Friday, February 26, 2010


Segala puji hanya milik Allah, dan selawat dan salam kepada Rasulullah berserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya sampai hari pembalasan…

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab:21)

Ketika Allah SWT mengutus Rasul-Nya -saw-, maka bersatu suku-suku yang terpecah belah, lenyap permusuhan antara kabilah dan kelompok serta suku, dan ditetapkan batasan-batasan dan hukum-hukum dalam berperang, meletakkan dasar-dasar moraliti, menyempurnakan nilai-nilai kemuliaannya, sehingga terbentuk darinya umat yang dibangun oleh dasar-dasar kebebasan, menegakkan kebenaran, keadilan dan kesetaraan antara sesama manusia, tanpa perbezaan warna, gender atau kelas dan tingkatan.. Dan tidak akan tegak suatu umat kecuali kerana kebaikan yang dilakukan pada masa awal dan akhirnya, sebagaimana tidak akan berdiri suatu umat kecuali dengan meneladani Rasulullah saw.

Oleh kerana itu, umat Islam harus mempelajari sirah Nabi saw, sehingga mereka dapat menerapkan nilai-nilainya dan pelajarannya dalam diri mereka dan membuat mereka menjadi ikutan bagi manusia dalam ke istiqamahan dan kebaikan sejarah hidup mereka, lurus jalan hidupnya melalui dakwah mereka dalam melakukan reformasi. Lantaran itu, Nabi saw kembali menjadi cahaya yang terang benderang dan mengusir gelapnya kehidupan mereka, serta memberikan hawa sejuk dan kehangatan ke dalam hati, fikiran dan perilaku. Dengan demikian pula, masyarakat Islam dapat kembalikan integritinya, istiqamahnya dan keteladanannya serta kembali mampu berada di garis terdepan dalam kepemimpinan di seluruh bangsa di dunia, serta terwujud firman Allah:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman”. (Ali Imran:110)

Bahawasanya krisis yang paling serius yang terjadi saat ini adalah krisis keteladanan; keteladanan yang baik dan soleh di dalam masyarakat dan bangsa, bukan hanya pada tahap individu, kerana alhamdulillah kita punya sosok teladan, namun bangsa tidak dapat berubah oleh individu yang kecil, melainkan nasib bangsa-bangsa perlunya perubahan kolektif dan kerja secara kolektif, dan jika terjadi kekosongan yang panjang pada masalah ini, maka akan menjadi ancaman krisis bagi seluruh dunia dan bahkan akan runtuh kehidupan bangsanya dan mengalami kegagalan sistem yang ada dan pada akhirnya akan berpaling dari Allah SWT.


Wahai Ikhwanul Muslimin…
Wahai umat Islam seluruhnya…
Sesungguhnya umat Islam saat ini sangat memerlukan untuk mengingati sirah dan mengenang perjalanan hidup nabi Muhammad saw yang telah menanggung beban menghadapi pelbagai cubaan, celaan dan siksaan, sabar dalam meniti jalan yang berat dan penuh onak dan duri demi tegaknya ajaran Islam dan terbangunnya jati diri dan umat yang mulia sehingga mereka menjadi teladan yang baik secara nyata, menghilangkan wahm (keraguan) dalam jiwa mereka dan menghancurkan sikap tidak amanah dan ketidakadilan di negeri mereka.

Setiap muslim dan muslimah memiliki kewajiban untuk meneladani Rasulullah saw dalam pelbagai aspek kehidupan mereka, kerana hal tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai keamanan dan kebahagiaan di dunia, dan keberuntungan dan nikmat di akhirat.

Meneladani Rasulullah dapat dipelajari dari pelbagai perkara:
- Ibadah: Bahawa beliau adalah orang yang paling tahu dan mengenal Allah, orang yang paling takut dan bertaqwa, namun beliau orang yang kadang puasa kadang berbuka, tidur dan bangun, dan menggauli wanita (istri) dengan baik, namun tidak mempengaruhi posisi beliau sebagai orang yang paling banyak beribadah.

– Berinteraksi dengan tetangga: Nabi saw bersabda:
“Jibril selalu mewasiatkan kepada saya tentang tetangga sampai aku menyangka bahawa tetangga mendapat hak warisan”. (Muttafaq alaih)

– Berinteraksi dengan sesama manusia: Beliau kadang menjual dan membeli, sangat sopan jika menjual dan sangat ramah jika membeli, ramah saat memutuskan hukum dan ramah pula saat menuntut hukuman.

– Akhlaq dan perilaku secara umum: Nabi saw adalah sebaik-baik manusia dalam berakhlaq dan beretika, orang yang paling mulai dan paling bertaqwa dalam berinteraksi. Allah berfirman sambil memuji nabi saw:

“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlaq yang mulia”. (Al-Qalam:4)
Dan Aisyah pernah berkata ketika ditanya kepadanya tentang akhlaq nabi saw, beliau berkata:

“Akhlaq nabi adalah Al-Qur’an”. (Shahih Muslim)

– Damai dan Perang serta selalu menghormati dan memenuhi janji: “Rasulullah saw masuk ke kota Madinah dengan mengangkat bendera perdamaian.
Ketika masuk kota Madinah beliau berkata:

“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, solat malam lah saat orang lain tidur lelap niscaya masuk surga dengan selamat”. (Tirmidzi dari Abdullah bin Salam),

Dan ketika memasuki kota Mekah saat berhasil menaklukkannya, beliau berkata kepada orang yang memusuhi dan memeranginya:

“Pergilah kalian, hari ini kalian bebas”.
Demi Allah, sungguh sangat menakjubkan sejarah hidupmu, wahai Rasulullah. Sungguh agung perilaku dan akhlaqmu, sehingga semua itu adalah madrasah Ilahiyah bagi setiap pemimpin, bagi setiap presiden, bagi setiap penguasa, bagi setiap komandan, bagi setiap hakim, bagi setiap politikus, bagi setiap guru, bagi setiap pasangan suami isteri, bagi setiap orang tua.

Engkau adalah teladan yang sempurna bagi seluruh manusia, dan bagi setiap yang menginginkan kesempurnaan dalam pelbagai bentuk, manifestasi dan trend kehidupan, segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada Nabi Muhammad saw untuk kami semua, dan segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada mu untuk umat manusia seluruhnya.

Umat Islam memperingati sejarah Rasulullah setiap hari
Kita memperingati sirah dan kehidupan Rasulullah saw bukan sehari dalam sebulan, namun kita melakukannya setiap hari dan bukan sekali dalam sehari namun puluhan kali; ketika ada seruan dan ajakan solat, dunia seluruhnya menjawab seruan azan; saya bersaksi bahawa Muhammad utusan Allah. Setiap kali bertasyahud dalam solat, seorang muslim seakan bertemu Rasulullah saw mengucapkan salam: “Assalamu’alaika Ayyuhan nabi”, seakan mengunjunginya secara maknawi dan bertemu dengannya, menyambut dan bersuka cita kepadanya.

Manusia cenderung terjerumus pada kehancuran
Bagi para pemerhati situasi dan keadaan dunia saat ini akan melihat bahawa manusia ramai yang cenderung pada hawa nafsu yang menghinakan seakan dihidapi kepada semua orang dan hampir semuanya, dan dunia kini dibagi menjadi dua kelompok:
– Kekuatan yang dengan taringnya ingin mendominasi yang lain, dan memaksakan kehendak dari apa yang mereka inginkan, membuat perjanjian yang menjadi sarana merampas sumber daya alam mereka, dan menjadikan diri mereka sebagai pemimpin mereka, dan pada selanjutnya mencegah mereka dari kebebasan dan kedaulatan atas tanah mereka, dan kebebasan melakukan tindakan dari potensi yang mereka miliki… Menyalakan api perang yang mereka istilahkan dengan tindakan preventif, hanya untuk mengamankan dan melancarkan kepentingan mereka sendiri, membatasi kebebasan dan kemerdekaan warga yang bergolak dalam diri mereka untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan, mengembalikan hak-hak dan kebebasan bangsa, menolak penjajahan.

Bahkan, mereka tidak melakukan itu saja, namun mereka juga menghidupkan api perang antara anak-anak bangsa dalam satu negara (perang saudara), sehingga mereka meminta perlindungan dan bantuan kepada mereka dan bergantung pada tali mereka.
– Adapun kelompok lainnya adalah kelompok yang lemah dan dihinakan kerana kemiskinan dan kebodohan, dibutakan oleh penyakit, dan kelemahannya kian terus bertambah oleh adanya pemerintah autokrasi yang membatasi kebebasan, dan menurunkan pelbagai macam warna dari ketidakadilan, menutup mata sisi kebenaran, dan enggan melakukan perbaikan kecuali harus tunduk pada kekuasaannya, menguasai segala potensi yang dimiliki, menghisap apa yang tersisa dari darahnya, melakukan penganiayaan hingga titik maksimum hingga pada puncak penyiksaan pada rakyat yang tertindas dan tertekan, berteriak kesakitan atau meminta pertolongan.
Situasi yang suram ini telah menjadi lumrah di sebahagian besar masyarakat di negara Islam di seluruh dunia ketiga yang hidup di bawah tingkat kemiskinan, pengangguran di semua kelompok masyarakat, penyakit bermaharajalela, ubat-ubatan yang mahal sehingga jika ditemukan tidak mampu membelinya, terjadi korupsi dalam pendidikan dan pemerintahan, dan menyebarnya penyuapan dan sikap pilih kasih, sikap materialistik dan egoisme, menyebar kejahatan dalam pelbagai strata masyarakat, sehingga pemerintah yang memimpin suatu negara hanya menyibukkan diri untuk menyelesaikan permasalahan ini dan sebahagian mereka ada yang menghalang terhadap para generasi kebangkitan Islam yang berusaha ingin memperbaiki keadaan masyarakat dan melakukan kebangkitan serta menghadang musuh-musuhnya dari Zionis dan sekutunya.

Musuh takut terhadap nyala api keimanan
Hal ini patut difahami, bahawa musuh sangat menyedari bahawa rahsia kekuatan umat dan bangsa terletak pada kekuatan iman dan cinta pada jihad dan syahadah di jalan Allah; oleh kerana itu pertama kali yang mereka lakukan adalah memusnahkan nyala api iman dan mengerahkan segala potensi yang mereka miliki dan bekerja sama dengan sekutu mereka untuk mewujudkan impian mereka, namun Allah menghinakan tipu daya mereka dan memperkokoh umat sesuai dengan fitrahnya dan memberi aksi balas setiap kali ada seruan jihad dan syahadah…

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah melalui mulut-mulut mereka dan Allah yang menyempurnakan cahaya-Nya sekalipun orang-orang kafir tidak menyukainya”. (As-Shaff:8)

Nabi Muhammad saw pembawa rahmat bagi semesta alam
Allah telah mengutus Rasulullah saw membawa rahmat bagi semesta alam, bagi siapa yang mengikutinya akan mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat ..

“Dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk memberi rahmat bagi semesta alam” (Al-Anbiya:107)

Dan nabi saw sendiri bersabda:

“Sesungguhnya Aku diutus untuk membawa rahmat”.
Dan dibawah naungan syariah Rasulullah saw seluruh manusia menikmati kebebasan, keadilan dan kesetaraan dan memberikan kasih sayang bagi manusia yang tertimpa penderitaan dan ketidakadilan, ketakutan dan kekejaman yang dilakukan oleh para penentangnya yang tidak hanya menolak hadiah kasih sayang tersebut, namun lebih dari itu adalah menyatakan api perang terhadap syariat langit dan melecehkan dan menjauhi dari kurnia, rahmat dan kenikmatan dan nasihat serta cahaya yang terang benderang. Sungguh merugi umat manusia yang seperti itu! .. betapa sengsara apa yang dilakukan oleh manusia seperti itu; kesengsaraan dan penderitaan, sekiranya mereka tetap berada dalam keadaan seperti itu dan tidak mahu merespon seruan Allah dan Rasul-Nya…!!

“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Thaha:124)

Darah para syuhada adalah simbol kesedaran umat
Wahai umat Islam..
Janganlah kalian merasa bangga dengan darah yang mengalir di jalan untuk membela kebenaran dan melakukan perlawanan terhadap penjajahan, begitu pula dengan pengorbanan yang diberikan dalam menghentikan kerosakan moral, sosial dan ekonomi… kerana yang demikian adalah kecil di hadapan tujuan yang sangat mulia dan ganjaran yang besar.

Maka dari itu, berjihad dan berjihadlah wahai umat Islam, kerana yang demikian merupakan perniagaan yang dapat menyelamatkan diri dari azab Allah, mendekat dari nikmat Allah dan mewujudkan pertolongan Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (iaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (iaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (As-Shaff:10-13)

Perbaikilah dirimu terlebih dahulu lalu serulah orang lain
Bahawa tugas kita - sebagai umat Islam - selama di tangan ada cahaya yang terang dan sebotol ubat untuk dapat mengubati diri dan menyeru orang lain. Dan Ikhwanul Muslimin pertama kali yang dituju dalam pembinaannya adalah mendidik diri terlebih dahulu, memperbaharui ruh, memperteguh dan memperkokoh akhlaq serta menumbuhkan keberanian yang lurus dalam jiwa-jiwa umat, dan mereka meyakini bahawa hal tersebut merupakan titik awal yang akan mampu membangun kebangkitan umat dan bangsa…jika kita berhasil maka itulah yang kita inginkan, namun jika tidak maka kita serahkan seluruhnya kepada Allah dan kita telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan kita menginginkan kebaikan untuk manusia, dan kita tidak putus asa melakukan perbaikan atau berhenti dalam menyebarkan risalah Rasulullah saw sehingga tidak memiliki sama sekali pengaruh, namun dengan pengorbanan yang besar dan darah yang banyak, cukuplah bagi para pembawa risalah mendapatkan faktor-faktor keberhasilan. Dengannya mereka beriman, sehingga mengikhlaskan diri dalam berjuang dan di jalannya mereka berjihad, sementara waktu telah menunggunya dan dunia selalu memantaunya…

“… Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (At-Taubah:94)

Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.

Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mantan Mursyid Am Ikhwanul Muslimin 7
Terjemahan: Abu Ahmad



Halatuju Sambutan Maulidurasul: Umat Islam Hadapi Krisis Keteladanan


Segala puji hanya milik Allah, dan selawat dan salam kepada Rasulullah berserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya sampai hari pembalasan…

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab:21)

Ketika Allah SWT mengutus Rasul-Nya -saw-, maka bersatu suku-suku yang terpecah belah, lenyap permusuhan antara kabilah dan kelompok serta suku, dan ditetapkan batasan-batasan dan hukum-hukum dalam berperang, meletakkan dasar-dasar moraliti, menyempurnakan nilai-nilai kemuliaannya, sehingga terbentuk darinya umat yang dibangun oleh dasar-dasar kebebasan, menegakkan kebenaran, keadilan dan kesetaraan antara sesama manusia, tanpa perbezaan warna, gender atau kelas dan tingkatan.. Dan tidak akan tegak suatu umat kecuali kerana kebaikan yang dilakukan pada masa awal dan akhirnya, sebagaimana tidak akan berdiri suatu umat kecuali dengan meneladani Rasulullah saw.

Oleh kerana itu, umat Islam harus mempelajari sirah Nabi saw, sehingga mereka dapat menerapkan nilai-nilainya dan pelajarannya dalam diri mereka dan membuat mereka menjadi ikutan bagi manusia dalam ke istiqamahan dan kebaikan sejarah hidup mereka, lurus jalan hidupnya melalui dakwah mereka dalam melakukan reformasi. Lantaran itu, Nabi saw kembali menjadi cahaya yang terang benderang dan mengusir gelapnya kehidupan mereka, serta memberikan hawa sejuk dan kehangatan ke dalam hati, fikiran dan perilaku. Dengan demikian pula, masyarakat Islam dapat kembalikan integritinya, istiqamahnya dan keteladanannya serta kembali mampu berada di garis terdepan dalam kepemimpinan di seluruh bangsa di dunia, serta terwujud firman Allah:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman”. (Ali Imran:110)

Bahawasanya krisis yang paling serius yang terjadi saat ini adalah krisis keteladanan; keteladanan yang baik dan soleh di dalam masyarakat dan bangsa, bukan hanya pada tahap individu, kerana alhamdulillah kita punya sosok teladan, namun bangsa tidak dapat berubah oleh individu yang kecil, melainkan nasib bangsa-bangsa perlunya perubahan kolektif dan kerja secara kolektif, dan jika terjadi kekosongan yang panjang pada masalah ini, maka akan menjadi ancaman krisis bagi seluruh dunia dan bahkan akan runtuh kehidupan bangsanya dan mengalami kegagalan sistem yang ada dan pada akhirnya akan berpaling dari Allah SWT.


Wahai Ikhwanul Muslimin…
Wahai umat Islam seluruhnya…
Sesungguhnya umat Islam saat ini sangat memerlukan untuk mengingati sirah dan mengenang perjalanan hidup nabi Muhammad saw yang telah menanggung beban menghadapi pelbagai cubaan, celaan dan siksaan, sabar dalam meniti jalan yang berat dan penuh onak dan duri demi tegaknya ajaran Islam dan terbangunnya jati diri dan umat yang mulia sehingga mereka menjadi teladan yang baik secara nyata, menghilangkan wahm (keraguan) dalam jiwa mereka dan menghancurkan sikap tidak amanah dan ketidakadilan di negeri mereka.

Setiap muslim dan muslimah memiliki kewajiban untuk meneladani Rasulullah saw dalam pelbagai aspek kehidupan mereka, kerana hal tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai keamanan dan kebahagiaan di dunia, dan keberuntungan dan nikmat di akhirat.

Meneladani Rasulullah dapat dipelajari dari pelbagai perkara:
- Ibadah: Bahawa beliau adalah orang yang paling tahu dan mengenal Allah, orang yang paling takut dan bertaqwa, namun beliau orang yang kadang puasa kadang berbuka, tidur dan bangun, dan menggauli wanita (istri) dengan baik, namun tidak mempengaruhi posisi beliau sebagai orang yang paling banyak beribadah.

– Berinteraksi dengan tetangga: Nabi saw bersabda:
“Jibril selalu mewasiatkan kepada saya tentang tetangga sampai aku menyangka bahawa tetangga mendapat hak warisan”. (Muttafaq alaih)

– Berinteraksi dengan sesama manusia: Beliau kadang menjual dan membeli, sangat sopan jika menjual dan sangat ramah jika membeli, ramah saat memutuskan hukum dan ramah pula saat menuntut hukuman.

– Akhlaq dan perilaku secara umum: Nabi saw adalah sebaik-baik manusia dalam berakhlaq dan beretika, orang yang paling mulai dan paling bertaqwa dalam berinteraksi. Allah berfirman sambil memuji nabi saw:

“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlaq yang mulia”. (Al-Qalam:4)
Dan Aisyah pernah berkata ketika ditanya kepadanya tentang akhlaq nabi saw, beliau berkata:

“Akhlaq nabi adalah Al-Qur’an”. (Shahih Muslim)

– Damai dan Perang serta selalu menghormati dan memenuhi janji: “Rasulullah saw masuk ke kota Madinah dengan mengangkat bendera perdamaian.
Ketika masuk kota Madinah beliau berkata:

“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, solat malam lah saat orang lain tidur lelap niscaya masuk surga dengan selamat”. (Tirmidzi dari Abdullah bin Salam),

Dan ketika memasuki kota Mekah saat berhasil menaklukkannya, beliau berkata kepada orang yang memusuhi dan memeranginya:

“Pergilah kalian, hari ini kalian bebas”.
Demi Allah, sungguh sangat menakjubkan sejarah hidupmu, wahai Rasulullah. Sungguh agung perilaku dan akhlaqmu, sehingga semua itu adalah madrasah Ilahiyah bagi setiap pemimpin, bagi setiap presiden, bagi setiap penguasa, bagi setiap komandan, bagi setiap hakim, bagi setiap politikus, bagi setiap guru, bagi setiap pasangan suami isteri, bagi setiap orang tua.

Engkau adalah teladan yang sempurna bagi seluruh manusia, dan bagi setiap yang menginginkan kesempurnaan dalam pelbagai bentuk, manifestasi dan trend kehidupan, segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada Nabi Muhammad saw untuk kami semua, dan segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada mu untuk umat manusia seluruhnya.

Umat Islam memperingati sejarah Rasulullah setiap hari
Kita memperingati sirah dan kehidupan Rasulullah saw bukan sehari dalam sebulan, namun kita melakukannya setiap hari dan bukan sekali dalam sehari namun puluhan kali; ketika ada seruan dan ajakan solat, dunia seluruhnya menjawab seruan azan; saya bersaksi bahawa Muhammad utusan Allah. Setiap kali bertasyahud dalam solat, seorang muslim seakan bertemu Rasulullah saw mengucapkan salam: “Assalamu’alaika Ayyuhan nabi”, seakan mengunjunginya secara maknawi dan bertemu dengannya, menyambut dan bersuka cita kepadanya.

Manusia cenderung terjerumus pada kehancuran
Bagi para pemerhati situasi dan keadaan dunia saat ini akan melihat bahawa manusia ramai yang cenderung pada hawa nafsu yang menghinakan seakan dihidapi kepada semua orang dan hampir semuanya, dan dunia kini dibagi menjadi dua kelompok:
– Kekuatan yang dengan taringnya ingin mendominasi yang lain, dan memaksakan kehendak dari apa yang mereka inginkan, membuat perjanjian yang menjadi sarana merampas sumber daya alam mereka, dan menjadikan diri mereka sebagai pemimpin mereka, dan pada selanjutnya mencegah mereka dari kebebasan dan kedaulatan atas tanah mereka, dan kebebasan melakukan tindakan dari potensi yang mereka miliki… Menyalakan api perang yang mereka istilahkan dengan tindakan preventif, hanya untuk mengamankan dan melancarkan kepentingan mereka sendiri, membatasi kebebasan dan kemerdekaan warga yang bergolak dalam diri mereka untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan, mengembalikan hak-hak dan kebebasan bangsa, menolak penjajahan.

Bahkan, mereka tidak melakukan itu saja, namun mereka juga menghidupkan api perang antara anak-anak bangsa dalam satu negara (perang saudara), sehingga mereka meminta perlindungan dan bantuan kepada mereka dan bergantung pada tali mereka.
– Adapun kelompok lainnya adalah kelompok yang lemah dan dihinakan kerana kemiskinan dan kebodohan, dibutakan oleh penyakit, dan kelemahannya kian terus bertambah oleh adanya pemerintah autokrasi yang membatasi kebebasan, dan menurunkan pelbagai macam warna dari ketidakadilan, menutup mata sisi kebenaran, dan enggan melakukan perbaikan kecuali harus tunduk pada kekuasaannya, menguasai segala potensi yang dimiliki, menghisap apa yang tersisa dari darahnya, melakukan penganiayaan hingga titik maksimum hingga pada puncak penyiksaan pada rakyat yang tertindas dan tertekan, berteriak kesakitan atau meminta pertolongan.
Situasi yang suram ini telah menjadi lumrah di sebahagian besar masyarakat di negara Islam di seluruh dunia ketiga yang hidup di bawah tingkat kemiskinan, pengangguran di semua kelompok masyarakat, penyakit bermaharajalela, ubat-ubatan yang mahal sehingga jika ditemukan tidak mampu membelinya, terjadi korupsi dalam pendidikan dan pemerintahan, dan menyebarnya penyuapan dan sikap pilih kasih, sikap materialistik dan egoisme, menyebar kejahatan dalam pelbagai strata masyarakat, sehingga pemerintah yang memimpin suatu negara hanya menyibukkan diri untuk menyelesaikan permasalahan ini dan sebahagian mereka ada yang menghalang terhadap para generasi kebangkitan Islam yang berusaha ingin memperbaiki keadaan masyarakat dan melakukan kebangkitan serta menghadang musuh-musuhnya dari Zionis dan sekutunya.

Musuh takut terhadap nyala api keimanan
Hal ini patut difahami, bahawa musuh sangat menyedari bahawa rahsia kekuatan umat dan bangsa terletak pada kekuatan iman dan cinta pada jihad dan syahadah di jalan Allah; oleh kerana itu pertama kali yang mereka lakukan adalah memusnahkan nyala api iman dan mengerahkan segala potensi yang mereka miliki dan bekerja sama dengan sekutu mereka untuk mewujudkan impian mereka, namun Allah menghinakan tipu daya mereka dan memperkokoh umat sesuai dengan fitrahnya dan memberi aksi balas setiap kali ada seruan jihad dan syahadah…

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah melalui mulut-mulut mereka dan Allah yang menyempurnakan cahaya-Nya sekalipun orang-orang kafir tidak menyukainya”. (As-Shaff:8)

Nabi Muhammad saw pembawa rahmat bagi semesta alam
Allah telah mengutus Rasulullah saw membawa rahmat bagi semesta alam, bagi siapa yang mengikutinya akan mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat ..

“Dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk memberi rahmat bagi semesta alam” (Al-Anbiya:107)

Dan nabi saw sendiri bersabda:

“Sesungguhnya Aku diutus untuk membawa rahmat”.
Dan dibawah naungan syariah Rasulullah saw seluruh manusia menikmati kebebasan, keadilan dan kesetaraan dan memberikan kasih sayang bagi manusia yang tertimpa penderitaan dan ketidakadilan, ketakutan dan kekejaman yang dilakukan oleh para penentangnya yang tidak hanya menolak hadiah kasih sayang tersebut, namun lebih dari itu adalah menyatakan api perang terhadap syariat langit dan melecehkan dan menjauhi dari kurnia, rahmat dan kenikmatan dan nasihat serta cahaya yang terang benderang. Sungguh merugi umat manusia yang seperti itu! .. betapa sengsara apa yang dilakukan oleh manusia seperti itu; kesengsaraan dan penderitaan, sekiranya mereka tetap berada dalam keadaan seperti itu dan tidak mahu merespon seruan Allah dan Rasul-Nya…!!

“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Thaha:124)

Darah para syuhada adalah simbol kesedaran umat
Wahai umat Islam..
Janganlah kalian merasa bangga dengan darah yang mengalir di jalan untuk membela kebenaran dan melakukan perlawanan terhadap penjajahan, begitu pula dengan pengorbanan yang diberikan dalam menghentikan kerosakan moral, sosial dan ekonomi… kerana yang demikian adalah kecil di hadapan tujuan yang sangat mulia dan ganjaran yang besar.

Maka dari itu, berjihad dan berjihadlah wahai umat Islam, kerana yang demikian merupakan perniagaan yang dapat menyelamatkan diri dari azab Allah, mendekat dari nikmat Allah dan mewujudkan pertolongan Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (iaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (iaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (As-Shaff:10-13)

Perbaikilah dirimu terlebih dahulu lalu serulah orang lain
Bahawa tugas kita - sebagai umat Islam - selama di tangan ada cahaya yang terang dan sebotol ubat untuk dapat mengubati diri dan menyeru orang lain. Dan Ikhwanul Muslimin pertama kali yang dituju dalam pembinaannya adalah mendidik diri terlebih dahulu, memperbaharui ruh, memperteguh dan memperkokoh akhlaq serta menumbuhkan keberanian yang lurus dalam jiwa-jiwa umat, dan mereka meyakini bahawa hal tersebut merupakan titik awal yang akan mampu membangun kebangkitan umat dan bangsa…jika kita berhasil maka itulah yang kita inginkan, namun jika tidak maka kita serahkan seluruhnya kepada Allah dan kita telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan kita menginginkan kebaikan untuk manusia, dan kita tidak putus asa melakukan perbaikan atau berhenti dalam menyebarkan risalah Rasulullah saw sehingga tidak memiliki sama sekali pengaruh, namun dengan pengorbanan yang besar dan darah yang banyak, cukuplah bagi para pembawa risalah mendapatkan faktor-faktor keberhasilan. Dengannya mereka beriman, sehingga mengikhlaskan diri dalam berjuang dan di jalannya mereka berjihad, sementara waktu telah menunggunya dan dunia selalu memantaunya…

“… Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (At-Taubah:94)

Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.

Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mantan Mursyid Am Ikhwanul Muslimin 7
Terjemahan: Abu Ahmad



Wednesday, February 24, 2010


Umar bin Khatthob RH mengatakan:

“Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun cara kita mencari kemuliaan tanpa Islam maka Allah akan tetap menjadikannya sebagai kehinaan.”

Bilakah Umar mengucapkan ungkapan ini? Bilakah Umar menyusun perkataan ini?

Umar mengatakan ini pada ketika yang agung dan pada satu waktu yang mulia dalam Islam. Beliau mengatakan ini ketika beliau berangkat untuk membuka Baitul Maqdis, untuk mengambil kunci-kunci Baitul maqdis yang telah kita abaikan kerana kita mengabaikan Islam.

Umar berangkat ke sana untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis. Kemudian orang-orang Nashara mendengar kedatangan Umar yang yang namanya telah menggoncang dunia, yang jika nama Umar disebut di majlis Kisra dan Kaisar, maka kedua raja ini hampir pengsan mendengarnya, kerana takut.

Umar yang tidur di pelepah kurma, tetapi hati para taghut yang berada di atas singgasana ketakutan. Umar yang hanya makan gandum, tetapi para bangsawan yang memiliki emas dan perak gemetar jika melihatnya. Umar yang jika berjalan di suatu jalan, maka syaitan akan memilih jalan lain. Umar yang sudah dikenal dikalangan muslimin Melayu, India, Iraq, Sudan, Andalus, dan akan dikenal dunia.

Ketika orang-orang Nashara mendengar Umar akan datang untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis, mereka keluar dengan jumlah yang sangat besar. Para wanita keluar di atap-atap rumah, anak-anak keluar di berbagai jalan dan lorong.

Sedangkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh tiga panglima, mereka keluar dalam konvoi pasukan yang belum pernah didengar dunia.

Bagaimana pengawal yang mengiringi Umar yang akan mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis ?

Tidak ada iring-iringan yang mengawal ! Orang-orang menyangka beliau akan datang dengan para pembesar sahabat, para pembesar Anshar dan Muhajirin dari para ulama dan orang-orang shalehnya.

Tetapi beliau datang hanya dengan menunggang satu unta dan ditemani seorang pembantunya. Kadang-kadang Umar yang menuntun unta dan pembantunya naik dan kadang-kadang Umar yang naik unta dan pembantunya yang menuntun !

Ketika mendekati Baitul Maqdis, para pejabat muslimin bertanya-tanya: “Siapa itu ? Mungkin salah seorang tentera yang datang untuk memberi tahu kedatangan Amirul Mukminin.

Ketika pasukan itu menghampiri, ternyata orang tersebut adalah Umar bin Khattob ! Ketika beliau sampai di Baitul Maqdis, tiba giliran beliau menuntun unta dan pembantunya yang berada di atas unta.

Amr bin Ash mengatakan: “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang menanti kehadiran anda, penghuni dunia keluar untuk menyambut kehadiran anda dan orang-orang mendengar tentang anda tetapi anda datang dengan penampilan seperti ini ?”

Kemudian Umar mengatakan perkataannya yang sangat terkenal, yang tetap diingat sepanjang masa: “Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Taala berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun juga jika kita mencari kejayaan dengan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.”

Kita membangun peradaban kita daripada tidak ada apa-apa dengan satu modal;

Laa ilaaha illallaah.

Tiada Kemuliaan Tanpa Islam


Umar bin Khatthob RH mengatakan:

“Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun cara kita mencari kemuliaan tanpa Islam maka Allah akan tetap menjadikannya sebagai kehinaan.”

Bilakah Umar mengucapkan ungkapan ini? Bilakah Umar menyusun perkataan ini?

Umar mengatakan ini pada ketika yang agung dan pada satu waktu yang mulia dalam Islam. Beliau mengatakan ini ketika beliau berangkat untuk membuka Baitul Maqdis, untuk mengambil kunci-kunci Baitul maqdis yang telah kita abaikan kerana kita mengabaikan Islam.

Umar berangkat ke sana untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis. Kemudian orang-orang Nashara mendengar kedatangan Umar yang yang namanya telah menggoncang dunia, yang jika nama Umar disebut di majlis Kisra dan Kaisar, maka kedua raja ini hampir pengsan mendengarnya, kerana takut.

Umar yang tidur di pelepah kurma, tetapi hati para taghut yang berada di atas singgasana ketakutan. Umar yang hanya makan gandum, tetapi para bangsawan yang memiliki emas dan perak gemetar jika melihatnya. Umar yang jika berjalan di suatu jalan, maka syaitan akan memilih jalan lain. Umar yang sudah dikenal dikalangan muslimin Melayu, India, Iraq, Sudan, Andalus, dan akan dikenal dunia.

Ketika orang-orang Nashara mendengar Umar akan datang untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis, mereka keluar dengan jumlah yang sangat besar. Para wanita keluar di atap-atap rumah, anak-anak keluar di berbagai jalan dan lorong.

Sedangkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh tiga panglima, mereka keluar dalam konvoi pasukan yang belum pernah didengar dunia.

Bagaimana pengawal yang mengiringi Umar yang akan mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis ?

Tidak ada iring-iringan yang mengawal ! Orang-orang menyangka beliau akan datang dengan para pembesar sahabat, para pembesar Anshar dan Muhajirin dari para ulama dan orang-orang shalehnya.

Tetapi beliau datang hanya dengan menunggang satu unta dan ditemani seorang pembantunya. Kadang-kadang Umar yang menuntun unta dan pembantunya naik dan kadang-kadang Umar yang naik unta dan pembantunya yang menuntun !

Ketika mendekati Baitul Maqdis, para pejabat muslimin bertanya-tanya: “Siapa itu ? Mungkin salah seorang tentera yang datang untuk memberi tahu kedatangan Amirul Mukminin.

Ketika pasukan itu menghampiri, ternyata orang tersebut adalah Umar bin Khattob ! Ketika beliau sampai di Baitul Maqdis, tiba giliran beliau menuntun unta dan pembantunya yang berada di atas unta.

Amr bin Ash mengatakan: “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang menanti kehadiran anda, penghuni dunia keluar untuk menyambut kehadiran anda dan orang-orang mendengar tentang anda tetapi anda datang dengan penampilan seperti ini ?”

Kemudian Umar mengatakan perkataannya yang sangat terkenal, yang tetap diingat sepanjang masa: “Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Taala berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun juga jika kita mencari kejayaan dengan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.”

Kita membangun peradaban kita daripada tidak ada apa-apa dengan satu modal;

Laa ilaaha illallaah.

Tuesday, February 23, 2010


Alhamdulillah pada Ahad, 14 Feb yang lepas, penulis telah bertemu dengan tokoh muda sang da'ie dan penulis novel Islami yang luarbiasa, Ustaz Habiburrahman el-Shirazy, kebetulan beliau berada di Kota Bharu menjayakan jemputan program anjuran Kerajaan Negeri Kelantan. Penulis sempat menghadiri Kuliah Maghrib beliau di Masjid Kubang Kerian, beliau bicara persoalan CINTA kepada Rasulullah saw. Walaupun kisah sejarah kecintaan Bilal B Rabah pada Rasulullah saw sering penulis semak dan baca, namun keikhlasan dan keindahan bicara Habiburrahman el-Shirazy dalam menyampaikan kembali kisah ini telah menyebabkan penulis menitiskan air mata kerana terasa amat rindu pada Rasulullah saw.

Jadual Habiburrahman el-Shirazy di Kelantan amat padat, alhamdulillah, beliau menjemput penulis bersilaturrahim pada pagi Isnin selepas Kuliah Subuh beliau di tempat beliau menginap. Kami berbicara beberapa perkara. Beliau seorang yang amat bersungguh dalam kerja-kerja dakwahnya. Ternyata beliau adalah seorang "fulltime da'ie" Hidupnya penuh dengan dakwah dan kecintaan kepada ilmu. Beliau amat meminati bidang penulisan dan ternyata novel-novel beliau amat luarbiasa. Dakwah beliau bukan sekadar untuk Indonesia, tetapi sampai ke Jerman, Yaman, Brunei, Malaysia, Taiwan dan di beberapa buah negara lagi. Beliau juga sibuk dengan mempromosikan Filem Ketika Cinta Bertasbih. Beliau juga akan mula menyiapkan Siri Drama KCB untuk episod di sepanjang Ramadhan kelak.


Habiburrahman el-Shirazy, anda amat luarbiasa. Hidup beliau bukan sekadar dalam dunia penulisan dan perfileman Islami, beliau juga sibuk menguruskan pesantren beliau di Jawa, dan sibuk mengisi jemputan ceramah dan pembentangan kertas kerja samada di Indonesia, mahupun di peringkat antarabangsa.

Mengkagumkan, beliau adalah sebaya dengan penulis, namun sikap dan kesungguhan beliau yang luarbiasa, dakwah beliau benar-benar dirasai ke mana sahaja beliau pergi. Semoga beliau istiqamah, thabat dan menjadi model kepada generasi muda untuk mengikuti jejak luarbiasa beliau dalam membumikan dakwah tercinta ini.

Bertaaruf Bersama Habiburrahman el-Shirazy


Alhamdulillah pada Ahad, 14 Feb yang lepas, penulis telah bertemu dengan tokoh muda sang da'ie dan penulis novel Islami yang luarbiasa, Ustaz Habiburrahman el-Shirazy, kebetulan beliau berada di Kota Bharu menjayakan jemputan program anjuran Kerajaan Negeri Kelantan. Penulis sempat menghadiri Kuliah Maghrib beliau di Masjid Kubang Kerian, beliau bicara persoalan CINTA kepada Rasulullah saw. Walaupun kisah sejarah kecintaan Bilal B Rabah pada Rasulullah saw sering penulis semak dan baca, namun keikhlasan dan keindahan bicara Habiburrahman el-Shirazy dalam menyampaikan kembali kisah ini telah menyebabkan penulis menitiskan air mata kerana terasa amat rindu pada Rasulullah saw.

Jadual Habiburrahman el-Shirazy di Kelantan amat padat, alhamdulillah, beliau menjemput penulis bersilaturrahim pada pagi Isnin selepas Kuliah Subuh beliau di tempat beliau menginap. Kami berbicara beberapa perkara. Beliau seorang yang amat bersungguh dalam kerja-kerja dakwahnya. Ternyata beliau adalah seorang "fulltime da'ie" Hidupnya penuh dengan dakwah dan kecintaan kepada ilmu. Beliau amat meminati bidang penulisan dan ternyata novel-novel beliau amat luarbiasa. Dakwah beliau bukan sekadar untuk Indonesia, tetapi sampai ke Jerman, Yaman, Brunei, Malaysia, Taiwan dan di beberapa buah negara lagi. Beliau juga sibuk dengan mempromosikan Filem Ketika Cinta Bertasbih. Beliau juga akan mula menyiapkan Siri Drama KCB untuk episod di sepanjang Ramadhan kelak.


Habiburrahman el-Shirazy, anda amat luarbiasa. Hidup beliau bukan sekadar dalam dunia penulisan dan perfileman Islami, beliau juga sibuk menguruskan pesantren beliau di Jawa, dan sibuk mengisi jemputan ceramah dan pembentangan kertas kerja samada di Indonesia, mahupun di peringkat antarabangsa.

Mengkagumkan, beliau adalah sebaya dengan penulis, namun sikap dan kesungguhan beliau yang luarbiasa, dakwah beliau benar-benar dirasai ke mana sahaja beliau pergi. Semoga beliau istiqamah, thabat dan menjadi model kepada generasi muda untuk mengikuti jejak luarbiasa beliau dalam membumikan dakwah tercinta ini.

Tuesday, February 16, 2010


Mengapakah cinta yang diikrarkan oleh kita sebagai muslim terhadap Rabbnya hari ini semakin hambar dan kehilangan momentumnya? Mengapakah kata-kata cinta seorang muslim kepada Allah, Rasul-Nya dan Islam kini hanya tinggal slogan-slogan yang kosong tidak punya roh lagi?

Cinta ada tanda dan buktinya. Tak percaya, cuba tanya kepada mereka yang sedang kemaruk bercinta. Bercinta dengan siapa, entahlah, cubalah tanya kepada mereka... Namun hakikatnya, jika anda bertanyakan kepada kelompok yang sedang bercinta sesama manusia, dengan mereka yang menagih cintanya Allah dan cintanya kepada Rasulullah, anda akan menemui tanda-tanda yang jelas pada dua golongan ini, yang hanya terjadi pada orang yang sedang bercinta.

1. Asyik mengingati dan menyebut mahbut (kekasihnya)
Seorang manusia yang sedang mencintai sesuatu pasti tidak akan terlepaskan kecintaannya dari alam ingatannya barang sejenak. Ketika makan, minum, berpakaian, berjalan, sedang berkawan, atau sendirian, dia akan selalu mengingati dan menyebutnya. Dengan teknologi yang canggih, orang sedang bercinta dengan mudah mengirimkan pesanan cintanya kepada orang yang diingati selalu, melalui sms, mms, email, chatting, facebook dan lain-lain lagi.

Sebab itulah kalau kita perhatikan kelompok manusia, samada remaja, belia, mahasiwa mahupun yang sudah berusia yang terjebak ”couple” dengan bukan muhrimnya, jiwa dan pemikiran mereka asyik dengan kekasihnya.

Begitu juga pasangan bahagia yang telah berumahtangga, sang suami pasti akan sentiasa mengenang dan merindui isteri tercinta, sang isteri juga melimpah ingatannya kepada suami yang dikasihi.

Itulah impak cinta sesama manusia. Bagaimana pula hubungan cinta antara seorang hamba dengan Penciptanya? Bukankah seharusnya ingatan dia kepada Allah lebih tinggi kadarnya dari ingatan cinta sesama manusia? Inilah yang digambarkan Allah dalam Al Quran:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (iaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (‘Ali Imran: 190-191)

Allah juga memerintahkan dalam Al Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan sebutan yang sebanyak-banyaknya.” (Al-Ahzab: 41)

Persoalannya, sebagai muslim, apakah kita banyak mengingati Allah atau sebaliknya? Cinta kita yang mana yang lebih besar, cintanya Allah atau cinta manusia?
Yang mana lebih banyak yang kita ingat? Dan penulis yakin kepada mereka yang sedang bercinta secara “haram”, sudah tentu masa anda sedang mencintai, anda tidak ingat kepada Allah, sebaliknya anda hanya ingat kepada orang yang anda sudah jatuh cinta. Barulah penulis faham, mengapa kalangan remaja, belia dan mahasiswa yang terjebak dengan cinta “haram” berdepan dengan banyak masalah, kerana ketika mereka sedang bercinta, Allah tiada dalam ingatannya. Tak percaya, cubalah tanya kepada mereka.

Couple Islami?
Ada juga golongan ini yang menjawab kepada penulis, kami bercinta tiada apa-apa masalahpun, ok aje. Waktu sembahyang kami sembahyang. Waktu study kami study. Erm.. couple islami. Kami ingat Allah apa!

Bagus juga pasangan couple islami ni ya. Berjaya menemui formula menghalalkan cinta mereka. Mengapa mereka mencari formula ini? Inilah penangan cinta. Ketiak sudah jatuh cinta, mereka tidak mampu melupakan kekasih hati mereka. Apabila sudah kemaruk bercinta, ia akan mencari jalan menghalalkan cinta mereka, hatta mereka sanggup mengatakan bahawa mereka tetap mencintai Allah, mereka tetap ingat kepada Allah, walaupun ketika sedang ’dating”.

Cinta Palsu
Ketahuilah bahawa, cinta tidak cukup hanya dengan diucap. Orang yang berani mengucap kata cinta tetapi kenyataannya tidak pernah mengingat dan menyebut-nyebut kekasihnya dengan hati yang ikhlas, ini adalah cinta palsu.

Firman Allah swt:

”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk solat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya’ (dengan solat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (An-Nisa’: 142)

MasyaAllah, dalam ayat ini, Allah menyebut sebagai munafik kepada golongan yang hanya sedikit mengingati Allah, bagaimana pula yang tidak mengingati Allah?

Kepada yang berpegang kepada istilah ”couple islami”, dan rasa tidak bersalah ketika bercouple, apakah benar-benar ketika kita bercouple kita asyik ingat Allah? Apakah benar ketika kita solat, kita ingat kepada Allah, atau jangan-jangan yang terbayang di benak pemikiran kita bukannya Allah, tetapi si dia pujaan hati.

Krisis Cinta Palsu
Sebenarnya, ramai remaja, belia dan mahasiswa Islam berhadapan dengan krisis cinta kerana gejolak hawa nafsu. Cinta palsu menyebabkan kita sedikit mengingati allah bahkan terkadang menyebabkan kita lupa kepada Allah, lalu berlakulah zina. Kemudian terjadilah mengandung luar nikah. Kemudian muncullah gejala buang dan bakar bayi. Inilah akibatnya krisis cinta palsu.

Bersambung....

Bicara CINTA (1)


Mengapakah cinta yang diikrarkan oleh kita sebagai muslim terhadap Rabbnya hari ini semakin hambar dan kehilangan momentumnya? Mengapakah kata-kata cinta seorang muslim kepada Allah, Rasul-Nya dan Islam kini hanya tinggal slogan-slogan yang kosong tidak punya roh lagi?

Cinta ada tanda dan buktinya. Tak percaya, cuba tanya kepada mereka yang sedang kemaruk bercinta. Bercinta dengan siapa, entahlah, cubalah tanya kepada mereka... Namun hakikatnya, jika anda bertanyakan kepada kelompok yang sedang bercinta sesama manusia, dengan mereka yang menagih cintanya Allah dan cintanya kepada Rasulullah, anda akan menemui tanda-tanda yang jelas pada dua golongan ini, yang hanya terjadi pada orang yang sedang bercinta.

1. Asyik mengingati dan menyebut mahbut (kekasihnya)
Seorang manusia yang sedang mencintai sesuatu pasti tidak akan terlepaskan kecintaannya dari alam ingatannya barang sejenak. Ketika makan, minum, berpakaian, berjalan, sedang berkawan, atau sendirian, dia akan selalu mengingati dan menyebutnya. Dengan teknologi yang canggih, orang sedang bercinta dengan mudah mengirimkan pesanan cintanya kepada orang yang diingati selalu, melalui sms, mms, email, chatting, facebook dan lain-lain lagi.

Sebab itulah kalau kita perhatikan kelompok manusia, samada remaja, belia, mahasiwa mahupun yang sudah berusia yang terjebak ”couple” dengan bukan muhrimnya, jiwa dan pemikiran mereka asyik dengan kekasihnya.

Begitu juga pasangan bahagia yang telah berumahtangga, sang suami pasti akan sentiasa mengenang dan merindui isteri tercinta, sang isteri juga melimpah ingatannya kepada suami yang dikasihi.

Itulah impak cinta sesama manusia. Bagaimana pula hubungan cinta antara seorang hamba dengan Penciptanya? Bukankah seharusnya ingatan dia kepada Allah lebih tinggi kadarnya dari ingatan cinta sesama manusia? Inilah yang digambarkan Allah dalam Al Quran:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (iaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (‘Ali Imran: 190-191)

Allah juga memerintahkan dalam Al Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan sebutan yang sebanyak-banyaknya.” (Al-Ahzab: 41)

Persoalannya, sebagai muslim, apakah kita banyak mengingati Allah atau sebaliknya? Cinta kita yang mana yang lebih besar, cintanya Allah atau cinta manusia?
Yang mana lebih banyak yang kita ingat? Dan penulis yakin kepada mereka yang sedang bercinta secara “haram”, sudah tentu masa anda sedang mencintai, anda tidak ingat kepada Allah, sebaliknya anda hanya ingat kepada orang yang anda sudah jatuh cinta. Barulah penulis faham, mengapa kalangan remaja, belia dan mahasiswa yang terjebak dengan cinta “haram” berdepan dengan banyak masalah, kerana ketika mereka sedang bercinta, Allah tiada dalam ingatannya. Tak percaya, cubalah tanya kepada mereka.

Couple Islami?
Ada juga golongan ini yang menjawab kepada penulis, kami bercinta tiada apa-apa masalahpun, ok aje. Waktu sembahyang kami sembahyang. Waktu study kami study. Erm.. couple islami. Kami ingat Allah apa!

Bagus juga pasangan couple islami ni ya. Berjaya menemui formula menghalalkan cinta mereka. Mengapa mereka mencari formula ini? Inilah penangan cinta. Ketiak sudah jatuh cinta, mereka tidak mampu melupakan kekasih hati mereka. Apabila sudah kemaruk bercinta, ia akan mencari jalan menghalalkan cinta mereka, hatta mereka sanggup mengatakan bahawa mereka tetap mencintai Allah, mereka tetap ingat kepada Allah, walaupun ketika sedang ’dating”.

Cinta Palsu
Ketahuilah bahawa, cinta tidak cukup hanya dengan diucap. Orang yang berani mengucap kata cinta tetapi kenyataannya tidak pernah mengingat dan menyebut-nyebut kekasihnya dengan hati yang ikhlas, ini adalah cinta palsu.

Firman Allah swt:

”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk solat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya’ (dengan solat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (An-Nisa’: 142)

MasyaAllah, dalam ayat ini, Allah menyebut sebagai munafik kepada golongan yang hanya sedikit mengingati Allah, bagaimana pula yang tidak mengingati Allah?

Kepada yang berpegang kepada istilah ”couple islami”, dan rasa tidak bersalah ketika bercouple, apakah benar-benar ketika kita bercouple kita asyik ingat Allah? Apakah benar ketika kita solat, kita ingat kepada Allah, atau jangan-jangan yang terbayang di benak pemikiran kita bukannya Allah, tetapi si dia pujaan hati.

Krisis Cinta Palsu
Sebenarnya, ramai remaja, belia dan mahasiswa Islam berhadapan dengan krisis cinta kerana gejolak hawa nafsu. Cinta palsu menyebabkan kita sedikit mengingati allah bahkan terkadang menyebabkan kita lupa kepada Allah, lalu berlakulah zina. Kemudian terjadilah mengandung luar nikah. Kemudian muncullah gejala buang dan bakar bayi. Inilah akibatnya krisis cinta palsu.

Bersambung....

Friday, February 12, 2010


Salam..

Hujung minggu ini penulis akan berada di luar kawasan liputan..
Ada 4 program:

1. 13 Feb 2010 (Sabtu) - TOT Guru-Guru HALUAN Nasional di Kolej Teknologi Darulnaim

2. 13 - 15 Feb - Kem Kepimpinan Pelajar SMK Long Gafar, K.Bharu di Kem Jeram Mengaji P.Puteh

3. 13 - 14 Feb - Kem Kepimpinan Pelajar SMU (A) Deeniah Permatang Rambai di Tok Bali Bachok

4. 13 - 15 Feb - Kem Kepimpinan Persatuan Kebajikan Pelajar Sabah / Sarawak (PERKEMASS) KTD di Kem Sri Pantai Bachok

Pada kali ini seronok sikit kerana ramai fasilitator dari HALUANSiswa Kelantan membantu, kebetulan pelajar KTD bercuti semester.
Semoga Allah permudahkan.

'Mengaji Pandai, Perangai Jurus(Baik), Hidup Biar Boleh Tumpang"


Minggu Yang Sibuk


Salam..

Hujung minggu ini penulis akan berada di luar kawasan liputan..
Ada 4 program:

1. 13 Feb 2010 (Sabtu) - TOT Guru-Guru HALUAN Nasional di Kolej Teknologi Darulnaim

2. 13 - 15 Feb - Kem Kepimpinan Pelajar SMK Long Gafar, K.Bharu di Kem Jeram Mengaji P.Puteh

3. 13 - 14 Feb - Kem Kepimpinan Pelajar SMU (A) Deeniah Permatang Rambai di Tok Bali Bachok

4. 13 - 15 Feb - Kem Kepimpinan Persatuan Kebajikan Pelajar Sabah / Sarawak (PERKEMASS) KTD di Kem Sri Pantai Bachok

Pada kali ini seronok sikit kerana ramai fasilitator dari HALUANSiswa Kelantan membantu, kebetulan pelajar KTD bercuti semester.
Semoga Allah permudahkan.

'Mengaji Pandai, Perangai Jurus(Baik), Hidup Biar Boleh Tumpang"


Thursday, February 11, 2010


5. Tabiat Jalan Dakwah

a. Jalan dakwah tidak ditaburi dengan bunga-bungaan, bahkan dipenuhi dengan berbagai kesukaran serta panjang pula perjalanannya.

b. Pertembungan antara haq dan batil sentiasa berlaku dalam perjalanan yang menuntut kesabaran, pengorbanan, tanpa tergesa-gesa untuk melihat natijah, juga tidak berputus asa.

c. Perkara yang dituntut dan menjadi kewajipan ialah usaha dan amal mengikut syarak, manakala hasil atau natijah ditentukan Allah s.w.t pada masa yang telah ditentukan dan dalam bentuk yang dikehendakiNya. Kemungkinan juga kita tidak sempat melihat hasilnya dalam masa hayat kita. Kita sedar bahawa manusia itu dihisab amalan dan usahanya dan bukannya natijah / hasil pada hari qiamat nanti.

d. Peraturan Allah juga menentukan bahawa jalan iman ada ujiannya. Ujian tersebut terdapat dalam dua bentuk:

i. Bentuk tawaran-tawaran yang baik.

ii. Bentuk tekanan , penindasan, sekatan dan sebagainya.

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (Surah al Anbiya’ : 35)


Generasi Islam awal telah menempuh berbagai ujian di dalam jalan dakwah, tetapi tidak melemahkan keimanan dan perjuangan mereka.

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

"Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Surah ali Imran : 146 – 148)


6. ‘Aqabat Di Jalan Dakwah


Para dai’e perlu memahami bahawa dalam jalan dakwah terdapat berbagai ‘aqabat yang mungkin menyebabkan seseorang dai’e itu mengundurkan diri atau meninggalkan kerja-kerja dakwah. Antara sebab-sebabnya ialah :

a. Kurangnya sambutan orang ramai terhadap dakwahnya.

b. Ejekan dan tekanan-tekanan pihak-pihak yang memusuhi Islam.

c. Kelonggaran dan keselesaan yang diperolehi seseorang dai’e selepas menghadapi tekanan dan penindasan.

d. Terpesona dengan jawatan dan sumber-sumber pendapatan rezeki tanpa menyedari bahawa jawatan dan sumber-sumber pendapatan itu adalah wasilah untuk membantu mencapai matlamat sebenarnya.

e. Perubahan dari alam remaja kepada alam perkahwinan serta penumpuan sepenuhnya kepada keluarga dan anak pinak semata-mata.

f. Kekerasan hati yang tidak terus menerus diproses dengan didikan keimanan.


7. Keperluan Dakwah Kepada Tarbiyah Dan Takwin

Dakwah Islam tidak seharusnya terbatas sekadar menyampaikan kesedaran Islam kepada masyarakat umum. Bahkan ia perlu diikuti dengan Marhalah Tarbiyah dan Takwin bagi melahirkan ‘amilin dan para mujahid Islam. Merekalah yang akanterus menyambung kerja-kerja Islam dengan penuh rasa mas’uliyah terhadap Allah s.w.t semata-mata serta tamak kepada keredhaan Allah s.w.t sahaja. ‘Amilin dan para mujahid yang demikian tidak lahir melainkan melalui proses tarbawi syarie dalam usrah, tamrin m katibah, rehlah, mukhayyamn, dawrah , dadwah dan sebagainya.
Semuanya dilaksanakan dalam bentuk tarbawi. Individu-individu yang terdidik dengan tarbiyah imaniyah itu disifatkan sebagai batu bata asas yang kukuh bagi membangunkan bayt al Muslim ( بيت المسلم ), mujtama’ Muslim ( مجتمأ مسلم ) dan seterusnya Dawlah Muslimah (د و لة ) dengan izin Allah s.w.t.

Jika diabaikan tarbiyah tersebut maka dianggap berlaku kelemahan pada asas dan tapaknya. Sesebuah binaan yang lemah tapaknya lambat laun akan menghadapi keruntuhan. Dalam dakwah Islam , jika diabaikan tarbiyah maka mungkin akan berlaku kemerosotan mustawa shakhsiyah para anggota jamaan Islam dan membawa kepada terabainya mas’uliyah dan mungkin timbul berbagai masalah dan perselisihan yang merencatkan kerja-kerja dakwah.

Oleh itu , proses tarbiyah adalah perlu berjalan terus menerus. Iman boleh bertambah dan boleh pula berkurangan dan juga luntur seperti lunturnya pakaian. Maka ia perlu diperbaharui selalu.

8. Sifat-sifat Mulia Para Dai’e

Antara perkara penting yang menjamin penerusan dan keberkesanan dakwah ialah sifat dai’e itu sendiri. Para dai’e perlu memiliki sifat-sifat mulia ( as Sifat al Mahmudah) seperti ikhlas, tawadu’, lemah lembut (lin), manis muka, penyantun (hilm), sabar, berlapang dada (salamat al sadr) dan sebagainya.

Sebaliknya sifat-sifat keji ( al Sifat al Mazmumah) hendaklah dibuang seperti riya’, takabbur, ‘ujub, hasad dengki, dusta, khiayanat dan sebagainya.


9. Tawaran Dan Janji-janji Allah s.w.t

Kita seharusnya yakin kepada tawaran dan janji-janji Allah s.w.t kepada para dai’e dan mujahid Islam yang bersedia mewaqafkan hidup mereka untuk khidmat kepada Islam serta mencurahkan tadhiyah (pengorbanan) mereka kepada jalan Allah s.w.t. Antara tawaran dan janji-janji Allah s.w.t itu telah ditegaskan di dalam al Quran al Karim.

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (Surah as Saff : 10 – 13)

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."(Surah at Taubah : 111)


10. Penutup

Marilah kita menggembeling tenaga untuk berdakwah kepada Deen Allah s.w.t., berjihad dan mencurahkan segala pengorbanan (al tadhiyah) di atas jalanNya. Kita diarahkan untuk bekerja di dalam satu saff, dalam bentuk jama’ie , yang tersusun rapi laksana binaan yang tersusun kukuh. Allah s.w.t amat cinta kepada mereka yang berbuat demikian.

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Surah as Saff : 4)


Panduan Ringkas Kewajipan Berdakwah (2)


5. Tabiat Jalan Dakwah

a. Jalan dakwah tidak ditaburi dengan bunga-bungaan, bahkan dipenuhi dengan berbagai kesukaran serta panjang pula perjalanannya.

b. Pertembungan antara haq dan batil sentiasa berlaku dalam perjalanan yang menuntut kesabaran, pengorbanan, tanpa tergesa-gesa untuk melihat natijah, juga tidak berputus asa.

c. Perkara yang dituntut dan menjadi kewajipan ialah usaha dan amal mengikut syarak, manakala hasil atau natijah ditentukan Allah s.w.t pada masa yang telah ditentukan dan dalam bentuk yang dikehendakiNya. Kemungkinan juga kita tidak sempat melihat hasilnya dalam masa hayat kita. Kita sedar bahawa manusia itu dihisab amalan dan usahanya dan bukannya natijah / hasil pada hari qiamat nanti.

d. Peraturan Allah juga menentukan bahawa jalan iman ada ujiannya. Ujian tersebut terdapat dalam dua bentuk:

i. Bentuk tawaran-tawaran yang baik.

ii. Bentuk tekanan , penindasan, sekatan dan sebagainya.

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (Surah al Anbiya’ : 35)


Generasi Islam awal telah menempuh berbagai ujian di dalam jalan dakwah, tetapi tidak melemahkan keimanan dan perjuangan mereka.

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

"Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Surah ali Imran : 146 – 148)


6. ‘Aqabat Di Jalan Dakwah


Para dai’e perlu memahami bahawa dalam jalan dakwah terdapat berbagai ‘aqabat yang mungkin menyebabkan seseorang dai’e itu mengundurkan diri atau meninggalkan kerja-kerja dakwah. Antara sebab-sebabnya ialah :

a. Kurangnya sambutan orang ramai terhadap dakwahnya.

b. Ejekan dan tekanan-tekanan pihak-pihak yang memusuhi Islam.

c. Kelonggaran dan keselesaan yang diperolehi seseorang dai’e selepas menghadapi tekanan dan penindasan.

d. Terpesona dengan jawatan dan sumber-sumber pendapatan rezeki tanpa menyedari bahawa jawatan dan sumber-sumber pendapatan itu adalah wasilah untuk membantu mencapai matlamat sebenarnya.

e. Perubahan dari alam remaja kepada alam perkahwinan serta penumpuan sepenuhnya kepada keluarga dan anak pinak semata-mata.

f. Kekerasan hati yang tidak terus menerus diproses dengan didikan keimanan.


7. Keperluan Dakwah Kepada Tarbiyah Dan Takwin

Dakwah Islam tidak seharusnya terbatas sekadar menyampaikan kesedaran Islam kepada masyarakat umum. Bahkan ia perlu diikuti dengan Marhalah Tarbiyah dan Takwin bagi melahirkan ‘amilin dan para mujahid Islam. Merekalah yang akanterus menyambung kerja-kerja Islam dengan penuh rasa mas’uliyah terhadap Allah s.w.t semata-mata serta tamak kepada keredhaan Allah s.w.t sahaja. ‘Amilin dan para mujahid yang demikian tidak lahir melainkan melalui proses tarbawi syarie dalam usrah, tamrin m katibah, rehlah, mukhayyamn, dawrah , dadwah dan sebagainya.
Semuanya dilaksanakan dalam bentuk tarbawi. Individu-individu yang terdidik dengan tarbiyah imaniyah itu disifatkan sebagai batu bata asas yang kukuh bagi membangunkan bayt al Muslim ( بيت المسلم ), mujtama’ Muslim ( مجتمأ مسلم ) dan seterusnya Dawlah Muslimah (د و لة ) dengan izin Allah s.w.t.

Jika diabaikan tarbiyah tersebut maka dianggap berlaku kelemahan pada asas dan tapaknya. Sesebuah binaan yang lemah tapaknya lambat laun akan menghadapi keruntuhan. Dalam dakwah Islam , jika diabaikan tarbiyah maka mungkin akan berlaku kemerosotan mustawa shakhsiyah para anggota jamaan Islam dan membawa kepada terabainya mas’uliyah dan mungkin timbul berbagai masalah dan perselisihan yang merencatkan kerja-kerja dakwah.

Oleh itu , proses tarbiyah adalah perlu berjalan terus menerus. Iman boleh bertambah dan boleh pula berkurangan dan juga luntur seperti lunturnya pakaian. Maka ia perlu diperbaharui selalu.

8. Sifat-sifat Mulia Para Dai’e

Antara perkara penting yang menjamin penerusan dan keberkesanan dakwah ialah sifat dai’e itu sendiri. Para dai’e perlu memiliki sifat-sifat mulia ( as Sifat al Mahmudah) seperti ikhlas, tawadu’, lemah lembut (lin), manis muka, penyantun (hilm), sabar, berlapang dada (salamat al sadr) dan sebagainya.

Sebaliknya sifat-sifat keji ( al Sifat al Mazmumah) hendaklah dibuang seperti riya’, takabbur, ‘ujub, hasad dengki, dusta, khiayanat dan sebagainya.


9. Tawaran Dan Janji-janji Allah s.w.t

Kita seharusnya yakin kepada tawaran dan janji-janji Allah s.w.t kepada para dai’e dan mujahid Islam yang bersedia mewaqafkan hidup mereka untuk khidmat kepada Islam serta mencurahkan tadhiyah (pengorbanan) mereka kepada jalan Allah s.w.t. Antara tawaran dan janji-janji Allah s.w.t itu telah ditegaskan di dalam al Quran al Karim.

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (Surah as Saff : 10 – 13)

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."(Surah at Taubah : 111)


10. Penutup

Marilah kita menggembeling tenaga untuk berdakwah kepada Deen Allah s.w.t., berjihad dan mencurahkan segala pengorbanan (al tadhiyah) di atas jalanNya. Kita diarahkan untuk bekerja di dalam satu saff, dalam bentuk jama’ie , yang tersusun rapi laksana binaan yang tersusun kukuh. Allah s.w.t amat cinta kepada mereka yang berbuat demikian.

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Surah as Saff : 4)


This entry was posted in :

1. Maksud Dakwah

Dakwah kepada Allah s.w.t iaitu menyeru dan mengajak manusia kepada Deen Allah s.w.t, mengikuti hidayah Allah s.w.t, menjadikan Manhaj Allah atau Manhaj Rabbani sebagai ikutan dan beribadah dengan penuh ketaatan kepadaNya.


2. Hukum Berdakwah

Ia merupakan Taklif Rabbani dan wajib dilaksanakan dalam realiti Islam yang dagang hari ini. Realiti Islam yang dagang iaitu tidak ada dawlah dan tassawurnya tidak difahami oleh masyarakat Muslim dan dimusuhi.

Firman Allah s.w.t :



Bermaksud:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."(Surah ali Imran : 104)

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah. Dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (menganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum kerana merka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan perlanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa Nya." (Surah al Maaidah : 2)


Hadith Rasulullah s.a.w :

حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ *
Bermaksud:

Hadis Abu Said r.a: Diriwayatkan daripada Tariq bin Syihab r.a katanya: Orang pertama yang berkhutbah pada Hari Raya sebelum sembahyang Hari Raya didirikan ialah Marwan. Seorang lelaki berdiri lalu berkata kepadanya: Sembahyang Hari Raya hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah. Marwan menjawab: Sesungguhnya kamu telah meninggalkan apa yang ada di sana. Kemudian Abu Said berkata: Orang ini benar-benar telah membatalkan apa yang menjadi ketentuan kepadanya sedangkan beliau pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka dia hendaklah menegah kemungkaran itu dengan tangannya iaitu kuasanya. Jika tidak mampu, hendaklah ditegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah ditegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman


3. Mengapa Wajib Berdakwah


Antara sebabnya ialah:

a. Bagi menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat, mengeluarkan manusia daripada kesesatan kepada hidayah Allah s.w.t serta membersihkan manusia daripada najis syirik.





Firman Allah s.w.t :


Bermaksud:

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

(Surah al Anbiya’ : 107)

Firman Allah s.w.t :



Bermaksud:

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

(Surah Ibrahim : 1)


b. Agar kekufuran dan jahiliyah tidak berleluasa dan mempengaruhi jiwa masyarakat. Minimanya dapat melemahkan jahiliyah.

c. Agar terhindar daripada bala’ Allah s.w.t kerana bala’ datang secara menyeluruh dan mengenai semua orang, tidak hanya orang-orang yang durhaka kepada Allah s.w.t sahaja.

Firman Allah s.w.t :




Bermaksud:

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

(Surah al Anfal : 25)

4. Penglibatan Dalam Dakwah

a. Penglibatan berteraskan keImanan kepada Allah s.w.t ( intima’ ‘aqidi)

b. Penglibatan berteraskan sampai kembali ke rahmatullah ( intima’ masiri )

Sirah Rasulullah s.a.w dan para sahabatnya menjadi ikutan.

Panduan Ringkas Kewajipan Berdakwah (1)


1. Maksud Dakwah

Dakwah kepada Allah s.w.t iaitu menyeru dan mengajak manusia kepada Deen Allah s.w.t, mengikuti hidayah Allah s.w.t, menjadikan Manhaj Allah atau Manhaj Rabbani sebagai ikutan dan beribadah dengan penuh ketaatan kepadaNya.


2. Hukum Berdakwah

Ia merupakan Taklif Rabbani dan wajib dilaksanakan dalam realiti Islam yang dagang hari ini. Realiti Islam yang dagang iaitu tidak ada dawlah dan tassawurnya tidak difahami oleh masyarakat Muslim dan dimusuhi.

Firman Allah s.w.t :



Bermaksud:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."(Surah ali Imran : 104)

Firman Allah s.w.t :

Bermaksud:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah. Dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (menganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum kerana merka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan perlanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa Nya." (Surah al Maaidah : 2)


Hadith Rasulullah s.a.w :

حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ *
Bermaksud:

Hadis Abu Said r.a: Diriwayatkan daripada Tariq bin Syihab r.a katanya: Orang pertama yang berkhutbah pada Hari Raya sebelum sembahyang Hari Raya didirikan ialah Marwan. Seorang lelaki berdiri lalu berkata kepadanya: Sembahyang Hari Raya hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah. Marwan menjawab: Sesungguhnya kamu telah meninggalkan apa yang ada di sana. Kemudian Abu Said berkata: Orang ini benar-benar telah membatalkan apa yang menjadi ketentuan kepadanya sedangkan beliau pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka dia hendaklah menegah kemungkaran itu dengan tangannya iaitu kuasanya. Jika tidak mampu, hendaklah ditegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah ditegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman


3. Mengapa Wajib Berdakwah


Antara sebabnya ialah:

a. Bagi menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat, mengeluarkan manusia daripada kesesatan kepada hidayah Allah s.w.t serta membersihkan manusia daripada najis syirik.





Firman Allah s.w.t :


Bermaksud:

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

(Surah al Anbiya’ : 107)

Firman Allah s.w.t :



Bermaksud:

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

(Surah Ibrahim : 1)


b. Agar kekufuran dan jahiliyah tidak berleluasa dan mempengaruhi jiwa masyarakat. Minimanya dapat melemahkan jahiliyah.

c. Agar terhindar daripada bala’ Allah s.w.t kerana bala’ datang secara menyeluruh dan mengenai semua orang, tidak hanya orang-orang yang durhaka kepada Allah s.w.t sahaja.

Firman Allah s.w.t :




Bermaksud:

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

(Surah al Anfal : 25)

4. Penglibatan Dalam Dakwah

a. Penglibatan berteraskan keImanan kepada Allah s.w.t ( intima’ ‘aqidi)

b. Penglibatan berteraskan sampai kembali ke rahmatullah ( intima’ masiri )

Sirah Rasulullah s.a.w dan para sahabatnya menjadi ikutan.

This entry was posted in :

Wednesday, February 03, 2010

Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

There was an error in this gadget

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah