebagai tentera Mujahidin Palestin iaitu mereka semua harus untuk hafaz Al-quran. Di dalam keadaan perang, mereka wajib mengingati ayat-ayat quran kerana kita yakin kekuatan itu apabila kita berpegang kepada Al-quran dan sunnah.


Kemenangan sebenarnya sememangnya milik kita kerana kita punyai tempat mengadu iaitu Allah swt tetapi mereka kaum zionis yahudi tidak mempunyai tempat mengadu dan mereka sebenarnya tiada kekuatan. Dari tentera mujahidin, kami juga membentuk generasi anak-anak untuk menjadi bakal-bakal qader serta tentera yang akan menyambung jihad di bumi palestina. Mereka dilatih untuk hafaz Al-quran semenjak dari kecil. Mereka dilatih dengan semangat ketenteraan dan tidak akan mati kecuali syahid mempertahankan palestina.

* Petikan di lampir dari blog nurtaqwa08.blogspot.com

Palestin: Tarbiyah Al Quran Kekuatan kami


Berikut antara petikan ucapan Sheikh Hussein Khalil Saqar al-Awawidah atau lebih dikenali sebagai Syeikh Abu Bakr, Penasihat Kanan Rabithah Ulama Palestin di Perjumpaan Bersama HALUAN Selangor dan Wilayah Persekutuan sempena Program Ramadhan Bersama Ulama Palestin Anjuran HALUANPalestin dengan kerjasama KESUMA JAKIM. Semoga bermanfaat.

Assalamualaikum wrh [SSR SAW]

Demi Allah swt yang memberikan kita kekuatan, saya disini bukan untuk berbicara politik, tetapi untuk berbicara dari hati ke hati, jiwa ke jiwa. Saya ingin berbicara kepada kalian bagaimana kami para ulama dan para pejuang Palestin bertungkus-lumus membina generasi yang terbaik. Bagaimana tarbiyah dan kebaikan itu bermula...kita harus tahu.


Wahai saudara-saudaraku,
sebenarnya masalah Palestina bukan merupakan masalah rakyat palestin semata-mata tetapi merupakan permasalahan umat Islam yang berada di seluruh dunia. Mengapa ? Kerana Palestina merupakan tanah wakaf yang diberikan oleh Khalifah Islam ke-2, Umar Al-Khattab dan di amanahkan oleh Panglima Salahuddin Al-ayubbi kepada kita kaum muslimin, kemudian amanah itu dilanjutkan oleh nenek moyang kita yang berada di Palestina, sehinggalah akhirnya oleh Sultan Abdul Hamid ke-2 menyerahkan bendera Islam kepada rakyat Palestin sebelum kejatuhan Khilafah Islam di Turkey. Perjuangan untuk mempertahankan Al-aqsa telah bermula semenjak dari semenjak Inggeris ingin menguasai Palestina. Secara tepatnya pada tahun 1922 terjadi revolusi penentangan di antara para tentera mujahidin dengan tentera Inggeris. Kemudian dilanjutkan lagi pada tahun seterusnya yang dipimpin oleh 3 orang Ulama seterusnya kepimpinan tentera mujahidin Palestin dipimpin oleh Ulama Syeikh Izzuddin Al-qassam hinggalah seterusnya dan kini. Perjuangan Palestina tercatit dalam catatan yang panjang dan kami tidak sedikitpun redha terhadap pendudukan Israel ke atas tanah palestin. Orang-orang yang berjuang ditarbiyah dengan tarbiyah yang tinggi, tarbiyah Al-Quran, tujuan yang satu untuk syahid mempertahankan Palestin. Sebenarnya, apa yang kalian lihat pada perjuangan Hamas adalah hasil didikan Ikhwanul Muslimin dibawah pimpinan Imam As-syahid Hassan Al-Banna ketika para tentera Ikhwan mulai masuk ke Palestina. Banyak dari pasukan ikhwan yang syahid disana dan sejak dari saat itu, mulai tertanam benih-benih jihad ke dalam penduduk Palestina.


Dan dari situ jugalah As-syahid Syeikh Ahmad Yassin dan beberapa lagi, mula tersuntik semangatnya untuk membangunkan jihad di kalangan para pemuda Palestin. Mereka melihat bagaimana tarbiyah Ikhwanul Muslimin membentuk pasukan yang kuat. Mereka mula merubah dari dasarnya iaitu menjadikan Islam sebagai pola pemikiran mereka dan juga mereka menjadikan Islam sebagai corak hidup mereka. Sehinggakan kata As-syahid Syeikh Ahmad Yassin, apa yang kita perlu lakukan dari pengalaman kita bersama-sama dengan Ikhwanul Muslimin iaitu kita perlu mula dari mengikut cara Rasulullah saw dengan mentarbiyah diri kita, mentarbiyah keluarga kita seterusnya masyarakat untuk mendapat redha Allah swt. Dengan reda Allah, kita akan mendapat kemenangan.


Dari sana, kami mula memasuki kota-kota serta kampung..kami mula membangunkan masjid-masjid, kami mula membangunkan institusi-institusi islam, universiti-universiti islam serta kami mula membentuk suatu persatuan serta ikatan islam yang lebih luas. dari sanalah lahir apa yang dikatakan sebagai satu gerakan Islam. kami berusaha mentarbiah diri kami, roh kami dengan tarbiyah Islam, kami tarbiyah akhlak kami dengan akhlak Islam. Ketika itu kami ditanya oleh kaum muslimin yang lain, mengapa kalian tidak melakukan jihad dan hanya melakukan tarbiyah sahaja? ..jawab kami, yea tidakkah kalian tahu dan melihat tentang kaum muslimin yang bersabar dan menahan dirinya dari mengangkat senjatanya tetapi mereka melakukan tarbiyah untuk mendidik diri mereka dengan dasar-dasar taqwa sepertimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw.


Saudara-saudaraku....
Kami bertiga ini yang berada di hadapan kalian ini adalah hasil tarbiyah yang dilakukan oleh As-syahid Syeikh Ahmad Yassin. Kami adalah generasi pertama yang ditarbiyah dimasjid-masjid, di madrasah-madrasah, di universiti-universiti yang dipimpin oleh Ikhwan dan As-syahid Syeikh Ahmad Yassin serta bersama para mujahidin lainnya. Saudara-saudaraku, sebenarnya apa yang kalian lihat dari perjuangan di palestina merupakan hasil dari perjalanan tarbiyah yang sangat panjang yang dilakukan dengan sabar dan taat. Kami diwajibkan untuk melakukan puasa dengan kerap. Mulai dari isnin dan khamis hinggalah kewajiban puasa beberapa kali dalam sebulan serta puasa-puasa sunat.


Kemudian, kami juga dibentuk sebagai pasukan-pasukan kecil yang bermula dari solat asar sehingga solat subuh. Di dalamnya, kami melakukan tilawah-tilawah, tazkirah-tazkirah. Kami juga dilatih untuk melakukan tadhrib di gunung-gunung, bukit dan lembah-lembah di Palestina. Kami dilatih dengan pelbagai ketangkasan serta kemahiran olahraga serta ketaatan kepada ketua. Pada tahun 1987 terjadilah apa yang dikatakans ebagai Intifadah Pertama dan revolusi seterusnya. Saudara-saudaraku, apa yang menjadi kewajiban sebagai tentera Mujahidin Palestin iaitu mereka semua harus untuk hafaz Al-quran. Di dalam keadaan perang, mereka wajib mengingati ayat-ayat quran kerana kita yakin kekuatan itu apabila kita berpegang kepada Al-quran dan sunnah.


Kemenangan sebenarnya sememangnya milik kita kerana kita punyai tempat mengadu iaitu Allah swt tetapi mereka kaum zionis yahudi tidak mempunyai tempat mengadu dan mereka sebenarnya tiada kekuatan. Dari tentera mujahidin, kami juga membentuk generasi anak-anak untuk menjadi bakal-bakal qader serta tentera yang akan menyambung jihad di bumi palestina. Mereka dilatih untuk hafaz Al-quran semenjak dari kecil. Mereka dilatih dengan semangat ketenteraan dan tidak akan mati kecuali syahid mempertahankan palestina.

* Petikan di lampir dari blog nurtaqwa08.blogspot.com

Sunday, September 13, 2009


Kini kita berada di ambang 10 hari terakhir daripada bulan Ramadhan. Pada 10 hari terakhir ini terdapat fadhilat yang cukup besar lantaran salah satu daripada malamnya merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan, iaitu malam Al-Qadr (Lailatul-Qadr). Siapa yang mendirikan (qiyam) malam agung ini dengan penuh iman serta mengharapkan keampunan dan rahmat daripada Allah swt diampunkan dosa-dosanya (dosa kecil) yang terdahulu. Justeru itu Rasulullah saw amat mengambil berat dan memberi keutamaan kepada ibadah i’tikaf pada 10 hari terakhir ini.

I’tikaf adalah sunnah Rasulillah saw. Sayyidatuna A’ishah diriwayatkan pernah berkata,

“Adalah Rasulullah saw beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sehinggalah baginda wafat, kemudian isteri-isteri baginda terus beri’tikaf selepas ketiadaan baginda.”

Iltizamnya baginda saw melaksanakan sunnah i’tikaf ini sehingga baginda wafat menunjukkan betapa besarnya keutamaan dan kelebihan beri’tikaf pada 10 hari terakhir ini.
NAS-NAS BERHUBUNG I’TIKAF RASULILLAH SAW
Keutamaan I’tikaf dalam syari’at Islam ialah pada hari-hari yang khusus dalam bulan puasa iaitu pada 10 hari terakhir daripada bulan Ramadhan. Tiada riwayat yang menunjukkan bahawa Rasulullah saw beri’tikaf tanpa berpuasa pada siang harinya. Sayyidina A’ishah pernah berkata bahawa Rasulullah saw bersabda,

“Tidak ada i’tikaf melainkan dengan puasa.”
(Riwayat Abu Dawud, AdDarqutni dan AlBaihaqi).

Pada setiap tahun Rasulullah saw beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Baginda tidak pernah meninggalkan ibadah i’tikaf ini kecuali pada satu tahun, dan baginda mengqadha’nya pada bulan Syawal. Diriwayatkan juga bahawa pada Ramadhan yang terakhir sebelum kewafatan baginda, Rasulullah saw beri’tikaf pada 20 hari terakhir daripada bulan tersebut.

Apabila Rasulullah saw bermaksud untuk beri’tikaf baginda memasuki tempat I’tikaf yang berupa khemah kecil yang didirikan di dalam Masjid Nabawi untuk baginda berkhalwah.

Semasa i’tikaf Nabi saw tidak memasuki rumah baginda melainkan untuk qodha’ hajat. Sekiranya ada dari kalangan ummahatul-mukminin yang ingin menziarahi baginda mereka boleh pergi menemui Nabi di dalam masjid. Kemudian Nabi akan menemani mereka pulang ke rumah mereka. Baginda tidak pulang bergaul dengan isteri-isteri baginda pada malam baginda beri’tikaf. Sekiranya baginda masuk ke rumah untuk qodha’ hajat baginda tidak menyibukkan diri dengan sesiapa pun. Ada ketikanya semasa pulang sebentar untuk qodha’ hajat, anggota isi rumah baginda sedang sakit namun baginda tidak mendekatinya dan tidak bertanya khabar tentang keadaannya kerana tidak mahu membatalkan i’tikaf.


I’TIKAF DARIPADA SEGI HUKUM SYARA’

I’tikaf pada istilah syara’ ialah menetap di rumah Allah dengan niat beribadah. Oleh itu i’tikaf disyaratkan supaya dilaksanakan di masjid.
Firman Allah swt:

وَأنتم عاكفون في المساجد (البقرة: 187)

Maksudnya, “Dan kamu beri’tikaf di masjid-masjid”

Para fuqoha’ berbeza pendapat tentang jenis masjid yang dibolehkan beri’tikaf seperti pandangan-pandangan berikut:

1) I’tikaf hanya dikhususkan kepada 3 masjid sahaja iaitu Masjid AlHaram, Masjid Nabawi dan Masjid AlAqsa. Pendapat ini bersandarkan kepada athar daripada pada Said bin AlMusayyab yang berkata: “لا تشد الرحال الا الى ثلاثة مساجد ...” yang bermaksud, “Jangan kamu bersusah payah berpergian melainkan kepada 3 masjid……”

2) Imam Malik dalam satu pendapatnya menyebut tiada i’tikaf melainkan di masjid yang mana solah berjama’ah diadakan. Pandangan ini berdasarkan kepada kata-kata Ibn Masud r.a.

3) Jumhur ulama’ berpandangan bahawa harus beri’tikaf di mana-mana masjid kerana umumnya lafaz “وَأنتم عاكفون في المساجد (البقرة: 187)”. Dr. Ali AsSobuni, dengan merujuk kepada AlQurtubi, AlAlusi, AlKasyaf dan ArRazi, berkata pendapat ini lebih tepat kerana kandungan ayat ini tidak mengkhususkan mana-mana masjid sebaliknya hanya menyebut masjid-masjid secara umum, maka kekal lafaz ayat ini dengan sifat umumnya.Sehubungan dengan ini beliau memetik kata-kata Abu Bakr AlJassos dalam kitabnya ‘Ahkam Al-Quran’ sebagai berikut:

Para salaf telah bersepakat bahawa syarat untuk beri’tikaf mestilah di masjid. Cuma mereka berbeza pendapat daripada segi umum atau khususnya lafaz ‘almasajid’ (masjid-masjid). Namun zahir ayat di atas mengharuskan beri’tikaf di semua masjid berdasarkan umumnya lafaz.

BERAPA LAMA MASA I’TIKAF?

Para fuqoha’ berbeza pendapat dalam hal berapa lama jangka waktu minima yang diperlukan bagi sesuatu sesi i’tikaf. Di sana ada 3 pendapat:
1. Mazhab Hanafi: Sekurang-kurangnya sehari semalam.
2. Imam Malik: Sekurang-kurangnya 10 hari.
3. Mazhab Shafi’ee: Sebentar waktu dan tidak ada had maksima.

ADAKAH DISYARATKAN BERPUASA?
Imam Shafi’ee dan Imam Ahmad berpendapat harus i’tikaf tanpa perlu berpuasa.
Jumhur ulama’ {Abu Hanifah, Malik dan Ahmad (pendapat kedua)} berkata, “Tidak sah i’tikaf melainkan dengan berpuasa.” Mereka berhujjah dengan riwayat yang bersumberkan daripadapada A’ishah bahawa Rasulullah saw bersabda, “لا اعتكاف الا بصيام“ yang bermaksud, “Tidak ada i’tikaf melainkan dengan puasa.”

Berkata imam AlFakhr yang bermazhab Shafi’ee, “Harus beri’tikaf tanpa puasa namun adalah afdhal jika berpuasa.”

I’TIKAF MUSLIMAH

Menurut Sheikh Masud Sobri, pembahas syar’iee laman web Islam Online, adalah harus bagi Muslimah beri’tikaf di masjid dengan syarat tempat i’tikaf (معتكف) kaum wanita diletakkan berjauhan daripada tempat i’tikaf lelaki. Disamping itu seorang isteri disyaratkan juga mendapat keizinan suaminya. Fuqoha’ Mazhab Hanafi berpendapat bahawa Muslimah boleh juga beri’tikaf di ‘masjid’ rumahnya. Menurut Dr. Majdee AlHilali, ukht Muslimah boleh beri’tikaf di kamar atau bahagian di dalam rumahnya yang dikhususkan sebagai mihrab ibadah anggota keluarga perempuan.

Dasar syari’at dalam Islam adalah sama antara lelaki dan wanita melainkan dalam perkara-perkara yang ada nas syara’ yang membezakan peraturan atau hukum bagi lelaki dan wanita. Sheikh Masud Sobri memetik sabda Rasulullah saw,

لا تمنعوا اماء الله مساجد الله وبيوتهن خير لهن

yang bermaksud, “ Jangan kamu halang wanita Muslimah daripada masjid-masjid Allah, dan pada masa yang sama rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka.”

Oleh kerana hukum wanita pergi ke masjid adalah harus maka beri’tikaf di masjid juga harus bagi wanita tetapi dengan menepati syarat-syarat yang disebut di atas.
Wanita, seperti mana juga lelaki, perlu memperbaharui hubungannya dengan Allah dan memutuskan tumpuan hatinya kepada kesibukan duniawi yang tak kunjung habis. Dalam realiti kehidupan hari ini wanita diberikan hak-hak siyasah, sosial dan ekonomi maka hak untuk mereka berkhalwah meningkatkan hubungan hati dengan Allah adalah tidak kurang pentingnya, bahkan lebih aula.

ASPEK RUHI DALAM I’TIKAF
Berkata Ibn Rojab, “فحقيقة الاعتكاف قطع العلائق عن الخلائق للاتصال بخدمة الخالق” yang bermaksud, “Ada pun hakikat i’tikaf ialah terputusnya semua ikatan dengan makhluk untuk khidmat kepada Khaliq.” Justeru jiwa seorang yang sedang beri’tikaf atau ‘aakif (عاكف) sentiasa tajarrud daripadapada keasyikan, keselesaan, kesibukan dan kerunsingan dunia. Dia mengusir keluar semua kerunsingan duniawi daripada pemikiran dan hatinya. Pengasingan dirinya dengan mengasingkan pemikiran dan perasaannya daripada apa sahaja yang ada di luar masjid. Fokus dirinya ialah kepada Allah swt. Dia memberi sepenuh perhatian untuk beribadah kepada Rabb dan Ilahnya dalam solat, zikir, tasbih, tilawah dan qiyam.

Dengan ini segmen i’tikaf dalam kehidupan seorang ‘aakif keseluruhannya digunakan untuk mempersembahkan ketaatan sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla ketika kalbunya sibuk mengharap ridha Tuhannya. Dia meninggalkan semua urusan dunia. Inilah gambaran kehidupan malaikat yang tidak pernah engkar kepada Allah malah sentiasa dalam keadaan beribadah kepada Allah.

KESAN I’TIKAF TERHADAP KEHIDUPAN
I’tikaf menjadikan seorang Muslim terikat dengan masjid. Di hatinya terukir rasa bergantung paut dengan masjid. Ini memungkinkan dia termasuk ke dalam salah satu daripada tujuh golongan manusia yang mendapat naungan Allah pada Hari yang tiada naungan melainkan naungan Allah (ورجل قلبه معلق بالمساجد).

Taqarrub seorang hamba kepada Allah dengan pelbagai ibadah semasa i’tikaf boleh mendorong seorang Muslim ke arah darjat para auliya’Allah. Lantas dia menjadi seorang hamba Rabbani yang mustajab do’anya kepada Allah.

Ibadah i’tikaf juga menyemai ke dalam hati seorang Muslim matlamat yang satu iaitu matlamat Akhirat. Maka pagi petang dalam kehidupannya tidak putus-putus dipenuhi dengan amalan-amalan mentaati Allah. Arah pemikirannya hanyalah untuk menyempurnakan ubudiyahnya kepada Allah swt. Duniawi yang telah ditinggalkan di belakangnya semasa i’tikaf datang merendah diri kepadanya, namun dia memandang remeh kepada dunia berbanding dengan Akhirat yang didamkannya.

Hasil yang paling agung daripadapada ibadah i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ialah peluang menjejaki Lailatul-Qadr. Baginya ganjaran pahala ibadah Lailatul-Qadrnya yang menyamai ibadah selama 83 tahun, serta keampunan daripada Allah. Demikianlah, seorang Muslim yang keluar daripada i’tikafnya akan dibersihkan daripada dosanya seumpama bersihnya seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia oleh ibunya.

Justeru itu, ikhwani fillah, ayuh kita prihatin terhadap ibadah ini demi mencontohi Rasulullah saw, mencari Lailatul-Qadr untuk mengislah hati-hati kita serta menuntut ganjaran daripada sisi Allah dan keridhaanNya.



Disemakbaca oleh AlFadhil Dato’ Kaya Bakti Ustaz Dahlan Mohd Zin
Mudir Ma’ahad Tarbiyah Islamiah (MATRI)
Perlis.



TAZKIRAH 7: BEKALAN RUHANI DARIPADA RAMADHAN YANG TERSISA


Kini kita berada di ambang 10 hari terakhir daripada bulan Ramadhan. Pada 10 hari terakhir ini terdapat fadhilat yang cukup besar lantaran salah satu daripada malamnya merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan, iaitu malam Al-Qadr (Lailatul-Qadr). Siapa yang mendirikan (qiyam) malam agung ini dengan penuh iman serta mengharapkan keampunan dan rahmat daripada Allah swt diampunkan dosa-dosanya (dosa kecil) yang terdahulu. Justeru itu Rasulullah saw amat mengambil berat dan memberi keutamaan kepada ibadah i’tikaf pada 10 hari terakhir ini.

I’tikaf adalah sunnah Rasulillah saw. Sayyidatuna A’ishah diriwayatkan pernah berkata,

“Adalah Rasulullah saw beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sehinggalah baginda wafat, kemudian isteri-isteri baginda terus beri’tikaf selepas ketiadaan baginda.”

Iltizamnya baginda saw melaksanakan sunnah i’tikaf ini sehingga baginda wafat menunjukkan betapa besarnya keutamaan dan kelebihan beri’tikaf pada 10 hari terakhir ini.
NAS-NAS BERHUBUNG I’TIKAF RASULILLAH SAW
Keutamaan I’tikaf dalam syari’at Islam ialah pada hari-hari yang khusus dalam bulan puasa iaitu pada 10 hari terakhir daripada bulan Ramadhan. Tiada riwayat yang menunjukkan bahawa Rasulullah saw beri’tikaf tanpa berpuasa pada siang harinya. Sayyidina A’ishah pernah berkata bahawa Rasulullah saw bersabda,

“Tidak ada i’tikaf melainkan dengan puasa.”
(Riwayat Abu Dawud, AdDarqutni dan AlBaihaqi).

Pada setiap tahun Rasulullah saw beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Baginda tidak pernah meninggalkan ibadah i’tikaf ini kecuali pada satu tahun, dan baginda mengqadha’nya pada bulan Syawal. Diriwayatkan juga bahawa pada Ramadhan yang terakhir sebelum kewafatan baginda, Rasulullah saw beri’tikaf pada 20 hari terakhir daripada bulan tersebut.

Apabila Rasulullah saw bermaksud untuk beri’tikaf baginda memasuki tempat I’tikaf yang berupa khemah kecil yang didirikan di dalam Masjid Nabawi untuk baginda berkhalwah.

Semasa i’tikaf Nabi saw tidak memasuki rumah baginda melainkan untuk qodha’ hajat. Sekiranya ada dari kalangan ummahatul-mukminin yang ingin menziarahi baginda mereka boleh pergi menemui Nabi di dalam masjid. Kemudian Nabi akan menemani mereka pulang ke rumah mereka. Baginda tidak pulang bergaul dengan isteri-isteri baginda pada malam baginda beri’tikaf. Sekiranya baginda masuk ke rumah untuk qodha’ hajat baginda tidak menyibukkan diri dengan sesiapa pun. Ada ketikanya semasa pulang sebentar untuk qodha’ hajat, anggota isi rumah baginda sedang sakit namun baginda tidak mendekatinya dan tidak bertanya khabar tentang keadaannya kerana tidak mahu membatalkan i’tikaf.


I’TIKAF DARIPADA SEGI HUKUM SYARA’

I’tikaf pada istilah syara’ ialah menetap di rumah Allah dengan niat beribadah. Oleh itu i’tikaf disyaratkan supaya dilaksanakan di masjid.
Firman Allah swt:

وَأنتم عاكفون في المساجد (البقرة: 187)

Maksudnya, “Dan kamu beri’tikaf di masjid-masjid”

Para fuqoha’ berbeza pendapat tentang jenis masjid yang dibolehkan beri’tikaf seperti pandangan-pandangan berikut:

1) I’tikaf hanya dikhususkan kepada 3 masjid sahaja iaitu Masjid AlHaram, Masjid Nabawi dan Masjid AlAqsa. Pendapat ini bersandarkan kepada athar daripada pada Said bin AlMusayyab yang berkata: “لا تشد الرحال الا الى ثلاثة مساجد ...” yang bermaksud, “Jangan kamu bersusah payah berpergian melainkan kepada 3 masjid……”

2) Imam Malik dalam satu pendapatnya menyebut tiada i’tikaf melainkan di masjid yang mana solah berjama’ah diadakan. Pandangan ini berdasarkan kepada kata-kata Ibn Masud r.a.

3) Jumhur ulama’ berpandangan bahawa harus beri’tikaf di mana-mana masjid kerana umumnya lafaz “وَأنتم عاكفون في المساجد (البقرة: 187)”. Dr. Ali AsSobuni, dengan merujuk kepada AlQurtubi, AlAlusi, AlKasyaf dan ArRazi, berkata pendapat ini lebih tepat kerana kandungan ayat ini tidak mengkhususkan mana-mana masjid sebaliknya hanya menyebut masjid-masjid secara umum, maka kekal lafaz ayat ini dengan sifat umumnya.Sehubungan dengan ini beliau memetik kata-kata Abu Bakr AlJassos dalam kitabnya ‘Ahkam Al-Quran’ sebagai berikut:

Para salaf telah bersepakat bahawa syarat untuk beri’tikaf mestilah di masjid. Cuma mereka berbeza pendapat daripada segi umum atau khususnya lafaz ‘almasajid’ (masjid-masjid). Namun zahir ayat di atas mengharuskan beri’tikaf di semua masjid berdasarkan umumnya lafaz.

BERAPA LAMA MASA I’TIKAF?

Para fuqoha’ berbeza pendapat dalam hal berapa lama jangka waktu minima yang diperlukan bagi sesuatu sesi i’tikaf. Di sana ada 3 pendapat:
1. Mazhab Hanafi: Sekurang-kurangnya sehari semalam.
2. Imam Malik: Sekurang-kurangnya 10 hari.
3. Mazhab Shafi’ee: Sebentar waktu dan tidak ada had maksima.

ADAKAH DISYARATKAN BERPUASA?
Imam Shafi’ee dan Imam Ahmad berpendapat harus i’tikaf tanpa perlu berpuasa.
Jumhur ulama’ {Abu Hanifah, Malik dan Ahmad (pendapat kedua)} berkata, “Tidak sah i’tikaf melainkan dengan berpuasa.” Mereka berhujjah dengan riwayat yang bersumberkan daripadapada A’ishah bahawa Rasulullah saw bersabda, “لا اعتكاف الا بصيام“ yang bermaksud, “Tidak ada i’tikaf melainkan dengan puasa.”

Berkata imam AlFakhr yang bermazhab Shafi’ee, “Harus beri’tikaf tanpa puasa namun adalah afdhal jika berpuasa.”

I’TIKAF MUSLIMAH

Menurut Sheikh Masud Sobri, pembahas syar’iee laman web Islam Online, adalah harus bagi Muslimah beri’tikaf di masjid dengan syarat tempat i’tikaf (معتكف) kaum wanita diletakkan berjauhan daripada tempat i’tikaf lelaki. Disamping itu seorang isteri disyaratkan juga mendapat keizinan suaminya. Fuqoha’ Mazhab Hanafi berpendapat bahawa Muslimah boleh juga beri’tikaf di ‘masjid’ rumahnya. Menurut Dr. Majdee AlHilali, ukht Muslimah boleh beri’tikaf di kamar atau bahagian di dalam rumahnya yang dikhususkan sebagai mihrab ibadah anggota keluarga perempuan.

Dasar syari’at dalam Islam adalah sama antara lelaki dan wanita melainkan dalam perkara-perkara yang ada nas syara’ yang membezakan peraturan atau hukum bagi lelaki dan wanita. Sheikh Masud Sobri memetik sabda Rasulullah saw,

لا تمنعوا اماء الله مساجد الله وبيوتهن خير لهن

yang bermaksud, “ Jangan kamu halang wanita Muslimah daripada masjid-masjid Allah, dan pada masa yang sama rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka.”

Oleh kerana hukum wanita pergi ke masjid adalah harus maka beri’tikaf di masjid juga harus bagi wanita tetapi dengan menepati syarat-syarat yang disebut di atas.
Wanita, seperti mana juga lelaki, perlu memperbaharui hubungannya dengan Allah dan memutuskan tumpuan hatinya kepada kesibukan duniawi yang tak kunjung habis. Dalam realiti kehidupan hari ini wanita diberikan hak-hak siyasah, sosial dan ekonomi maka hak untuk mereka berkhalwah meningkatkan hubungan hati dengan Allah adalah tidak kurang pentingnya, bahkan lebih aula.

ASPEK RUHI DALAM I’TIKAF
Berkata Ibn Rojab, “فحقيقة الاعتكاف قطع العلائق عن الخلائق للاتصال بخدمة الخالق” yang bermaksud, “Ada pun hakikat i’tikaf ialah terputusnya semua ikatan dengan makhluk untuk khidmat kepada Khaliq.” Justeru jiwa seorang yang sedang beri’tikaf atau ‘aakif (عاكف) sentiasa tajarrud daripadapada keasyikan, keselesaan, kesibukan dan kerunsingan dunia. Dia mengusir keluar semua kerunsingan duniawi daripada pemikiran dan hatinya. Pengasingan dirinya dengan mengasingkan pemikiran dan perasaannya daripada apa sahaja yang ada di luar masjid. Fokus dirinya ialah kepada Allah swt. Dia memberi sepenuh perhatian untuk beribadah kepada Rabb dan Ilahnya dalam solat, zikir, tasbih, tilawah dan qiyam.

Dengan ini segmen i’tikaf dalam kehidupan seorang ‘aakif keseluruhannya digunakan untuk mempersembahkan ketaatan sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla ketika kalbunya sibuk mengharap ridha Tuhannya. Dia meninggalkan semua urusan dunia. Inilah gambaran kehidupan malaikat yang tidak pernah engkar kepada Allah malah sentiasa dalam keadaan beribadah kepada Allah.

KESAN I’TIKAF TERHADAP KEHIDUPAN
I’tikaf menjadikan seorang Muslim terikat dengan masjid. Di hatinya terukir rasa bergantung paut dengan masjid. Ini memungkinkan dia termasuk ke dalam salah satu daripada tujuh golongan manusia yang mendapat naungan Allah pada Hari yang tiada naungan melainkan naungan Allah (ورجل قلبه معلق بالمساجد).

Taqarrub seorang hamba kepada Allah dengan pelbagai ibadah semasa i’tikaf boleh mendorong seorang Muslim ke arah darjat para auliya’Allah. Lantas dia menjadi seorang hamba Rabbani yang mustajab do’anya kepada Allah.

Ibadah i’tikaf juga menyemai ke dalam hati seorang Muslim matlamat yang satu iaitu matlamat Akhirat. Maka pagi petang dalam kehidupannya tidak putus-putus dipenuhi dengan amalan-amalan mentaati Allah. Arah pemikirannya hanyalah untuk menyempurnakan ubudiyahnya kepada Allah swt. Duniawi yang telah ditinggalkan di belakangnya semasa i’tikaf datang merendah diri kepadanya, namun dia memandang remeh kepada dunia berbanding dengan Akhirat yang didamkannya.

Hasil yang paling agung daripadapada ibadah i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ialah peluang menjejaki Lailatul-Qadr. Baginya ganjaran pahala ibadah Lailatul-Qadrnya yang menyamai ibadah selama 83 tahun, serta keampunan daripada Allah. Demikianlah, seorang Muslim yang keluar daripada i’tikafnya akan dibersihkan daripada dosanya seumpama bersihnya seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia oleh ibunya.

Justeru itu, ikhwani fillah, ayuh kita prihatin terhadap ibadah ini demi mencontohi Rasulullah saw, mencari Lailatul-Qadr untuk mengislah hati-hati kita serta menuntut ganjaran daripada sisi Allah dan keridhaanNya.



Disemakbaca oleh AlFadhil Dato’ Kaya Bakti Ustaz Dahlan Mohd Zin
Mudir Ma’ahad Tarbiyah Islamiah (MATRI)
Perlis.



Monday, September 07, 2009


Segala puji bagi Allah yang telah berkenan kembali mempertemukan kita dengan bulan yang penuh dengan tanda kecintaan dari Allah swt untuk hamba-hamba-Nya. Cinta yang ditawarkan Allah kepada segenap makhluk yang beriman dengan-Nya di bulan Ramadhan selayaknya kita sambut dengan sukacita, kegembiraan, keghirahan dan kesungguhan seraya berharap kelak kita menjadi sebahagian dari golongan yang mendapatkan cinta-Nya. Detik-detik menjelang satu Ramadhan sehingga ke saat hari ini, ungkapan cinta bertaburan di seantero dunia menyambut hangat Ramadhan ditandai dengan jalinan silaturahim melalui surat, telefon, SMS, email, atau bahkan menerusi pelbagai acara-acara menyambut tamu agung ini.

Cinta yang diberikan-Nya bukanlah sesuatu yang abstrak, setidaknya dengan Ramadhan, mereka yang terbiasa sibuk di tempat kerja akan berusaha mempercepatkan aktivitinya agar segera tiba di rumah untuk menikmati berbuka bersama keluarga. Juga yang biasanya tidak sempat untuk sarapan bersama, Allah menyatukan ahli keluarga kita saat makan sahur. Bukankah yang demikian dapat kembali menyuburkan cinta dan menghangatkan keharmonian keluarga?

Kata Rasulullah, saling mencintai dan berkasih sayanglah kepada sesama yang di bumi, maka seluruh yang ada di langit akan mencintai dan mengasihimu. Cinta kepada masyarakat, Allah berikan juga kesempatan manusia untuk mengaplikasikannya pada saat-saat bersama melakukan solat tarawih berjamaah, saling menghantarkan makanan berbuka kepada tetangga, juga tidak lupa memberi sedekah dan hidangan berbuka kepada pengemis, fakir miskin dan anak yatim. Bahkan menjelang hari akhir Ramadhan, keindahan cinta terus terbina apabila para muslimin akan mengeluarkan sebahagian harta mereka untuk zakat bagi melengkapi proses pembersihan diri menuju kesucian.
Infaq, sedekah, dan zakat yang kita keluarkan, adalah bukti cinta kita kepada Allah sekaligus menegaskan bahawa kita tidak termasuk orang-orang yang cinta harta dunia dan sedar akan adanya sebahagian hak orang lain dari apa-apa yang kita miliki. Adakah yang cintanya sebesar sahabat Abu Bakar As Shiddik yang mengeluarkan seluruh hartanya di jalan Allah hingga Rasul-pun bertanya apa yang tersisa untuknya. “Allah dan rasul-Nya, cukuplah bagiku” jawab Abu Bakar.

Dan tentu saja, perlulah diri ini belajar dari Ibrahim alaihi salam dan keluarganya tentang hakikat dan bentuk cinta kepada Allah. Hal yang tidak kalah menakjubkan juga ditunjukkan Rasulullah kepada seorang anak yatim yang bersedih di hari raya. Baginda menjadikan dirinya ayah, dan Fatimah saudara perempuan anak yatim tersebut seraya membahagiakannya saat hari bahagia, Idul Fitri.

Malam-malam Ramadhan, adalah saat terbaik kita beruzlah dan mendekatkan diri dengan Allah melalui tilawah dan tadarrus qur’an, tahajjud serta munajat kepada-Nya. Hati yang terpaut cinta, seperti enggan menuju pembaringan. Inginnya menghabiskan malam-malam Ramadhan dengan tangis penyesalan atas khilaf dan dosa, atas segala alpa, juga lalai. Sedar akan semua nikmat yang Allah berikan tanpa pernah alpa, tanpa pernah pula
khilaf, salah dan lalai. Allah senantiasa memberikan layanan terbaik kepada hamba-hamba-Nya, namun sayang tatkala ada kalangan kita membayarnya dengan cinta tepu, cinta yang terkadang hanya terucap di lidah tanpa wujud pembuktian di alam nyata. Astaghfirullaah …

Jika hati ini sedemikian rindunya menanti kedatangan bulan penuh rahmat dan maghfirah ini, tentulah, selayaknya orang saling bercinta akan ada tangis jika kekasihnya pergi. Titisan air mata yang akan mengalir nanti, tidak akan terhitung betapa derasnya membayangkan kemungkinan bertemunya kembali kita dengan Ramadhan nan penuh cinta ini.

Saat hari fitri tiba, pantaslah ada keceriaan bagi mereka yang mendapatkan kemenangan melewati masa-masa ujian selama Ramadhan, dengan satu harap menjadikan taqwa sebagai hasil akhir Ramadhan. Namun tentu saja, sambil menghitung-hitung betapa menyesalnya kita tidak memanfaatkan Ramadhan yang telah lalu dengan amal sebaik-baiknya, dengan ibadah yang bernilai, hingga tangis ini akan semakin keras berteriak dalam hati.

Satu pertanyaan berlegar... “Akankah kita akan sampai di Ramadhan tahun depan?” Maka, hati pun berdoa penuh harap, “berilah hamba kesempatan”. Wallaahu a’lam.


Tazkirah 6: Kecintaan Di Sepanjang Ramadhan


Segala puji bagi Allah yang telah berkenan kembali mempertemukan kita dengan bulan yang penuh dengan tanda kecintaan dari Allah swt untuk hamba-hamba-Nya. Cinta yang ditawarkan Allah kepada segenap makhluk yang beriman dengan-Nya di bulan Ramadhan selayaknya kita sambut dengan sukacita, kegembiraan, keghirahan dan kesungguhan seraya berharap kelak kita menjadi sebahagian dari golongan yang mendapatkan cinta-Nya. Detik-detik menjelang satu Ramadhan sehingga ke saat hari ini, ungkapan cinta bertaburan di seantero dunia menyambut hangat Ramadhan ditandai dengan jalinan silaturahim melalui surat, telefon, SMS, email, atau bahkan menerusi pelbagai acara-acara menyambut tamu agung ini.

Cinta yang diberikan-Nya bukanlah sesuatu yang abstrak, setidaknya dengan Ramadhan, mereka yang terbiasa sibuk di tempat kerja akan berusaha mempercepatkan aktivitinya agar segera tiba di rumah untuk menikmati berbuka bersama keluarga. Juga yang biasanya tidak sempat untuk sarapan bersama, Allah menyatukan ahli keluarga kita saat makan sahur. Bukankah yang demikian dapat kembali menyuburkan cinta dan menghangatkan keharmonian keluarga?

Kata Rasulullah, saling mencintai dan berkasih sayanglah kepada sesama yang di bumi, maka seluruh yang ada di langit akan mencintai dan mengasihimu. Cinta kepada masyarakat, Allah berikan juga kesempatan manusia untuk mengaplikasikannya pada saat-saat bersama melakukan solat tarawih berjamaah, saling menghantarkan makanan berbuka kepada tetangga, juga tidak lupa memberi sedekah dan hidangan berbuka kepada pengemis, fakir miskin dan anak yatim. Bahkan menjelang hari akhir Ramadhan, keindahan cinta terus terbina apabila para muslimin akan mengeluarkan sebahagian harta mereka untuk zakat bagi melengkapi proses pembersihan diri menuju kesucian.
Infaq, sedekah, dan zakat yang kita keluarkan, adalah bukti cinta kita kepada Allah sekaligus menegaskan bahawa kita tidak termasuk orang-orang yang cinta harta dunia dan sedar akan adanya sebahagian hak orang lain dari apa-apa yang kita miliki. Adakah yang cintanya sebesar sahabat Abu Bakar As Shiddik yang mengeluarkan seluruh hartanya di jalan Allah hingga Rasul-pun bertanya apa yang tersisa untuknya. “Allah dan rasul-Nya, cukuplah bagiku” jawab Abu Bakar.

Dan tentu saja, perlulah diri ini belajar dari Ibrahim alaihi salam dan keluarganya tentang hakikat dan bentuk cinta kepada Allah. Hal yang tidak kalah menakjubkan juga ditunjukkan Rasulullah kepada seorang anak yatim yang bersedih di hari raya. Baginda menjadikan dirinya ayah, dan Fatimah saudara perempuan anak yatim tersebut seraya membahagiakannya saat hari bahagia, Idul Fitri.

Malam-malam Ramadhan, adalah saat terbaik kita beruzlah dan mendekatkan diri dengan Allah melalui tilawah dan tadarrus qur’an, tahajjud serta munajat kepada-Nya. Hati yang terpaut cinta, seperti enggan menuju pembaringan. Inginnya menghabiskan malam-malam Ramadhan dengan tangis penyesalan atas khilaf dan dosa, atas segala alpa, juga lalai. Sedar akan semua nikmat yang Allah berikan tanpa pernah alpa, tanpa pernah pula
khilaf, salah dan lalai. Allah senantiasa memberikan layanan terbaik kepada hamba-hamba-Nya, namun sayang tatkala ada kalangan kita membayarnya dengan cinta tepu, cinta yang terkadang hanya terucap di lidah tanpa wujud pembuktian di alam nyata. Astaghfirullaah …

Jika hati ini sedemikian rindunya menanti kedatangan bulan penuh rahmat dan maghfirah ini, tentulah, selayaknya orang saling bercinta akan ada tangis jika kekasihnya pergi. Titisan air mata yang akan mengalir nanti, tidak akan terhitung betapa derasnya membayangkan kemungkinan bertemunya kembali kita dengan Ramadhan nan penuh cinta ini.

Saat hari fitri tiba, pantaslah ada keceriaan bagi mereka yang mendapatkan kemenangan melewati masa-masa ujian selama Ramadhan, dengan satu harap menjadikan taqwa sebagai hasil akhir Ramadhan. Namun tentu saja, sambil menghitung-hitung betapa menyesalnya kita tidak memanfaatkan Ramadhan yang telah lalu dengan amal sebaik-baiknya, dengan ibadah yang bernilai, hingga tangis ini akan semakin keras berteriak dalam hati.

Satu pertanyaan berlegar... “Akankah kita akan sampai di Ramadhan tahun depan?” Maka, hati pun berdoa penuh harap, “berilah hamba kesempatan”. Wallaahu a’lam.


Sunday, September 06, 2009


Ramai orang mengetahui bahawa tugas berdakwah adalah wajib ke atas setiap individu. Walau bagaimanapun, masih ramai yang tidak mahu melibatkan diri dalam kerja-kerja dakwah disebabkan oleh beberapa kekeliruan. Antara kekeliruan yang sering timbul adalah menanti kesempurnaan diri sebelum memulakan dakwah. Hal ini menyebabkan sebahagian daripada umat Islam tidak mahu mengajak kepada makruf dan mencegah kemungkaran kerana merasakan amalannya belum cukup mantap dan dirinya masih diselimuti dengan banyak kelemahan.

Berhubung dengan isu ini, Imam Said bin Jubair berkata: "Jika seseorang tidak mahu mengajak kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran sehingga keadaan dirinya sempurna, maka tidak akan ada seorang pun yang akan mengajak kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran." Iman Malik amat bersetuju dengan kenyataan Imam Said bin Jubair ini dan sebagai tanda sokongannya, beliau menambah: “Dan siapakah antara kita yang lengkap dan sempurna?"

Sebahagian umat Islam tidak mahu berdakwah kerana merasakan dirinya belum mengamalkan segala ilmu yang sudah diketahui. Mereka juga khuatir tidak dapat melaksanakan perkara yang diseru. Berhubung dengan ini, Imam al-Hasan berkata: "Siapakah antara kita yang telah melaksanakan segala yang diserukannya? Syaitan amat menyukai jika manusia terpedaya dengan sikap ini sehingga akhirnya tidak ada sesiapa pun yang mahu mengajak kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran."
Secara dasar, kewajipan berdakwah dituntut ke atas setiap individu yang mukalaf dan berdaya. Syarat berdaya atau mampu perlu difahami dengan betul. Hakikatnya, Islam mengakui tahap kemampuan setiap individu adalah berbeza. Justeru nabi bersabda:

"Barang siapa antara kamu yang melihat kemungkaran hendaklah dicegah dengan tangannya. Jika tidak berdaya hendaklah dicegah dengan kata-katanya dan jika tidak berdaya hendaklah dicegah dengan hatinya dan mencegah dengan hati adalah tanda selemah- lemah iman." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Berhubung dengan mencegah kemungkaran, kadar minimum yang dituntut adalah mengingkarinya dengan hati. Di dalam kitab Dalil al-Falihin disebutkan:

"Mencegah kemungkaran dengan hati bermaksud membencinya dengan hati disertai dengan azam untuk mencegahnya dengan lisan ataupun perbuatan apabila dia mampu. Membenci maksiat dengan hati hukumnya adalah wajib ke atas setiap individu dan sesiapa yang menyetujui suatu kemungkaran bererti dia bersekongkol dengannya." Iman memerlukan bukti dan salah satu buktinya adalah membenci maksiat. Tanpanya, iman akan berkecai dalam hati seseorang. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda nabi berhubung dengan perkara ini yang bermaksud:

"(Jika hati seseorang tidak membenci kemungkaran), tidak ada selepas itu iman walaupun sebesar biji sawi."

Hati yang tidak membenci kemungkaran akan binasa. Sahabat nabi bernama Abdullah ibn Mas'ud pernah menegaskan:

"Binasalah mereka yang tidak dapat membezakan yang makruf dan yang mungkar dengan hatinya."

Secara dasar, pengabaian dalam melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar mengundang azab dan seksaan daripada Allah. Berhubung dengan ini, dalam surah al-Anfal ayat 25 Allah berfirman:

"Dan peliharalah dirimu daripada seksaan yang tidak khusus menimpa ke atas mereka yang zalim dan kalangan kamu sahaja. Dan ketahuilah Allah maha keras seksaannya."

Ayat ini menjelaskan, apabila azab menimpa disebabkan kemungkaran yang berleluasa, ia tidak hanya menimpa ke atas mereka yang melakukan maksiat, ia juga menimpa ke atas mereka yang salih yang mengabaikan dakwah.Ayat ini disokong oleh beberapa hadis nabi yang antaranya diriwayatkan oleh imam Muslim yang bermaksud:

"Zainab binti Jahsy bertanya kepada nabi, ?adakah kita akan dimusnahkan sedangkan golongan yang soleh masih ada di kalangan kita?" Nabi menjawab,"ya, apabila kekejian berleluasa."

Dalam riwayat lain oleh Imam Tarmizi, nabi bersabda:

"Apabila manusia melihat kezaliman dilakukan oleh seorang yang zalim dan mereka tidak mencegahnya, tidak berapa lama lagi azab daripada Allah akan menimpa ke atas mereka semua."

Imam Bukhari pula meriwayatkan sabda nabi yang bermaksud:

"Perumpamaan mereka yang memelihara batas-batas agama Allah dengan golongan yang melanggarnya adalah seperti sebuah kapal yang dipenuhi penumpang pada bahagian atas dan bawahnya. Golongan yang berada pada bahagian bawah, apabila ingin mengambil air terpaksa menaiki bahagian atas kapal bagi mendapatkannya. Akhirnya penumpang pada bahagian bawah berkata, "alangkah baiknya jika kita tebuk saja lantai kapal ini untuk mendapatkan air dan dengan cara demikian kita tidak lagi menyusahkan rakan-rakan kita pada bahagian atas." Jika penumpang-penumpang pada bahagian atas tidak mencegah perbuatan akan-rakan mereka di bawah, mereka semua akan tenggelam. Jika mereka mencegah, kesemua mereka akan selamat."

Persiapan Pendakwah Ilmu adalah asas bagi segala kebaikan. Ilmu-ilmu teras fardu ain wajib pelajari oleh setiap individu yang hendak berdakwah dan ilmu ini perlu diperkukuhkan dengan ilmu-ilmu kontemporari yang selari dengan ajaran Islam. Penguasaan ilmu memerlukan pengorbanan serta keazaman yang tinggi dan untuk itu kerja-kerja tidak berfaedah perlu ditinggalkan. Di dalam surah al-Mukminun ayat 3 Allah berfirman:

"Antara sifat-sifat mukmin yang berjaya adalah mereka menjauhi perbuatan dan perkataan yang lagha."

Istilah lagha mempunyai maksud tertentu. Imam Ibn Kathir mentafsirkannya sebagai,

"segala perbuatan batil termasuk yang mempunyai unsur-unsur syirik, perbuatan maksiat, serta segala perkara yang tidak berfaedah sama ada dalam bentuk perkataan ataupun perbuatan."

Membuang masa pada perkara tidak berfaedah menjadi salah satu punca kejatuhan umat Islam sebelum ini. Hal ini disebut oleh as-Syeikh Hasan an-Nadwi di dalam bukunya 'Kerugian Dunia Kerana Kemunduran Umat Islam'. Beliau berkata: "Tetapi sayang sekali, kaum Muslimin tidak mensyukuri nikmat Allah. Selama berabad-abad lamanya umat Islam membuangkan waktu dan tenaga untuk berfikir dan berfalsafah berhubung perkara yang tidak bermanfaat. Andai kata mereka memfokuskan kepada ilmu yang menguntungkan Islam dan kaum Muslimin, kedudukan mereka tidak akan menjadi separah ini. Umat Islam bukan saja asyik membahaskan tentang sifat-sifat Allah, mereka juga asyik berbicara tentang roh, falsafah wihdatul wujud dan sebagainya. Semua ini memakan masa dan tenaga yang bukan sedikit... Hasil penemuan kaum Muslimin sama ada dari sudut kuantiti ataupun kualitinya tidak mendatangkan apa-apa makna apabila dibandingkan dengan penemuan Barat pada abad ketujuh belas dan kelapan belas Masihi."

Apabila umat menyibukkan diri dengan perkara yang tidak berfaedah, kewajipan penting terabai dan keutamaan terbabas. Hasilnya adalah kejahilan dan kemunduran. Justeru, sudah sampai masanya bagi umat Islam memfokuskan pada ilmu-ilmu penting demi masa depan umat yang gilang-gemilang. Di dalam al-Quran terdapat beberapa gelaran yang diberikan Allah kepada golongan berilmu sebagai lambang kemuliaan. Antara gelaran itu adalah rabbani. Berhubung dengan ini, Allah berfirman dalam surah ali-Imran ayat 79:

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmat dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan menyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi golongan rabbani kerana kamu selalu mengajar al-Kitab dan disebabkan kamu terus mempelajarinya" .

Berhubung dengan ayat ini, Said Hawa dalam al-Asas fit Tafsir berkata: "Ayat ini merupakan dalil bahawa golongan rabbani adalah golongan yang amat mentaati Allah dengan cara menguasai ilmu dan menyebarkannya. Cukuplah dalil ini sebagai bukti kehebatan mereka yang mampu mengekang nafsunya bagi menguasai ilmu kemudian disusuli dengan amal." Ilmu yang dituntut dalam Islam terbahagi kepada dua bahagian iaitu fardu ain dan fardu kifayah. Di dalam kitab lhya Ulumuddin, Imam al-Ghazali mendefinisikan ilmu fardu ain sebagai ilmu yang wajib dituntut oleh setiap hamba Allah yang berakal lagi baligh tanpa pengecualian. Ilmu fardu ain yang wajib dituntut adalah yang berkaitan dengan akidah atau tauhid bertujuan
memantapkan iman, tasawuf bagi membersihkan hati serta akhlak dan fikah bagi mengetahui perkara yang diwajibkan dan diharamkan. Ilmu fardu kifayah adalah Ilmu yang wajib dikuasai umat Islam dalam bidang-bidang yang amat diperlukan masyarakat.

Namun, tidak semua individu Muslim dan Muslimah perlu menceburi dalam bidang-bidang ini apabila sebahagian daripada umat Islam sudah menguasainya, masyarakat secara amnya terlepas daripada dosa dan bebanan. Islam juga menuntut umatnya mempersiapkan diri dengan segala teknologi yang perlu bagi menghadapi musuh dan persiapan ini termasuk dalam tuntutan fardu kifayah yang disebutkan sebelum ini. Allah berfirman dalam surah al-Anfal ayat 60:

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan apa saja kekuatan yang kamu sanggup dan dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh."

Umat Islam terdahulu benar-benar memahami dan menghayati ayat ini. Contohnya, pada zaman khalifah Uthman, pada tahun 28 H bersamaan dengan 648 M, khalifah mengeluarkan arahan kepada Muawiyah supaya memberikan tumpuan pada kekuatan laut yang ketika itu dikuasai oleh Rom. Bermula dari tahun itu, pakar-pakar dan tenaga mahir Islam dihimpunkan sehingga berjaya membina sebuah armada yang kuat. Pada saat kemuncaknya pada tahun 31 H (652 M), armada Islam mempunyai 1,700 buah kapal dan bermula dari tahun itu panglima armada

Islam digelar sebagai Amirul Bahri dan daripada gelaran inilah lahiriya kalimat Admiral kemudiannya. Kekuatan armada Rom menjadi lumpuh selepas armada Islam mengalahkannya dalam peperangan Mount Phoenix pada tahun 652 M.

Di samping itu, Islam juga menuntut umatnya mengenali jahiliah pada zaman mereka supaya tidak mudah terpedaya dan terpengaruh dengannya. Khalifah Omar al-Khattab mengingatkan umat Islam berhubung dengan perkara ini melalui ucapan beliau yang bermaksud:

"Sesungguhnya ikatan Islam akan terungkai satu demi satu dari diri seseorang jika dia tidak mengenali jahiliah."

Manifestasi jahiliah pada hari ini wujud dalam setiap bidang kehidupan manusia termasuk dalam adat resam dan budaya bangsa Melayu. Sebahagian daripada adat resam dan budaya yang diamalkan pada hari ini mengandungi khurafat dan tahayul. Khurafat dan tahayul adalah kepercayaan yang tidak bersandarkan al-Quran dan Sunnah serta tidak dapat diterima akal yang waras. Ia adalah sebahagian daripada kepercayaan yang mungkar lagi sesat. Kepercayaan ini menjadi pegangan segelintir umat Islam kesan daripada pengaruh budaya yang dibawa oleh penganut ajaran agama lain. Antara bentuk khurafat dan tahayul yang dipegang adalah percaya kepada konsep sial majal seperti sialnya bunyi burung hantu pada waktu siang, sialnya nombor 13 dan seumpamanya.
Di samping ilmu, pendakwah juga tidak boleh memperkecilkan keikhlasan, ibadah dan akhlak mulia kerana tanpanya dakwah akan gagal. Di dalam buku Alaamat Duiyyah Ala Thariq ad-Dakwah, Dr. Muhammad Jamil Ghazi menukilkan perkataan Imam Sufyan at-Thauri berhubung dengan perkara ini yang bermaksud:

"Janganlah seseorang mengajak kepada makruf dan mencegah kemungkaranmelainkan jika ada padanya tiga ciri:

1. Berlemah lembut dengan apa yang diseru dan dicegah.
2. Adil dengan apa yang diseru dan dicegah.
3. Berilmu berhubung apa yang diseru dan dicegah."

Perkara yang sama juga ditekankan oleh Imam Abul Laith As-Samarqandi di dalam kitab Tanbihul Ghafilin. Beliau membahagikan persiapan umum pendakwah kepada lima:

1: Ilmu.
2: Keikhlasan.
3: Kasih sayang dan kelembutan.
4: Kesabaran.
5: Mengamalkan apa yang disampaikan.

Pendakwah yang asyik mengutuk dan mencanangkan kesalahan orang lain dan melupakan diri sendiri merupakan pendakwah yang terbabas danipada obor al-Quran dan Sunnah.

Benarlah As-Syeikh Fathi Yakan semasa beliau berkata di dalam bukunya yang bertajuk Musykilat ad-Dakwah Wa ad-Daaiyah yang bermaksud:

"Seseorang pendakwah akan berada di dalam keadaan baik jika dia bersih dari keaiban dan penyakit diri sendiri walaupun musuhnya mempunyai kekuatan yang hebat."

Sebenarnya, kenyataan seumpama ini pernah diucapkan oleh khalifah Omar al-Khattab suatu masa dahulu semasa beliau menyampaikan amanat kepada tentera-tentera Islam.

Beliau berkata:

"Hendaklah kamu berwaspada terhadap perbuatan-perbuatan maksiat daripada kewaspadaan terhadap musuh. Sesungguhnya aku lebih bimbang dengan dosa yang dilakukan oleh tentera-tentera Islam berbanding kebimbanganku terhadap musuh. Sesungguhnya umat Islam mendapat pertolongan daripada Allah lantaran kemungkaran yang dilakukan oleh pihak musuh.... Oleh itu janganlah kamu melakukan perkara yang dimurkai Allah ketika sedang berjihad di jalan Allah."

Hukum Berdakwah
Rasul-rasul tidak diamanahkan melainkan dengan tugas-tugas mulia dan Allah mengamanahkan mereka supaya melaksanakan dakwah. Di dalam surah an-Nahl ayat 36, Allah berfirman yang bermaksud:

"Sesungguhnya Kami utus bagi setiap umat seorang Rasul yang menyeru, "sembahlah Allah dan jauhilah taghut"."

Sesiapa yang melaksanakan tugas dakwah mendapat pujian daripada Allah berdasarkan firman-Nya dalam surah Fussilat ayat 33, yang bermaksud:

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada mereka yang menyeru manusia ke jalan Allah, serta beramal salih seraya berkata, "aku adalah dari kalangan orang-orang Muslim"."

Berhubung dengan ayat ini as-Syeikh Said Hawa di dalam al-Asas fit Tafsir berkata:

"Termasuk di dalam golongan ini adalah semua penyeru dan pendakwah di jalan Allah... Dan mengikut Imam Ibn Kathir, orang yang tidak mengerjakan yang makruf tidak termasuk dalam golongan yang mengajak kepada yang makruf dan juga tidak termasuk dalam golongan mereka yang mencegah kemungkaran mereka yang melakukan kemungkaran." Oleh kerana dakwah adalah tugas yang mulia lagi penting, Allah mengarahkan umat Islam melaksanakannya. Berhubung dengan ini, dalam surah ali-Imran ayat 110, Allah berfirman:

"Kamu adalah sebaik baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, kamu mengajak kepada makruf dan kamu mencegah kemungkaran."

Di dalam kitab Usul ad-Dakwah, Dr. Abdul Karim Zaidan berpendapat ayat ini mempunyai dua penekanan. Pertama, Allah menjelaskan kebaikan umat ini dan kedua, kebaikan umat ini berkait rapat dengan pelaksanaan amar makruf dan nahi mungkar. Berkaitan dengan ayat yang sama di dalam kitab Dalilul Falihin disebutkan: "Barang siapa menepati sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat ini, dia tergolong dalam golongan umat terbaik."

Tidak ada kemuliaan bagi mereka yang mengabaikan amar makruf serta nahi mungkar. Makruf bermaksud perkara yang baik mengikut pandangan syarak dan akal, manakala mungkar bermaksud perkara yang berlawanan dengan segala yang makruf sebagai contoh, meninggalkan amalan fardu ataupun melakukan perbuatan haram sama ada berbentuk dosa kecil ataupun dosa besar. Salah satu golongan yang mendapat kutukan daripada Allah kerana gagal melaksanakan dakwah adalah golongan Bani Israel. Dalam surah al-Maidah ayat 78 dan 79, Allah berfirman:

"Telah dilaknat golongan kafir dan kalangan Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Hal ini disebabkan mereka menderhaka kepada Allah dan selalu melampaui batas. Mereka tidak mencegah kemungkaran yang berlaku di kalangan mereka. Sesungguhnya buruk sekali apa yang telah mereka lakukan." Berhubung dengan ayat ini nabi bersabda:

"Sesungguhnya kecacatan paling awal yang menimpa ke atas Bani Israel ialah, apabila seseorang lelaki bertemu dengan lelaki yang lain (yang melakukan kemungkaran) dia akan berkata, "wahai pulan, tinggalkanlah apa yang sedang kamu lakukan kerana ianya tidak halal bagimu". Kemudian pada keesokan harinya dia tidak lagi mencegah kemungkaran yang dilakukan oleh rakannya, sebaliknya dia reda untuk duduk sambil makan dan minum dengan rakannya itu. Apabila hal ini berlaku, Allah bolak-balikkan hati-hati mereka. (Kemudian Nabi pun membaca ayat-ayat dan surah al-Maidah)." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tarmizi dan Abu Daud.

Secara dasarnya, hukum berdakwah dengan lisan dan tangan adalah wajib kecuali dalam situasi tertentu. Di dalam kitab Dalilul Falihin disebutkan:

"Apabila dikhuatiri harta benda dan diri seseorang akan ditimpa kebinasaan, harus bagi seseorang itu sekadar melawan dengan hatinya sahaja.
Jika kekhuatiran ini tidak wujud, dia diwajibkan berdakwah, walaupun dia belum mengamalkan apa yang diserukannya ataupun dia menyedari seruannya tidak akan diterima."

Dakwah: Antara Kekeliruan dan Keengganan


Ramai orang mengetahui bahawa tugas berdakwah adalah wajib ke atas setiap individu. Walau bagaimanapun, masih ramai yang tidak mahu melibatkan diri dalam kerja-kerja dakwah disebabkan oleh beberapa kekeliruan. Antara kekeliruan yang sering timbul adalah menanti kesempurnaan diri sebelum memulakan dakwah. Hal ini menyebabkan sebahagian daripada umat Islam tidak mahu mengajak kepada makruf dan mencegah kemungkaran kerana merasakan amalannya belum cukup mantap dan dirinya masih diselimuti dengan banyak kelemahan.

Berhubung dengan isu ini, Imam Said bin Jubair berkata: "Jika seseorang tidak mahu mengajak kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran sehingga keadaan dirinya sempurna, maka tidak akan ada seorang pun yang akan mengajak kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran." Iman Malik amat bersetuju dengan kenyataan Imam Said bin Jubair ini dan sebagai tanda sokongannya, beliau menambah: “Dan siapakah antara kita yang lengkap dan sempurna?"

Sebahagian umat Islam tidak mahu berdakwah kerana merasakan dirinya belum mengamalkan segala ilmu yang sudah diketahui. Mereka juga khuatir tidak dapat melaksanakan perkara yang diseru. Berhubung dengan ini, Imam al-Hasan berkata: "Siapakah antara kita yang telah melaksanakan segala yang diserukannya? Syaitan amat menyukai jika manusia terpedaya dengan sikap ini sehingga akhirnya tidak ada sesiapa pun yang mahu mengajak kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran."
Secara dasar, kewajipan berdakwah dituntut ke atas setiap individu yang mukalaf dan berdaya. Syarat berdaya atau mampu perlu difahami dengan betul. Hakikatnya, Islam mengakui tahap kemampuan setiap individu adalah berbeza. Justeru nabi bersabda:

"Barang siapa antara kamu yang melihat kemungkaran hendaklah dicegah dengan tangannya. Jika tidak berdaya hendaklah dicegah dengan kata-katanya dan jika tidak berdaya hendaklah dicegah dengan hatinya dan mencegah dengan hati adalah tanda selemah- lemah iman." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Berhubung dengan mencegah kemungkaran, kadar minimum yang dituntut adalah mengingkarinya dengan hati. Di dalam kitab Dalil al-Falihin disebutkan:

"Mencegah kemungkaran dengan hati bermaksud membencinya dengan hati disertai dengan azam untuk mencegahnya dengan lisan ataupun perbuatan apabila dia mampu. Membenci maksiat dengan hati hukumnya adalah wajib ke atas setiap individu dan sesiapa yang menyetujui suatu kemungkaran bererti dia bersekongkol dengannya." Iman memerlukan bukti dan salah satu buktinya adalah membenci maksiat. Tanpanya, iman akan berkecai dalam hati seseorang. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda nabi berhubung dengan perkara ini yang bermaksud:

"(Jika hati seseorang tidak membenci kemungkaran), tidak ada selepas itu iman walaupun sebesar biji sawi."

Hati yang tidak membenci kemungkaran akan binasa. Sahabat nabi bernama Abdullah ibn Mas'ud pernah menegaskan:

"Binasalah mereka yang tidak dapat membezakan yang makruf dan yang mungkar dengan hatinya."

Secara dasar, pengabaian dalam melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar mengundang azab dan seksaan daripada Allah. Berhubung dengan ini, dalam surah al-Anfal ayat 25 Allah berfirman:

"Dan peliharalah dirimu daripada seksaan yang tidak khusus menimpa ke atas mereka yang zalim dan kalangan kamu sahaja. Dan ketahuilah Allah maha keras seksaannya."

Ayat ini menjelaskan, apabila azab menimpa disebabkan kemungkaran yang berleluasa, ia tidak hanya menimpa ke atas mereka yang melakukan maksiat, ia juga menimpa ke atas mereka yang salih yang mengabaikan dakwah.Ayat ini disokong oleh beberapa hadis nabi yang antaranya diriwayatkan oleh imam Muslim yang bermaksud:

"Zainab binti Jahsy bertanya kepada nabi, ?adakah kita akan dimusnahkan sedangkan golongan yang soleh masih ada di kalangan kita?" Nabi menjawab,"ya, apabila kekejian berleluasa."

Dalam riwayat lain oleh Imam Tarmizi, nabi bersabda:

"Apabila manusia melihat kezaliman dilakukan oleh seorang yang zalim dan mereka tidak mencegahnya, tidak berapa lama lagi azab daripada Allah akan menimpa ke atas mereka semua."

Imam Bukhari pula meriwayatkan sabda nabi yang bermaksud:

"Perumpamaan mereka yang memelihara batas-batas agama Allah dengan golongan yang melanggarnya adalah seperti sebuah kapal yang dipenuhi penumpang pada bahagian atas dan bawahnya. Golongan yang berada pada bahagian bawah, apabila ingin mengambil air terpaksa menaiki bahagian atas kapal bagi mendapatkannya. Akhirnya penumpang pada bahagian bawah berkata, "alangkah baiknya jika kita tebuk saja lantai kapal ini untuk mendapatkan air dan dengan cara demikian kita tidak lagi menyusahkan rakan-rakan kita pada bahagian atas." Jika penumpang-penumpang pada bahagian atas tidak mencegah perbuatan akan-rakan mereka di bawah, mereka semua akan tenggelam. Jika mereka mencegah, kesemua mereka akan selamat."

Persiapan Pendakwah Ilmu adalah asas bagi segala kebaikan. Ilmu-ilmu teras fardu ain wajib pelajari oleh setiap individu yang hendak berdakwah dan ilmu ini perlu diperkukuhkan dengan ilmu-ilmu kontemporari yang selari dengan ajaran Islam. Penguasaan ilmu memerlukan pengorbanan serta keazaman yang tinggi dan untuk itu kerja-kerja tidak berfaedah perlu ditinggalkan. Di dalam surah al-Mukminun ayat 3 Allah berfirman:

"Antara sifat-sifat mukmin yang berjaya adalah mereka menjauhi perbuatan dan perkataan yang lagha."

Istilah lagha mempunyai maksud tertentu. Imam Ibn Kathir mentafsirkannya sebagai,

"segala perbuatan batil termasuk yang mempunyai unsur-unsur syirik, perbuatan maksiat, serta segala perkara yang tidak berfaedah sama ada dalam bentuk perkataan ataupun perbuatan."

Membuang masa pada perkara tidak berfaedah menjadi salah satu punca kejatuhan umat Islam sebelum ini. Hal ini disebut oleh as-Syeikh Hasan an-Nadwi di dalam bukunya 'Kerugian Dunia Kerana Kemunduran Umat Islam'. Beliau berkata: "Tetapi sayang sekali, kaum Muslimin tidak mensyukuri nikmat Allah. Selama berabad-abad lamanya umat Islam membuangkan waktu dan tenaga untuk berfikir dan berfalsafah berhubung perkara yang tidak bermanfaat. Andai kata mereka memfokuskan kepada ilmu yang menguntungkan Islam dan kaum Muslimin, kedudukan mereka tidak akan menjadi separah ini. Umat Islam bukan saja asyik membahaskan tentang sifat-sifat Allah, mereka juga asyik berbicara tentang roh, falsafah wihdatul wujud dan sebagainya. Semua ini memakan masa dan tenaga yang bukan sedikit... Hasil penemuan kaum Muslimin sama ada dari sudut kuantiti ataupun kualitinya tidak mendatangkan apa-apa makna apabila dibandingkan dengan penemuan Barat pada abad ketujuh belas dan kelapan belas Masihi."

Apabila umat menyibukkan diri dengan perkara yang tidak berfaedah, kewajipan penting terabai dan keutamaan terbabas. Hasilnya adalah kejahilan dan kemunduran. Justeru, sudah sampai masanya bagi umat Islam memfokuskan pada ilmu-ilmu penting demi masa depan umat yang gilang-gemilang. Di dalam al-Quran terdapat beberapa gelaran yang diberikan Allah kepada golongan berilmu sebagai lambang kemuliaan. Antara gelaran itu adalah rabbani. Berhubung dengan ini, Allah berfirman dalam surah ali-Imran ayat 79:

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmat dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan menyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi golongan rabbani kerana kamu selalu mengajar al-Kitab dan disebabkan kamu terus mempelajarinya" .

Berhubung dengan ayat ini, Said Hawa dalam al-Asas fit Tafsir berkata: "Ayat ini merupakan dalil bahawa golongan rabbani adalah golongan yang amat mentaati Allah dengan cara menguasai ilmu dan menyebarkannya. Cukuplah dalil ini sebagai bukti kehebatan mereka yang mampu mengekang nafsunya bagi menguasai ilmu kemudian disusuli dengan amal." Ilmu yang dituntut dalam Islam terbahagi kepada dua bahagian iaitu fardu ain dan fardu kifayah. Di dalam kitab lhya Ulumuddin, Imam al-Ghazali mendefinisikan ilmu fardu ain sebagai ilmu yang wajib dituntut oleh setiap hamba Allah yang berakal lagi baligh tanpa pengecualian. Ilmu fardu ain yang wajib dituntut adalah yang berkaitan dengan akidah atau tauhid bertujuan
memantapkan iman, tasawuf bagi membersihkan hati serta akhlak dan fikah bagi mengetahui perkara yang diwajibkan dan diharamkan. Ilmu fardu kifayah adalah Ilmu yang wajib dikuasai umat Islam dalam bidang-bidang yang amat diperlukan masyarakat.

Namun, tidak semua individu Muslim dan Muslimah perlu menceburi dalam bidang-bidang ini apabila sebahagian daripada umat Islam sudah menguasainya, masyarakat secara amnya terlepas daripada dosa dan bebanan. Islam juga menuntut umatnya mempersiapkan diri dengan segala teknologi yang perlu bagi menghadapi musuh dan persiapan ini termasuk dalam tuntutan fardu kifayah yang disebutkan sebelum ini. Allah berfirman dalam surah al-Anfal ayat 60:

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan apa saja kekuatan yang kamu sanggup dan dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh."

Umat Islam terdahulu benar-benar memahami dan menghayati ayat ini. Contohnya, pada zaman khalifah Uthman, pada tahun 28 H bersamaan dengan 648 M, khalifah mengeluarkan arahan kepada Muawiyah supaya memberikan tumpuan pada kekuatan laut yang ketika itu dikuasai oleh Rom. Bermula dari tahun itu, pakar-pakar dan tenaga mahir Islam dihimpunkan sehingga berjaya membina sebuah armada yang kuat. Pada saat kemuncaknya pada tahun 31 H (652 M), armada Islam mempunyai 1,700 buah kapal dan bermula dari tahun itu panglima armada

Islam digelar sebagai Amirul Bahri dan daripada gelaran inilah lahiriya kalimat Admiral kemudiannya. Kekuatan armada Rom menjadi lumpuh selepas armada Islam mengalahkannya dalam peperangan Mount Phoenix pada tahun 652 M.

Di samping itu, Islam juga menuntut umatnya mengenali jahiliah pada zaman mereka supaya tidak mudah terpedaya dan terpengaruh dengannya. Khalifah Omar al-Khattab mengingatkan umat Islam berhubung dengan perkara ini melalui ucapan beliau yang bermaksud:

"Sesungguhnya ikatan Islam akan terungkai satu demi satu dari diri seseorang jika dia tidak mengenali jahiliah."

Manifestasi jahiliah pada hari ini wujud dalam setiap bidang kehidupan manusia termasuk dalam adat resam dan budaya bangsa Melayu. Sebahagian daripada adat resam dan budaya yang diamalkan pada hari ini mengandungi khurafat dan tahayul. Khurafat dan tahayul adalah kepercayaan yang tidak bersandarkan al-Quran dan Sunnah serta tidak dapat diterima akal yang waras. Ia adalah sebahagian daripada kepercayaan yang mungkar lagi sesat. Kepercayaan ini menjadi pegangan segelintir umat Islam kesan daripada pengaruh budaya yang dibawa oleh penganut ajaran agama lain. Antara bentuk khurafat dan tahayul yang dipegang adalah percaya kepada konsep sial majal seperti sialnya bunyi burung hantu pada waktu siang, sialnya nombor 13 dan seumpamanya.
Di samping ilmu, pendakwah juga tidak boleh memperkecilkan keikhlasan, ibadah dan akhlak mulia kerana tanpanya dakwah akan gagal. Di dalam buku Alaamat Duiyyah Ala Thariq ad-Dakwah, Dr. Muhammad Jamil Ghazi menukilkan perkataan Imam Sufyan at-Thauri berhubung dengan perkara ini yang bermaksud:

"Janganlah seseorang mengajak kepada makruf dan mencegah kemungkaranmelainkan jika ada padanya tiga ciri:

1. Berlemah lembut dengan apa yang diseru dan dicegah.
2. Adil dengan apa yang diseru dan dicegah.
3. Berilmu berhubung apa yang diseru dan dicegah."

Perkara yang sama juga ditekankan oleh Imam Abul Laith As-Samarqandi di dalam kitab Tanbihul Ghafilin. Beliau membahagikan persiapan umum pendakwah kepada lima:

1: Ilmu.
2: Keikhlasan.
3: Kasih sayang dan kelembutan.
4: Kesabaran.
5: Mengamalkan apa yang disampaikan.

Pendakwah yang asyik mengutuk dan mencanangkan kesalahan orang lain dan melupakan diri sendiri merupakan pendakwah yang terbabas danipada obor al-Quran dan Sunnah.

Benarlah As-Syeikh Fathi Yakan semasa beliau berkata di dalam bukunya yang bertajuk Musykilat ad-Dakwah Wa ad-Daaiyah yang bermaksud:

"Seseorang pendakwah akan berada di dalam keadaan baik jika dia bersih dari keaiban dan penyakit diri sendiri walaupun musuhnya mempunyai kekuatan yang hebat."

Sebenarnya, kenyataan seumpama ini pernah diucapkan oleh khalifah Omar al-Khattab suatu masa dahulu semasa beliau menyampaikan amanat kepada tentera-tentera Islam.

Beliau berkata:

"Hendaklah kamu berwaspada terhadap perbuatan-perbuatan maksiat daripada kewaspadaan terhadap musuh. Sesungguhnya aku lebih bimbang dengan dosa yang dilakukan oleh tentera-tentera Islam berbanding kebimbanganku terhadap musuh. Sesungguhnya umat Islam mendapat pertolongan daripada Allah lantaran kemungkaran yang dilakukan oleh pihak musuh.... Oleh itu janganlah kamu melakukan perkara yang dimurkai Allah ketika sedang berjihad di jalan Allah."

Hukum Berdakwah
Rasul-rasul tidak diamanahkan melainkan dengan tugas-tugas mulia dan Allah mengamanahkan mereka supaya melaksanakan dakwah. Di dalam surah an-Nahl ayat 36, Allah berfirman yang bermaksud:

"Sesungguhnya Kami utus bagi setiap umat seorang Rasul yang menyeru, "sembahlah Allah dan jauhilah taghut"."

Sesiapa yang melaksanakan tugas dakwah mendapat pujian daripada Allah berdasarkan firman-Nya dalam surah Fussilat ayat 33, yang bermaksud:

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada mereka yang menyeru manusia ke jalan Allah, serta beramal salih seraya berkata, "aku adalah dari kalangan orang-orang Muslim"."

Berhubung dengan ayat ini as-Syeikh Said Hawa di dalam al-Asas fit Tafsir berkata:

"Termasuk di dalam golongan ini adalah semua penyeru dan pendakwah di jalan Allah... Dan mengikut Imam Ibn Kathir, orang yang tidak mengerjakan yang makruf tidak termasuk dalam golongan yang mengajak kepada yang makruf dan juga tidak termasuk dalam golongan mereka yang mencegah kemungkaran mereka yang melakukan kemungkaran." Oleh kerana dakwah adalah tugas yang mulia lagi penting, Allah mengarahkan umat Islam melaksanakannya. Berhubung dengan ini, dalam surah ali-Imran ayat 110, Allah berfirman:

"Kamu adalah sebaik baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, kamu mengajak kepada makruf dan kamu mencegah kemungkaran."

Di dalam kitab Usul ad-Dakwah, Dr. Abdul Karim Zaidan berpendapat ayat ini mempunyai dua penekanan. Pertama, Allah menjelaskan kebaikan umat ini dan kedua, kebaikan umat ini berkait rapat dengan pelaksanaan amar makruf dan nahi mungkar. Berkaitan dengan ayat yang sama di dalam kitab Dalilul Falihin disebutkan: "Barang siapa menepati sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat ini, dia tergolong dalam golongan umat terbaik."

Tidak ada kemuliaan bagi mereka yang mengabaikan amar makruf serta nahi mungkar. Makruf bermaksud perkara yang baik mengikut pandangan syarak dan akal, manakala mungkar bermaksud perkara yang berlawanan dengan segala yang makruf sebagai contoh, meninggalkan amalan fardu ataupun melakukan perbuatan haram sama ada berbentuk dosa kecil ataupun dosa besar. Salah satu golongan yang mendapat kutukan daripada Allah kerana gagal melaksanakan dakwah adalah golongan Bani Israel. Dalam surah al-Maidah ayat 78 dan 79, Allah berfirman:

"Telah dilaknat golongan kafir dan kalangan Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Hal ini disebabkan mereka menderhaka kepada Allah dan selalu melampaui batas. Mereka tidak mencegah kemungkaran yang berlaku di kalangan mereka. Sesungguhnya buruk sekali apa yang telah mereka lakukan." Berhubung dengan ayat ini nabi bersabda:

"Sesungguhnya kecacatan paling awal yang menimpa ke atas Bani Israel ialah, apabila seseorang lelaki bertemu dengan lelaki yang lain (yang melakukan kemungkaran) dia akan berkata, "wahai pulan, tinggalkanlah apa yang sedang kamu lakukan kerana ianya tidak halal bagimu". Kemudian pada keesokan harinya dia tidak lagi mencegah kemungkaran yang dilakukan oleh rakannya, sebaliknya dia reda untuk duduk sambil makan dan minum dengan rakannya itu. Apabila hal ini berlaku, Allah bolak-balikkan hati-hati mereka. (Kemudian Nabi pun membaca ayat-ayat dan surah al-Maidah)." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tarmizi dan Abu Daud.

Secara dasarnya, hukum berdakwah dengan lisan dan tangan adalah wajib kecuali dalam situasi tertentu. Di dalam kitab Dalilul Falihin disebutkan:

"Apabila dikhuatiri harta benda dan diri seseorang akan ditimpa kebinasaan, harus bagi seseorang itu sekadar melawan dengan hatinya sahaja.
Jika kekhuatiran ini tidak wujud, dia diwajibkan berdakwah, walaupun dia belum mengamalkan apa yang diserukannya ataupun dia menyedari seruannya tidak akan diterima."

Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

There was an error in this gadget

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah