Monday, January 31, 2011


Siapa berani berbuat dosa? Siapa pernah berbuat dosa? Jika kita banyak berbuat dosa, sekerap dan sebanyak mana pula penyesalan kita atas dosa dan kesilapan kita? Sekuat mana taubat kita kepada Allah SWT.?

Yakinkah kita betapa setiap perbuatan pasti terakam dengan rapi di sisi Allah SWT? Sehinggakan dosa-dosa kecil pun tercatat dalam dokumentasi yang tidak akan hilang.

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. (Az-Zalzalah: 7-8)

Kita sering menelaah kisah Rasulullah SAW, para sahabat RA dan para soleh terdahulu yang sangat menyesali kesalahannya, dan bersegera bertaubat kepada Allah SWT ada yang hanya kerana tertidur sehingga tidak sempat untuk solat malam, atau tidak sempat solat Subuh berjamaah di masjid, dan pelbagai kisah teladan mereka.

Mereka begitu sensitif dengan dosa-dosa mereka, walaupun ianya dosa kecil. Sikap mereka segera menyesali perbuatan tersebut saat di dunia sebelum dibangkitkan di akhirat patut menjadi inspirasi buat kita semua yang lebih banyak lagi melakukan dosa setiap saat.

Namun ada kelompok yang enggan menyesali dosa-dosanya di dunia kerana keangkuhan dan kesombongannya. Lalu Allah SWT rakamkan wajah suram dan penuh penyesalan mereka saat dibangkitkan di padang masyhar kelak:

“Dan (sungguh ngeri) jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal soleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (as Sajadah: 12)

Beruntunglah kita kerana Allah SWT telah mengkhabarkan lebih awal kisah benar sikap sombong dan angkuh manusia saat di dunia. Ianya menjadi peringatan kepada kita bersama. Betapa kasih dan sayangnya Allah SWT kepada kita kerana memperingatkan kita akan sikap manusia yang tidak ambil kisah urusannya terhadap sang penciptanya.

Sesungguhnya tidak ada gunanya penyesalan di akhirat. Di sana (akhirat) bukanlah tempat untuk menyesali, melainkan tempat menerima balasan. Balasan atas segala amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Dalam banyak ayat Alquran, Allah SWT sering menceritakan penyesalan orang-orang kafir.

''Dan mereka berkata: 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala'.''(Al-Mulk: 10).

Bersyukurlah kita yang masih hidup ini,bayangkan jika kita telah meninggalkan dunia ini dalam keadaan lalai bertaubat dan memohon keampunan kepada Allah SWT. Marilah kita yang masih di dunia ini segera memperbaharui keimanan kita kepada Allah SWT, segeralah bertaubat, berbuat kebajikan, segera menyambut seruan azan, menutup aurat, dan seluruh perkara yang diperintah Allah ke atas kita.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat” (Huud : 3)

Semoga kita tidak termasuk orang yang menyesal di hari kemudian kelak.

*Tulisan ini khusus ditujukan kepada diri penulis sendiri.

Menyesali Sebelum Terlambat


Siapa berani berbuat dosa? Siapa pernah berbuat dosa? Jika kita banyak berbuat dosa, sekerap dan sebanyak mana pula penyesalan kita atas dosa dan kesilapan kita? Sekuat mana taubat kita kepada Allah SWT.?

Yakinkah kita betapa setiap perbuatan pasti terakam dengan rapi di sisi Allah SWT? Sehinggakan dosa-dosa kecil pun tercatat dalam dokumentasi yang tidak akan hilang.

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. (Az-Zalzalah: 7-8)

Kita sering menelaah kisah Rasulullah SAW, para sahabat RA dan para soleh terdahulu yang sangat menyesali kesalahannya, dan bersegera bertaubat kepada Allah SWT ada yang hanya kerana tertidur sehingga tidak sempat untuk solat malam, atau tidak sempat solat Subuh berjamaah di masjid, dan pelbagai kisah teladan mereka.

Mereka begitu sensitif dengan dosa-dosa mereka, walaupun ianya dosa kecil. Sikap mereka segera menyesali perbuatan tersebut saat di dunia sebelum dibangkitkan di akhirat patut menjadi inspirasi buat kita semua yang lebih banyak lagi melakukan dosa setiap saat.

Namun ada kelompok yang enggan menyesali dosa-dosanya di dunia kerana keangkuhan dan kesombongannya. Lalu Allah SWT rakamkan wajah suram dan penuh penyesalan mereka saat dibangkitkan di padang masyhar kelak:

“Dan (sungguh ngeri) jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal soleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (as Sajadah: 12)

Beruntunglah kita kerana Allah SWT telah mengkhabarkan lebih awal kisah benar sikap sombong dan angkuh manusia saat di dunia. Ianya menjadi peringatan kepada kita bersama. Betapa kasih dan sayangnya Allah SWT kepada kita kerana memperingatkan kita akan sikap manusia yang tidak ambil kisah urusannya terhadap sang penciptanya.

Sesungguhnya tidak ada gunanya penyesalan di akhirat. Di sana (akhirat) bukanlah tempat untuk menyesali, melainkan tempat menerima balasan. Balasan atas segala amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Dalam banyak ayat Alquran, Allah SWT sering menceritakan penyesalan orang-orang kafir.

''Dan mereka berkata: 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala'.''(Al-Mulk: 10).

Bersyukurlah kita yang masih hidup ini,bayangkan jika kita telah meninggalkan dunia ini dalam keadaan lalai bertaubat dan memohon keampunan kepada Allah SWT. Marilah kita yang masih di dunia ini segera memperbaharui keimanan kita kepada Allah SWT, segeralah bertaubat, berbuat kebajikan, segera menyambut seruan azan, menutup aurat, dan seluruh perkara yang diperintah Allah ke atas kita.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat” (Huud : 3)

Semoga kita tidak termasuk orang yang menyesal di hari kemudian kelak.

*Tulisan ini khusus ditujukan kepada diri penulis sendiri.

Kehidupan hari ini sangat mencabar keimanan kita. Kita hampir dikelilingi dengan perkara-perkara syubhat dan membangkitkan nafsu syahwat. Ditambah lagi dengan kemungkaran fitnah, tersebar luasnya kemungkaran, beraneka ragamnya penyimpangan-penyimpangan dalam memahami kehidupan, semakin mencengkamnya musuh dan semakin beratnya ujian dan cubaan ke atas umat Islam.

Permasalahan dan cabaran di atas benar-benar akan menguji kedinamikan iman kita. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Sesungguhnya iman itu benar-benar mengalami kelesuan di dalam rongga (dada) salah seorang dari kamu seperti lusuhnya baju. Mintalah kepada Allah SWT agar Allah memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu”. (HR Thabrani)


Rajulun Tsabtun

Justeru kita perlu melayakkan diri kita menjadi rajulun tsabtun, lelaki (termasuk juga wanita) yang thabat (tetap), teguh dan stabil keimanannya menghadapi persoalan-persoalan di atas. Tsabat menurut Dr. Muhammad bin Hasan adalah istiqamah atas petunjuk, memegang teguh ketaqwaan, mengendalikan diri untuk menyusuri jalan kebenaran dan kebaikan, tidak berpaling ke kanan atau ke kiri mengikuti hawa nafsu dan kehendak syaitan, serta segera kembali bertaubat di saat dosa menyelaputi hati dan jiwa mula beransur dikuasai dunia yang melekakan.

Nabi Ibrahim AS pernah berpesan kepada putera puterinya:

“ Dan Nabi Ibrahim pun berwasiat dengan agama itu kepada anak-anaknya, dan (demikian juga) Nabi Yaakub (berwasiat kepada anak-anaknya) katanya: “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama (Islam) ini menjadi ikutan kamu, maka janganlah kamu mati melainkan kamu dalam keadaan Islam”. (Al-Baqarah:132)

Benar sekali! Kita perlu mempertahankan keaslian keislaman kita, jangan sampai Islam kita dikotori dan bercampur aduk dengan perisa-perisa Islam palsu yang kini melambak dipasaran. Akibatnya pemuda pemudi kita hanya islam pada namanya sahaja sedangkan jalan kehidupannya berkiblatkan cara hidup taghut dan logika pemikiran.

Berpegang teguh kepada Islam apabila menghadapi ujian dan mehnah merupakan salah satu syarat untuk berjaya dalam menegakkan Islam. Keteguhan yang berterusan bukanlah sesuatu yang mudah untuk diperolehi. Ia perlu melalui pendidikan (tarbiyah) hari demi hari tanpa rasa jemu. Pendidikan bersumberkan al-Quran dan as-Sunnah, sirah para sahabat dan perjuangan ulamak-ulamak muktabar.

Iman & Taqwa Kunci Tsabat

Ayuh kita thabat dengan Al Quran dan as-Sunnah, insyaAllah kita akan diberikan kekuatan dan petunjuk oleh Allah SWT untuk tetap istiqamah dengan Islam. Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, nescaya Allah memberikan dua bahagian daripada rahmat-Nya kepadamu, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Hadid:28)

Firman Allah SWT lagi:

“Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allah, nescaya Dia akan memberikan kepadamu ‘furqan’* dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar.” (al-Anfal:29)

Firman Allah SWT lagi:

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (ath-Talaq:2-3)

Dari tiga ayat di atas, ternyata kunci thabat adalah ketinggian taqwa kita kepada Allah SWT.

Orang yang bertaqwa akan selalu mendapatkan jalan keluar yang mententeramkan batinnya walau bagaimana besar dan rumitnya permasalahan dan cabaran yang sedang dihadapi.

Ketika menafsirkan firman Allah Subha Nahu Wa Ta’ala ini, Sayyid Qutb berkata;

“Inilah bekal tersebut dan persiapan perjalanan… bekal ketaqwaan yang sentiasa menggugah hati dan membuatnya selalu peka, waspada, hati-hati serta selalu di dalam konsentrasi penuh… bekal cahaya yang menerangi liku-liku perjalanan sepanjang mata memandang. Orang bertaqwa tidak akan tertipu oleh bayangan yang menghalangi pandangannya yang jelas dan benar… itulah bekal penghapus segala kesalahan, bekal yang menjanjikan kedamaian dan ketenteraman, bekal yang membawa harapan atas kurnia Allah SWT; di saat bekal-bekal lain sudah sirna dan semua amal tidak lagi berguna…

Kata Sayyid Qutb lagi;

“Taqwa adalah kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus kepada Allah, selalu waspada dan hati-hati agar tidak sampai kena duri jalanan… Jalan kehidupan yang bertaburan duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhuatiran dan keraguan, harapan atas segala sesuatu yang tidak dapat diperolehi. Ketakutan palsu daripada sesuatu yang tidak layak ditakuti.. dan banyak duri-duri lainnya.”

Tsabat Pakaian Iman

Thabat adalah pakaian Rasulullah dan para sahabat. Perjuangan mereka benar-benar menguji ketaatan dan konsistensi mereka dengan jalan aqidah yang mereka yakini. Suatu saat, kaum kafir Quraish menawarkan perdamaian kepada Rasulullah agar baginda menghentikan seruan dakwahnya. Dengan penuh keyakinan dan keteguhan baginda menjawab:

“Demi Allah! Andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan persoalan ini (dakwah), saya tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama-NYA atau aku binasa kerananya.” (As-sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisham)

Baginda tidak pernah berpaling dari kerjaya besarnya. Baginda tetap tegar dan tidak lemah walau ditimpa pelbagai ujian berat dan halangan ke atas jalan dakwahnya, sejak hari pertama lagi. Sebut sahaja apa jenis ujian yang tidak ditempuh oleh baginda, disekat, dihalang, cubaan rasuah, cubaan pangkat, cubaan kedudukan dan pengaruh, diejek, dibaling batu, diancam bunuh, diembargo, di pulau, diserbu, diserang dan sebagainya, namun baginda tidak pernah tunduk. Semua itu tetap tidak mampu menghentikan baginda dari menyampaikan dakwah dan menyebarluaskan Islam di muka bumi.

Wahai pemuda pemudi Islam, pakaikanlah diri kita dengan pakaian thabat, mari sertai pasukan rajulun tsabtun, kerana ini adalah pakaian rasmi amilin Islam dan pendokong dakwah Rasulullah SAW dan para nabi yang sebelumnya.

Dari Ibnu Abbas RA beliau berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Telah diberitakan kepadaku tentang umat (nabi-nabi terdahulu).Ada Nabi yang berjaya dakwahnya disertai umatnya, ada Nabi yang disertai sekelompok pengikut, ada Nabi yang disertai sepeluh pengikut, ada Nabi yang hanya disertai lima pengikut dan ada Nabi yang hanya diserta dirinya sahaja.” (HR Bukhari)

Para Nabi terdahulu juga mencontohkan kepada kita sikap thabat dan istiqamah mereka mendepani dakwah dalam kehidupan, meskipun tiada seorang yang mahu mengikuti jejak kebenaran yang mereka bawa.

“Dan berapa banyak dari Nabi-nabi (dahulu) telah berperang dengan disertai oleh ramai orang-orang yang taat kepada Allah, maka mereka tidak merasa lemah semangat akan apa yang telah menimpa mereka pada jalan (agama) Allah dan mereka juga tidak lemah tenaga dan tidak pula mahu tunduk (kepada musuh). dan (ingatlah), Allah sentiasa mengasihi orang-orang yang sabar. Dan tidaklah ada yang mereka ucapkan semasa berjuang), selain daripada berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami! ampunkanlah dosa-dosa Kami dan perbuatan Kami yang melampau dalam urusan kami, dan teguhkanlah tapak pendirian Kami (dalam perjuangan); dan tolonglah Kami mencapai kemenangan terhadap kaum yang kafir. (‘Ali Imran: 146-147)


Teguhkanlah Hati Kami!

Semoga kita beroleh sikap thabat dengan Islam dalam kehidupan kita seterusnya membolehkan kita istiqamah untuk melaksanakan segala tuntutan-tuntutannya. Dari Syahr bin Haushab, beliau berkata bahawa saya pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummul Mukminin! Doa apakah yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW ketika baginda berada di sisimu?” Dia menjawab, “Baginda sering membaca:

“Ya Tuhan yang membolak balikkan hati! Teguhkanlah hatiku atas agama-Mu.”

Lalu Ummu Salah bertanya kepada Rasulullah SAW mengapa doa itu yang sering dibacakan. Baginda menjawab:

“Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusiapun melainkan hatinya berada di antara dua jari Allah. Siapa sahaja yang dikehendaki, Dia akan meluruskannya. Siapa sajaha yang dikehendaki, Dia akan memalingkannya (dari kebenaran.) (HR Tirmidzi)

Firman Allah SWT dan semoga doa ini menjadi bekalan dalam setiap hari dalam kehidupan kita:

“(Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau memesongkan hati Kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada Kami limpah rahmat dari sisiMu; Sesungguhnya Engkau jualah Tuhan yang melimpah-limpah pemberianNya. (‘Ali Imran:8)


Artikel ini adalah petikan tulisan penulis di langitIlahi.com>

Ya Allah! Teguhkanlah Hati Kami


Kehidupan hari ini sangat mencabar keimanan kita. Kita hampir dikelilingi dengan perkara-perkara syubhat dan membangkitkan nafsu syahwat. Ditambah lagi dengan kemungkaran fitnah, tersebar luasnya kemungkaran, beraneka ragamnya penyimpangan-penyimpangan dalam memahami kehidupan, semakin mencengkamnya musuh dan semakin beratnya ujian dan cubaan ke atas umat Islam.

Permasalahan dan cabaran di atas benar-benar akan menguji kedinamikan iman kita. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Sesungguhnya iman itu benar-benar mengalami kelesuan di dalam rongga (dada) salah seorang dari kamu seperti lusuhnya baju. Mintalah kepada Allah SWT agar Allah memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu”. (HR Thabrani)


Rajulun Tsabtun

Justeru kita perlu melayakkan diri kita menjadi rajulun tsabtun, lelaki (termasuk juga wanita) yang thabat (tetap), teguh dan stabil keimanannya menghadapi persoalan-persoalan di atas. Tsabat menurut Dr. Muhammad bin Hasan adalah istiqamah atas petunjuk, memegang teguh ketaqwaan, mengendalikan diri untuk menyusuri jalan kebenaran dan kebaikan, tidak berpaling ke kanan atau ke kiri mengikuti hawa nafsu dan kehendak syaitan, serta segera kembali bertaubat di saat dosa menyelaputi hati dan jiwa mula beransur dikuasai dunia yang melekakan.

Nabi Ibrahim AS pernah berpesan kepada putera puterinya:

“ Dan Nabi Ibrahim pun berwasiat dengan agama itu kepada anak-anaknya, dan (demikian juga) Nabi Yaakub (berwasiat kepada anak-anaknya) katanya: “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama (Islam) ini menjadi ikutan kamu, maka janganlah kamu mati melainkan kamu dalam keadaan Islam”. (Al-Baqarah:132)

Benar sekali! Kita perlu mempertahankan keaslian keislaman kita, jangan sampai Islam kita dikotori dan bercampur aduk dengan perisa-perisa Islam palsu yang kini melambak dipasaran. Akibatnya pemuda pemudi kita hanya islam pada namanya sahaja sedangkan jalan kehidupannya berkiblatkan cara hidup taghut dan logika pemikiran.

Berpegang teguh kepada Islam apabila menghadapi ujian dan mehnah merupakan salah satu syarat untuk berjaya dalam menegakkan Islam. Keteguhan yang berterusan bukanlah sesuatu yang mudah untuk diperolehi. Ia perlu melalui pendidikan (tarbiyah) hari demi hari tanpa rasa jemu. Pendidikan bersumberkan al-Quran dan as-Sunnah, sirah para sahabat dan perjuangan ulamak-ulamak muktabar.

Iman & Taqwa Kunci Tsabat

Ayuh kita thabat dengan Al Quran dan as-Sunnah, insyaAllah kita akan diberikan kekuatan dan petunjuk oleh Allah SWT untuk tetap istiqamah dengan Islam. Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, nescaya Allah memberikan dua bahagian daripada rahmat-Nya kepadamu, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Hadid:28)

Firman Allah SWT lagi:

“Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allah, nescaya Dia akan memberikan kepadamu ‘furqan’* dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar.” (al-Anfal:29)

Firman Allah SWT lagi:

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (ath-Talaq:2-3)

Dari tiga ayat di atas, ternyata kunci thabat adalah ketinggian taqwa kita kepada Allah SWT.

Orang yang bertaqwa akan selalu mendapatkan jalan keluar yang mententeramkan batinnya walau bagaimana besar dan rumitnya permasalahan dan cabaran yang sedang dihadapi.

Ketika menafsirkan firman Allah Subha Nahu Wa Ta’ala ini, Sayyid Qutb berkata;

“Inilah bekal tersebut dan persiapan perjalanan… bekal ketaqwaan yang sentiasa menggugah hati dan membuatnya selalu peka, waspada, hati-hati serta selalu di dalam konsentrasi penuh… bekal cahaya yang menerangi liku-liku perjalanan sepanjang mata memandang. Orang bertaqwa tidak akan tertipu oleh bayangan yang menghalangi pandangannya yang jelas dan benar… itulah bekal penghapus segala kesalahan, bekal yang menjanjikan kedamaian dan ketenteraman, bekal yang membawa harapan atas kurnia Allah SWT; di saat bekal-bekal lain sudah sirna dan semua amal tidak lagi berguna…

Kata Sayyid Qutb lagi;

“Taqwa adalah kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus kepada Allah, selalu waspada dan hati-hati agar tidak sampai kena duri jalanan… Jalan kehidupan yang bertaburan duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhuatiran dan keraguan, harapan atas segala sesuatu yang tidak dapat diperolehi. Ketakutan palsu daripada sesuatu yang tidak layak ditakuti.. dan banyak duri-duri lainnya.”

Tsabat Pakaian Iman

Thabat adalah pakaian Rasulullah dan para sahabat. Perjuangan mereka benar-benar menguji ketaatan dan konsistensi mereka dengan jalan aqidah yang mereka yakini. Suatu saat, kaum kafir Quraish menawarkan perdamaian kepada Rasulullah agar baginda menghentikan seruan dakwahnya. Dengan penuh keyakinan dan keteguhan baginda menjawab:

“Demi Allah! Andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan persoalan ini (dakwah), saya tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama-NYA atau aku binasa kerananya.” (As-sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisham)

Baginda tidak pernah berpaling dari kerjaya besarnya. Baginda tetap tegar dan tidak lemah walau ditimpa pelbagai ujian berat dan halangan ke atas jalan dakwahnya, sejak hari pertama lagi. Sebut sahaja apa jenis ujian yang tidak ditempuh oleh baginda, disekat, dihalang, cubaan rasuah, cubaan pangkat, cubaan kedudukan dan pengaruh, diejek, dibaling batu, diancam bunuh, diembargo, di pulau, diserbu, diserang dan sebagainya, namun baginda tidak pernah tunduk. Semua itu tetap tidak mampu menghentikan baginda dari menyampaikan dakwah dan menyebarluaskan Islam di muka bumi.

Wahai pemuda pemudi Islam, pakaikanlah diri kita dengan pakaian thabat, mari sertai pasukan rajulun tsabtun, kerana ini adalah pakaian rasmi amilin Islam dan pendokong dakwah Rasulullah SAW dan para nabi yang sebelumnya.

Dari Ibnu Abbas RA beliau berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Telah diberitakan kepadaku tentang umat (nabi-nabi terdahulu).Ada Nabi yang berjaya dakwahnya disertai umatnya, ada Nabi yang disertai sekelompok pengikut, ada Nabi yang disertai sepeluh pengikut, ada Nabi yang hanya disertai lima pengikut dan ada Nabi yang hanya diserta dirinya sahaja.” (HR Bukhari)

Para Nabi terdahulu juga mencontohkan kepada kita sikap thabat dan istiqamah mereka mendepani dakwah dalam kehidupan, meskipun tiada seorang yang mahu mengikuti jejak kebenaran yang mereka bawa.

“Dan berapa banyak dari Nabi-nabi (dahulu) telah berperang dengan disertai oleh ramai orang-orang yang taat kepada Allah, maka mereka tidak merasa lemah semangat akan apa yang telah menimpa mereka pada jalan (agama) Allah dan mereka juga tidak lemah tenaga dan tidak pula mahu tunduk (kepada musuh). dan (ingatlah), Allah sentiasa mengasihi orang-orang yang sabar. Dan tidaklah ada yang mereka ucapkan semasa berjuang), selain daripada berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami! ampunkanlah dosa-dosa Kami dan perbuatan Kami yang melampau dalam urusan kami, dan teguhkanlah tapak pendirian Kami (dalam perjuangan); dan tolonglah Kami mencapai kemenangan terhadap kaum yang kafir. (‘Ali Imran: 146-147)


Teguhkanlah Hati Kami!

Semoga kita beroleh sikap thabat dengan Islam dalam kehidupan kita seterusnya membolehkan kita istiqamah untuk melaksanakan segala tuntutan-tuntutannya. Dari Syahr bin Haushab, beliau berkata bahawa saya pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummul Mukminin! Doa apakah yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW ketika baginda berada di sisimu?” Dia menjawab, “Baginda sering membaca:

“Ya Tuhan yang membolak balikkan hati! Teguhkanlah hatiku atas agama-Mu.”

Lalu Ummu Salah bertanya kepada Rasulullah SAW mengapa doa itu yang sering dibacakan. Baginda menjawab:

“Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusiapun melainkan hatinya berada di antara dua jari Allah. Siapa sahaja yang dikehendaki, Dia akan meluruskannya. Siapa sajaha yang dikehendaki, Dia akan memalingkannya (dari kebenaran.) (HR Tirmidzi)

Firman Allah SWT dan semoga doa ini menjadi bekalan dalam setiap hari dalam kehidupan kita:

“(Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau memesongkan hati Kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada Kami limpah rahmat dari sisiMu; Sesungguhnya Engkau jualah Tuhan yang melimpah-limpah pemberianNya. (‘Ali Imran:8)


Artikel ini adalah petikan tulisan penulis di langitIlahi.com>

Tuesday, January 25, 2011




Alhamdulillah, syukur tidak terhingga penulis zahirkan kepada Allah SWT atas kurniaan cahayamata ketiga, yang selamat dilahirkan pada Isnin, 24 Jan 2011, 6.20perang di HRPZ II, Kota Bharu Kelantan Darulnaim. 15 hari isteri penulis 'menginap' di wad 25 HRPZ II, hampir 3 minggu penulis tidak "outstation" dan terpaksa menolak jemputan program di luar Kelantan. Akhirnya Allah anugerahkan berita gembira buat kami sekeluarga. Alhamdulillah isteri dan putera ketiga berada dalam keadaan sihat dan ceria.

Ya Allah! Satu lagi amanah besar engkau berikan kepada kami, semoga kami mampu melaksanakan amanah ini dengan mendidik anak-anak kami dengan iman dan ketaqwaan.

Jazakallah kepada rakan-rakan, sahabat dan akhwat atas doa, ambil berat dan ziarah kalian, sesungguhnya semua itu memberi kekuatan dan inspirasi buat kami.Terima kasih juga buat para jururawat,pelatih dan para doktor yang bekerja dengan jujur dan amanah, semoga kalian juga beroleh kebaikan dan pahala disisi Allah SWT.

Selamat datang Ahmad Rushdan Hakimi Mohd Razali ke dunia yang fana. Semoga dikau membesar menjadi putera yang mencintai Allah, Rasulullah, ummat dan akhirat.





Kelahiran Cahaya Mata Ketiga: Syukur Kepada Allah SWT




Alhamdulillah, syukur tidak terhingga penulis zahirkan kepada Allah SWT atas kurniaan cahayamata ketiga, yang selamat dilahirkan pada Isnin, 24 Jan 2011, 6.20perang di HRPZ II, Kota Bharu Kelantan Darulnaim. 15 hari isteri penulis 'menginap' di wad 25 HRPZ II, hampir 3 minggu penulis tidak "outstation" dan terpaksa menolak jemputan program di luar Kelantan. Akhirnya Allah anugerahkan berita gembira buat kami sekeluarga. Alhamdulillah isteri dan putera ketiga berada dalam keadaan sihat dan ceria.

Ya Allah! Satu lagi amanah besar engkau berikan kepada kami, semoga kami mampu melaksanakan amanah ini dengan mendidik anak-anak kami dengan iman dan ketaqwaan.

Jazakallah kepada rakan-rakan, sahabat dan akhwat atas doa, ambil berat dan ziarah kalian, sesungguhnya semua itu memberi kekuatan dan inspirasi buat kami.Terima kasih juga buat para jururawat,pelatih dan para doktor yang bekerja dengan jujur dan amanah, semoga kalian juga beroleh kebaikan dan pahala disisi Allah SWT.

Selamat datang Ahmad Rushdan Hakimi Mohd Razali ke dunia yang fana. Semoga dikau membesar menjadi putera yang mencintai Allah, Rasulullah, ummat dan akhirat.





Wednesday, January 12, 2011


Sesungguhnya dakwah menjadi tinggi dan mulia dengan ketinggian dan kemuliaan pendukungnya. Imam Hasan al-Banna mengatakan: "Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seseorang yang dalam situasi mempersiapkan dan membekali diri, berfikir tentang keberadaannya pada segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berfikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam keadaan siap. Bila diseru ia menyambut seruan itu.

Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar ruang lingkup yang ia persiapkan diri untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya.

Anda dapat membaca cita-cita tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya. Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di sebalik perjuangan.

Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin."

Da’i Yang Bergerak Kerana Allah SWT
Ya! Itulah nilai seorang da’i dari kacamata Al Banna. Bagaimana dengan kita? Apakah kita seorang da’i, atau masih terkapar-kapar dalam kelemasan duniawi yang mengasyikkan. Apakah kita sudah faham akan matlamat kehidupan atau masih teraba-raba dalam kehidupan.

”Sesungguhnya orang-orang yang tidak menaruh ingatan akan menemui Kami (pada hari akhirat untuk menerima balasan), dan yang redha (berpuashati) dengan kehidupan dunia semata-mata serta merasa tenang tenteram dengannya, dan orang-orang yang tidak mengindahkan ayat-ayat (keterangan dan tanda-tanda kekuasasaan) kami, mereka yang demikian keadaannya (di dunia), tempat kediaman mereka (di akhirat) ialah neraka, disebabkan keingkaran dan kederhakaan yang mereka telah lakukan.” (Yunus: 7-8)

Dakwah adalah kerja besar. Projek raksasa. Dakwah adalah suatu proses mengubah yang jahil kepada faham akan matlamat kehidupannya, dari kehidupan batil kepada kebenaran Ilahi, dari manusia hina kepada mukmin rabbani.

Dakwah adalah perubahan. Berani berdakwah ertinya harus siap berubah, mengubah diri sendiri mahupun mengubah orang lain. Kerana perubahan adalah keperluan, maka yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan perubahan itu menjadi lebih menyenangkan.

Sungguh, menjadi seorang da’i yang menyeru dirinya, kaum keluarganya dan masyarakatnya kepada Allah SWT adalah muslim yang memiliki potensi untuk meraih kejayaan, pahala dan kebaikan yang dijanjikan Allah SWT.

Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam) dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji) dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya. (‘Ali Imran: 104)

Rasulullah SAW bersabda:

“Apakah engkau dapat menyampaikan kepada kaum engkau tentang dakwahku, semoga Allah memberi manfaat kepada mereka dengan (dakwah) engkau, dan memberi pahala kepadamu pada mereka.” (Shahih al-Jami’, no. 176 (Hasan)

"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk niscaya untuknya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR. Muslim)


Walaupun besar manapun ganjaran yang Allah SWT janjikan, tidak semua yang mahu menyambutnya. Hatta yang pernah melaksanakan dakwah, akhirnya meninggalkan kerja besar ini dek kerana terpengaruh dengan hambatan dunia. Firman Allah SWT:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah kurnia yang amat besar.” (QS Fathir: 32)


Berdakwahlah Walau Dimana Pun Berada
Apa sahaja kedudukan kita, samada pelajar, mahasiswa, guru, pengurus, pegawai, usahawan dan sebagainya, bawalah risalah dakwah. Rasulullah SAW sendiri tidak pernah mengasingkan kehidupan baginda dengan dakwah. Hatta dalam keadaan dakwah Rasulullah SAW berada dalam fasa lemah dan terhimpit, baginda tetap melaksanakan risalah dakwah yang mulia ini. Rasulullah SAW telah mencontohkan kepada kita bahawa setiap detik perjalanan kehidupan adalah dakwah.

Imam Ahmad telah memberitakan dari putera Sa'ad, sedang ayah Sa'ad sendiri yang menunjukkan jalan ke Rakubah (perjalanan di antara Mekah dengan Madinah). Berkata putera Sa'ad, bahawa ayahku telah menceritakan kepadaku, bahawa Rasulullah SAW bersama-sama dengan Abu Bakar RA telah singgah di kampungku. Sebenarnya Abu Bakar RA ingin melihat puterinya yang kecil sedang disusukan di kampung kami dan Rasulullah SAW pula inginkan jalan pendek ke Madinah. Berkata Sa'ad kepada Rasulullah SAW: "jalan melalui Rakubah ini ada dua orang perompak dari suku Aslam, dikenali orang dengan panggilan Dua yang terhina!, jika engkau ingin melalui jalan ini, kami akan menunjukkannya". Rasulullah SAW menjawab: "Tidak mengapa, tunjukkanlah jalannya kepada kami!". Berkata Sa'ad seterusnya: "Kami pun berjalan melalui Rakubah itu, dan apabila kami dilihat oleh dua orang perompak itu, salah seorang mereka berkata kepada temannya: "Ini orang dari Yaman, barangkali!". Apabila kami bertemu dua orang perompak itu, Rasulullah SAW pun menyeru mereka supaya masuk Islam, dijelaskannyalah kepada keduanya tentang agama yang diajarkannya. Akhirnya mereka berdua setuju dan memeluk Islam. "Siapa nama kamu berdua?" tanya Rasuluilah SAW "Nama kami?". Mereka tersenyum."orang panggil kami dua orang yang terhina! Barangkali kerana perbuatan kami yang jahat". "Tidak", jawab Rasulullah SAW. "Mulai sekarang kamu berdua dipanggil sebagai dua orang yang dimuliakan, kerana telah dimuliakan oleh Islam. Kami sekarang hendak menuju Madinah. Nanti temui kami di Madinah!" Rasulullah SAW berpesan kepada mereka berdua. (Musnad Ahmad 4:74; Majma'uz-Zawa'id 6:58)


Berdakwah Sehingga Ke Akhir Hayat
Seorang da'i itu adalah yang berlari memohon syahadah kepada Allah SWT di saat melakukan tugas dakwah ilallah. Sebagaimana syahidnya 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi RA yang mendakwahkan kaumnya kepada Islam. 'Urwah adalah satu dari dua tokoh besar kaum musyrikin yang disebutkan dalam firman Allah, tentang perkataan kaum musyrikin:

"Dan mereka berkata, "Mengapa al-Qur'an tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makah dan Thaij) ini?" (QS. az-Zukhruf: 31)

Ketika ia menyatakan dirinya bergabung bersama Islam, sekaligus mendakwahkan kaumnya kepada Islam, bertubi-tubi tombak dan anak panah dari segala arah merobek tubuhnya hingga syahid.

Karektor Perajurit Dakwah
Adapun perajurit dakwah adalah pahlawan. Kerana dia rela mengambil peranan di tengah kesulitan, menapaki risiko di saat orang menghindar, meraih momentum saat manusia masih terlena hina, dan menyusun kerja besar saat orang lain belum tersedar.

Untuk membentuk perajurit seperti itu, diperlukan energi yang besar dan kerja yang keras. Ada beberapa karakter khas perajurit istimewa ini dalam dakwah, sebagaimana berikut:

1. Bersedia membina diri (tarbiyah dzatiyah)
Dalam dakwah, perajurit sejati adalah mereka yang bersedia membina diri dan menyerahkan segala komitmennya buat perjuangan dakwah. Komitmennya tulus, tujuannya lurus, amal-amalnya bukan untuk mencari fulus, kerjanya serius, fikirannya diasah terus, dan langkah-langkahnya maju terus.
Allah SWT berfirman:

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah kerana bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran: 146)

2. Bertransaksi di jalan Illahi dengan penuh kesedaran dan kefahaman
Yang dimaksudkan adalah kesedaran untuk menukar harta, jiwa, nyawa dan dirinya dengan syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tanpa paksaan. Tanpa tekanan.
Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 111)

3. Sabar, tidak menyerah hati kepada yang lain selain Islam
Kerana komitmennya inilah, perajurit dakwah tidak mahu berjual hatinya kepada yang lain. Ini kerana ia yakin bahawa Allah tidak mungkin ingkar janji. Kerana itulah, tetaplah anda wahai penerus risalah Rasulullah saw di jalan dakwah ilallah.

“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul-Mu. Dan jangan Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS Ali Imran: 194)

Perajurit dakwah yang ikhlas adalah bukti, mana emas mana loyang, mana yang asli dan mana yang palsu, dan sebagainya. Justeru itu, perajurit dakwah yang sejati tidak akan mengkhianati Allah. Tetap setia pada komitmen awal, bahawa Islam adalah agama yang fitrah. Maka ia setia mengikuti Rasululah tanpa banyak membantah.

4. Berani: Siap mengambil Risiko Terberat

Kerana komitmen inilah, para sahabat Nabi menempatkan diri sebagai pembela Nabi, menukar kecintaan diri untuk sepenuh hati pada Nabi. Dalam kafilah inilah ramai perajurit-perajurit pilihan dengan pelbagai keistimewaan. Ada Sa’ad bin Abi Waqqash pemanah jitu pertama atas rekomendasi Rasulullah. Ada Abu Dujanah dengan pedang terhunusnya menjadi benteng Nabi. Ada Khubaib bin Adi yang tidak rela Nabi disakiti walau hanya tertusuk duri sekalipun. Ada pula Ummu Sulaim dengan belati kecilnya yang sentiasa mendampingi Nabi dalam Perang Uhud. Itu semua perlu komitmen keberanian dalam berhadapan dengan berisiko.

Jalan dakwah jalan mulia, bukanlah jalan yang bertabur bunga. Jalan suci tetapi sepi, tanpa puji. Jalan para nabi yang banyak dikhianati. Jalan para ulama yang tegar. Jalan orang-orang besar yang penuh risiko. Tapi ingatlah, yang penting bukan label melainkan peranan. Sebab, Menjadi penting itu baik, tapi menjadi baik itu jauh lebih penting.

Jadilah perajurit sejati dalam dakwah. Bangkitkan momentum dan energi dakwah dalam diri. Dengan segala komitmen dan kesetiaan yang penuh risiko. Ingatlah, syurga Allah bukan untuk orang-orang yang bermalasan. Jika kita menolong agama Allah, niscaya Allah SWT pasti akan menolong kita.

Mengisi Jawatan Perajurit Dakwah


Sesungguhnya dakwah menjadi tinggi dan mulia dengan ketinggian dan kemuliaan pendukungnya. Imam Hasan al-Banna mengatakan: "Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seseorang yang dalam situasi mempersiapkan dan membekali diri, berfikir tentang keberadaannya pada segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berfikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam keadaan siap. Bila diseru ia menyambut seruan itu.

Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar ruang lingkup yang ia persiapkan diri untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya.

Anda dapat membaca cita-cita tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya. Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di sebalik perjuangan.

Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin."

Da’i Yang Bergerak Kerana Allah SWT
Ya! Itulah nilai seorang da’i dari kacamata Al Banna. Bagaimana dengan kita? Apakah kita seorang da’i, atau masih terkapar-kapar dalam kelemasan duniawi yang mengasyikkan. Apakah kita sudah faham akan matlamat kehidupan atau masih teraba-raba dalam kehidupan.

”Sesungguhnya orang-orang yang tidak menaruh ingatan akan menemui Kami (pada hari akhirat untuk menerima balasan), dan yang redha (berpuashati) dengan kehidupan dunia semata-mata serta merasa tenang tenteram dengannya, dan orang-orang yang tidak mengindahkan ayat-ayat (keterangan dan tanda-tanda kekuasasaan) kami, mereka yang demikian keadaannya (di dunia), tempat kediaman mereka (di akhirat) ialah neraka, disebabkan keingkaran dan kederhakaan yang mereka telah lakukan.” (Yunus: 7-8)

Dakwah adalah kerja besar. Projek raksasa. Dakwah adalah suatu proses mengubah yang jahil kepada faham akan matlamat kehidupannya, dari kehidupan batil kepada kebenaran Ilahi, dari manusia hina kepada mukmin rabbani.

Dakwah adalah perubahan. Berani berdakwah ertinya harus siap berubah, mengubah diri sendiri mahupun mengubah orang lain. Kerana perubahan adalah keperluan, maka yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan perubahan itu menjadi lebih menyenangkan.

Sungguh, menjadi seorang da’i yang menyeru dirinya, kaum keluarganya dan masyarakatnya kepada Allah SWT adalah muslim yang memiliki potensi untuk meraih kejayaan, pahala dan kebaikan yang dijanjikan Allah SWT.

Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam) dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji) dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya. (‘Ali Imran: 104)

Rasulullah SAW bersabda:

“Apakah engkau dapat menyampaikan kepada kaum engkau tentang dakwahku, semoga Allah memberi manfaat kepada mereka dengan (dakwah) engkau, dan memberi pahala kepadamu pada mereka.” (Shahih al-Jami’, no. 176 (Hasan)

"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk niscaya untuknya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR. Muslim)


Walaupun besar manapun ganjaran yang Allah SWT janjikan, tidak semua yang mahu menyambutnya. Hatta yang pernah melaksanakan dakwah, akhirnya meninggalkan kerja besar ini dek kerana terpengaruh dengan hambatan dunia. Firman Allah SWT:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah kurnia yang amat besar.” (QS Fathir: 32)


Berdakwahlah Walau Dimana Pun Berada
Apa sahaja kedudukan kita, samada pelajar, mahasiswa, guru, pengurus, pegawai, usahawan dan sebagainya, bawalah risalah dakwah. Rasulullah SAW sendiri tidak pernah mengasingkan kehidupan baginda dengan dakwah. Hatta dalam keadaan dakwah Rasulullah SAW berada dalam fasa lemah dan terhimpit, baginda tetap melaksanakan risalah dakwah yang mulia ini. Rasulullah SAW telah mencontohkan kepada kita bahawa setiap detik perjalanan kehidupan adalah dakwah.

Imam Ahmad telah memberitakan dari putera Sa'ad, sedang ayah Sa'ad sendiri yang menunjukkan jalan ke Rakubah (perjalanan di antara Mekah dengan Madinah). Berkata putera Sa'ad, bahawa ayahku telah menceritakan kepadaku, bahawa Rasulullah SAW bersama-sama dengan Abu Bakar RA telah singgah di kampungku. Sebenarnya Abu Bakar RA ingin melihat puterinya yang kecil sedang disusukan di kampung kami dan Rasulullah SAW pula inginkan jalan pendek ke Madinah. Berkata Sa'ad kepada Rasulullah SAW: "jalan melalui Rakubah ini ada dua orang perompak dari suku Aslam, dikenali orang dengan panggilan Dua yang terhina!, jika engkau ingin melalui jalan ini, kami akan menunjukkannya". Rasulullah SAW menjawab: "Tidak mengapa, tunjukkanlah jalannya kepada kami!". Berkata Sa'ad seterusnya: "Kami pun berjalan melalui Rakubah itu, dan apabila kami dilihat oleh dua orang perompak itu, salah seorang mereka berkata kepada temannya: "Ini orang dari Yaman, barangkali!". Apabila kami bertemu dua orang perompak itu, Rasulullah SAW pun menyeru mereka supaya masuk Islam, dijelaskannyalah kepada keduanya tentang agama yang diajarkannya. Akhirnya mereka berdua setuju dan memeluk Islam. "Siapa nama kamu berdua?" tanya Rasuluilah SAW "Nama kami?". Mereka tersenyum."orang panggil kami dua orang yang terhina! Barangkali kerana perbuatan kami yang jahat". "Tidak", jawab Rasulullah SAW. "Mulai sekarang kamu berdua dipanggil sebagai dua orang yang dimuliakan, kerana telah dimuliakan oleh Islam. Kami sekarang hendak menuju Madinah. Nanti temui kami di Madinah!" Rasulullah SAW berpesan kepada mereka berdua. (Musnad Ahmad 4:74; Majma'uz-Zawa'id 6:58)


Berdakwah Sehingga Ke Akhir Hayat
Seorang da'i itu adalah yang berlari memohon syahadah kepada Allah SWT di saat melakukan tugas dakwah ilallah. Sebagaimana syahidnya 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi RA yang mendakwahkan kaumnya kepada Islam. 'Urwah adalah satu dari dua tokoh besar kaum musyrikin yang disebutkan dalam firman Allah, tentang perkataan kaum musyrikin:

"Dan mereka berkata, "Mengapa al-Qur'an tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makah dan Thaij) ini?" (QS. az-Zukhruf: 31)

Ketika ia menyatakan dirinya bergabung bersama Islam, sekaligus mendakwahkan kaumnya kepada Islam, bertubi-tubi tombak dan anak panah dari segala arah merobek tubuhnya hingga syahid.

Karektor Perajurit Dakwah
Adapun perajurit dakwah adalah pahlawan. Kerana dia rela mengambil peranan di tengah kesulitan, menapaki risiko di saat orang menghindar, meraih momentum saat manusia masih terlena hina, dan menyusun kerja besar saat orang lain belum tersedar.

Untuk membentuk perajurit seperti itu, diperlukan energi yang besar dan kerja yang keras. Ada beberapa karakter khas perajurit istimewa ini dalam dakwah, sebagaimana berikut:

1. Bersedia membina diri (tarbiyah dzatiyah)
Dalam dakwah, perajurit sejati adalah mereka yang bersedia membina diri dan menyerahkan segala komitmennya buat perjuangan dakwah. Komitmennya tulus, tujuannya lurus, amal-amalnya bukan untuk mencari fulus, kerjanya serius, fikirannya diasah terus, dan langkah-langkahnya maju terus.
Allah SWT berfirman:

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah kerana bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran: 146)

2. Bertransaksi di jalan Illahi dengan penuh kesedaran dan kefahaman
Yang dimaksudkan adalah kesedaran untuk menukar harta, jiwa, nyawa dan dirinya dengan syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tanpa paksaan. Tanpa tekanan.
Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 111)

3. Sabar, tidak menyerah hati kepada yang lain selain Islam
Kerana komitmennya inilah, perajurit dakwah tidak mahu berjual hatinya kepada yang lain. Ini kerana ia yakin bahawa Allah tidak mungkin ingkar janji. Kerana itulah, tetaplah anda wahai penerus risalah Rasulullah saw di jalan dakwah ilallah.

“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul-Mu. Dan jangan Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS Ali Imran: 194)

Perajurit dakwah yang ikhlas adalah bukti, mana emas mana loyang, mana yang asli dan mana yang palsu, dan sebagainya. Justeru itu, perajurit dakwah yang sejati tidak akan mengkhianati Allah. Tetap setia pada komitmen awal, bahawa Islam adalah agama yang fitrah. Maka ia setia mengikuti Rasululah tanpa banyak membantah.

4. Berani: Siap mengambil Risiko Terberat

Kerana komitmen inilah, para sahabat Nabi menempatkan diri sebagai pembela Nabi, menukar kecintaan diri untuk sepenuh hati pada Nabi. Dalam kafilah inilah ramai perajurit-perajurit pilihan dengan pelbagai keistimewaan. Ada Sa’ad bin Abi Waqqash pemanah jitu pertama atas rekomendasi Rasulullah. Ada Abu Dujanah dengan pedang terhunusnya menjadi benteng Nabi. Ada Khubaib bin Adi yang tidak rela Nabi disakiti walau hanya tertusuk duri sekalipun. Ada pula Ummu Sulaim dengan belati kecilnya yang sentiasa mendampingi Nabi dalam Perang Uhud. Itu semua perlu komitmen keberanian dalam berhadapan dengan berisiko.

Jalan dakwah jalan mulia, bukanlah jalan yang bertabur bunga. Jalan suci tetapi sepi, tanpa puji. Jalan para nabi yang banyak dikhianati. Jalan para ulama yang tegar. Jalan orang-orang besar yang penuh risiko. Tapi ingatlah, yang penting bukan label melainkan peranan. Sebab, Menjadi penting itu baik, tapi menjadi baik itu jauh lebih penting.

Jadilah perajurit sejati dalam dakwah. Bangkitkan momentum dan energi dakwah dalam diri. Dengan segala komitmen dan kesetiaan yang penuh risiko. Ingatlah, syurga Allah bukan untuk orang-orang yang bermalasan. Jika kita menolong agama Allah, niscaya Allah SWT pasti akan menolong kita.

Friday, January 07, 2011


Alhamdulillah, hari ini Jumaat, cuaca begitu redup dan indah setelah beberapa hari hujan turun tanpa henti. Hari ini penulis menunaikan solat Jumaat bersama Ahmad Ridhwan, anak sulung penulis, sudah 7 tahun beliau kini. Penulis juga teruja mendengar khutbah Jumaat yang penuh bersemangat disampaikan oleh khatib Masjid As Salam, Pengkalan Chepa. Khutbah kali ini mengajak muslimin meluruskan matlamat kehidupan agar selari dengan tuntutan Allah SWT, khususnya dalam pergaulan seharian. Hari ini corak pergaulan generasi muda amat dibimbangi. Pergaulan mereka begitu mudah terpisah dari panduan dan tatacara yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat RA. Kesannya berleluasa pergaulan dan seks bebas, coupling haram, zina, anak luar nikah, pembuangan bayi dan 1001 anasir kemaksiatan.

Khatib mengajak seluruh umat Islam, pertubuhan bukan kerajaan (NGO) Islam, jawatankuasa masjid, sekolah dan institusi pendidikan, badan potitik dan alim ulama berganding bahu membanting tulang melipatgandakan usaha berdakwah dan mentarbiyah umat agar umat terbangun kembali dengan peribadi dan keindahan Islam.

Ya! Itulah yang cuba penulis fahamkan diri penulis, tugas dan tanggungjawab dakwah tidak akan pernah padam selagi Islam tidak menjadi sistem kehidupan manusia, khususnya umat Islam. Hari ini tugas dakwah telah diswastakan kepada majlis agama dan alim ulama semata. Sedangkan permasahanan sosial semakin parah menjangkiti umat, khususnya terhadap generasi muda.

Sukar sangatkah kerja-kerja dakwah ini? Memang sukar kalau kita tidak pernah mahu faham akan tuntutan yang telah ditaklifkan kepada kita. Dakwah memang sukar kalau kita tidak memiliki peribadi mithali. Belum lagi kalau diminta berdakwah kepada golongan non muslim. Namun jika ditanya kepada para duah dan pendakwah yang ikhlas melaksanakan amanah dakwah samada sukarkah kerja dakwah ini, pasti mereka akan menjawab, Allah SWT tidak akan bertanya susah atau senang kerja dakwah ini, tetapi Allah SWT akan tanya apa sumbangan kita kepada Islam dan umat.

“Allah SWT tahu kemampuan kita” begitulah kalimah pendek yang diungkapkan oleh murabbi penulis, Al Marhum Syeikh Dato’ Kaya Bakti Ustaz Dahlan Mohd Zain ketika berbicara dengan anak didiknya akan tanggungjawab berat dalam melaksanakan misi dan visi dakwah Ilallah.

Yang pastinya, kerja dakwah ini samada susah atau senang, pulangannya tetap berbaloi di akhirat kelak jika dilakukan dengan ikhlas.

Bagi menbangkitkan syuur dan syiar kita semua untuk memulakan dakwah, penulis kongsikan kisah yang membahagiakan kita pada hari Jumaat yang mulia ini, semoga ianya dapat mendasyatkan kembali potensi dakwah yang ada pada diri kita untuk melakukan sesuatu buat umat ini, walaupun ianya kelihatan seperti kecil usahanya.

Pada setiap Jumaat, selepas selesai menunaikan solat Jumaat, seorang Imam dan anaknya yang berumur 7 tahun akan berjalan menyusuri jalan di kota itu dan menyebarkan risalah bertajuk “Jalan-jalan Syurga” dan beberapa karya Islamik yang lain .

Pada satu Jumaat yang indah, pada ketika Imam dan anaknya itu hendak keluar seperti biasa meghulurkan risalah-risalah Islam itu, hari itu menjadi amat dingin dan hujan mulai turun. Anak kecil itu mula membetulkan jubahnya yang masih kering dan panas dan seraya berkata“Ayah! Saya dah bersedia”

Ayahnya terkejut dan berkata “Bersedia untuk apa?”. “Ayah bukankah ini masanya kita akan keluar menyampaikan risalah Allah”

“Anakku! Bukankah sejuk keadaan di luar tu dan hujan juga agak lebat”
“Ayah bukankah masih ada manusia yang akan masuk neraka walaupun ketika hujan turun”

Ayahnya menambah “Ayah tidak bersedia hendak keluar dalam keadaan cuaca sebegini”

Dengan merintih anaknya merayu “Benarkan saya pergi ayah?”

Ayahnya berasa agak ragu-ragu namun menyerahkan risalah-risalah itu kepada anaknya “Pergilah nak dan berhati-hatilah. Allah bersama-sama kamu!”

“Terima kasih Ayah” Dengan wajah bersinar-sinar anaknya itu pergi meredah hujan dan susuk tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan itu.

Anak kecil itu pun menyerahkan risalah-risalah tersebut kepada sesiapa pun yang dijumpainya. Begitu juga dia akan mengetuk setiap rumah dan memberikan risalah itu kepada penghuninya.
Setelah dua jam, hanya tinggal satu saja risalah “Jalan-jalan Syurga” ada pada tangannya. Dia berasakan tanggungjawabnya tidak akan selesai jika masih ada risalah di tangannya. Dia berpusing-pusing ke sana dan ke mari mencari siapa yang akan diserahkan risalah terakhirnya itu namun gagal.

Akhirnya dia ternampak sebuah rumah yang agak terperosok di sebuah jalan dan mula mengatur langkah menghampiri rumah itu.Apabila sampai sahaja anak itu dirumah tersebut, lantas ditekannya loceng rumah itu sekali. Ditunggunya sebentar dan ditekan sekali lagi namun tiada jawapan. Diketuk pula pintu itu namun sekali lagi tiada jawapan. Ada sesuatu yang menahannya daripada pergi, mungkin rumah inilah harapannya agar risalah ini diserahkan. Dia mengambil keputusan menekan loceng sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.

Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan dalam lingkungan 50an. Mukanya suram dan sedih. “Nak, apa yang makcik boleh bantu?”

Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah seperti malaikat yang turun dari langit. “Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang Allah amat sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik. Saya datang ini hanya hendak menyerahkan risalah akhir ini dan makcik adalah orang yang paling bertuah”. Dia senyum dan tunduk hormat sebelum melangkah pergi.

“Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu” dalam nada yang lembut, jawab wanita tua itu.

Minggu berikutnya sebelum waktu solat Jumaat bermula, seperti biasa Imam memberikan ceramahnya. Sebelum selesai dia bertanya ” Ada sesiapa nak menyatakan sesuatu”

Tiba-tiba sekujur tubuh bangun dengan perlahan dan berdiri. Dia adalah perempuan separuh umur itu.

“Saya rasa tiada sesiapa dalam perhimpunan ini yang kenal saya. Saya tak pernah hadir ke majlis ini walaupun sekali. Untuk pengetahuan anda, sebelum Jumaat minggu lepas saya bukan seorang Muslim. Suami saya meninggal beberapa tahun lepas dan meninggalkan saya keseorangan dalam dunia ini” Air mata mulai bergenang di kelopak matanya.

“Pada Jumaat minggu lepas saya mengambil keputusan untuk membunuh diri. Jadi saya ambil kerusi dan tali. Saya letakkan kerusi di atas tangga menghadap anak tangga menuruni. Saya ikat hujung tali di galang atas dan hujung satu lagi diketatkan di leher. Apabila tiba saat saya untuk terjun, tiba-tiba loceng rumah saya berbunyi. Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya, siapa pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab. Kemudian ia berbunyi lagi. Kemudian saya mendengar ketukan dan loceng ditekan sekali lagi”.

“Saya bertanya sekali lagi. Belum pernah pun ada orang yang tekan loceng ini setelah sekian lama. Lantas saya melonggarkan tali di leher dan terus pergi ke pintu”

“Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak yang comel itu. Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti malaikat”.

“Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang Allah amat sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik” itulah kata-kata yang paling indah yang saya dengar”.

“Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan. Saya kemudian menutup pintu dan terus baca risalah itu setiap muka surat . Akhirnya kerusi dan tali yang hampir-hampir menyentap nyawa saya diletakkan semula ditempat asal. Aku tak perlukan itu lagi”.

“Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang yang bahagia, yang menjadi hamba kepada Tuhan yang satu Allah SWT. Di belakang risalah terdapat alamat ini dan itulah sebabnya saya di sini hari ini. Jika tidak disebabkan malaikat kecil yang datang pada hari itu tentunya roh saya ini akan berada selama-lamanya di dalam neraka”

Tiada satu pun anak mata di masjid itu yang masih kering. Ramai pula yang berteriak dan bertakbir ALLAHUAKBAR!

Imam lantas turun dengan pantas dari mimbar lantas terus memeluk anaknya yang berada di kaki mimbar dan menangis sesungguh-sungguh hatinya.

Jumaat ini dikira Jumaat yang paling indah dalam hidupnya. Tiada anugerah yang amat besar dari apa yang dia ada pada hari ini. Iaitu anugerah yang sekarang berada di dalam pelukannya. Seorang anak yang seumpama malaikat.

Biarkanlah air mata itu menitis. Air mata itu anugerah Allah kepada makhlukNya yang penyayang

Jom kita mulakan kerja besar kita, kerja dakwah!, bermula dengan mendakwahi diri kita agar menjadi hamba Allah yang soleh, kemudian kita menyeru manusia lainnya kepada Allah, berusaha menyolehkan (musleh) mereka dengan cara hidup Islam.

Ingat! Allah SWT sentiasa menyayangi dan memelihara kita!

Dakwah: Allah SWT Tahu Kemampuan Kita


Alhamdulillah, hari ini Jumaat, cuaca begitu redup dan indah setelah beberapa hari hujan turun tanpa henti. Hari ini penulis menunaikan solat Jumaat bersama Ahmad Ridhwan, anak sulung penulis, sudah 7 tahun beliau kini. Penulis juga teruja mendengar khutbah Jumaat yang penuh bersemangat disampaikan oleh khatib Masjid As Salam, Pengkalan Chepa. Khutbah kali ini mengajak muslimin meluruskan matlamat kehidupan agar selari dengan tuntutan Allah SWT, khususnya dalam pergaulan seharian. Hari ini corak pergaulan generasi muda amat dibimbangi. Pergaulan mereka begitu mudah terpisah dari panduan dan tatacara yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat RA. Kesannya berleluasa pergaulan dan seks bebas, coupling haram, zina, anak luar nikah, pembuangan bayi dan 1001 anasir kemaksiatan.

Khatib mengajak seluruh umat Islam, pertubuhan bukan kerajaan (NGO) Islam, jawatankuasa masjid, sekolah dan institusi pendidikan, badan potitik dan alim ulama berganding bahu membanting tulang melipatgandakan usaha berdakwah dan mentarbiyah umat agar umat terbangun kembali dengan peribadi dan keindahan Islam.

Ya! Itulah yang cuba penulis fahamkan diri penulis, tugas dan tanggungjawab dakwah tidak akan pernah padam selagi Islam tidak menjadi sistem kehidupan manusia, khususnya umat Islam. Hari ini tugas dakwah telah diswastakan kepada majlis agama dan alim ulama semata. Sedangkan permasahanan sosial semakin parah menjangkiti umat, khususnya terhadap generasi muda.

Sukar sangatkah kerja-kerja dakwah ini? Memang sukar kalau kita tidak pernah mahu faham akan tuntutan yang telah ditaklifkan kepada kita. Dakwah memang sukar kalau kita tidak memiliki peribadi mithali. Belum lagi kalau diminta berdakwah kepada golongan non muslim. Namun jika ditanya kepada para duah dan pendakwah yang ikhlas melaksanakan amanah dakwah samada sukarkah kerja dakwah ini, pasti mereka akan menjawab, Allah SWT tidak akan bertanya susah atau senang kerja dakwah ini, tetapi Allah SWT akan tanya apa sumbangan kita kepada Islam dan umat.

“Allah SWT tahu kemampuan kita” begitulah kalimah pendek yang diungkapkan oleh murabbi penulis, Al Marhum Syeikh Dato’ Kaya Bakti Ustaz Dahlan Mohd Zain ketika berbicara dengan anak didiknya akan tanggungjawab berat dalam melaksanakan misi dan visi dakwah Ilallah.

Yang pastinya, kerja dakwah ini samada susah atau senang, pulangannya tetap berbaloi di akhirat kelak jika dilakukan dengan ikhlas.

Bagi menbangkitkan syuur dan syiar kita semua untuk memulakan dakwah, penulis kongsikan kisah yang membahagiakan kita pada hari Jumaat yang mulia ini, semoga ianya dapat mendasyatkan kembali potensi dakwah yang ada pada diri kita untuk melakukan sesuatu buat umat ini, walaupun ianya kelihatan seperti kecil usahanya.

Pada setiap Jumaat, selepas selesai menunaikan solat Jumaat, seorang Imam dan anaknya yang berumur 7 tahun akan berjalan menyusuri jalan di kota itu dan menyebarkan risalah bertajuk “Jalan-jalan Syurga” dan beberapa karya Islamik yang lain .

Pada satu Jumaat yang indah, pada ketika Imam dan anaknya itu hendak keluar seperti biasa meghulurkan risalah-risalah Islam itu, hari itu menjadi amat dingin dan hujan mulai turun. Anak kecil itu mula membetulkan jubahnya yang masih kering dan panas dan seraya berkata“Ayah! Saya dah bersedia”

Ayahnya terkejut dan berkata “Bersedia untuk apa?”. “Ayah bukankah ini masanya kita akan keluar menyampaikan risalah Allah”

“Anakku! Bukankah sejuk keadaan di luar tu dan hujan juga agak lebat”
“Ayah bukankah masih ada manusia yang akan masuk neraka walaupun ketika hujan turun”

Ayahnya menambah “Ayah tidak bersedia hendak keluar dalam keadaan cuaca sebegini”

Dengan merintih anaknya merayu “Benarkan saya pergi ayah?”

Ayahnya berasa agak ragu-ragu namun menyerahkan risalah-risalah itu kepada anaknya “Pergilah nak dan berhati-hatilah. Allah bersama-sama kamu!”

“Terima kasih Ayah” Dengan wajah bersinar-sinar anaknya itu pergi meredah hujan dan susuk tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan itu.

Anak kecil itu pun menyerahkan risalah-risalah tersebut kepada sesiapa pun yang dijumpainya. Begitu juga dia akan mengetuk setiap rumah dan memberikan risalah itu kepada penghuninya.
Setelah dua jam, hanya tinggal satu saja risalah “Jalan-jalan Syurga” ada pada tangannya. Dia berasakan tanggungjawabnya tidak akan selesai jika masih ada risalah di tangannya. Dia berpusing-pusing ke sana dan ke mari mencari siapa yang akan diserahkan risalah terakhirnya itu namun gagal.

Akhirnya dia ternampak sebuah rumah yang agak terperosok di sebuah jalan dan mula mengatur langkah menghampiri rumah itu.Apabila sampai sahaja anak itu dirumah tersebut, lantas ditekannya loceng rumah itu sekali. Ditunggunya sebentar dan ditekan sekali lagi namun tiada jawapan. Diketuk pula pintu itu namun sekali lagi tiada jawapan. Ada sesuatu yang menahannya daripada pergi, mungkin rumah inilah harapannya agar risalah ini diserahkan. Dia mengambil keputusan menekan loceng sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.

Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan dalam lingkungan 50an. Mukanya suram dan sedih. “Nak, apa yang makcik boleh bantu?”

Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah seperti malaikat yang turun dari langit. “Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang Allah amat sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik. Saya datang ini hanya hendak menyerahkan risalah akhir ini dan makcik adalah orang yang paling bertuah”. Dia senyum dan tunduk hormat sebelum melangkah pergi.

“Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu” dalam nada yang lembut, jawab wanita tua itu.

Minggu berikutnya sebelum waktu solat Jumaat bermula, seperti biasa Imam memberikan ceramahnya. Sebelum selesai dia bertanya ” Ada sesiapa nak menyatakan sesuatu”

Tiba-tiba sekujur tubuh bangun dengan perlahan dan berdiri. Dia adalah perempuan separuh umur itu.

“Saya rasa tiada sesiapa dalam perhimpunan ini yang kenal saya. Saya tak pernah hadir ke majlis ini walaupun sekali. Untuk pengetahuan anda, sebelum Jumaat minggu lepas saya bukan seorang Muslim. Suami saya meninggal beberapa tahun lepas dan meninggalkan saya keseorangan dalam dunia ini” Air mata mulai bergenang di kelopak matanya.

“Pada Jumaat minggu lepas saya mengambil keputusan untuk membunuh diri. Jadi saya ambil kerusi dan tali. Saya letakkan kerusi di atas tangga menghadap anak tangga menuruni. Saya ikat hujung tali di galang atas dan hujung satu lagi diketatkan di leher. Apabila tiba saat saya untuk terjun, tiba-tiba loceng rumah saya berbunyi. Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya, siapa pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab. Kemudian ia berbunyi lagi. Kemudian saya mendengar ketukan dan loceng ditekan sekali lagi”.

“Saya bertanya sekali lagi. Belum pernah pun ada orang yang tekan loceng ini setelah sekian lama. Lantas saya melonggarkan tali di leher dan terus pergi ke pintu”

“Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak yang comel itu. Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti malaikat”.

“Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang Allah amat sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik” itulah kata-kata yang paling indah yang saya dengar”.

“Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan. Saya kemudian menutup pintu dan terus baca risalah itu setiap muka surat . Akhirnya kerusi dan tali yang hampir-hampir menyentap nyawa saya diletakkan semula ditempat asal. Aku tak perlukan itu lagi”.

“Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang yang bahagia, yang menjadi hamba kepada Tuhan yang satu Allah SWT. Di belakang risalah terdapat alamat ini dan itulah sebabnya saya di sini hari ini. Jika tidak disebabkan malaikat kecil yang datang pada hari itu tentunya roh saya ini akan berada selama-lamanya di dalam neraka”

Tiada satu pun anak mata di masjid itu yang masih kering. Ramai pula yang berteriak dan bertakbir ALLAHUAKBAR!

Imam lantas turun dengan pantas dari mimbar lantas terus memeluk anaknya yang berada di kaki mimbar dan menangis sesungguh-sungguh hatinya.

Jumaat ini dikira Jumaat yang paling indah dalam hidupnya. Tiada anugerah yang amat besar dari apa yang dia ada pada hari ini. Iaitu anugerah yang sekarang berada di dalam pelukannya. Seorang anak yang seumpama malaikat.

Biarkanlah air mata itu menitis. Air mata itu anugerah Allah kepada makhlukNya yang penyayang

Jom kita mulakan kerja besar kita, kerja dakwah!, bermula dengan mendakwahi diri kita agar menjadi hamba Allah yang soleh, kemudian kita menyeru manusia lainnya kepada Allah, berusaha menyolehkan (musleh) mereka dengan cara hidup Islam.

Ingat! Allah SWT sentiasa menyayangi dan memelihara kita!

Realiti hari ini, manusia menjadi serba boleh tanpa mengira samada halal atau haram. Tatkala membaca akhbar-akhbar tempatan terpampang laporan-laporan pelik kisah kebobrokan masyarakat Islam dengan seribu satu macam penyakit-penyakit hati dan kemaksiatan. Kisah-kisah ini disensasikan dan dipopularkan ketengah masyarakat, tidak pasti samada ianya bertujuan untuk mendidik dan menyedarkan masyarakat atau sekadar bahan pelaris jualan. Masalahnya setelah disensasikan kisah-kisah luka dan memalukan umat Islam ini, tidak pula dibentangkan dengan pandangan dan jalan-jalan penyelesaian menurut Islam agar masyarakat dapat mengambil pelajaran.

Di Ambang Kehancuran
Apabila kita kembali ke zaman sebelum kemunculan dakwah Rasulullah SAW, manusia juga berada di ambang kehancuran lantaran kebudayaan yang menyebabkan tertegaknya tamadun ketika itu yang dipenuhi dengan kegelapan tanpa wahyu dari Tuhan.

“Tamadun adalah umpama suatu pohon rendang yang bayang-bayangnya meliputi seluruh dunia; sekarang ia telah terhoyong hayang, dimakan reput hingga ke akar umbinya. Dan di tengah-tengah kerosakan yang sebegitu meluas lahirlah seorang insan yang bakal menyatukan seluruh alam”

Demikian kata J.H Denison dalam bukunya Emotion as the Basic of Civilization. Umat pada saat itu dan pada hari ini diumpamakan seperti sebuah rumah yang telah dilanda gempa bumi yang dahsyat. Semua yang berada di dalamnya menjadi tunggang langgang, menyebabkan barang-barang berselerakan di sana sini. Ketika kemanusiaan sedang berada dalam kesesakan nafas di ambang kegelapan, Allah SWT memilih Muhammad SAW untuk membangkitkan semula dan mengeluarkan manusia seluruhnya daripada kegelapan kepada cahaya. Firman Allah SWT:

(Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia daripada gelap gelita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (iaitu) menuju jalan Rab yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.(Ibrahim:1)

Rasulullah SAW memecah belenggu-belenggu jahiliyyah dan khurafat dan mengajak manusia kepada pengabdian hanya sanya kepada Allah SWT yang akan membebaskan mereka daripada segala bentuk ikatan lain. Baginda SAW mengembalikan kepada mereka kesenangan hidup yang sebenarnya. Firman Allah SWT:

“(iaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka daripada mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang daripada mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-‘Araf: 157)

Apakah masyarakat Islam hari ini tidak mengetahui akan sirah mulia ini, di mana Rasulullah SAW membawa penyelesaian total yang membersihkan manusia dari kepalitan kegelapan akibat panduan rekacipta manusia kepada cahaya kebenaran dan kebahagiaan berpandukan wahyu Ilahi. Justeru mengapa umat Islam seperti terkapai-kapai mencari penyelesaian permasalahan kerosakan umat. Kuncinya adalah dengan kita mengikuti jalan-jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Firman Allah SWT:

"Katakanlah: Jika kamu kasihkan Allah ikutlah aku nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu . Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (’Ali Imran:31)

Umat Melupakan Rasulullah SAW?
Sekarang kita semakin faham, permasalahan umat hari ini adalah kerana tidak menjadikan Rasulullah SAW sebagai pemutus kata dan pemimpin ikutan kita dalam segenap kehidupan. Sebaliknya masyarakat Islam hanya mengambil sebahagian yang mereka sukai yang sesuai dengan kehendak nafsu manusia dan meninggalkan sebahagian yang mereka rasa berat untuk diikuti. Ternyata penyerahan hidup manusia terhadap risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW tidak bulat dan tekad lagi, berbanding dengan sikap generasi pertama yang mendokong risalah Rasul SAW dengan begitu tinggi dan bersungguh-sungguh.

Beriman dengan Rasulullah SAW sebenarnya menuntut kita supaya menyerahkan hidup kita kepada arahan Rasulullah SAW. Iaitu mentaati apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang olehnya dengan senang hati. Ini semua memerlukan tarbiyyah yang betul, sebagaimana Rasulullah SAW telah mentarbiyah generasi pertama sehingga generasi ini menjadi tulang belakang kepada kebangkitan tamadun Islam.

Di zaman Rasulullah SAW kehebatan Islam kelihatan dengan jelas. Manakala zaman kini, masyarakat mengaku Islam, tetapi kehebatan Islam tidak kelihatan. Justeru itu kita mestilah melaksanakan kembali Islam dan meninggalkan jahiliyyah.

Beriman Kepada Rasulullah SAW
Dalam konteks beriman kepada Rasulullah SAW, terdapat bebarapa tuntutan, antaranya:

1.Kita perlu didik hati kita hingga redha dengan Rasulullah SAW. Redha bukan sahaja dari segi perkataan kita tetapi juga dari tindakan seharian kita, dalam setiap tempat dan ketika mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

Sabda Rasulullah SAW:

"Bertuahlah orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah melihatku. "

2.Kita menghormati dan mencintai Rasulullah SAW walaupun baginda telah lama meninggalkan kita. Menghormati apa yang ditinggalkan oleh baginda, iaitu Islam yang merupakan ajaran wahyu Allah SWT.

Dalam satu sirah, Tabib bin Qais pernah bercakap dengan suara yang tinggi di hadapan Rasulullah SAW. Turunlah ayat Allah SWT:

"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengangkat suara kamu melebihi suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyedari." (al Hujurat: 2) .

Mendengar ayat tersebut Tabib bin Qais menangis dan hanya duduk dalam rumah, tidak keluar. Rasulullah SAW menyuruh sahabat-sahabat baginda menziarahinya untuk mengetahui mengapa beliau tidak keluar dari rumah. Apabila tiba di rumah Tabib, dia berkata kepada sahabat yang datang:

"Aku telah mengangkat suaraku lebih daripada suara Rasulullah SAW dan Allah SWT telah menurunkan ayat tersebut. Aku rasa Allah SWT memarahiku dan tentulah aku akan dimasukkan ke dalam neraka. "

Para sahabat menceritakan hal Tabib kepada Rasulullah SAW. Maka baginda bersabda:

"Sesungguhnya dia (Tabib) ialah ahli syurga."

Kemudian, berita itu disampaikan kepada Tabib.


Dalam soal cinta kepada Rasulullah SAW, baginda ada bersabda:

”Tidak sempurna iman seseorang kamu sehinggalah dia sanggup menjadikan aku lebih dikasihi daripada dirinya, anaknya, hartanya dan manusia seluruhnya."

3.Kita perlu mencontohi Rasulullah SAW dalam membentuk ummah atau generasi. Generasi awal yang dididik oleh Rasulullah SAW dikenali sebagai Generasi al-Quran yang Unik. Mereka menerima arahan sepertimana komando menerima arahan daripada ketua, malah lebih daripada itu.

Dalam realiti yang tenat kini, kita perlukan satu generasi yang berdaya dan mampu untuk mendokong Islam. Oleh itu kita amat perlu kepada tarbiyah (pendidikan) Islamiyah yang berterusan. Semoga dengan itu lahir kembali InsyaAllah satu generasi yang mempersiapkan segenap potensi dan kepakaran yang dimilikinya untuk taat kepada Allah SWT dan sanggup memikul tugas yang berat, taklif Rabbani.

"Adalah pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi sesiapa yang berharap untuk bertemu dengan Allah dan Hari Akhirat, dan mengingati Allah sebanyak-banyaknya". (Al Ahzab : 21)

4.Kita perlu sentiasa terikat dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dengan cara ini, InsyaAllah kita akan dapat merasai nikmat Islam seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT. Para sahabat RA meninggalkan harta ketika berhijrah untuk mengikuti Rasulullah SAW kerana mereka dapat merasai kenikmatan Islam dan Iman.


5.) Kita perlu beribadah kepada Allah SWT seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam satu sirah, Rasulullah SAW ditanya: "Apakah erti Ehsan?" Jawab baginda: "Kamu mengabdikan diri kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu."

Marilah kita menghayati dan mengikuti madrasah Rasulullah SAW, kembali kepada jalan fitrah yang akan membangkitkan kembali kekuatan umat yang sebenar. Dengan kita mengikuti jalan-jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, insyaAllah Allah akan membantu perjuangan kita membela agama-NYA:

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah.” (an-Nisaa’ : 80)

Mengapa Tinggalkan Rasulullah SAW?


Realiti hari ini, manusia menjadi serba boleh tanpa mengira samada halal atau haram. Tatkala membaca akhbar-akhbar tempatan terpampang laporan-laporan pelik kisah kebobrokan masyarakat Islam dengan seribu satu macam penyakit-penyakit hati dan kemaksiatan. Kisah-kisah ini disensasikan dan dipopularkan ketengah masyarakat, tidak pasti samada ianya bertujuan untuk mendidik dan menyedarkan masyarakat atau sekadar bahan pelaris jualan. Masalahnya setelah disensasikan kisah-kisah luka dan memalukan umat Islam ini, tidak pula dibentangkan dengan pandangan dan jalan-jalan penyelesaian menurut Islam agar masyarakat dapat mengambil pelajaran.

Di Ambang Kehancuran
Apabila kita kembali ke zaman sebelum kemunculan dakwah Rasulullah SAW, manusia juga berada di ambang kehancuran lantaran kebudayaan yang menyebabkan tertegaknya tamadun ketika itu yang dipenuhi dengan kegelapan tanpa wahyu dari Tuhan.

“Tamadun adalah umpama suatu pohon rendang yang bayang-bayangnya meliputi seluruh dunia; sekarang ia telah terhoyong hayang, dimakan reput hingga ke akar umbinya. Dan di tengah-tengah kerosakan yang sebegitu meluas lahirlah seorang insan yang bakal menyatukan seluruh alam”

Demikian kata J.H Denison dalam bukunya Emotion as the Basic of Civilization. Umat pada saat itu dan pada hari ini diumpamakan seperti sebuah rumah yang telah dilanda gempa bumi yang dahsyat. Semua yang berada di dalamnya menjadi tunggang langgang, menyebabkan barang-barang berselerakan di sana sini. Ketika kemanusiaan sedang berada dalam kesesakan nafas di ambang kegelapan, Allah SWT memilih Muhammad SAW untuk membangkitkan semula dan mengeluarkan manusia seluruhnya daripada kegelapan kepada cahaya. Firman Allah SWT:

(Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia daripada gelap gelita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (iaitu) menuju jalan Rab yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.(Ibrahim:1)

Rasulullah SAW memecah belenggu-belenggu jahiliyyah dan khurafat dan mengajak manusia kepada pengabdian hanya sanya kepada Allah SWT yang akan membebaskan mereka daripada segala bentuk ikatan lain. Baginda SAW mengembalikan kepada mereka kesenangan hidup yang sebenarnya. Firman Allah SWT:

“(iaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka daripada mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang daripada mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-‘Araf: 157)

Apakah masyarakat Islam hari ini tidak mengetahui akan sirah mulia ini, di mana Rasulullah SAW membawa penyelesaian total yang membersihkan manusia dari kepalitan kegelapan akibat panduan rekacipta manusia kepada cahaya kebenaran dan kebahagiaan berpandukan wahyu Ilahi. Justeru mengapa umat Islam seperti terkapai-kapai mencari penyelesaian permasalahan kerosakan umat. Kuncinya adalah dengan kita mengikuti jalan-jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Firman Allah SWT:

"Katakanlah: Jika kamu kasihkan Allah ikutlah aku nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu . Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (’Ali Imran:31)

Umat Melupakan Rasulullah SAW?
Sekarang kita semakin faham, permasalahan umat hari ini adalah kerana tidak menjadikan Rasulullah SAW sebagai pemutus kata dan pemimpin ikutan kita dalam segenap kehidupan. Sebaliknya masyarakat Islam hanya mengambil sebahagian yang mereka sukai yang sesuai dengan kehendak nafsu manusia dan meninggalkan sebahagian yang mereka rasa berat untuk diikuti. Ternyata penyerahan hidup manusia terhadap risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW tidak bulat dan tekad lagi, berbanding dengan sikap generasi pertama yang mendokong risalah Rasul SAW dengan begitu tinggi dan bersungguh-sungguh.

Beriman dengan Rasulullah SAW sebenarnya menuntut kita supaya menyerahkan hidup kita kepada arahan Rasulullah SAW. Iaitu mentaati apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang olehnya dengan senang hati. Ini semua memerlukan tarbiyyah yang betul, sebagaimana Rasulullah SAW telah mentarbiyah generasi pertama sehingga generasi ini menjadi tulang belakang kepada kebangkitan tamadun Islam.

Di zaman Rasulullah SAW kehebatan Islam kelihatan dengan jelas. Manakala zaman kini, masyarakat mengaku Islam, tetapi kehebatan Islam tidak kelihatan. Justeru itu kita mestilah melaksanakan kembali Islam dan meninggalkan jahiliyyah.

Beriman Kepada Rasulullah SAW
Dalam konteks beriman kepada Rasulullah SAW, terdapat bebarapa tuntutan, antaranya:

1.Kita perlu didik hati kita hingga redha dengan Rasulullah SAW. Redha bukan sahaja dari segi perkataan kita tetapi juga dari tindakan seharian kita, dalam setiap tempat dan ketika mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

Sabda Rasulullah SAW:

"Bertuahlah orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah melihatku. "

2.Kita menghormati dan mencintai Rasulullah SAW walaupun baginda telah lama meninggalkan kita. Menghormati apa yang ditinggalkan oleh baginda, iaitu Islam yang merupakan ajaran wahyu Allah SWT.

Dalam satu sirah, Tabib bin Qais pernah bercakap dengan suara yang tinggi di hadapan Rasulullah SAW. Turunlah ayat Allah SWT:

"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengangkat suara kamu melebihi suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyedari." (al Hujurat: 2) .

Mendengar ayat tersebut Tabib bin Qais menangis dan hanya duduk dalam rumah, tidak keluar. Rasulullah SAW menyuruh sahabat-sahabat baginda menziarahinya untuk mengetahui mengapa beliau tidak keluar dari rumah. Apabila tiba di rumah Tabib, dia berkata kepada sahabat yang datang:

"Aku telah mengangkat suaraku lebih daripada suara Rasulullah SAW dan Allah SWT telah menurunkan ayat tersebut. Aku rasa Allah SWT memarahiku dan tentulah aku akan dimasukkan ke dalam neraka. "

Para sahabat menceritakan hal Tabib kepada Rasulullah SAW. Maka baginda bersabda:

"Sesungguhnya dia (Tabib) ialah ahli syurga."

Kemudian, berita itu disampaikan kepada Tabib.


Dalam soal cinta kepada Rasulullah SAW, baginda ada bersabda:

”Tidak sempurna iman seseorang kamu sehinggalah dia sanggup menjadikan aku lebih dikasihi daripada dirinya, anaknya, hartanya dan manusia seluruhnya."

3.Kita perlu mencontohi Rasulullah SAW dalam membentuk ummah atau generasi. Generasi awal yang dididik oleh Rasulullah SAW dikenali sebagai Generasi al-Quran yang Unik. Mereka menerima arahan sepertimana komando menerima arahan daripada ketua, malah lebih daripada itu.

Dalam realiti yang tenat kini, kita perlukan satu generasi yang berdaya dan mampu untuk mendokong Islam. Oleh itu kita amat perlu kepada tarbiyah (pendidikan) Islamiyah yang berterusan. Semoga dengan itu lahir kembali InsyaAllah satu generasi yang mempersiapkan segenap potensi dan kepakaran yang dimilikinya untuk taat kepada Allah SWT dan sanggup memikul tugas yang berat, taklif Rabbani.

"Adalah pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi sesiapa yang berharap untuk bertemu dengan Allah dan Hari Akhirat, dan mengingati Allah sebanyak-banyaknya". (Al Ahzab : 21)

4.Kita perlu sentiasa terikat dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dengan cara ini, InsyaAllah kita akan dapat merasai nikmat Islam seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT. Para sahabat RA meninggalkan harta ketika berhijrah untuk mengikuti Rasulullah SAW kerana mereka dapat merasai kenikmatan Islam dan Iman.


5.) Kita perlu beribadah kepada Allah SWT seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam satu sirah, Rasulullah SAW ditanya: "Apakah erti Ehsan?" Jawab baginda: "Kamu mengabdikan diri kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu."

Marilah kita menghayati dan mengikuti madrasah Rasulullah SAW, kembali kepada jalan fitrah yang akan membangkitkan kembali kekuatan umat yang sebenar. Dengan kita mengikuti jalan-jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, insyaAllah Allah akan membantu perjuangan kita membela agama-NYA:

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah.” (an-Nisaa’ : 80)

Wednesday, January 05, 2011


Kehidupan kita sebenarnya adalah ujian daripada Allah SWT. Firman Allah SWT dalam Al Quran yang bermaksud:

“Dia lah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) - untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya; dan ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi orang-orang yang bertaubat).” (Al-Mulk:2)

Dalam ayat di atas, hidup dan mati adalah ujian daripada Allah. Bukan hanya keadaan susah sahaja menjadi ujian dalam kehidupan kita, tetapi kesenangan juga adalah ujian kepada manusia.

“Tiap-tiap diri akan merasai mati, dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan; dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan.” (Al-Anbiya’:35)

Allah SWT menguji manusia dengan kesenangan, kemuliaan, kedudukan tinggi dan kekayaan, Allah SWT juga menguji manusia dengan kesempitan, kepayahan, kemiskinan dan kemelaratan, tujuan hanya satu samada manusia akur, ingat dan taat kepada Allah SWT atau sebaliknya. Allah SWT telah merakamkan dalam Al Quran bagaimana situasi umat-umat terdahulu yang tertipu dengan kesenangan kehidupan yang mereka nikmati sehingga mereka enggan mendengar seruan kebenaran yang di bawakan oleh para Nabi:

“Apakah kamu belum memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (iaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain, dan kaum Thamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Diraun yang mempunyai pasak-pasaka (tentera-tentera yang ramai) yang berbuat banyak kerosakan dalam negeri itu, kerana itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka pelbagai azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (Al Fajr: 6-14)

Begitulah realitinya bangsa-bangsa terdahulu yang diuji dengan kekuatan, kebijakan, kepandaian, kesenangan dan kemewahan, namun semua itu sudah tidak bererti lagi, sebaliknya menjadi bahana kepada mereka di dunia dan di akhirat akibat kekufuran mereka terhadap Allah SWT.

Hari ini, kehidupan manusia tidak jauh bezanya dengan kaum-kaum yang disebutkan oleh Allah SWT di dalam ayat-ayat di atas. Negara-negara mundur di dunia sedang bertungkus lumus menuju kepada Negara membangun, Negara-negara membangun seperti Malaysia, sedang berusaha menuju kepada Negara maju, dan Negara-negara maju seperti Amerika Syarikat dan Jepun sedang berlumba-lumba menjadi Negara “super power”.

Mereka yang beroleh kesenangan dan kemewahan janganlah menyangka bahawa mereka telah mendapat keberkatan dan kemuliaan dalam kehidupan. Manakala mereka yang ditimpa kesusahan, kemiskinan dan kepayahan janganlah pula menyangka bahawa Allah SWT tidak membela kehidupan mereka. Firman Allah SWT:

“Adapun manusia apabila Tuhannya menguji lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata:Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: Tuhanku menghinakanku.” (Al Fajr: 15 – 16)


Begitulah kesilapan manusia dalam memahami tasawur kehidupan. Allah SWT mengujinya dengan kesenangan, kemuliaan, kekayaan atau kedudukan yang tinggi, tetapi manusia tidak menyedari hakikat ujian yang sedang dilalui, Sebaliknya manusia menganggap apa yang diperolehnya adalah merupakan patanda bahawa dia patut dimuliakan oleh Allah SWT. Manusia sebegini menganggap bahawa kemuliaan pada pandangan Allah diukur dengan banyaknya kesenangan dunia yang diperolehinya.

Allah SWT juga menguji manusia dengan membatasi rezeki mereka, dan manusia sekali lagi menganggap cubaan tersebut sebagai balasan. Dia merasakan bahawa Allah SWT telah menjadikannya miskin untuk menghinakannya.

Sesungguhnya konsep yang diambil oleh manusia di dalam kedua-duanya situasi di atas adalah salah. Menurut Sayyid Qutb, kekayaan dan kemiskinan adalah dua bentuk ujian yang Allah SWT berikan ke atas para hambaNya.

Nilai kita di sisi Allah SWT bukan kerana kesenangan hidup yang Allah berikan kepada kita. Allah berikan rezeki kepada orang yang baik dan juga kepada orang yang engkar kepada Allah SWT. Persoalannya, adakah kita sebagai hamba Allah menggunakan rezeki yang Allah berikan untuk laksanakan tanggungjawab kita di jalan Allah?

“ (Ibadat itu dikerjakan oleh) orang-orang yang kuat imannya yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau berjual-beli daripada menyebut serta mengingati Allah, dan mendirikan sembahyang serta memberi zakat; mereka takutkan hari (kiamat) yang padanya berbalik-balik hati dan pandangan.“
(an Nur : 37)


Ketahuilah bahawa ujian harta dan kesenangan akan mendedahkan manusia samada dia akan merendah diri dan bersyukur kepada Tuhannya atau bersikap angkuh dan sombong. Manakala ujian kesusahan dan kemiskinan menguji kesabarannya di dalam berhadapan dengan ujian tersebut .

“Dan Dia lah yang menjadikan malam dan siang silih berganti untuk sesiapa yang mahu beringat (memikirkan kebesaranNya), atau mahu bersyukur (akan nikmat-nikmatNya itu).“ (al Furqan : 62)

“ Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia; dan berbuat baiklah (kepada hamba-hamba Allah) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmatNya yang melimpah-limpah); dan janganlah engkau melakukan kerosakan di muka bumi; sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerosakan.“ (Surah al Qasas : 77)

Sekiranya manusia faham akan konsep sebenar ujian kesenangan dan kesusahan dalam kehidupan ini, dia akan menyedari bahawa remehnya kesenangan dunia ini berbanding ganjaran kesenangan yang hakiki yang akan mereka perolehi di akhirat kelak. Seorang muslim yang benar, tidak akan menghiraukan lagi kepalsuan kekayaan dan keperitan sementara atas kemiskinan yang dihadapi, sebaliknya dia akan merasa tenteram terhadap imannya dan kedudukannya di sisi Allah SWT. Begitulah positifnya sikap seorang muslim yang benar, baginya ujian kesenangan dan kesusahan di dunia adalah jalan kepadanya untuk meraih ganjaran yang kekal yang akan diperolehi di akhirat kelak. Firman Allah SWT:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam syurgaKu.” (Al Fajr: 27-30)

“(Ingatlah) bahawa kehidupan dunia (yang tidak berdasarkan iman dan taqwa) hanyalah ibarat permainan dan hiburan; dan jika kamu beriman serta bertaqwa, Allah akan memberikan kamu pahala amal kamu, dan Ia tidak meminta kepada kamu harta benda kamu (melainkan untuk memberikan kamu barang yang lebih baik daripadanya).“ (Muhammad : 36)

Kehidupan Adalah Satu Ujian


Kehidupan kita sebenarnya adalah ujian daripada Allah SWT. Firman Allah SWT dalam Al Quran yang bermaksud:

“Dia lah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) - untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya; dan ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi orang-orang yang bertaubat).” (Al-Mulk:2)

Dalam ayat di atas, hidup dan mati adalah ujian daripada Allah. Bukan hanya keadaan susah sahaja menjadi ujian dalam kehidupan kita, tetapi kesenangan juga adalah ujian kepada manusia.

“Tiap-tiap diri akan merasai mati, dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan; dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan.” (Al-Anbiya’:35)

Allah SWT menguji manusia dengan kesenangan, kemuliaan, kedudukan tinggi dan kekayaan, Allah SWT juga menguji manusia dengan kesempitan, kepayahan, kemiskinan dan kemelaratan, tujuan hanya satu samada manusia akur, ingat dan taat kepada Allah SWT atau sebaliknya. Allah SWT telah merakamkan dalam Al Quran bagaimana situasi umat-umat terdahulu yang tertipu dengan kesenangan kehidupan yang mereka nikmati sehingga mereka enggan mendengar seruan kebenaran yang di bawakan oleh para Nabi:

“Apakah kamu belum memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (iaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain, dan kaum Thamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Diraun yang mempunyai pasak-pasaka (tentera-tentera yang ramai) yang berbuat banyak kerosakan dalam negeri itu, kerana itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka pelbagai azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (Al Fajr: 6-14)

Begitulah realitinya bangsa-bangsa terdahulu yang diuji dengan kekuatan, kebijakan, kepandaian, kesenangan dan kemewahan, namun semua itu sudah tidak bererti lagi, sebaliknya menjadi bahana kepada mereka di dunia dan di akhirat akibat kekufuran mereka terhadap Allah SWT.

Hari ini, kehidupan manusia tidak jauh bezanya dengan kaum-kaum yang disebutkan oleh Allah SWT di dalam ayat-ayat di atas. Negara-negara mundur di dunia sedang bertungkus lumus menuju kepada Negara membangun, Negara-negara membangun seperti Malaysia, sedang berusaha menuju kepada Negara maju, dan Negara-negara maju seperti Amerika Syarikat dan Jepun sedang berlumba-lumba menjadi Negara “super power”.

Mereka yang beroleh kesenangan dan kemewahan janganlah menyangka bahawa mereka telah mendapat keberkatan dan kemuliaan dalam kehidupan. Manakala mereka yang ditimpa kesusahan, kemiskinan dan kepayahan janganlah pula menyangka bahawa Allah SWT tidak membela kehidupan mereka. Firman Allah SWT:

“Adapun manusia apabila Tuhannya menguji lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata:Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: Tuhanku menghinakanku.” (Al Fajr: 15 – 16)


Begitulah kesilapan manusia dalam memahami tasawur kehidupan. Allah SWT mengujinya dengan kesenangan, kemuliaan, kekayaan atau kedudukan yang tinggi, tetapi manusia tidak menyedari hakikat ujian yang sedang dilalui, Sebaliknya manusia menganggap apa yang diperolehnya adalah merupakan patanda bahawa dia patut dimuliakan oleh Allah SWT. Manusia sebegini menganggap bahawa kemuliaan pada pandangan Allah diukur dengan banyaknya kesenangan dunia yang diperolehinya.

Allah SWT juga menguji manusia dengan membatasi rezeki mereka, dan manusia sekali lagi menganggap cubaan tersebut sebagai balasan. Dia merasakan bahawa Allah SWT telah menjadikannya miskin untuk menghinakannya.

Sesungguhnya konsep yang diambil oleh manusia di dalam kedua-duanya situasi di atas adalah salah. Menurut Sayyid Qutb, kekayaan dan kemiskinan adalah dua bentuk ujian yang Allah SWT berikan ke atas para hambaNya.

Nilai kita di sisi Allah SWT bukan kerana kesenangan hidup yang Allah berikan kepada kita. Allah berikan rezeki kepada orang yang baik dan juga kepada orang yang engkar kepada Allah SWT. Persoalannya, adakah kita sebagai hamba Allah menggunakan rezeki yang Allah berikan untuk laksanakan tanggungjawab kita di jalan Allah?

“ (Ibadat itu dikerjakan oleh) orang-orang yang kuat imannya yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau berjual-beli daripada menyebut serta mengingati Allah, dan mendirikan sembahyang serta memberi zakat; mereka takutkan hari (kiamat) yang padanya berbalik-balik hati dan pandangan.“
(an Nur : 37)


Ketahuilah bahawa ujian harta dan kesenangan akan mendedahkan manusia samada dia akan merendah diri dan bersyukur kepada Tuhannya atau bersikap angkuh dan sombong. Manakala ujian kesusahan dan kemiskinan menguji kesabarannya di dalam berhadapan dengan ujian tersebut .

“Dan Dia lah yang menjadikan malam dan siang silih berganti untuk sesiapa yang mahu beringat (memikirkan kebesaranNya), atau mahu bersyukur (akan nikmat-nikmatNya itu).“ (al Furqan : 62)

“ Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia; dan berbuat baiklah (kepada hamba-hamba Allah) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmatNya yang melimpah-limpah); dan janganlah engkau melakukan kerosakan di muka bumi; sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerosakan.“ (Surah al Qasas : 77)

Sekiranya manusia faham akan konsep sebenar ujian kesenangan dan kesusahan dalam kehidupan ini, dia akan menyedari bahawa remehnya kesenangan dunia ini berbanding ganjaran kesenangan yang hakiki yang akan mereka perolehi di akhirat kelak. Seorang muslim yang benar, tidak akan menghiraukan lagi kepalsuan kekayaan dan keperitan sementara atas kemiskinan yang dihadapi, sebaliknya dia akan merasa tenteram terhadap imannya dan kedudukannya di sisi Allah SWT. Begitulah positifnya sikap seorang muslim yang benar, baginya ujian kesenangan dan kesusahan di dunia adalah jalan kepadanya untuk meraih ganjaran yang kekal yang akan diperolehi di akhirat kelak. Firman Allah SWT:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam syurgaKu.” (Al Fajr: 27-30)

“(Ingatlah) bahawa kehidupan dunia (yang tidak berdasarkan iman dan taqwa) hanyalah ibarat permainan dan hiburan; dan jika kamu beriman serta bertaqwa, Allah akan memberikan kamu pahala amal kamu, dan Ia tidak meminta kepada kamu harta benda kamu (melainkan untuk memberikan kamu barang yang lebih baik daripadanya).“ (Muhammad : 36)

Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

There was an error in this gadget

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah