Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Monday, November 19, 2012


Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS Ali Imran: 146)

Siapa sajakah mereka yang berguguran (berjatuhan) di jalan dakwah? Sebagaimana karakteristiknya, dakwah merupakan amalan panjang yang penuh hambatan dan rintangan. Perjalanan dakwah bukanlah perjalanan yang ditabur bunga dan penuh penghargaan mahupun pujian. Justru sebaliknya, dakwah adalah jihad dan pengorbanan seseorang. Segala bentuk pengorbanan dituntut dari seorang yang ingin berdakwah, mulai dari waktu, harta dan jiwa.

Semuanya menjadi modal yang harus diberikan saat seseorang telah menyatakan dirinya siap untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Dakwah jauh lebih penting berbanding dari diri si pendakwah itu sendiri. Tegak serta berdirinya hukum-hukum Allah dan izzatul muslim atau harga diri ummat Islam merupakan orientasi mutlak yang tak boleh ditawar-tawar lagi.

Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka yang berjatuhan di jalan dakwah. Kefahaman terhadap karakteristik dakwah terkadang menjadi ujian awal seseorang mengeluh berada di barisan panjang dakwah.

Bagaimanapun juga dakwah adalah sunnatullah dengan jumlah orang-orang yang sedikit. Sedikit sekali orang-orang yang mahu ikut bergabung di barisan orang-orang mulia, kerana sulitnya hambatan rintangan di jalan dakwah.

Bukan dakwah yang memerlukan para aktivis, akan tetapi aktivis dakwahlah yang memerlukan dakwah tersebut. Allah SWT telah menjanjikan bahawasannya akan menggantikan generasi yang berjatuhan di jalan dakwah, dengan orang-orang (kaum/umat) yang lebih baik lagi.

Ada atau tidak adanya aktivis dakwah dalam barisan dakwah, dakwah tersebut akan terus berjalan dan bertukar generasi. Keperluan aktivis dakwah terhadap dakwah adalah untuk kebaikan yang bersangkutan baik di dunia mahupun di akhirat. Sementara roda akiviti dakwah akan terus berputar bersama orang-orang yang konsisten berjuang di dalamnya.

Salah satu yang mampu dilakukan agar tidak termasuk kepada orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah adalah dengan mengetahui apa saja hambatan dan rintangan di jalan dakwah tersebut. Bermacam hambatan dan ujian yang akan ditemukan saat berada di jalan dakwah; diantaranya:

Pertama, jabatan/jawatan dan alat mencari rezeki. Kedudukan merupakan ujian nyata bagi para aktivis dakwah. Kedudukan mampu mengantarkan seseorang pada syurga mahupun neraka. Para aktivis dakwah yang telah memperoleh kedudukan di tengah masyarakat hakikatnya sedang diuji. Baik untuk peribadi orang yang menjalani mahupun untuk jamaah secara umum.

Rasulullah SAW dan para sahabat telah mengajarkan bagaimana cara mengelola kedudukan agar berbuah pahala dan syurga. Para aktivis dakwah hendaknya senantiasa berkiblat pada sirah dan landasan AlQuran dan hadist dalam mengurus kedudukan yang dipegangnya.

Kedua, keluarga (isteri dan anak). Keluarga merupakan bentuk ujian nyata seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah. Allah SWT bahkan mengancam kepada orang-orang beriman, jika mereka lebih mencintai anak-anak, isteri dan tempat tinggal mereka, maka kemurkaan akan diturunkan kepada mereka. Bagaimanapun kecantikan dan kesempurnaan seorang anak, bagi aktivis dakwah tetaplah merupakan bentuk ujian yang harus disikapi secara hati-hati.

Ketiga, kecintaan pada dunia dan harta. Harta kerap melalaikan manusia. Begitupun para aktivis dakwah yang juga merupakan jamaah manusia. Secara manusiawi seorang manusia tentu akan tergiur hatinya dengan gemerlapnya harta dunia. Namun di sanalah peranan hidup berjamaah bermain. Setiap orang menjadi penasihat sahabat yang lain, begitupun sebaliknya. Saling mengingatkan atas kelalaian masing-masing. Kecintaan terhadap harta dunia dapat melalaikan seseorang dan melupakan orientasi utama dakwahnya hanyalah untuk Allah SWT.

Keempat, godaan sebagai penghalang yang cukup melemahkan. Lingkungan dan orang-orang yang memusuhi dakwah di sekitar kita terkadang membisik-bisikkan godaan agar kita melalaikan dan meninggalkan dakwah. Ini merupakan bentuk dari ujian dan rintangan yang akan dihadapi seorang aktivis dakwah. Jika ia lemah, maka ia akan menjadi orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah.

Rujukan: “Yang Berguguran di Jalan Dakwah” oleh Syeikh Dr. Fathi Yakan

Kajian Tarbawi: Yang Berguguran di Jalan Dakwah


Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS Ali Imran: 146)

Siapa sajakah mereka yang berguguran (berjatuhan) di jalan dakwah? Sebagaimana karakteristiknya, dakwah merupakan amalan panjang yang penuh hambatan dan rintangan. Perjalanan dakwah bukanlah perjalanan yang ditabur bunga dan penuh penghargaan mahupun pujian. Justru sebaliknya, dakwah adalah jihad dan pengorbanan seseorang. Segala bentuk pengorbanan dituntut dari seorang yang ingin berdakwah, mulai dari waktu, harta dan jiwa.

Semuanya menjadi modal yang harus diberikan saat seseorang telah menyatakan dirinya siap untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Dakwah jauh lebih penting berbanding dari diri si pendakwah itu sendiri. Tegak serta berdirinya hukum-hukum Allah dan izzatul muslim atau harga diri ummat Islam merupakan orientasi mutlak yang tak boleh ditawar-tawar lagi.

Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka yang berjatuhan di jalan dakwah. Kefahaman terhadap karakteristik dakwah terkadang menjadi ujian awal seseorang mengeluh berada di barisan panjang dakwah.

Bagaimanapun juga dakwah adalah sunnatullah dengan jumlah orang-orang yang sedikit. Sedikit sekali orang-orang yang mahu ikut bergabung di barisan orang-orang mulia, kerana sulitnya hambatan rintangan di jalan dakwah.

Bukan dakwah yang memerlukan para aktivis, akan tetapi aktivis dakwahlah yang memerlukan dakwah tersebut. Allah SWT telah menjanjikan bahawasannya akan menggantikan generasi yang berjatuhan di jalan dakwah, dengan orang-orang (kaum/umat) yang lebih baik lagi.

Ada atau tidak adanya aktivis dakwah dalam barisan dakwah, dakwah tersebut akan terus berjalan dan bertukar generasi. Keperluan aktivis dakwah terhadap dakwah adalah untuk kebaikan yang bersangkutan baik di dunia mahupun di akhirat. Sementara roda akiviti dakwah akan terus berputar bersama orang-orang yang konsisten berjuang di dalamnya.

Salah satu yang mampu dilakukan agar tidak termasuk kepada orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah adalah dengan mengetahui apa saja hambatan dan rintangan di jalan dakwah tersebut. Bermacam hambatan dan ujian yang akan ditemukan saat berada di jalan dakwah; diantaranya:

Pertama, jabatan/jawatan dan alat mencari rezeki. Kedudukan merupakan ujian nyata bagi para aktivis dakwah. Kedudukan mampu mengantarkan seseorang pada syurga mahupun neraka. Para aktivis dakwah yang telah memperoleh kedudukan di tengah masyarakat hakikatnya sedang diuji. Baik untuk peribadi orang yang menjalani mahupun untuk jamaah secara umum.

Rasulullah SAW dan para sahabat telah mengajarkan bagaimana cara mengelola kedudukan agar berbuah pahala dan syurga. Para aktivis dakwah hendaknya senantiasa berkiblat pada sirah dan landasan AlQuran dan hadist dalam mengurus kedudukan yang dipegangnya.

Kedua, keluarga (isteri dan anak). Keluarga merupakan bentuk ujian nyata seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah. Allah SWT bahkan mengancam kepada orang-orang beriman, jika mereka lebih mencintai anak-anak, isteri dan tempat tinggal mereka, maka kemurkaan akan diturunkan kepada mereka. Bagaimanapun kecantikan dan kesempurnaan seorang anak, bagi aktivis dakwah tetaplah merupakan bentuk ujian yang harus disikapi secara hati-hati.

Ketiga, kecintaan pada dunia dan harta. Harta kerap melalaikan manusia. Begitupun para aktivis dakwah yang juga merupakan jamaah manusia. Secara manusiawi seorang manusia tentu akan tergiur hatinya dengan gemerlapnya harta dunia. Namun di sanalah peranan hidup berjamaah bermain. Setiap orang menjadi penasihat sahabat yang lain, begitupun sebaliknya. Saling mengingatkan atas kelalaian masing-masing. Kecintaan terhadap harta dunia dapat melalaikan seseorang dan melupakan orientasi utama dakwahnya hanyalah untuk Allah SWT.

Keempat, godaan sebagai penghalang yang cukup melemahkan. Lingkungan dan orang-orang yang memusuhi dakwah di sekitar kita terkadang membisik-bisikkan godaan agar kita melalaikan dan meninggalkan dakwah. Ini merupakan bentuk dari ujian dan rintangan yang akan dihadapi seorang aktivis dakwah. Jika ia lemah, maka ia akan menjadi orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah.

Rujukan: “Yang Berguguran di Jalan Dakwah” oleh Syeikh Dr. Fathi Yakan

Wednesday, October 10, 2012

" Manusia tidak merancang untuk gagal, tetapi mereka gagal untuk merancang. Hidup Penuh Risiko, Maka Rancanglah Untuk Tetap Semangat Menghadapinya"

Sebenarnya kunci untuk menetapkan tujuan kejayaan adalah kemampuan kita untuk memotivasi diri sendiri dan tetap termotivasi sehingga kita telah mencapai tujuan kita. Mendapatkan dan tetap termotivasi tidak sesulit kelihatannya. Ini hanya memerlukan disiplin dan beberapa kekuatan untuk memulakannya.

Pertama, mari kita lihat apa motivasi sebenarnya, dan kemudian melihat bagaimana kita boleh termotivasi untuk mencapai tujuan kita. Motivasi bukan merupakan produk dari pengaruh luar. Ianya adalah produk alami dari keinginan kita untuk mencapai sesuatu dan keyakinan kita bahawa kita mampu melakukannya. Ianya akan meningkat dalam diri kita sekiranya kita dapat membina seberapa kuat keinginan kita dan kepercayaan pada diri sendiri. Di sini penulis cuba senaraikan beberapa cara yang kita benar-benar dapat memotivasi diri sendiri dan tetap sangat termotivasi sehingga kita mendapatkan tujuan kita.

1. Mulailah dengan visualisasi kejayaan masa depan kita dan membayangkan saat kita mengalami perasaan ketika kita mencapai tujuan kita. Visualisasi tersebut akan dapat dicapai setelah kita berusaha untuk merealisasikannya, maka bangkitkanlah motivasi diri menuju kejayaan. Masih ingat kisah Rasulullah saw. membayangkan bahawa pada suatu saat nanti Islam akan menawan kerajaan Parsi. Sedangkan pada saat itu baginda baru hendak berhijrah ke Madinah dan agama Islam masih kerdil, sedangkan kerajaan Parsi pada masa itu adalah satu kuasa dunia ! Perbezaannya seperti langit dengan bumi. Namun Rasulullah saw. dengan yakin telah membayangkan kejayaan dakwahnya sehingga mampu menawan kerajaan Parsi. Kerajaan Parsi akhirnya jatuh ke tangan tentera Islam di zaman Khalifah Umar Al-Khatab. Saidina Umar dengan linangan airmata kegembiraan dan terharu. Ternyata visualisasi Rasulullah saw. menjadi kenyataan.

2. Miliki mentaliti positif bahawa anda mampu menuju kepada kejayaan. Fokus dan berilah seluruh konsentrasi bagaimana kita akan melangkahkan tapak-tapak kejayaan. Bayangkan kebahagiaan yang akan dapat kita peroleh saat satu demi satu langkah kita menghampiri kejayaan. Sungguh, memperoleh kejayaan bermula dengan langkah-langkah positif menuju kejayaan. Maka jangan biarkan langkah anda sumbang. Perhatikan serah perjalanan perjuangan dakwah Rasulullah saw. Sebenarnya tiada yang pincang dalam langkah-langkah baginda saw, sebaliknya ianya menjadi langkah sejarah dakwah sehingga langkah-langkah itu telah menyinarkan bumi ini dengan kemuliaan Islam.

3. Tetapkan keutamaan yang tinggi yang harus di capai untuk setiap tugas. Ianya akan memberikan kesan keutamaan dalam fikiran kita. Tegaskan kepada diri sendiri bahawa kita akan melakukan apa yang diperlukan tanpa gagal. Biasanya kita gagal menetapkan keutamaan antara study kita dengan aktiviti yang lain seperti bersukan, outing, berfacebook, bercinta dan sebagainya sehinggakan masa kualiti kita habis untuk aktiviti yang tidak penting malah merosakan diri sendiri.

4. Menetapkan sasaran untuk jumlah jam / kerja yang kita akan lakukan setiap hari ke arah tujuan kita. Jadualkan jumlah masa / kerja dalam perancangan harian kita dan jangan biarkan jadual itu diganggu atau terabai. Sebagai contoh, penulis sentiasa menetapkan 2 jam setiap hari untuk membuat latih tubi soalan. Penulis akan pastikan ianya berjalan, walau dengan apa cara pun, hatta terpaksa mengurangkan masa tidur.

5. Cuba senaraikan apakah hasil yang ingin kita capai, samada dalam bentuk senarai, graf, gambar dan sebagainya. Tampalkan di tempat yang selalu kita lalu atau lihat seperti di meja belajar, di dinding bilik, dan sebagainya. Ianya akan membantu mengingat dalam pemikiran kita bila-bila masa dan sepanjang hari.

6. Cuba senaraikan apakah target lain yang kita ingin capai, seperti untuk menjadi seorang doktor berjaya, peguam terbaik dan sebagainya. Penulis sentiasa set untuk bercita-cita menjadi seorang profesional da’i. Untuk menjadi profesional penulis perlu cemerlang dalam belajar sehingga ke tahap PhD. Untuk menjadi da’i maka penulis perlu istiqamah dengan tarbiah Islam dan dakwah. Komitmen untuk mencapai cita-cita tersebut akan meningkatkan motivasi kita untuk mecapainya. Saat ini apa yang anda citakan atau masih samar lagi?

7. Selalu buat post moterm pencapaian yang telah kita usahakan. Menulis laporan kemajuan. Dalam Islam disebut muhasabah. Muhasabah kita mesti konkrit, senaraikan apa yang lemah, apa yang belum dilakukan, kenapa tidak dilakukan dan apa tindakan untuk improve kelemahan tersebut. Muhasabah merupakan salah satu kunci istiqamah. Agar kita tidak mengulangi kesilapan yang sama berulang kali.

8. Berikan diri kita beberapa galakan dan dorongan untuk mengingatkan diri kita bahawa kita miliki kemampuan dan komitmen untuk mencapai tujuan kita. Gilapkan potensi dan kekuatan yang ada pada diri kita semaksimanya. Rasulullah saw. sering memuji sahabat-sahabatnya yang memiliki sebarang kekuatan / kebaikan, ini akan mendorong lagi motivasi para sahabat untuk berprestasi.

9. Bacalah buku, tulisan, kisah atau meontotn video yang memotivasi kita dan menggerakkan kita untuk bertindak.

10. Dengar muzik yang memotivasi kita, yang membangkitkan ruh / jiwa kita untuk membangkitkan motivasi dan cita kita. Apatah lagi kalau kita sentiasa mendengar bacaan Al Quran, insyaAllah mampu membantu diri kita.

11. Sentiasa bersaing dengan teman-teman yang komited dengan study, jadikan mereka sebagai partner belajar dan dalam masa yang sama pesaing kita yang sihat.

12. Dapatkan bantuan dan sokongan dari orang-orang di sekitar kita. Penulis amat akrab dengan para pensyarah penulis sehingga mereka sentiasa membuka pintu untuk membantu kejayaan penulis.

13. Tentukan versi kejayaan kita seiring dengan kehendak Allah dan Rasulullah saw. Jangan biarkan orang lain mendefinisikan kejayaan untuk kita.

14. Abaikan atau nyahkan pengaruh negatif atau tanggapan orang luar bahawa kita tidak boleh berjaya . Pekakkan telinga terhadap suara orang-orang negatif. Sebaliknya berkawanlah dengan dengan orang yang berjiwa positif dan telah berjaya. Bertahan! Jangan lemah semangat dengan suara dan pandangan sumbang. 

15. Sedarkan diri sentiasa untuk sentiasa berbuat lebih baik daripada yang pernah kita lakukan. Hadapi masalah dan menerima cabaran yang muncul. Jangan lari dari masalah. Perancangan jika dilaksanakan akan selalu merubah hari anda. Apa yang penting adalah proses setiap perancangan dilaksanakan sehingga kita memiliki arah yang jelas tanpa ragu-ragu.

16. Fokus pada prestasi positif kita dan bukan negatif. Semua orang mempunyai persepsi mereka sendiri terhadap kita, ada yang berpesepsi positif dan ada yang negatif. Beri tumpuan kepada perkara-perkara atau orang yang memberi kemajuan kepada kita. Tetap positif dan yakin tentang perjalanan kita dan hasil yang kita ciptakan.

17. Berkongsi kejayaan kita dengan teman yang dipercayai kerana ini akan membantu kita tetap fokus dan membangkitkan prestasi kita. Raikan bersama mereka setiap kali kita berjaya melaksanakan apa yang dirancangkan.

18. Sentiasa aktifkan analisis SWOT. Kenalpasti kekuatan dan kelemahan. Tingkatkan dan kuasai kekuatan yang kita miliki. Perbaiki kelemahan. Ambil ruang dan peluang baik yang ada disekeliling untuk tingkatkan motivasi kita seperti program-program motivasi, latihan pengurusan diri dan sebagainya.

19. Melatih diri untuk menyelesaikan apa yang kita mulai dengan menolak untuk berhenti sehingga kita selesai. Menumbuhkan kebiasaan tekad dan ketekunan.

20. Jangan takut untuk membuat kesalahan (kesalahan dalam belajar bukan kesalahan buat dosa) dan jika kita lakukannya, jangan menghukum diri sendiri. Fahami bahawa kita dalam proses untuk berjaya. Orang-orang yang berjaya sebenarnya bermula dengan kegagalan dalam perjalanan mereka. Mereka menebus kelalaian mereka dengan memperbaiki diri dan membuat anjakan paradigma baru untuk mencapai tujuan / goals yang telah ditetapkan.

21. Jangan lupa berdoa dan bertaqarub kepada Allah. Kekuatan motivasi sebenar terbit dalam jiwa yang sentiasa harap kepada Allah. Hanya Allah swt sahaja yang berkuasa memberikan kita motivasi yang original. Motivasi dari langit. Justeru kita akan belajar bukan lagi untuk capai tujuan kejayaan dunia, sebaliknya menjulang aspirasi kerajaan langit dan bumi, motivasi dan momentum belajar adalah kerana Allah dan memenuhi tuntutan Islam. Maka sudah tentu kita perlu mendampingi yang Maha Bijaksana dan Maha Tinggi, Allah swt.

Semoga panduan dan tips ini memberi manfaat kepada pembaca. Selamat belajar!

Buat Calon SPM 2012: 21 Tips Agar Tetap Termotivasi

" Manusia tidak merancang untuk gagal, tetapi mereka gagal untuk merancang. Hidup Penuh Risiko, Maka Rancanglah Untuk Tetap Semangat Menghadapinya"

Sebenarnya kunci untuk menetapkan tujuan kejayaan adalah kemampuan kita untuk memotivasi diri sendiri dan tetap termotivasi sehingga kita telah mencapai tujuan kita. Mendapatkan dan tetap termotivasi tidak sesulit kelihatannya. Ini hanya memerlukan disiplin dan beberapa kekuatan untuk memulakannya.

Pertama, mari kita lihat apa motivasi sebenarnya, dan kemudian melihat bagaimana kita boleh termotivasi untuk mencapai tujuan kita. Motivasi bukan merupakan produk dari pengaruh luar. Ianya adalah produk alami dari keinginan kita untuk mencapai sesuatu dan keyakinan kita bahawa kita mampu melakukannya. Ianya akan meningkat dalam diri kita sekiranya kita dapat membina seberapa kuat keinginan kita dan kepercayaan pada diri sendiri. Di sini penulis cuba senaraikan beberapa cara yang kita benar-benar dapat memotivasi diri sendiri dan tetap sangat termotivasi sehingga kita mendapatkan tujuan kita.

1. Mulailah dengan visualisasi kejayaan masa depan kita dan membayangkan saat kita mengalami perasaan ketika kita mencapai tujuan kita. Visualisasi tersebut akan dapat dicapai setelah kita berusaha untuk merealisasikannya, maka bangkitkanlah motivasi diri menuju kejayaan. Masih ingat kisah Rasulullah saw. membayangkan bahawa pada suatu saat nanti Islam akan menawan kerajaan Parsi. Sedangkan pada saat itu baginda baru hendak berhijrah ke Madinah dan agama Islam masih kerdil, sedangkan kerajaan Parsi pada masa itu adalah satu kuasa dunia ! Perbezaannya seperti langit dengan bumi. Namun Rasulullah saw. dengan yakin telah membayangkan kejayaan dakwahnya sehingga mampu menawan kerajaan Parsi. Kerajaan Parsi akhirnya jatuh ke tangan tentera Islam di zaman Khalifah Umar Al-Khatab. Saidina Umar dengan linangan airmata kegembiraan dan terharu. Ternyata visualisasi Rasulullah saw. menjadi kenyataan.

2. Miliki mentaliti positif bahawa anda mampu menuju kepada kejayaan. Fokus dan berilah seluruh konsentrasi bagaimana kita akan melangkahkan tapak-tapak kejayaan. Bayangkan kebahagiaan yang akan dapat kita peroleh saat satu demi satu langkah kita menghampiri kejayaan. Sungguh, memperoleh kejayaan bermula dengan langkah-langkah positif menuju kejayaan. Maka jangan biarkan langkah anda sumbang. Perhatikan serah perjalanan perjuangan dakwah Rasulullah saw. Sebenarnya tiada yang pincang dalam langkah-langkah baginda saw, sebaliknya ianya menjadi langkah sejarah dakwah sehingga langkah-langkah itu telah menyinarkan bumi ini dengan kemuliaan Islam.

3. Tetapkan keutamaan yang tinggi yang harus di capai untuk setiap tugas. Ianya akan memberikan kesan keutamaan dalam fikiran kita. Tegaskan kepada diri sendiri bahawa kita akan melakukan apa yang diperlukan tanpa gagal. Biasanya kita gagal menetapkan keutamaan antara study kita dengan aktiviti yang lain seperti bersukan, outing, berfacebook, bercinta dan sebagainya sehinggakan masa kualiti kita habis untuk aktiviti yang tidak penting malah merosakan diri sendiri.

4. Menetapkan sasaran untuk jumlah jam / kerja yang kita akan lakukan setiap hari ke arah tujuan kita. Jadualkan jumlah masa / kerja dalam perancangan harian kita dan jangan biarkan jadual itu diganggu atau terabai. Sebagai contoh, penulis sentiasa menetapkan 2 jam setiap hari untuk membuat latih tubi soalan. Penulis akan pastikan ianya berjalan, walau dengan apa cara pun, hatta terpaksa mengurangkan masa tidur.

5. Cuba senaraikan apakah hasil yang ingin kita capai, samada dalam bentuk senarai, graf, gambar dan sebagainya. Tampalkan di tempat yang selalu kita lalu atau lihat seperti di meja belajar, di dinding bilik, dan sebagainya. Ianya akan membantu mengingat dalam pemikiran kita bila-bila masa dan sepanjang hari.

6. Cuba senaraikan apakah target lain yang kita ingin capai, seperti untuk menjadi seorang doktor berjaya, peguam terbaik dan sebagainya. Penulis sentiasa set untuk bercita-cita menjadi seorang profesional da’i. Untuk menjadi profesional penulis perlu cemerlang dalam belajar sehingga ke tahap PhD. Untuk menjadi da’i maka penulis perlu istiqamah dengan tarbiah Islam dan dakwah. Komitmen untuk mencapai cita-cita tersebut akan meningkatkan motivasi kita untuk mecapainya. Saat ini apa yang anda citakan atau masih samar lagi?

7. Selalu buat post moterm pencapaian yang telah kita usahakan. Menulis laporan kemajuan. Dalam Islam disebut muhasabah. Muhasabah kita mesti konkrit, senaraikan apa yang lemah, apa yang belum dilakukan, kenapa tidak dilakukan dan apa tindakan untuk improve kelemahan tersebut. Muhasabah merupakan salah satu kunci istiqamah. Agar kita tidak mengulangi kesilapan yang sama berulang kali.

8. Berikan diri kita beberapa galakan dan dorongan untuk mengingatkan diri kita bahawa kita miliki kemampuan dan komitmen untuk mencapai tujuan kita. Gilapkan potensi dan kekuatan yang ada pada diri kita semaksimanya. Rasulullah saw. sering memuji sahabat-sahabatnya yang memiliki sebarang kekuatan / kebaikan, ini akan mendorong lagi motivasi para sahabat untuk berprestasi.

9. Bacalah buku, tulisan, kisah atau meontotn video yang memotivasi kita dan menggerakkan kita untuk bertindak.

10. Dengar muzik yang memotivasi kita, yang membangkitkan ruh / jiwa kita untuk membangkitkan motivasi dan cita kita. Apatah lagi kalau kita sentiasa mendengar bacaan Al Quran, insyaAllah mampu membantu diri kita.

11. Sentiasa bersaing dengan teman-teman yang komited dengan study, jadikan mereka sebagai partner belajar dan dalam masa yang sama pesaing kita yang sihat.

12. Dapatkan bantuan dan sokongan dari orang-orang di sekitar kita. Penulis amat akrab dengan para pensyarah penulis sehingga mereka sentiasa membuka pintu untuk membantu kejayaan penulis.

13. Tentukan versi kejayaan kita seiring dengan kehendak Allah dan Rasulullah saw. Jangan biarkan orang lain mendefinisikan kejayaan untuk kita.

14. Abaikan atau nyahkan pengaruh negatif atau tanggapan orang luar bahawa kita tidak boleh berjaya . Pekakkan telinga terhadap suara orang-orang negatif. Sebaliknya berkawanlah dengan dengan orang yang berjiwa positif dan telah berjaya. Bertahan! Jangan lemah semangat dengan suara dan pandangan sumbang. 

15. Sedarkan diri sentiasa untuk sentiasa berbuat lebih baik daripada yang pernah kita lakukan. Hadapi masalah dan menerima cabaran yang muncul. Jangan lari dari masalah. Perancangan jika dilaksanakan akan selalu merubah hari anda. Apa yang penting adalah proses setiap perancangan dilaksanakan sehingga kita memiliki arah yang jelas tanpa ragu-ragu.

16. Fokus pada prestasi positif kita dan bukan negatif. Semua orang mempunyai persepsi mereka sendiri terhadap kita, ada yang berpesepsi positif dan ada yang negatif. Beri tumpuan kepada perkara-perkara atau orang yang memberi kemajuan kepada kita. Tetap positif dan yakin tentang perjalanan kita dan hasil yang kita ciptakan.

17. Berkongsi kejayaan kita dengan teman yang dipercayai kerana ini akan membantu kita tetap fokus dan membangkitkan prestasi kita. Raikan bersama mereka setiap kali kita berjaya melaksanakan apa yang dirancangkan.

18. Sentiasa aktifkan analisis SWOT. Kenalpasti kekuatan dan kelemahan. Tingkatkan dan kuasai kekuatan yang kita miliki. Perbaiki kelemahan. Ambil ruang dan peluang baik yang ada disekeliling untuk tingkatkan motivasi kita seperti program-program motivasi, latihan pengurusan diri dan sebagainya.

19. Melatih diri untuk menyelesaikan apa yang kita mulai dengan menolak untuk berhenti sehingga kita selesai. Menumbuhkan kebiasaan tekad dan ketekunan.

20. Jangan takut untuk membuat kesalahan (kesalahan dalam belajar bukan kesalahan buat dosa) dan jika kita lakukannya, jangan menghukum diri sendiri. Fahami bahawa kita dalam proses untuk berjaya. Orang-orang yang berjaya sebenarnya bermula dengan kegagalan dalam perjalanan mereka. Mereka menebus kelalaian mereka dengan memperbaiki diri dan membuat anjakan paradigma baru untuk mencapai tujuan / goals yang telah ditetapkan.

21. Jangan lupa berdoa dan bertaqarub kepada Allah. Kekuatan motivasi sebenar terbit dalam jiwa yang sentiasa harap kepada Allah. Hanya Allah swt sahaja yang berkuasa memberikan kita motivasi yang original. Motivasi dari langit. Justeru kita akan belajar bukan lagi untuk capai tujuan kejayaan dunia, sebaliknya menjulang aspirasi kerajaan langit dan bumi, motivasi dan momentum belajar adalah kerana Allah dan memenuhi tuntutan Islam. Maka sudah tentu kita perlu mendampingi yang Maha Bijaksana dan Maha Tinggi, Allah swt.

Semoga panduan dan tips ini memberi manfaat kepada pembaca. Selamat belajar!

Tuesday, May 22, 2012

Pendidikan hari ini benar-benar telah bertukar wajah kepada pusat-pusat perniagaan yang menggunakan segala upaya untuk menarik sebanyak mungkin pelajar-pelajar untuk menjadi pelanggan yang akan menguntungkan mereka. "Education is a bussiness" itulah ungkapan yang entah berapa ratus kali saya ulang-ulangkan kepada pelajar dan remaja yang saya temui samada dalam kelas atau dalam ceramah-ceramah saya. 

image Matlamat perniagaan bagi unit perniagaan yang dibangunkan diatas dasar kapitalis adalah memaksimumkan keuntungan. Semakin banyak pelajar, semakin banyak keuntungan yang akan mereka jana. Matlamat mereka adalah mencari sebanyak mungkin pelajar dan memastikan segelintir mereka cemerlang akademiknya supaya menjadi daya tarik kepada pelajar-pelajar lain untuk menjadi 'pelanggan' seterusnya. Bagaimana dengan syakhsiyah, bagaimana dengan iman dan ibadah? Itu bukan lagi persoalan penting dan utama, yang penting pelajarnya ramai dan pencapaian akademiknya meransangkan pasaran pendidikan.

image Lihatlah masyarakat IPT dengan hati dan Iman kita, apa yang dapat kita lihat hari ini? Krisis identiti untuk lepasan sekolah-sekolah agama, taman percintaan luar batasan syarak, pergaulan tanpa mengenal batasan hukum, medan perlumbaan kebebasan hidup bahkan ada yang menjadi 'rumah-rumah' bersalin yang menyambut kelahiran bayi-bayi luar nikah malahan ada juga yang dijadikan sebagai tempat pembuangan bayi. Dimanakah nilai sijil yang mereka terima? Adakah nilai 'sekeping kertas' itu lebih berharga dari maruah dan keimanan. Ya, memang pahit untuk diterima tetapi lihatlah di media massa dan media cetak adakah fakta ini salah? Walaupun saya bukan staff atau tenaga pengajar di IPT tetapi hampir setiap minggu saya keluar masuk ke IPT untuk mengendalikan program-program pelajar. Saya cukup masak dengan permasalahan yang sedang berlaku ini. Benarlah kata Abu Hassan Ali An Nadwi
"Sistem pendidikan hari ini gagal untuk melahirkan 2 golongan: pertamanya golongan yang khusyuk bila beribadah, keduanya ialah golongan yang menangis bila melakukan dosa".
Zaman sekarang adalah zaman manusia berbangga dengan dosa bukan menangisinya, sebahagian besar remaja hari ini bukan sekadar tidak khusyuk bahkan ada yang tahu bagaimana cara mengerjakan solat.

Al Maududi pernah satu ketika dijemput untuk memberi ucaptama dalam satu majlis konvokesyen di sebuah universiti. Di awal ucapanya dia menyebut; "Ini mungkin kali terakhir dia diberi peluang untuk memberi ucaptama dalam majlis begini memandangkan apa yang bakal diucapkan. Beliau seterusnya menjelaskan bahawa pusat pendidikan tinggi hari ini umpama sebuah pusat pemyembelihan yang besar yang menyembelih aqidah pemuda-pemuda Islam. Ijazah yang diterima hari ini adalah sijil pengesahan bahawa aqidah umat benar-benar telah mati." Mungkin ada yang sukar untuk menerima hakikat ini namun saya yang selalu terlibat dengan program-program IPT terpaksa akur dengan kenyataan ini. Memang tidak semua pelajar IPT itu rosak aqidahnya kerana masih ada program-program tarbiyyah yang dijalankan oleh individu-individu atau gerakan-gerakan dakwah serta NGO-NGO namun peluang untuk remaja-remaja kita memelihara aqidah dan akhlaqnya terlalu tipis dan mencabar. Saya sendiri yang mengajar di sekolah agama swasta yang menekankan tarbiyyah pelajar masih dapat melihat keguguran pelajar-pelajar ini bila memasuki IPT-IPT.

Melihat keadaan remaja hari ini menjadikan saya begitu risau dan hilang kepercayaan. Kerisaun itu menyebabkan sering saya menggesa pelajar supaya menyambung pelajarannya di institusi-institusi yang masih menjadikan pembangunan syakhsiyah sebagai agenda utama seperti Kolej Teknologi Darul naim (KTD). bahkan kepada pelajar yang baru tingkatan 2 dan 3 yang masih jauh perjalanannya pun saya sering ulanginya kerana kerisauan yang menguasai diri saya.

IMG_7751 Saya menyebut KTD bukan kerana tidak ada institusi lain yang menekankan aspek ini tetapi setakat ini itulah yang Allah pamerkan untuk saya tatapi dan kagumi. Mungkin ada IPT-IPT lain yang melakukan perkara sama cuma ianya tidak sampai kepengetahuan saya. Saya sendiri sering ke KTD untuk mengendalikan program-program pembinaan syaksiyah dan kepimpinan. Saya juga mengagumi kesungguhan dan keikhlasan tenaga-tenaga kerjanya untuk menjadikan pelajar-pelajarnya sebagai insan soleh yang mengenali Allah sebagai Robb dan Ilah. Saya sendiri melihat bagaimana pelajar-pelajar yang 'berisiko' dengan berbagai masalah akhlaq bahkan ada yang tidak solat kini berubah pada keadaan yang jauh lebih baik.

Saya yakin, yang menjadikan KTD terbaik dari sudut ini bukan kerana fasilitinya, bukan juga kerana faktor kewangan tetapi kesungguhan, doa-doa dan munjat yang lahir dari jiwa-jiwa yang bersih dan ikhlas. Bahkan gaji-gaji yang diterima oleh tenaga-tenaga kerjanya jauh lebih rendah dari gaji yang ditawarkan dipasaran kerja namun mereka masih setia dengan istitusi tarbiyyah yang sedang cuba untuk membangun dan berperanan yang hanya boleh menjanjikan pahala dari Allah SWT. Dan saya yakin inilah faktor utama kenapa KTD mula melonjakkkan kecemerlangan akademiknya walaupun kebanyakan pelajar-pelajar yang belajar disana bukanlah pelajar-pelajar cemerlang. Semoga satu hari nanti KTD akan jadi pilihan utama generasi wawasan.

Saya merasa begitu tersentuh apabila menbaca email yang ditulis oleh salah seorang pegawai kanan KTD dan kerana itulah jari saya menari laju menulis artikel ini.

Sebagai salah seorang yang berada di RIBATH (kubu/perbatasan) ana hanya mengadu kepada Allah SWT dan telah lebih sebulan ana bermunajat kepada Allah SWT agar Allah pilihkan kepada ana dan pasukan tarbiyah KTD, 400/500 orang pemuda/pemudi untuk kami bawa melalui proses menikmati Islam dan mencintai Islam. Dari pengalaman hampir 2 tahun di KTD ana sudah memahami satu hakikat bahawa mereka yang akan memikul mas'uliyah DnT adalah mereka yang merasakan kenikmatan tarbiyyah walaupun sebelumnya tidak solat dan tak tahu membaca al Qur'an. Ana sudah menyediakan hati ana dan shbt/sohibah muda KTD untuk menerima pelajar2 walau bagaimanapun gelap latarbelakang mereka. Sirah telah mengajar kami bahawa Rasulullah terus menerus mentarbiyyah sehingga Allah SWT membuat pilihan-Nya. Lihat sajalah Ikrimah bin Abu Jahal dan Hindun bint Utbah, antara contoh.

Tarbiyah akan berkesan jika adanya: Murobbi, manhaj dan biah. Ketiga2 faktor ini ada di KTD dan kami dgn penuh keyakinan bahawa Allah SWT akan membantu kami. Kami sudah melihat tanda2 bahawa latarbelakang pelajar bukan faktor utama tetapi ada banyak faktor lain. Anak2 yang besar dalam lumpur maksiat dan kejahilan sudah mula menunjukkan cinta mereka kepada tarbiyah dan jhd. Mereka akan menjadi tenaga dakwah di masa depan sebagaimana diri ana dulu, seorang yg sangat jahil dan dihidupkan semula hati ini dengan tarbiyyah. Ana bersyukur kerana diberikan peluang berada di KTD yang merupakan 'medan jhd yang penuh keberkatan ini'. Ana sudah belajar mencintai anak2 yang dahagakan tarbiyah ini dan memberikan apa yang ana miliki untuk membawa mereka melalui proses tarbiyyah yang menjadikan mereka tenaga dakwah akan datang.


Bagi saya inilah kelebihan KTD berbanding IPT-IPT lain yang ada diseluruh dunia; ia adalah mimbar untuk insan-insan yang mengharapkan janji-janji Allah, medan jidad dan pengorbanan untuk jiwa-jiwa yang takutkan "hari dimana kejahatan nmerata-rata(surah al Insan)" serta medan munajat dan zikir untuk jiwa-jiwa yang mengharapkan pengampunan Allah SWT ketika "tidak akan memberi manfaat harta dan anak-anak melainkan sesiapa yang pulang dengan hati yang sejahtera"

Moga Allah menerima amal kalian, moga Allah perteguhkan hati kalian untuk menghadapi berbagai karenah jiwa yang dimatikan dan dihitamkan oleh sistem hidup yang tidak bertuhan, moga Allah menjadikan jiwa-jiwa kalian sabar dengan kerasnya penolakan dan fitnah.

Untuk jiwa-jiwa yang merasakan dirinya serba kekurangan mohonlah pada Allah yang maha sempurna, untuk jiwa-jiwa yang merasa lemah dan tertekan rebutlah kemanisan bermunajat padaNya dan untuk jiwa-jiwa yang merasa putus asa dan harap yakinlah dengan rahmat Allah.

Sekalung penghargaan dan tahniah untuk kalian seluruh warga KTD.
 Sumber: Blog Cikgu Azmi Bahari

Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Akhlak: KTD Destinasinya

Pendidikan hari ini benar-benar telah bertukar wajah kepada pusat-pusat perniagaan yang menggunakan segala upaya untuk menarik sebanyak mungkin pelajar-pelajar untuk menjadi pelanggan yang akan menguntungkan mereka. "Education is a bussiness" itulah ungkapan yang entah berapa ratus kali saya ulang-ulangkan kepada pelajar dan remaja yang saya temui samada dalam kelas atau dalam ceramah-ceramah saya. 

image Matlamat perniagaan bagi unit perniagaan yang dibangunkan diatas dasar kapitalis adalah memaksimumkan keuntungan. Semakin banyak pelajar, semakin banyak keuntungan yang akan mereka jana. Matlamat mereka adalah mencari sebanyak mungkin pelajar dan memastikan segelintir mereka cemerlang akademiknya supaya menjadi daya tarik kepada pelajar-pelajar lain untuk menjadi 'pelanggan' seterusnya. Bagaimana dengan syakhsiyah, bagaimana dengan iman dan ibadah? Itu bukan lagi persoalan penting dan utama, yang penting pelajarnya ramai dan pencapaian akademiknya meransangkan pasaran pendidikan.

image Lihatlah masyarakat IPT dengan hati dan Iman kita, apa yang dapat kita lihat hari ini? Krisis identiti untuk lepasan sekolah-sekolah agama, taman percintaan luar batasan syarak, pergaulan tanpa mengenal batasan hukum, medan perlumbaan kebebasan hidup bahkan ada yang menjadi 'rumah-rumah' bersalin yang menyambut kelahiran bayi-bayi luar nikah malahan ada juga yang dijadikan sebagai tempat pembuangan bayi. Dimanakah nilai sijil yang mereka terima? Adakah nilai 'sekeping kertas' itu lebih berharga dari maruah dan keimanan. Ya, memang pahit untuk diterima tetapi lihatlah di media massa dan media cetak adakah fakta ini salah? Walaupun saya bukan staff atau tenaga pengajar di IPT tetapi hampir setiap minggu saya keluar masuk ke IPT untuk mengendalikan program-program pelajar. Saya cukup masak dengan permasalahan yang sedang berlaku ini. Benarlah kata Abu Hassan Ali An Nadwi
"Sistem pendidikan hari ini gagal untuk melahirkan 2 golongan: pertamanya golongan yang khusyuk bila beribadah, keduanya ialah golongan yang menangis bila melakukan dosa".
Zaman sekarang adalah zaman manusia berbangga dengan dosa bukan menangisinya, sebahagian besar remaja hari ini bukan sekadar tidak khusyuk bahkan ada yang tahu bagaimana cara mengerjakan solat.

Al Maududi pernah satu ketika dijemput untuk memberi ucaptama dalam satu majlis konvokesyen di sebuah universiti. Di awal ucapanya dia menyebut; "Ini mungkin kali terakhir dia diberi peluang untuk memberi ucaptama dalam majlis begini memandangkan apa yang bakal diucapkan. Beliau seterusnya menjelaskan bahawa pusat pendidikan tinggi hari ini umpama sebuah pusat pemyembelihan yang besar yang menyembelih aqidah pemuda-pemuda Islam. Ijazah yang diterima hari ini adalah sijil pengesahan bahawa aqidah umat benar-benar telah mati." Mungkin ada yang sukar untuk menerima hakikat ini namun saya yang selalu terlibat dengan program-program IPT terpaksa akur dengan kenyataan ini. Memang tidak semua pelajar IPT itu rosak aqidahnya kerana masih ada program-program tarbiyyah yang dijalankan oleh individu-individu atau gerakan-gerakan dakwah serta NGO-NGO namun peluang untuk remaja-remaja kita memelihara aqidah dan akhlaqnya terlalu tipis dan mencabar. Saya sendiri yang mengajar di sekolah agama swasta yang menekankan tarbiyyah pelajar masih dapat melihat keguguran pelajar-pelajar ini bila memasuki IPT-IPT.

Melihat keadaan remaja hari ini menjadikan saya begitu risau dan hilang kepercayaan. Kerisaun itu menyebabkan sering saya menggesa pelajar supaya menyambung pelajarannya di institusi-institusi yang masih menjadikan pembangunan syakhsiyah sebagai agenda utama seperti Kolej Teknologi Darul naim (KTD). bahkan kepada pelajar yang baru tingkatan 2 dan 3 yang masih jauh perjalanannya pun saya sering ulanginya kerana kerisauan yang menguasai diri saya.

IMG_7751 Saya menyebut KTD bukan kerana tidak ada institusi lain yang menekankan aspek ini tetapi setakat ini itulah yang Allah pamerkan untuk saya tatapi dan kagumi. Mungkin ada IPT-IPT lain yang melakukan perkara sama cuma ianya tidak sampai kepengetahuan saya. Saya sendiri sering ke KTD untuk mengendalikan program-program pembinaan syaksiyah dan kepimpinan. Saya juga mengagumi kesungguhan dan keikhlasan tenaga-tenaga kerjanya untuk menjadikan pelajar-pelajarnya sebagai insan soleh yang mengenali Allah sebagai Robb dan Ilah. Saya sendiri melihat bagaimana pelajar-pelajar yang 'berisiko' dengan berbagai masalah akhlaq bahkan ada yang tidak solat kini berubah pada keadaan yang jauh lebih baik.

Saya yakin, yang menjadikan KTD terbaik dari sudut ini bukan kerana fasilitinya, bukan juga kerana faktor kewangan tetapi kesungguhan, doa-doa dan munjat yang lahir dari jiwa-jiwa yang bersih dan ikhlas. Bahkan gaji-gaji yang diterima oleh tenaga-tenaga kerjanya jauh lebih rendah dari gaji yang ditawarkan dipasaran kerja namun mereka masih setia dengan istitusi tarbiyyah yang sedang cuba untuk membangun dan berperanan yang hanya boleh menjanjikan pahala dari Allah SWT. Dan saya yakin inilah faktor utama kenapa KTD mula melonjakkkan kecemerlangan akademiknya walaupun kebanyakan pelajar-pelajar yang belajar disana bukanlah pelajar-pelajar cemerlang. Semoga satu hari nanti KTD akan jadi pilihan utama generasi wawasan.

Saya merasa begitu tersentuh apabila menbaca email yang ditulis oleh salah seorang pegawai kanan KTD dan kerana itulah jari saya menari laju menulis artikel ini.

Sebagai salah seorang yang berada di RIBATH (kubu/perbatasan) ana hanya mengadu kepada Allah SWT dan telah lebih sebulan ana bermunajat kepada Allah SWT agar Allah pilihkan kepada ana dan pasukan tarbiyah KTD, 400/500 orang pemuda/pemudi untuk kami bawa melalui proses menikmati Islam dan mencintai Islam. Dari pengalaman hampir 2 tahun di KTD ana sudah memahami satu hakikat bahawa mereka yang akan memikul mas'uliyah DnT adalah mereka yang merasakan kenikmatan tarbiyyah walaupun sebelumnya tidak solat dan tak tahu membaca al Qur'an. Ana sudah menyediakan hati ana dan shbt/sohibah muda KTD untuk menerima pelajar2 walau bagaimanapun gelap latarbelakang mereka. Sirah telah mengajar kami bahawa Rasulullah terus menerus mentarbiyyah sehingga Allah SWT membuat pilihan-Nya. Lihat sajalah Ikrimah bin Abu Jahal dan Hindun bint Utbah, antara contoh.

Tarbiyah akan berkesan jika adanya: Murobbi, manhaj dan biah. Ketiga2 faktor ini ada di KTD dan kami dgn penuh keyakinan bahawa Allah SWT akan membantu kami. Kami sudah melihat tanda2 bahawa latarbelakang pelajar bukan faktor utama tetapi ada banyak faktor lain. Anak2 yang besar dalam lumpur maksiat dan kejahilan sudah mula menunjukkan cinta mereka kepada tarbiyah dan jhd. Mereka akan menjadi tenaga dakwah di masa depan sebagaimana diri ana dulu, seorang yg sangat jahil dan dihidupkan semula hati ini dengan tarbiyyah. Ana bersyukur kerana diberikan peluang berada di KTD yang merupakan 'medan jhd yang penuh keberkatan ini'. Ana sudah belajar mencintai anak2 yang dahagakan tarbiyah ini dan memberikan apa yang ana miliki untuk membawa mereka melalui proses tarbiyyah yang menjadikan mereka tenaga dakwah akan datang.


Bagi saya inilah kelebihan KTD berbanding IPT-IPT lain yang ada diseluruh dunia; ia adalah mimbar untuk insan-insan yang mengharapkan janji-janji Allah, medan jidad dan pengorbanan untuk jiwa-jiwa yang takutkan "hari dimana kejahatan nmerata-rata(surah al Insan)" serta medan munajat dan zikir untuk jiwa-jiwa yang mengharapkan pengampunan Allah SWT ketika "tidak akan memberi manfaat harta dan anak-anak melainkan sesiapa yang pulang dengan hati yang sejahtera"

Moga Allah menerima amal kalian, moga Allah perteguhkan hati kalian untuk menghadapi berbagai karenah jiwa yang dimatikan dan dihitamkan oleh sistem hidup yang tidak bertuhan, moga Allah menjadikan jiwa-jiwa kalian sabar dengan kerasnya penolakan dan fitnah.

Untuk jiwa-jiwa yang merasakan dirinya serba kekurangan mohonlah pada Allah yang maha sempurna, untuk jiwa-jiwa yang merasa lemah dan tertekan rebutlah kemanisan bermunajat padaNya dan untuk jiwa-jiwa yang merasa putus asa dan harap yakinlah dengan rahmat Allah.

Sekalung penghargaan dan tahniah untuk kalian seluruh warga KTD.
 Sumber: Blog Cikgu Azmi Bahari

Monday, May 21, 2012

Bismillah, dengan nama Allah SWT saya kongsikan.

Tiada siapa tahu kisah benar ini, namun ia benar-benar terjadi 3 tahun yang lalu. Adik saya mendapat keputusan yang cemerlang di dalam peperiksaan SPMnya dan Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT beliau ditawarkan ke sebuah universiti tempatan di Kuala Lumpur. - Pusat Asasi UIA, Petaling Jaya.

Ketika itu, Abah saya memberikan pilihan dan galakan kepada adik saya untuk melanjutkan pelajarannya ke sebuah kolej di pantai timur Malaysia. Namanya, Kolej Teknologi Darulnaim (KTD). Awalnya, kelihatan seperti melepaskan suatu peluang “keemasan” sahaja.

Namun, sejak dahulu – Abah mendidik kami dalam setiap keputusan yang dibuat harus dengan istikarah. Mohon panduan dan petunjuk daripada Allah SWT. Lalu, disusuli dengan perbincangan sesama kami. Pertimbangan, melihat kelebihan dan kekurangan serta pandangan dilihat dengan mata kasar dan juga mata hati. Sejak dahulu, abah sentiasa memberikan panduan dan galakan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Dalam tempoh itu, adik saya bertimbang-timbang dan berkira-kira untuk membuat kata putus. Tentunya berbelah bagi dan dalam dilemma. Antara dua ;- sama ada, menyambung pengajian di Kuala Lumpur, Kota Metropolitan atau Kelantan Darulnaim, Negeri Serambi Makkah.

Hendak dijadikan kisah, ketika tarikh pendaftaran untuk masuk ke UIA semakin hampir – adik saya masih belum menerima surat tawaran ke sana. Semakin hari semakin dekat. Sedangkan, kawan-kawannya yang lain telah menerimanya. Lalu, ketika itu bagaikan satu signal dan petanda – bahawa tiada jawapan yang sah untuk ke sana lalu, setelah istikarah, memohon hidayah dan taufik daripada Allah SWT, adik saya membuat keputusan dengan tekad bahawa dia akan belajar ke KTD. Abah menyambutnya dengan gembira dan teruja.

Beberapa hari kemudian, surat tawaran UIA sampai ke rumah. Dan, ketika itu adik saya telah uruskan semua pengesahan dan surat menyurat untuk KTD. Abah bertanya bagaimana?

“ InsyaAllah, terus ke KTD.”

Tanpa nada menyesal. Tiada sebarang keraguan. Dan, beliau melangkah dengan sebuah harapan, keyakinan dan kepercayaan.  Bermula saat itu, itulah sebenarnya medan terbaik baginya untuk menimba ilmu, membina kemahiran kendari, medium latihan membentuk jatidiri dan mengasah bakat serta potensi insani.

Beliau telah menamatkan pengajian diplomanya – Perakaunan- semester lalu dengan first class (CGPA 3.81), dianugerahi Anugerah Nilam (terbaik keseluruhan) dua semester berturut, aktif sebagai penolong fasilitator dan memegang jawatan Timbalan Presiden Majlis Perwakilan Pelajar.

Begitu juga seorang adik saya lagi – Kakak kepada individu di atas- , turut menamatkan pelajar dengan first class untuk diploma Pengajian Al-Quran dan Hadis. Untuk beliau, saya amat terharu dengan kejayaannya kerana beliau telah melalui perjalanan hidup yang agak panjang untuk berjaya sehingga setakat ini.

Apa yang saya dapat daripada semua ini?

Justeru, asasnya ialah keyakinan, keyakinan dan kepercayaan terhadap Allah SWT amat-amat penting dalam membina kehidupan. Ramai orang melihat, belajar itu harus juga pentingkan tempat yang bagus-bagus, dipandang-pandang dan sebagainya. Bagi saya, itu nombor dua. Yang pertama, apa yang kita yakini dan percayai untuk diri kita dalam mengejar kejayaan.

Saya melihat bagaimana adik-adik saya melalui semua ini di KTD, saya mengetahui apakah hasrat, cita-cita dan matlamat yang dilaksanakan oleh KTD kepada mereka. Kerana itu, adik lelaki saya yang seterusnya turut bersama-sama melanjutkan pelajaran di sini. Apa natijahnya?

Alhamdulillah, beliau mendapat first class juga untuk kedua-dua semester yang telah didudukinya. Semester depan, adalah tahun ke duanya di KTD. Harapan saya, bukan sekadar akademik dia menyerlah tetapi kepimpinan, karismatik dan seterusnya akhlaknya.

Mereka membuktikan, anjakan paradigma dan sikap yang betul dalam menuntut ilmu mampu menghasilkan lonjakan transformasi yang luar biasa hebat. Kerana itu, pesan emak dan abah sentiasa menjadi inspirasi buat kami dalam melakar kejayaan dalam kehidupan.

Anda bagaimana? Mahu berjaya seperti mereka?
Saya syorkan kepada anda, KTD adalah tempatnya. Pilihan yang terbaik buat anda.

http://brohamzah.blogspot.com
21 Mei 2012
Gembira apabila melihat manusia yang biasa-biasa berubah menjadi luar biasa. Jujurnya, ramai saya jumpai mereka di sini.

Knowledge,Tarbiyah, Dakwah (KTD)

Bismillah, dengan nama Allah SWT saya kongsikan.

Tiada siapa tahu kisah benar ini, namun ia benar-benar terjadi 3 tahun yang lalu. Adik saya mendapat keputusan yang cemerlang di dalam peperiksaan SPMnya dan Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT beliau ditawarkan ke sebuah universiti tempatan di Kuala Lumpur. - Pusat Asasi UIA, Petaling Jaya.

Ketika itu, Abah saya memberikan pilihan dan galakan kepada adik saya untuk melanjutkan pelajarannya ke sebuah kolej di pantai timur Malaysia. Namanya, Kolej Teknologi Darulnaim (KTD). Awalnya, kelihatan seperti melepaskan suatu peluang “keemasan” sahaja.

Namun, sejak dahulu – Abah mendidik kami dalam setiap keputusan yang dibuat harus dengan istikarah. Mohon panduan dan petunjuk daripada Allah SWT. Lalu, disusuli dengan perbincangan sesama kami. Pertimbangan, melihat kelebihan dan kekurangan serta pandangan dilihat dengan mata kasar dan juga mata hati. Sejak dahulu, abah sentiasa memberikan panduan dan galakan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Dalam tempoh itu, adik saya bertimbang-timbang dan berkira-kira untuk membuat kata putus. Tentunya berbelah bagi dan dalam dilemma. Antara dua ;- sama ada, menyambung pengajian di Kuala Lumpur, Kota Metropolitan atau Kelantan Darulnaim, Negeri Serambi Makkah.

Hendak dijadikan kisah, ketika tarikh pendaftaran untuk masuk ke UIA semakin hampir – adik saya masih belum menerima surat tawaran ke sana. Semakin hari semakin dekat. Sedangkan, kawan-kawannya yang lain telah menerimanya. Lalu, ketika itu bagaikan satu signal dan petanda – bahawa tiada jawapan yang sah untuk ke sana lalu, setelah istikarah, memohon hidayah dan taufik daripada Allah SWT, adik saya membuat keputusan dengan tekad bahawa dia akan belajar ke KTD. Abah menyambutnya dengan gembira dan teruja.

Beberapa hari kemudian, surat tawaran UIA sampai ke rumah. Dan, ketika itu adik saya telah uruskan semua pengesahan dan surat menyurat untuk KTD. Abah bertanya bagaimana?

“ InsyaAllah, terus ke KTD.”

Tanpa nada menyesal. Tiada sebarang keraguan. Dan, beliau melangkah dengan sebuah harapan, keyakinan dan kepercayaan.  Bermula saat itu, itulah sebenarnya medan terbaik baginya untuk menimba ilmu, membina kemahiran kendari, medium latihan membentuk jatidiri dan mengasah bakat serta potensi insani.

Beliau telah menamatkan pengajian diplomanya – Perakaunan- semester lalu dengan first class (CGPA 3.81), dianugerahi Anugerah Nilam (terbaik keseluruhan) dua semester berturut, aktif sebagai penolong fasilitator dan memegang jawatan Timbalan Presiden Majlis Perwakilan Pelajar.

Begitu juga seorang adik saya lagi – Kakak kepada individu di atas- , turut menamatkan pelajar dengan first class untuk diploma Pengajian Al-Quran dan Hadis. Untuk beliau, saya amat terharu dengan kejayaannya kerana beliau telah melalui perjalanan hidup yang agak panjang untuk berjaya sehingga setakat ini.

Apa yang saya dapat daripada semua ini?

Justeru, asasnya ialah keyakinan, keyakinan dan kepercayaan terhadap Allah SWT amat-amat penting dalam membina kehidupan. Ramai orang melihat, belajar itu harus juga pentingkan tempat yang bagus-bagus, dipandang-pandang dan sebagainya. Bagi saya, itu nombor dua. Yang pertama, apa yang kita yakini dan percayai untuk diri kita dalam mengejar kejayaan.

Saya melihat bagaimana adik-adik saya melalui semua ini di KTD, saya mengetahui apakah hasrat, cita-cita dan matlamat yang dilaksanakan oleh KTD kepada mereka. Kerana itu, adik lelaki saya yang seterusnya turut bersama-sama melanjutkan pelajaran di sini. Apa natijahnya?

Alhamdulillah, beliau mendapat first class juga untuk kedua-dua semester yang telah didudukinya. Semester depan, adalah tahun ke duanya di KTD. Harapan saya, bukan sekadar akademik dia menyerlah tetapi kepimpinan, karismatik dan seterusnya akhlaknya.

Mereka membuktikan, anjakan paradigma dan sikap yang betul dalam menuntut ilmu mampu menghasilkan lonjakan transformasi yang luar biasa hebat. Kerana itu, pesan emak dan abah sentiasa menjadi inspirasi buat kami dalam melakar kejayaan dalam kehidupan.

Anda bagaimana? Mahu berjaya seperti mereka?
Saya syorkan kepada anda, KTD adalah tempatnya. Pilihan yang terbaik buat anda.

http://brohamzah.blogspot.com
21 Mei 2012
Gembira apabila melihat manusia yang biasa-biasa berubah menjadi luar biasa. Jujurnya, ramai saya jumpai mereka di sini.

Kajian  dari Universiti Bergen, Norway, telah mengenalpasti ada enam tanda yang menunjukkan seseorang kemungkinan kecanduan Facebook (FB). Projek kajian yang dikenali sebagai “Bergen Facebook Addiction Scale” tersebut telah dijalankan terhadap 423 mahasiswa untuk membantu mengetahui apakah seseorang mengalami kecanduan terhadap media sosial tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam tanda seseorang dilanda kecanduan facebook iaitu; 

1. Menghabiskan banyak waktu untuk berfikir tentang FB atau sentiasa merancang menggunakan FB.

2. Merasa perlu menggunakan FB terus menerus.

3. Menggunakan FB untuk melupakan persoalan dan permasalahan peribadi.

4. Merasa gelisah dan kacau jika dilarang menggunakan Facebook

5. Berusaha mengurangi penggunaannya tetapi tidak berhasil, dan

6. Menggunakan FB terlalu kerap sehingga memberi kesan negatif kepada pekerjaan atau pelajaran.

“Penggunaan Facebook telah meningkat pesat. Kami berhadapan dengan sindrom kecanduan internet yang terhubung ke media sosial,” kata Cecilie Schou Andreassen, yang mengetuai kajian tersebut.

Kecanduan ini lebih banyak terlihat dari kalangan kaum muda. Melalui penelitian ini juga didapati ramai yang merasa cemas dan merasa tidak tenteram jika tidak bersosial menggunakan Facebook seharian, kemungkinan kerana mereka merasa lebih mudah untuk berkomunikasi melalui media sosial daripada bertatap muka.

“Wanita lebih berisiko mengalami kecanduan FB, mungkin kerana pengaruh sosial dari Facebook,” kata Andreassen seperti yang dilaporkan dari laman livescience.
Hasil penelitian tentang kecanduan FB ini telah diterbitkan di jurnal “Psychological Reports”.

Selain itu, penelitian ini memperlihatkan mereka yang memiliki kematangan, kebijakan dan tersusun kehidupannya cenderung tidak mengalami kecanduan Facebook. Sebaliknya mereka menggunakan media sosial sebagai sebahagian aktiviti biasa dan membina rangkaian jaringan.

Alangkah baiknya bagi kita para pemuda pemudi Islam menggunakan FB sebagai medan dakwah dan tarbiyah... berpesan-pesan dengan kebenaran dan kesabaran..bersegera melaksanakan kebaikan yang memberikan saham pahala untuk kita di akhirat... Malanglah kita jika FB menjadi beban buat kita di akhirat kerana terhimpun selautan dosa di dalam akaun FB kita bahkan menjadikan diri makin jauh dari Allah SWT.. renung-renungkan..

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jom MASUK KTD


Kajian: 6 Tanda Kecanduan Facebook


Kajian  dari Universiti Bergen, Norway, telah mengenalpasti ada enam tanda yang menunjukkan seseorang kemungkinan kecanduan Facebook (FB). Projek kajian yang dikenali sebagai “Bergen Facebook Addiction Scale” tersebut telah dijalankan terhadap 423 mahasiswa untuk membantu mengetahui apakah seseorang mengalami kecanduan terhadap media sosial tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam tanda seseorang dilanda kecanduan facebook iaitu; 

1. Menghabiskan banyak waktu untuk berfikir tentang FB atau sentiasa merancang menggunakan FB.

2. Merasa perlu menggunakan FB terus menerus.

3. Menggunakan FB untuk melupakan persoalan dan permasalahan peribadi.

4. Merasa gelisah dan kacau jika dilarang menggunakan Facebook

5. Berusaha mengurangi penggunaannya tetapi tidak berhasil, dan

6. Menggunakan FB terlalu kerap sehingga memberi kesan negatif kepada pekerjaan atau pelajaran.

“Penggunaan Facebook telah meningkat pesat. Kami berhadapan dengan sindrom kecanduan internet yang terhubung ke media sosial,” kata Cecilie Schou Andreassen, yang mengetuai kajian tersebut.

Kecanduan ini lebih banyak terlihat dari kalangan kaum muda. Melalui penelitian ini juga didapati ramai yang merasa cemas dan merasa tidak tenteram jika tidak bersosial menggunakan Facebook seharian, kemungkinan kerana mereka merasa lebih mudah untuk berkomunikasi melalui media sosial daripada bertatap muka.

“Wanita lebih berisiko mengalami kecanduan FB, mungkin kerana pengaruh sosial dari Facebook,” kata Andreassen seperti yang dilaporkan dari laman livescience.
Hasil penelitian tentang kecanduan FB ini telah diterbitkan di jurnal “Psychological Reports”.

Selain itu, penelitian ini memperlihatkan mereka yang memiliki kematangan, kebijakan dan tersusun kehidupannya cenderung tidak mengalami kecanduan Facebook. Sebaliknya mereka menggunakan media sosial sebagai sebahagian aktiviti biasa dan membina rangkaian jaringan.

Alangkah baiknya bagi kita para pemuda pemudi Islam menggunakan FB sebagai medan dakwah dan tarbiyah... berpesan-pesan dengan kebenaran dan kesabaran..bersegera melaksanakan kebaikan yang memberikan saham pahala untuk kita di akhirat... Malanglah kita jika FB menjadi beban buat kita di akhirat kerana terhimpun selautan dosa di dalam akaun FB kita bahkan menjadikan diri makin jauh dari Allah SWT.. renung-renungkan..

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jom MASUK KTD



Saya melihat keresahan manusia disebabkan mereka berpaling dari Allah dan selalu terjerumus dalam cinta dunia yang melampau batas. Setiap kali ia kehilangan dunia, ia merasa gelisah luar biasa.

Adapun orang yang dikurniakan makrifat (mengenal) kepada Allah akan selalu tenang menghadapi hidup, kerana hidupnya penuh dengan keredhaan menerima ketentuan Allah. Apa pun yang telah ditakdirkan baginya akan selalu diterima dengan penuh kerelaan. Jika berdoa namun tidak diterima, tak terlintas dalam kalbunya kecaman kepada Sang Khaliq, kerana ia sedar bahawa dirinya hanyalah hamba yang diatur oleh "Tuan"nya. Yang penting baginya adalah mengabdi sebaik-baiknya kepada Sang Khaliq.

Dari situ akan muncul sifat tidak tamak dalam mengumpulkan dunia dan tidak berpura-pura untuk mendapat simpati manusia serta tidak larut dalam gelombang hawa nafsu. Dalam dirinya telah tertanam satu keinginan untuk mencapai yang kekal dengan mengorbankan yang fana.

Orang yang memiliki mencintai Allah akan tidak disibukkan dengan segala kepentingan-kepentingan yang ada; kesibukannya terpadu untuk melayani tuntutan Sang Pemilik hal-hal itu. Anda dapat melihat ia sangat santun tatkala berduaan dengan-Nya saat bersendirian dan munajat namun sangat asing ketika bergaul dengan manusia-manusia makhluk-Nya, redha dengan takdir yang digariskan padanya.

Adapun orang yang tidak dikurniai itu semua akan berada di dalam kubangan lumpur kotor kehidupan. Bayangannya untuk mendapatkan dunia yang ia inginkan tak mungkin akan terwujud semua. Jadilah ia dikepung oleh keinginannya sendiri dan merana melihat nasibnya. Oleh kerana keburukan tingkah lakunya di dunia, ia pun merana di akhirat kerana tidak mempersiapkan untuk akhiratnya.

Semoga Allah memperbaiki ehwal urusan kehidupan kita sehingga kita dapat menempuh jalan-Nya.

Dikutip dari Kitab "Shaidul Khathir" karya Imam Ibnu Jauzi

Motivasi Kehidupan: Antara Resah Dan Tenang


Saya melihat keresahan manusia disebabkan mereka berpaling dari Allah dan selalu terjerumus dalam cinta dunia yang melampau batas. Setiap kali ia kehilangan dunia, ia merasa gelisah luar biasa.

Adapun orang yang dikurniakan makrifat (mengenal) kepada Allah akan selalu tenang menghadapi hidup, kerana hidupnya penuh dengan keredhaan menerima ketentuan Allah. Apa pun yang telah ditakdirkan baginya akan selalu diterima dengan penuh kerelaan. Jika berdoa namun tidak diterima, tak terlintas dalam kalbunya kecaman kepada Sang Khaliq, kerana ia sedar bahawa dirinya hanyalah hamba yang diatur oleh "Tuan"nya. Yang penting baginya adalah mengabdi sebaik-baiknya kepada Sang Khaliq.

Dari situ akan muncul sifat tidak tamak dalam mengumpulkan dunia dan tidak berpura-pura untuk mendapat simpati manusia serta tidak larut dalam gelombang hawa nafsu. Dalam dirinya telah tertanam satu keinginan untuk mencapai yang kekal dengan mengorbankan yang fana.

Orang yang memiliki mencintai Allah akan tidak disibukkan dengan segala kepentingan-kepentingan yang ada; kesibukannya terpadu untuk melayani tuntutan Sang Pemilik hal-hal itu. Anda dapat melihat ia sangat santun tatkala berduaan dengan-Nya saat bersendirian dan munajat namun sangat asing ketika bergaul dengan manusia-manusia makhluk-Nya, redha dengan takdir yang digariskan padanya.

Adapun orang yang tidak dikurniai itu semua akan berada di dalam kubangan lumpur kotor kehidupan. Bayangannya untuk mendapatkan dunia yang ia inginkan tak mungkin akan terwujud semua. Jadilah ia dikepung oleh keinginannya sendiri dan merana melihat nasibnya. Oleh kerana keburukan tingkah lakunya di dunia, ia pun merana di akhirat kerana tidak mempersiapkan untuk akhiratnya.

Semoga Allah memperbaiki ehwal urusan kehidupan kita sehingga kita dapat menempuh jalan-Nya.

Dikutip dari Kitab "Shaidul Khathir" karya Imam Ibnu Jauzi

Sunday, May 20, 2012



Alhamdulillah... Bertemu kita lagi di medan bicara blog saya ni.

Mungkin anda semua masih ingat dengan tajuk post yang lepas kan. Ya betul... "Menjadi Luar Biasa di Tengah Kebiasaan". Pasti anda juga masih ingat persoalan yang saya tinggalkan dalam post tersebut. Sebab itulah aku nak menjawab persoalan post tersebut di dalam post kali ni.

"Ada apa dengan KTD???" Persoalan ini selalu sahaja diajukan kepadaku oleh teman-teman lamaku, baik guru-guruku, sanak saudaraku, dan sesiapa sahaja pasti akan menanyakan padaku di ketika aku seringkali berbicara perilah KTD di mana-mana keberadaanku, baik di alam nyata, di muka buku, di blog, mahupun di alam maya ni.

Di saat aku menulis post ni, aku berada di sebuah restoran di Tawau sedang menanti pelajar-pelajar untuk aku ajak masuk KTD, di suatu sudut meja lain aku melihat ada orang sedang semangat memberi penerangan tentang produk yang hendak dijualnya. Wah.. Hebat betul dia menceritakan dan meyakinkan orang lain perihal kelebihan produk tersebut. Apa lagi dikesempatan ini aku manfaatkan untuk menyiapkan post ni.

Teman-temanku sekalian, aku bukanlah insan yang terlalu obses dengan KTD atau bahasa mudahnya, terlalu taksub dengan KTD. Namun, aku ingin nyatakan kepada kalian yang aku telah lalui pengalaman warna warni kehidupan di KTD dan ia amat penting sekali untuk dikongsikan dengan sesiapa sahaja di dunia ini.

Anda sudah bersedia untuk mengetahui jawapan kepada persoalan ni? Sebelum tu, adalah besar hajatku agar anda semua baik diriku untuk menyediakan hati untuk terus melayari post yang akan menjawab persoalan ini. (mari kita berdoa')

Teman-teman sekalian, cuba anda bertanya pada diri anda, adakah anda sayang keluarga anda? sahabat anda? dan kenalan anda? Pasti anda semua sayangkan mereka kan? Samalah seperti diriku ini, yang menyangi mereka yang dimaksudkan.

Aku nak bagi anda semua satu contoh situasi, cuba bayangkan andainya anda dan semua yang aku nyatakan tadi itu berada disebuah rumah. Pada ketika anda semua sedang tidur lena di rumah tersebut tiba-tiba rumah tersebut itu berlaku sebuah kebakaran. Apa yang pasti, anda sahaja yang tersedar bahawa rumah itu sedang terbakar. Apa tindakan anda sebaik sahaja sedar rumah itu terbakar? adakah anda terus keluar menyelamatkan diri tanpa mengejutkan orang-orang yang anda sayangi itu? atau anda berusaha untuk mengejutkan mereka dan menyelamat diri bersama mereka?

Aku yakin dan percaya anda semua tidak tergamak untuk mementingkan diri kan. Pasti anda akan berusaha untuk mengejutkan mereka semua agar anda dan mereka semua terselamat. Herm.. Pasti anda akan tertanya-tanya untuk apa contoh situasi ini.

Teman-teman yang dikasihi.. Situasi itulah yang telah aku lalui. Suatu ketika dulu aku tidak sedar kalau aku ni punyai tanggungjawab sebagai seorang Islam. Namun, di KTD telah mendidik (Mentarbiyah) diriku untuk kenal siapa aku. Aku adalah seorang hamba kepada Allah swt dan menjadi tanggungjawabku untuk menjaga amanah Allah swt di atas muka bumi ini, termasuklah melaksanakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya.

KTD telah menyedarkanku dan telah membuatkanku melalui proses tranformasi seperti perkara buruk kepada baik, dan perkara baik menjadi lebih baik. Alhamdulillah.. Bersyukur kerana Allah mencampakkan diriku dibumi KTD. Terus, sebaik sahaja aku sedar akan diri ini punyai amanah pasti orang-orang yang kusayangi itu juga harus sedar dan faham sepertiku. Terdetik di hatiku "Akanku pastikan tidak ada rumah di bumi Sabah yang tidak ku ketuk pintunya untuk menawarkan KTD kepada mereka".

Ada apa dengan KTD?
1. KTD ada diploma yang diiktiraf
2. KTD ada Pembangunan Sahsiah Terpuji (PESAT)
3. KTD ada bantuan kewangan
4. KTD ada tarbiyah yang mampu merubah individu biasa kepada luar biasa.

Empat perkara itu sebahagian daripada keistimewaan KTD. Tak mungkin orang yang mempromosikan produk seperti orang di restoran tadi lebih bersemangat berbanding aku yang ini berkongsi tempat yang baik seperti KTD. Namun, semakin banyak pengalamanku menawarkan KTD di bumi Sabah semakin banyak pula rasa cintaku pada KTD. Nak tau tak kenapa?

Ini Jawapannya, aku kongsikan kepada anda beberapa peristiwa yang telah kulalui sepanjang mengajak orang ke KTD.

"Saya telah menganggur selama setengah tahun dan tidak dapat belajar kemana-mana kerana kami orang yang miskin. Kami tidak mampu" (Kata-kata seorang anak yatim kepadaku)

"Saya anak pertama daripada sembilan orang adik beradik. Ayahku telah pencen dan ibuku pula tidak bekerja, justeru itu aku tidak boleh sambung belajar" (Kata-kata seorang anak yang miskin)

"Saya tidak punyai result yang berapa elok, saya ni cuma ada 3 kredit. Tidak ada yang mahu menawarkan diploma kepadaku" (Kata-kata seorang pelajar yang punyai keinginan menebus kesilapan semasa SPM)

Kesemuanya di antara kata-kata pelajar yang kutemui semasa menawarkan KTD kepada mereka. Tahukah anda? Bagiku disebabkan kita hidup miskinlah seharusnya kita melanjutkan pelajaran keperingkat yang lebih tinggi. Aku bangga kerana menawarkan KTD kepada mereka dan akhirnya mereka juga peroleh segulung diploma dan melalui tarbiyah.

Adakah aku digelar obses kalau ingin membantu orang-orang miskin diatas untuk menggenggam sebuah diploma? Adakah aku tergamak menganiaya orang-orang miskin di atas kalau ada dakwaan mengatakan tawaran KTD itu menguntungkanku?

Teman-teman katakanlah apa kehendakmu, sedikitpun tidak melunturkan niat murni dihatiku ini. Sekurangnya-kurangnya aku sedarkan saudaraku yang miskin kalau mereka mampu untuk berjaya dan merubah hidup keluarga, kerana aku tak mahu menggenggam diploma itu sendirian.

Ini pula kata-kata beberapa ibu bapa pelajar yang telah belajar di KTD.

"Mak Cik menangis kerana, anak mak cik berpesan kepada mak cik untuk menjaga solat lima waktu. Tidak pernah terungkap kata-kata seperti itu sebelum dia masuk KTD"

"Pak Cik bersyukur kerana anak pak cik telah berubah. Kini dia mengimamkan solat bersama adik-adiknya semasa balik cuti semester"

"Pak Cik tidak mampu lagi mendidik dia sebelum masuk KTD. Tapi, pak cik bersyukur sekarang dia menjadi anak yang berguna"

Apa lagi yang mampu aku katakan melainkan menitiskan airmata kesyukuran. Proses didikan (Tarbiyah) di KTD yang pernah kulalui juga dirasai oleh ibu bapa mereka. Adakah ini juga aku dianggap taksub dengan KTD kalau inginkan perubahan pada generasi muda di negeriku?

Teruskan kata-katamu saudaraku. Aku tetap akan mengajak mereka kerana itu adalah hak mereka untuk menerima kesedaran. Aku tak ingin jadi baik seorang diri tanpa mereka.

Ini pula kata-kata pelajar yang sedang belajar di KTD.

"Dulu aku tidak faham cara hidup seorang Islam. Aku Islam hanya pada nama, sekarang aku sedar bahawa Islam adalah cara hidup"

"Bang aku sudah pandai mengaji di sini. Aku gembira bang kerana dapat mempelajari kalam-kalam Allah"

"Dulu aku pernah hatam Al-Qur'an namun aku telah lupa. Bila di KTD aku menangis kerana tak mampu membaca Al-Qur'an, namun KTD telah mengajarkanku kembali"

"Saya dulu tak tutup aurat. Datang KTD pun tak bawa sehelai tudung pun. Tapi, Alhamdulillah.. Allah sayangkan saya kerana hantar saya di KTD"

Adakah aku terus berdosa kerana mengajak mereka ke tempat yang membuatkan mereka kenal dengan hukum-hukum Allah? Jawablah teman-temanku..

Pengalaman-pengalaman ini tidak mampu aku beli dimana-mana. Pengalaman inilah yang membuatku semakin hari semakin bersemangat untuk mengajak seramai mungkin untuk belajar di KTD. Aku pasti dan begitu yakin kalau KTD akan melahirkan graduan yang punyai ilmu yang banyak, sahsiah yang terpuji dan hidupnya bermanfaat pada orang lain.

Motto kami di KTD

"Ngaji biar panda, Perangai biar juruh, Hidup biar buleh tupe' " (Dialek Kelantan)

Maksudnya tidak bermakna seseorang pandai kalau perangainya buruk. Tak bermakna perangainya baik tapi tidak berilmu. Tak bermakna jugak pandai dan akhlaknya baik tetapi tidak dapat dikongsi dengan orang lain.


Ada yang tanya padaku. Berapa nilainya seorang pelajar kalau masuk ke KTD? aku menjawab, terlalu mahal dan tidak dapat dihitungkan. Nilainya adalah lebih baik dari dunia dan seisinya. Seorang yang datang KTD jika dia berubah menjadi baik, kenal Islam dan mengamalkan Islam diseluruh kehidupannya maka ia lebih baik dari dunia dan seisinya.

Memang benar jangkaan anda, saya ni tamak orangnya. Saya tamakkan ganjaran yang dijanjikan Allah swt. Maaf jauh tersasar jangkaan anda kalau anda beranggapan nilai mereka akan dibayar dengan nilai ringgit sahaja. Adakah tidak wujud lagi manusia yang ikhlas untuk mengajak orang lain melakukan kebaikan di dunia hari ini? Adakah kita ni hanya mengejar nilai dunia yang terlalu kecil jika dibandingkan dengan nilai akhirat sana?

Mengajak orang masuk KTD bukan soal wang, bukan soal mengejar kekayaan, bukan soal mengejar kesenangan dan bukan soal mengejar glamour. Tetapi bagiku mengajak orang ke KTD adalah soal membela nasib bangsaku yang miskin, kerana hak mereka untuk melanjutkan pelajaran, ia soal menyedarkan umat seakidah denganku kerana hak mereka untuk mengenal Allah swt dan ia adalah soal kasih sayangku kepada anda semua dan ingin kunyatakan bahawa kasih sayang itu hadir daripada dorongan IMAN.

Sekali lagi, ada apa dengan KTD? Dengan tegas akanku jawab KTD adalah Kolej Terbaik Dunia. Aku tahu kalau tidak semua yang akan bersetuju denganku, namun percayalah teman-temanku, melalui KTD aku ingin menyedarkan semua orang diluar sana. Sekurang-kurangnya mengajak mereka di jalan-jalan kebaikan bila melangkah ke pintu KTD.

Sebelum aku menutup post kali ini, aku memohon maaf andai post ini menyentuh sensitiviti anda. Mungkin juga ada yang tersinggung dengan perkongsian ini. Namun, tidak terniat dihatiku ini untuk demikian, cuma ingin sekali aku nyatakan isi hatiku yang sekian lama terpendam.

Kalau ada mahasiswa KTD yang membaca post ni, aku ingin berpesan. "Manfaatkanlah keberadaan kalian selama 3 tahun di KTD, carilah ilmu sebanyak yang mungkin di sana dan segeralah kalian pulang ke tanah air dengan segenggam diploma juga kongsikan ilmu pada mereka, kerana kalian telah dinanti-nantikan oleh masyarakat"

Kalau ada pelajar lepasan SPM yang baca post ni, jangan segan-segan hubungi lah aku. Aku akan berusaha untuk menawarkan KTD kepada anda. Jom masuk KTD.

Maaf juga kerana mengambil masa anda terlalu lama. Semoga post kali ini telah menjawab persoalan di atas. Terima kasih kerana terus menghabiskan bacaan untuk post ni, semoga kita semua terus menjadi mukmin yang menjaga posisi ISLAM disetiap penjuru-penjuru dibawah jagaan kita.

Sekian terima kasih,
Graduan KTD yang bangga akan KTD.
KTD dihatiku, teman-teman juga begitu.. (^^,)


Tulisan bekas Pelajar KTD..

Perkongsian dari Ex-Student KTD



Alhamdulillah... Bertemu kita lagi di medan bicara blog saya ni.

Mungkin anda semua masih ingat dengan tajuk post yang lepas kan. Ya betul... "Menjadi Luar Biasa di Tengah Kebiasaan". Pasti anda juga masih ingat persoalan yang saya tinggalkan dalam post tersebut. Sebab itulah aku nak menjawab persoalan post tersebut di dalam post kali ni.

"Ada apa dengan KTD???" Persoalan ini selalu sahaja diajukan kepadaku oleh teman-teman lamaku, baik guru-guruku, sanak saudaraku, dan sesiapa sahaja pasti akan menanyakan padaku di ketika aku seringkali berbicara perilah KTD di mana-mana keberadaanku, baik di alam nyata, di muka buku, di blog, mahupun di alam maya ni.

Di saat aku menulis post ni, aku berada di sebuah restoran di Tawau sedang menanti pelajar-pelajar untuk aku ajak masuk KTD, di suatu sudut meja lain aku melihat ada orang sedang semangat memberi penerangan tentang produk yang hendak dijualnya. Wah.. Hebat betul dia menceritakan dan meyakinkan orang lain perihal kelebihan produk tersebut. Apa lagi dikesempatan ini aku manfaatkan untuk menyiapkan post ni.

Teman-temanku sekalian, aku bukanlah insan yang terlalu obses dengan KTD atau bahasa mudahnya, terlalu taksub dengan KTD. Namun, aku ingin nyatakan kepada kalian yang aku telah lalui pengalaman warna warni kehidupan di KTD dan ia amat penting sekali untuk dikongsikan dengan sesiapa sahaja di dunia ini.

Anda sudah bersedia untuk mengetahui jawapan kepada persoalan ni? Sebelum tu, adalah besar hajatku agar anda semua baik diriku untuk menyediakan hati untuk terus melayari post yang akan menjawab persoalan ini. (mari kita berdoa')

Teman-teman sekalian, cuba anda bertanya pada diri anda, adakah anda sayang keluarga anda? sahabat anda? dan kenalan anda? Pasti anda semua sayangkan mereka kan? Samalah seperti diriku ini, yang menyangi mereka yang dimaksudkan.

Aku nak bagi anda semua satu contoh situasi, cuba bayangkan andainya anda dan semua yang aku nyatakan tadi itu berada disebuah rumah. Pada ketika anda semua sedang tidur lena di rumah tersebut tiba-tiba rumah tersebut itu berlaku sebuah kebakaran. Apa yang pasti, anda sahaja yang tersedar bahawa rumah itu sedang terbakar. Apa tindakan anda sebaik sahaja sedar rumah itu terbakar? adakah anda terus keluar menyelamatkan diri tanpa mengejutkan orang-orang yang anda sayangi itu? atau anda berusaha untuk mengejutkan mereka dan menyelamat diri bersama mereka?

Aku yakin dan percaya anda semua tidak tergamak untuk mementingkan diri kan. Pasti anda akan berusaha untuk mengejutkan mereka semua agar anda dan mereka semua terselamat. Herm.. Pasti anda akan tertanya-tanya untuk apa contoh situasi ini.

Teman-teman yang dikasihi.. Situasi itulah yang telah aku lalui. Suatu ketika dulu aku tidak sedar kalau aku ni punyai tanggungjawab sebagai seorang Islam. Namun, di KTD telah mendidik (Mentarbiyah) diriku untuk kenal siapa aku. Aku adalah seorang hamba kepada Allah swt dan menjadi tanggungjawabku untuk menjaga amanah Allah swt di atas muka bumi ini, termasuklah melaksanakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya.

KTD telah menyedarkanku dan telah membuatkanku melalui proses tranformasi seperti perkara buruk kepada baik, dan perkara baik menjadi lebih baik. Alhamdulillah.. Bersyukur kerana Allah mencampakkan diriku dibumi KTD. Terus, sebaik sahaja aku sedar akan diri ini punyai amanah pasti orang-orang yang kusayangi itu juga harus sedar dan faham sepertiku. Terdetik di hatiku "Akanku pastikan tidak ada rumah di bumi Sabah yang tidak ku ketuk pintunya untuk menawarkan KTD kepada mereka".

Ada apa dengan KTD?
1. KTD ada diploma yang diiktiraf
2. KTD ada Pembangunan Sahsiah Terpuji (PESAT)
3. KTD ada bantuan kewangan
4. KTD ada tarbiyah yang mampu merubah individu biasa kepada luar biasa.

Empat perkara itu sebahagian daripada keistimewaan KTD. Tak mungkin orang yang mempromosikan produk seperti orang di restoran tadi lebih bersemangat berbanding aku yang ini berkongsi tempat yang baik seperti KTD. Namun, semakin banyak pengalamanku menawarkan KTD di bumi Sabah semakin banyak pula rasa cintaku pada KTD. Nak tau tak kenapa?

Ini Jawapannya, aku kongsikan kepada anda beberapa peristiwa yang telah kulalui sepanjang mengajak orang ke KTD.

"Saya telah menganggur selama setengah tahun dan tidak dapat belajar kemana-mana kerana kami orang yang miskin. Kami tidak mampu" (Kata-kata seorang anak yatim kepadaku)

"Saya anak pertama daripada sembilan orang adik beradik. Ayahku telah pencen dan ibuku pula tidak bekerja, justeru itu aku tidak boleh sambung belajar" (Kata-kata seorang anak yang miskin)

"Saya tidak punyai result yang berapa elok, saya ni cuma ada 3 kredit. Tidak ada yang mahu menawarkan diploma kepadaku" (Kata-kata seorang pelajar yang punyai keinginan menebus kesilapan semasa SPM)

Kesemuanya di antara kata-kata pelajar yang kutemui semasa menawarkan KTD kepada mereka. Tahukah anda? Bagiku disebabkan kita hidup miskinlah seharusnya kita melanjutkan pelajaran keperingkat yang lebih tinggi. Aku bangga kerana menawarkan KTD kepada mereka dan akhirnya mereka juga peroleh segulung diploma dan melalui tarbiyah.

Adakah aku digelar obses kalau ingin membantu orang-orang miskin diatas untuk menggenggam sebuah diploma? Adakah aku tergamak menganiaya orang-orang miskin di atas kalau ada dakwaan mengatakan tawaran KTD itu menguntungkanku?

Teman-teman katakanlah apa kehendakmu, sedikitpun tidak melunturkan niat murni dihatiku ini. Sekurangnya-kurangnya aku sedarkan saudaraku yang miskin kalau mereka mampu untuk berjaya dan merubah hidup keluarga, kerana aku tak mahu menggenggam diploma itu sendirian.

Ini pula kata-kata beberapa ibu bapa pelajar yang telah belajar di KTD.

"Mak Cik menangis kerana, anak mak cik berpesan kepada mak cik untuk menjaga solat lima waktu. Tidak pernah terungkap kata-kata seperti itu sebelum dia masuk KTD"

"Pak Cik bersyukur kerana anak pak cik telah berubah. Kini dia mengimamkan solat bersama adik-adiknya semasa balik cuti semester"

"Pak Cik tidak mampu lagi mendidik dia sebelum masuk KTD. Tapi, pak cik bersyukur sekarang dia menjadi anak yang berguna"

Apa lagi yang mampu aku katakan melainkan menitiskan airmata kesyukuran. Proses didikan (Tarbiyah) di KTD yang pernah kulalui juga dirasai oleh ibu bapa mereka. Adakah ini juga aku dianggap taksub dengan KTD kalau inginkan perubahan pada generasi muda di negeriku?

Teruskan kata-katamu saudaraku. Aku tetap akan mengajak mereka kerana itu adalah hak mereka untuk menerima kesedaran. Aku tak ingin jadi baik seorang diri tanpa mereka.

Ini pula kata-kata pelajar yang sedang belajar di KTD.

"Dulu aku tidak faham cara hidup seorang Islam. Aku Islam hanya pada nama, sekarang aku sedar bahawa Islam adalah cara hidup"

"Bang aku sudah pandai mengaji di sini. Aku gembira bang kerana dapat mempelajari kalam-kalam Allah"

"Dulu aku pernah hatam Al-Qur'an namun aku telah lupa. Bila di KTD aku menangis kerana tak mampu membaca Al-Qur'an, namun KTD telah mengajarkanku kembali"

"Saya dulu tak tutup aurat. Datang KTD pun tak bawa sehelai tudung pun. Tapi, Alhamdulillah.. Allah sayangkan saya kerana hantar saya di KTD"

Adakah aku terus berdosa kerana mengajak mereka ke tempat yang membuatkan mereka kenal dengan hukum-hukum Allah? Jawablah teman-temanku..

Pengalaman-pengalaman ini tidak mampu aku beli dimana-mana. Pengalaman inilah yang membuatku semakin hari semakin bersemangat untuk mengajak seramai mungkin untuk belajar di KTD. Aku pasti dan begitu yakin kalau KTD akan melahirkan graduan yang punyai ilmu yang banyak, sahsiah yang terpuji dan hidupnya bermanfaat pada orang lain.

Motto kami di KTD

"Ngaji biar panda, Perangai biar juruh, Hidup biar buleh tupe' " (Dialek Kelantan)

Maksudnya tidak bermakna seseorang pandai kalau perangainya buruk. Tak bermakna perangainya baik tapi tidak berilmu. Tak bermakna jugak pandai dan akhlaknya baik tetapi tidak dapat dikongsi dengan orang lain.


Ada yang tanya padaku. Berapa nilainya seorang pelajar kalau masuk ke KTD? aku menjawab, terlalu mahal dan tidak dapat dihitungkan. Nilainya adalah lebih baik dari dunia dan seisinya. Seorang yang datang KTD jika dia berubah menjadi baik, kenal Islam dan mengamalkan Islam diseluruh kehidupannya maka ia lebih baik dari dunia dan seisinya.

Memang benar jangkaan anda, saya ni tamak orangnya. Saya tamakkan ganjaran yang dijanjikan Allah swt. Maaf jauh tersasar jangkaan anda kalau anda beranggapan nilai mereka akan dibayar dengan nilai ringgit sahaja. Adakah tidak wujud lagi manusia yang ikhlas untuk mengajak orang lain melakukan kebaikan di dunia hari ini? Adakah kita ni hanya mengejar nilai dunia yang terlalu kecil jika dibandingkan dengan nilai akhirat sana?

Mengajak orang masuk KTD bukan soal wang, bukan soal mengejar kekayaan, bukan soal mengejar kesenangan dan bukan soal mengejar glamour. Tetapi bagiku mengajak orang ke KTD adalah soal membela nasib bangsaku yang miskin, kerana hak mereka untuk melanjutkan pelajaran, ia soal menyedarkan umat seakidah denganku kerana hak mereka untuk mengenal Allah swt dan ia adalah soal kasih sayangku kepada anda semua dan ingin kunyatakan bahawa kasih sayang itu hadir daripada dorongan IMAN.

Sekali lagi, ada apa dengan KTD? Dengan tegas akanku jawab KTD adalah Kolej Terbaik Dunia. Aku tahu kalau tidak semua yang akan bersetuju denganku, namun percayalah teman-temanku, melalui KTD aku ingin menyedarkan semua orang diluar sana. Sekurang-kurangnya mengajak mereka di jalan-jalan kebaikan bila melangkah ke pintu KTD.

Sebelum aku menutup post kali ini, aku memohon maaf andai post ini menyentuh sensitiviti anda. Mungkin juga ada yang tersinggung dengan perkongsian ini. Namun, tidak terniat dihatiku ini untuk demikian, cuma ingin sekali aku nyatakan isi hatiku yang sekian lama terpendam.

Kalau ada mahasiswa KTD yang membaca post ni, aku ingin berpesan. "Manfaatkanlah keberadaan kalian selama 3 tahun di KTD, carilah ilmu sebanyak yang mungkin di sana dan segeralah kalian pulang ke tanah air dengan segenggam diploma juga kongsikan ilmu pada mereka, kerana kalian telah dinanti-nantikan oleh masyarakat"

Kalau ada pelajar lepasan SPM yang baca post ni, jangan segan-segan hubungi lah aku. Aku akan berusaha untuk menawarkan KTD kepada anda. Jom masuk KTD.

Maaf juga kerana mengambil masa anda terlalu lama. Semoga post kali ini telah menjawab persoalan di atas. Terima kasih kerana terus menghabiskan bacaan untuk post ni, semoga kita semua terus menjadi mukmin yang menjaga posisi ISLAM disetiap penjuru-penjuru dibawah jagaan kita.

Sekian terima kasih,
Graduan KTD yang bangga akan KTD.
KTD dihatiku, teman-teman juga begitu.. (^^,)


Tulisan bekas Pelajar KTD..

Monday, April 23, 2012



Sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa akhirat menjadi obsesinya, maka Allah menjadikan semua urusannya lancar, hatinya kaya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa dunia menjadi obsesinya, maka Allah mengacaukan semua urusannya, menjadikannya miskin dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya.” Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad shahih

Barangsiapa akhirat menjadi kesibukan utamanya dan obsesinya (tujuan), maka setiap hari ia ingat perjalanan hidupnya kelak, apa pun yang ia lihat di dunia pasti ia hubungkan dengan akhirat, dan akhirat selalu ia sebut di setiap pembahasannya. Ia tidak bahagia kecuali kerana akhirat, tidak sedih kecuali kerana akhirat. Tidak redha kecuali kerana akhirat. Tidak marah kecuali kerana akhirat. Tidak bergerak, kecuali kerana akhirat. Dan tidak berusaha kecuali kerana akhirat.

Siapa saja yang dapat melaksanakan arah hidupnya sebagaimana di dalam hadis di atas, ia diberi tiga kenikmatan oleh Allah SWT. Nikmat yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya. Iaitu orang-orang yang menyiapkan jiwa mereka hanya untuk ALLAH SWT dan tidak ada selain DIA yang masuk ke hati mereka, baik dalam bentuk berhala-berhala dunia, atau perhiasan, atau kebendaan mahupun pemikiran .

Nikmat tersebut adalah:
1. Seluruh urusan lancar
Allah SWT memberinya ketenteraman dan kedamaian, mengumpulkan semua ideanya, meminimakan sifat lupanya, mengharmonikan keluarganya, menambah jalinan kasih sayang antara dirinya dan pasangannya, merukunkan anak-anaknya, mendekatkan anak-anak padanya, menyatukan kaum kerabat, menjauhkan konflik dari mereka, mengumpulkan hartanya, ia tidak gundah dan bimbang memikirkan pekerjaannya atau perniagaannya yang tidak begitu lancer perjalanannya, tidak bertindak seperti orang bodoh, membuat hati manusia terarah padanya, siapapun mencintainya dan melancarkan urusan-urusan yang lain.

2. Kaya hati
Nikmat yang paling agung adalah kaya hati, sebab Rasulullah SAW bersabda dalam hadis shahih, yang ertinya;

“ Kekayaan hakiki bukan bererti harta melimpah. Tapi, kekayaan ialah kekayaan hati” (HR. Muslim)

Imam Al Nawawi berkata; maksudnya, kekayaan terpuji itu bukan banyak harta dan perabot mahupun kewangan. Telah banyak sekali orang dibuat kaya oleh Allah, namun kekayaannya yang banyak itu tidak bermanfaat baginya dan ia berterusan mengejar dan menambah kekayaannya, tanpa peduli dari mana sumbernya.

Ia seperti orang miskin, kerana begitu kuat keinginannya. Orang berselera sedemikian itu miskin selama-lamanya. Tapi, kekayaan terpuji dan ideal menurut orang-orang sempurna adalah kekayaan hati.

Di riwayat lain disebutkan kekayaan jiwa. Maksudnya, orang yang punya kekayaan jiwa merasa senang dan redha dengan setiap rezekinya, menerimanya dengan lapang dada, dan syukur dengannya, tanpa memburu dan meminta-minta sehingga melupakan Tuhannya.
Barangsiapa dijaga jiwanya dari kerakusan, maka jiwanya tenteram, barakah, mendapatkan kebersihan, kemuliaan, dan pujian. Itu semua jauh lebih hebat dibandingkan dengan kekayaan yang diterima orang yang miskin hatinya. Kekayaan membuat orang yang miskin hati terpuruk dalam hal-hal hina dan perbuatan-perbuatan murahan, kerana kecilnya obsesi yang ia miliki. Akibatnya, ia menjadi orang kerdil di mata orang, hina di jiwa mereka, dan menjadi orang paling hina di sisi Allah.

Jika seseorang punya harta yang berlimpah, namun ia tidak qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki yang diberikan Allah SWT kepadanya, maka ia hidup terengah-engah seperti binatang buas dan menjadikan hartanya sebagai tuhan baru. Sungguh, ia orang miskin sejati, kerana orang miskin ialah orang yang selalu tidak punya harta dan senantiasa merasa memerlukannya.

Dikisahkan, seseorang berkata kepada orang zuhud, Ibrahim bin Adham, lalu berkata, “saya ingin anda menerima jubah ini dariku.” Ibrahim bin Adham berkata,”Kalau anda kaya, saya mahu menerima hadiah ini. Jika anda miskin, saya tidak mahu menerimanya.” Orang itu berkata,”saya orang kaya.”

Ibrahim bin Adham berkata,”Anda punya jubah berapa?” Orang itu menjawab,”Dua ribu jubah.” Ibrahim bin Adham berkata,”Apakah Anda ingin punya empat ribu jubah?” Orang itu menjawab, “Ya.” Ibrahim bin Adham berkata,”Kalau begitu anda miskin (kerana masih memerlukan jubah lebih banyak lagi). Saya tidak mahu menerima hadiah jubah ini darimu.”

3. Dunia datang kepadanya
Saat ia lari dari dunia, justeru dunia mengejarnya dalam keadaan tunduk. Seperti yang dikatakan Ibnu Al-Jauzi;

“Dunia itu bayangan. Jika engkau berpaling dari bayangan, maka bayangan itu mengekorimu. Jika engkau memburu bayangan, maka bayangan menghindari darimu. Orang zuhud tidak menoleh kepada bayangan malah diikuti bayangan. Sedangkan orang rakus tidak melihat bayangan setiapkali ia menoleh kepadanya.”

Sedang orang yang dunia menjadi obsesinya, ia hanya memikirkan dunia, bekerja kerananya, peduli kepadanya, tidak bahagia kecuali kerananya, tidak berteman dan memusuhi orang kerananya. Akibatnya, ia dihukum Allah dengan tiga hukuman;

1. Urusannya kacau
Allah SWT mengacaukan semua urusannya. Hatinya menjadi gundah tidak tenang, fikirannya kacau, jiwanya goncang dan kalut dalam hal yang kecil, apatah lagi yang besar. Allah SWT mengacau hartanya, mengacaukan anak-anak dan pasangannya. Allah SWT membuat manusia antipati kepadanya. Tidak ada seorangpun yang mencintainya sebab Allah SWT menentukannya dibenci orang di bumi.

2. Selalu miskin
Hukuman ini membuatnya selalu tidak puas, padahal memiliki harta banyak. Ia senantiasa merasa miskin. Dan itu menjadikannya lari hingga termengah-mengah di belakang harta.

3. Dunia lari darinya
Dunia selalu lari darinya. Ia memburu dunia namun dijauhi dan ia berlari dibelakangnya, persis seperti orang yang menyangka fatamorgana itu air. Ketika ia tiba di fatamorgana, ia tidak mendapatkan apa-apa.

Inilah yang membuat Utsman bin Affan RA berkata, “Obsesi dunia itu kegelapan di hati, sedang obsesi kepada akhirat itu cahaya di hati.”

Bagaimana karakteristik dari orang-orang yang terobsesi pada akhirat?
Kita dapat mengukur dengan membandingkannya pada diri kita. Sebelum mengenali cirinya, ada tiga kelompok yang perlu kita perhatikan:

1. Orang yang lebih sibuk dengan akhirat daripada dunia.
Mereka membuat hidupnya didominasi oleh akhirat. Dunia hanya diletakkan digenggaman tangannya bukan di hatinya. Ini adalah kelompok orang yang berjaya dengan sebenarnya.

2. Orang yang lebih sibuk dengan dunia daripada akhirat
Mereka begitu cinta dunia hingga dunia menguasainya dan membuatnya lupa total kepada akhirat dan mereka juga tidak tahu bahawa dunia itu jambatan menuju akhirat. Ini adalah kelompok orang yang celaka.

3. Orang yang sibuk dengan keduanya sekaligus.
Mereka tidak ingin masuk pada kelompok pertama atau kedua, namun ingin mendapatkan sebahagian karakteristik kelompok pertama dan sebahagian kelompok kedua. Ini adalah kelompok orang yang dalam keadaan kritikal.

Tentunya kita tidak ingin masuk ke dalam kelompok kedua dan ketiga, justeru kita perlu mengetahui karakteristik kelompok pertama iaitu orang-orang yang berjaya.

Karakteristik dari kelompok pertama antara lain:

1. Sedih kerana akhirat
Sedih kerana akhirat membuat dirinya punya perasaan takut kepada Allah Ta’ala menghisab dirinya pada Hari Kiamat, lalu ia menghisab dirinya sebelum ia dihisab kelak di akhirat.

2. Selalu mengadakan Muhasabah (evaluasi diri)
Umar bin Khattab RA berkata “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan, bersiap-siaplah menghadapi Hari Kiamat.”

3. Selalu beramal untuk akhirat
Amal soleh bukan hanya solat, puasa, membaca Al-Qur’an dan zikir, tapi amal soleh adalah apa saja yang dicintai Allah Ta’ala.

4. Terkesan pada jiwanya melihat kematian
Seorang tabi’in Ibrahim An Nakhai berkata, “Jika kami datang ke rumah orang yang meninggal atau mendengar ada orang yang meninggal dunia, hal itu membekas pada kami hingga berhari-hari, kerana kami tahu tatkala ajal datang pada orang tersebut, lalu membawanya ke syurga atau neraka”

Itulah pengingat bagi kita semua, bahawa sesungguhnya kehidupan ini adalah jalan untuk kembali kepada Allah, sekolah yang laporannya nanti akan dibentangkan di akhirat. Mari kita sama-sama mengevaluasi diri kita, selalu meluruskan niat kita hanya kepada Allah dan berdoa kepada-Nya memohon ketetapan iman di hati sampai pada hari penutup kita nanti.

“Yaa muqollibalquluub tsabbit qolbiy alaa diinika” Wahai Dzat yang membolak-balik hati, kokohkan hatiku tetap berada di atas agamamu.


Rujukan: Kitab Taujih Ruhiyah, Syeikh Abdul Hamid al- Bilali

Derita Cinta Dunia, Bahagia Cinta Akhirat



Sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa akhirat menjadi obsesinya, maka Allah menjadikan semua urusannya lancar, hatinya kaya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa dunia menjadi obsesinya, maka Allah mengacaukan semua urusannya, menjadikannya miskin dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya.” Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad shahih

Barangsiapa akhirat menjadi kesibukan utamanya dan obsesinya (tujuan), maka setiap hari ia ingat perjalanan hidupnya kelak, apa pun yang ia lihat di dunia pasti ia hubungkan dengan akhirat, dan akhirat selalu ia sebut di setiap pembahasannya. Ia tidak bahagia kecuali kerana akhirat, tidak sedih kecuali kerana akhirat. Tidak redha kecuali kerana akhirat. Tidak marah kecuali kerana akhirat. Tidak bergerak, kecuali kerana akhirat. Dan tidak berusaha kecuali kerana akhirat.

Siapa saja yang dapat melaksanakan arah hidupnya sebagaimana di dalam hadis di atas, ia diberi tiga kenikmatan oleh Allah SWT. Nikmat yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya. Iaitu orang-orang yang menyiapkan jiwa mereka hanya untuk ALLAH SWT dan tidak ada selain DIA yang masuk ke hati mereka, baik dalam bentuk berhala-berhala dunia, atau perhiasan, atau kebendaan mahupun pemikiran .

Nikmat tersebut adalah:
1. Seluruh urusan lancar
Allah SWT memberinya ketenteraman dan kedamaian, mengumpulkan semua ideanya, meminimakan sifat lupanya, mengharmonikan keluarganya, menambah jalinan kasih sayang antara dirinya dan pasangannya, merukunkan anak-anaknya, mendekatkan anak-anak padanya, menyatukan kaum kerabat, menjauhkan konflik dari mereka, mengumpulkan hartanya, ia tidak gundah dan bimbang memikirkan pekerjaannya atau perniagaannya yang tidak begitu lancer perjalanannya, tidak bertindak seperti orang bodoh, membuat hati manusia terarah padanya, siapapun mencintainya dan melancarkan urusan-urusan yang lain.

2. Kaya hati
Nikmat yang paling agung adalah kaya hati, sebab Rasulullah SAW bersabda dalam hadis shahih, yang ertinya;

“ Kekayaan hakiki bukan bererti harta melimpah. Tapi, kekayaan ialah kekayaan hati” (HR. Muslim)

Imam Al Nawawi berkata; maksudnya, kekayaan terpuji itu bukan banyak harta dan perabot mahupun kewangan. Telah banyak sekali orang dibuat kaya oleh Allah, namun kekayaannya yang banyak itu tidak bermanfaat baginya dan ia berterusan mengejar dan menambah kekayaannya, tanpa peduli dari mana sumbernya.

Ia seperti orang miskin, kerana begitu kuat keinginannya. Orang berselera sedemikian itu miskin selama-lamanya. Tapi, kekayaan terpuji dan ideal menurut orang-orang sempurna adalah kekayaan hati.

Di riwayat lain disebutkan kekayaan jiwa. Maksudnya, orang yang punya kekayaan jiwa merasa senang dan redha dengan setiap rezekinya, menerimanya dengan lapang dada, dan syukur dengannya, tanpa memburu dan meminta-minta sehingga melupakan Tuhannya.
Barangsiapa dijaga jiwanya dari kerakusan, maka jiwanya tenteram, barakah, mendapatkan kebersihan, kemuliaan, dan pujian. Itu semua jauh lebih hebat dibandingkan dengan kekayaan yang diterima orang yang miskin hatinya. Kekayaan membuat orang yang miskin hati terpuruk dalam hal-hal hina dan perbuatan-perbuatan murahan, kerana kecilnya obsesi yang ia miliki. Akibatnya, ia menjadi orang kerdil di mata orang, hina di jiwa mereka, dan menjadi orang paling hina di sisi Allah.

Jika seseorang punya harta yang berlimpah, namun ia tidak qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki yang diberikan Allah SWT kepadanya, maka ia hidup terengah-engah seperti binatang buas dan menjadikan hartanya sebagai tuhan baru. Sungguh, ia orang miskin sejati, kerana orang miskin ialah orang yang selalu tidak punya harta dan senantiasa merasa memerlukannya.

Dikisahkan, seseorang berkata kepada orang zuhud, Ibrahim bin Adham, lalu berkata, “saya ingin anda menerima jubah ini dariku.” Ibrahim bin Adham berkata,”Kalau anda kaya, saya mahu menerima hadiah ini. Jika anda miskin, saya tidak mahu menerimanya.” Orang itu berkata,”saya orang kaya.”

Ibrahim bin Adham berkata,”Anda punya jubah berapa?” Orang itu menjawab,”Dua ribu jubah.” Ibrahim bin Adham berkata,”Apakah Anda ingin punya empat ribu jubah?” Orang itu menjawab, “Ya.” Ibrahim bin Adham berkata,”Kalau begitu anda miskin (kerana masih memerlukan jubah lebih banyak lagi). Saya tidak mahu menerima hadiah jubah ini darimu.”

3. Dunia datang kepadanya
Saat ia lari dari dunia, justeru dunia mengejarnya dalam keadaan tunduk. Seperti yang dikatakan Ibnu Al-Jauzi;

“Dunia itu bayangan. Jika engkau berpaling dari bayangan, maka bayangan itu mengekorimu. Jika engkau memburu bayangan, maka bayangan menghindari darimu. Orang zuhud tidak menoleh kepada bayangan malah diikuti bayangan. Sedangkan orang rakus tidak melihat bayangan setiapkali ia menoleh kepadanya.”

Sedang orang yang dunia menjadi obsesinya, ia hanya memikirkan dunia, bekerja kerananya, peduli kepadanya, tidak bahagia kecuali kerananya, tidak berteman dan memusuhi orang kerananya. Akibatnya, ia dihukum Allah dengan tiga hukuman;

1. Urusannya kacau
Allah SWT mengacaukan semua urusannya. Hatinya menjadi gundah tidak tenang, fikirannya kacau, jiwanya goncang dan kalut dalam hal yang kecil, apatah lagi yang besar. Allah SWT mengacau hartanya, mengacaukan anak-anak dan pasangannya. Allah SWT membuat manusia antipati kepadanya. Tidak ada seorangpun yang mencintainya sebab Allah SWT menentukannya dibenci orang di bumi.

2. Selalu miskin
Hukuman ini membuatnya selalu tidak puas, padahal memiliki harta banyak. Ia senantiasa merasa miskin. Dan itu menjadikannya lari hingga termengah-mengah di belakang harta.

3. Dunia lari darinya
Dunia selalu lari darinya. Ia memburu dunia namun dijauhi dan ia berlari dibelakangnya, persis seperti orang yang menyangka fatamorgana itu air. Ketika ia tiba di fatamorgana, ia tidak mendapatkan apa-apa.

Inilah yang membuat Utsman bin Affan RA berkata, “Obsesi dunia itu kegelapan di hati, sedang obsesi kepada akhirat itu cahaya di hati.”

Bagaimana karakteristik dari orang-orang yang terobsesi pada akhirat?
Kita dapat mengukur dengan membandingkannya pada diri kita. Sebelum mengenali cirinya, ada tiga kelompok yang perlu kita perhatikan:

1. Orang yang lebih sibuk dengan akhirat daripada dunia.
Mereka membuat hidupnya didominasi oleh akhirat. Dunia hanya diletakkan digenggaman tangannya bukan di hatinya. Ini adalah kelompok orang yang berjaya dengan sebenarnya.

2. Orang yang lebih sibuk dengan dunia daripada akhirat
Mereka begitu cinta dunia hingga dunia menguasainya dan membuatnya lupa total kepada akhirat dan mereka juga tidak tahu bahawa dunia itu jambatan menuju akhirat. Ini adalah kelompok orang yang celaka.

3. Orang yang sibuk dengan keduanya sekaligus.
Mereka tidak ingin masuk pada kelompok pertama atau kedua, namun ingin mendapatkan sebahagian karakteristik kelompok pertama dan sebahagian kelompok kedua. Ini adalah kelompok orang yang dalam keadaan kritikal.

Tentunya kita tidak ingin masuk ke dalam kelompok kedua dan ketiga, justeru kita perlu mengetahui karakteristik kelompok pertama iaitu orang-orang yang berjaya.

Karakteristik dari kelompok pertama antara lain:

1. Sedih kerana akhirat
Sedih kerana akhirat membuat dirinya punya perasaan takut kepada Allah Ta’ala menghisab dirinya pada Hari Kiamat, lalu ia menghisab dirinya sebelum ia dihisab kelak di akhirat.

2. Selalu mengadakan Muhasabah (evaluasi diri)
Umar bin Khattab RA berkata “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan, bersiap-siaplah menghadapi Hari Kiamat.”

3. Selalu beramal untuk akhirat
Amal soleh bukan hanya solat, puasa, membaca Al-Qur’an dan zikir, tapi amal soleh adalah apa saja yang dicintai Allah Ta’ala.

4. Terkesan pada jiwanya melihat kematian
Seorang tabi’in Ibrahim An Nakhai berkata, “Jika kami datang ke rumah orang yang meninggal atau mendengar ada orang yang meninggal dunia, hal itu membekas pada kami hingga berhari-hari, kerana kami tahu tatkala ajal datang pada orang tersebut, lalu membawanya ke syurga atau neraka”

Itulah pengingat bagi kita semua, bahawa sesungguhnya kehidupan ini adalah jalan untuk kembali kepada Allah, sekolah yang laporannya nanti akan dibentangkan di akhirat. Mari kita sama-sama mengevaluasi diri kita, selalu meluruskan niat kita hanya kepada Allah dan berdoa kepada-Nya memohon ketetapan iman di hati sampai pada hari penutup kita nanti.

“Yaa muqollibalquluub tsabbit qolbiy alaa diinika” Wahai Dzat yang membolak-balik hati, kokohkan hatiku tetap berada di atas agamamu.


Rujukan: Kitab Taujih Ruhiyah, Syeikh Abdul Hamid al- Bilali

Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah