Monday, November 29, 2010

Raihlah keberkatan hidup disisi Allah SWT kerana hidup berkat akan sentiasa bercukupan dan kecukupan itu akan memperoleh keberkatan. Justeru itu kita selalu berdoa dan meminta orang lain mendoakan kita agar segala sesuatu yang kita miliki dan kita usahakan memperolehi keberkatan dari Allah SWT.

Dalam masyarakat kata “berkat”, “berkah”, atau “barakah” sudah tidak asing lagi. Kata barakah berasal dari bahasa Arab yang bererti tumbuh, berkembang, tetapnya sesuatu, kemudian ia bercabang, dan satu sama lain saling berdekatan. Secara terminologi kata berkah bererti “kebaikan yang bersumber dari Allah SWT yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya”.

Pasrah Kepada Allah
Sudahkah kita merasai keberkatan itu? Ramai orang yang meninggal dunia dalam keadaan kerugian sebelum tercapainya cita-cita yang diimpikan, tidak sempat untuk beramal kerana sibuk mengejar harta. Gemerlap dunia ibarat meminum air laut, semakin banyak diminum semakin menambah rasa haus dan tidak pernah merasa cukup terhadap apa yang sudah dimiliki.

Orang yang tidak pernah puas maka ia tidak akan pernah bahagia. Hidupnya menjadi tidak barakah disisi Allah SWT dan menderita. Namun orang yang merasa cukup dengan apa yang dimiliki maka Allah SWT memberikan kurnia-Nya yang melimpah.

“Barangsiapa yang memasrahkan keperluannya kepada Allah, niscaya Dia akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda kematiannya.” (HR. Ahmad).

Menurut Ath-Thabathaba’i, kebaikan yang bersumber dari Allah SAW itu muncul tanpa diduga dan tidak terhitung dalam sepanjang kehidupan, baik yang bersifat kebendaan mahupun berbentuk kerohanian. Keberkatan yang bersifat kebendaan itu akan bermuara juga kepada keberkatan dalam ketinggian kualiti spiritual dalam kehidupan yang mencintai akhirat.

Mulianya hidup tatkala kehidupan sentiasa diberkati Allah SWT. Bila hidup kita diberkati Allah SWT, kehidupan akan selalu merasa cukup dan bila kita merasa berkecukupan maka kita memperoleh keberkatan.

“Sesungguhnya Allah yang Maha Luas kurnia-NYa lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hambaNya dengan rezeki yang telah Dia berikan kepadanya. Barangsiapa yang redha dengan pemberian Allah maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rezeki untuknya dan barangsiapa yang tidak redha niscaya rezekinya tidak diberkahi.” (HR. Ahmad).

Kunci Keberkatan
Untuk meraih keberkatan dalam kehidupan, ada dua tuntutan syarat yang perlu kita laksanakan. Firman Allah SWT:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Al-A’raf:96).

Pertamanya, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya yang dikutip di dalam surah Al-A’raf, ayat 96. Ayat ini menunjukkan balasan Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yakni keberkatan dari langit dan bumi. Sebaliknya, ayat tersebut juga sekaligus menjadi penjelas bahawa orang yang kufur kepada Allah SWT, niscaya tidak akan pernah merasakan keberkatan dalam hidup.

Justeru bagi membina iman, kita perlu mentarbiyah hati kita dengan tarbiyah imaniyah. Bersihkan hati kita dari sebarang dosa dan noda. Bersihkan hati kita dari karat-karat jahiliyah yang akan menghitamkan hati kita lalu menjadi penghalang kepada hadirnya hidayah, petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Hati yang bersih akan menumbuhkan keimanan yang sebenar terhadap Allah SWT.

Kedua, amal soleh. Yang dimaksud dengan amal soleh ialah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan syariat yang diajarkan Rasulullah SAW. Firman Allah SWT:

“Demi malam apabila menutupi, dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya usaha kamu memang berbeza-beza. Adapun orang yang memberikan (harta di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah “(Al-Lail:1-7).


Iman dan Amal Soleh
Inilah hakikat kepentingan memiliki ketakwaan dan melaksanakan amal soleh yang menjadi prasyarat datangnya keberkatan sebagaimana ditegaskan Allah SWT di dalam Al Quran. Setelah kita berusaha untuk memenuhi prasyarat tersebut, maka berserahlah kepada Allah SWT. Firman Allah SWT:

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (ath-Thalaq, 65: 2-3)

Allah SWT juga menceritakan di dalam Al-Quran tentang Ahlul Kitab yang hidup pada zaman Nabi SAW, Allah SWT berfirman:

“Dan sekiranya mereka benar-benar menjalankan Taurat, Injil dan (al-Quran) yang diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka…” (Al-Ma’idah: 66).


Para ulama tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan “mendapatkan makanan dari atas dan dari bawah kaki”, ialah Allah SWT melimpahkan kepada mereka rezeki yang sangat banyak dari langit dan dari bumi, sehingga mereka akan mendapatkan kecukupan dan pelbagai kebaikan tanpa susah payah, letih, lesu, dan tanpa adanya tentangan atau pelbagai permasalahan yang mengganggu ketenteraman hidup mereka (Tafsir Ibnu Katsir, 2/76).

Menurut Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di, “Sekiranya mereka melaksanakan perintah-perintah Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya, seperti yang dianjurkan dan diperintahkan oleh Allah, dan termasuk perlaksanaannya adalah beriman kepada apa yang diserukan oleh Taurat dan Injil untuk beriman kepada Muhammad s.a.w. dan kepada al-Quran, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Yakni, Allah akan melimpahkan rezeki kepada mereka, langit dijadikan menurunkan hujan, bumi pula menumbuhkan tanaman.” (Rujuk: Tafsir as-Sa’di, jil. 2, m/s. 378-379)

Al-Quran Sumber Keberkatan
Semoga kita meraih keberkatan di sepanjang kehidupan kita. Tidak ada cara yang terbaik untuk kita beroleh keberkatan melainkan kita sentiasa merujuk kepada panduan terlengkap yang Allah SWT telah bekalkan kepada kita melalui Al Quran yang menajdi sumber keberkatan. Firman Allah SWT:

“Dan Al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya? (Al Anbiyaa':50)

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shaad:29).


Kini kunci meraih keberkatan dalan kehidupan telah terbongkar. Al Quran memandu kita agar berbekal dengan iman, taqwa dan amal soleh, insyaAllah kita akan meraih keberkatan. Firman Allah SWT:

“Sesiapa yang beramal soleh, dari lelaki atau perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan Dia dengan kehidupan yang baik; dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka, dengan memberikan pahala yang lebih dari apa yang mereka telah kerjakan.” (An-Nahl:97)

Meraih Keberkatan Dalam Kehidupan

Raihlah keberkatan hidup disisi Allah SWT kerana hidup berkat akan sentiasa bercukupan dan kecukupan itu akan memperoleh keberkatan. Justeru itu kita selalu berdoa dan meminta orang lain mendoakan kita agar segala sesuatu yang kita miliki dan kita usahakan memperolehi keberkatan dari Allah SWT.

Dalam masyarakat kata “berkat”, “berkah”, atau “barakah” sudah tidak asing lagi. Kata barakah berasal dari bahasa Arab yang bererti tumbuh, berkembang, tetapnya sesuatu, kemudian ia bercabang, dan satu sama lain saling berdekatan. Secara terminologi kata berkah bererti “kebaikan yang bersumber dari Allah SWT yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya”.

Pasrah Kepada Allah
Sudahkah kita merasai keberkatan itu? Ramai orang yang meninggal dunia dalam keadaan kerugian sebelum tercapainya cita-cita yang diimpikan, tidak sempat untuk beramal kerana sibuk mengejar harta. Gemerlap dunia ibarat meminum air laut, semakin banyak diminum semakin menambah rasa haus dan tidak pernah merasa cukup terhadap apa yang sudah dimiliki.

Orang yang tidak pernah puas maka ia tidak akan pernah bahagia. Hidupnya menjadi tidak barakah disisi Allah SWT dan menderita. Namun orang yang merasa cukup dengan apa yang dimiliki maka Allah SWT memberikan kurnia-Nya yang melimpah.

“Barangsiapa yang memasrahkan keperluannya kepada Allah, niscaya Dia akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda kematiannya.” (HR. Ahmad).

Menurut Ath-Thabathaba’i, kebaikan yang bersumber dari Allah SAW itu muncul tanpa diduga dan tidak terhitung dalam sepanjang kehidupan, baik yang bersifat kebendaan mahupun berbentuk kerohanian. Keberkatan yang bersifat kebendaan itu akan bermuara juga kepada keberkatan dalam ketinggian kualiti spiritual dalam kehidupan yang mencintai akhirat.

Mulianya hidup tatkala kehidupan sentiasa diberkati Allah SWT. Bila hidup kita diberkati Allah SWT, kehidupan akan selalu merasa cukup dan bila kita merasa berkecukupan maka kita memperoleh keberkatan.

“Sesungguhnya Allah yang Maha Luas kurnia-NYa lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hambaNya dengan rezeki yang telah Dia berikan kepadanya. Barangsiapa yang redha dengan pemberian Allah maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rezeki untuknya dan barangsiapa yang tidak redha niscaya rezekinya tidak diberkahi.” (HR. Ahmad).

Kunci Keberkatan
Untuk meraih keberkatan dalam kehidupan, ada dua tuntutan syarat yang perlu kita laksanakan. Firman Allah SWT:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Al-A’raf:96).

Pertamanya, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya yang dikutip di dalam surah Al-A’raf, ayat 96. Ayat ini menunjukkan balasan Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yakni keberkatan dari langit dan bumi. Sebaliknya, ayat tersebut juga sekaligus menjadi penjelas bahawa orang yang kufur kepada Allah SWT, niscaya tidak akan pernah merasakan keberkatan dalam hidup.

Justeru bagi membina iman, kita perlu mentarbiyah hati kita dengan tarbiyah imaniyah. Bersihkan hati kita dari sebarang dosa dan noda. Bersihkan hati kita dari karat-karat jahiliyah yang akan menghitamkan hati kita lalu menjadi penghalang kepada hadirnya hidayah, petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Hati yang bersih akan menumbuhkan keimanan yang sebenar terhadap Allah SWT.

Kedua, amal soleh. Yang dimaksud dengan amal soleh ialah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan syariat yang diajarkan Rasulullah SAW. Firman Allah SWT:

“Demi malam apabila menutupi, dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya usaha kamu memang berbeza-beza. Adapun orang yang memberikan (harta di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah “(Al-Lail:1-7).


Iman dan Amal Soleh
Inilah hakikat kepentingan memiliki ketakwaan dan melaksanakan amal soleh yang menjadi prasyarat datangnya keberkatan sebagaimana ditegaskan Allah SWT di dalam Al Quran. Setelah kita berusaha untuk memenuhi prasyarat tersebut, maka berserahlah kepada Allah SWT. Firman Allah SWT:

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (ath-Thalaq, 65: 2-3)

Allah SWT juga menceritakan di dalam Al-Quran tentang Ahlul Kitab yang hidup pada zaman Nabi SAW, Allah SWT berfirman:

“Dan sekiranya mereka benar-benar menjalankan Taurat, Injil dan (al-Quran) yang diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka…” (Al-Ma’idah: 66).


Para ulama tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan “mendapatkan makanan dari atas dan dari bawah kaki”, ialah Allah SWT melimpahkan kepada mereka rezeki yang sangat banyak dari langit dan dari bumi, sehingga mereka akan mendapatkan kecukupan dan pelbagai kebaikan tanpa susah payah, letih, lesu, dan tanpa adanya tentangan atau pelbagai permasalahan yang mengganggu ketenteraman hidup mereka (Tafsir Ibnu Katsir, 2/76).

Menurut Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di, “Sekiranya mereka melaksanakan perintah-perintah Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya, seperti yang dianjurkan dan diperintahkan oleh Allah, dan termasuk perlaksanaannya adalah beriman kepada apa yang diserukan oleh Taurat dan Injil untuk beriman kepada Muhammad s.a.w. dan kepada al-Quran, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Yakni, Allah akan melimpahkan rezeki kepada mereka, langit dijadikan menurunkan hujan, bumi pula menumbuhkan tanaman.” (Rujuk: Tafsir as-Sa’di, jil. 2, m/s. 378-379)

Al-Quran Sumber Keberkatan
Semoga kita meraih keberkatan di sepanjang kehidupan kita. Tidak ada cara yang terbaik untuk kita beroleh keberkatan melainkan kita sentiasa merujuk kepada panduan terlengkap yang Allah SWT telah bekalkan kepada kita melalui Al Quran yang menajdi sumber keberkatan. Firman Allah SWT:

“Dan Al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya? (Al Anbiyaa':50)

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shaad:29).


Kini kunci meraih keberkatan dalan kehidupan telah terbongkar. Al Quran memandu kita agar berbekal dengan iman, taqwa dan amal soleh, insyaAllah kita akan meraih keberkatan. Firman Allah SWT:

“Sesiapa yang beramal soleh, dari lelaki atau perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan Dia dengan kehidupan yang baik; dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka, dengan memberikan pahala yang lebih dari apa yang mereka telah kerjakan.” (An-Nahl:97)

Sunday, November 28, 2010

Ada sesiapa yang bernama Abu Bakar? Semoga anda mewarisi ketokohan yang dimiliki oleh para tokoh yang bernama Abu Bakar, begitu juga kita semua walaupun tidak bernama Abu Bakar. Ketokohan mereka insyaAllah mampu mencetuskan inspirasi kita untuk berjaya dalam kehidupan. Semoga bertambah lagi model-model terbaik untuk kita teladani dalam membina peribadi dan kualiti diri kita sebagai muslim.

Iman Terberat

Siapa yang tidak kenal Abu Bakar as-Siddiq. Beliau individu terawal menyahut dakwah Rasulullah SAW sehingga beliau digelar sebagai as-Siddiq, yang sentiasa membenarkan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.Beliau cukup setia menemani Rasulullah SAW membangun dakwah. Sumbangan beliau pada dakwah Islam amat besar sekali. Abu Bakar as-Siddiq menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah SWT kerana sangat yakinkan balasan dari Allah Yang Maha Kaya. Abu Bakar yang terkenal sebagai saudagar yang kaya telah meninggalkan perniagaannya dan meninggalkan semua usaha peribadi lain-lainnya lalu menyerahkan segenap kekayaan dan jiwa raganya untuk melakukan perjuangan menegakkan Islam bersama Rasulullah SAW. Ternyata sumbangan beliau telah memberi impak yang besar kepada perkembangan Islam. Malahan beliau telah berjaya mengajak beberapa pemuda Quraisy yang lain menyertai kafilah Rasulullah SAW, antaranya Uthman Bin Affan, Abdul Rahman Bin Auf dan Saad Bin Waqqas. Beliau telah mengorbankan seluruh hanta bendanya untuk menebus orang-orang yang ditawan, orang-orang yang ditangkap atau disiksa. Selain daripada itu beliau juga telah membeli hamba-hamba yang kemudian dimerdekakannya. Salah seorang hamba yang dibelinya lalu kemudian dibebaskan yang paling terkenal dalam sejarah ialah Bilal Bin Rabah. Rasulullah SAW amat menyanjungi Abu Bakar as_Siddiq dengan sabda Baginda,

“Jika ditimbang iman Abu Bakar Al-Siddiq dengan iman sekelian ummat maka berat lagi iman Abu Bakar.

Ulama Hadith Yang Wibawa

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn muslim ibn’ Ubaidillah ibn Syihab ibn Abdullah ibn al-Harits ibn Zuhrah ibn Kilab ibn Murrah al-Qurasyi al-Zuhri al-Madani, beliau lahir pada tahun 50 H, iaitu pada masa pemerintahan Khalifah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Beliau digelar dengan nama Muhammad ibn Syihab Al-Zuhri

Al-Zuhri hidup pada akhir masa sahabat RA, dan beliau masih sempat bertemu dengan sejumlah sahabat RA ketika berusia 20 tahun lebih. Oleh kerana itu, beliau sempat mendengar hadis dari para sahabat seperti Anas ibn Malik. Abdullah ibn Umar, Jabir ibn Abdillah, Sahal ibn Sa’ad, Abu At-Thufail, Al-Masur ibn Makhramah dan lainnya.

Menurut para ulama, tidak ada ulama yang lebih tinggi kemampuannya khususnya dalam bidang ilmu agama dari al-Zuhri. Menurut pandangan al-As-Zalani, Zuhri mendapat beberapa gelaran, antaranya al-Faqih, al-Hafizh al-Madani dan lain-lain. Ada sebuah kisah tentang kesetiaan dan keteguhan hafalannya terlihat ketika suatu hari Hisyam ibn Abd al-Malik memintanya untuk mengajarkan sejumlah hadis untuk anaknya. Lantas al-Zuhri meminta menghadirkan seorang juru tulis dan kemudian beliau menyampaikan sejumlah 400 hadis. Setelah berlalu lebih sebulan, al-Zuhri bertemu kembali dengan Hisyam, ketika itu Hisyan mengatakan kepadanya bahawa kitab yang berisikan 400 hadis tempoh hari telah hilang. Al-Zuhri menjawab, “Engkau tidak akan kehilangan hadis-hadis itu,” kemudian beliau meminta seorang juru tulis, lalu dia menyampaikan kembali hadis-hadis tersebut, setelah itu, beliau menyerahkan kepada Hisyam dan isi kitab tersebut ternyata satu huruf pun tidak berubah dari isi kitab yang pertama.

Al-Zuhri adalah seorang yang sangat teliti dan bersemangat dalam memelihara sanad hadis bahkan beliau yang pertama menggalakan penyebutan sanad hadis tatkala meriwayatkannya. Dan beliau telah memberikan perhatian yang besar dalam pengkajian dan penuntutan ilmu hadis, bahkan beliau bersedia memberikan bantuan terhadap mereka yang berkeinginan mempelajari hadis namun tidak mempunyai dana untuk itu. Al-Zuhri memiliki sekitar 2000/2200 hadis. Beliau telah meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun 124 H.

Seharum Kasturi

Pada suatu hari, seorang hamba Allah telah bertanya kepada Abu Bakar Al-Miski, mengapakah engkau sungguh wangi, seharum bau kasturi…? Dengan bersahaja dia menjawab: Demi Allah sudah bertahun aku tidak memakai minyak wangi.” Lalu Abu Bakar Al-Miski menceritakan kisahnya yang telah menguji keimanannya.

“Pada suatu hari aku dalam perjalanan ke masjid, lalu mendengar suara seorang wanita menjerit meminta tolong, bahawa ibunya sakit, lalu aku pergi ke tempat suara itu. Setibanya aku disitu aku mendapati seorang wanita menyuruhku masuk kedalam rumahnya. Bila aku masuk rumah itu barulah aku tahu bahawa rumah itulah adalah milik seorang wanita. Wanita tersebut menyuruh orang suruhannya mengunci pintu lalu mengajak aku untuk bersama dengannya. Barulah aku sedar bahawa aku tertipu.
Namun dengan rasa takut terhadap Allah SWT. aku menolak ajakannya. Wanita tersebut mengugut aku yang dia akan menjerit sekiranya aku menolak permintaannya itu. Selepas puas aku berfikir, lalu aku ank e a padanya bahawa aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu dan meminta izin untuk ke bilik air. Wanita tersebut mengizinkan aku masuk ke dalam bilik air. Di bilik air aku telah melumurkan najis di seluruh badanku dan terus keluar tanpa membersihkannya. Sejurus aku menghadap wanita tersebut, aku dihalaunya keluar kerana bau busuk yang tidak dapat ditahannya.

Maka aku terselamat dari dosa dan maksiat, aku terus pulang kerumah dan membersihkan badan. Pada malam tersebut aku bermimpi, atas ketaqwaan aku terhadap Allah, kerana aku menolak peluang dihadapan mata maka aku dianugerahkan haruman kasturi dan digelar manusia paling wangi… Beginilah caranya aku beroleh gelaran tersebut.”

Luarbiasa Abu Bakar Al-Miski, marilah kita mencontohi Abu Bakar Al-Miski, manusia yang harum berbau kasturi.

Matanya Buta Demi Al Aqsa

Syeikh Abu Bakar al-‘Awawidah, merupakan anggota Rabitatul ‘Ulama Filistin (Persatuan Ulama Palestin). Sejak 1992, bersama isteri dan lapan anaknya, Syeikh Abu Bakar terpaksa hidup di Damaskus, 200km dari Dora, Khalil-Hebron, kota kelahirannya yang juga tempat bersemayamnya jasad Nabi Ibrahim AS. Bicara beliau begitu lembut, murah senyuman, saat hendak ke mana-mana lengannya harus dipimpin kerana matanya buta akibat dipukul dan diberikan kejutan elektrik oleh tentera Zionis selama 54 hari berturut-turut pada 1981. Namun begitu, gelapnya dunia di mata Abu Bakar sama sekali tidak mengurangi keteguhannya memberi tarbiyah ruhiyah dan ilmiyah kepada rakyat Palestin yang terusir dan terpaksa bermukim di Syiria.

Kehidupan beliau sebelum Allah izin menjadi buta adalah berjuang mempertahankan Masjid Al Aqsa dan bumi Palestin dari penjajahan Yahudi Israel. Pada tahun 1981 beliau telah dipenjara dan disiksa oleh tentera Israel selama 54 hari. Begitu juga tahun 1982 beliau dipenjara selama 5 bulan. Tahun 1983 selama 15 hari, tahun 1988 selama 6 bulan, tahun 1990 beliau ditangkap dua kali; pertama 37 hari, kedua 14 hari, dan pada tahun 1991 beliau mendekam di penjara selama 5 bulan. Begitulah perjuangan beliau berkali-kali ditangkap dan disiksa oleh Israel selama beberapa jam. Puncaknya pada tahun 1992, Syeikh Abu Bakar Al-’Awawidah ditangkap dan diusir ke Marj Az-Zuhur, daerah perbatasan antara Palestin dan Lubnan, bersama 414 orang mujahidin Palestin lainnya, di antara asy-Syahid Dr. Abdul Aziz Al-Rantissi. Beliau kini tidak dibenarkan memasuki Palestin manakala Israel telah menjatuhkan hukuman penjara sekiranya Syeikh Abu Bakar memasuki Palestin.

Seruan beliau agar menjadikan Al-Qur`an sebagai bahan bacaan yang dicintai oleh semua orang dari pusat asuhan kanak-kanak sehinggalah di pejabat para pemimpin kerajaan. Bukan sahaja mempelajarinya sebagai amalan yang penting, tetapi semua muslim harus bersegera menghidupkannya dalam kehidupan dan kegiatan seharian.Kata beliau lagi, kami di Gaza mengusahakan agar di setiap rumah di Gaza harus ada minimanya seorang anak yang menghafal al-Quran. Jika ada satu rumah yang tidak ada seorang pun yang menghafal al-Qur`an, maka keluarga itu dianggap aib.

Beliau memperingatkan akan sabda Rasulullah SAW, “Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi hubbud-dunya wa karahiyatul maut (cinta kepada dunia dan benci kepada mati). Maka berlumba-lumba mendapatkan kekayaan dunia itu akan membinasakan kalian.”

Siapa Abu Bakar Yang Seterusnya?

Semoga kita teruja dengan 4 model Abu Bakar yang luarbiasa ini. Masih belum terlambat untuk kita mencontohi mereka.

Perjuangan itu dirintis oleh orang-orang yang alim,
Diperjuangkan oleh orang yang ikhlas,
Dimenangkan oleh para pemberani,
Diteruskan oleh mereka yang merindui syurgawi.

Allah SWT berfirman yang bermaksud:

“Dan Allah akan menambahi hidayah petunjuk bagi orang-orang yang menuruti jalan petunjuk; dan amal-amal yang baik yang tetap kekal faedah-faedahnya itu, lebih baik balasan pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” Maryam: 76)

Belajar Dari Ketokohan 4 "Abu Bakar"

Ada sesiapa yang bernama Abu Bakar? Semoga anda mewarisi ketokohan yang dimiliki oleh para tokoh yang bernama Abu Bakar, begitu juga kita semua walaupun tidak bernama Abu Bakar. Ketokohan mereka insyaAllah mampu mencetuskan inspirasi kita untuk berjaya dalam kehidupan. Semoga bertambah lagi model-model terbaik untuk kita teladani dalam membina peribadi dan kualiti diri kita sebagai muslim.

Iman Terberat

Siapa yang tidak kenal Abu Bakar as-Siddiq. Beliau individu terawal menyahut dakwah Rasulullah SAW sehingga beliau digelar sebagai as-Siddiq, yang sentiasa membenarkan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.Beliau cukup setia menemani Rasulullah SAW membangun dakwah. Sumbangan beliau pada dakwah Islam amat besar sekali. Abu Bakar as-Siddiq menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah SWT kerana sangat yakinkan balasan dari Allah Yang Maha Kaya. Abu Bakar yang terkenal sebagai saudagar yang kaya telah meninggalkan perniagaannya dan meninggalkan semua usaha peribadi lain-lainnya lalu menyerahkan segenap kekayaan dan jiwa raganya untuk melakukan perjuangan menegakkan Islam bersama Rasulullah SAW. Ternyata sumbangan beliau telah memberi impak yang besar kepada perkembangan Islam. Malahan beliau telah berjaya mengajak beberapa pemuda Quraisy yang lain menyertai kafilah Rasulullah SAW, antaranya Uthman Bin Affan, Abdul Rahman Bin Auf dan Saad Bin Waqqas. Beliau telah mengorbankan seluruh hanta bendanya untuk menebus orang-orang yang ditawan, orang-orang yang ditangkap atau disiksa. Selain daripada itu beliau juga telah membeli hamba-hamba yang kemudian dimerdekakannya. Salah seorang hamba yang dibelinya lalu kemudian dibebaskan yang paling terkenal dalam sejarah ialah Bilal Bin Rabah. Rasulullah SAW amat menyanjungi Abu Bakar as_Siddiq dengan sabda Baginda,

“Jika ditimbang iman Abu Bakar Al-Siddiq dengan iman sekelian ummat maka berat lagi iman Abu Bakar.

Ulama Hadith Yang Wibawa

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn muslim ibn’ Ubaidillah ibn Syihab ibn Abdullah ibn al-Harits ibn Zuhrah ibn Kilab ibn Murrah al-Qurasyi al-Zuhri al-Madani, beliau lahir pada tahun 50 H, iaitu pada masa pemerintahan Khalifah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Beliau digelar dengan nama Muhammad ibn Syihab Al-Zuhri

Al-Zuhri hidup pada akhir masa sahabat RA, dan beliau masih sempat bertemu dengan sejumlah sahabat RA ketika berusia 20 tahun lebih. Oleh kerana itu, beliau sempat mendengar hadis dari para sahabat seperti Anas ibn Malik. Abdullah ibn Umar, Jabir ibn Abdillah, Sahal ibn Sa’ad, Abu At-Thufail, Al-Masur ibn Makhramah dan lainnya.

Menurut para ulama, tidak ada ulama yang lebih tinggi kemampuannya khususnya dalam bidang ilmu agama dari al-Zuhri. Menurut pandangan al-As-Zalani, Zuhri mendapat beberapa gelaran, antaranya al-Faqih, al-Hafizh al-Madani dan lain-lain. Ada sebuah kisah tentang kesetiaan dan keteguhan hafalannya terlihat ketika suatu hari Hisyam ibn Abd al-Malik memintanya untuk mengajarkan sejumlah hadis untuk anaknya. Lantas al-Zuhri meminta menghadirkan seorang juru tulis dan kemudian beliau menyampaikan sejumlah 400 hadis. Setelah berlalu lebih sebulan, al-Zuhri bertemu kembali dengan Hisyam, ketika itu Hisyan mengatakan kepadanya bahawa kitab yang berisikan 400 hadis tempoh hari telah hilang. Al-Zuhri menjawab, “Engkau tidak akan kehilangan hadis-hadis itu,” kemudian beliau meminta seorang juru tulis, lalu dia menyampaikan kembali hadis-hadis tersebut, setelah itu, beliau menyerahkan kepada Hisyam dan isi kitab tersebut ternyata satu huruf pun tidak berubah dari isi kitab yang pertama.

Al-Zuhri adalah seorang yang sangat teliti dan bersemangat dalam memelihara sanad hadis bahkan beliau yang pertama menggalakan penyebutan sanad hadis tatkala meriwayatkannya. Dan beliau telah memberikan perhatian yang besar dalam pengkajian dan penuntutan ilmu hadis, bahkan beliau bersedia memberikan bantuan terhadap mereka yang berkeinginan mempelajari hadis namun tidak mempunyai dana untuk itu. Al-Zuhri memiliki sekitar 2000/2200 hadis. Beliau telah meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun 124 H.

Seharum Kasturi

Pada suatu hari, seorang hamba Allah telah bertanya kepada Abu Bakar Al-Miski, mengapakah engkau sungguh wangi, seharum bau kasturi…? Dengan bersahaja dia menjawab: Demi Allah sudah bertahun aku tidak memakai minyak wangi.” Lalu Abu Bakar Al-Miski menceritakan kisahnya yang telah menguji keimanannya.

“Pada suatu hari aku dalam perjalanan ke masjid, lalu mendengar suara seorang wanita menjerit meminta tolong, bahawa ibunya sakit, lalu aku pergi ke tempat suara itu. Setibanya aku disitu aku mendapati seorang wanita menyuruhku masuk kedalam rumahnya. Bila aku masuk rumah itu barulah aku tahu bahawa rumah itulah adalah milik seorang wanita. Wanita tersebut menyuruh orang suruhannya mengunci pintu lalu mengajak aku untuk bersama dengannya. Barulah aku sedar bahawa aku tertipu.
Namun dengan rasa takut terhadap Allah SWT. aku menolak ajakannya. Wanita tersebut mengugut aku yang dia akan menjerit sekiranya aku menolak permintaannya itu. Selepas puas aku berfikir, lalu aku ank e a padanya bahawa aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu dan meminta izin untuk ke bilik air. Wanita tersebut mengizinkan aku masuk ke dalam bilik air. Di bilik air aku telah melumurkan najis di seluruh badanku dan terus keluar tanpa membersihkannya. Sejurus aku menghadap wanita tersebut, aku dihalaunya keluar kerana bau busuk yang tidak dapat ditahannya.

Maka aku terselamat dari dosa dan maksiat, aku terus pulang kerumah dan membersihkan badan. Pada malam tersebut aku bermimpi, atas ketaqwaan aku terhadap Allah, kerana aku menolak peluang dihadapan mata maka aku dianugerahkan haruman kasturi dan digelar manusia paling wangi… Beginilah caranya aku beroleh gelaran tersebut.”

Luarbiasa Abu Bakar Al-Miski, marilah kita mencontohi Abu Bakar Al-Miski, manusia yang harum berbau kasturi.

Matanya Buta Demi Al Aqsa

Syeikh Abu Bakar al-‘Awawidah, merupakan anggota Rabitatul ‘Ulama Filistin (Persatuan Ulama Palestin). Sejak 1992, bersama isteri dan lapan anaknya, Syeikh Abu Bakar terpaksa hidup di Damaskus, 200km dari Dora, Khalil-Hebron, kota kelahirannya yang juga tempat bersemayamnya jasad Nabi Ibrahim AS. Bicara beliau begitu lembut, murah senyuman, saat hendak ke mana-mana lengannya harus dipimpin kerana matanya buta akibat dipukul dan diberikan kejutan elektrik oleh tentera Zionis selama 54 hari berturut-turut pada 1981. Namun begitu, gelapnya dunia di mata Abu Bakar sama sekali tidak mengurangi keteguhannya memberi tarbiyah ruhiyah dan ilmiyah kepada rakyat Palestin yang terusir dan terpaksa bermukim di Syiria.

Kehidupan beliau sebelum Allah izin menjadi buta adalah berjuang mempertahankan Masjid Al Aqsa dan bumi Palestin dari penjajahan Yahudi Israel. Pada tahun 1981 beliau telah dipenjara dan disiksa oleh tentera Israel selama 54 hari. Begitu juga tahun 1982 beliau dipenjara selama 5 bulan. Tahun 1983 selama 15 hari, tahun 1988 selama 6 bulan, tahun 1990 beliau ditangkap dua kali; pertama 37 hari, kedua 14 hari, dan pada tahun 1991 beliau mendekam di penjara selama 5 bulan. Begitulah perjuangan beliau berkali-kali ditangkap dan disiksa oleh Israel selama beberapa jam. Puncaknya pada tahun 1992, Syeikh Abu Bakar Al-’Awawidah ditangkap dan diusir ke Marj Az-Zuhur, daerah perbatasan antara Palestin dan Lubnan, bersama 414 orang mujahidin Palestin lainnya, di antara asy-Syahid Dr. Abdul Aziz Al-Rantissi. Beliau kini tidak dibenarkan memasuki Palestin manakala Israel telah menjatuhkan hukuman penjara sekiranya Syeikh Abu Bakar memasuki Palestin.

Seruan beliau agar menjadikan Al-Qur`an sebagai bahan bacaan yang dicintai oleh semua orang dari pusat asuhan kanak-kanak sehinggalah di pejabat para pemimpin kerajaan. Bukan sahaja mempelajarinya sebagai amalan yang penting, tetapi semua muslim harus bersegera menghidupkannya dalam kehidupan dan kegiatan seharian.Kata beliau lagi, kami di Gaza mengusahakan agar di setiap rumah di Gaza harus ada minimanya seorang anak yang menghafal al-Quran. Jika ada satu rumah yang tidak ada seorang pun yang menghafal al-Qur`an, maka keluarga itu dianggap aib.

Beliau memperingatkan akan sabda Rasulullah SAW, “Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi hubbud-dunya wa karahiyatul maut (cinta kepada dunia dan benci kepada mati). Maka berlumba-lumba mendapatkan kekayaan dunia itu akan membinasakan kalian.”

Siapa Abu Bakar Yang Seterusnya?

Semoga kita teruja dengan 4 model Abu Bakar yang luarbiasa ini. Masih belum terlambat untuk kita mencontohi mereka.

Perjuangan itu dirintis oleh orang-orang yang alim,
Diperjuangkan oleh orang yang ikhlas,
Dimenangkan oleh para pemberani,
Diteruskan oleh mereka yang merindui syurgawi.

Allah SWT berfirman yang bermaksud:

“Dan Allah akan menambahi hidayah petunjuk bagi orang-orang yang menuruti jalan petunjuk; dan amal-amal yang baik yang tetap kekal faedah-faedahnya itu, lebih baik balasan pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” Maryam: 76)

Saturday, November 27, 2010


“Setiap kali kami cuba untuk tidur, mereka membangunkan kami dengan memukul kami menggunakan hujung senapang mereka selama tiga hari .. Mereka mengunci kami di dalam tandas dan membiarkan kami tanpa makanan atau air sehingga kami terpaksa minum air yang ada di dalam tandas. Mereka akan mencucuh putung rokok mereka ke kaki kami dan menjerit-jerit pada kami terus-menerus.”

Ini adalah kenyataan yang dilalui oleh anak tawanan di penjara Israel, Mohammed Tarik Mokheimer, yang berasal dari kampung Beit Oure, berdekatan Ramallah. Beliau ditangkap pada Julai 2010.

Mohammed Tarik Mokheimer, yang baru berusia 12 tahun ditangkap bersama rakan sekelasnya Muhammad Ramadhan atas tuduhan membaling batu terhadap pasukan rondaan tentera Israel. Mereka kemudian dibawa ke Pusat Tahanan Benjamin untuk disoalsiasat, mereka kemudian dikunci di dalam tandas selama tiga hari. Mereka telah ditelanjangkan dan tidak diberi makanan atau minuman.

Ibu Mohammed berkata, “Pada hari penangkapannya, Mohammed lambat tiba di rumah, sehingga seluruh keluarga pergi mencari beliau, tetapi kami tidak menemuinya. Pada 1:30 tengahari, ayah rakan sekelas-nya memberitahu kami bahawa anaknya ( teman sekelas Mohammed) “Muhammad Ramadhan” telah ditangkap.”

Ibu Mohammed merasa sangat terkejut dan kebingungan. Kata beliau “Mohammed belum mencecah umur 13 tahun lagi, dan anaknya tidak mempunyai pengetahuan tentang apa itu penahanan dan bagaimana tahanan diperlakukan, jadi bagaimana mereka boleh menangkap anak-anak kecil ini?” Dia menambah, “Namun demikian, ahli keluarganya dan jiran telah meyakinkan saya bahawa penahanan itu tidak akan lama dan mereka akan segera dibebaskan.”

Keesokan harinya ibu bapa Mohammed ke pusat tahanan untuk mengetahui khabar berita anak mereka dan teman sekelasnya. Kata ibunya, “Saya tidak pernah terfikir saya akan melihat anak saya seperti itu, berdiri di belakang kandang tahanan dengan tangan dirantai, wajahnya penuh dengan ketakutan. Saya cuba untuk bercakap dengannya , tapi tidak dibenarkan. Dia akan memandang saya dan menangis sepanjang masa, dan setelah pertuduhan dibaca, mahkamah telah memanjangkan penahanannya.. ”

Ibu Mohammed tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi kepada anaknya, namun beliau merasakan bahawa sesuatu yang tidak diingini telah berlaku ke atas anaknya. Beliau cemas dan gelisah sepanjang masa mencari jawapan apa yang terjadi pada anaknya. Akhirnya sangkaan beliau ternyata benar, anaknya dan teman sekelasnya telah melalui saat ngeri dari penyiksaan yang dilakukan oleh tentera Israel. Perkara ini telah dibongkarkan melalui laporan yang dikeluarkan oleh Kementerian Hal Ehwal Tahanan dan Tahanan Yang Dibebaskan.

Hiba Mosalha, peguam di Kementerian tersebut telah mengunjungi kedua-dua tahanan. Beliau mengatakan, “Pertamanya saya beranggapan bahawa cerita Mohammed berlebih-lebihkan, tetapi setelah saya melihat sendiri bekas-bekas penyiksaan di tubuh mereka seperti kesan cucuh puntung rokok pada kaki mereka, kuku kaki mereka tertanggal kerana pukulan keras.”

Beliau menambah lagi, “Sementara kami berbincang, wajah anak-anak ini kelihatan seperti ketakutan kerana bimbang penyiksaan itu akan berulang lagi.”

Menurut Hiba lagi bahawa kejadian yang menimpa ke atas Mohamad Mokheimer dan Muhammad Ramadhan bukanlah yang pertama kali terjadi walaupun ianya adalah yang paling mengerikan.

Dalam pernyataan peguam yang dilaporkan, Mohammed mengatakan, “Kami ditangkap di Jalan 443 berhampiran Dinding Pemisahan yang di bina Israel berdekatan kampung mereka, saat itu seluruh tubuh badan kami dipukul dengan senjata dan mereka menendang kami sampai kami jatuh ke tanah.”

Setelah itu askar-askar itu merantai kami, mata kami ditutup, dan kami dibawa ke Pusat Tahanan Benjamin yang berhampiran dengan kampung ini.”

“Di pusat tahanan, kami dikunci di tandas dan dipaksa untuk membuka semua pakaian kami. Selama dua hari mereka dibiarkan tidak berpakaian di dalam tandas tanpa makanan atau minuman, dalam masa yang sama askar-askar itu memasang penghawa dingin sepanjang masa.” cerita Mohammed lagi

Mohammed menceritakan lagi bahawa mereka menderita kehausan dan terpaksa minum air dalam tandas. Mereka menderita kesejukan yang amat sangat kerana mereka tidak berpakaian langsung selama dua hari, dan setiap kali mereka cuba untuk tidur, para askar akan kejutkan mereka.

Mohammed juga menceritakan bahawa perkara yang paling mengerikan yang terjadi pada mereka adalah ketika tentera Israel masuk ke tandas untuk buang air kecil, mereka membuangnya di atas kepala dan muka Mohammed dan rakannya Ramadhan. Setiap kali mereka berbuat demikian, mereka tertawa dan mengejek-ngejek tahanan anak-anak kecil ini. Dalam masa yang sama, salah seorang dari tentera Israel sedang merakamkan gambar kejadian itu.

Sebelum mereka di bawa ke mahkamah, mereka telah di paksa menandatangani dokumen dalam bahasa ibrani yang menyatakan mereka mengakui kesalahan yang telah mereka lakukan dengan tujuan untuk menahan anak-anak ini lebih lama lagi.

Menurut Hiba Mosalha, penyiksaan terhadap para tahanan kalangan anak-anak telah menjadi dasar oleh tentera Israel untuk memastikan anak-anak ini mengaku atas tuduhan yang dikenakan ke atas mereka, sehingga mahkamah Israel akan memenjarakan mereka selama mungkin.

Berkenaan dengan statistik rasmi, pihak berkuasa Israel telah menahan lebih dari 6700 tahanan Palestin, di antara terdapat 287 orang anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun. Dalam laporan dan kajian yang dilakukan terhadap seratus orang tawanan kalangan anak-anak ini, didapati bahawa 81% dipukul dan ditendang dan 26% yang terkena penyakit Phantasmagoria (penyakit gila), sedangkan 12% diancam dengan kekerasan seksual, dan 4% dari mereka melalui kekerasan seksual. (wemo)

Terjemahan: Halimah Jaafar (Sukarelawan HALUANPalestin)

Seusia 12 Tahun Sudah Bermula Jihadnya Melawan Israel


“Setiap kali kami cuba untuk tidur, mereka membangunkan kami dengan memukul kami menggunakan hujung senapang mereka selama tiga hari .. Mereka mengunci kami di dalam tandas dan membiarkan kami tanpa makanan atau air sehingga kami terpaksa minum air yang ada di dalam tandas. Mereka akan mencucuh putung rokok mereka ke kaki kami dan menjerit-jerit pada kami terus-menerus.”

Ini adalah kenyataan yang dilalui oleh anak tawanan di penjara Israel, Mohammed Tarik Mokheimer, yang berasal dari kampung Beit Oure, berdekatan Ramallah. Beliau ditangkap pada Julai 2010.

Mohammed Tarik Mokheimer, yang baru berusia 12 tahun ditangkap bersama rakan sekelasnya Muhammad Ramadhan atas tuduhan membaling batu terhadap pasukan rondaan tentera Israel. Mereka kemudian dibawa ke Pusat Tahanan Benjamin untuk disoalsiasat, mereka kemudian dikunci di dalam tandas selama tiga hari. Mereka telah ditelanjangkan dan tidak diberi makanan atau minuman.

Ibu Mohammed berkata, “Pada hari penangkapannya, Mohammed lambat tiba di rumah, sehingga seluruh keluarga pergi mencari beliau, tetapi kami tidak menemuinya. Pada 1:30 tengahari, ayah rakan sekelas-nya memberitahu kami bahawa anaknya ( teman sekelas Mohammed) “Muhammad Ramadhan” telah ditangkap.”

Ibu Mohammed merasa sangat terkejut dan kebingungan. Kata beliau “Mohammed belum mencecah umur 13 tahun lagi, dan anaknya tidak mempunyai pengetahuan tentang apa itu penahanan dan bagaimana tahanan diperlakukan, jadi bagaimana mereka boleh menangkap anak-anak kecil ini?” Dia menambah, “Namun demikian, ahli keluarganya dan jiran telah meyakinkan saya bahawa penahanan itu tidak akan lama dan mereka akan segera dibebaskan.”

Keesokan harinya ibu bapa Mohammed ke pusat tahanan untuk mengetahui khabar berita anak mereka dan teman sekelasnya. Kata ibunya, “Saya tidak pernah terfikir saya akan melihat anak saya seperti itu, berdiri di belakang kandang tahanan dengan tangan dirantai, wajahnya penuh dengan ketakutan. Saya cuba untuk bercakap dengannya , tapi tidak dibenarkan. Dia akan memandang saya dan menangis sepanjang masa, dan setelah pertuduhan dibaca, mahkamah telah memanjangkan penahanannya.. ”

Ibu Mohammed tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi kepada anaknya, namun beliau merasakan bahawa sesuatu yang tidak diingini telah berlaku ke atas anaknya. Beliau cemas dan gelisah sepanjang masa mencari jawapan apa yang terjadi pada anaknya. Akhirnya sangkaan beliau ternyata benar, anaknya dan teman sekelasnya telah melalui saat ngeri dari penyiksaan yang dilakukan oleh tentera Israel. Perkara ini telah dibongkarkan melalui laporan yang dikeluarkan oleh Kementerian Hal Ehwal Tahanan dan Tahanan Yang Dibebaskan.

Hiba Mosalha, peguam di Kementerian tersebut telah mengunjungi kedua-dua tahanan. Beliau mengatakan, “Pertamanya saya beranggapan bahawa cerita Mohammed berlebih-lebihkan, tetapi setelah saya melihat sendiri bekas-bekas penyiksaan di tubuh mereka seperti kesan cucuh puntung rokok pada kaki mereka, kuku kaki mereka tertanggal kerana pukulan keras.”

Beliau menambah lagi, “Sementara kami berbincang, wajah anak-anak ini kelihatan seperti ketakutan kerana bimbang penyiksaan itu akan berulang lagi.”

Menurut Hiba lagi bahawa kejadian yang menimpa ke atas Mohamad Mokheimer dan Muhammad Ramadhan bukanlah yang pertama kali terjadi walaupun ianya adalah yang paling mengerikan.

Dalam pernyataan peguam yang dilaporkan, Mohammed mengatakan, “Kami ditangkap di Jalan 443 berhampiran Dinding Pemisahan yang di bina Israel berdekatan kampung mereka, saat itu seluruh tubuh badan kami dipukul dengan senjata dan mereka menendang kami sampai kami jatuh ke tanah.”

Setelah itu askar-askar itu merantai kami, mata kami ditutup, dan kami dibawa ke Pusat Tahanan Benjamin yang berhampiran dengan kampung ini.”

“Di pusat tahanan, kami dikunci di tandas dan dipaksa untuk membuka semua pakaian kami. Selama dua hari mereka dibiarkan tidak berpakaian di dalam tandas tanpa makanan atau minuman, dalam masa yang sama askar-askar itu memasang penghawa dingin sepanjang masa.” cerita Mohammed lagi

Mohammed menceritakan lagi bahawa mereka menderita kehausan dan terpaksa minum air dalam tandas. Mereka menderita kesejukan yang amat sangat kerana mereka tidak berpakaian langsung selama dua hari, dan setiap kali mereka cuba untuk tidur, para askar akan kejutkan mereka.

Mohammed juga menceritakan bahawa perkara yang paling mengerikan yang terjadi pada mereka adalah ketika tentera Israel masuk ke tandas untuk buang air kecil, mereka membuangnya di atas kepala dan muka Mohammed dan rakannya Ramadhan. Setiap kali mereka berbuat demikian, mereka tertawa dan mengejek-ngejek tahanan anak-anak kecil ini. Dalam masa yang sama, salah seorang dari tentera Israel sedang merakamkan gambar kejadian itu.

Sebelum mereka di bawa ke mahkamah, mereka telah di paksa menandatangani dokumen dalam bahasa ibrani yang menyatakan mereka mengakui kesalahan yang telah mereka lakukan dengan tujuan untuk menahan anak-anak ini lebih lama lagi.

Menurut Hiba Mosalha, penyiksaan terhadap para tahanan kalangan anak-anak telah menjadi dasar oleh tentera Israel untuk memastikan anak-anak ini mengaku atas tuduhan yang dikenakan ke atas mereka, sehingga mahkamah Israel akan memenjarakan mereka selama mungkin.

Berkenaan dengan statistik rasmi, pihak berkuasa Israel telah menahan lebih dari 6700 tahanan Palestin, di antara terdapat 287 orang anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun. Dalam laporan dan kajian yang dilakukan terhadap seratus orang tawanan kalangan anak-anak ini, didapati bahawa 81% dipukul dan ditendang dan 26% yang terkena penyakit Phantasmagoria (penyakit gila), sedangkan 12% diancam dengan kekerasan seksual, dan 4% dari mereka melalui kekerasan seksual. (wemo)

Terjemahan: Halimah Jaafar (Sukarelawan HALUANPalestin)

Thursday, November 25, 2010


“Sekarang ini di tengah-tengah kalian ada seorang calon penghuni syurga.”

Begitulah kesaksian dan jaminan dari Rasulullah SAW saat duduk di tengah halaqah bersama para sahabat RA. Para sahabat menoleh ke kanan dan ki kiri. Siapakah dia sahabat yang dijamin syurga oleh Rasulullah SAW.?

Tiba-tiba semua mata tertumpu kepada Sa’ad bin Abu Waqqash. Dialah salah seorang sahabat yang terawal beriman dengan Allah SAW dan Rasulullah SAW saat jumlah orang yang menerima Islam masih boleh dihitung dengan jari. Beliau sangat cintakan jihad di jalan Allah SWT dengan harta dan jiwanya sampai mati.

Beliau adalah orang yang pertama dari kaum muslimin yang membidikkan anak panahnya di jalan Allah SWT. Ianya dipersaksikan oleh Rasulullah SAW sehingga mendapat doa khusus dari Baginda SAW, tepat sasaran panahnya, mustajab pula setiap doa yang dipanjatkannya. Rasulullah SAW bersabda memberikan semangat kepada Sa’ad “ Teruskan membidik Sa’ad! Ayah dan Ibuku menjadi tebusanmu.”

Sa’at busur panah Sa’ad patah, Rasulullah SAW segeri memberikan yang lainnya. Bahkan baginda brdoa untuk Sa’ad, “Ya Allah, tepatkanlah bidikannya dan kabulkan doanya.”

Apa rahsianya kehebatan sang penghuni syurga ini? Bagaimana kita boleh mengambil ibrah dan pengalaman Sa’ad bin Abu Waqqash membina peribadi yang luar dari biasa ini?

Sa’ad bin Abu Waqqash memiliki anugerah besar ini setelah beliau berjuang keras melawan nafsu, sehingga beliau memiliki jiwa yang jernih, iman yang sejati, keikhlasan yang mendalam dan hati yang bersih yang tidak dinodai oleh sifat hasad, iri dan dengki kepada sesiapapun.

Ingin jadi penghuni syurga? Siapa mahu menyertai Sa’ad bin Abu Waqqash? Bersihkan hati dari mengikuti telunjuk hawa nafsu dan menangkan diri dengan kekuatan ruhiyah serta bebaskan diri dari penyakit-penyakit hati; sombong, iri, dengki, hasad, malas, bertangguh, suka kepada maksiat dan seangkatan dengannya.

“Dan sesiapa yang mengerjakan amalan-amalan yang soleh dari lelaki atau perempuan, sedangkan ia seorang yang beriman, maka mereka akan masuk ke dalam Syurga dan mereka tidak akan dikurangi sedikitpun (pahala amalan mereka). (An Nisaa’: 124)

Perkara hati bukan merupakan perkara yang remeh, oleh kerana itu jika kita menaruh perhatian untuk memperbaikinya, maka impaknya hidup kita menjadi lebih bahagia, tenang dan umat ini akan menjadi lebih baik. Kita harus menyebutkan betapa pentingnya memelihara hati dan jiwa kita, sehingga masing-masing dari kita meletakkan hati di hadapannya dan bekerja siang dan malam untuk memperbaikinya.

“Ketahuilah bahawa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila segumpal daging itu rosak, maka seluruh tubuh itu pun rosak. Ketahuilah bahawa itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim”)

Mempertingkatkan keimanan
Jalan penyelesaian terbaik untuk kita menjaga hati kita adalah dengan mempertingkatkan keimanan dan penghambaan kita kepada Allah SWT. Menurut mujahid Syeikh Dr. Abdullah Nasih Ulwan, mempertingkatkan keimanan adalah dengan seorang mukmin itu meyakini bahawa Allah sentiasa bersamanya, mendengar dan melihat perlakuannya, mengetahui perkara yang nyata dan rahsia, mengetahui pandangan mata yang khianat dan perkara yang tersembunyi di dalam dada... Dia sentiasa ingat
firman Allah:

“Tidak berlaku bisikan antara tiga orang melainkan Dialah yang keempatnya, dan tiada (berlaku antara) lima orang melainkan Dia-lah yang keenamnya, dan tiada yang kurang dari bilangan itu dan tiada yang lebih ramai melainkan Dia bersama-sama mereka di mana sahaja mereka berada. (Al Mujadalah: 7)

Dengan keyakinan dan perasaan ini, seorang mukmin akan bebas daripada kongkongan hawa nafsu, dorongan nafsu ammarah, tunggangan syaitan dan fitnah harta serta wanita. Dia akan memperlengkapkan dirinya dengan bermuraqabah, takutkan Allah dan merasai-Nya sentiasa bersamanya ketika dia keseorangan dan juga ketika bersama orang ramai. Semua ini mendorong mukmin tersebut melakukan amal soleh dengan penuh kesungguhan, amanah dan ikhlas... Bahkan dia dapat menepati kata-kata penyair Islam:

Apabila engkau bersendirian sedetik, jangan engkau kata,
aku telah bersendirian, bahkan katakanlah aku diperhati,
jangan engkau menyangka Allah lalai walaupun sedetik,
jangan sangka ada sesuatu tersembunyi,tidak diketahuiNya.

Manfaatkan Masa Sebagai Perawat Hati
Sabda Rasulullah s.a.w sebagaimana yang telah diriwayatka oleh Muslim:

“Bersungguhlah melakukan apa yang mendatangkan faedah kepada engkau, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah.”

Para pakar jiwa dan pendidikan telah mengakui:

Apabila seorang pemuda bersendirian di waktu lapangnya... ia akan didatangi oleh berbagai khayalan, gelora hawa nafsu dan memikirkan tentang seks yang memberangsangkan. Nafsu ammarahnya akan bergelora di hadapan khayalan dan tuntutan nafsu ini. Kadang-kadang dia terjatuh ke lembah yang dilarang oleh syara’ yang mendatangkan akibat yang buruk. Adalah lebih membahayakan lagi apabila dia mempunyai waktu lapang dan harta. Benarlah kata-kata penyair.:

Sesungguhnya pemuda,
waktu lapang dan faktor kesungguhan,
Adalah kemuncak kebinasaan bagi seseorang.

Tidak ragu lagi bahawa jalan penyelesaian untuk bebas daripada semua ini ialah dengan mengetahui bagaimana cara menggunakan waktunya dan memenuhi kekosongan yang ada. Alangkah banyaknya bidang boleh diceburi oleh pemuda untuk mengisi masa kehidupannya. Ianya boleh dipenuhi samada dengan bersukan yang boleh menguatkan tubuh badannya, bersiar-siar merehatkan jiwanya, membuat penyelidikan dan pembacaan yang boleh menambah pengetahuannya, membuat kerja tangan yang boleh memperkembangkan minatnya, menghadiri kelas-kelas pengajian agama yang boleh mengasuh akhlaknya, turut serta di dalam peraduan yang berbentuk ilmiah (kuiz) yang boleh melatih mentalnya, berlatih memanah dan cara-cara jihad yang lain yang boleh mempersiapkan dirinya dan lain-lain jalan penyelesaian yang boleh menjauhkannya daripada mengikut hati yang dikuasai hawa nafsu dan dorongan nafsu ammarah.


Ujian Surut dan Istiqamah
Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita, khasnya buat para pemuda Islam sekalian untuk terus istiqamah tanpa jemu mendidik hati dan jiwa agar sentiasa termasuk dalam golongan yang bersama dengan Rasulullah SAW terutama pada saat jiwa kita diuji dengan kelemahan namun kita tetap istiqamah. Sabda Rasulullah SAW. ;

‘Bahawa setiap amalan itu ada puncak kesungguhan-nya, setiap puncak kesungguhan itu ada surutnya. Maka sesiapa yang surutnya adalah pada sunnahku, maka di telah mendapat petunjuk, dan sesiapa yang surut kepada yang lain, bererti telah binasalah dia.’

Memiliki Hati Yang Bersih


“Sekarang ini di tengah-tengah kalian ada seorang calon penghuni syurga.”

Begitulah kesaksian dan jaminan dari Rasulullah SAW saat duduk di tengah halaqah bersama para sahabat RA. Para sahabat menoleh ke kanan dan ki kiri. Siapakah dia sahabat yang dijamin syurga oleh Rasulullah SAW.?

Tiba-tiba semua mata tertumpu kepada Sa’ad bin Abu Waqqash. Dialah salah seorang sahabat yang terawal beriman dengan Allah SAW dan Rasulullah SAW saat jumlah orang yang menerima Islam masih boleh dihitung dengan jari. Beliau sangat cintakan jihad di jalan Allah SWT dengan harta dan jiwanya sampai mati.

Beliau adalah orang yang pertama dari kaum muslimin yang membidikkan anak panahnya di jalan Allah SWT. Ianya dipersaksikan oleh Rasulullah SAW sehingga mendapat doa khusus dari Baginda SAW, tepat sasaran panahnya, mustajab pula setiap doa yang dipanjatkannya. Rasulullah SAW bersabda memberikan semangat kepada Sa’ad “ Teruskan membidik Sa’ad! Ayah dan Ibuku menjadi tebusanmu.”

Sa’at busur panah Sa’ad patah, Rasulullah SAW segeri memberikan yang lainnya. Bahkan baginda brdoa untuk Sa’ad, “Ya Allah, tepatkanlah bidikannya dan kabulkan doanya.”

Apa rahsianya kehebatan sang penghuni syurga ini? Bagaimana kita boleh mengambil ibrah dan pengalaman Sa’ad bin Abu Waqqash membina peribadi yang luar dari biasa ini?

Sa’ad bin Abu Waqqash memiliki anugerah besar ini setelah beliau berjuang keras melawan nafsu, sehingga beliau memiliki jiwa yang jernih, iman yang sejati, keikhlasan yang mendalam dan hati yang bersih yang tidak dinodai oleh sifat hasad, iri dan dengki kepada sesiapapun.

Ingin jadi penghuni syurga? Siapa mahu menyertai Sa’ad bin Abu Waqqash? Bersihkan hati dari mengikuti telunjuk hawa nafsu dan menangkan diri dengan kekuatan ruhiyah serta bebaskan diri dari penyakit-penyakit hati; sombong, iri, dengki, hasad, malas, bertangguh, suka kepada maksiat dan seangkatan dengannya.

“Dan sesiapa yang mengerjakan amalan-amalan yang soleh dari lelaki atau perempuan, sedangkan ia seorang yang beriman, maka mereka akan masuk ke dalam Syurga dan mereka tidak akan dikurangi sedikitpun (pahala amalan mereka). (An Nisaa’: 124)

Perkara hati bukan merupakan perkara yang remeh, oleh kerana itu jika kita menaruh perhatian untuk memperbaikinya, maka impaknya hidup kita menjadi lebih bahagia, tenang dan umat ini akan menjadi lebih baik. Kita harus menyebutkan betapa pentingnya memelihara hati dan jiwa kita, sehingga masing-masing dari kita meletakkan hati di hadapannya dan bekerja siang dan malam untuk memperbaikinya.

“Ketahuilah bahawa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila segumpal daging itu rosak, maka seluruh tubuh itu pun rosak. Ketahuilah bahawa itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim”)

Mempertingkatkan keimanan
Jalan penyelesaian terbaik untuk kita menjaga hati kita adalah dengan mempertingkatkan keimanan dan penghambaan kita kepada Allah SWT. Menurut mujahid Syeikh Dr. Abdullah Nasih Ulwan, mempertingkatkan keimanan adalah dengan seorang mukmin itu meyakini bahawa Allah sentiasa bersamanya, mendengar dan melihat perlakuannya, mengetahui perkara yang nyata dan rahsia, mengetahui pandangan mata yang khianat dan perkara yang tersembunyi di dalam dada... Dia sentiasa ingat
firman Allah:

“Tidak berlaku bisikan antara tiga orang melainkan Dialah yang keempatnya, dan tiada (berlaku antara) lima orang melainkan Dia-lah yang keenamnya, dan tiada yang kurang dari bilangan itu dan tiada yang lebih ramai melainkan Dia bersama-sama mereka di mana sahaja mereka berada. (Al Mujadalah: 7)

Dengan keyakinan dan perasaan ini, seorang mukmin akan bebas daripada kongkongan hawa nafsu, dorongan nafsu ammarah, tunggangan syaitan dan fitnah harta serta wanita. Dia akan memperlengkapkan dirinya dengan bermuraqabah, takutkan Allah dan merasai-Nya sentiasa bersamanya ketika dia keseorangan dan juga ketika bersama orang ramai. Semua ini mendorong mukmin tersebut melakukan amal soleh dengan penuh kesungguhan, amanah dan ikhlas... Bahkan dia dapat menepati kata-kata penyair Islam:

Apabila engkau bersendirian sedetik, jangan engkau kata,
aku telah bersendirian, bahkan katakanlah aku diperhati,
jangan engkau menyangka Allah lalai walaupun sedetik,
jangan sangka ada sesuatu tersembunyi,tidak diketahuiNya.

Manfaatkan Masa Sebagai Perawat Hati
Sabda Rasulullah s.a.w sebagaimana yang telah diriwayatka oleh Muslim:

“Bersungguhlah melakukan apa yang mendatangkan faedah kepada engkau, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah.”

Para pakar jiwa dan pendidikan telah mengakui:

Apabila seorang pemuda bersendirian di waktu lapangnya... ia akan didatangi oleh berbagai khayalan, gelora hawa nafsu dan memikirkan tentang seks yang memberangsangkan. Nafsu ammarahnya akan bergelora di hadapan khayalan dan tuntutan nafsu ini. Kadang-kadang dia terjatuh ke lembah yang dilarang oleh syara’ yang mendatangkan akibat yang buruk. Adalah lebih membahayakan lagi apabila dia mempunyai waktu lapang dan harta. Benarlah kata-kata penyair.:

Sesungguhnya pemuda,
waktu lapang dan faktor kesungguhan,
Adalah kemuncak kebinasaan bagi seseorang.

Tidak ragu lagi bahawa jalan penyelesaian untuk bebas daripada semua ini ialah dengan mengetahui bagaimana cara menggunakan waktunya dan memenuhi kekosongan yang ada. Alangkah banyaknya bidang boleh diceburi oleh pemuda untuk mengisi masa kehidupannya. Ianya boleh dipenuhi samada dengan bersukan yang boleh menguatkan tubuh badannya, bersiar-siar merehatkan jiwanya, membuat penyelidikan dan pembacaan yang boleh menambah pengetahuannya, membuat kerja tangan yang boleh memperkembangkan minatnya, menghadiri kelas-kelas pengajian agama yang boleh mengasuh akhlaknya, turut serta di dalam peraduan yang berbentuk ilmiah (kuiz) yang boleh melatih mentalnya, berlatih memanah dan cara-cara jihad yang lain yang boleh mempersiapkan dirinya dan lain-lain jalan penyelesaian yang boleh menjauhkannya daripada mengikut hati yang dikuasai hawa nafsu dan dorongan nafsu ammarah.


Ujian Surut dan Istiqamah
Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita, khasnya buat para pemuda Islam sekalian untuk terus istiqamah tanpa jemu mendidik hati dan jiwa agar sentiasa termasuk dalam golongan yang bersama dengan Rasulullah SAW terutama pada saat jiwa kita diuji dengan kelemahan namun kita tetap istiqamah. Sabda Rasulullah SAW. ;

‘Bahawa setiap amalan itu ada puncak kesungguhan-nya, setiap puncak kesungguhan itu ada surutnya. Maka sesiapa yang surutnya adalah pada sunnahku, maka di telah mendapat petunjuk, dan sesiapa yang surut kepada yang lain, bererti telah binasalah dia.’

Sunday, November 21, 2010


Pernah merasa futur di jalan dakwah? Merasa tidak bersemangat untuk menghadiri halaqah tarbawiyah? Rasa lemah dan lamban untuk beramal soleh, menunaikan solat, baca Al Quran dan selainnya? Di saat itu apa yang anda lakukan? Yang pasti, pada saat jiwa dan ruhiyah kita lemah, banyak masa untuk beramal telah terbuang begitu sahaja. Masih ada banyak lagikah masa dan ruang untuk kita menebus kembali masa-masa yang berlalu dengan kebekuan dan kelesuan beramal?

Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman! bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya); dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari Akhirat). dan (sekali lagi diingatkan): bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat meliputi pengetahuannya akan segala yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr:18)

Jom kita ambil masa sebentar untuk bermuhasabah!

Syed Qutb dalam bukunya “Hadzad-Deen” menjelaskan permasalahan futur kalangan duah dan pencinta dakwah. Permasalahan futur dan lemah jiwa ini adalah petanda berlakunya kerosakan jiwa manusia (nafsul insan). Perkara ini terjadi kerana rukud (berdiam diri, tidak bergerak, statik atau ruh jiwanya tidak mengalir), kesannya:

- Ruhnya membusuk akibat statik / kaku.
- Himmahnya (semangat) istirkha’ (mengendur, lembek, lesu, tidak kencang, longlai)
- Nafs (jiwanya) rosak disebabkan rakha’ (bergelimang harta dunia) dan tharawah (tidak teruji dan terlatihnya jiwa itu dengan kerja-kerja amal yang besar / berat.)
- Akhirnya sekuruh kehidupan menjadi rosak gara-gara rukud, hidupnya bergerak pada pengaruh syahwat semata, sebagaimana terjadi pada bangsa-bangsa yang terdahulu yang mendapat cubaan dan ujian dalam bentuk kesenangan dan kemewahan hidup.

Jalan Keluar

Tatkala menelusuri serah Rasulullah SAW dan para sahabat RA, dan mentadabbur Al Quran penawar bagi permasalahan jiwa manusia, terungkap satu jawapan yang pasti. Kita akan temui sekian banyak kisah dan ibrah dari serah mereka dan sekian banyak ayat-ayat Allah SWT yang mengajak kita untuk mengisi kehidupan ini secara efektif dan mengakhirinya dengan jihad di jalan Allah. Ya! Membangun potensi jihad, baik jihad da’awi, jihad ta’limi, jihad irsyadi, jihat tarbawi, jihad bina’i (jihad membina rijal/nisa’) jihad qitali dan jihad-jihad lainnya. ,
Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta benda mereka dengan (balasan) bahawa mereka akan beroleh syurga, (disebabkan) mereka berjuang pada jalan Allah maka (di antara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (balasan syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar Yang ditetapkan oleh Allah di dalam (Kitab-kitab) Taurat dan Injil serta Al-Quran; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu, bergembiralah dengan jualan yang kamu jalankan jual-belinya itu, dan (ketahuilah bahawa) jual-beli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar.” (Al-Taubah:111)

Inilah dorongan dan sumber motivasi Rasulullah SAW dan para sahabat RA. Mereka teruja dan terbangkit jiwa untuk berjihad di jalan Allah SWT kerana menginginkan syurga Allah SWT yang pasti. Mereka telah mencagarkan diri mereka dalam proses “jual beli” mereka dengan Allah SWT. Bayangkan sahaja para sahabat RA. saat bersama Rasulullah SAW terlibat dalam 64 kali peperangan, 26 kali dipimpin oleh Rasulullah SAW dan bakinya dipimpin oleh para sahabat Rasulullah SAW sendiri. Mereka memaksimakan potensi iman yang dianugerahkan Allah SWT kepada mereka dengan prestasi amal yang luarbiasa. Kehidupan mereka bergerak dengan aktif dengan amal-amal qawwi (kuat). Firman Allah SWT:

“(Mereka itu ialah): orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang mengembara (untuk menuntut ilmu dan mengembangkan Islam), yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat kebaikan dan yang melarang daripada kejahatan (dakwah), serta yang menjaga batas-batas hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang yang beriman (yang bersifat demikian).” (Al-Taubah:112)

Sungguh! Sebuah model nyata yang menggambarkan betapa Rasulullah SAW dan para sahabat RA sentiasa menumpahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki secara maksima dan tiada henti. Tiada istilah futur dalam beramal, kerana bagi mereka setiap amal adalah jihad. Sehingga tiada waktu untuk beristirehat dan berangan-angankan akan hal-hal yang bersifat duniawi.

Mereka yang futur dan lemah beramal banyak menghabiskan masa di rumah sambil menonton televisyen atau menyibukkan diri dengan urusan kerja di pejabat atau melayari internet siang dan malam. Sedangkan para sahabat RA diuji kredibiliti iman dan taqwa mereka di medan jihad, medan yang sebenar. Peperangan Ahzab yang terjadi pada tahun 5 H. antara pengalaman getir Rasulullah SAW dan para sahabat dalam berjihad di medan amal. Peperangan ini sangat penting yang akan menentukan tertegaknya Islam, dimana para sahabat berada dalam situasi yang sangat mencengkam antara hidup dan mati, tergoncang dengan sekeras-kerasnya sebagaimana yang digambarkan suasananya oleh Allah SWT dalam surat Al Ahzab ayat 10-11

“Masa itu ialah masa tentera musuh datang melanggar kamu dari sebelah hulu dan dari sebelah hilir (tempat pertahanan) kamu; dan masa itu ialah masa pemandangan mata kamu tidak berketentuan arah (kerana gempar dan bingung) serta hati pun resah gelisah (kerana cemas takut), dan kamu masing-masing pula menyangka terhadap Allah dengan pelbagai-bagai sangkaan. Pada saat itulah diuji orang-orang yang beriman, dan digoncangkan perasaan dan pendiriannya dengan goncangan yang amat dahsyat.”

Subhanallah, besar sungguh ujian bagi mereka walaupun dalam rangka sedang berjihad. Ujian ini penting bagi melahirkan graduan yang benar-benar bercirikan rabbaniyah, graduan yang berkualiti dan berintegrasi disisi Allah SWT. Apakah selesa dengan kefuturan beramal memungkinkan kita layak untuk menyertai graduan yang luarbiasa ini?.

Rawat futur kita dengan bercerminkan Abu Thalhah RA. Beliau yang saat itu sudah sangat tua, sebahagian riwayat mengatakan usianya 90 tahun. Dengan umur sedemikian beliau layak untuk beristirehat. Ternyata umurnya tidak menyebabkan dia futur untuk memberi sumbangan kepada dakwah Islam. Beliau segera bangkit berjihad dan mampu mengatasi segala macam kesusahan disebalik usianya yang sudah dipenghujung untuk menyertai generasi rabbaniyah. Beliau bangkit berjihad, setelah beliau mendapat taujih dari Allah melalui Surah At-Taubah ayat 41:.

“Pergilah kamu beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah), sama ada dengan keadaan ringan (dan mudah bergerak) ataupun dengan keadaan berat (disebabkan pelbagai-bagai tanggungjawab); dan berjihadlah dengan harta benda dan jiwa kamu pada jalan Allah (untuk membela Islam). Yang demikian amatlah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui.”

Membangun Kekuatan

Firman Allah SWT:

“Dan sebutlah (dengan lidah dan hati) akan nama Rabb-mu (terus menerus siang dan malam), serta tumpukanlah (amal ibadatmu) kepadanya dengan sebulat-bulat tumpuan. Dia lah Tuhan yang Menguasai timur dan barat; tiada Tuhan melainkan Dia; maka jadikanlah Dia penjaga yang menyempurnakan urusanmu.” (Al-Muzzammil:8-9)

Sungguh! Zikir dan ingatlah kepada Allah sebanyaknya, taat, tunduk dan patuh kepada-Nya, bertawakkal dan beribadah hanya kepada-Nya, merupakan senjata yang ampuh di medan dakwah yang penuh dengan rintangan dan cubaan. Semuanya akan menjadikan para calon du’at dan mujahid terbiasa untuk bersabar atas cubaan yang datang. Merasa futur dan lemah jiwa adalah sebahagian dari ujian Allah SWT.

Bagi seorang da’i atau mujahid di atas bahunya terbeban dengan panji-panji dakwah, maka pastilah kita akan diuji Allah SWT. Maka teramat sangatlah kita memerlukan senjata untuk mengukuhkan jiwa dan meneguhkan hati. Senjatanya tidak lain dan tidak bukan adalah senjata yang sama dimiliki oleh Rasulullah SAW dan para sahabat RA., menjana iman kepada Allah SWT., menyertakan diri dalam generasi rabbaniyah. Allah SWT telah meletakkan amanah Iman, iaitu tanggungjawab yang paling besar ke atas kita supaya kita sentiasa menghubungkan diri dengan Yang Maha Esa iaitu Allah SWT; tempat bergantung dan menyerah diri. Segala sesuatu datangnya daripada Allah SWT.Segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, adalah milik Allah SWT.

Inilah hubungan yang pertama yang mesti lahir di dalam jiwa kita. Penyakit futur dan lemah beramal adalah berpunca dari iman yang lemah dan hati yang sakit. Maka solusinya adalah menghubungkan kembali ikatan perhubungan di antara yang dicipta (makhluq) dengan Yang Maha Pencipta (Khaliq). Hakikat keimanan ini perlulah meresapi , menjiwai sehingga ianya sebati dalam lubuk hati. Inilah hakikat hubungan yang pertama yang dituntut oleh Allah SWT sehinggalah perhubungan ini dapat melahirkan keberkesanannya di dalam kenyataan hidup kita. Ia juga merupakan titik permulaan hidup manusia dengan gerakan amal yang berterusan. Ini bererti setiap perkembangan hidup kita itu mestilah terpancar daripada asas perhubungan yang bersih ini.

Maknanya kita perlu memiliki persediaan hati untuk memampukan kita melakukan setiap apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t serta menjauhi segala laranganNya. Hakikat perhambaan atau pengabdian ini hanya dapat lahir apabila jelas hubungan hati kita dengan Allah SWT sepertimana yang dapat kita lihat pada diri para Nabi dan para Rasul serta pengikut-pengikut (umat-umat) mereka yang setia itu.

Kita perlu duduk bersama dengan saudara-saudara kita yang ikhlas hatinya, yang ada persediaan hati dan jiwa yang dikosongkan untuk menjalani tarbiyah (didikan) yang boleh membawa kita kepada matlamat yang suci murni ini iaitu untuk beramal dan berjihad di jalan Allah, menerima kedaulatan Allah SWT Yang Maha Esa tanpa berbelah bagi atau menyekutukan Allah SWT dengan yang lain. Inilah tugas yang besar yang dipikulkan ke atas setiap dari kita. Kekuatan hubungan dengan Allah SWT sahajalah yang menjadi tenaga untuk menggerakkan hati dan rasa, membangun ruh bekerja dan berjihad , berfikir dan berakhlak sejajar dengan hakikat perhambaan yang sebenarnya kepada Allah SWT.

Proses pendidikan seperti inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ke atas diri para sahabat yang dikenali sebagai Generasi al Quran, sehingga lahirlah satu golongan yang beriman yang diiktiraf oleh Allah SWT sendiri. Mereka menjadi ikutan kita semua. Contoh dari ikutan itu ialah keimanan mereka, tentang bagaimana mereka berhubung dengan Allah SWT dan Rasul Nya, tentang keyakinan mereka, cara berfikir , contoh tingkah laku mereka, amal mereka dan jihad mereka. Ini semua menjadi contoh kepada kita. Kita perlu yakin dan jelas akan hakikat ini sekiranya kita ingin mengikuti jejak langkah mereka. Jejak langkah yang melahirkan generasi rabbani yang thabat dalam perjuangan dan jihad.

Jika mereka bersungguh-sungguh melalui proses keimanan kepada Allah SWT sebagai titik tolak dalam melaksanakan ‘Ubudiyyah kepada Allah SWT, maka kita juga menerima hakikat ini sebagai suatu yang prinsip dan yang utama. Kita perlu mendekati dengan didikan al Quran sepertimana mereka mendekati, perlu merasai sebagaimana yang mereka rasai, yakin sebagaimana yang mereka yakin. Sehingga segala pemikiran dan tingkah laku kita selaras dengan kehendak Allah SWT. Inilah tenaga penggerak yang akan mencorak dengan corakan Allah SWT (Sibghah Allah SWT) walaupun di tempat yang sunyi ataupun di khalayak ramai, gelap atau terang, susah atau senang, sibuk atau lapang. Bahkan di mana sahaja atau di setiap masa. Dalam keadaan apa sekalipun.

InsyaAllah, semoga terbangun kembali jiwa yang hidup dan ruh baru berjihad di medan amal yang terbentang luas. Medan dakwah ini hanya menanti mujahid yang setia untuk tangkas berprestasi! Sambutlah syair jihad dari Abdullah Bin Rawahah RA.sebagai penutup bicara;

Wahai jiwa dan nafsuku,
Aku bersumpah dengan nama Allah SWT.,
Kamu harus turun ke medan amal,
Turun dengan sukarela atau harus aku paksa.

Membangkit Ruh Beramal Saat Futur Menyapa


Pernah merasa futur di jalan dakwah? Merasa tidak bersemangat untuk menghadiri halaqah tarbawiyah? Rasa lemah dan lamban untuk beramal soleh, menunaikan solat, baca Al Quran dan selainnya? Di saat itu apa yang anda lakukan? Yang pasti, pada saat jiwa dan ruhiyah kita lemah, banyak masa untuk beramal telah terbuang begitu sahaja. Masih ada banyak lagikah masa dan ruang untuk kita menebus kembali masa-masa yang berlalu dengan kebekuan dan kelesuan beramal?

Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman! bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya); dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari Akhirat). dan (sekali lagi diingatkan): bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat meliputi pengetahuannya akan segala yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr:18)

Jom kita ambil masa sebentar untuk bermuhasabah!

Syed Qutb dalam bukunya “Hadzad-Deen” menjelaskan permasalahan futur kalangan duah dan pencinta dakwah. Permasalahan futur dan lemah jiwa ini adalah petanda berlakunya kerosakan jiwa manusia (nafsul insan). Perkara ini terjadi kerana rukud (berdiam diri, tidak bergerak, statik atau ruh jiwanya tidak mengalir), kesannya:

- Ruhnya membusuk akibat statik / kaku.
- Himmahnya (semangat) istirkha’ (mengendur, lembek, lesu, tidak kencang, longlai)
- Nafs (jiwanya) rosak disebabkan rakha’ (bergelimang harta dunia) dan tharawah (tidak teruji dan terlatihnya jiwa itu dengan kerja-kerja amal yang besar / berat.)
- Akhirnya sekuruh kehidupan menjadi rosak gara-gara rukud, hidupnya bergerak pada pengaruh syahwat semata, sebagaimana terjadi pada bangsa-bangsa yang terdahulu yang mendapat cubaan dan ujian dalam bentuk kesenangan dan kemewahan hidup.

Jalan Keluar

Tatkala menelusuri serah Rasulullah SAW dan para sahabat RA, dan mentadabbur Al Quran penawar bagi permasalahan jiwa manusia, terungkap satu jawapan yang pasti. Kita akan temui sekian banyak kisah dan ibrah dari serah mereka dan sekian banyak ayat-ayat Allah SWT yang mengajak kita untuk mengisi kehidupan ini secara efektif dan mengakhirinya dengan jihad di jalan Allah. Ya! Membangun potensi jihad, baik jihad da’awi, jihad ta’limi, jihad irsyadi, jihat tarbawi, jihad bina’i (jihad membina rijal/nisa’) jihad qitali dan jihad-jihad lainnya. ,
Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta benda mereka dengan (balasan) bahawa mereka akan beroleh syurga, (disebabkan) mereka berjuang pada jalan Allah maka (di antara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (balasan syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar Yang ditetapkan oleh Allah di dalam (Kitab-kitab) Taurat dan Injil serta Al-Quran; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu, bergembiralah dengan jualan yang kamu jalankan jual-belinya itu, dan (ketahuilah bahawa) jual-beli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar.” (Al-Taubah:111)

Inilah dorongan dan sumber motivasi Rasulullah SAW dan para sahabat RA. Mereka teruja dan terbangkit jiwa untuk berjihad di jalan Allah SWT kerana menginginkan syurga Allah SWT yang pasti. Mereka telah mencagarkan diri mereka dalam proses “jual beli” mereka dengan Allah SWT. Bayangkan sahaja para sahabat RA. saat bersama Rasulullah SAW terlibat dalam 64 kali peperangan, 26 kali dipimpin oleh Rasulullah SAW dan bakinya dipimpin oleh para sahabat Rasulullah SAW sendiri. Mereka memaksimakan potensi iman yang dianugerahkan Allah SWT kepada mereka dengan prestasi amal yang luarbiasa. Kehidupan mereka bergerak dengan aktif dengan amal-amal qawwi (kuat). Firman Allah SWT:

“(Mereka itu ialah): orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang mengembara (untuk menuntut ilmu dan mengembangkan Islam), yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat kebaikan dan yang melarang daripada kejahatan (dakwah), serta yang menjaga batas-batas hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang yang beriman (yang bersifat demikian).” (Al-Taubah:112)

Sungguh! Sebuah model nyata yang menggambarkan betapa Rasulullah SAW dan para sahabat RA sentiasa menumpahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki secara maksima dan tiada henti. Tiada istilah futur dalam beramal, kerana bagi mereka setiap amal adalah jihad. Sehingga tiada waktu untuk beristirehat dan berangan-angankan akan hal-hal yang bersifat duniawi.

Mereka yang futur dan lemah beramal banyak menghabiskan masa di rumah sambil menonton televisyen atau menyibukkan diri dengan urusan kerja di pejabat atau melayari internet siang dan malam. Sedangkan para sahabat RA diuji kredibiliti iman dan taqwa mereka di medan jihad, medan yang sebenar. Peperangan Ahzab yang terjadi pada tahun 5 H. antara pengalaman getir Rasulullah SAW dan para sahabat dalam berjihad di medan amal. Peperangan ini sangat penting yang akan menentukan tertegaknya Islam, dimana para sahabat berada dalam situasi yang sangat mencengkam antara hidup dan mati, tergoncang dengan sekeras-kerasnya sebagaimana yang digambarkan suasananya oleh Allah SWT dalam surat Al Ahzab ayat 10-11

“Masa itu ialah masa tentera musuh datang melanggar kamu dari sebelah hulu dan dari sebelah hilir (tempat pertahanan) kamu; dan masa itu ialah masa pemandangan mata kamu tidak berketentuan arah (kerana gempar dan bingung) serta hati pun resah gelisah (kerana cemas takut), dan kamu masing-masing pula menyangka terhadap Allah dengan pelbagai-bagai sangkaan. Pada saat itulah diuji orang-orang yang beriman, dan digoncangkan perasaan dan pendiriannya dengan goncangan yang amat dahsyat.”

Subhanallah, besar sungguh ujian bagi mereka walaupun dalam rangka sedang berjihad. Ujian ini penting bagi melahirkan graduan yang benar-benar bercirikan rabbaniyah, graduan yang berkualiti dan berintegrasi disisi Allah SWT. Apakah selesa dengan kefuturan beramal memungkinkan kita layak untuk menyertai graduan yang luarbiasa ini?.

Rawat futur kita dengan bercerminkan Abu Thalhah RA. Beliau yang saat itu sudah sangat tua, sebahagian riwayat mengatakan usianya 90 tahun. Dengan umur sedemikian beliau layak untuk beristirehat. Ternyata umurnya tidak menyebabkan dia futur untuk memberi sumbangan kepada dakwah Islam. Beliau segera bangkit berjihad dan mampu mengatasi segala macam kesusahan disebalik usianya yang sudah dipenghujung untuk menyertai generasi rabbaniyah. Beliau bangkit berjihad, setelah beliau mendapat taujih dari Allah melalui Surah At-Taubah ayat 41:.

“Pergilah kamu beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah), sama ada dengan keadaan ringan (dan mudah bergerak) ataupun dengan keadaan berat (disebabkan pelbagai-bagai tanggungjawab); dan berjihadlah dengan harta benda dan jiwa kamu pada jalan Allah (untuk membela Islam). Yang demikian amatlah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui.”

Membangun Kekuatan

Firman Allah SWT:

“Dan sebutlah (dengan lidah dan hati) akan nama Rabb-mu (terus menerus siang dan malam), serta tumpukanlah (amal ibadatmu) kepadanya dengan sebulat-bulat tumpuan. Dia lah Tuhan yang Menguasai timur dan barat; tiada Tuhan melainkan Dia; maka jadikanlah Dia penjaga yang menyempurnakan urusanmu.” (Al-Muzzammil:8-9)

Sungguh! Zikir dan ingatlah kepada Allah sebanyaknya, taat, tunduk dan patuh kepada-Nya, bertawakkal dan beribadah hanya kepada-Nya, merupakan senjata yang ampuh di medan dakwah yang penuh dengan rintangan dan cubaan. Semuanya akan menjadikan para calon du’at dan mujahid terbiasa untuk bersabar atas cubaan yang datang. Merasa futur dan lemah jiwa adalah sebahagian dari ujian Allah SWT.

Bagi seorang da’i atau mujahid di atas bahunya terbeban dengan panji-panji dakwah, maka pastilah kita akan diuji Allah SWT. Maka teramat sangatlah kita memerlukan senjata untuk mengukuhkan jiwa dan meneguhkan hati. Senjatanya tidak lain dan tidak bukan adalah senjata yang sama dimiliki oleh Rasulullah SAW dan para sahabat RA., menjana iman kepada Allah SWT., menyertakan diri dalam generasi rabbaniyah. Allah SWT telah meletakkan amanah Iman, iaitu tanggungjawab yang paling besar ke atas kita supaya kita sentiasa menghubungkan diri dengan Yang Maha Esa iaitu Allah SWT; tempat bergantung dan menyerah diri. Segala sesuatu datangnya daripada Allah SWT.Segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, adalah milik Allah SWT.

Inilah hubungan yang pertama yang mesti lahir di dalam jiwa kita. Penyakit futur dan lemah beramal adalah berpunca dari iman yang lemah dan hati yang sakit. Maka solusinya adalah menghubungkan kembali ikatan perhubungan di antara yang dicipta (makhluq) dengan Yang Maha Pencipta (Khaliq). Hakikat keimanan ini perlulah meresapi , menjiwai sehingga ianya sebati dalam lubuk hati. Inilah hakikat hubungan yang pertama yang dituntut oleh Allah SWT sehinggalah perhubungan ini dapat melahirkan keberkesanannya di dalam kenyataan hidup kita. Ia juga merupakan titik permulaan hidup manusia dengan gerakan amal yang berterusan. Ini bererti setiap perkembangan hidup kita itu mestilah terpancar daripada asas perhubungan yang bersih ini.

Maknanya kita perlu memiliki persediaan hati untuk memampukan kita melakukan setiap apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t serta menjauhi segala laranganNya. Hakikat perhambaan atau pengabdian ini hanya dapat lahir apabila jelas hubungan hati kita dengan Allah SWT sepertimana yang dapat kita lihat pada diri para Nabi dan para Rasul serta pengikut-pengikut (umat-umat) mereka yang setia itu.

Kita perlu duduk bersama dengan saudara-saudara kita yang ikhlas hatinya, yang ada persediaan hati dan jiwa yang dikosongkan untuk menjalani tarbiyah (didikan) yang boleh membawa kita kepada matlamat yang suci murni ini iaitu untuk beramal dan berjihad di jalan Allah, menerima kedaulatan Allah SWT Yang Maha Esa tanpa berbelah bagi atau menyekutukan Allah SWT dengan yang lain. Inilah tugas yang besar yang dipikulkan ke atas setiap dari kita. Kekuatan hubungan dengan Allah SWT sahajalah yang menjadi tenaga untuk menggerakkan hati dan rasa, membangun ruh bekerja dan berjihad , berfikir dan berakhlak sejajar dengan hakikat perhambaan yang sebenarnya kepada Allah SWT.

Proses pendidikan seperti inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ke atas diri para sahabat yang dikenali sebagai Generasi al Quran, sehingga lahirlah satu golongan yang beriman yang diiktiraf oleh Allah SWT sendiri. Mereka menjadi ikutan kita semua. Contoh dari ikutan itu ialah keimanan mereka, tentang bagaimana mereka berhubung dengan Allah SWT dan Rasul Nya, tentang keyakinan mereka, cara berfikir , contoh tingkah laku mereka, amal mereka dan jihad mereka. Ini semua menjadi contoh kepada kita. Kita perlu yakin dan jelas akan hakikat ini sekiranya kita ingin mengikuti jejak langkah mereka. Jejak langkah yang melahirkan generasi rabbani yang thabat dalam perjuangan dan jihad.

Jika mereka bersungguh-sungguh melalui proses keimanan kepada Allah SWT sebagai titik tolak dalam melaksanakan ‘Ubudiyyah kepada Allah SWT, maka kita juga menerima hakikat ini sebagai suatu yang prinsip dan yang utama. Kita perlu mendekati dengan didikan al Quran sepertimana mereka mendekati, perlu merasai sebagaimana yang mereka rasai, yakin sebagaimana yang mereka yakin. Sehingga segala pemikiran dan tingkah laku kita selaras dengan kehendak Allah SWT. Inilah tenaga penggerak yang akan mencorak dengan corakan Allah SWT (Sibghah Allah SWT) walaupun di tempat yang sunyi ataupun di khalayak ramai, gelap atau terang, susah atau senang, sibuk atau lapang. Bahkan di mana sahaja atau di setiap masa. Dalam keadaan apa sekalipun.

InsyaAllah, semoga terbangun kembali jiwa yang hidup dan ruh baru berjihad di medan amal yang terbentang luas. Medan dakwah ini hanya menanti mujahid yang setia untuk tangkas berprestasi! Sambutlah syair jihad dari Abdullah Bin Rawahah RA.sebagai penutup bicara;

Wahai jiwa dan nafsuku,
Aku bersumpah dengan nama Allah SWT.,
Kamu harus turun ke medan amal,
Turun dengan sukarela atau harus aku paksa.

Friday, November 19, 2010


Assalamua’laikum wbth.

Alhamdulillah, hari ni cukup cepat masa berlalu. Setakat ini kami semuanya sihat walaupun agak'capek' hari ni.

Bersyukur kita kpd Allah SWT kerana dberi peluang utk kita berkomunikasi pad ahari ini. Bersyukur juga kerana dilindungi dari bencana letusan Gunung Merapi yang masih dalam keadaan 'AWAS'.

Seperti yang diberitahu pihak kerajaan Indonesia, status di sekitar g.Merapi masih dalam status 'AWAS' sehingga 20hb (Sabtu). Walaupun radius kawasan bencana telah dikurangkan dari 20km ke 10 km, penduduk sekitar G.Merapi masih dalam keadaan berjaga-jaga termasuk mereka yang berada di posko-posko keselamatan. Hanya para tentera dan tim penyelamat yg dibenarkan berada di radius 5km untuk menjaga kawasan jika berlaku kecemasan.

Setelah sesi reiki yang diadakan di beberapa kawasan semalam, didapati kawasan sekitar radius 10km telah mengalami kerosakamn yang amat teruk terhadap penduduk, haiwan ternakan dan tanaman. Kelihatan abu tebal telah membanjiri kawasan-kawasan tersebut. Abu panas tersebut telah membunuh banyak haiwan ternakan dan tanaman-tanaman yang merupakan sumber pendapatan utama kepada penduduk di sini. Sumber pendapatan utama disini ialah buah 'Salak Pondok' yang terkenal dengan kelazatanya yang sangat manis. Hampir semua pokok salak, kelapa, buluh menjadi longlai, patah dan mati akibat abu panas yang turun dari letusan G.Merapi. Mereka yang terbabit dgn kemusnahan ini dijangka akan hilang sumber ekonomi kurang2 2-3 bulan.

Setakat ini, sekitar 100,000 lebih pelarian yang masih mendiami di pusat-pusat penempatan sementara. Mereka amat memerlukan bantuan-bantuan dari segi 'sembako' (beras,minyak,tepung,gula,gandum,etc), lampin bayi, pakaian dalam, kewangan, 'Medical Aid' dan paling penting sekali adalah motivasi dan 'Trauma healing' untuk recovery. Didapati seramai 109 orang dewasa telah dihantar ke rumah sakit jiwa akibat bencana ini dan seorang mangsa telah membunuh diri. Di sini kita dapat perhatikan bahawa bantuan "Trauma Healing' adalah amat penting bagi membantu mereka untuk bersabar dan bersemangat untuk terus hidup. Teknik baru yang kami pelajari dari tim BSMI adalah teknik 'Hypnosis' yang mana dapat mengurangkan tekanan dan membantu mereka dari segi mental.



Hari ini kami berada di Desa Stabelan, Salo, kawasan bencana yang paling hampir dengan gunung Merapi sebelah timur. Hanya 3-4 km sahaja diliputi debu pasir tebal dan masih turun lagi walaupun sudah mula berkurangan. Kawasan ni 'darurat'. Kawasan ni belum pernah dilayani oleh mana-mana NGO.

Bersama team medik ikhwah kita dari Jawa Timur (JATIM) membuat rawatan lebih kurang 60 pesakit. Berada di Stabelan sehingga jam 2.00 ptg,terpaksa turun ke bawah kerana hujan mulai turun, bimbang jalan debu bertukar lumpur. Di sepanjang perjalanan naik dan turun juga mengagihkan SEBAKO (barangan keperluan asas). Perjalanan pulang terpaksa melalui jalan lain dan lebih jauh.

Tiba di posko (pusat kordinasi) Boyolali semula jam 7.00 ptg, sempat makan malam, bebek goreng, 'kakap goreng dan ayam penyet!

Bertemu Pak NurAriffin, ikhwah di sini dan wakil NGO tempatan utk berbincang dan merancang perjalanan esok.

OH MERAPI, ENGKAU ADALAH MILIK ALLAH,
BEGITU JUGA KAMI DAN MBAH MARIJAN,
KEPADAMU YA ALLAH KAMI BERSERAH,
AGAR KAMI DIJAUHKAN DARI PELBAGAI DUGAAN.

SOLO, BOYALALI, LATEN INDAH NAMANYA,
PENDUDUK JAWA HALUS BUDIBAHASA,
SUDAH BERLALU TIGA HARI KAMI BERSAMANYA,
MASA KAN SAMA APA YG MEREKA RASA.

Dr. Baharudin Suri
Ketua Misi Kemanusiaan Merapi 1, HALUAN Malaysia)

*Semoga selamat pulang sahabat-sahabat ku..

Khabar dari Gunung Merapi


Assalamua’laikum wbth.

Alhamdulillah, hari ni cukup cepat masa berlalu. Setakat ini kami semuanya sihat walaupun agak'capek' hari ni.

Bersyukur kita kpd Allah SWT kerana dberi peluang utk kita berkomunikasi pad ahari ini. Bersyukur juga kerana dilindungi dari bencana letusan Gunung Merapi yang masih dalam keadaan 'AWAS'.

Seperti yang diberitahu pihak kerajaan Indonesia, status di sekitar g.Merapi masih dalam status 'AWAS' sehingga 20hb (Sabtu). Walaupun radius kawasan bencana telah dikurangkan dari 20km ke 10 km, penduduk sekitar G.Merapi masih dalam keadaan berjaga-jaga termasuk mereka yang berada di posko-posko keselamatan. Hanya para tentera dan tim penyelamat yg dibenarkan berada di radius 5km untuk menjaga kawasan jika berlaku kecemasan.

Setelah sesi reiki yang diadakan di beberapa kawasan semalam, didapati kawasan sekitar radius 10km telah mengalami kerosakamn yang amat teruk terhadap penduduk, haiwan ternakan dan tanaman. Kelihatan abu tebal telah membanjiri kawasan-kawasan tersebut. Abu panas tersebut telah membunuh banyak haiwan ternakan dan tanaman-tanaman yang merupakan sumber pendapatan utama kepada penduduk di sini. Sumber pendapatan utama disini ialah buah 'Salak Pondok' yang terkenal dengan kelazatanya yang sangat manis. Hampir semua pokok salak, kelapa, buluh menjadi longlai, patah dan mati akibat abu panas yang turun dari letusan G.Merapi. Mereka yang terbabit dgn kemusnahan ini dijangka akan hilang sumber ekonomi kurang2 2-3 bulan.

Setakat ini, sekitar 100,000 lebih pelarian yang masih mendiami di pusat-pusat penempatan sementara. Mereka amat memerlukan bantuan-bantuan dari segi 'sembako' (beras,minyak,tepung,gula,gandum,etc), lampin bayi, pakaian dalam, kewangan, 'Medical Aid' dan paling penting sekali adalah motivasi dan 'Trauma healing' untuk recovery. Didapati seramai 109 orang dewasa telah dihantar ke rumah sakit jiwa akibat bencana ini dan seorang mangsa telah membunuh diri. Di sini kita dapat perhatikan bahawa bantuan "Trauma Healing' adalah amat penting bagi membantu mereka untuk bersabar dan bersemangat untuk terus hidup. Teknik baru yang kami pelajari dari tim BSMI adalah teknik 'Hypnosis' yang mana dapat mengurangkan tekanan dan membantu mereka dari segi mental.



Hari ini kami berada di Desa Stabelan, Salo, kawasan bencana yang paling hampir dengan gunung Merapi sebelah timur. Hanya 3-4 km sahaja diliputi debu pasir tebal dan masih turun lagi walaupun sudah mula berkurangan. Kawasan ni 'darurat'. Kawasan ni belum pernah dilayani oleh mana-mana NGO.

Bersama team medik ikhwah kita dari Jawa Timur (JATIM) membuat rawatan lebih kurang 60 pesakit. Berada di Stabelan sehingga jam 2.00 ptg,terpaksa turun ke bawah kerana hujan mulai turun, bimbang jalan debu bertukar lumpur. Di sepanjang perjalanan naik dan turun juga mengagihkan SEBAKO (barangan keperluan asas). Perjalanan pulang terpaksa melalui jalan lain dan lebih jauh.

Tiba di posko (pusat kordinasi) Boyolali semula jam 7.00 ptg, sempat makan malam, bebek goreng, 'kakap goreng dan ayam penyet!

Bertemu Pak NurAriffin, ikhwah di sini dan wakil NGO tempatan utk berbincang dan merancang perjalanan esok.

OH MERAPI, ENGKAU ADALAH MILIK ALLAH,
BEGITU JUGA KAMI DAN MBAH MARIJAN,
KEPADAMU YA ALLAH KAMI BERSERAH,
AGAR KAMI DIJAUHKAN DARI PELBAGAI DUGAAN.

SOLO, BOYALALI, LATEN INDAH NAMANYA,
PENDUDUK JAWA HALUS BUDIBAHASA,
SUDAH BERLALU TIGA HARI KAMI BERSAMANYA,
MASA KAN SAMA APA YG MEREKA RASA.

Dr. Baharudin Suri
Ketua Misi Kemanusiaan Merapi 1, HALUAN Malaysia)

*Semoga selamat pulang sahabat-sahabat ku..

Tuesday, November 16, 2010


Pertamanya, selamat menyambut Hari Raya Idul Adha atau Idul Korban buat semua umat Islam. Kepada para haji di Mekah, semoga Allah permudahkan amalan kalian dan beroleh haji mabrur. Amin. Kepada yang belum berkesempatan melaksanakan rukun Islam ke 5 ini, raihlah semangat, ganjaran pahala dan ibrah di sebalik tarbiah yang terdapat dalam bulan Zulhijjah yang mulia ini.

Imam al Bukhari Rahimahullah meriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas r.a bahawa Nabi s.a.w bersabda bermaksud, “Tiada suatu hari pun, amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada hari-hari ini – iaitu 10 hari Zulhijjah. Para sahabat baginda bertanya, ‘Tidak juga Jihad pada jalan Allah (mengatasi kelebihan Hari-hari tersebut)? Ujar Baginda, Tidak juga Jihad di jalan Allah kecuali seorang yang keluar dengan jiwa raga dan hartanya dan tidak membawa pulang apa-apa pun (kerana habis disumbangkan untuk memenangkan agama Allah)”.

Program Korban
InsyaAllah saban tahun ribuan lembu, sapi, kambing dan unta akan dikorbankan di sepanjang 11 – 13 Zulhijjah di seluruh dunia. Sangat banyak hadis Rasulullah saw yang menerangkan tentang keutamaan berkorban, dan di dalamnya terdapat pelbagai rahsia dan hikmah yang sangat besar. Hadis-hadis tersebut di antaranya:
"Tiada suatu amalanpun yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Korban, lebih dicintai oleh Allah swt selain dari menyembelih haiwan korban. Sesungguhnya haiwan korban itu nanti di hari kiamat akan datang berserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, kuku-kukunya dan sesungguhnya sebelum darah korban itu menyentuh tanah, pahalanya telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kamu semuanya dengan pahala korban itu". (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah)

"Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: "Ya Rasulullah, apakah Ud-hiyyah (korban) itu?". Rasulullah menjawab: "Itulah sunnah ayahmu Ibrahim". Para sahabat kembali bertanya: "Apakah yang kita akan peroleh dari Ud-hiyyah itu?". Rasulullah menjawab lagi: "Pada setiap helai bulu (dari binatang yang dikorbankan itu) kita akan mendapat satu kebajikan". (HR. Ahmad dan Ibn Majah)

Daripada penjelasan beberapa hadis di atas, maka jelaslah bahawa amalan korban itu adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam dan juga sunnah yang diwarisi dari Nabi Ibrahim a.s. Bagi orang-orang yang melaksanakan korban, ia akan dapat satu kebajikan daripada setiap helai bulu haiwan yang telah dikorbankan itu. Selain itu juga korban tersebut akan memperoleh manfaat atau faedahnya jika sekiranya korban tersebut benar-benar dilaksanakan kerana Allah dengan tujuan untuk menegakkan sunnah dan terlepas dari maksud dan tujuan yang lain. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:

"Dan binatang-binatang korban itu Kami jadikan buat kamu sebagai sebahagian dari upacara-upacara (agama) Allah. Padanya ada kebaikan bagi kamu. Oleh kerana itu sebutlah nama Allah ketika menyembelihnya dalam keadaan berbaris-baris. Maka apabila gugur (sembelihan-sembelihan itu), makanlah daripadanya dan berilah makan fakir yang menjaga kehormatan dan fakir yang meminta. Demikianlah Kami mudahkan (binatang-binatang) itu untuk kamu agar kamu bersyukur".

InsyaAllah HALUAN Malaysia melalui Biro Kebajikan HALUAN Pusat meneruskan usaha menganjurkan program korban buat sekian kalinya ke begara-negara Islam yang memerlukan. Saat ini wakil HALUAN, saudara Mohamad Fadzil Husin (Setiusaha Kerja HALUAN Pusat) bersama Hj. Razali Mohd Jamil (Timb YDP HALUAN Perak) berada di Vietnam dan Kemboja bagi menguruskan program korban yang melibatkan 100 ekor lembu. Begitu juga di Malaysia, HALUAN negeri turut akan mengadakan program-program korban mereka bersama masyarakat setempat dan perkampungan orang asli. Tahniah dan terima kasih kepada ahli HALUAN dan masyarakat Islam di Malaysia yang terus memberi kepercayaan menyertai program Korban bersama HALUAN.

Merapi dan Pengorbanan
Pada saat ini juga seramai 4 orang relawan HALUAN yang merupakan kumpulan pertama relawan-relawan Misi Kemanusiaan Merapi (MKM) anjuran HALUAN berada di Yogjakarta, Indonesia. Misi ini adalah merupakan antara usaha HALUAN bagi membantu secara terus mangsa-mangsa bencana letusan gunung Merapi di Jawa Tengah, Indonesia. Gunung Merapi yang mula meletus pada 26 Oktober lalu sehingga kini telah mengorbankan lebih 150 nyawa. Merapi atau apapun bencana yang menimpa manusia seperti banjir, tsunami dan sebagainya adalah merupakan sunnah Allah swt. dalam menguji manusia seluruhnya. Kepada kita yang diberikan kelebihan kenikmatan dunia dan keamanan negara, marilah kita membantu saudara kita yang memerlukan. Daripada Rasulullah s.a.w. dengan mafhumnya,

"Allah akan menolong seorang hamba selama mana hamba itu menolong saudaranya.” [Hadis riwayat Muslim]

Atas semangat inilah justeru HALUAN sentiasa berusaha mendidik dan berbakti sekadar kemampuannya kepada masyarakat yang memerlukan bantuan. 4 orang relawan HALUAN yang berada di Jawa Tengah ini mewakil ribuan ahli HALUAN dan masyarakat muslim di Malaysia. Mereka berkorban seadanya meninggalkan ahli keluarga dan kebiasaan kehidupan lantas berbakti di sana. Marilah kita sama-sama mendoakan keselamatan mereka dan semoga pengorbanan mereka ini diberkati Allah swt.
Sesungguhnya bulan Zulhijjah penuh dengan ruh jihad mengajar umat Islam untuk berkorban, taat dan bersabar. Kisah Nabi Ibrahim as, Siti Hajar, Sarah dan Nabi Ismail menjadi ibrah yang besar kepada kita semua yang mahu mengambil pelajaran.
Kisah dan keteladanan nabi Ibrahim a.s. memberikan pelajaran yang sangat mendalam kepada kita bahawa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Nabi Ibrahim as. menjadi orang yang paling dicintai Allah, khalilullah, imam, abul anbiya (bapa para nabi), hanif, sebutan yang baik, kekayaan harta yang melimpah ruah, dan banyak lagi. Hanya dengan pengorbananlah kita meraih keberkahan.

Apabila kita bertanyakan pada diri kita semua, pada saat ini sudah segigih mana kita umat Islam berkorban untuk umatnya. Hakikatnya pengorbanan akan memberikan keberkahan bagi kehidupan kita, keluarga kita dan umat Islam. Pengorbanan akan melahirkan peradaban besar. Kisah para pahlawan yang berkorban telah membuktikannya; Nabi Ibrahim as. dan keluarganya – Ismail, Ishaq, Siti Sarah dan Hajar; Muhammad saw. dan keluarga baginda – Siti Khadijah, ‘Aisyah, Fatimah, dan lain-lain.

Begitu juga para sahabat yang mulia; Abu Bakar, Umar, Uthman, Ali, dan lain-lain. Para pemimpin setelah sahabat, tabi’in, dan tabiit tabi’in; Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al-Basri, Muhammad bin Mubarak, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Tidak ketinggalan para pahlawan dari generasi moden juga telah mencontohkan kepada kita. Mereka di antaranya Hasan Al-Banna, Syed Qutb, Syeikh Ahmad Yasin dan ramai lagi. Dan kita yakin akan terus muncul lagi pahlawan-pahlawan baru yang siap berkorban demi kemuliaan Islam dan umatnya. Sesungguhnya, bumi yang disirami oleh pengorbanan para nabi, darah syuhada, pada da’i yang ikhlas dan tinta ulama’ adalah bumi yang berkah.

Kebersamaan
"Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. 49:10)

Sesungguhnya Hari Raya Idul Adha juga merupakan momentum yang tepat untuk kita mendalami makna di sebalik ritual ibadah haji yang melambangkan kebersamaan dan kesatuan umat. Hikmah ibadah haji merupakan taburan mutiara yang indah. Di dalamnya mentarbiyah kita tentang solidariti sosial, ukhuwah Islamiyah, perdamaian, kesucian, kebersihan, kepedulian terhadap umat Islam yang lain melalui agihan sembelihan korban. Syariat berkorban menegaskan bahawa umat Islam memiliki empati dan simpati antara sesama kita, menguatkan hubungan dengan Allah SWT dan juga menguatkan hubungan sesama manusia, dan itu merupakan penegasan bahawa kebersamaan adalah nilai keutuhan umat.

Justeru idul Adha atau idul korban merupakan bentuk pengorbanan sebagai buah dari kesedaran akan nilai-nilai luhur dalam hal perjuangan menghindari egoisme peribadi dan juga kelompok. Kita adalah umat yang bersaudara yang asasnya adalah bertaqwa kepada Allah. Hanya generasi yang bertaqwa mampu memimpin umat untuk bersatu hati menjiwai semangat kebersamaan.

Kepimpinan Nabi Ibrahim as., adalah prototype manusia atau hamba Allah yang semenjak awal tidak mementingkan diri sendiri bahkan juga terhadap kelompoknya. Bagi Nabi Ibrahim as., yang terpenting adalah bahawa setiap perbuatan harus ikhlas dilaksanakan, diabdikan untuk mensyukuri kurnia Allah swt. yang telah banyak dilimpahkan serta dikerjakan untuk membawa mashlahat (kebaikan) bagi manusia dan alam, tanpa membeza-bezakan darjat, agama, geografi dan bangsanya. Dengan demikian, Nabi Ibrahim as., merupakan simbol keteladanan sosial bagi kita semua, menjalin kebersamaan dan menebar empati untuk semua”. Kepimpinan ini diteruskan oleh junjungan besar yang kita kasihi, Rasulullah saw.

Penutup
Zulhijjah akan berlalu sebagaimana berlalunya Ramadhan dan juga bulan-bulan yang lain. Peluang demi peluang Allah berikan untuk kita nikmati rahmat dan nikmat-NYA juga Rahman dan Rahimnya Allah. Moga Zulhijjah kali ini membawa pengertian yang lebih mendalam bagi setiap kita. Penghayatan yang lebih hakiki dan ikhlas demi melahirkan tindakan dan perlakuan yang seiring dengan apa yang telintas di hati. Harapan agar baki usia yang ada dimanfaatkan sebaik mungkin demi memastikan tempat yang indah di 'sana' nanti.

Aidiladha: Lembu, Merapi, Pengorbanan dan Kebersamaan


Pertamanya, selamat menyambut Hari Raya Idul Adha atau Idul Korban buat semua umat Islam. Kepada para haji di Mekah, semoga Allah permudahkan amalan kalian dan beroleh haji mabrur. Amin. Kepada yang belum berkesempatan melaksanakan rukun Islam ke 5 ini, raihlah semangat, ganjaran pahala dan ibrah di sebalik tarbiah yang terdapat dalam bulan Zulhijjah yang mulia ini.

Imam al Bukhari Rahimahullah meriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas r.a bahawa Nabi s.a.w bersabda bermaksud, “Tiada suatu hari pun, amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada hari-hari ini – iaitu 10 hari Zulhijjah. Para sahabat baginda bertanya, ‘Tidak juga Jihad pada jalan Allah (mengatasi kelebihan Hari-hari tersebut)? Ujar Baginda, Tidak juga Jihad di jalan Allah kecuali seorang yang keluar dengan jiwa raga dan hartanya dan tidak membawa pulang apa-apa pun (kerana habis disumbangkan untuk memenangkan agama Allah)”.

Program Korban
InsyaAllah saban tahun ribuan lembu, sapi, kambing dan unta akan dikorbankan di sepanjang 11 – 13 Zulhijjah di seluruh dunia. Sangat banyak hadis Rasulullah saw yang menerangkan tentang keutamaan berkorban, dan di dalamnya terdapat pelbagai rahsia dan hikmah yang sangat besar. Hadis-hadis tersebut di antaranya:
"Tiada suatu amalanpun yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Korban, lebih dicintai oleh Allah swt selain dari menyembelih haiwan korban. Sesungguhnya haiwan korban itu nanti di hari kiamat akan datang berserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, kuku-kukunya dan sesungguhnya sebelum darah korban itu menyentuh tanah, pahalanya telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kamu semuanya dengan pahala korban itu". (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah)

"Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: "Ya Rasulullah, apakah Ud-hiyyah (korban) itu?". Rasulullah menjawab: "Itulah sunnah ayahmu Ibrahim". Para sahabat kembali bertanya: "Apakah yang kita akan peroleh dari Ud-hiyyah itu?". Rasulullah menjawab lagi: "Pada setiap helai bulu (dari binatang yang dikorbankan itu) kita akan mendapat satu kebajikan". (HR. Ahmad dan Ibn Majah)

Daripada penjelasan beberapa hadis di atas, maka jelaslah bahawa amalan korban itu adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam dan juga sunnah yang diwarisi dari Nabi Ibrahim a.s. Bagi orang-orang yang melaksanakan korban, ia akan dapat satu kebajikan daripada setiap helai bulu haiwan yang telah dikorbankan itu. Selain itu juga korban tersebut akan memperoleh manfaat atau faedahnya jika sekiranya korban tersebut benar-benar dilaksanakan kerana Allah dengan tujuan untuk menegakkan sunnah dan terlepas dari maksud dan tujuan yang lain. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:

"Dan binatang-binatang korban itu Kami jadikan buat kamu sebagai sebahagian dari upacara-upacara (agama) Allah. Padanya ada kebaikan bagi kamu. Oleh kerana itu sebutlah nama Allah ketika menyembelihnya dalam keadaan berbaris-baris. Maka apabila gugur (sembelihan-sembelihan itu), makanlah daripadanya dan berilah makan fakir yang menjaga kehormatan dan fakir yang meminta. Demikianlah Kami mudahkan (binatang-binatang) itu untuk kamu agar kamu bersyukur".

InsyaAllah HALUAN Malaysia melalui Biro Kebajikan HALUAN Pusat meneruskan usaha menganjurkan program korban buat sekian kalinya ke begara-negara Islam yang memerlukan. Saat ini wakil HALUAN, saudara Mohamad Fadzil Husin (Setiusaha Kerja HALUAN Pusat) bersama Hj. Razali Mohd Jamil (Timb YDP HALUAN Perak) berada di Vietnam dan Kemboja bagi menguruskan program korban yang melibatkan 100 ekor lembu. Begitu juga di Malaysia, HALUAN negeri turut akan mengadakan program-program korban mereka bersama masyarakat setempat dan perkampungan orang asli. Tahniah dan terima kasih kepada ahli HALUAN dan masyarakat Islam di Malaysia yang terus memberi kepercayaan menyertai program Korban bersama HALUAN.

Merapi dan Pengorbanan
Pada saat ini juga seramai 4 orang relawan HALUAN yang merupakan kumpulan pertama relawan-relawan Misi Kemanusiaan Merapi (MKM) anjuran HALUAN berada di Yogjakarta, Indonesia. Misi ini adalah merupakan antara usaha HALUAN bagi membantu secara terus mangsa-mangsa bencana letusan gunung Merapi di Jawa Tengah, Indonesia. Gunung Merapi yang mula meletus pada 26 Oktober lalu sehingga kini telah mengorbankan lebih 150 nyawa. Merapi atau apapun bencana yang menimpa manusia seperti banjir, tsunami dan sebagainya adalah merupakan sunnah Allah swt. dalam menguji manusia seluruhnya. Kepada kita yang diberikan kelebihan kenikmatan dunia dan keamanan negara, marilah kita membantu saudara kita yang memerlukan. Daripada Rasulullah s.a.w. dengan mafhumnya,

"Allah akan menolong seorang hamba selama mana hamba itu menolong saudaranya.” [Hadis riwayat Muslim]

Atas semangat inilah justeru HALUAN sentiasa berusaha mendidik dan berbakti sekadar kemampuannya kepada masyarakat yang memerlukan bantuan. 4 orang relawan HALUAN yang berada di Jawa Tengah ini mewakil ribuan ahli HALUAN dan masyarakat muslim di Malaysia. Mereka berkorban seadanya meninggalkan ahli keluarga dan kebiasaan kehidupan lantas berbakti di sana. Marilah kita sama-sama mendoakan keselamatan mereka dan semoga pengorbanan mereka ini diberkati Allah swt.
Sesungguhnya bulan Zulhijjah penuh dengan ruh jihad mengajar umat Islam untuk berkorban, taat dan bersabar. Kisah Nabi Ibrahim as, Siti Hajar, Sarah dan Nabi Ismail menjadi ibrah yang besar kepada kita semua yang mahu mengambil pelajaran.
Kisah dan keteladanan nabi Ibrahim a.s. memberikan pelajaran yang sangat mendalam kepada kita bahawa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Nabi Ibrahim as. menjadi orang yang paling dicintai Allah, khalilullah, imam, abul anbiya (bapa para nabi), hanif, sebutan yang baik, kekayaan harta yang melimpah ruah, dan banyak lagi. Hanya dengan pengorbananlah kita meraih keberkahan.

Apabila kita bertanyakan pada diri kita semua, pada saat ini sudah segigih mana kita umat Islam berkorban untuk umatnya. Hakikatnya pengorbanan akan memberikan keberkahan bagi kehidupan kita, keluarga kita dan umat Islam. Pengorbanan akan melahirkan peradaban besar. Kisah para pahlawan yang berkorban telah membuktikannya; Nabi Ibrahim as. dan keluarganya – Ismail, Ishaq, Siti Sarah dan Hajar; Muhammad saw. dan keluarga baginda – Siti Khadijah, ‘Aisyah, Fatimah, dan lain-lain.

Begitu juga para sahabat yang mulia; Abu Bakar, Umar, Uthman, Ali, dan lain-lain. Para pemimpin setelah sahabat, tabi’in, dan tabiit tabi’in; Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al-Basri, Muhammad bin Mubarak, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Tidak ketinggalan para pahlawan dari generasi moden juga telah mencontohkan kepada kita. Mereka di antaranya Hasan Al-Banna, Syed Qutb, Syeikh Ahmad Yasin dan ramai lagi. Dan kita yakin akan terus muncul lagi pahlawan-pahlawan baru yang siap berkorban demi kemuliaan Islam dan umatnya. Sesungguhnya, bumi yang disirami oleh pengorbanan para nabi, darah syuhada, pada da’i yang ikhlas dan tinta ulama’ adalah bumi yang berkah.

Kebersamaan
"Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. 49:10)

Sesungguhnya Hari Raya Idul Adha juga merupakan momentum yang tepat untuk kita mendalami makna di sebalik ritual ibadah haji yang melambangkan kebersamaan dan kesatuan umat. Hikmah ibadah haji merupakan taburan mutiara yang indah. Di dalamnya mentarbiyah kita tentang solidariti sosial, ukhuwah Islamiyah, perdamaian, kesucian, kebersihan, kepedulian terhadap umat Islam yang lain melalui agihan sembelihan korban. Syariat berkorban menegaskan bahawa umat Islam memiliki empati dan simpati antara sesama kita, menguatkan hubungan dengan Allah SWT dan juga menguatkan hubungan sesama manusia, dan itu merupakan penegasan bahawa kebersamaan adalah nilai keutuhan umat.

Justeru idul Adha atau idul korban merupakan bentuk pengorbanan sebagai buah dari kesedaran akan nilai-nilai luhur dalam hal perjuangan menghindari egoisme peribadi dan juga kelompok. Kita adalah umat yang bersaudara yang asasnya adalah bertaqwa kepada Allah. Hanya generasi yang bertaqwa mampu memimpin umat untuk bersatu hati menjiwai semangat kebersamaan.

Kepimpinan Nabi Ibrahim as., adalah prototype manusia atau hamba Allah yang semenjak awal tidak mementingkan diri sendiri bahkan juga terhadap kelompoknya. Bagi Nabi Ibrahim as., yang terpenting adalah bahawa setiap perbuatan harus ikhlas dilaksanakan, diabdikan untuk mensyukuri kurnia Allah swt. yang telah banyak dilimpahkan serta dikerjakan untuk membawa mashlahat (kebaikan) bagi manusia dan alam, tanpa membeza-bezakan darjat, agama, geografi dan bangsanya. Dengan demikian, Nabi Ibrahim as., merupakan simbol keteladanan sosial bagi kita semua, menjalin kebersamaan dan menebar empati untuk semua”. Kepimpinan ini diteruskan oleh junjungan besar yang kita kasihi, Rasulullah saw.

Penutup
Zulhijjah akan berlalu sebagaimana berlalunya Ramadhan dan juga bulan-bulan yang lain. Peluang demi peluang Allah berikan untuk kita nikmati rahmat dan nikmat-NYA juga Rahman dan Rahimnya Allah. Moga Zulhijjah kali ini membawa pengertian yang lebih mendalam bagi setiap kita. Penghayatan yang lebih hakiki dan ikhlas demi melahirkan tindakan dan perlakuan yang seiring dengan apa yang telintas di hati. Harapan agar baki usia yang ada dimanfaatkan sebaik mungkin demi memastikan tempat yang indah di 'sana' nanti.

Ada kalangan kita rajin berusaha untuk mendapatkan sesuatu tetapi terlupa berdoa dan mengharap pertolongan dari Allah swt. Ada juga yang sentiasa mengharap Allah menolongnya sedangkan dia tidak berusaha bersungguh-sungguh. Sesungguhnya usaha dan mengharap pertolongan Allah adalah pra syarat kesempurnaan Iman seseorang kepada Rabbnya. Hal ini dapat kita telesuri melalui sirah Rasulullah saw. yang penuh dengan ibrah dan pelajaran buat kita.

Suatu saat, rumah Rasulullah saw sudah mula dikepung. Sebelas penjahat Quraish dari beragam kabilah bersedia di persembunyian mereka. Masing-masing siap sedia dengan senjata terhunus. Mata mereka nyaris tidak berkedip mengawasi setiap celah yang memungkinkan Rasulullah saw keluar.

Dalam situasi yang sangat genting itulah, Rasulullah saw menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempatnya sambil mengenakan selimut yang biasa dipakai baginda. Kemudian, baginda keluar rumahnya tanpa diketahui para pengepungnya. Rasulullah saw langsung menuju rumah Abu Bakar as-Sidiq. Lewat pintu belakang, keduanya menempuh perjalanan ke arah selatan. Keduanya tiba di gua Tsur di atas puncak sebuah bukit yang cukup tinggi. Selama tiga hari keduanya bersembunyi di gua tersebut.

Setelah mengetahui situasi agak selamat, ditemani seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith, Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. meneruskan perjalanan kearah selatan. Setelah melewati daerah pantai dan daerah sepi yang nyaris tidak pernah dilewati orang, mereka berbalik kearah utara menuju Madinah. Pada Isnin, 8 Rabiul Awal tahun keempat belas dari kenabian, bertepatan dengan 23 September 622 M, Rasulullah saw tiba di Quba’. Disana baginda mendirikan masjid dan tinggal selama 4 hari. Setelah itu bersama beberapa orang sahabat yang menjemputnya, baginda bergerak menuju Madinah.

Kisah perjalanan hijrah Rasulullah saw tersebut tidak asing lagi bagi kita. Sebuah kisah perjalanan yang sarat dengan pelajaran. Ia tidak hanya menjelaskan peristiwa pindahnya Rasulullah saw dari tanah kelahirannya, Mekah, menuju negeri hijrah, Madinah. Namun kisah ini menyimpan beragam strategi, taktik, dan siasat jitu menghadapi musuh yang boleh kita teladani.

Keberhasilan Rasulullah saw menyelamatkan diri dari kepungan dan kejaran orang-orang yang ingin membunuhnya itu, tidak cukup dijelaskan semata kerana pertolongan Allah. Meski itu yang paling utama, tetapi sisi usaha Rasulullah saw sebagai seorang manusia pun sangat nyata. Bahkan, kalau diteliti, pertolongan Allah itu muncul dan menjadi kunci keberhasilan setelah segenap usaha dilakukan.

Untuk mengelabui mereka yang mengepung rumahnya, Rasulullah saw menyuruh Ali bin Abi Thalib tidur mengenakan selimutnya. Baginda juga sudah memperkirakan, musuhnya akan mengejar ke arah Madinah. Untuk itu baginda bersembunyi di gua Tsur yang letaknya berlawanan dengan arah Madinah. Rasulullah juga menyuruh Amir bin Furairah, mantan hamba Abu Bakar ra. untuk menggembalakan kambing di sekitar dan sepanjang jalan ke gua. Selain untuk diambil susunya, juga untuk menghilangkan jejak.

Untuk mengetahui keadaan lawan, Rasulullah saw menyuruh Abdullah bin Abu Bakar menginap bersama mereka di gua dan sebelum matahari terbit ia sudah berada kembali di Mekah. Dengan demikian, Rasulullah saw mengetahui semua perancangan orang-orang kafir yang terus mencari dan ingin membunuhnya. Sebaliknya, orang-orang kafir tidak pernah curiga kerana Abdullah bin Abu Bakar selalu bersama mereka di siang hari.

Selama tiga hari bersembunyi di dalam gua, Rasulullah saw dan Abu Bakar tidak kelaparan kerana Asma’ senantiasa mengirimkan makanan buat mereka. Dengan cerdik puteri Abu Bakar itu menyelipkan makanan di pinggangnya. Justeru dalam sejarah dia dikenali dengan Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).

Namun semua itu hanyalah usaha maksima manusia. Yang berhak menentukan keberhasilan hanyalah Allah. Buktinya, walaupun Ali bin Abi Thalib sudah diperintahkan tidur di tempat Rasulullah saw, namun ada juga diantara para pengepung yang sempat mengetahui bahawa Rasulullah sudah keluar. Kekuasaan Allah lah yang mampu menutup mata dan hati para pengepung sehingga Rasulullah saw berhasil menyelamatkan diri.

Walaupun sudah berusaha semaksima mungkin mengatur siasatan, tetap para pengejar Quraish berhasil juga menemui tempat di mana Rasulullah saw dan Abu Bakar bersembunyi. Hanya kekuasaan Allah-lah yang mampu menggerakan hati orang-orang kafir itu untuk tidak memasuki ke dalam gua. Kekuasaan Allah juga yang menggerakkan hati burung merpati untuk bertelur di pintu gua. Kekuasaan Allah juga yang menggerakkan labah-labah untuk merangkai sarangnya menutupi pintu gua. Dengan demikian orang-orang kafir yang saat itu sudah berdiri di muka gua, tidak curiga kalau di dalamnya ada Rasulullah saw dan Abu Bakar sedang bersembunyi.

Walaupun sudah berusaha semaksima mungkin memilih jalan paling selamat ke Madinah, tetapi tetap sahaja Suraqah bin Naufal mampu menemukan mereka. Sekali lagi hanya kerana pertolongan Allah yang menyebabkan kaki kuda Suraqah terperosok sehingga menyebabkannya tidak sanggup menangkap atau membunuh Rasulullah saw.

Tidak hanya pada peristiwa hijrah perkara ini terjadi. Menghadapi pasukan Ahzab yang jumlahnya berlipat ganda, Rasulullah saw dan kaum Muslimin sudah berusaha semaksima mungkin. Untuk membentengi diri dari serbuan musuh, kaum muslimin sudah menggali parit yang mengelilingi hampir setengah keliling Madinah. Rasulullah saw pun menyuruh Hudzaifah Ibnul Yaman untuk mengintai keadaan lawan. Baginda juga mengizinkan Nuaim bin Mas’ud untuk memecah belah pasukan musuh. Namun, bukan itu yang membuat lawan kalah. Bukan itu yang menyebabkan lawan tercerai berai. Itu hanyalah usaha manusia. Yang memenangkan pertempuran adalah Allah. Dengan hanya mengirimkan angin, Allah swt. membuat pasukan Ahzab kucar kacir. Mereka lari tunggang langgang meninggalkan medan pertempuran dengan rasa takut yang mencekam.

Begitulah perjuangan. Ia tidak hanya menuntut kerja keras yang maksima, tetapi juga memerlukan pertolongan dari Allah swt. Sebaliknya, pertolongan dari Allah tidak hanya turun begitu saja tanpa usaha yang maksima.

Malahan datangnya pertolongan Allah itu bersyarat. Ia hanya akan datang kepada mereka yang sudah berusaha menolong agama-Nya. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu,” (QS. Muhammad:7)

Jadi jangan berharap pertolongan Allah akan muncul kalau kita tidak pernah berusaha menolong agama-Nya. Pertolongan Allah akan tiba jua tatkala kita bekerja(dakwah) dan berusaha berdakwah dengan kesungguhan, pengorbanan dan keikhlasan.

Berusaha dan Mengharap Pertolongan Allah swt.


Ada kalangan kita rajin berusaha untuk mendapatkan sesuatu tetapi terlupa berdoa dan mengharap pertolongan dari Allah swt. Ada juga yang sentiasa mengharap Allah menolongnya sedangkan dia tidak berusaha bersungguh-sungguh. Sesungguhnya usaha dan mengharap pertolongan Allah adalah pra syarat kesempurnaan Iman seseorang kepada Rabbnya. Hal ini dapat kita telesuri melalui sirah Rasulullah saw. yang penuh dengan ibrah dan pelajaran buat kita.

Suatu saat, rumah Rasulullah saw sudah mula dikepung. Sebelas penjahat Quraish dari beragam kabilah bersedia di persembunyian mereka. Masing-masing siap sedia dengan senjata terhunus. Mata mereka nyaris tidak berkedip mengawasi setiap celah yang memungkinkan Rasulullah saw keluar.

Dalam situasi yang sangat genting itulah, Rasulullah saw menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempatnya sambil mengenakan selimut yang biasa dipakai baginda. Kemudian, baginda keluar rumahnya tanpa diketahui para pengepungnya. Rasulullah saw langsung menuju rumah Abu Bakar as-Sidiq. Lewat pintu belakang, keduanya menempuh perjalanan ke arah selatan. Keduanya tiba di gua Tsur di atas puncak sebuah bukit yang cukup tinggi. Selama tiga hari keduanya bersembunyi di gua tersebut.

Setelah mengetahui situasi agak selamat, ditemani seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith, Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. meneruskan perjalanan kearah selatan. Setelah melewati daerah pantai dan daerah sepi yang nyaris tidak pernah dilewati orang, mereka berbalik kearah utara menuju Madinah. Pada Isnin, 8 Rabiul Awal tahun keempat belas dari kenabian, bertepatan dengan 23 September 622 M, Rasulullah saw tiba di Quba’. Disana baginda mendirikan masjid dan tinggal selama 4 hari. Setelah itu bersama beberapa orang sahabat yang menjemputnya, baginda bergerak menuju Madinah.

Kisah perjalanan hijrah Rasulullah saw tersebut tidak asing lagi bagi kita. Sebuah kisah perjalanan yang sarat dengan pelajaran. Ia tidak hanya menjelaskan peristiwa pindahnya Rasulullah saw dari tanah kelahirannya, Mekah, menuju negeri hijrah, Madinah. Namun kisah ini menyimpan beragam strategi, taktik, dan siasat jitu menghadapi musuh yang boleh kita teladani.

Keberhasilan Rasulullah saw menyelamatkan diri dari kepungan dan kejaran orang-orang yang ingin membunuhnya itu, tidak cukup dijelaskan semata kerana pertolongan Allah. Meski itu yang paling utama, tetapi sisi usaha Rasulullah saw sebagai seorang manusia pun sangat nyata. Bahkan, kalau diteliti, pertolongan Allah itu muncul dan menjadi kunci keberhasilan setelah segenap usaha dilakukan.

Untuk mengelabui mereka yang mengepung rumahnya, Rasulullah saw menyuruh Ali bin Abi Thalib tidur mengenakan selimutnya. Baginda juga sudah memperkirakan, musuhnya akan mengejar ke arah Madinah. Untuk itu baginda bersembunyi di gua Tsur yang letaknya berlawanan dengan arah Madinah. Rasulullah juga menyuruh Amir bin Furairah, mantan hamba Abu Bakar ra. untuk menggembalakan kambing di sekitar dan sepanjang jalan ke gua. Selain untuk diambil susunya, juga untuk menghilangkan jejak.

Untuk mengetahui keadaan lawan, Rasulullah saw menyuruh Abdullah bin Abu Bakar menginap bersama mereka di gua dan sebelum matahari terbit ia sudah berada kembali di Mekah. Dengan demikian, Rasulullah saw mengetahui semua perancangan orang-orang kafir yang terus mencari dan ingin membunuhnya. Sebaliknya, orang-orang kafir tidak pernah curiga kerana Abdullah bin Abu Bakar selalu bersama mereka di siang hari.

Selama tiga hari bersembunyi di dalam gua, Rasulullah saw dan Abu Bakar tidak kelaparan kerana Asma’ senantiasa mengirimkan makanan buat mereka. Dengan cerdik puteri Abu Bakar itu menyelipkan makanan di pinggangnya. Justeru dalam sejarah dia dikenali dengan Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).

Namun semua itu hanyalah usaha maksima manusia. Yang berhak menentukan keberhasilan hanyalah Allah. Buktinya, walaupun Ali bin Abi Thalib sudah diperintahkan tidur di tempat Rasulullah saw, namun ada juga diantara para pengepung yang sempat mengetahui bahawa Rasulullah sudah keluar. Kekuasaan Allah lah yang mampu menutup mata dan hati para pengepung sehingga Rasulullah saw berhasil menyelamatkan diri.

Walaupun sudah berusaha semaksima mungkin mengatur siasatan, tetap para pengejar Quraish berhasil juga menemui tempat di mana Rasulullah saw dan Abu Bakar bersembunyi. Hanya kekuasaan Allah-lah yang mampu menggerakan hati orang-orang kafir itu untuk tidak memasuki ke dalam gua. Kekuasaan Allah juga yang menggerakkan hati burung merpati untuk bertelur di pintu gua. Kekuasaan Allah juga yang menggerakkan labah-labah untuk merangkai sarangnya menutupi pintu gua. Dengan demikian orang-orang kafir yang saat itu sudah berdiri di muka gua, tidak curiga kalau di dalamnya ada Rasulullah saw dan Abu Bakar sedang bersembunyi.

Walaupun sudah berusaha semaksima mungkin memilih jalan paling selamat ke Madinah, tetapi tetap sahaja Suraqah bin Naufal mampu menemukan mereka. Sekali lagi hanya kerana pertolongan Allah yang menyebabkan kaki kuda Suraqah terperosok sehingga menyebabkannya tidak sanggup menangkap atau membunuh Rasulullah saw.

Tidak hanya pada peristiwa hijrah perkara ini terjadi. Menghadapi pasukan Ahzab yang jumlahnya berlipat ganda, Rasulullah saw dan kaum Muslimin sudah berusaha semaksima mungkin. Untuk membentengi diri dari serbuan musuh, kaum muslimin sudah menggali parit yang mengelilingi hampir setengah keliling Madinah. Rasulullah saw pun menyuruh Hudzaifah Ibnul Yaman untuk mengintai keadaan lawan. Baginda juga mengizinkan Nuaim bin Mas’ud untuk memecah belah pasukan musuh. Namun, bukan itu yang membuat lawan kalah. Bukan itu yang menyebabkan lawan tercerai berai. Itu hanyalah usaha manusia. Yang memenangkan pertempuran adalah Allah. Dengan hanya mengirimkan angin, Allah swt. membuat pasukan Ahzab kucar kacir. Mereka lari tunggang langgang meninggalkan medan pertempuran dengan rasa takut yang mencekam.

Begitulah perjuangan. Ia tidak hanya menuntut kerja keras yang maksima, tetapi juga memerlukan pertolongan dari Allah swt. Sebaliknya, pertolongan dari Allah tidak hanya turun begitu saja tanpa usaha yang maksima.

Malahan datangnya pertolongan Allah itu bersyarat. Ia hanya akan datang kepada mereka yang sudah berusaha menolong agama-Nya. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu,” (QS. Muhammad:7)

Jadi jangan berharap pertolongan Allah akan muncul kalau kita tidak pernah berusaha menolong agama-Nya. Pertolongan Allah akan tiba jua tatkala kita bekerja(dakwah) dan berusaha berdakwah dengan kesungguhan, pengorbanan dan keikhlasan.

Monday, November 15, 2010


Penulis sering tersenyum tatkala melihat gelagat sahabat-sahabat bujang penulis berbicara soal perkahwinan dan calon isteri. Ada yang sedang mencari-cari, mohon dicarikan, telah berpunya/bertunang, sedang dalam proses bertunang dan tak keruan juga yang masih belum bersedia untuk menuju baitul muslim. Semoga mereka semua dipertemukan dengan bidadari terbaik buat menemani kehidupan bersama nanti, yang mampu memberikan kebahagiaan kepada mereka, baik di dunia sehinggalah ke syurga kelak, insyaAllah.

Kepada sahabat-sahabat penulis, jua buat para pemuda di luar sana, benar kita semua ingin memiliki bidadari. Justeru, ayuh kita berdoa agar kita dikurniakan bidadari syurga seperti yang dimiliki oleh seorang sahabat Rasulullah saw. Hanzhalah bin Abu Amir. Hanzhalah beruntung bukar sekadar sempat membina rumahtangga syurga bersama bidadari pilihannya Ukhti Jamilah, tetapi dia beroleh juga bidadari-bidadariri syurga yang setia menantinya.

Nama lengkapnya Hanzhalah bin Abu ‘Amir bin Shaifi bin Malik bin Umayyah bin Dhabi’ah bin Zaid bin Uaf bin Amru bin Auf bin Malik al-Aus al-Anshory al-Ausy. Pada masa jahiliyah ayahnya dikenal sebagai seorang pendeta, namanya Amru.
Suatu hari ayahnya ditanya mengenai kedatangan Nabi dan sifatnya hingga ketika datang, orang-orang dengan mudahnya dapat mengenalnya. Ayahnya pun menyebutkan apa yang ditanyakan. Bahkan secara terang-terangan dirinya akan beriman dengan kenabian itu. Ketika Allah turunkan Islam di jazirah Arab untuk menuntun jalan kebenaran melalui nabi terakhir, namun dirinya mengingkarinya. Bahkan dirinya hasad dengki dengan kenabian Muhammad saw. Namun dengan kebesaran Allah swt. tiak lama kemudian Allah bukakan hati anaknya, Hanzhalah untuk menerima kebenaran yang dibawa Rasulullah saw. Sejak itulah jiwa dan raganya untuk perjuangan Islam.

Kebencian ayahnya terhadap Rasulullah membuat darahnya naik turun. Bahkan meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi Rasulullah tidak mengizinkan. Sejak itulah keyakinan akan kebenaran ajaran Islam semakin menancap di relung hatinya. Seluruh waktunya digunakan untuk menimba ilmu dari Rasulullah.
Di tengah kesibukannya mengikuti da’wah Rasulullah yang penuh dinamik, tak terasa usia telah menghantarkannya untuk memasuki fasa kehidupan berumah tangga. Disamping untuk melakukan regenerasi, tentu ada hikmah kurniaan Allah yang tidak mungkin dapat dijangkanya.

Hanzhalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat ayahnya. Mertuanya itu dikenali sebagai sebagai tokoh munafik, menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Dia berpura-pura membela Nabi saw dalam Perang Uhud; namun ketika rombongan pasukan muslim bergerak ke medan juang, dia menarik diri bersama orang-orangnya, kembali ke Madinah.

Sementara itu situasi Madinah dalam keadaan siap siaga. Kaum muslimin sudah mencium gelagat dan gerak-gerik rancangan penyerangan pasukan Abu Sufian. Situasi Madinah sangat genting pada saat itu. Namun walau dalam situasi seperti itu, Hanzhalah dengan tenang hati dan penuh keyakinan akan melangsungkan pernikahannya. Sungguh tindakannya itu merupakan gambaran pemuda yang senantiassa tenang menghadapi pelbagai macam keadaan.

Hanzhalah menikahi Jamilah, sang kekasih, pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud. Beliau meminta izin kepada Nabi saw. untuk bermalam bersama isterinya. Beliau tidak tahu persis apakah itu pertemuan atau perpisahan. Nabi pun mengizinkannya bermalam bersama isteri yang baru saja dinikahinya.
Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tidak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tidak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.

Langit begitu mempesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Keheningannya dihiasi keindahan rembulan, diukirnya do’a-do’a dengan goresan harapan, khusyu’, berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta. Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan jiwa dengan tatapan cinta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.
Indah…

Sungguh sebuah episode yang teramat indah untuk dilewatkan. Namun disaat sang pengantin asyik terbuai wanginya aroma cinta, seruan jihad berkumandang dan menghampiri gendang telinganya.

“Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!”

Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Suara itu terdengar sangat tajam menusuk telinganya dan terasa menghunjam dalam di dadanya. Suara itu seolah-olah irama syurgawi yang lama dinanti. Hanzalah harus mengeluarkan keputusan dengan cepat. Bersama dengan hembusan angin fajar pertama, Hanzhalah pun segera melepaskan pelukan dari sang isteri.

Dia segera menghambur keluar, dia tidak menunda lagi keberangkatannya, sehingga dia tidak sempat mandi terlebih dahulu. Isterinya meneguhkan tekadnya untuk keluar menyambut seruan jihad sambil memohon kepada Allah agar suaminya diberi anugerah salah satu dari dua kebaikan, menang atau mati syahid,

Dia berangkat diiringi deraian air mata kekasih yang dicintainya. Ia berangkat dengan kerinduan mengisi relung hatinya. Kerinduan saat-saat pertama yang sebelumnya sangat dinantikannya, saat mereka berdua terikat dalam jalinan suci. Namun semua itu berlalu bagaikan mimpi. Hanzalahpun akhirnya berangkat menuju medan juang untuk memenangkan cinta yang lebih besar atas segalanya. Bahkan untuk meraih kemenangan atas dirinya sendiri.

Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tidak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do’alah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Dia bergegas mengambil peralatan perang yang memang telah lama dipersiapkan. Baju perang membalut badan, sebilah pedang terselip dipinggang. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin Rasulullah saw.

Berperang bersama Hamzah, Abu Dujanah, Zubair, Muhajirin dan Anshar yang terus berperang dengan pekikan semangat, seolah tidak ada lagi yang dapat menahan mereka. Bulu-bulu putih pakaian Ali, serban merah Abu Dujanah, serban kuning Zubair, serban hijau Hubab, melambai-lambai bagaikan bendera kemenangan, memberi kekuatan bagi barisan di belakangnya.

Tubuh Hanzhalah yang perkasa serta merta langsung berada di atas punggung kuda. Sambil membenahi posisinya di punggung kuda, tali kekang ditarik dan kuda bergerak secepat kilat menuju barisan perang yang tengah bekecamuk. Tangannya yang kekar memainkan pedang dengan gerakan menebas dan menghentak, menimbulkan kesan bak hempasan angin puting beliung.

Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru maku ke hadapan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tidak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang! Musuhpun bergelimpangan.

Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Hanzhalah terus menerjang. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedangnya berkelebat. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas. Berkali-kali orang Quraisy yang masih berkutat dalam lembah jahiliyah itu mati terbunuh di tangannya.

Sementara itu, dari kejauhan Abu Sufian melihat lelaki yang luarbiasa itu. Dia ingin sekali mendekati dan membunuhnya, tetapi semangatnya belum juga cukup untuk membalas dendam kepada pembunuh anaknya di perang Badar itu. Situasi berbalik, kali ini giliran Hanzhalah mendekati Abu Sufian ketika teman-temannya justru melarikan diri ketakutan. Abu Sufian terpaksa berhadapan dengannya, satu lawan satu. Abu Sufian terjatuh dari kudanya. Wajahnya pucat, ketakutan.

Pedang Hanzhalah yang berkilauan siap merobek lehernya. Dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Tapi, dalam suasana genting itu, Abu Sufian berteriak minta tolong, “Hai orang-orang Quraisy, tolong aku.”

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, berhasil membaca gerakan Hanzhalah dan menebas tengkuknya dari belakang. Tubuh yang gagah dan tegap itu jatuh berdebum ke tanah, Para sahabat yang berada di sekitar dirinya cuba untuk memberi pertolongan, namun langkah mereka terhenti.

Lantas orang-orang Quraisy di sekitarnya tanpa ampun mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah, dari kiri, kanan, dan belakang, sehingga Hanzhalah tersungkur. Dalam situasi yang sudah parah, darah mengalir begitu deras dari tubuhnya, ia masih dihujani dengan lemparan tombak dari pelbagai penjuru.

Tidak lama, kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Hanzhalah ternyata syahid di medan Uhud. Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur.

Sentuhan cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Juga terjadi hujan seketika dan tubuhnya terbolak-balik seperti ada sesuatu yang hendak diratakan oleh air ke sekujur tubuh Hanzhalah. Bayang-bayang putih juga berkelibat mengiringi titisan air hujan. Hujan mereda, cahaya terang padam diiringi kepergian bayang-bayang putih ke langit dan tubuh Hanzhalah kembali terjatuh dengan perlahan.

Subhanallah! Padahal sedari tadi hujan tidak pernah turun setitis pun. Para sahabat yang menyaksikan merasa hairan. Para sahabat kemudian membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw dan menceritakan tentang peristiwa yang mereka saksikan. Seorang sahabat berkata, “Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan dalam sebuah tempat besar terbuat dari perak.” Demikian Urwah ra menegaskan kesaksiannya tentang kesyahidan Hanzhalah di perang Uhud.

Rasulullah meminta agar seseorang segera memanggil isteri Hanzhalah.

Wanita yang dimaksudkan tiba di hadapan Rasul, beliau menceritakan begini dan begini tentang Hanzhalah dan bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?”

Wanita itu tertunduk. Rona pipinya memerah, dengan senyum tipis ia berkata: “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!”

Rasulullah kemudian berkata kepada yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Bahawasanya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah isteri-isterinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.”
Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (iaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS 61:10-12).

Ternyata, jalannya JIHAD “Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!” di jalan Allah swt untuk memiliki bidadari syurga.. Ayuh kita tingkatkan tekad untuk terus istiqamah dengan jihad yang sedang kita laluinya wahai sahabat-sahabatku. Jangan pernah ada rasa lelah dan lemah kerana motivasi kita bekerja adalah syurga dan ukhrawi. Mari kita mengikuti jejak langkah para sahabat saw. yang sentiasa meletakkan akhirat dan syurga sebagai motivasi amal mereka walau apapun ujian, mehah dan tribulasi yang dihadapi.

Menanti Bidadari Syurga


Penulis sering tersenyum tatkala melihat gelagat sahabat-sahabat bujang penulis berbicara soal perkahwinan dan calon isteri. Ada yang sedang mencari-cari, mohon dicarikan, telah berpunya/bertunang, sedang dalam proses bertunang dan tak keruan juga yang masih belum bersedia untuk menuju baitul muslim. Semoga mereka semua dipertemukan dengan bidadari terbaik buat menemani kehidupan bersama nanti, yang mampu memberikan kebahagiaan kepada mereka, baik di dunia sehinggalah ke syurga kelak, insyaAllah.

Kepada sahabat-sahabat penulis, jua buat para pemuda di luar sana, benar kita semua ingin memiliki bidadari. Justeru, ayuh kita berdoa agar kita dikurniakan bidadari syurga seperti yang dimiliki oleh seorang sahabat Rasulullah saw. Hanzhalah bin Abu Amir. Hanzhalah beruntung bukar sekadar sempat membina rumahtangga syurga bersama bidadari pilihannya Ukhti Jamilah, tetapi dia beroleh juga bidadari-bidadariri syurga yang setia menantinya.

Nama lengkapnya Hanzhalah bin Abu ‘Amir bin Shaifi bin Malik bin Umayyah bin Dhabi’ah bin Zaid bin Uaf bin Amru bin Auf bin Malik al-Aus al-Anshory al-Ausy. Pada masa jahiliyah ayahnya dikenal sebagai seorang pendeta, namanya Amru.
Suatu hari ayahnya ditanya mengenai kedatangan Nabi dan sifatnya hingga ketika datang, orang-orang dengan mudahnya dapat mengenalnya. Ayahnya pun menyebutkan apa yang ditanyakan. Bahkan secara terang-terangan dirinya akan beriman dengan kenabian itu. Ketika Allah turunkan Islam di jazirah Arab untuk menuntun jalan kebenaran melalui nabi terakhir, namun dirinya mengingkarinya. Bahkan dirinya hasad dengki dengan kenabian Muhammad saw. Namun dengan kebesaran Allah swt. tiak lama kemudian Allah bukakan hati anaknya, Hanzhalah untuk menerima kebenaran yang dibawa Rasulullah saw. Sejak itulah jiwa dan raganya untuk perjuangan Islam.

Kebencian ayahnya terhadap Rasulullah membuat darahnya naik turun. Bahkan meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi Rasulullah tidak mengizinkan. Sejak itulah keyakinan akan kebenaran ajaran Islam semakin menancap di relung hatinya. Seluruh waktunya digunakan untuk menimba ilmu dari Rasulullah.
Di tengah kesibukannya mengikuti da’wah Rasulullah yang penuh dinamik, tak terasa usia telah menghantarkannya untuk memasuki fasa kehidupan berumah tangga. Disamping untuk melakukan regenerasi, tentu ada hikmah kurniaan Allah yang tidak mungkin dapat dijangkanya.

Hanzhalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat ayahnya. Mertuanya itu dikenali sebagai sebagai tokoh munafik, menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Dia berpura-pura membela Nabi saw dalam Perang Uhud; namun ketika rombongan pasukan muslim bergerak ke medan juang, dia menarik diri bersama orang-orangnya, kembali ke Madinah.

Sementara itu situasi Madinah dalam keadaan siap siaga. Kaum muslimin sudah mencium gelagat dan gerak-gerik rancangan penyerangan pasukan Abu Sufian. Situasi Madinah sangat genting pada saat itu. Namun walau dalam situasi seperti itu, Hanzhalah dengan tenang hati dan penuh keyakinan akan melangsungkan pernikahannya. Sungguh tindakannya itu merupakan gambaran pemuda yang senantiassa tenang menghadapi pelbagai macam keadaan.

Hanzhalah menikahi Jamilah, sang kekasih, pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud. Beliau meminta izin kepada Nabi saw. untuk bermalam bersama isterinya. Beliau tidak tahu persis apakah itu pertemuan atau perpisahan. Nabi pun mengizinkannya bermalam bersama isteri yang baru saja dinikahinya.
Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tidak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tidak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.

Langit begitu mempesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Keheningannya dihiasi keindahan rembulan, diukirnya do’a-do’a dengan goresan harapan, khusyu’, berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta. Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan jiwa dengan tatapan cinta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.
Indah…

Sungguh sebuah episode yang teramat indah untuk dilewatkan. Namun disaat sang pengantin asyik terbuai wanginya aroma cinta, seruan jihad berkumandang dan menghampiri gendang telinganya.

“Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!”

Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Suara itu terdengar sangat tajam menusuk telinganya dan terasa menghunjam dalam di dadanya. Suara itu seolah-olah irama syurgawi yang lama dinanti. Hanzalah harus mengeluarkan keputusan dengan cepat. Bersama dengan hembusan angin fajar pertama, Hanzhalah pun segera melepaskan pelukan dari sang isteri.

Dia segera menghambur keluar, dia tidak menunda lagi keberangkatannya, sehingga dia tidak sempat mandi terlebih dahulu. Isterinya meneguhkan tekadnya untuk keluar menyambut seruan jihad sambil memohon kepada Allah agar suaminya diberi anugerah salah satu dari dua kebaikan, menang atau mati syahid,

Dia berangkat diiringi deraian air mata kekasih yang dicintainya. Ia berangkat dengan kerinduan mengisi relung hatinya. Kerinduan saat-saat pertama yang sebelumnya sangat dinantikannya, saat mereka berdua terikat dalam jalinan suci. Namun semua itu berlalu bagaikan mimpi. Hanzalahpun akhirnya berangkat menuju medan juang untuk memenangkan cinta yang lebih besar atas segalanya. Bahkan untuk meraih kemenangan atas dirinya sendiri.

Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tidak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do’alah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Dia bergegas mengambil peralatan perang yang memang telah lama dipersiapkan. Baju perang membalut badan, sebilah pedang terselip dipinggang. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin Rasulullah saw.

Berperang bersama Hamzah, Abu Dujanah, Zubair, Muhajirin dan Anshar yang terus berperang dengan pekikan semangat, seolah tidak ada lagi yang dapat menahan mereka. Bulu-bulu putih pakaian Ali, serban merah Abu Dujanah, serban kuning Zubair, serban hijau Hubab, melambai-lambai bagaikan bendera kemenangan, memberi kekuatan bagi barisan di belakangnya.

Tubuh Hanzhalah yang perkasa serta merta langsung berada di atas punggung kuda. Sambil membenahi posisinya di punggung kuda, tali kekang ditarik dan kuda bergerak secepat kilat menuju barisan perang yang tengah bekecamuk. Tangannya yang kekar memainkan pedang dengan gerakan menebas dan menghentak, menimbulkan kesan bak hempasan angin puting beliung.

Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru maku ke hadapan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tidak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang! Musuhpun bergelimpangan.

Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Hanzhalah terus menerjang. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedangnya berkelebat. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas. Berkali-kali orang Quraisy yang masih berkutat dalam lembah jahiliyah itu mati terbunuh di tangannya.

Sementara itu, dari kejauhan Abu Sufian melihat lelaki yang luarbiasa itu. Dia ingin sekali mendekati dan membunuhnya, tetapi semangatnya belum juga cukup untuk membalas dendam kepada pembunuh anaknya di perang Badar itu. Situasi berbalik, kali ini giliran Hanzhalah mendekati Abu Sufian ketika teman-temannya justru melarikan diri ketakutan. Abu Sufian terpaksa berhadapan dengannya, satu lawan satu. Abu Sufian terjatuh dari kudanya. Wajahnya pucat, ketakutan.

Pedang Hanzhalah yang berkilauan siap merobek lehernya. Dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Tapi, dalam suasana genting itu, Abu Sufian berteriak minta tolong, “Hai orang-orang Quraisy, tolong aku.”

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, berhasil membaca gerakan Hanzhalah dan menebas tengkuknya dari belakang. Tubuh yang gagah dan tegap itu jatuh berdebum ke tanah, Para sahabat yang berada di sekitar dirinya cuba untuk memberi pertolongan, namun langkah mereka terhenti.

Lantas orang-orang Quraisy di sekitarnya tanpa ampun mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah, dari kiri, kanan, dan belakang, sehingga Hanzhalah tersungkur. Dalam situasi yang sudah parah, darah mengalir begitu deras dari tubuhnya, ia masih dihujani dengan lemparan tombak dari pelbagai penjuru.

Tidak lama, kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Hanzhalah ternyata syahid di medan Uhud. Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur.

Sentuhan cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Juga terjadi hujan seketika dan tubuhnya terbolak-balik seperti ada sesuatu yang hendak diratakan oleh air ke sekujur tubuh Hanzhalah. Bayang-bayang putih juga berkelibat mengiringi titisan air hujan. Hujan mereda, cahaya terang padam diiringi kepergian bayang-bayang putih ke langit dan tubuh Hanzhalah kembali terjatuh dengan perlahan.

Subhanallah! Padahal sedari tadi hujan tidak pernah turun setitis pun. Para sahabat yang menyaksikan merasa hairan. Para sahabat kemudian membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw dan menceritakan tentang peristiwa yang mereka saksikan. Seorang sahabat berkata, “Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan dalam sebuah tempat besar terbuat dari perak.” Demikian Urwah ra menegaskan kesaksiannya tentang kesyahidan Hanzhalah di perang Uhud.

Rasulullah meminta agar seseorang segera memanggil isteri Hanzhalah.

Wanita yang dimaksudkan tiba di hadapan Rasul, beliau menceritakan begini dan begini tentang Hanzhalah dan bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?”

Wanita itu tertunduk. Rona pipinya memerah, dengan senyum tipis ia berkata: “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!”

Rasulullah kemudian berkata kepada yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Bahawasanya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah isteri-isterinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.”
Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (iaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS 61:10-12).

Ternyata, jalannya JIHAD “Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!” di jalan Allah swt untuk memiliki bidadari syurga.. Ayuh kita tingkatkan tekad untuk terus istiqamah dengan jihad yang sedang kita laluinya wahai sahabat-sahabatku. Jangan pernah ada rasa lelah dan lemah kerana motivasi kita bekerja adalah syurga dan ukhrawi. Mari kita mengikuti jejak langkah para sahabat saw. yang sentiasa meletakkan akhirat dan syurga sebagai motivasi amal mereka walau apapun ujian, mehah dan tribulasi yang dihadapi.

Tuesday, November 09, 2010

Pada saat penulis mencoretkan tulisan ini, penulis sedang berprogram bersama pelajar-pelajar lepasan PMR Sekolah Menengah Agama Kg. Laut (SMAKL) Kuala Terengganu sejak semalam dan akan berakhir esok. Menariknya pada kem tahun ini pihak sekolah menjadikan tema “Menjana Kepimpinan Masa Depan” sebagai maudu’ pengisian. Biasanya tema kepimpinan dijalankan dalam program untuk pemimpin-pemimpin sekolah. Namun pihak sekolah melakukan anjakan paradigm dengan menjadikan kepimpinan sebagai tema program bagi meransang setiap peserta untuk merasai bahawa mereka adalah pemimpin masa depan, minimanya pemimpin pada diri sendiri, seterusnya memiliki jiwa kepimpinan Islam. Rasulullah saw. bersabda:

“Setiap kamu adalah pemimpin dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban” (HR Bukhari Muslim).

Mewarisi Acuan Pendidikan Rasulullah saw.
Pendidikan kepimpinan Islam wajar dijadikan modul dalam pentarbiahan anak-anak sejak dari kecil. Anak-anak yang terdidik dengan didikan iman dan Islam, adalah merupakan aset utama untuk kita meletakkan harapan meneruskan misi dan risalah Rasulullah saw. Ternyata dalam sirah kebangkitan Islam semenjak dipimpin oleh Rasulullah saw., para pemuda diberikan perhatian yang amat tinggi oleh Rasulullah dengan acuan tarbiah imaniyah yang amat mantap sehinggakan para pemudalah yang memperkuatkan sendi dan perjuangan dakwah Baginda. Diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, yang paling muda ketika itu keduanya berumur 8 tahun, Thalhah bin Ubaidillah (11), al Arqam bin Abi al Arqam (12), Abdullah bin Mas’ud (14) yang kelak menjadi salah seorang ahli tafsir terkemuka, Saad bin Abi Waqqash (17) yang kelak menjadi panglima perang yang menundukkan Parsi, Jaafar bin Abi Thalib (18), Zaid bin Haritsah (20), Utsman bin Affan (20), Mush’ab bin Umair (24), Umar bin Khatab (26), Abu Ubaidah Ibnul Jarah (27), Bilal bin Rabbah (30), Abu Salamah (30), Abu Bakar Ash Shidiq (37), Hamzah bin Abdul Muthalib (42), Ubaidah bin al Harits, yang paling tua diantara semua sahabat yang berusia 50 tahun.

Pendekatan yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw. telah menjadi ikutan kepada generasi seterusnya. Penulis mengambil contoh kekuatan utuh spiritual dan ruhiyah yang dimiliki oleh para tentera Sultan Muhammad Al Fateh, yang merupakan khalifah ke-7 Kerajaan Uthmaniyyah, yang di bina sejak mereka kecil lagi. Ketika Kota Konstantinople telah berjaya ditawan kembali, dan waktu Jumaat telah masuk, Sultan Muhammad Al Fateh berkenan untuk memilih imam bagi memimpin solat Jumaat yang pertama di Kota Konstantinople. Namun cara pemilihannya agak unik, beliau memanggil seluruh tenteranya dan meminta mereka semua berdiri dengan teratur.

Setelah semuanya dalam kedudukan yang tersusun, maka baginda bertanya kepada tentera-tenteranya:

“Siapa di antara kamu yang pernah meninggalkan solat fardhu sejak baligh, sila duduk…”

Tidak ada siapa di kalangan anggota tenteranya yang duduk. Kemudian baginda bertanya lagi.

“Siapa di antara kamu yang pernah meninggalkan solat-solat sunat yang utama sejak baligh?”

Ketika ini sebilangan kecil dari anggota tenteranya duduk. Kemudian baginda bertanya lagi.

“Siapa di antara kamu yang pernah meninggalkan solat tahajud sejak baligh walaupun semalam, sila duduk.”

Kali ini seluruh anggota tenteranya duduk kecuali baginda sendiri dan akhirnya bagindalah yang memimpin solat berjemaah di Kota Konstantinople.

Tentera Yang Tidak Pernah Tinggalkan Solat Sejak Baligh!
Luar dari Biasa! Siapakah ibu bapa mereka sehingga berjaya mendidik anak-anak mereka sekualiti ini. Ternyata ibu bapa para tentera Sultan Muhammad Al Fateh memberikan fokus utama pendidikan iman terhadap anak-anaknya. Pendidikan Iman di zaman Sultan Muhammad Al Fateh melahirkan pemimpin yang berkualiti di sisi Allah swt, maka layaklah Allah berikan kekuatan dan kemenangan kepada mereka. Sultan Muhammad Al Fateh sendiri telah menaiki takhta ketika berusia 19 tahun dan memerintah selama 30 tahun (1451 - 1481). Baginda merupakan seorang negarawan ulung dan panglima tentera agung yang memimpin sendiri 25 kempen peperangan. Semanjak kecil Baginda menerima pendidikan yang menyeluruh dan bersepadu. Di dalam bidang keagamaan, gurunya adalah Syeikh Shamsuddin Al Wali dikatakan dari keturunan Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq ra. Di dalam ilmu peperangan pula, Baginda diajar tentang taktik peperangan, memanah dan menunggang kuda oleh panglima-panglima tentera. Di dalam bidang akademik pula, Baginda adalah seorang cendekiawan ulung di zamannya yang fasih bertutur dalam 7 bahasa iaitu Bahasa Arab, Latin, Greek, Serbia, Turki, Parsi dan Hebrew. Baginda sentiasa bersifat tawadhu’ dan rendah diri . Semasa membina Benteng Rumeli Hissari, Baginda membuka baju dan serbannya, mengangkat batu dan pasir hingga ulama-ulama dan menteri-menteri terpaksa ikut sama bekerja. Seusia 12 tahun lagi, baginda pernah menjawat jawatan sebagai pemangku khalifah.

Ternyata Sultan Muhammad Al Fateh melalui proses pendidikan yang terancang yang berpaksikan kepada IMAN. Begitu juga dengan bala tenteranya, sehinggakan kesemuanya tidak pernah meninggalkan solat fardhu semenjak baligh.

Harapan Bersama
Menjadi harapan kita bersama untuk berusaha mendidik anak-anak kita dengan acuan yang benar dengan menjadikan pendidikan Iman merentasi segala-galanya. Seterusnya kita melatih anak-anak kita mencontohi Rasulullah saw, para sahabat dan mereka-mereka yang berjuang meneruskan perjuangan Rasulullah, kerana mereka memiliki jiwa kepimpinan Islam yang luarbiasa. Ayuh persiapkan anak-anak kita menjadi pemimpin masa depan Islam. Semoga Allah berkati.

Melahirkan Kepimpinan Masa Depan

Pada saat penulis mencoretkan tulisan ini, penulis sedang berprogram bersama pelajar-pelajar lepasan PMR Sekolah Menengah Agama Kg. Laut (SMAKL) Kuala Terengganu sejak semalam dan akan berakhir esok. Menariknya pada kem tahun ini pihak sekolah menjadikan tema “Menjana Kepimpinan Masa Depan” sebagai maudu’ pengisian. Biasanya tema kepimpinan dijalankan dalam program untuk pemimpin-pemimpin sekolah. Namun pihak sekolah melakukan anjakan paradigm dengan menjadikan kepimpinan sebagai tema program bagi meransang setiap peserta untuk merasai bahawa mereka adalah pemimpin masa depan, minimanya pemimpin pada diri sendiri, seterusnya memiliki jiwa kepimpinan Islam. Rasulullah saw. bersabda:

“Setiap kamu adalah pemimpin dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban” (HR Bukhari Muslim).

Mewarisi Acuan Pendidikan Rasulullah saw.
Pendidikan kepimpinan Islam wajar dijadikan modul dalam pentarbiahan anak-anak sejak dari kecil. Anak-anak yang terdidik dengan didikan iman dan Islam, adalah merupakan aset utama untuk kita meletakkan harapan meneruskan misi dan risalah Rasulullah saw. Ternyata dalam sirah kebangkitan Islam semenjak dipimpin oleh Rasulullah saw., para pemuda diberikan perhatian yang amat tinggi oleh Rasulullah dengan acuan tarbiah imaniyah yang amat mantap sehinggakan para pemudalah yang memperkuatkan sendi dan perjuangan dakwah Baginda. Diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, yang paling muda ketika itu keduanya berumur 8 tahun, Thalhah bin Ubaidillah (11), al Arqam bin Abi al Arqam (12), Abdullah bin Mas’ud (14) yang kelak menjadi salah seorang ahli tafsir terkemuka, Saad bin Abi Waqqash (17) yang kelak menjadi panglima perang yang menundukkan Parsi, Jaafar bin Abi Thalib (18), Zaid bin Haritsah (20), Utsman bin Affan (20), Mush’ab bin Umair (24), Umar bin Khatab (26), Abu Ubaidah Ibnul Jarah (27), Bilal bin Rabbah (30), Abu Salamah (30), Abu Bakar Ash Shidiq (37), Hamzah bin Abdul Muthalib (42), Ubaidah bin al Harits, yang paling tua diantara semua sahabat yang berusia 50 tahun.

Pendekatan yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw. telah menjadi ikutan kepada generasi seterusnya. Penulis mengambil contoh kekuatan utuh spiritual dan ruhiyah yang dimiliki oleh para tentera Sultan Muhammad Al Fateh, yang merupakan khalifah ke-7 Kerajaan Uthmaniyyah, yang di bina sejak mereka kecil lagi. Ketika Kota Konstantinople telah berjaya ditawan kembali, dan waktu Jumaat telah masuk, Sultan Muhammad Al Fateh berkenan untuk memilih imam bagi memimpin solat Jumaat yang pertama di Kota Konstantinople. Namun cara pemilihannya agak unik, beliau memanggil seluruh tenteranya dan meminta mereka semua berdiri dengan teratur.

Setelah semuanya dalam kedudukan yang tersusun, maka baginda bertanya kepada tentera-tenteranya:

“Siapa di antara kamu yang pernah meninggalkan solat fardhu sejak baligh, sila duduk…”

Tidak ada siapa di kalangan anggota tenteranya yang duduk. Kemudian baginda bertanya lagi.

“Siapa di antara kamu yang pernah meninggalkan solat-solat sunat yang utama sejak baligh?”

Ketika ini sebilangan kecil dari anggota tenteranya duduk. Kemudian baginda bertanya lagi.

“Siapa di antara kamu yang pernah meninggalkan solat tahajud sejak baligh walaupun semalam, sila duduk.”

Kali ini seluruh anggota tenteranya duduk kecuali baginda sendiri dan akhirnya bagindalah yang memimpin solat berjemaah di Kota Konstantinople.

Tentera Yang Tidak Pernah Tinggalkan Solat Sejak Baligh!
Luar dari Biasa! Siapakah ibu bapa mereka sehingga berjaya mendidik anak-anak mereka sekualiti ini. Ternyata ibu bapa para tentera Sultan Muhammad Al Fateh memberikan fokus utama pendidikan iman terhadap anak-anaknya. Pendidikan Iman di zaman Sultan Muhammad Al Fateh melahirkan pemimpin yang berkualiti di sisi Allah swt, maka layaklah Allah berikan kekuatan dan kemenangan kepada mereka. Sultan Muhammad Al Fateh sendiri telah menaiki takhta ketika berusia 19 tahun dan memerintah selama 30 tahun (1451 - 1481). Baginda merupakan seorang negarawan ulung dan panglima tentera agung yang memimpin sendiri 25 kempen peperangan. Semanjak kecil Baginda menerima pendidikan yang menyeluruh dan bersepadu. Di dalam bidang keagamaan, gurunya adalah Syeikh Shamsuddin Al Wali dikatakan dari keturunan Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq ra. Di dalam ilmu peperangan pula, Baginda diajar tentang taktik peperangan, memanah dan menunggang kuda oleh panglima-panglima tentera. Di dalam bidang akademik pula, Baginda adalah seorang cendekiawan ulung di zamannya yang fasih bertutur dalam 7 bahasa iaitu Bahasa Arab, Latin, Greek, Serbia, Turki, Parsi dan Hebrew. Baginda sentiasa bersifat tawadhu’ dan rendah diri . Semasa membina Benteng Rumeli Hissari, Baginda membuka baju dan serbannya, mengangkat batu dan pasir hingga ulama-ulama dan menteri-menteri terpaksa ikut sama bekerja. Seusia 12 tahun lagi, baginda pernah menjawat jawatan sebagai pemangku khalifah.

Ternyata Sultan Muhammad Al Fateh melalui proses pendidikan yang terancang yang berpaksikan kepada IMAN. Begitu juga dengan bala tenteranya, sehinggakan kesemuanya tidak pernah meninggalkan solat fardhu semenjak baligh.

Harapan Bersama
Menjadi harapan kita bersama untuk berusaha mendidik anak-anak kita dengan acuan yang benar dengan menjadikan pendidikan Iman merentasi segala-galanya. Seterusnya kita melatih anak-anak kita mencontohi Rasulullah saw, para sahabat dan mereka-mereka yang berjuang meneruskan perjuangan Rasulullah, kerana mereka memiliki jiwa kepimpinan Islam yang luarbiasa. Ayuh persiapkan anak-anak kita menjadi pemimpin masa depan Islam. Semoga Allah berkati.

Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

There was an error in this gadget

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah