Tuesday, November 20, 2012

Keyakinan orang beriman akan adanya kehidupan sesudah kematian menyebabkan dirinya selalu berada dalam mode standby menghadapi kematian. Ia memandang kematian sebagai suatu kepastian. Tidak seperti orang kafir yang selalu saja berusaha untuk menghindari kematian. Orang beriman sangat dipengaruhi oleh pesanan Nabi SAW yang bersabda:

"Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian."

(HR Tirmidzi 2229)

Sedangkan Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata:

"Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari tidurnya."

Subhanallah...! Bererti beliau ingin mengatakan bahawa manusia yang menemui ajalnya adalah manusia yang justeru baru mulai menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan kita yang masih hidup di dunia ini justeru masih "belum bangun". Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman Allah SWT:

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui" (QS Al-Ankabut 64)

Ali RA berkata lagi:

"Dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat. Kerana itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal, dan tidak ada penghisaban. Sedangkan esok waktunya penghisaban, tidak ada amal."

Ketika saya hadir ke tamrin pemuda di Perlis, Cikgu Abduh, murabbi kami menyambut kami dengan kata-kata membaranya:

"Selamat datang pemuda-pemuda akhirat!."

Moga ada kebaikan dalam tazkirah ringkas ini..!

"Selamat datang pemuda-pemuda akhirat!."

Keyakinan orang beriman akan adanya kehidupan sesudah kematian menyebabkan dirinya selalu berada dalam mode standby menghadapi kematian. Ia memandang kematian sebagai suatu kepastian. Tidak seperti orang kafir yang selalu saja berusaha untuk menghindari kematian. Orang beriman sangat dipengaruhi oleh pesanan Nabi SAW yang bersabda:

"Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian."

(HR Tirmidzi 2229)

Sedangkan Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata:

"Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari tidurnya."

Subhanallah...! Bererti beliau ingin mengatakan bahawa manusia yang menemui ajalnya adalah manusia yang justeru baru mulai menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan kita yang masih hidup di dunia ini justeru masih "belum bangun". Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman Allah SWT:

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui" (QS Al-Ankabut 64)

Ali RA berkata lagi:

"Dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat. Kerana itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal, dan tidak ada penghisaban. Sedangkan esok waktunya penghisaban, tidak ada amal."

Ketika saya hadir ke tamrin pemuda di Perlis, Cikgu Abduh, murabbi kami menyambut kami dengan kata-kata membaranya:

"Selamat datang pemuda-pemuda akhirat!."

Moga ada kebaikan dalam tazkirah ringkas ini..!

Murabbi saya al Marhum Ustaz Dahlan ada berkata;

“Tarbiyah adalah jalan bagi para da’i dan murabbi. Tidak ada jalan lain lagi untuk membentuk individu dan ummah yang mendaulatkan Deen Allah SWT.

Kenapa tarbiyah? Bukankah setiap kita mendambakan akhlak, peribadi dan semangat untuk mencintai agama suci ini? Peribadi muslim yang “soleh dan musleh” adalah tujuan yang ingin dicapai dari tarbiyah. Sebab itulah kita perlukan tarbiyah, agar dapat mendidik kita menjadi baik dan insyaAllah dengan sedikit kebaikan yang ada pada kita dapat pula :membaikkan” orang lain. Seharusnya kita perlu faham akan tujuan mengapa ikut dan berada dalam tarbiyah sehingga tarbiyah tidak hanya sekadar rutin mingguan semata tetapi ada target atau tujuan yang harus dicapai. Bila kita hendak memanah dan tidak tahu ke mana harus di panahkan, berapa lama  anda mahu terus memegang busur panah dan anak panah tersebut? Begitulah tarbiyah. Tarbiyah ada targetnya, samada target peribadi yang mengikuti tarbiyah, begitu juga target murabbi yang membawa tarbiyah, begitu juga target organisasi yang menjadikan tarbiyah sebagai tunjang gerakerjanya.

Dr. Ali Abdul Halim Mahmud menuliskan dalam bukunya Peringkat-peringkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin menyatakan;

“…selain itu, tarbiyah Islamiyah  memiliki keistimewaan dengan kemampuannya mengiringi fitrah manusia dalam menghadapi realiti hidupnya di bumi dan di alam kebendaan ini, sebagaimana juga mengiringi potensinya menuju tingkat keteladanan dan potensinya sehingga dapat mewujudkan kemanfaatan dan keselamatan bagi diri, agama dan masyarakatnya. Semua itu termasuk dalam batas yang Allah SWT halalkan dan syariatkan.”

Ini tujuan besar tarbiyah. Sehingga diri yang mengikuti tarbiyah dapat merasai masuliiyah (tanggungjawab) untuk memimpin diri, keluarga, ummah dan dunia ini kepada membesarkan hanya sanya Allah SWT semata.

Proses untuk membentuk karakter hasil tarbiyah adalah lambat, sukar dan melalui proses yang panjang. Kita boleh melihat contoh hasil tarbiyah langsung Rasulullah SAW terhadap para sahabatnya iaitu sikap Abu Ayyub Al-Anshary yang berprasangka baik terhadap fitnah yang menimpa Aisyah dan Shafwan, Ka’ab bin Malik yang mengakui lalai tidak ikut dalam perang Tabuk, begitu juga dengan Abu Sufyan bin Harits setelah lebih berbelas tahun menentang Rasulllah SAW akhirnya bergabung dengan kafilah Nabi SAW dan contoh-contoh lainnya. Ustaz Dahlan dalam pengalamannya mentarbiyah sejak tahun 1970 lagi mengatakan bahawa jalan tarbiyah adalah jalan pembentukan individu muslim mukmin dan ummah Islamiyah yang berliku-liku serta menuntut kesabaran yang tinggi. Tarbiyah adalah umpama larian marathon, bukan larian sprint jarak pendek. Larian marathon memerlukan kesabaran untuk mencapai matlamat. Larian marathon memang kelihatan lambat, tetapi tenaga dan kekuatan pelari dirancang agar mencapai garis penamat dengan jaya

Dalam perjalanan kita mengikuti jalan tarbiyah, janganlah sampai proses untuk membentuk karakter tarbawi ini tercemar oleh pelbagai perkara yang merosakkan tujuan dari tarbiyah. Faktor-faktor yang merosakkan tersebut antara lain menurunnya tingkat keikhlasan dan masuknya niat yang tidak baik, ada masalah pada unsur-unsur kefahaman, tidak mengetahui jati diri dakwah dan harakah, terpedaya dan terperangkap dengan pelbagai godaan dunia dan mengejar kemilauannya yang palsu, menghilangnya akhlak maknawiyah yang menjadi tuntutan marhalah, seperti tsabat, sabar, tsiqah, tajarrud, tadhiyyah, merasa terlalu panjang perjalanan dakwah yang mesti ditempuh, merasa harakah atau organisasi lamban dalam bergerak, merasa tidak senang apabila idea dan pandangan tidak diterima oleh organisasi, merasa diri lebih banyak memberi sumbangan dan lebih banyak bekerja, merasa bangga dengan keupayaan dan kemampuan yang ada pada diri sendiri lalu melekehkan kemampuan orang lain, sibuk dan mengutamakan urusan peribadi dan kerjaya, menghilangnya semangat dan padamnya bara keinginan untuk beramal secara amal jama'i, buntunya selera beramal serta tidak merasakan kelazatan mengerahkan jerih payah untuk fi-sabilillah. Yang menjadi punca utama kegelinciran kita di jalan tarbiyah adalah diri kita sendiri. Yang sering alpa dan lalai lantas tidak konsisten dan tekun melaluinya. 

Objektif tarbiyah amat besar. Kita perlu yakin dengan jalan ini. Menurut al Marhum Ustaz Dahlan, salah satu jaminan dari proses tarbiyah (dengan taufik daripada Allah) ialah lahirnya  peribadi yang lengkap lagi seimbang dan bebas daripada sifat-sifat nifaq. Peribadi yang lengkap dan seimbang itu meliputi keteguhan aqidah, keluhuran akhlak, kebersihan hati, keelokan tingkah laku dan sikap, kebaikan ta’abbud, berjiwa ijtima’i (berpasukan) dan iltizam tandzimi. Peribadi yang seumpama ini juga akan tahan diuji dan terus istiqamah dengan da’wah dan tarbiyah dalam pelbagai keadaan dan suasana, insyaAllah.

Tarbiyah: Cabaran dan Harapan


Murabbi saya al Marhum Ustaz Dahlan ada berkata;

“Tarbiyah adalah jalan bagi para da’i dan murabbi. Tidak ada jalan lain lagi untuk membentuk individu dan ummah yang mendaulatkan Deen Allah SWT.

Kenapa tarbiyah? Bukankah setiap kita mendambakan akhlak, peribadi dan semangat untuk mencintai agama suci ini? Peribadi muslim yang “soleh dan musleh” adalah tujuan yang ingin dicapai dari tarbiyah. Sebab itulah kita perlukan tarbiyah, agar dapat mendidik kita menjadi baik dan insyaAllah dengan sedikit kebaikan yang ada pada kita dapat pula :membaikkan” orang lain. Seharusnya kita perlu faham akan tujuan mengapa ikut dan berada dalam tarbiyah sehingga tarbiyah tidak hanya sekadar rutin mingguan semata tetapi ada target atau tujuan yang harus dicapai. Bila kita hendak memanah dan tidak tahu ke mana harus di panahkan, berapa lama  anda mahu terus memegang busur panah dan anak panah tersebut? Begitulah tarbiyah. Tarbiyah ada targetnya, samada target peribadi yang mengikuti tarbiyah, begitu juga target murabbi yang membawa tarbiyah, begitu juga target organisasi yang menjadikan tarbiyah sebagai tunjang gerakerjanya.

Dr. Ali Abdul Halim Mahmud menuliskan dalam bukunya Peringkat-peringkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin menyatakan;

“…selain itu, tarbiyah Islamiyah  memiliki keistimewaan dengan kemampuannya mengiringi fitrah manusia dalam menghadapi realiti hidupnya di bumi dan di alam kebendaan ini, sebagaimana juga mengiringi potensinya menuju tingkat keteladanan dan potensinya sehingga dapat mewujudkan kemanfaatan dan keselamatan bagi diri, agama dan masyarakatnya. Semua itu termasuk dalam batas yang Allah SWT halalkan dan syariatkan.”

Ini tujuan besar tarbiyah. Sehingga diri yang mengikuti tarbiyah dapat merasai masuliiyah (tanggungjawab) untuk memimpin diri, keluarga, ummah dan dunia ini kepada membesarkan hanya sanya Allah SWT semata.

Proses untuk membentuk karakter hasil tarbiyah adalah lambat, sukar dan melalui proses yang panjang. Kita boleh melihat contoh hasil tarbiyah langsung Rasulullah SAW terhadap para sahabatnya iaitu sikap Abu Ayyub Al-Anshary yang berprasangka baik terhadap fitnah yang menimpa Aisyah dan Shafwan, Ka’ab bin Malik yang mengakui lalai tidak ikut dalam perang Tabuk, begitu juga dengan Abu Sufyan bin Harits setelah lebih berbelas tahun menentang Rasulllah SAW akhirnya bergabung dengan kafilah Nabi SAW dan contoh-contoh lainnya. Ustaz Dahlan dalam pengalamannya mentarbiyah sejak tahun 1970 lagi mengatakan bahawa jalan tarbiyah adalah jalan pembentukan individu muslim mukmin dan ummah Islamiyah yang berliku-liku serta menuntut kesabaran yang tinggi. Tarbiyah adalah umpama larian marathon, bukan larian sprint jarak pendek. Larian marathon memerlukan kesabaran untuk mencapai matlamat. Larian marathon memang kelihatan lambat, tetapi tenaga dan kekuatan pelari dirancang agar mencapai garis penamat dengan jaya

Dalam perjalanan kita mengikuti jalan tarbiyah, janganlah sampai proses untuk membentuk karakter tarbawi ini tercemar oleh pelbagai perkara yang merosakkan tujuan dari tarbiyah. Faktor-faktor yang merosakkan tersebut antara lain menurunnya tingkat keikhlasan dan masuknya niat yang tidak baik, ada masalah pada unsur-unsur kefahaman, tidak mengetahui jati diri dakwah dan harakah, terpedaya dan terperangkap dengan pelbagai godaan dunia dan mengejar kemilauannya yang palsu, menghilangnya akhlak maknawiyah yang menjadi tuntutan marhalah, seperti tsabat, sabar, tsiqah, tajarrud, tadhiyyah, merasa terlalu panjang perjalanan dakwah yang mesti ditempuh, merasa harakah atau organisasi lamban dalam bergerak, merasa tidak senang apabila idea dan pandangan tidak diterima oleh organisasi, merasa diri lebih banyak memberi sumbangan dan lebih banyak bekerja, merasa bangga dengan keupayaan dan kemampuan yang ada pada diri sendiri lalu melekehkan kemampuan orang lain, sibuk dan mengutamakan urusan peribadi dan kerjaya, menghilangnya semangat dan padamnya bara keinginan untuk beramal secara amal jama'i, buntunya selera beramal serta tidak merasakan kelazatan mengerahkan jerih payah untuk fi-sabilillah. Yang menjadi punca utama kegelinciran kita di jalan tarbiyah adalah diri kita sendiri. Yang sering alpa dan lalai lantas tidak konsisten dan tekun melaluinya. 

Objektif tarbiyah amat besar. Kita perlu yakin dengan jalan ini. Menurut al Marhum Ustaz Dahlan, salah satu jaminan dari proses tarbiyah (dengan taufik daripada Allah) ialah lahirnya  peribadi yang lengkap lagi seimbang dan bebas daripada sifat-sifat nifaq. Peribadi yang lengkap dan seimbang itu meliputi keteguhan aqidah, keluhuran akhlak, kebersihan hati, keelokan tingkah laku dan sikap, kebaikan ta’abbud, berjiwa ijtima’i (berpasukan) dan iltizam tandzimi. Peribadi yang seumpama ini juga akan tahan diuji dan terus istiqamah dengan da’wah dan tarbiyah dalam pelbagai keadaan dan suasana, insyaAllah.

Monday, November 19, 2012


Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS Ali Imran: 146)

Siapa sajakah mereka yang berguguran (berjatuhan) di jalan dakwah? Sebagaimana karakteristiknya, dakwah merupakan amalan panjang yang penuh hambatan dan rintangan. Perjalanan dakwah bukanlah perjalanan yang ditabur bunga dan penuh penghargaan mahupun pujian. Justru sebaliknya, dakwah adalah jihad dan pengorbanan seseorang. Segala bentuk pengorbanan dituntut dari seorang yang ingin berdakwah, mulai dari waktu, harta dan jiwa.

Semuanya menjadi modal yang harus diberikan saat seseorang telah menyatakan dirinya siap untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Dakwah jauh lebih penting berbanding dari diri si pendakwah itu sendiri. Tegak serta berdirinya hukum-hukum Allah dan izzatul muslim atau harga diri ummat Islam merupakan orientasi mutlak yang tak boleh ditawar-tawar lagi.

Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka yang berjatuhan di jalan dakwah. Kefahaman terhadap karakteristik dakwah terkadang menjadi ujian awal seseorang mengeluh berada di barisan panjang dakwah.

Bagaimanapun juga dakwah adalah sunnatullah dengan jumlah orang-orang yang sedikit. Sedikit sekali orang-orang yang mahu ikut bergabung di barisan orang-orang mulia, kerana sulitnya hambatan rintangan di jalan dakwah.

Bukan dakwah yang memerlukan para aktivis, akan tetapi aktivis dakwahlah yang memerlukan dakwah tersebut. Allah SWT telah menjanjikan bahawasannya akan menggantikan generasi yang berjatuhan di jalan dakwah, dengan orang-orang (kaum/umat) yang lebih baik lagi.

Ada atau tidak adanya aktivis dakwah dalam barisan dakwah, dakwah tersebut akan terus berjalan dan bertukar generasi. Keperluan aktivis dakwah terhadap dakwah adalah untuk kebaikan yang bersangkutan baik di dunia mahupun di akhirat. Sementara roda akiviti dakwah akan terus berputar bersama orang-orang yang konsisten berjuang di dalamnya.

Salah satu yang mampu dilakukan agar tidak termasuk kepada orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah adalah dengan mengetahui apa saja hambatan dan rintangan di jalan dakwah tersebut. Bermacam hambatan dan ujian yang akan ditemukan saat berada di jalan dakwah; diantaranya:

Pertama, jabatan/jawatan dan alat mencari rezeki. Kedudukan merupakan ujian nyata bagi para aktivis dakwah. Kedudukan mampu mengantarkan seseorang pada syurga mahupun neraka. Para aktivis dakwah yang telah memperoleh kedudukan di tengah masyarakat hakikatnya sedang diuji. Baik untuk peribadi orang yang menjalani mahupun untuk jamaah secara umum.

Rasulullah SAW dan para sahabat telah mengajarkan bagaimana cara mengelola kedudukan agar berbuah pahala dan syurga. Para aktivis dakwah hendaknya senantiasa berkiblat pada sirah dan landasan AlQuran dan hadist dalam mengurus kedudukan yang dipegangnya.

Kedua, keluarga (isteri dan anak). Keluarga merupakan bentuk ujian nyata seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah. Allah SWT bahkan mengancam kepada orang-orang beriman, jika mereka lebih mencintai anak-anak, isteri dan tempat tinggal mereka, maka kemurkaan akan diturunkan kepada mereka. Bagaimanapun kecantikan dan kesempurnaan seorang anak, bagi aktivis dakwah tetaplah merupakan bentuk ujian yang harus disikapi secara hati-hati.

Ketiga, kecintaan pada dunia dan harta. Harta kerap melalaikan manusia. Begitupun para aktivis dakwah yang juga merupakan jamaah manusia. Secara manusiawi seorang manusia tentu akan tergiur hatinya dengan gemerlapnya harta dunia. Namun di sanalah peranan hidup berjamaah bermain. Setiap orang menjadi penasihat sahabat yang lain, begitupun sebaliknya. Saling mengingatkan atas kelalaian masing-masing. Kecintaan terhadap harta dunia dapat melalaikan seseorang dan melupakan orientasi utama dakwahnya hanyalah untuk Allah SWT.

Keempat, godaan sebagai penghalang yang cukup melemahkan. Lingkungan dan orang-orang yang memusuhi dakwah di sekitar kita terkadang membisik-bisikkan godaan agar kita melalaikan dan meninggalkan dakwah. Ini merupakan bentuk dari ujian dan rintangan yang akan dihadapi seorang aktivis dakwah. Jika ia lemah, maka ia akan menjadi orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah.

Rujukan: “Yang Berguguran di Jalan Dakwah” oleh Syeikh Dr. Fathi Yakan

Kajian Tarbawi: Yang Berguguran di Jalan Dakwah


Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS Ali Imran: 146)

Siapa sajakah mereka yang berguguran (berjatuhan) di jalan dakwah? Sebagaimana karakteristiknya, dakwah merupakan amalan panjang yang penuh hambatan dan rintangan. Perjalanan dakwah bukanlah perjalanan yang ditabur bunga dan penuh penghargaan mahupun pujian. Justru sebaliknya, dakwah adalah jihad dan pengorbanan seseorang. Segala bentuk pengorbanan dituntut dari seorang yang ingin berdakwah, mulai dari waktu, harta dan jiwa.

Semuanya menjadi modal yang harus diberikan saat seseorang telah menyatakan dirinya siap untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Dakwah jauh lebih penting berbanding dari diri si pendakwah itu sendiri. Tegak serta berdirinya hukum-hukum Allah dan izzatul muslim atau harga diri ummat Islam merupakan orientasi mutlak yang tak boleh ditawar-tawar lagi.

Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka yang berjatuhan di jalan dakwah. Kefahaman terhadap karakteristik dakwah terkadang menjadi ujian awal seseorang mengeluh berada di barisan panjang dakwah.

Bagaimanapun juga dakwah adalah sunnatullah dengan jumlah orang-orang yang sedikit. Sedikit sekali orang-orang yang mahu ikut bergabung di barisan orang-orang mulia, kerana sulitnya hambatan rintangan di jalan dakwah.

Bukan dakwah yang memerlukan para aktivis, akan tetapi aktivis dakwahlah yang memerlukan dakwah tersebut. Allah SWT telah menjanjikan bahawasannya akan menggantikan generasi yang berjatuhan di jalan dakwah, dengan orang-orang (kaum/umat) yang lebih baik lagi.

Ada atau tidak adanya aktivis dakwah dalam barisan dakwah, dakwah tersebut akan terus berjalan dan bertukar generasi. Keperluan aktivis dakwah terhadap dakwah adalah untuk kebaikan yang bersangkutan baik di dunia mahupun di akhirat. Sementara roda akiviti dakwah akan terus berputar bersama orang-orang yang konsisten berjuang di dalamnya.

Salah satu yang mampu dilakukan agar tidak termasuk kepada orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah adalah dengan mengetahui apa saja hambatan dan rintangan di jalan dakwah tersebut. Bermacam hambatan dan ujian yang akan ditemukan saat berada di jalan dakwah; diantaranya:

Pertama, jabatan/jawatan dan alat mencari rezeki. Kedudukan merupakan ujian nyata bagi para aktivis dakwah. Kedudukan mampu mengantarkan seseorang pada syurga mahupun neraka. Para aktivis dakwah yang telah memperoleh kedudukan di tengah masyarakat hakikatnya sedang diuji. Baik untuk peribadi orang yang menjalani mahupun untuk jamaah secara umum.

Rasulullah SAW dan para sahabat telah mengajarkan bagaimana cara mengelola kedudukan agar berbuah pahala dan syurga. Para aktivis dakwah hendaknya senantiasa berkiblat pada sirah dan landasan AlQuran dan hadist dalam mengurus kedudukan yang dipegangnya.

Kedua, keluarga (isteri dan anak). Keluarga merupakan bentuk ujian nyata seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah. Allah SWT bahkan mengancam kepada orang-orang beriman, jika mereka lebih mencintai anak-anak, isteri dan tempat tinggal mereka, maka kemurkaan akan diturunkan kepada mereka. Bagaimanapun kecantikan dan kesempurnaan seorang anak, bagi aktivis dakwah tetaplah merupakan bentuk ujian yang harus disikapi secara hati-hati.

Ketiga, kecintaan pada dunia dan harta. Harta kerap melalaikan manusia. Begitupun para aktivis dakwah yang juga merupakan jamaah manusia. Secara manusiawi seorang manusia tentu akan tergiur hatinya dengan gemerlapnya harta dunia. Namun di sanalah peranan hidup berjamaah bermain. Setiap orang menjadi penasihat sahabat yang lain, begitupun sebaliknya. Saling mengingatkan atas kelalaian masing-masing. Kecintaan terhadap harta dunia dapat melalaikan seseorang dan melupakan orientasi utama dakwahnya hanyalah untuk Allah SWT.

Keempat, godaan sebagai penghalang yang cukup melemahkan. Lingkungan dan orang-orang yang memusuhi dakwah di sekitar kita terkadang membisik-bisikkan godaan agar kita melalaikan dan meninggalkan dakwah. Ini merupakan bentuk dari ujian dan rintangan yang akan dihadapi seorang aktivis dakwah. Jika ia lemah, maka ia akan menjadi orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah.

Rujukan: “Yang Berguguran di Jalan Dakwah” oleh Syeikh Dr. Fathi Yakan

Tuesday, October 16, 2012




Alhamdulillah, ketika saya bermusafir dari Kuantan ke Kuala Lumpur, saya ditemani isteri tercinta. Kami saling berbual mesra, berusrah keluarga di sepanjang perjalanan. Saya amat bahagia memiliki isteri yang amat mencintai dan menyayangi saya kerana Allah. Semoga diri ini mampu memimpinmu dan anak-anak ke jalan yang Allah redha. Buat  isteriku, kuatkan aku, doakan aku dan bersama kita mendepani cabaran bersama.

Saya nukilkan satu kisah, moga menjadi ibrah dan pelajaran buat kami dan anda juga yang membaca…moga cinta dan perkahwinan kita semua melahirkan kasih dan sayang kerana Allah SWT. Khususnya buat para suami seperti saya yang mendambakan isteri yang solehah dan ikhlas mencintai diri, maka kitalah yang perlu memiliki kesolehan dan keikhlasan itu dahulu…

Satu saat, seorang wanita ketika selesai berdoa, airmatanya mengalir deras. Mengenangkan arwah suaminya yang telah kembali bertemu Allah. Dia mengimbau kembali saat dirinya menikahi suaminya yang amat dicintai.

"Kami saling bertukar kata mutiara." Bisiknya pada teman rapatnya. Dilembar kertas itu dia mendapatkan sebuah kata mutiara yang indah dari sang suami. 

"Aku mencintaimu kerana aku mencintai Allah." 

Kata itu terpatri didalam hatinya sehingga mampu mengharungi bahtera rumahtangganya. Sehinggalah satu hari suaminya jatuh sakit, terbaring lemah di hospital, suaminya tidak sedarkan diri. Sang isteri selalu berada disisinya, berdoa di dalam hati memohon kepada Allah untuk kesembuhan suaminya.

Beberapa kali suaminya tersedar dan senyum seolah mendengar semua doa-doanya. Dia
bersyukur disaat suaminya lemah masih selalu ingat tiba waktu solat, selalu ingat Allah. Dia merasakan kasih sayang Allah yang begitu besar. 


"Abang, terima kasih atas cintamu kepadaku, kerana cintamu kepada Allah." Suaminya tersenyum lemah, menggenggam erat tangannya disaat ia mengucapkan kata-kata itu. Sang suami akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Air matanya mengalir tidak
tertahankan. Kepedihan begitu teramat mendalam. Sekalipun suaminya telah tiada,
senyumnya masih tertinggal didalam lubuk hatinya. Ia merasakan cinta yang tumbuh
dihatinya berasal dari limpahan cinta Allah untuk dirinya dan suaminya.

Dari luar bilik mayat hospital, seorang ustaz masuk dan bertanya apakah isterinya mahu memandikan jenazah suaminya, ustaz tadi bersama beberapa orang menemani si isteri memandikan jenazah suaminya… 

Sang isteri menangis ketika memandikan jenazah suaminya, sambil menangis isteri berkata,

" Inilah janji kami sebagai suami isteri..”

Jika abang pergi lebih dulu maka akulah yang memandikan jenazah abang, Andai aku yang pergi dulu dari abang, abang yang akan memandikan jenazahku ..."

Dengan tenang isteri membasuh muka suaminya sambil berdoa,
"Inilah wajah suami yang ku sayang tetapi Allah lebih sayang padamu ... Wahai suamiku, semoga Allah ampunkan dosamu dan satukan kita di akhirat nanti.."

Saat membasuh tangan jenazah suaminya sambil berkata..
"Tangan inilah yang mencari rezeki yang halal untuk kami, masuk ke mulut kami.. semoga Allah beri pahala untukmu wahai suami ku .."

Saat membasuh tubuh jenazah suaminya, iapun berkata...
" Tubuh inilah yang memberi pelukan kasih sayang padaku dan anak-anakku .., semoga Allah beri pahala berganda untukmu wahai suamiku..."

Kemudian saat membasuh kaki jenazah suaminya, kembali ia berkata..
"Dengan kaki ini abang keluar mencari rezeki untuk kami, berjalan dan berdiri sepanjang hari semata-mata untuk mencari sesuap nasi, terima kasih suamiku ... semoga Allah memberimu kenikmatan hidup di akhirat dan pahala yang berlipat kali ganda..."

Selesai memandikan jenazah suaminya, si isteri mengucup sayu suaminya dan berkata…

"Terima kasih suamiku .. kerana aku bahagia sepanjang menjadi isterimu dan terlalu bahagia .. dan terima kasih kerana meninggalkan aku bersama permata
hatimu yang persis dirimu .. dan aku sebagai seorang isteri redha akan
kepergianmu kerana kasih sayang Allah kepadamu..."


Rasulullah SAW ada bersabda:
"Barangsiapa yang menikah dengan dilandasi keyakinan kepada Allah dan hanya mengharapkan keredhaanNya niscaya Allah mewajibkan diriNya untuk menolongnya dan memberkahinya" (HR. Thabrani).

*Buat isteriku.. HACKSKA - Halimah.. Abang Cinta Kamu Sahaja kerana Allah

Isteriku, Andai Aku Yang Pergi Dulu...




Alhamdulillah, ketika saya bermusafir dari Kuantan ke Kuala Lumpur, saya ditemani isteri tercinta. Kami saling berbual mesra, berusrah keluarga di sepanjang perjalanan. Saya amat bahagia memiliki isteri yang amat mencintai dan menyayangi saya kerana Allah. Semoga diri ini mampu memimpinmu dan anak-anak ke jalan yang Allah redha. Buat  isteriku, kuatkan aku, doakan aku dan bersama kita mendepani cabaran bersama.

Saya nukilkan satu kisah, moga menjadi ibrah dan pelajaran buat kami dan anda juga yang membaca…moga cinta dan perkahwinan kita semua melahirkan kasih dan sayang kerana Allah SWT. Khususnya buat para suami seperti saya yang mendambakan isteri yang solehah dan ikhlas mencintai diri, maka kitalah yang perlu memiliki kesolehan dan keikhlasan itu dahulu…

Satu saat, seorang wanita ketika selesai berdoa, airmatanya mengalir deras. Mengenangkan arwah suaminya yang telah kembali bertemu Allah. Dia mengimbau kembali saat dirinya menikahi suaminya yang amat dicintai.

"Kami saling bertukar kata mutiara." Bisiknya pada teman rapatnya. Dilembar kertas itu dia mendapatkan sebuah kata mutiara yang indah dari sang suami. 

"Aku mencintaimu kerana aku mencintai Allah." 

Kata itu terpatri didalam hatinya sehingga mampu mengharungi bahtera rumahtangganya. Sehinggalah satu hari suaminya jatuh sakit, terbaring lemah di hospital, suaminya tidak sedarkan diri. Sang isteri selalu berada disisinya, berdoa di dalam hati memohon kepada Allah untuk kesembuhan suaminya.

Beberapa kali suaminya tersedar dan senyum seolah mendengar semua doa-doanya. Dia
bersyukur disaat suaminya lemah masih selalu ingat tiba waktu solat, selalu ingat Allah. Dia merasakan kasih sayang Allah yang begitu besar. 


"Abang, terima kasih atas cintamu kepadaku, kerana cintamu kepada Allah." Suaminya tersenyum lemah, menggenggam erat tangannya disaat ia mengucapkan kata-kata itu. Sang suami akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Air matanya mengalir tidak
tertahankan. Kepedihan begitu teramat mendalam. Sekalipun suaminya telah tiada,
senyumnya masih tertinggal didalam lubuk hatinya. Ia merasakan cinta yang tumbuh
dihatinya berasal dari limpahan cinta Allah untuk dirinya dan suaminya.

Dari luar bilik mayat hospital, seorang ustaz masuk dan bertanya apakah isterinya mahu memandikan jenazah suaminya, ustaz tadi bersama beberapa orang menemani si isteri memandikan jenazah suaminya… 

Sang isteri menangis ketika memandikan jenazah suaminya, sambil menangis isteri berkata,

" Inilah janji kami sebagai suami isteri..”

Jika abang pergi lebih dulu maka akulah yang memandikan jenazah abang, Andai aku yang pergi dulu dari abang, abang yang akan memandikan jenazahku ..."

Dengan tenang isteri membasuh muka suaminya sambil berdoa,
"Inilah wajah suami yang ku sayang tetapi Allah lebih sayang padamu ... Wahai suamiku, semoga Allah ampunkan dosamu dan satukan kita di akhirat nanti.."

Saat membasuh tangan jenazah suaminya sambil berkata..
"Tangan inilah yang mencari rezeki yang halal untuk kami, masuk ke mulut kami.. semoga Allah beri pahala untukmu wahai suami ku .."

Saat membasuh tubuh jenazah suaminya, iapun berkata...
" Tubuh inilah yang memberi pelukan kasih sayang padaku dan anak-anakku .., semoga Allah beri pahala berganda untukmu wahai suamiku..."

Kemudian saat membasuh kaki jenazah suaminya, kembali ia berkata..
"Dengan kaki ini abang keluar mencari rezeki untuk kami, berjalan dan berdiri sepanjang hari semata-mata untuk mencari sesuap nasi, terima kasih suamiku ... semoga Allah memberimu kenikmatan hidup di akhirat dan pahala yang berlipat kali ganda..."

Selesai memandikan jenazah suaminya, si isteri mengucup sayu suaminya dan berkata…

"Terima kasih suamiku .. kerana aku bahagia sepanjang menjadi isterimu dan terlalu bahagia .. dan terima kasih kerana meninggalkan aku bersama permata
hatimu yang persis dirimu .. dan aku sebagai seorang isteri redha akan
kepergianmu kerana kasih sayang Allah kepadamu..."


Rasulullah SAW ada bersabda:
"Barangsiapa yang menikah dengan dilandasi keyakinan kepada Allah dan hanya mengharapkan keredhaanNya niscaya Allah mewajibkan diriNya untuk menolongnya dan memberkahinya" (HR. Thabrani).

*Buat isteriku.. HACKSKA - Halimah.. Abang Cinta Kamu Sahaja kerana Allah


Sederhana dan bijaksana. inilah gaya hidup Muhammad Ar Rasul SAW. Hidup bersederhana dan bijaksana saya belajar dari Rasulullah SAW, seorang yang bukan hanya nabi, tetapi beliau juga seorang pemimpin tertinggi membangunkan daulah Islamiah. Sejarah hidup Nabi SAW amat luarbiasa. Baginda adalah dari suku bangsa yang amat dihormati oleh bangsa Arab. Keturunan mulia. Malahan boleh saja Baginda SAW memilih untuk hidup bermewahan seperti para bangsawan dan hartawan. Namun apabila kita menyelak sirah kehidupan baginda SAW kita akan tertunduk malu dan terbangun inspirasi.

Nabi SAW amat bijaksana dalam mengatur kehidupan diri, keluarga bahkan masyarakat Islami. Bermula dari  wahyu Ilahi, dibumikan menjadi realiti bahkan membentuk koloni manusia yang memiliki harga diri yang tinggi di sisi Ilahi. Muhammad SAW, pemimpin unggul yang bijaksana namun tetap bersahsiah tinggi. Baginda hidup serba sederhana tanpa mendabik dada. Tidak seperti sesetengah dari kita, yang baru memiliki kekayaan sekangkang kera, gempitanya lagak memiliki dunia dan seisinya.

Inilah Gaya Sederhana Nabi
Saya menangis tetapi tetap teruja ketika membaca sirah Baginda SAW apabila sirah itu menggambarkan betapa sederhananya hidup Baginda sedangkan pada saat itu Baginda boleh sahaja menikmati tampuk kekayaan. Luarbiasa, bijaksana dan sederhana.

Satu ketika, sahabat Nabi SAW, Umar bin Khattab RA berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Ketika beliau memasuki rumah Baginda, dia tersentak seketika melihat isi rumah Baginda SAW, yang ada hanyalah sebuah meja dan alasnya hanyalah sebuah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah geriba (tempat air) yang biasa Baginda gunakan untuk berwudhuk. Kehibaan muncul dalam hati Umar RA. Tanpa disedari air matanya berlinang…

Para pembaca sekalian, airmata anda sudah berlinang…? Apa yang anda terbayangkan saat ini? Buat yang bijaksana, sudah berumahtangga dan menjawat jawatan sini dan sana, perhatikan benchmark kehidupan Baginda SAW.

Ini keluhan hati saya, “Ya Rasulullah..air mataku juga menitis wahai Nabi. Tiap kali saya membaca sirah ini, saya tidak pernah gagal menitiskan air mata..kerana saya malu dengan apa yang saya miliki di rumah saya. Aku menyertaimu Umar… rasa hiba….!”

Setelah Rasulullah SAW melihat reaksi Umar, maka kemudian Rasulullah SAW menyapanya. “Gerangan apakah yang membuatmu menangis?” Umar pun menjawabnya, “Bagaimana aku tidak menangis ya Rasulullah? Hanya seperti ini keadaan yang kudapati di rumah tuan. Tidak ada perkakas dan tidak ada kekayaan kecuali sebuah meja dan sebuah geriba, padahal di tangan Tuan telah tergenggam kunci dunia Timur dan dunia Barat, dan kemakmuran telah melimpah.”

Lalu Baginda menjawab “Wahai Umar, aku ini adalah Rasul Allah, Aku bukan seorang Kaisar dari Romawi dan bukan pula seorang Kisra dari Parsi. Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi.

Begitulah Nabi SAW mengajar kita erti kesederhanaan. Benchmark kehidupan!

“Sesungguhnya engkau Muhammad mempunyai akhlak yang terpuji” (An Naba’ :7).

Bercita-cita Tinggi Dalam Kesederhanaan
Ramai yang bijaksana tetapi tidak bersederhana. Maka yang lahir, manusia yang sibuk mengejar cita-cita sehingga dunia menjadi tujuan lantas  alpa membina masa depan di syurga. Lalu sejarah kemanusiaan dalam membina ketamadunan manusia dengan gaya kesederhanaan diukir kembali oleh seorang lelaki yang luarbiasa. Orangnya amat bijaksana dan pernah mengecap kemewahan kehidupan. Namun, dalam pencarian kehidupan, dia memilih kesederhanaan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Bukan calang-calang orangnya, seorang khalifah umat, Umar bin Abdul Aziz.

Sebelum menjawat jawatan sebagai Khalifah, beliau adalah Gabenor Madinah. Saat itu beliau seorang yang bergaya. Bila berjalan, harum wangiannya akan tertinggal jauh di belakang langkah-langkahnya. Namun beliau semakin menapaki jalan kemuliaan. Diceritakan oleh pembantu setianya Raja’ bin Haiwah, bagaimana Umar bin Abdul Aziz memilih kesederhanaan di saat kebijakan beliau amat disegani umat. Raja’ bercerita;

“Dulu aku menemani Umar bin Abdul Aziz sewaktu ia menjadi Gabenor Madinah. Beliau menyuruhku membeli baju. Maka aku belikan baju mahal dengan harga lima ratus dirham. Ketika ia melihat dan berkata, “Baju ini bagus, Cuma harganya terlalu murah.”

Namun, ketika Umar bin Abdul Aziz dilantik sebagai Khalifah, ia pernah menyuruhku membeli baju. Maka aku belikan baju berharga lima dirham. Sang Khalifah melihat baju itu dan berkata, “Baju ini bagus, namun harganya mahal.”

Maka Aku menangis. Lantas Umar bin Abdul Aziz bertanya, ‘Kenapa kamu menangis’. Aku menjawab, ‘Kerana aku ingat beberapa tahun lalu bagaimana engkau menilai sebuah baju.’ Maka Umar bin Abdul Aziz mengatakan, ‘Sesungguhnya aku punya jiwa yang berkemampuan kuat. Tidaklah sebuah kemahuan itu tercapai, kecuali aku akan punya kemahuan yang lebih tinggi lagi. Jiwaku pernah menginginkan untuk menikahi Fatimah, anak saudaraku Abdul Malik yang seorang Khalifah, maka aku menikahinya. Lalu jiwaku ingin sekali menjadi Gabenor, aku telah mendapatkannya. Jiwaku kemudian ingin menjadi Khalifah, aku pun mendapatkannya. Sekarang wahai Raja’, jiwaku punya keinginan kuat untuk masuk syurga, dan aku sangat berharap agar menjadi penghuninya.’

Begitulah nyanyian jiwa seorang hamba Allah yang luarbiasa dalam menyikapi dirinya atas segala kurniaan yang telah Allah berikan kepadanya. Memilih dari kemuliaan di dunia, menuju kepada kemuliaan Ilahi. Kita selami kehidupan gaya sederhana Umar Bin Abdul Aziz lagi.

Satu saat ketika Khalifah Umar sakit, pakaian yang dipakainya telah kotor. Muslimah Abdul Aziz kakak Fatimah isteri Khalifah datang menemui adiknya dan melihat Khalifah yang sedang sakit. “Fatimah, basuhlah pakaian Khalifah itu. Sekejap lagi orang ramai akan masuk menemuinya”, tegur Muslimah. “Demi Allah, beliau tidak punya pakaian lagi kecuali yang dipakai itu”, jawab Fatimah.

Seorang perempuan Mesir telah datang ke Damsyik kerana ingin bertemu dengan Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dia bertanya-tanya di mana istana Khalifah dan orang ramai menunjukkannya. Sampai saja di rumah yang dimaksudkan, perempuan Mesir itu bertemu dengan seorang perempuan yang memakai pakaian yang sudah lusuh dan buruk dan seorang lelaki sedang bergelumang dengan tanah kerana memperbaiki rumahnya.

Perempuan itu bertanya lagi dan apabila mengetahui bahawa perempuan yang ditanya adalah Fatimah isteri Khalifah, dia terkejut luar biasa. Kerana mana ada seorang permaisuri raja yang layak memakai baju buruk seperti itu. Dia merasa takut dan kagum. Akan tetapi Fatimah pandai melayan, sehingga tetamu itu berasa suka dan tenang hatinya.

“Mengapa puan tidak menutup diri daripada lelaki tukang bancuh pasir itu?” tanya perempuan Mesir itu. “Tukang bancuh pasir itulah Amirul Mukminin” jawab Fatimah sambil tersenyum. Sekali lagi tetamu itu terkejut dan beristighfar.

Luarbiasa teladan Umar bin Abdul Aziz kepada kita. Begitu juga sang isteri Khalifah, redha dan setia bersama suami tercinta. Kedua mereka tokoh yang hebat, bijaksana dan serba bersederhana. Benarlah kata Syeikh Amru bin Murrah Al-Jamani RA, seorang tabi’in di Kufah tahun 118Hijrah;

“Barangsiapa yang mencari akhirat, dia akan mengorbankan dunianya, dan barangsiapa yang mencari dunia, dia akan mengorbankan akhiratnya, maka korbankanlah yang fana untuk yang kekal selamanya.”

Tips Sederhana Dalam Kehidupan
Benar, setiap saat, kita berusaha memenuhi hajat kehidupan. Hajat manusia tidak pernah mengecil. Sentiasa mahu dan mahu lagi. Maka tidak hairanlah tatkala Nabi SAW pernah bersimulasi bahawa manusia ini sekiranya dapat memiliki seluruh kekayaan bumi ini, akan bertanya lagi, apakah ada bumi lain yang boleh mereka kerumuni. Inilah manusia. Maka datanglah agama mulia ini, lantas dicontohkan oleh baginda kita Rasulullah SAW dengan mengajar kita “pengurusan kesederhanaan” dalam kehidupan.

Imam Al Ghazali ada  memberikan kita tips pengurusan kesederhanaan, agar kita memiliki sifat bersederhana dalam kehidupan. Mari kita selidiki dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin.

Tips pertama, kesederhanaan dalam penghidupan dan perbelanjaan.
Kesederhaan tidak hanya tercermin dalam gaya hidup saja, tetapi juga dalam pola berfikir membina penghidupan. Seorang yang berfikiran sederhana, tentunya tidak akan sampai melebihi batas keperluan hidup. Tuntutan dan keinginan akan selalu disesuaikan dengan kemampuan. Sehingga tidak ada rasa ingin menguasai dan memiliki hak orang lain di luar haknya.

Sebaliknya, latihlah diri dalam pengurusan kewangan kehidupan, samada individu dan keluarga, perlu ada strategi kewangan yang efektif yang berakar pada penghambaan pada Ilahi, kemudian barulah ia akan mengurus tuntutan nafsu berbelanja dan membeli. Kita harus kembali belajar memilih antara perkara yang harus dibeli, yang boleh dibeli, dan yang tidak perlu dibeli. Secara rasionalnya ramai yang faham perbezaan yang primer dan sekunder, akan tetapi rayuan nafsu yang mengikat diri mengalahkan rasional untuk memilih satu diantara dua. Oleh kerana itulah, kesederhanaan mempunyai hubungan yang erat dengan permasalahan hati, nafsu dan hubungannya dengan Allah SWT.

Tips kedua, pendek angan-angan. Lawannya panjang angan-angan. Maksud “panjang angan-angan” di sini ialah menaruh anggapan bahawa maut masih lambat menimpa diri, sehingga terlupa kepada saat kematian yang akan berlaku bila-bila masa sahaja”.

Penyakit ini adalah satu daripada penyakit-penyakit hati yang kronik. Mangsa penyakit ini akan hanyut dengan cita-cita (angan-angan) yang panjang di lautan khayalan dalam melayari kehidupan duniawi di dunia yang fana ini, sehingga terlupa kepada kematian dan kehidupan ukhrawi di akhirat yang abadi.

Satu saat, Abu Darda’ RA ketika melihat penduduk Himsh beliau berkata:

“Apakah kamu tidak malu membangun apa yang tidak akan kamu tempati selamanya dan angan-angan yang tidak dapat kamu capai dan mengumpulkan apa yang tidak dapat kamu makan. Sesungguhnya orang-orang yang sebelummu telah membangun yang megah-megah dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya dan angan-angan yang sejauhnya, akhirnya tempat mereka itu didalam kubur dan angan-angannya merupakan tipu daya dan yang mereka kumpulkan itu hancur lebur.”

Tips ketiga, Imam al Ghazali menyatakan hendaklah ia mengetahui apa yang terkandung di dalam sifat bersederhana iaitu berupa kemuliaan dan terhindar dari sikap meminta-minta serta menghindari kehinaan dan ketamakan. Huraian ini telah kita fahami dari teladan Rasulullah SAW dan Umar bin Abdul Aziz. Bercita-citalah walau setinggi mana, namun semakin tunduklah kita kepada Allah SWT. Maka Allah SWT akan mengukuh dan memuliakan kedudukan kita sebagai hamba-Nya.

Semoga kita mampu membangunkan kebijakan pada diri kita dengan ilmu yang kita pelajari, dan dipagari dengan jiwa yang bersederhana dalam mengurus kehidupan. Rasulullah SAW sendiri mengajar kita agar berhati-hati dalam kehidupan. Dan kesederhanaan menjadi pakaian kehidupan.

Baginda sering berdoa;
Ya Allah, ya Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari dunia yang menghalang kebajikan untuk akhirat. Aku berlindung kepadaMu lagi dari kehidupan yang menghalang kebajikan untuk mati. Dan aku berlindung kepada-Mu dari cita-cita yang mengganggu kebajikan untuk beramal.

Persoalan akhir buat kita semua, lalu di mana gaya hidup sederhana yang dicontohkan oleh
Rasulullah SAW serta para pengikut setia baginda dalam kisah penghidupan kita?

Tulisan saya di langitlahi.com

LangitIlahi: Inspirasi Pengurusan Kesederhanaan Dalam Kehidupan


Sederhana dan bijaksana. inilah gaya hidup Muhammad Ar Rasul SAW. Hidup bersederhana dan bijaksana saya belajar dari Rasulullah SAW, seorang yang bukan hanya nabi, tetapi beliau juga seorang pemimpin tertinggi membangunkan daulah Islamiah. Sejarah hidup Nabi SAW amat luarbiasa. Baginda adalah dari suku bangsa yang amat dihormati oleh bangsa Arab. Keturunan mulia. Malahan boleh saja Baginda SAW memilih untuk hidup bermewahan seperti para bangsawan dan hartawan. Namun apabila kita menyelak sirah kehidupan baginda SAW kita akan tertunduk malu dan terbangun inspirasi.

Nabi SAW amat bijaksana dalam mengatur kehidupan diri, keluarga bahkan masyarakat Islami. Bermula dari  wahyu Ilahi, dibumikan menjadi realiti bahkan membentuk koloni manusia yang memiliki harga diri yang tinggi di sisi Ilahi. Muhammad SAW, pemimpin unggul yang bijaksana namun tetap bersahsiah tinggi. Baginda hidup serba sederhana tanpa mendabik dada. Tidak seperti sesetengah dari kita, yang baru memiliki kekayaan sekangkang kera, gempitanya lagak memiliki dunia dan seisinya.

Inilah Gaya Sederhana Nabi
Saya menangis tetapi tetap teruja ketika membaca sirah Baginda SAW apabila sirah itu menggambarkan betapa sederhananya hidup Baginda sedangkan pada saat itu Baginda boleh sahaja menikmati tampuk kekayaan. Luarbiasa, bijaksana dan sederhana.

Satu ketika, sahabat Nabi SAW, Umar bin Khattab RA berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Ketika beliau memasuki rumah Baginda, dia tersentak seketika melihat isi rumah Baginda SAW, yang ada hanyalah sebuah meja dan alasnya hanyalah sebuah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah geriba (tempat air) yang biasa Baginda gunakan untuk berwudhuk. Kehibaan muncul dalam hati Umar RA. Tanpa disedari air matanya berlinang…

Para pembaca sekalian, airmata anda sudah berlinang…? Apa yang anda terbayangkan saat ini? Buat yang bijaksana, sudah berumahtangga dan menjawat jawatan sini dan sana, perhatikan benchmark kehidupan Baginda SAW.

Ini keluhan hati saya, “Ya Rasulullah..air mataku juga menitis wahai Nabi. Tiap kali saya membaca sirah ini, saya tidak pernah gagal menitiskan air mata..kerana saya malu dengan apa yang saya miliki di rumah saya. Aku menyertaimu Umar… rasa hiba….!”

Setelah Rasulullah SAW melihat reaksi Umar, maka kemudian Rasulullah SAW menyapanya. “Gerangan apakah yang membuatmu menangis?” Umar pun menjawabnya, “Bagaimana aku tidak menangis ya Rasulullah? Hanya seperti ini keadaan yang kudapati di rumah tuan. Tidak ada perkakas dan tidak ada kekayaan kecuali sebuah meja dan sebuah geriba, padahal di tangan Tuan telah tergenggam kunci dunia Timur dan dunia Barat, dan kemakmuran telah melimpah.”

Lalu Baginda menjawab “Wahai Umar, aku ini adalah Rasul Allah, Aku bukan seorang Kaisar dari Romawi dan bukan pula seorang Kisra dari Parsi. Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi.

Begitulah Nabi SAW mengajar kita erti kesederhanaan. Benchmark kehidupan!

“Sesungguhnya engkau Muhammad mempunyai akhlak yang terpuji” (An Naba’ :7).

Bercita-cita Tinggi Dalam Kesederhanaan
Ramai yang bijaksana tetapi tidak bersederhana. Maka yang lahir, manusia yang sibuk mengejar cita-cita sehingga dunia menjadi tujuan lantas  alpa membina masa depan di syurga. Lalu sejarah kemanusiaan dalam membina ketamadunan manusia dengan gaya kesederhanaan diukir kembali oleh seorang lelaki yang luarbiasa. Orangnya amat bijaksana dan pernah mengecap kemewahan kehidupan. Namun, dalam pencarian kehidupan, dia memilih kesederhanaan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Bukan calang-calang orangnya, seorang khalifah umat, Umar bin Abdul Aziz.

Sebelum menjawat jawatan sebagai Khalifah, beliau adalah Gabenor Madinah. Saat itu beliau seorang yang bergaya. Bila berjalan, harum wangiannya akan tertinggal jauh di belakang langkah-langkahnya. Namun beliau semakin menapaki jalan kemuliaan. Diceritakan oleh pembantu setianya Raja’ bin Haiwah, bagaimana Umar bin Abdul Aziz memilih kesederhanaan di saat kebijakan beliau amat disegani umat. Raja’ bercerita;

“Dulu aku menemani Umar bin Abdul Aziz sewaktu ia menjadi Gabenor Madinah. Beliau menyuruhku membeli baju. Maka aku belikan baju mahal dengan harga lima ratus dirham. Ketika ia melihat dan berkata, “Baju ini bagus, Cuma harganya terlalu murah.”

Namun, ketika Umar bin Abdul Aziz dilantik sebagai Khalifah, ia pernah menyuruhku membeli baju. Maka aku belikan baju berharga lima dirham. Sang Khalifah melihat baju itu dan berkata, “Baju ini bagus, namun harganya mahal.”

Maka Aku menangis. Lantas Umar bin Abdul Aziz bertanya, ‘Kenapa kamu menangis’. Aku menjawab, ‘Kerana aku ingat beberapa tahun lalu bagaimana engkau menilai sebuah baju.’ Maka Umar bin Abdul Aziz mengatakan, ‘Sesungguhnya aku punya jiwa yang berkemampuan kuat. Tidaklah sebuah kemahuan itu tercapai, kecuali aku akan punya kemahuan yang lebih tinggi lagi. Jiwaku pernah menginginkan untuk menikahi Fatimah, anak saudaraku Abdul Malik yang seorang Khalifah, maka aku menikahinya. Lalu jiwaku ingin sekali menjadi Gabenor, aku telah mendapatkannya. Jiwaku kemudian ingin menjadi Khalifah, aku pun mendapatkannya. Sekarang wahai Raja’, jiwaku punya keinginan kuat untuk masuk syurga, dan aku sangat berharap agar menjadi penghuninya.’

Begitulah nyanyian jiwa seorang hamba Allah yang luarbiasa dalam menyikapi dirinya atas segala kurniaan yang telah Allah berikan kepadanya. Memilih dari kemuliaan di dunia, menuju kepada kemuliaan Ilahi. Kita selami kehidupan gaya sederhana Umar Bin Abdul Aziz lagi.

Satu saat ketika Khalifah Umar sakit, pakaian yang dipakainya telah kotor. Muslimah Abdul Aziz kakak Fatimah isteri Khalifah datang menemui adiknya dan melihat Khalifah yang sedang sakit. “Fatimah, basuhlah pakaian Khalifah itu. Sekejap lagi orang ramai akan masuk menemuinya”, tegur Muslimah. “Demi Allah, beliau tidak punya pakaian lagi kecuali yang dipakai itu”, jawab Fatimah.

Seorang perempuan Mesir telah datang ke Damsyik kerana ingin bertemu dengan Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dia bertanya-tanya di mana istana Khalifah dan orang ramai menunjukkannya. Sampai saja di rumah yang dimaksudkan, perempuan Mesir itu bertemu dengan seorang perempuan yang memakai pakaian yang sudah lusuh dan buruk dan seorang lelaki sedang bergelumang dengan tanah kerana memperbaiki rumahnya.

Perempuan itu bertanya lagi dan apabila mengetahui bahawa perempuan yang ditanya adalah Fatimah isteri Khalifah, dia terkejut luar biasa. Kerana mana ada seorang permaisuri raja yang layak memakai baju buruk seperti itu. Dia merasa takut dan kagum. Akan tetapi Fatimah pandai melayan, sehingga tetamu itu berasa suka dan tenang hatinya.

“Mengapa puan tidak menutup diri daripada lelaki tukang bancuh pasir itu?” tanya perempuan Mesir itu. “Tukang bancuh pasir itulah Amirul Mukminin” jawab Fatimah sambil tersenyum. Sekali lagi tetamu itu terkejut dan beristighfar.

Luarbiasa teladan Umar bin Abdul Aziz kepada kita. Begitu juga sang isteri Khalifah, redha dan setia bersama suami tercinta. Kedua mereka tokoh yang hebat, bijaksana dan serba bersederhana. Benarlah kata Syeikh Amru bin Murrah Al-Jamani RA, seorang tabi’in di Kufah tahun 118Hijrah;

“Barangsiapa yang mencari akhirat, dia akan mengorbankan dunianya, dan barangsiapa yang mencari dunia, dia akan mengorbankan akhiratnya, maka korbankanlah yang fana untuk yang kekal selamanya.”

Tips Sederhana Dalam Kehidupan
Benar, setiap saat, kita berusaha memenuhi hajat kehidupan. Hajat manusia tidak pernah mengecil. Sentiasa mahu dan mahu lagi. Maka tidak hairanlah tatkala Nabi SAW pernah bersimulasi bahawa manusia ini sekiranya dapat memiliki seluruh kekayaan bumi ini, akan bertanya lagi, apakah ada bumi lain yang boleh mereka kerumuni. Inilah manusia. Maka datanglah agama mulia ini, lantas dicontohkan oleh baginda kita Rasulullah SAW dengan mengajar kita “pengurusan kesederhanaan” dalam kehidupan.

Imam Al Ghazali ada  memberikan kita tips pengurusan kesederhanaan, agar kita memiliki sifat bersederhana dalam kehidupan. Mari kita selidiki dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin.

Tips pertama, kesederhanaan dalam penghidupan dan perbelanjaan.
Kesederhaan tidak hanya tercermin dalam gaya hidup saja, tetapi juga dalam pola berfikir membina penghidupan. Seorang yang berfikiran sederhana, tentunya tidak akan sampai melebihi batas keperluan hidup. Tuntutan dan keinginan akan selalu disesuaikan dengan kemampuan. Sehingga tidak ada rasa ingin menguasai dan memiliki hak orang lain di luar haknya.

Sebaliknya, latihlah diri dalam pengurusan kewangan kehidupan, samada individu dan keluarga, perlu ada strategi kewangan yang efektif yang berakar pada penghambaan pada Ilahi, kemudian barulah ia akan mengurus tuntutan nafsu berbelanja dan membeli. Kita harus kembali belajar memilih antara perkara yang harus dibeli, yang boleh dibeli, dan yang tidak perlu dibeli. Secara rasionalnya ramai yang faham perbezaan yang primer dan sekunder, akan tetapi rayuan nafsu yang mengikat diri mengalahkan rasional untuk memilih satu diantara dua. Oleh kerana itulah, kesederhanaan mempunyai hubungan yang erat dengan permasalahan hati, nafsu dan hubungannya dengan Allah SWT.

Tips kedua, pendek angan-angan. Lawannya panjang angan-angan. Maksud “panjang angan-angan” di sini ialah menaruh anggapan bahawa maut masih lambat menimpa diri, sehingga terlupa kepada saat kematian yang akan berlaku bila-bila masa sahaja”.

Penyakit ini adalah satu daripada penyakit-penyakit hati yang kronik. Mangsa penyakit ini akan hanyut dengan cita-cita (angan-angan) yang panjang di lautan khayalan dalam melayari kehidupan duniawi di dunia yang fana ini, sehingga terlupa kepada kematian dan kehidupan ukhrawi di akhirat yang abadi.

Satu saat, Abu Darda’ RA ketika melihat penduduk Himsh beliau berkata:

“Apakah kamu tidak malu membangun apa yang tidak akan kamu tempati selamanya dan angan-angan yang tidak dapat kamu capai dan mengumpulkan apa yang tidak dapat kamu makan. Sesungguhnya orang-orang yang sebelummu telah membangun yang megah-megah dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya dan angan-angan yang sejauhnya, akhirnya tempat mereka itu didalam kubur dan angan-angannya merupakan tipu daya dan yang mereka kumpulkan itu hancur lebur.”

Tips ketiga, Imam al Ghazali menyatakan hendaklah ia mengetahui apa yang terkandung di dalam sifat bersederhana iaitu berupa kemuliaan dan terhindar dari sikap meminta-minta serta menghindari kehinaan dan ketamakan. Huraian ini telah kita fahami dari teladan Rasulullah SAW dan Umar bin Abdul Aziz. Bercita-citalah walau setinggi mana, namun semakin tunduklah kita kepada Allah SWT. Maka Allah SWT akan mengukuh dan memuliakan kedudukan kita sebagai hamba-Nya.

Semoga kita mampu membangunkan kebijakan pada diri kita dengan ilmu yang kita pelajari, dan dipagari dengan jiwa yang bersederhana dalam mengurus kehidupan. Rasulullah SAW sendiri mengajar kita agar berhati-hati dalam kehidupan. Dan kesederhanaan menjadi pakaian kehidupan.

Baginda sering berdoa;
Ya Allah, ya Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari dunia yang menghalang kebajikan untuk akhirat. Aku berlindung kepadaMu lagi dari kehidupan yang menghalang kebajikan untuk mati. Dan aku berlindung kepada-Mu dari cita-cita yang mengganggu kebajikan untuk beramal.

Persoalan akhir buat kita semua, lalu di mana gaya hidup sederhana yang dicontohkan oleh
Rasulullah SAW serta para pengikut setia baginda dalam kisah penghidupan kita?

Tulisan saya di langitlahi.com

Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah