Tuesday, May 22, 2007


Mempersiapkan Umat Menghadapi Rintangan

Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam selalu tercurah atas pemimpin kita, nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabat. selanjutnya…

Akhir-akhir ini begitu banyak rintangan yang dihadapi oleh umat Islam, bahaya yang terus mengancam di sekitarnya, kepedihan dan kesedihan datang silih berganti, krisis dan bencana terus terjadi seakan enggan untuk berhenti…
Penjajah yahudi zionis hari demi hari terus menambah kekejamannya, mengepung saudara kita di bumi Palestin yang didukung langsung oleh rakan sekutunya Amerika, menghancurkan tanaman dan keluarga, melakukan kerosakan di muka bumi, menghancurkan rumah dan sarana umum, membuat terowongan bawah tanah, menangkap, memenjarakan, bahkan membunuh dengan kejam warga Palestin yang tidak berdosa, sementara itu di Bait Hanoun para wanita dengan gagah berani menjadi perisai hidup menghadapi permusuhan mereka hingga ajal menjemput mereka.

Di Iraq masih terus berkecamuk perang antara dua golongan (sunni dan Syiah), dimana para penjajah membuat warganya menjadi berkelompok-kelompok, saling menyerang antara kelompok, menyerang anak-anak dan para ulama, merampas harta, dan melakukan kekacauan suku dan kefahaman, yang kebanyakan dari keturunan Arab, menggunakan nama seperti nama-nama kita, berbicara dengan bahasa kita, namun mereka tetaplah kelompok jahat yang selalu memusuhi kita!! Memecah belah umat!! Memporak perandakan negara hingga mencapai titik kehancuran yang menyedihkan.

Di negara Sudan masih terjadi persekongkolan untuk memecah belah negara Sudan; dengan tujuan agar daerah selatan Sudan yang merupakan seperempat daerah subur negara Sudan berpisah darinya. Setelah itu di bahagian barat Sudan (Darfour) adanya campurtangan negara luar (barat) sehingga terus berkobar perang disana, boleh jadi setelah itu bahagian timur Sudan yang saat ini sedang mengalami kemajuan..

Di Afganistan, Amerika berusaha menguasai dan mengukuhkan pendudukannya disana; mereka menguasai tempat tersebut secara ekonomi dan politik, mengecamukkan keberadaan daerah yang berbatasan dengan Iran, memutus kepentingan Rusia dan Cina, menguasai sumber minyak di lautan Qazwin dan Asia Tengah, dan bertujuan mengamankan perekonomian dan kemaslahatan perusahaan minyak Amerika.

Adapun secara dalamannya majoriti bangsa Arab dan negara Islam berada dalam kekuasaan diktator, yang didukung oleh musuh-musuh kita, pekerjaannya hanya memiskinkan umatnya, membodohi warganya dan melemahkan keberadaan mereka… politik, ketenteraan, ekonomi, ilmu dan seni.

Para pejabat dan pemimpin di negara-negara arab atau negara majoriti penduduknya muslim selalu mempertahankan jabatan mereka (kerusi singgahsananya) hingga bertahun-tahun lamanya, hidup dengan penuh kemewahan dan kenikmatan, merampas kekayaan negara… didukung oleh kekuatan penjajah barat - dipimpin oleh Amerika Syarikat - menjajah umat Islam, merampas kekayaan negara, menghentam siapa saja yang menghalanginya; demi mendapatkan jati diri dihadapan persekutuan yang baru, satu misi dan visi.

Persekutuan ini telah mengakar dalam tubuh mereka, kediktatoran dalaman dengan kejahatan luaran sehingga umat menjadi terbelakang dalam bidang keilmuan, tidak memiliki kemampuan yang maksima, mengharap akan makanan dan pakaian, hidup dengan kemiskinan ditengah kemajuan negara lain, sehingga keadaan ini menjadi jurang pemisah antara kami dengan bangsa lain. Demikianlah nasib kita sebagai warga Arab dalam bidang keilmuan yang tidak mampu meningkatkan kemampuan pendapatan lebih dari 3 dollar dibanding dengan pendapatan warga di negara barat hingga mencapai 409 dollar per hari seperti negara Jerman, 601 Dollar di Jepun dan 681 Dollar di Amerika.

Persekutuan ini terus bertambah kekejamannya dengan ditangkapnya dan dipenjarakannya orang-orang yang berusaha melakukan perubahan secara bebas (terbuka), para pemegang prinsip Islam dan akhlak yang mulia dalam menghadapi kediktatoran yang telah menghancurkan nilai-nilai dan perilaku dari kehidupan mereka.

Persekutuan tersebut terus merebak hingga terjadi benturan dengan tsawabit (keutuhan) islam dan nilai-nilainya, hingga muncul sekelompok orang yang memerangi hijab (jilbab) dengan menggunakan kekuasaan, menghalangi dakwah kepada Allah SWT dengan meggunakan undang-undang mengehadkan segala aktiviti kebajikan dengan menggunakan jabatan dan membiarkan kebebasan melalui kekuatan nafsu syahwani.

Persekutuan telah menjayakan misi penghapusan sejarah umat Islam, menghilangkan keghairahan para pemuda terhadap Islam, kecenderungan dan keterikatan mereka pada agama, umat dan negara.
Persekutuan ini telah melahirkan generasi yang kehilangan kepercayaan terhadap masa depannya, memandang masa depan dengan hampa, penuh ketakutan, kekhawatiran dan keraguan.

Menghadapi rintangan
Rintangan yang selalu kita pelajari setiap pagi dan petang ini, yang selalu mengancam kewujudan kita sebagai bangsa dan umat dan mengancam keyakinan (aqidah) dan syariat kita, sangatlah memerlukan dari sekelompok umat yang mahu mengerahkan segala potensinya, pengorbanannya, dan selalu berusaha untuk berada di jalan yang lurus dalam menghadapi ancaman ini.

Kami sangat memerlukan adanya barisan yang lurus dan para mukhlisin dari generasi umat menghadapi dan menghadang kezaliman para penguasa dan penjajah luar (barat) dan para diktator dalaman (penguasa arab) dan menghancurkan persekutuan mereka. Kerana mereka telah megnhinakan kebangsaan kita, menghancurkan (persatuan) negeri kita. Bahwa tabiat agama kita adalah kemuliaan, mengajak untuk selalu memiliki himmah aliya (semangat yang tinggi), azam yang kuat, tsiqoh, serta selalu bergerak menyelamatkan umat, menghadapi rintangan dan ancaman tanpa ada rasa putus asa dan takut, dan tanpa ada keraguan dalam melaksanakan amanat, kerana syariat dan agama Islam mengharamkan sikap putus asa dan pesimisme, melarang untuk merasa hina dan lari dari beban dan amanah. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu merasa hina dan bersedih hati karena kamu adalah yang paling tinggi (mulia) jika kamu beriman” (QS Ali Imran: 139),

dan firman Allah:

“Sehingga jika para Rasul sudah merasa putus asa dan merasa mereka telah didustakan maka datanglah kepada mereka pertolongan Kami” (QS. An-Nisa : 110).

Kami menyedari bahawa kami adalah manusia biasa, kami bersedih sebagaimana yang dialami umat kami, kami berduka terhadap apa yang dialami oleh saudara kami, namun kesedihan dan duka bukanlah jalan terbaik kecuali mendorong kita untuk bersimpuh disisi Allah, tsiqah pada pertolongan-Nya, tawakkkal kepada-Nya, berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menyelamatkan perahu (yang hampir karam) dan menghalau rintangan. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kalian berputus asa dari Ruh (pertolongan) Allah, karena tidaklah berputus asa dari Ruh Allah kecuali orang-orang kafir” (QS. Yusuf : 78),

dan Allah berfirman:

“Dan tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat” (Al-Hijr : 56),

dan Allah berfirman:

“Apakah kalian mengira akan masuk surga sementara belum datang kepada kalian (cubaan) seperti orang-orang sebelum kalian, mereka ditimpa kesulitan dan kesusahan dan goncangan sehingga Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya berkata: “Bila datangnya pertolongan Allah”. Ketahuilah bahawa pertolongan adalah dekat” (QS. Al-Baqarah : 214).

Realitinya

Jika tabiat agama kita mengajak kita untuk selalu bekerja dan berusaha tanpa henti agar mampu menghalau segala ancaman dan rintangan, dan jika khabar gembira datang dari langit kerana usaha dan kerja keras serta teguh dalam menghadapi segala ancaman…maka realitinya adalah menggapai khabar gembira, menghadirkan kemenangan pada setiap bangsa; selalu bersemangat dalam menjalankan (melaksanakan) kewajiban, dan melaksanakan amanah dan tanggung jawab tanpa ragu-ragu dan merasa hina.

Demikianlah yang terjadi pada saat perang di Lebanon; keteguhan pada diri setiap orang bahawa setiap bangsa memiliki keinginan untuk merdeka, menghadang setiap ancaman dengan pukulan yang lebih keras terhadap musuh yang mendakwa dirinya tidak boleh dikalahkan, menggagalkan projek pembangunan timur tengah raya yang baru.

Demikian juga halnya dengan negara Iran yang mampu merobohkan kepungan dan menghadang segala rintangan, hingga mampu keluar dari jalan gelap yang telah dirangka oleh Amerika melalui negara-negara tetangganya. Bahkan demikian pula dengan Korea Utara yang mampu keluar dengan sendirinya dari cengkaman Amerika yang telah mendakwa tiada negara yang boleh melawan kehendak Amerika.

Demikian pula dengan saudara kita Hamas yang berdiri teguh dengan pendiriannya di hadapan rintangan yang menyelimuti mereka dari berbagai arah dan menyerbu dari segala penjuru, mereka mampu membawa senjata dalam menghadapi musuh, keluar mempertahankan diri dan negara mereka. laki-laki dan wanita bahkan anak-anak rela berkorban tanpa ada rasa takut mati.

Hari demi hari mulai hadir kesedaran terhadap realiti yang terjadi di tengah umat ini, para pemuda yang telah mendapatkan potensi yang mereka miliki; padahal sebelumnya mereka telah lupa dengan agama, sejarah, azam dan keupayaan mereka, namun secara perlahan kesedaran para generasi terhadap nilai-nilai, agama dan tanggungjawab mereka terhadap umat lahir kembali.

Apa yang harus dilakukan??
Dengan adanya basyarah ilahiyah (khabar gembira dari Allah) dan realiti ini, tidak ada yang dapat kita lakukan kecuali melakukan usaha dengan sungguh-sungguh dan berkesinambungan, kerana waktu bukan hanya untuk kemaslahatan bangsa dan umat kita saja.

Kita memerlukan generasi dari pemuda yang mengenal Tuhan mereka, memahami besarnya tentangan, memahami risalah mereka, mampu berdiri tegak dijalannya dan berpegang teguh dengan misi mereka, memperindah hiasan agama dan dakwah serta amal untuk kemasalahatan umat; dakwah dan pemahaman, usaha dan pembinaan, sasaran dan karakter, ikhlas dan kejujuran serta kesucian dan tauladan.

Kami memerlukan kesedaran umat dan bangsa dari kelalaiannya, mengingatkannya dari bahaya yang mengongkong dan menyelimutinya dari lingkaran yang mengikat hidupnya tanpa menyembunyikan potensi dan tanpa berlambat-lambat dalam bekerja.

Kami juga menginginkan adanya tolong-menolong bersama para mukhlisin dalam menyambung keseimbangan ilmiah dan komunikasi antara kami dan seluruh umat, ditengah tekanan dari para pemimpin, untuk meningkatkan pendapatan kewangan dan melakukan kajian ilmiah dan teknologi yang dapat memberikan kemaslahatan umat.

Kami juga mengharapkan adanya saf (barisan) melawan kezaliman dan kediktatoran para pemimpin di negeri-negeri kita, dan membangunkan para penjawat awam untuk selalu berpihak pada rakyatnya, condong kepada rakyatnya dan menolak kepentingan musuh, agar para penjawat awam menyedari bahawa sandaran yang hakiki tidak akan terwujud kecuali jika berpegang teguh pada tsawabit, aqidah dan syariah, condong kepada rakyat sehingga menjadi alternatif, bergerak untuk membela umat, melawan/menghadang berbagai ancaman yang menyelimuti bangsa dan negara.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah pada baginda Muhammad saw, nabi yang ummi, kepada keluarga, para sahabat… dan segala puji hanyalah milik Allah.

(Dr. Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Al-Ikhwanul Muslimun)

Mempersiapkan Umat Menghadapi Rintangan


Mempersiapkan Umat Menghadapi Rintangan

Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam selalu tercurah atas pemimpin kita, nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabat. selanjutnya…

Akhir-akhir ini begitu banyak rintangan yang dihadapi oleh umat Islam, bahaya yang terus mengancam di sekitarnya, kepedihan dan kesedihan datang silih berganti, krisis dan bencana terus terjadi seakan enggan untuk berhenti…
Penjajah yahudi zionis hari demi hari terus menambah kekejamannya, mengepung saudara kita di bumi Palestin yang didukung langsung oleh rakan sekutunya Amerika, menghancurkan tanaman dan keluarga, melakukan kerosakan di muka bumi, menghancurkan rumah dan sarana umum, membuat terowongan bawah tanah, menangkap, memenjarakan, bahkan membunuh dengan kejam warga Palestin yang tidak berdosa, sementara itu di Bait Hanoun para wanita dengan gagah berani menjadi perisai hidup menghadapi permusuhan mereka hingga ajal menjemput mereka.

Di Iraq masih terus berkecamuk perang antara dua golongan (sunni dan Syiah), dimana para penjajah membuat warganya menjadi berkelompok-kelompok, saling menyerang antara kelompok, menyerang anak-anak dan para ulama, merampas harta, dan melakukan kekacauan suku dan kefahaman, yang kebanyakan dari keturunan Arab, menggunakan nama seperti nama-nama kita, berbicara dengan bahasa kita, namun mereka tetaplah kelompok jahat yang selalu memusuhi kita!! Memecah belah umat!! Memporak perandakan negara hingga mencapai titik kehancuran yang menyedihkan.

Di negara Sudan masih terjadi persekongkolan untuk memecah belah negara Sudan; dengan tujuan agar daerah selatan Sudan yang merupakan seperempat daerah subur negara Sudan berpisah darinya. Setelah itu di bahagian barat Sudan (Darfour) adanya campurtangan negara luar (barat) sehingga terus berkobar perang disana, boleh jadi setelah itu bahagian timur Sudan yang saat ini sedang mengalami kemajuan..

Di Afganistan, Amerika berusaha menguasai dan mengukuhkan pendudukannya disana; mereka menguasai tempat tersebut secara ekonomi dan politik, mengecamukkan keberadaan daerah yang berbatasan dengan Iran, memutus kepentingan Rusia dan Cina, menguasai sumber minyak di lautan Qazwin dan Asia Tengah, dan bertujuan mengamankan perekonomian dan kemaslahatan perusahaan minyak Amerika.

Adapun secara dalamannya majoriti bangsa Arab dan negara Islam berada dalam kekuasaan diktator, yang didukung oleh musuh-musuh kita, pekerjaannya hanya memiskinkan umatnya, membodohi warganya dan melemahkan keberadaan mereka… politik, ketenteraan, ekonomi, ilmu dan seni.

Para pejabat dan pemimpin di negara-negara arab atau negara majoriti penduduknya muslim selalu mempertahankan jabatan mereka (kerusi singgahsananya) hingga bertahun-tahun lamanya, hidup dengan penuh kemewahan dan kenikmatan, merampas kekayaan negara… didukung oleh kekuatan penjajah barat - dipimpin oleh Amerika Syarikat - menjajah umat Islam, merampas kekayaan negara, menghentam siapa saja yang menghalanginya; demi mendapatkan jati diri dihadapan persekutuan yang baru, satu misi dan visi.

Persekutuan ini telah mengakar dalam tubuh mereka, kediktatoran dalaman dengan kejahatan luaran sehingga umat menjadi terbelakang dalam bidang keilmuan, tidak memiliki kemampuan yang maksima, mengharap akan makanan dan pakaian, hidup dengan kemiskinan ditengah kemajuan negara lain, sehingga keadaan ini menjadi jurang pemisah antara kami dengan bangsa lain. Demikianlah nasib kita sebagai warga Arab dalam bidang keilmuan yang tidak mampu meningkatkan kemampuan pendapatan lebih dari 3 dollar dibanding dengan pendapatan warga di negara barat hingga mencapai 409 dollar per hari seperti negara Jerman, 601 Dollar di Jepun dan 681 Dollar di Amerika.

Persekutuan ini terus bertambah kekejamannya dengan ditangkapnya dan dipenjarakannya orang-orang yang berusaha melakukan perubahan secara bebas (terbuka), para pemegang prinsip Islam dan akhlak yang mulia dalam menghadapi kediktatoran yang telah menghancurkan nilai-nilai dan perilaku dari kehidupan mereka.

Persekutuan tersebut terus merebak hingga terjadi benturan dengan tsawabit (keutuhan) islam dan nilai-nilainya, hingga muncul sekelompok orang yang memerangi hijab (jilbab) dengan menggunakan kekuasaan, menghalangi dakwah kepada Allah SWT dengan meggunakan undang-undang mengehadkan segala aktiviti kebajikan dengan menggunakan jabatan dan membiarkan kebebasan melalui kekuatan nafsu syahwani.

Persekutuan telah menjayakan misi penghapusan sejarah umat Islam, menghilangkan keghairahan para pemuda terhadap Islam, kecenderungan dan keterikatan mereka pada agama, umat dan negara.
Persekutuan ini telah melahirkan generasi yang kehilangan kepercayaan terhadap masa depannya, memandang masa depan dengan hampa, penuh ketakutan, kekhawatiran dan keraguan.

Menghadapi rintangan
Rintangan yang selalu kita pelajari setiap pagi dan petang ini, yang selalu mengancam kewujudan kita sebagai bangsa dan umat dan mengancam keyakinan (aqidah) dan syariat kita, sangatlah memerlukan dari sekelompok umat yang mahu mengerahkan segala potensinya, pengorbanannya, dan selalu berusaha untuk berada di jalan yang lurus dalam menghadapi ancaman ini.

Kami sangat memerlukan adanya barisan yang lurus dan para mukhlisin dari generasi umat menghadapi dan menghadang kezaliman para penguasa dan penjajah luar (barat) dan para diktator dalaman (penguasa arab) dan menghancurkan persekutuan mereka. Kerana mereka telah megnhinakan kebangsaan kita, menghancurkan (persatuan) negeri kita. Bahwa tabiat agama kita adalah kemuliaan, mengajak untuk selalu memiliki himmah aliya (semangat yang tinggi), azam yang kuat, tsiqoh, serta selalu bergerak menyelamatkan umat, menghadapi rintangan dan ancaman tanpa ada rasa putus asa dan takut, dan tanpa ada keraguan dalam melaksanakan amanat, kerana syariat dan agama Islam mengharamkan sikap putus asa dan pesimisme, melarang untuk merasa hina dan lari dari beban dan amanah. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu merasa hina dan bersedih hati karena kamu adalah yang paling tinggi (mulia) jika kamu beriman” (QS Ali Imran: 139),

dan firman Allah:

“Sehingga jika para Rasul sudah merasa putus asa dan merasa mereka telah didustakan maka datanglah kepada mereka pertolongan Kami” (QS. An-Nisa : 110).

Kami menyedari bahawa kami adalah manusia biasa, kami bersedih sebagaimana yang dialami umat kami, kami berduka terhadap apa yang dialami oleh saudara kami, namun kesedihan dan duka bukanlah jalan terbaik kecuali mendorong kita untuk bersimpuh disisi Allah, tsiqah pada pertolongan-Nya, tawakkkal kepada-Nya, berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menyelamatkan perahu (yang hampir karam) dan menghalau rintangan. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kalian berputus asa dari Ruh (pertolongan) Allah, karena tidaklah berputus asa dari Ruh Allah kecuali orang-orang kafir” (QS. Yusuf : 78),

dan Allah berfirman:

“Dan tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat” (Al-Hijr : 56),

dan Allah berfirman:

“Apakah kalian mengira akan masuk surga sementara belum datang kepada kalian (cubaan) seperti orang-orang sebelum kalian, mereka ditimpa kesulitan dan kesusahan dan goncangan sehingga Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya berkata: “Bila datangnya pertolongan Allah”. Ketahuilah bahawa pertolongan adalah dekat” (QS. Al-Baqarah : 214).

Realitinya

Jika tabiat agama kita mengajak kita untuk selalu bekerja dan berusaha tanpa henti agar mampu menghalau segala ancaman dan rintangan, dan jika khabar gembira datang dari langit kerana usaha dan kerja keras serta teguh dalam menghadapi segala ancaman…maka realitinya adalah menggapai khabar gembira, menghadirkan kemenangan pada setiap bangsa; selalu bersemangat dalam menjalankan (melaksanakan) kewajiban, dan melaksanakan amanah dan tanggung jawab tanpa ragu-ragu dan merasa hina.

Demikianlah yang terjadi pada saat perang di Lebanon; keteguhan pada diri setiap orang bahawa setiap bangsa memiliki keinginan untuk merdeka, menghadang setiap ancaman dengan pukulan yang lebih keras terhadap musuh yang mendakwa dirinya tidak boleh dikalahkan, menggagalkan projek pembangunan timur tengah raya yang baru.

Demikian juga halnya dengan negara Iran yang mampu merobohkan kepungan dan menghadang segala rintangan, hingga mampu keluar dari jalan gelap yang telah dirangka oleh Amerika melalui negara-negara tetangganya. Bahkan demikian pula dengan Korea Utara yang mampu keluar dengan sendirinya dari cengkaman Amerika yang telah mendakwa tiada negara yang boleh melawan kehendak Amerika.

Demikian pula dengan saudara kita Hamas yang berdiri teguh dengan pendiriannya di hadapan rintangan yang menyelimuti mereka dari berbagai arah dan menyerbu dari segala penjuru, mereka mampu membawa senjata dalam menghadapi musuh, keluar mempertahankan diri dan negara mereka. laki-laki dan wanita bahkan anak-anak rela berkorban tanpa ada rasa takut mati.

Hari demi hari mulai hadir kesedaran terhadap realiti yang terjadi di tengah umat ini, para pemuda yang telah mendapatkan potensi yang mereka miliki; padahal sebelumnya mereka telah lupa dengan agama, sejarah, azam dan keupayaan mereka, namun secara perlahan kesedaran para generasi terhadap nilai-nilai, agama dan tanggungjawab mereka terhadap umat lahir kembali.

Apa yang harus dilakukan??
Dengan adanya basyarah ilahiyah (khabar gembira dari Allah) dan realiti ini, tidak ada yang dapat kita lakukan kecuali melakukan usaha dengan sungguh-sungguh dan berkesinambungan, kerana waktu bukan hanya untuk kemaslahatan bangsa dan umat kita saja.

Kita memerlukan generasi dari pemuda yang mengenal Tuhan mereka, memahami besarnya tentangan, memahami risalah mereka, mampu berdiri tegak dijalannya dan berpegang teguh dengan misi mereka, memperindah hiasan agama dan dakwah serta amal untuk kemasalahatan umat; dakwah dan pemahaman, usaha dan pembinaan, sasaran dan karakter, ikhlas dan kejujuran serta kesucian dan tauladan.

Kami memerlukan kesedaran umat dan bangsa dari kelalaiannya, mengingatkannya dari bahaya yang mengongkong dan menyelimutinya dari lingkaran yang mengikat hidupnya tanpa menyembunyikan potensi dan tanpa berlambat-lambat dalam bekerja.

Kami juga menginginkan adanya tolong-menolong bersama para mukhlisin dalam menyambung keseimbangan ilmiah dan komunikasi antara kami dan seluruh umat, ditengah tekanan dari para pemimpin, untuk meningkatkan pendapatan kewangan dan melakukan kajian ilmiah dan teknologi yang dapat memberikan kemaslahatan umat.

Kami juga mengharapkan adanya saf (barisan) melawan kezaliman dan kediktatoran para pemimpin di negeri-negeri kita, dan membangunkan para penjawat awam untuk selalu berpihak pada rakyatnya, condong kepada rakyatnya dan menolak kepentingan musuh, agar para penjawat awam menyedari bahawa sandaran yang hakiki tidak akan terwujud kecuali jika berpegang teguh pada tsawabit, aqidah dan syariah, condong kepada rakyat sehingga menjadi alternatif, bergerak untuk membela umat, melawan/menghadang berbagai ancaman yang menyelimuti bangsa dan negara.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah pada baginda Muhammad saw, nabi yang ummi, kepada keluarga, para sahabat… dan segala puji hanyalah milik Allah.

(Dr. Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Al-Ikhwanul Muslimun)

Friday, May 18, 2007


KEMBALI KEPANGKUAN ISLAM

Alhamdulillah kita sungguh bersyukur kehadrat Allah SWT kerana dengan izinNya pada waktu ini dapat lagi kita bersama-sama meneliti bahan-bahan yang menjadi sumber kepada ilmu dan peningkatan kita disamping menjadi wasilah (jalan) untuk kita menyedari dan memahami akan hakikat Islam yang merupakan Deenul Hayah (cara hidup) yang semestinya menjadi pilihan kita semua.

Umat Islam diseluruh dunia hari ini sedang berada ditepi jurang kehancuran yakni kehancuran yang total dan tidak mungkin dan mustahil boleh diperbaiki lagi. Kehancuran yang akan menyebabkan mereka akan menyesal yang tiada berkesudahan yang tidak akan dapat ditebus dengan wang ringgit, pangkat, kekuasaan dan dengan diri mereka sendiri ataupun keluarga malah dengan dunia dan seisinya sekalipun.

Kehancuran di sini bukanlah bermaksud kelaparan, kebodohan, rasuah, dadah, penyalahgunaan kuasa, kemenangan pengaruh kominis ataupun berlakunya peristiwa seperti peperangan dan sebagainya, kerana semua itu baru hanya merupakan tanda-tanda dan bukanlah kehancuran yang sebenarnya. Tetapi kehancuran yang sebenarnya ialah apabila manusia manusia menjadi degil dan enggan untuk menerima Allah SWT sebagai Rabb, Malik dan Ilah mereka kerana keengganan dan kedegilan ini kelak akan mengakibatkan kemurkaan Allah SWT yang akan mengakibatkan manusia dilontarkan ke dalam api neraka.

Lantaran itu bagi menyelamatkan diri dari kehancuran ini, maka tidak ada pilihan yang lain bagi manusia melainkan harus dan mestilah kembali segera menyahut panggilan fitrah asal mereka yakni kembali kepangkuan Islam.

Di dalam Al Quran Al Karim terdapat banyak ayat-ayat Allah SWT yang menyeru dan memerintahkan sekelian makhluknya khususnya manusia supaya menyembah serta mengabdikan diri kepada hanya sanya Dia (Allah) dan meninggalkan segala bentuk sembahan yang selain daripadaNya. Firman Allah SWT ;


“Dan kepada Allah sahajalah bersujud segala apa yang berada dilangit dan semua makhluk yang melata dibumi dan semua para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombong diri"

(Surah an Nahl : 49)


"Allah berfirman : Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa maka hendaklah kepadaKu sahaja kamu takut "

(Surah an Nahl : 51)


"Dan taatilah Allah dan Rasul supaya kamu diberi rahmat "

(Surah ali Imran : 132)


Perintah ini diarahkan bukanlah tujuan untuk memaksa tetapi adalah satu peringatan bagi manusia terhadap hakikat penciptaan mereka serta hubungan mereka dengan Allah sebagai Rabb, Malik dan Ilah tadi. Allah SWT ingin menjelaskan kepada manusia melalui wahyu-wahyuNya bahawa mereka dicipta bersifat lemah dan memerlukanNya. Bahawa mereka tidak mampu dan tidak cukup ilmu untuk mentadbir diri mereka sendiri apatah lagi untuk mentadbir orang lain. Bahawa mereka tidak mengetahui tujuan mereka diciptakan dan kemana hendak mereka tuju. Bahawa mereka perlu bergantung kepada suatu kuasa yang besar dan kuat, yang kekal dan tidak akan hilang, yang perkasa dan tidak ada tandingannya iaitu Allah SWT. Allah SWT sahajalah yang merupakan sebaik-baik penjaga, pemelihara, pelindung, penolong dan pemberi rezeki kepada mereka.

"Hai manusia kamulah yang berkehendak kepada Allah dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji "

(Surah al Faathir : 15)

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,agar kamu bersyukur "

(Surah an Nahl : 78)

"Dan ingatlah akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri "

(Surah an Nahl : 89)

Di atas dasar inilah maka manusia harus sedar, insafkan diri mereka dan bersegera untuk melaksanakan perintah tersebut dengan kembali kepangkuan Islam agar mereka semua akan mendapat rahmat dan keamponan daripada Allah SWT.


Apakah Tujuan Dan Peranan Islam

Dr. Abdul Karim Zaidan di dalam kitabnya Usul Dakwah, mengatakan bahawa tujuan atau matlamat Islam ialah untuk memberikan kemaslahatan atau kebaikan bagi manusia dan menghapuskan segala macam kerosakan dan keburukan dari mereka didunia dan akhirat. Ini menjelaskan bahawa manusia tanpa Islam tidak akan mampu untuk memberikan kemaslahatan atau kebaikan yang sebenar samada pada dirinya sendiri maupun kepada manusia-manusia lain malahapa yang akan terjadi ialah sebaliknya iaitu kerosakan dan kezaliman.

Sebagai contoh, marilah kita melihat perkembangan nasionalisma, kapitalisma, kominisma dan lain-lain ism di dunia ini dan kesannya terhadap manusia. Memanglah pada teorinya masing-masing bertujuan untuk memberikan kemaslahatan kepada manusia, tetapi apabila sistem mereka dilaksanakan secara praktik maka kita dapat melihat lahirlah satu demi satu kelemahan-kelemahan yang amat menonjol, yang tidak dapat ditampung dan diperbaiki lagi. Disamping itu juga didapati timbulah masalah-masalah yang semakin hari semakin rumit untuk diselesaikan. Sistem ataupun cara hidup yang mereka anjurkan ini sebenarnya amatlah bertentangan dengan naluri manusia dan lantaran kerana itulah kita dapati mereka menemui kegagalan demi kegagalan.

Sebaliknya Islam adalah suatu cara hidup (syariah) yang telah diciptakan oleh Allah SWT khusus untuk manusia. Dan oleh itu ianya adalah lengkap, sempurna dan bebas daripada segala bentuk kekurangan dan kelemahan. Kesempurnaan Islam menyebabkan mereka-mereka yang berpegang dengannya tidak perlu lagi bergantung kepada sumber-sumber asasi yang lain walau sedikit mana sekalipun, baik yang datang dari barat ataupun timur.Islam menghendaki pemeluknya supaya berpegang teguh kepada peraturan-peraturan yang telah ditentukan oleh Allah SWT kerana inilah sahaja caranya yang boleh memberikan kejayaan dan kemenangan kepada mereka.

Perlu dijelaskan di sini bahawa peranan Islam tidaklah hanya tertumpu kepada beberapa waktu ataupun suasana yang tertentu tetapi ianya berfungsi pada setiap masa dan ketika. Ini adalah kerana objek yang ditujuinya ialah untuk mengubah jiwa manusia supaya benar-benar tunduk dan patuh seluruhnya hanya kepada Allah SWT, dan melaksanakan syariatNya. Justeru itu matlamat ke arah ini memerlukan satu usaha yang berterusan dan bersungguh-sungguh, bukan sekali sekala dan hendaklah dilaksanakan didalam apa jua suasana dan tempat. Usaha yang sambil lewa dan tidak bersungguh-sungguh bukan sahaja tidak akan menghasilkan kejayaan malah akan melahirkan pula kesan-kesan yang tidak baik dan merugikan.

Sebagaimana realiti yang berlaku sekarang ini, usaha-usaha ke arah pembentukan cara hidup Islam ini kebanyakannya dijalankan secara sambil lewa sahaja yang mana diantara sebab berlaku demikian adalah kerana ramai daripada umat ini yang melepaskan mas'uliah (rasa tanggungjawab) mereka terhadap Islam. Kalau adapun usaha yang dijalankan hanyalah sekadar kerana orang lain buat program maka merekapun buat juga, atau kerana terpaksa ataupun kerana nak buat sambutan-sambutan tertentu yang berkaitan dengan Islam dan lain-lain lagi.


Langkah Kita

Pada hari ini kita sedang berada disuatu zaman yang dipenuhi dengan jahiliah MODEN yang bermacam ragam dan keadaan ini menjadi lebih tenat lagi kerana tidak adanya WA'YUL ISLAM (kefahaman Islam) yang sebenar melainkan kepada hanya segelintir manusia sahaja. Oleh itu, langkah kita yang paling awal ialah mendapatkan kefahaman Islam yang sebenar, sepertimana kefahaman yang telah diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW.

Maka dari itu kita haruslah berusaha untuk mendapatkan dan membaca bahan-bahan bacaan yang bernilai seperti buku-buku, risalah-risalah, majalah-majalah yang dikarang oleh Ulama'-ulama' yang muktabar dan disamping itu perlulah kita mendampingkan diri dengan usrah-usrah, ceramah-ceramah, perbincangan dan sebagainya kerana semua itu akan menyambungkanke arah pembentukan kefahaman dan kesedaran Islam yang sebenarnya. Kita perlulah memahami asas-asas Islam, peranan Islam dalam kehidupan dan tuntutan-tuntutannya ke atas diri kita. Kita perlulah mengetahui akan kebaikan Islam, serangan musuh terhadapnya dan cara untuk mengembangkannya dan seribu satu lagi persoalan lain mengenainya.

Untuk mendapatkan kefahaman ini, menurut mujahid Fathi Yakan, seelok-eloknya ialah diwaktu sekarang sebelum kita ditimpa dengan kesibukan-kesibukan yang akan membantutkan usaha-usaha kita. Maknanya kita perlulah mencari ilmu dan kefahaman ini disaat usia masih muda lagi dan fikiran masih segar dan inilah sebaik-baik masa bagi kita sebelum datang kesibukan urusan kerja, urusan anak isteri dan keluarga, urusan persatuan dan sebagainya.

Kita juga perlulah sedar bahawa suasana jahiliah MODEN yang berada disekeliling kita ini amat mengancam dan sentiasa berusaha untuk memisahkan kita dengan Islam dari setiap sudut. Untuk menegakkan Islam pada diri kita dan masyarakat kita pada hari ini sambil berhadapan dengan jahiliah yang telah menguasai hampir seluruh inci kehidupan manusia, bukanlah satu perkara yang mudah. Oleh itu kita mestilah berikhtiar dan menentukan agar langkah yang akan kita ambil nanti bersesuaian dengan keadaan, masa, tempat dan suasana. Untuk ini kita haruslah meneliti kembali akan sirah Rasulullah SAW dengan tujuan supaya dapat kita mencari wasilah (jalan) ataupun langkah yang paling baik. Firman Allah SWT :


"Sesungguhnya pada Rasulullah itu ada contoh ikutan yang paling baik bagi kamu, iaitu bagi sesiapa yang mengharapkan ganjaran Allah dan balasan yang baik dihari kiamat serta sentiasa mengingati Allah "

(Surah al Ahzab : 21)


Kita dapati Rasulullah SAW diantara tindakannya yang awal untuk menegakkan Islam ialah melaksanakan satu manhaj tarbiyyah yang melahirkan pendokong-pendokong yang telah benar-benar sedar dan sefikrah serta bersedia pula untuk menerima dan melaksanakan perintah-perintah Rasulullah SAW. Melalui pembentukan barisan pendokong-pendokong akidah inilah seterusnya Rasulullah SAW telah berjaya menerapkan nilai-nilai Islam dan menjadikan kumpulan tersebut sebagai contoh kebaikan Islam kepada masyarakat Quraish pada masa itu.


Justeru itu kita perlulah meyakini bahawa melalui proses tarbiyyah sahajalah kita akan dapat memasukkan nilai-nilai Islam pada diri kita. Dan kerana itu haruslah kita bersedia untuk mengorbankan masa yang ada pada kita dengan kita menyerah diri sepenuhnya. Apabila kefahaman yang sebenar telah diperolehi dan diterjemahkan dalam bentuk praktik maka proses ini akan melahirkan keimanan yang mendalam pada diri kita yang mana ianya akan bertindak sebagai senjata untuk menahan kemaraan pengaruh jahiliyyah disamping menguatkan lagi penghayatan Islam kita.


SUATU KEHILANGAN


Penderitaan umat Islam hari ini bukan setakat tidak dapat memanfaatkan sumber kekayaan bumi mereka, yang lebih parah lagi ialah mereka tidak mempunyai sejarah atau tidak punya kebanggaan masa lalu.


Disaat seperti ini ummat Islam tidak akan memiliki motivasi untuk bangkit memperbaiki nasibnya.Akhirnya jiwa mereka terus tunduk dan menyerah kepada suasana.


Oleh itu kita perlu kembali menoleh kebelakang; iaitu generasi al Quran Yang Unik, kerana di sana tersimpannya;Peribadi-peribadi luarbiasa yang telah menundukkan alam jahiliyyah kepada kebenaran Islam, Pengorbanan yang tidak dijangkiti sifat tamak dan bakhil, Kecerdikan dan kegigihan yang tidak diresapi sebarang warna tipu daya dan Sistem didikan yang telah mengubah jiwa-jiwa manusia


Di sana terdapatnya peribadi-peribadi unggul iaitu keperibadian Rabbani yang sebelum disirami cahaya kebenaran Islam adalah merupakan mereka yang hidup di dalam kegelapan Jahiliyyah, yang menguburkan anak-anak perempuan hidup-hidup, minum arak dan berjudi.

Namun kini sirah yang cemerlang dan contoh-contoh yang gemilang ini semakin pupus dari kamus kehidupan umat Islam. Umat Islam kini lemah tidak bermaya, tidak ada sebarang kekuatan atau motivasi untuk bangkit dan membangun semula ummah.


Ada yang menyedari hakikat ini dan cuba merawatnya tapi tidak tahu punca-puncanya lantaran tidak tahu bagaimana seharusnya mendiagnosa semua penyakit ini dan memahaminya secara menyeluruh dalam rangka membina semula ummat dan melancarkan suatu usaha pemulihan yang baik, selamat, memadai dan moden. Kerana dengan semata-mata adanya keluhan, semata-mata keinginan melakukan perubahan secara benar, semata-mata merasai berada pada jalan yang salah dalam hampir semua segi, semata-mata adanya usaha-usaha serampangan untuk mengubati keadaan yang hina dan terkebelakang, dengan semata–mata itu semua! Maka keadaan ummat akan tetap buta terhadap jalan terang. Oleh itu kaedah pengdiagnosaan menyeluruh mesti diketahui.

Penyakit yang dideritai oleh ummat Islam hari ini adalah penyakit lama yang berulang kembali akibat dari kecuaian dan kealpaan ummat ketika sihatnya. Penyakit ini dulunya hampir memusnahkan ummat manusia tetapi Allah yang Maha Penyayang telah mengutuskan RasulNya lalu membimbing ummat manusia yang sedang dalam kegelapan menuju kepada cahaya dan keluasan hidup, dari penyembahan kepada sesama mahkluk kepada penyembahan Allah yang Maha Esa.

Tetapi kini penyakit ini semakin merebak dan makin hari makin tenat, hingga ada organ-organ yang lemah dan tak berfungsi, bahkan Tauhid ataupun keimanan kepada Allah yang menjadi jantung Islam itu sendiri telah tenat dan makin kehilangan fungsinya. Kini tanda-tanda kelemahan dan kehancuran ummat mula tampak dalam tingkahlaku dan pergerakan ummat itu sendiri.Ummat Islam hari ini telah mula menolak Syariat dan Hakimiyyah Allah taala, Deen Allah serta janji-janji dan ancaman-ancaman Allah. Dimana ini bermakna kita juga telah menolak redha,rahmat dan bantuan Allah taala; oleh itu hari ini kita melihat Ummat Islam telah hilang Daulah Islamiyyah, Syariat Islamiyyah, Ahklak Islam, Tamadun Islam, Tarbiyyah dan Keperibadian sebenar Islam.


Penyakit ini tidak akan sembuh melainkan kita merawatnya sebagaimana Rasulullah s.a.w merawatnya dahulu; kita mesti bermula pada titik permulaan dakwah Rasulullah s.a.w. Ummat ini perlu dididik sebagaimana Rasulullah s.a.w mendidik generasi awal dahulu dengan manhaj dan uslub Rasulullah s.a.w.

Kita perlu menoleh semula kebelakang untuk kita menggali semula khazanah-khazanah berharga dari sirah yang harum sebagai bekalan untuk kita bangkit dan membangun semula ummah. Kita perlu kembali kepangkuan Islam; Islam dalam ruang lingkup dan pengertian sepertimana yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kita perlu memahami dan menghayati serta melaksanakannya dalam kehidupan kita sebagaimana generasi pertama(generasi Al Quran) memahami, menghayati dan melaksanakannya dalam kehidupan mereka.

KEMBALI KEPANGKUAN ISLAM


KEMBALI KEPANGKUAN ISLAM

Alhamdulillah kita sungguh bersyukur kehadrat Allah SWT kerana dengan izinNya pada waktu ini dapat lagi kita bersama-sama meneliti bahan-bahan yang menjadi sumber kepada ilmu dan peningkatan kita disamping menjadi wasilah (jalan) untuk kita menyedari dan memahami akan hakikat Islam yang merupakan Deenul Hayah (cara hidup) yang semestinya menjadi pilihan kita semua.

Umat Islam diseluruh dunia hari ini sedang berada ditepi jurang kehancuran yakni kehancuran yang total dan tidak mungkin dan mustahil boleh diperbaiki lagi. Kehancuran yang akan menyebabkan mereka akan menyesal yang tiada berkesudahan yang tidak akan dapat ditebus dengan wang ringgit, pangkat, kekuasaan dan dengan diri mereka sendiri ataupun keluarga malah dengan dunia dan seisinya sekalipun.

Kehancuran di sini bukanlah bermaksud kelaparan, kebodohan, rasuah, dadah, penyalahgunaan kuasa, kemenangan pengaruh kominis ataupun berlakunya peristiwa seperti peperangan dan sebagainya, kerana semua itu baru hanya merupakan tanda-tanda dan bukanlah kehancuran yang sebenarnya. Tetapi kehancuran yang sebenarnya ialah apabila manusia manusia menjadi degil dan enggan untuk menerima Allah SWT sebagai Rabb, Malik dan Ilah mereka kerana keengganan dan kedegilan ini kelak akan mengakibatkan kemurkaan Allah SWT yang akan mengakibatkan manusia dilontarkan ke dalam api neraka.

Lantaran itu bagi menyelamatkan diri dari kehancuran ini, maka tidak ada pilihan yang lain bagi manusia melainkan harus dan mestilah kembali segera menyahut panggilan fitrah asal mereka yakni kembali kepangkuan Islam.

Di dalam Al Quran Al Karim terdapat banyak ayat-ayat Allah SWT yang menyeru dan memerintahkan sekelian makhluknya khususnya manusia supaya menyembah serta mengabdikan diri kepada hanya sanya Dia (Allah) dan meninggalkan segala bentuk sembahan yang selain daripadaNya. Firman Allah SWT ;


“Dan kepada Allah sahajalah bersujud segala apa yang berada dilangit dan semua makhluk yang melata dibumi dan semua para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombong diri"

(Surah an Nahl : 49)


"Allah berfirman : Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa maka hendaklah kepadaKu sahaja kamu takut "

(Surah an Nahl : 51)


"Dan taatilah Allah dan Rasul supaya kamu diberi rahmat "

(Surah ali Imran : 132)


Perintah ini diarahkan bukanlah tujuan untuk memaksa tetapi adalah satu peringatan bagi manusia terhadap hakikat penciptaan mereka serta hubungan mereka dengan Allah sebagai Rabb, Malik dan Ilah tadi. Allah SWT ingin menjelaskan kepada manusia melalui wahyu-wahyuNya bahawa mereka dicipta bersifat lemah dan memerlukanNya. Bahawa mereka tidak mampu dan tidak cukup ilmu untuk mentadbir diri mereka sendiri apatah lagi untuk mentadbir orang lain. Bahawa mereka tidak mengetahui tujuan mereka diciptakan dan kemana hendak mereka tuju. Bahawa mereka perlu bergantung kepada suatu kuasa yang besar dan kuat, yang kekal dan tidak akan hilang, yang perkasa dan tidak ada tandingannya iaitu Allah SWT. Allah SWT sahajalah yang merupakan sebaik-baik penjaga, pemelihara, pelindung, penolong dan pemberi rezeki kepada mereka.

"Hai manusia kamulah yang berkehendak kepada Allah dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji "

(Surah al Faathir : 15)

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,agar kamu bersyukur "

(Surah an Nahl : 78)

"Dan ingatlah akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri "

(Surah an Nahl : 89)

Di atas dasar inilah maka manusia harus sedar, insafkan diri mereka dan bersegera untuk melaksanakan perintah tersebut dengan kembali kepangkuan Islam agar mereka semua akan mendapat rahmat dan keamponan daripada Allah SWT.


Apakah Tujuan Dan Peranan Islam

Dr. Abdul Karim Zaidan di dalam kitabnya Usul Dakwah, mengatakan bahawa tujuan atau matlamat Islam ialah untuk memberikan kemaslahatan atau kebaikan bagi manusia dan menghapuskan segala macam kerosakan dan keburukan dari mereka didunia dan akhirat. Ini menjelaskan bahawa manusia tanpa Islam tidak akan mampu untuk memberikan kemaslahatan atau kebaikan yang sebenar samada pada dirinya sendiri maupun kepada manusia-manusia lain malahapa yang akan terjadi ialah sebaliknya iaitu kerosakan dan kezaliman.

Sebagai contoh, marilah kita melihat perkembangan nasionalisma, kapitalisma, kominisma dan lain-lain ism di dunia ini dan kesannya terhadap manusia. Memanglah pada teorinya masing-masing bertujuan untuk memberikan kemaslahatan kepada manusia, tetapi apabila sistem mereka dilaksanakan secara praktik maka kita dapat melihat lahirlah satu demi satu kelemahan-kelemahan yang amat menonjol, yang tidak dapat ditampung dan diperbaiki lagi. Disamping itu juga didapati timbulah masalah-masalah yang semakin hari semakin rumit untuk diselesaikan. Sistem ataupun cara hidup yang mereka anjurkan ini sebenarnya amatlah bertentangan dengan naluri manusia dan lantaran kerana itulah kita dapati mereka menemui kegagalan demi kegagalan.

Sebaliknya Islam adalah suatu cara hidup (syariah) yang telah diciptakan oleh Allah SWT khusus untuk manusia. Dan oleh itu ianya adalah lengkap, sempurna dan bebas daripada segala bentuk kekurangan dan kelemahan. Kesempurnaan Islam menyebabkan mereka-mereka yang berpegang dengannya tidak perlu lagi bergantung kepada sumber-sumber asasi yang lain walau sedikit mana sekalipun, baik yang datang dari barat ataupun timur.Islam menghendaki pemeluknya supaya berpegang teguh kepada peraturan-peraturan yang telah ditentukan oleh Allah SWT kerana inilah sahaja caranya yang boleh memberikan kejayaan dan kemenangan kepada mereka.

Perlu dijelaskan di sini bahawa peranan Islam tidaklah hanya tertumpu kepada beberapa waktu ataupun suasana yang tertentu tetapi ianya berfungsi pada setiap masa dan ketika. Ini adalah kerana objek yang ditujuinya ialah untuk mengubah jiwa manusia supaya benar-benar tunduk dan patuh seluruhnya hanya kepada Allah SWT, dan melaksanakan syariatNya. Justeru itu matlamat ke arah ini memerlukan satu usaha yang berterusan dan bersungguh-sungguh, bukan sekali sekala dan hendaklah dilaksanakan didalam apa jua suasana dan tempat. Usaha yang sambil lewa dan tidak bersungguh-sungguh bukan sahaja tidak akan menghasilkan kejayaan malah akan melahirkan pula kesan-kesan yang tidak baik dan merugikan.

Sebagaimana realiti yang berlaku sekarang ini, usaha-usaha ke arah pembentukan cara hidup Islam ini kebanyakannya dijalankan secara sambil lewa sahaja yang mana diantara sebab berlaku demikian adalah kerana ramai daripada umat ini yang melepaskan mas'uliah (rasa tanggungjawab) mereka terhadap Islam. Kalau adapun usaha yang dijalankan hanyalah sekadar kerana orang lain buat program maka merekapun buat juga, atau kerana terpaksa ataupun kerana nak buat sambutan-sambutan tertentu yang berkaitan dengan Islam dan lain-lain lagi.


Langkah Kita

Pada hari ini kita sedang berada disuatu zaman yang dipenuhi dengan jahiliah MODEN yang bermacam ragam dan keadaan ini menjadi lebih tenat lagi kerana tidak adanya WA'YUL ISLAM (kefahaman Islam) yang sebenar melainkan kepada hanya segelintir manusia sahaja. Oleh itu, langkah kita yang paling awal ialah mendapatkan kefahaman Islam yang sebenar, sepertimana kefahaman yang telah diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW.

Maka dari itu kita haruslah berusaha untuk mendapatkan dan membaca bahan-bahan bacaan yang bernilai seperti buku-buku, risalah-risalah, majalah-majalah yang dikarang oleh Ulama'-ulama' yang muktabar dan disamping itu perlulah kita mendampingkan diri dengan usrah-usrah, ceramah-ceramah, perbincangan dan sebagainya kerana semua itu akan menyambungkanke arah pembentukan kefahaman dan kesedaran Islam yang sebenarnya. Kita perlulah memahami asas-asas Islam, peranan Islam dalam kehidupan dan tuntutan-tuntutannya ke atas diri kita. Kita perlulah mengetahui akan kebaikan Islam, serangan musuh terhadapnya dan cara untuk mengembangkannya dan seribu satu lagi persoalan lain mengenainya.

Untuk mendapatkan kefahaman ini, menurut mujahid Fathi Yakan, seelok-eloknya ialah diwaktu sekarang sebelum kita ditimpa dengan kesibukan-kesibukan yang akan membantutkan usaha-usaha kita. Maknanya kita perlulah mencari ilmu dan kefahaman ini disaat usia masih muda lagi dan fikiran masih segar dan inilah sebaik-baik masa bagi kita sebelum datang kesibukan urusan kerja, urusan anak isteri dan keluarga, urusan persatuan dan sebagainya.

Kita juga perlulah sedar bahawa suasana jahiliah MODEN yang berada disekeliling kita ini amat mengancam dan sentiasa berusaha untuk memisahkan kita dengan Islam dari setiap sudut. Untuk menegakkan Islam pada diri kita dan masyarakat kita pada hari ini sambil berhadapan dengan jahiliah yang telah menguasai hampir seluruh inci kehidupan manusia, bukanlah satu perkara yang mudah. Oleh itu kita mestilah berikhtiar dan menentukan agar langkah yang akan kita ambil nanti bersesuaian dengan keadaan, masa, tempat dan suasana. Untuk ini kita haruslah meneliti kembali akan sirah Rasulullah SAW dengan tujuan supaya dapat kita mencari wasilah (jalan) ataupun langkah yang paling baik. Firman Allah SWT :


"Sesungguhnya pada Rasulullah itu ada contoh ikutan yang paling baik bagi kamu, iaitu bagi sesiapa yang mengharapkan ganjaran Allah dan balasan yang baik dihari kiamat serta sentiasa mengingati Allah "

(Surah al Ahzab : 21)


Kita dapati Rasulullah SAW diantara tindakannya yang awal untuk menegakkan Islam ialah melaksanakan satu manhaj tarbiyyah yang melahirkan pendokong-pendokong yang telah benar-benar sedar dan sefikrah serta bersedia pula untuk menerima dan melaksanakan perintah-perintah Rasulullah SAW. Melalui pembentukan barisan pendokong-pendokong akidah inilah seterusnya Rasulullah SAW telah berjaya menerapkan nilai-nilai Islam dan menjadikan kumpulan tersebut sebagai contoh kebaikan Islam kepada masyarakat Quraish pada masa itu.


Justeru itu kita perlulah meyakini bahawa melalui proses tarbiyyah sahajalah kita akan dapat memasukkan nilai-nilai Islam pada diri kita. Dan kerana itu haruslah kita bersedia untuk mengorbankan masa yang ada pada kita dengan kita menyerah diri sepenuhnya. Apabila kefahaman yang sebenar telah diperolehi dan diterjemahkan dalam bentuk praktik maka proses ini akan melahirkan keimanan yang mendalam pada diri kita yang mana ianya akan bertindak sebagai senjata untuk menahan kemaraan pengaruh jahiliyyah disamping menguatkan lagi penghayatan Islam kita.


SUATU KEHILANGAN


Penderitaan umat Islam hari ini bukan setakat tidak dapat memanfaatkan sumber kekayaan bumi mereka, yang lebih parah lagi ialah mereka tidak mempunyai sejarah atau tidak punya kebanggaan masa lalu.


Disaat seperti ini ummat Islam tidak akan memiliki motivasi untuk bangkit memperbaiki nasibnya.Akhirnya jiwa mereka terus tunduk dan menyerah kepada suasana.


Oleh itu kita perlu kembali menoleh kebelakang; iaitu generasi al Quran Yang Unik, kerana di sana tersimpannya;Peribadi-peribadi luarbiasa yang telah menundukkan alam jahiliyyah kepada kebenaran Islam, Pengorbanan yang tidak dijangkiti sifat tamak dan bakhil, Kecerdikan dan kegigihan yang tidak diresapi sebarang warna tipu daya dan Sistem didikan yang telah mengubah jiwa-jiwa manusia


Di sana terdapatnya peribadi-peribadi unggul iaitu keperibadian Rabbani yang sebelum disirami cahaya kebenaran Islam adalah merupakan mereka yang hidup di dalam kegelapan Jahiliyyah, yang menguburkan anak-anak perempuan hidup-hidup, minum arak dan berjudi.

Namun kini sirah yang cemerlang dan contoh-contoh yang gemilang ini semakin pupus dari kamus kehidupan umat Islam. Umat Islam kini lemah tidak bermaya, tidak ada sebarang kekuatan atau motivasi untuk bangkit dan membangun semula ummah.


Ada yang menyedari hakikat ini dan cuba merawatnya tapi tidak tahu punca-puncanya lantaran tidak tahu bagaimana seharusnya mendiagnosa semua penyakit ini dan memahaminya secara menyeluruh dalam rangka membina semula ummat dan melancarkan suatu usaha pemulihan yang baik, selamat, memadai dan moden. Kerana dengan semata-mata adanya keluhan, semata-mata keinginan melakukan perubahan secara benar, semata-mata merasai berada pada jalan yang salah dalam hampir semua segi, semata-mata adanya usaha-usaha serampangan untuk mengubati keadaan yang hina dan terkebelakang, dengan semata–mata itu semua! Maka keadaan ummat akan tetap buta terhadap jalan terang. Oleh itu kaedah pengdiagnosaan menyeluruh mesti diketahui.

Penyakit yang dideritai oleh ummat Islam hari ini adalah penyakit lama yang berulang kembali akibat dari kecuaian dan kealpaan ummat ketika sihatnya. Penyakit ini dulunya hampir memusnahkan ummat manusia tetapi Allah yang Maha Penyayang telah mengutuskan RasulNya lalu membimbing ummat manusia yang sedang dalam kegelapan menuju kepada cahaya dan keluasan hidup, dari penyembahan kepada sesama mahkluk kepada penyembahan Allah yang Maha Esa.

Tetapi kini penyakit ini semakin merebak dan makin hari makin tenat, hingga ada organ-organ yang lemah dan tak berfungsi, bahkan Tauhid ataupun keimanan kepada Allah yang menjadi jantung Islam itu sendiri telah tenat dan makin kehilangan fungsinya. Kini tanda-tanda kelemahan dan kehancuran ummat mula tampak dalam tingkahlaku dan pergerakan ummat itu sendiri.Ummat Islam hari ini telah mula menolak Syariat dan Hakimiyyah Allah taala, Deen Allah serta janji-janji dan ancaman-ancaman Allah. Dimana ini bermakna kita juga telah menolak redha,rahmat dan bantuan Allah taala; oleh itu hari ini kita melihat Ummat Islam telah hilang Daulah Islamiyyah, Syariat Islamiyyah, Ahklak Islam, Tamadun Islam, Tarbiyyah dan Keperibadian sebenar Islam.


Penyakit ini tidak akan sembuh melainkan kita merawatnya sebagaimana Rasulullah s.a.w merawatnya dahulu; kita mesti bermula pada titik permulaan dakwah Rasulullah s.a.w. Ummat ini perlu dididik sebagaimana Rasulullah s.a.w mendidik generasi awal dahulu dengan manhaj dan uslub Rasulullah s.a.w.

Kita perlu menoleh semula kebelakang untuk kita menggali semula khazanah-khazanah berharga dari sirah yang harum sebagai bekalan untuk kita bangkit dan membangun semula ummah. Kita perlu kembali kepangkuan Islam; Islam dalam ruang lingkup dan pengertian sepertimana yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kita perlu memahami dan menghayati serta melaksanakannya dalam kehidupan kita sebagaimana generasi pertama(generasi Al Quran) memahami, menghayati dan melaksanakannya dalam kehidupan mereka.


Apakah kita pernah mengalami malas beribadah? Terasa berat untuk tilawah atau tidak merasakan kenikmatan ketika membaca Al Qur’an atau sholat? Atau mungkin merasa susah untuk bangun malam untuk qiyamulail? Padahal jam sudah di set untuk menejutkan kita, alarm handphone juga sudah disetting tapi ketika berdering tetap terlelap dalam tidurnya, hanya kedengaran seperti dalam mimpi dan akhirnya mati-mati sendiri atau bangun dengan setengah sedar, lepas tu tarik selimut tidur lagi. Padahal biasanya dengan mudah boleh bangun. So.. Apa yang terjadi dengan diri kita?


Atau mungkin kita pernah merasakan mulut ini terasa berat ketika melantunkan ayat-ayat Al Qur’an atau mengucapkan salam kepada saudara kita. Atau mungkin kita secara sengaja memperlambatkan waktu menunaikan solat, terkadang hati rasa meluat dengan rakan di pejabat kerana hal-hal yang kecil atau prasangka buruk. Terkadang kita melalui hari yang kita istihar sebagai hari malang atau takde “mood”. Dan makin malang lagi kita dengan sengaja melanggar titah perintah Allah swt.


Jika hal-hal seperti itu terjadi pada diri kita, maka segeralah kita evaluasi diri. Ada apa dengan diri kita?
Keadaan seperti ini jangan dibiarkan begitu saja, lama-kelamaan akhirnya terbiasa. Seperti halnya penyakit, kalau sudah ada gejala segera periksa ke doktor dan minum ubat agar segera sembuh. Begitu pula dengan ruhiyah kita, kalau sudah ada gejala futur dan penurunan anjakan ruhiyah maka segera kita mutabaah diri kita, bagaimana hubungan kita dengan Allah dan apa yang sudah kita lakukan?


Jangan-jangan kita banyak maksiat yang kita kerjakan hingga menghalangi amalan-amalan kita. Mungkin kita tidak boleh menjaga dari hal-hal yang makruh bahkan diharamkan oleh Allah sehingga menghalangi organ tubuh kita untuk beribadah kepada-Nya. Misalnya, kita menggunakan mata untuk menonton drama/filem yang melalaikan meski cuma satu atau dua jam. Mungkin mata kita tidak di jaga dari melihat hal-hal yang tidak berguna bahkan mengandung maksiat, akhirnya Allah pun tidak menjaga mata kita untuk beribadah padaNya. Lalu, mata kita malas untuk bangunkan kita solat malam, mata kita rasa berat untuk beribadah, rasa berat untuk membaca buku-buku tazkirah hati, rasa berat untuk melihat email-email yang memberi nasihat.


Selain mata, telinga juga perlu kita jaga. Boleh jadi kita susah bangun malam untuk bertaqarub kepada Allah swt kerana kita tidak menjaga telinga kita. Telinga kita gunakan untuk mendengarkan gosip atau muzik-muzik melalaikan bahkan terkadang boleh terngiang-ngiang dalam memori kita kerana seharian yang didengari adalah muzik-muzik itu, dangdutlah, bollywoodlah, lagu cintanlah, lagui sayulah dan semacam lagi. Akhirnya malamnya telinga kita tidak mampu kedengaran dering jam alarm hp bahkan suara adzan, telinga kita rasa berat untuk mendengar tazkirah dan telinga rasa bosan mendengar nasihat. Na’udzubillah.


Selain itu mulut tak kalah pentingnya untuk dijaga. Kerana mulut itu pula yang banyak menjerumuskan manusia terutama wanita ke dalam neraka, Na’udzubillah. Kerana mulut boleh menjadi sarana gibah, fitnah, caci-maki, dsb. Mulut kita tak dapat kita kawal, macam air aje mengata perilaku kawan-kawan. Kita kenal pun tidak dengan si pulan tu, tapi mulut kita syoknya mengatakan mereka. Mulut kita juga rasa berat nak zikir, tak terkeluar dari mulut...Mengapa ya..?


Selanjutnya adalah hati. Ini adalah bahagian terpenting yang perlu kita jaga. Hati ibaratnya pemimpin bagi organ tubuh yang lain, yang menjadi komando. Hati boleh sakit, buta bahkan mati jika semakin banyak berbuat maksiat. Hati ibarat cermin, semakin banyak bermaksiat maka semakin banyak noda titik-titik hitam di cermin itu. Atau bahkan mungkin tidak lagi titik-titik hitam tapi sudah jelaga hitam yang susah dibersihkan dan tidak boleh dipakai untuk bercermin lagi kerana sudah diselaputi. Begitu pula dengan diri kita, semakin banyak kita berbuat maksiat dan tidak bertaubat maka kita semakin terbiasa dengan kemaksiatan itu.


Salah satu yang menyebabkan kematian hati adalah banyak bercanda / bergurau senda. Boleh kita bergurau senda untuk menceriakan suasana atau menciptakan suasana ukhuwah. Tapi tetap memperhatikan adab-adabnya, perhatikan dengan siapa juga dan tidak berlebihan, apalagi adanya lelaki dan perempuan di dalam satu majlis, hati-hati!


Mari kita tengok diri kita, evaluasi diri kita, jika selama ini kita belum menjaga mata, mulut, telinga, hati dan organ tubuh kita yang lain dari kemaksiatan maka segeralah kita bertaubat dan istighfar diri, tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Seharusnya kita merasa sayang kalau tidak boleh tadarus quran meski hanya terlepas satu hari. Merasa sayang pula jika tidak boleh merasakan nikmatnya beribadah. Jika masih merasa sayang, maka jagalah diri kita, dan Insya Allah Allah akan menjaga kita agar senantiasa boleh dekat dengan-Nya.

Apabila Kita Malas Beribadah


Apakah kita pernah mengalami malas beribadah? Terasa berat untuk tilawah atau tidak merasakan kenikmatan ketika membaca Al Qur’an atau sholat? Atau mungkin merasa susah untuk bangun malam untuk qiyamulail? Padahal jam sudah di set untuk menejutkan kita, alarm handphone juga sudah disetting tapi ketika berdering tetap terlelap dalam tidurnya, hanya kedengaran seperti dalam mimpi dan akhirnya mati-mati sendiri atau bangun dengan setengah sedar, lepas tu tarik selimut tidur lagi. Padahal biasanya dengan mudah boleh bangun. So.. Apa yang terjadi dengan diri kita?


Atau mungkin kita pernah merasakan mulut ini terasa berat ketika melantunkan ayat-ayat Al Qur’an atau mengucapkan salam kepada saudara kita. Atau mungkin kita secara sengaja memperlambatkan waktu menunaikan solat, terkadang hati rasa meluat dengan rakan di pejabat kerana hal-hal yang kecil atau prasangka buruk. Terkadang kita melalui hari yang kita istihar sebagai hari malang atau takde “mood”. Dan makin malang lagi kita dengan sengaja melanggar titah perintah Allah swt.


Jika hal-hal seperti itu terjadi pada diri kita, maka segeralah kita evaluasi diri. Ada apa dengan diri kita?
Keadaan seperti ini jangan dibiarkan begitu saja, lama-kelamaan akhirnya terbiasa. Seperti halnya penyakit, kalau sudah ada gejala segera periksa ke doktor dan minum ubat agar segera sembuh. Begitu pula dengan ruhiyah kita, kalau sudah ada gejala futur dan penurunan anjakan ruhiyah maka segera kita mutabaah diri kita, bagaimana hubungan kita dengan Allah dan apa yang sudah kita lakukan?


Jangan-jangan kita banyak maksiat yang kita kerjakan hingga menghalangi amalan-amalan kita. Mungkin kita tidak boleh menjaga dari hal-hal yang makruh bahkan diharamkan oleh Allah sehingga menghalangi organ tubuh kita untuk beribadah kepada-Nya. Misalnya, kita menggunakan mata untuk menonton drama/filem yang melalaikan meski cuma satu atau dua jam. Mungkin mata kita tidak di jaga dari melihat hal-hal yang tidak berguna bahkan mengandung maksiat, akhirnya Allah pun tidak menjaga mata kita untuk beribadah padaNya. Lalu, mata kita malas untuk bangunkan kita solat malam, mata kita rasa berat untuk beribadah, rasa berat untuk membaca buku-buku tazkirah hati, rasa berat untuk melihat email-email yang memberi nasihat.


Selain mata, telinga juga perlu kita jaga. Boleh jadi kita susah bangun malam untuk bertaqarub kepada Allah swt kerana kita tidak menjaga telinga kita. Telinga kita gunakan untuk mendengarkan gosip atau muzik-muzik melalaikan bahkan terkadang boleh terngiang-ngiang dalam memori kita kerana seharian yang didengari adalah muzik-muzik itu, dangdutlah, bollywoodlah, lagu cintanlah, lagui sayulah dan semacam lagi. Akhirnya malamnya telinga kita tidak mampu kedengaran dering jam alarm hp bahkan suara adzan, telinga kita rasa berat untuk mendengar tazkirah dan telinga rasa bosan mendengar nasihat. Na’udzubillah.


Selain itu mulut tak kalah pentingnya untuk dijaga. Kerana mulut itu pula yang banyak menjerumuskan manusia terutama wanita ke dalam neraka, Na’udzubillah. Kerana mulut boleh menjadi sarana gibah, fitnah, caci-maki, dsb. Mulut kita tak dapat kita kawal, macam air aje mengata perilaku kawan-kawan. Kita kenal pun tidak dengan si pulan tu, tapi mulut kita syoknya mengatakan mereka. Mulut kita juga rasa berat nak zikir, tak terkeluar dari mulut...Mengapa ya..?


Selanjutnya adalah hati. Ini adalah bahagian terpenting yang perlu kita jaga. Hati ibaratnya pemimpin bagi organ tubuh yang lain, yang menjadi komando. Hati boleh sakit, buta bahkan mati jika semakin banyak berbuat maksiat. Hati ibarat cermin, semakin banyak bermaksiat maka semakin banyak noda titik-titik hitam di cermin itu. Atau bahkan mungkin tidak lagi titik-titik hitam tapi sudah jelaga hitam yang susah dibersihkan dan tidak boleh dipakai untuk bercermin lagi kerana sudah diselaputi. Begitu pula dengan diri kita, semakin banyak kita berbuat maksiat dan tidak bertaubat maka kita semakin terbiasa dengan kemaksiatan itu.


Salah satu yang menyebabkan kematian hati adalah banyak bercanda / bergurau senda. Boleh kita bergurau senda untuk menceriakan suasana atau menciptakan suasana ukhuwah. Tapi tetap memperhatikan adab-adabnya, perhatikan dengan siapa juga dan tidak berlebihan, apalagi adanya lelaki dan perempuan di dalam satu majlis, hati-hati!


Mari kita tengok diri kita, evaluasi diri kita, jika selama ini kita belum menjaga mata, mulut, telinga, hati dan organ tubuh kita yang lain dari kemaksiatan maka segeralah kita bertaubat dan istighfar diri, tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Seharusnya kita merasa sayang kalau tidak boleh tadarus quran meski hanya terlepas satu hari. Merasa sayang pula jika tidak boleh merasakan nikmatnya beribadah. Jika masih merasa sayang, maka jagalah diri kita, dan Insya Allah Allah akan menjaga kita agar senantiasa boleh dekat dengan-Nya.

Thursday, May 17, 2007




Mendidik Anak Mengenal Makanan Halal



Allah Swt. berfirman:


"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa saja yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, kerana sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kalian yang nyata." (QS al-Baqarah [2]: 168).

Makan adalah keperluan jasmani yang harus dipenuhi. Halal dan baik (halallan thayyiban) merupakan syarat utama saat kita menghidang makanan. Kerana itu, mengetahui makanan halal sangat penting; tidak hanya bagi orangtua, yang bertugas menyediakan makanan untuk anak-anak, tetapi juga bagi anak-anak. Mereka harus mulai dikenalkan dengan makanan halal atau haram agar lebih berhati-hati saat menggunakannya. Bagaimana mengenalkan makanan halal dan haram kepada anak?

Tulisan berikut akan memberikan beberapa panduan.

1. Mengenalkan label halal. Usahakan untuk selalu membeli makanan yang sudah mendapatkan pengesahan halal dari mulai makanan ringan, jajanan (makanan ringan) anak-anak sampai memilih gerai makan ketika akan bersantap dengan keluarga. Label halal yang bertulisan jawi HALAL biasanya di tampal di dinding premis. Terdapat juga yang menampal lesen sijil halal dari JAKIM di dinding, namun perlu juga kita perhatikan tarikh yang tercatat pada sijil tersebut.

2. Mengenalkan kandungan makanan. Ajari anak-anak untuk mengamati setiap kandungan makanan yang tertera pada bungkusan atau bekas makanan. Jika di dalamnya mengandung bahan yang meragukan, seperti gelatin, misalnya, pastikan bahawa yang tercatat adalah gelatin yang berasal dari sapi. Gelatin biasanya terdapat pada makanan yang lembut dan sedikit kenyal, seperti permen lunak, ais krim, dan puding. Tiga jenis makanan ini termasuk makanan utama anak-anak. Kerana itu, dengan mengenalkan komposisi kandungan, anak-anak terdidik untuk berhati-hati sebelum mengkonsumsi makanan.


3. Memperlihatkan poster barang haram.Poster anti dadah, misalnya, boleh kita lihat dimana-mana; di berbagai media (massa/elektronik) atau di jalan-jalan raya. Gunakan sarana itu untuk mengenalkan kepada anak makanan yang haram, di antaranya kandungan dadah atau alkohol berikut boleh menimbulkan pelbagai bahaya yang ditimbulkan. Dadah dapat mengganggu kesihatan, melemahkan perasaan dan merosak moral serta menghancurkan generasi. Dengan memperlihatkan poster semacam itu, anak-anak telah dididik sedari kecil untuk mewaspadai makanan/zat yang haram.


4. Menunjukkan makanan yang haram saat Berbelanja.Sekali waktu, ajaklah anak berbelanja di pasar atau supermarket. Jika ada makanan haram yang di jual di sana, tunjukkanlah kepada mereka. Amatilah baik-baik, misalnya, perbezaan antara daging sapi dan babi; mulai dari warna, tekstur dan sebagainya yang menunjukkan perbezaan itu. Selain daging segar, kepada anak-anak juga boleh diperlihatkan beberapa makanan yang mengandung bahan khindzir. Selain makanan, anak juga boleh dikenalkan dengan minuman-minuman beralkohol yang haram dikonsumsi, yang biasanya dijual di supermaket besar; seperti macam-macam bir atau minuman haram lainnya. Tekankan kepada anak-anak bahawa semua itu dilarang oleh Islam dan haram untuk dikonsumsi.

5. Mengunjungi pameran produk halal.Jika ada kesempatan, ajaklah anak-anak mengunjungi pameran produk halal. Di tempat pameran akan disajikan makanan dan minuman yang biasanya sudah mendapat sijil halal. Anak akan menjadi lebih tahu, ternyata tidak sedikit makanan halal yang boleh mereka makan/minum. Anak juga boleh bertanya langsung kepada orang-orang yang menjaga setiap gerai/booth sekaligus meminta penjelasan tentang produk makanan yang dipamerkan. Dengan cara itu, anak-anak terbiasa memperhatikan makanan halal dan makin menyedari betapa pentingya soal ini.

6. Membacakan ayat dan hadis.Mengenalkan makanan halal dan haram juga boleh dilakukan dengan mengenalkan dalil-dalil tentang makanan yang bersumber dari al-Quran atau Hadis Rasulullah saw. Ajaklah anak untuk membaca, mengkaji dan kalau mungkin menghafalkan ayat-ayat dan hadis tersebut. Contohnya ayat berikut:Diharamkan atas kalian (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging haiwan yang disembilih atas nama selain Allah; yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang kalian sempat menyembelihnya; dan (diharamkan atas kalian) binatang yang disembelih untuk berhala. (QS al-Maidah [5]: 3).Contoh lain adalah sabda Rasulullah saw. berikut:Tidak akan masuk surga siapa saja yang dagingnya tumbuh dari makanan yang haram. Neraka lebih utama untuknya. (HR Ahmad).

7. Menanamkan kehalalan melalui cara mendapatkannya.Selain panduan di atas, penting juga diajarkan kepada anak, bahawa makanan yang halal tidak hanya dilihat dari zatnya saja, tetapi juga cara memperolehnya. Makanan yang zatnya halal, tetapi didapat dengan cara yang haram, menjadi haram juga. Misal, ayam goreng yang halal dimakan, jika didapat dengan cara mengambil bekal temannya saat makan tengahari di sekolah, menjadi haram. Dengan cara ini, anak juga dididik sedari kecil untuk mendapatkan rezeki dengan cara yang halal. Dengan begitu, bibit-bibit korupsi dan tindak tanduk kejahatan menyangkut harta lain dengan cara ini sesungguhnya sudah dibanteras mulai dari akarnya.

8. Mengenalkan makanan halal melalui kegiatan makan bersama.Cara lain yang cukup efektif mengenalkan makanan halal kepada anak-anak adalah saat makan bersama. Sebelum acara makan dimulai, ajaklah anak-anak mengamati makanan masing-masing. Selain dari kandungan gizinya dan manfaatnya untuk pertumbuhan anak, jelaskan juga sisi kehalalan. Tanamkan rasa syukur dengan makanan yang sudah tersedia, sekaligus juga ajarkan tentang adab makan dan minum sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.: membaca doa sebelum makan, menggunakan tangan kanan, tidak berbicara saat makan, tidak mencela makanan dan sebagainya.

9. Menunjukkan makanan haram melalui televisyen.Mengenalkan makanan haram kepada anak, selain boleh dilakukan secara langsung juga dapat melalui media, misalnya televisyen. Di filem-filem biasanya terdapat adegan orang yang mabuk kerana meminum minuman beralkohol. Sampaikan bahawa khamar (minuman beralkohol) haram diminum. (Lihat: QS al-Maidah [5]: 90).


10. Mengikuti perkembangan info halal.
Sentiasa dapatkan info dari Persatuan Pengguna Islam Malaysia (PPIM) dan lamanweb JAKIM mengenai status halal sesuatu produk.

Mendidik Anak Mengenal Makanan Halal




Mendidik Anak Mengenal Makanan Halal



Allah Swt. berfirman:


"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa saja yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, kerana sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kalian yang nyata." (QS al-Baqarah [2]: 168).

Makan adalah keperluan jasmani yang harus dipenuhi. Halal dan baik (halallan thayyiban) merupakan syarat utama saat kita menghidang makanan. Kerana itu, mengetahui makanan halal sangat penting; tidak hanya bagi orangtua, yang bertugas menyediakan makanan untuk anak-anak, tetapi juga bagi anak-anak. Mereka harus mulai dikenalkan dengan makanan halal atau haram agar lebih berhati-hati saat menggunakannya. Bagaimana mengenalkan makanan halal dan haram kepada anak?

Tulisan berikut akan memberikan beberapa panduan.

1. Mengenalkan label halal. Usahakan untuk selalu membeli makanan yang sudah mendapatkan pengesahan halal dari mulai makanan ringan, jajanan (makanan ringan) anak-anak sampai memilih gerai makan ketika akan bersantap dengan keluarga. Label halal yang bertulisan jawi HALAL biasanya di tampal di dinding premis. Terdapat juga yang menampal lesen sijil halal dari JAKIM di dinding, namun perlu juga kita perhatikan tarikh yang tercatat pada sijil tersebut.

2. Mengenalkan kandungan makanan. Ajari anak-anak untuk mengamati setiap kandungan makanan yang tertera pada bungkusan atau bekas makanan. Jika di dalamnya mengandung bahan yang meragukan, seperti gelatin, misalnya, pastikan bahawa yang tercatat adalah gelatin yang berasal dari sapi. Gelatin biasanya terdapat pada makanan yang lembut dan sedikit kenyal, seperti permen lunak, ais krim, dan puding. Tiga jenis makanan ini termasuk makanan utama anak-anak. Kerana itu, dengan mengenalkan komposisi kandungan, anak-anak terdidik untuk berhati-hati sebelum mengkonsumsi makanan.


3. Memperlihatkan poster barang haram.Poster anti dadah, misalnya, boleh kita lihat dimana-mana; di berbagai media (massa/elektronik) atau di jalan-jalan raya. Gunakan sarana itu untuk mengenalkan kepada anak makanan yang haram, di antaranya kandungan dadah atau alkohol berikut boleh menimbulkan pelbagai bahaya yang ditimbulkan. Dadah dapat mengganggu kesihatan, melemahkan perasaan dan merosak moral serta menghancurkan generasi. Dengan memperlihatkan poster semacam itu, anak-anak telah dididik sedari kecil untuk mewaspadai makanan/zat yang haram.


4. Menunjukkan makanan yang haram saat Berbelanja.Sekali waktu, ajaklah anak berbelanja di pasar atau supermarket. Jika ada makanan haram yang di jual di sana, tunjukkanlah kepada mereka. Amatilah baik-baik, misalnya, perbezaan antara daging sapi dan babi; mulai dari warna, tekstur dan sebagainya yang menunjukkan perbezaan itu. Selain daging segar, kepada anak-anak juga boleh diperlihatkan beberapa makanan yang mengandung bahan khindzir. Selain makanan, anak juga boleh dikenalkan dengan minuman-minuman beralkohol yang haram dikonsumsi, yang biasanya dijual di supermaket besar; seperti macam-macam bir atau minuman haram lainnya. Tekankan kepada anak-anak bahawa semua itu dilarang oleh Islam dan haram untuk dikonsumsi.

5. Mengunjungi pameran produk halal.Jika ada kesempatan, ajaklah anak-anak mengunjungi pameran produk halal. Di tempat pameran akan disajikan makanan dan minuman yang biasanya sudah mendapat sijil halal. Anak akan menjadi lebih tahu, ternyata tidak sedikit makanan halal yang boleh mereka makan/minum. Anak juga boleh bertanya langsung kepada orang-orang yang menjaga setiap gerai/booth sekaligus meminta penjelasan tentang produk makanan yang dipamerkan. Dengan cara itu, anak-anak terbiasa memperhatikan makanan halal dan makin menyedari betapa pentingya soal ini.

6. Membacakan ayat dan hadis.Mengenalkan makanan halal dan haram juga boleh dilakukan dengan mengenalkan dalil-dalil tentang makanan yang bersumber dari al-Quran atau Hadis Rasulullah saw. Ajaklah anak untuk membaca, mengkaji dan kalau mungkin menghafalkan ayat-ayat dan hadis tersebut. Contohnya ayat berikut:Diharamkan atas kalian (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging haiwan yang disembilih atas nama selain Allah; yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang kalian sempat menyembelihnya; dan (diharamkan atas kalian) binatang yang disembelih untuk berhala. (QS al-Maidah [5]: 3).Contoh lain adalah sabda Rasulullah saw. berikut:Tidak akan masuk surga siapa saja yang dagingnya tumbuh dari makanan yang haram. Neraka lebih utama untuknya. (HR Ahmad).

7. Menanamkan kehalalan melalui cara mendapatkannya.Selain panduan di atas, penting juga diajarkan kepada anak, bahawa makanan yang halal tidak hanya dilihat dari zatnya saja, tetapi juga cara memperolehnya. Makanan yang zatnya halal, tetapi didapat dengan cara yang haram, menjadi haram juga. Misal, ayam goreng yang halal dimakan, jika didapat dengan cara mengambil bekal temannya saat makan tengahari di sekolah, menjadi haram. Dengan cara ini, anak juga dididik sedari kecil untuk mendapatkan rezeki dengan cara yang halal. Dengan begitu, bibit-bibit korupsi dan tindak tanduk kejahatan menyangkut harta lain dengan cara ini sesungguhnya sudah dibanteras mulai dari akarnya.

8. Mengenalkan makanan halal melalui kegiatan makan bersama.Cara lain yang cukup efektif mengenalkan makanan halal kepada anak-anak adalah saat makan bersama. Sebelum acara makan dimulai, ajaklah anak-anak mengamati makanan masing-masing. Selain dari kandungan gizinya dan manfaatnya untuk pertumbuhan anak, jelaskan juga sisi kehalalan. Tanamkan rasa syukur dengan makanan yang sudah tersedia, sekaligus juga ajarkan tentang adab makan dan minum sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.: membaca doa sebelum makan, menggunakan tangan kanan, tidak berbicara saat makan, tidak mencela makanan dan sebagainya.

9. Menunjukkan makanan haram melalui televisyen.Mengenalkan makanan haram kepada anak, selain boleh dilakukan secara langsung juga dapat melalui media, misalnya televisyen. Di filem-filem biasanya terdapat adegan orang yang mabuk kerana meminum minuman beralkohol. Sampaikan bahawa khamar (minuman beralkohol) haram diminum. (Lihat: QS al-Maidah [5]: 90).


10. Mengikuti perkembangan info halal.
Sentiasa dapatkan info dari Persatuan Pengguna Islam Malaysia (PPIM) dan lamanweb JAKIM mengenai status halal sesuatu produk.

Saving Your Family
Morshed Abul Ala & Taha Ghaznavi


For a believer one of the most hurtful feelings is when he or she watches their own family going astray from the path of Islam. Most of the time, we do not know how to react. Here are some points to keep in mind when we are in such situations:


1. Do Not Give Up on Your Family
This should never be an option. The Prophets ('alayhim salaatu was-salaam) never gave up on their families because of the latter's disobedience to Allah. They did not consider the task of inviting one's family to Allah as an 'extra duty' performed by them, but as part of their own salvation. They kept reminding their families of dedication and obedience to One God, Allah till their natural death came or the punishment of Allah overtoke them. And we ask Allah's protection from that.


2. Show them Your Love and Care
Your family needs to realize that you care for them deeply and it hurts you seeing them going astray. They need to see that your concern for them stems from your genuine love and not a sense of superiority or self-righteousness. They don't need emotional black-mail or repeated nagging, but sincere advice in everyday matters and guidance in any doubts and questions they may have. Give gifts, help them in their day-to-day tasks, and be there in their times of distress and need, whether they be practising or not.


3. Take it One Step at a Time
Do not expect your family to completely change overnight, just because you did! Some, in fact most, people take time to change. Think about the fact that the majority of the Makkan people during the time of the Prophet Muhammad (peace be upon him) became Muslim after having been with him, the Prophet of God, for 13 years!
Do not jump into telling them what they have to do or what not. Tell them why it is good or bad, your own reasoning process, and prepare their mind before mentioning what Allah wants them to do. For example, instead of lecturing or ordering them to wear Hijab, explain why it is such an important part of Islam and Muslim identity, its benefits and rewards. Whenever you say such-and-such is Halal or Haram, prepare to answer why!
And be careful about what you lay emphasis on. There is a wisdom in priorities. For example, it does little good to speak about watching too much TV when the person does not even pray. For every Haram, you must provide a better Halal alternative or it will be replaced with more Haram or idleness.


4. Have regular Family Gatherings
How about one weeknight after dinner? Or spending a weekend morning together? You can use these opportunities to talk about your family issues, discuss Islamic teachings, and where you as a family should be headed, etc. This gathering will bring your family members close to each other, allow them to express their thoughts and feelings openly and realize that they are one mutually-supporting entity.


5. Do Not Coerce but Pray for them
We should know that guidance comes from Allah alone, no matter how hard we try. Our duty is to present Allah's message in a loving and wise manner so they can help themselves make up their mind. But throughout all this, we turn to Allah alone for guidance, for ourselves and our loved ones, and put our trust in Him alone, lest we lost heart in our own efforts.


6. Be True to Yourself
They know you too well and love you, so be yourself! Your greatest duty is to be a shining example of a sincere, trying, albeit naturally imperfect, Muslim not to give the impression of a 'super-Momin' who is never wrong. That natural and simple way of living and thinking will insha-Allah be an irresistable attraction that will draw you and your family closer to Allah.

Saving Your Family


Saving Your Family
Morshed Abul Ala & Taha Ghaznavi


For a believer one of the most hurtful feelings is when he or she watches their own family going astray from the path of Islam. Most of the time, we do not know how to react. Here are some points to keep in mind when we are in such situations:


1. Do Not Give Up on Your Family
This should never be an option. The Prophets ('alayhim salaatu was-salaam) never gave up on their families because of the latter's disobedience to Allah. They did not consider the task of inviting one's family to Allah as an 'extra duty' performed by them, but as part of their own salvation. They kept reminding their families of dedication and obedience to One God, Allah till their natural death came or the punishment of Allah overtoke them. And we ask Allah's protection from that.


2. Show them Your Love and Care
Your family needs to realize that you care for them deeply and it hurts you seeing them going astray. They need to see that your concern for them stems from your genuine love and not a sense of superiority or self-righteousness. They don't need emotional black-mail or repeated nagging, but sincere advice in everyday matters and guidance in any doubts and questions they may have. Give gifts, help them in their day-to-day tasks, and be there in their times of distress and need, whether they be practising or not.


3. Take it One Step at a Time
Do not expect your family to completely change overnight, just because you did! Some, in fact most, people take time to change. Think about the fact that the majority of the Makkan people during the time of the Prophet Muhammad (peace be upon him) became Muslim after having been with him, the Prophet of God, for 13 years!
Do not jump into telling them what they have to do or what not. Tell them why it is good or bad, your own reasoning process, and prepare their mind before mentioning what Allah wants them to do. For example, instead of lecturing or ordering them to wear Hijab, explain why it is such an important part of Islam and Muslim identity, its benefits and rewards. Whenever you say such-and-such is Halal or Haram, prepare to answer why!
And be careful about what you lay emphasis on. There is a wisdom in priorities. For example, it does little good to speak about watching too much TV when the person does not even pray. For every Haram, you must provide a better Halal alternative or it will be replaced with more Haram or idleness.


4. Have regular Family Gatherings
How about one weeknight after dinner? Or spending a weekend morning together? You can use these opportunities to talk about your family issues, discuss Islamic teachings, and where you as a family should be headed, etc. This gathering will bring your family members close to each other, allow them to express their thoughts and feelings openly and realize that they are one mutually-supporting entity.


5. Do Not Coerce but Pray for them
We should know that guidance comes from Allah alone, no matter how hard we try. Our duty is to present Allah's message in a loving and wise manner so they can help themselves make up their mind. But throughout all this, we turn to Allah alone for guidance, for ourselves and our loved ones, and put our trust in Him alone, lest we lost heart in our own efforts.


6. Be True to Yourself
They know you too well and love you, so be yourself! Your greatest duty is to be a shining example of a sincere, trying, albeit naturally imperfect, Muslim not to give the impression of a 'super-Momin' who is never wrong. That natural and simple way of living and thinking will insha-Allah be an irresistable attraction that will draw you and your family closer to Allah.

Tuesday, May 15, 2007

Catatan untuk Gadis Remaja


Dengan tersedu sedan dan diiringi linangan air mata penyesalan seorang remaja puteri menceritakan,

"Peristiwa ini bermula hanya dari pembicaraan melalui telefon antara diriku dengan seorang lelaki, lalu berlanjutan membuahkan kisah cinta di antara kami. Ia merayu bahawa dirinya sangat mencintaiku dan ingin segera meminangku. Dia berharap dapat bertemu muka denganku, namun aku sungguh merasa keberatan, bahkan aku mengancam ingin menjauhi dirinya, kemudian menyudahi hubungan ini. Akan tetapi aku tak kuasa melakukan itu. Maka aku putuskan dengan mengirimkan fotoku dalam sebuah surat cinta yang semerbak dengan wangi aroma bunga mawar.

Suratku pun dibalas olehnya, dan semenjak itu kami sering saling kirim surat. Suatu ketika melalui surat, ia mengajakku untuk keluar pergi berduaan, aku menolak dengan keras ajakan itu. Tetapi ia balik mengancam akan menyebarkan semua tentang diriku, foto-fotoku, surat cintaku, dan perbualanku dengannya selama ini melalui telefon, yang ternyata ia selalu merakamnya. Aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh ancamannya.

Akhirnya aku pun pergi keluar bersamanya dan berharap dapat pulang kembali ke rumah dengan secepatnya. Memang aku pun akhirnya pulang, namun sudah bukan sebagai diriku yang dulu lagi, aku telah berubah. Aku kembali ke rumah dengan membawa aib yang berkepanjangan, dan suatu ketika kutanyakan kepadanya, "Bila kita akan berkahwin?" Apakah tidak secepatnya? Namun ternyata jawaban yang ia berikan sungguh menyakitkan, dengan nada menghina dan merendahkanku ia berkata, "Aku tak mahu menikah dengan wanita rendahan sepertimu!"

Wahai saudariku tercinta!

Kini engkau tahu bagaimana akhir dari hubungan kami yang jelas-jelas terlarang dalam agama ini. Oleh karena itu waspada dan berhati-hatilah jangan sampai engkau terjerumus dalam hubungan semacam itu. Jauhilah teman yang buruk perangai, yang suatu saat boleh saja ia menjerumuskanmu lalu menyeretmu ke dalam pergaulan yang rendah dan terlarang. Ia hiasi itu semua sehingga seakan-akan menarik dan merupakan hal biasa yang tidak akan berakibat apa-apa, tak akan ada aib dan lain sebagainya.

Jangan percaya puisi indahnya, sekali lagi jangan mudah percaya! Itu semua tak lain adalah tipu daya yang dilancarkan oleh syaitan dan teman-temannya. Dan jika engkau tak mahu berhati-hati maka sungguh hubungan haram itu akan berakibat sebagaimana yang telah kusebutkan di atas atau bahkan lebih parah dan menyakitkan lagi.

Berhati-hatilah jangan sampai engkau terpedaya dengan pujuk rayu para laki-laki pendosa itu yang kesukaannya hanya mempermainkan kehormatan orang lain. Mereka adalah pembohong, pendusta dan pengkhianat, walau salah satu dari mulut mereka terkadang menyampaikan kejujuran dan keikhlasan. Apa yang diinginkan mereka adalah sama, dan semua orang yang berakal mengetahui itu, seakan tiada yang tersembunyi. Berapa kali kita mendengarkan, demikian juga selain kita tentang perilaku keji mereka terhadap para gadis remaja.

Namun sayang seribu sayang bahawa sebahagian para gadis tak mampu mengambil ikhtibar dari peristiwa memalukan yang menimpa gadis lainnya. Mereka tak mempercayai segala ucapan dan nasihat yang diberikan kecuali setelah peristiwa itu benar-benar menimpa, dan setelah terlanjur menjadi korban kebiadaban lelaki tidak bermoral itu. Tatkala musibah dan aib yang mencoreng muka telah terjadi, maka ketika itulah ia baru terbangun dari keterlenaannya, timbullah penyesalan yang mendalam atas segala yang telah dilakukannya. Ia berangan-angan agar aib, derita, dan kegetiran itu segera berakhir, namun musim telah berlalu dan segalanya telah terjadi,yang hilang tiada mungkin kembali! "Mengapa semua jadi begini?"

Saudariku Tercinta!

Bagi yang terlanjur jatuh dalam hubungan yang haram dan terlarang, jika mahu berfikir maka tentu ia akan menjauhi cara seperti itu sejak awal mulanya. Sehingga tidak seorang pun mampu mengajaknya demikian berpetualang dalam cinta. Sebab dalam petualangan tersebut mempertaruhkan sesuatu yang paling mulia yang merupakan lambang harga diri dan kesucian wanita. Jika sekali telah hilang, maka tak akan mungkin kembali selamanya. Wanita mana yang menginginkan agar miliknya yang paling berharga hilang begitu saja dengan sia-sia demi kesenangan sekejap? Lalu setelah itu kembali ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat dalam keadaan terhina dan tersisih tiada mampu mendongakkan kepala?

Tiada lagi laki-laki yang menginginkannya, hidup terkucil dan penuh kerugian yang selalu mengiringi sisa umurnya. Hatinya makin teriris manakala melihat teman sebayanya atau yang lebih muda telah menjadi seorang isteri, seorang ibu rumah tangga dan pendidik generasi muda.

Oleh kerana itu wahai saudariku, fikirkanlah semua ini! Jauhilah olehmu hubungan muda-mudi yang melanggar aturan agama agar engkau tidak menjadi korban selanjutnya. Ambillah pelajaran dari peristiwa yang menimpa gadis selainmu, dan jangan sampai engkau menjadi pelajaran yang diambil oleh mereka. Ketahuilah bahawa wanita yang terjaga kehormatannya itu sangatlah mahal, jika ia mengkhianati dan tak menjaga kehormatan itu, maka kehinaanlah yang pantas baginya. Tetaplah engkau pada keadaan jiwamu yang suci dan mulia dan janganlah sekali-kali engkau membuatnya hina serta menurunkan martabat dan ketinggian nilainya.

Jangan kau kira bahawa untuk mendapatkan seorang suami yang baik hanya dapat diperoleh melalui sembang-sembang atau chit chat hingga lewat malam samada melalui telefon ataupun pacaran dan pergaulan bebas. Banyak di antara mereka yang jika dimintai pertanggungjawaban agar segera menikahi akan respon dengan mengatakan:

Bagaimana mungkin aku menikahi wanita sepertinya.
Bagaimana pula aku rela dengan tingkah laku dan caranya.
Bagi wanita yang telah mengkhianati kehormatannya sehari saja.
Maka tiada mungkin bagi diriku untuk memperisterinya.

Bila engkau tak menginginkan jawaban yang menyakitkan seperti ini maka jangan sekali-kali menjalin hubungan terlarang, cegahlah seupaya mungkin. Selagi dirimu dapat mengendalikan segala urusan yang menyangkut peribadimu, maka kemuliaan dan harga diri akan terjaga. Carilah suami dengan cara yang baik dan benar, sebab jika engkau mendapatkannya dengan cara gaul bebas dan cara-cara lain yang tidak benar, maka biasanya akan berakibat tersia-sianya rumah tangga dan bahkan perceraian. Rata-rata kehidupan mereka dipenuhi oleh duri, saling curiga, menuduh, dan penuh ketidakpercayaan.

Jangan kau percayai propaganda sesat yang sedang berleluasa dalam era kemajuan zaman atau mereka yang menggembar-gemburkan kebebasan kaum wanita yang mengharuskan menjalin cinta terlebih dahulu sebelum menikah. Janganlah melatah, sebab cinta sejati tidak akan ada kecuali setelah bernikah secara sah. Sedang selain itu, maka pada umumnya adalah cinta nafsu semata, hanya mengikuti angan-angan dan fatamorgana, sekadar menuruti kesenangan, hawa nafsu dan gelojak emosi belaka.

Ingatlah bahawa kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara, mungkin sebentar lagi engkau akan meninggalkannya. Maka jika ternyata engkau telah terkhilaf dengan dosa-dosamu maka bersegera saja bertaubat memohon ampunan sebelum ada dinding penghalang antara taubat dengan dirimu. Demi Allah nasihat ini kusampaikan dengan tulus untukmu dan itu semua semata-mata kerana rasa sayang dan cintaku kepadamu.

Catatan Untuk Gadis Remaja

Catatan untuk Gadis Remaja


Dengan tersedu sedan dan diiringi linangan air mata penyesalan seorang remaja puteri menceritakan,

"Peristiwa ini bermula hanya dari pembicaraan melalui telefon antara diriku dengan seorang lelaki, lalu berlanjutan membuahkan kisah cinta di antara kami. Ia merayu bahawa dirinya sangat mencintaiku dan ingin segera meminangku. Dia berharap dapat bertemu muka denganku, namun aku sungguh merasa keberatan, bahkan aku mengancam ingin menjauhi dirinya, kemudian menyudahi hubungan ini. Akan tetapi aku tak kuasa melakukan itu. Maka aku putuskan dengan mengirimkan fotoku dalam sebuah surat cinta yang semerbak dengan wangi aroma bunga mawar.

Suratku pun dibalas olehnya, dan semenjak itu kami sering saling kirim surat. Suatu ketika melalui surat, ia mengajakku untuk keluar pergi berduaan, aku menolak dengan keras ajakan itu. Tetapi ia balik mengancam akan menyebarkan semua tentang diriku, foto-fotoku, surat cintaku, dan perbualanku dengannya selama ini melalui telefon, yang ternyata ia selalu merakamnya. Aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh ancamannya.

Akhirnya aku pun pergi keluar bersamanya dan berharap dapat pulang kembali ke rumah dengan secepatnya. Memang aku pun akhirnya pulang, namun sudah bukan sebagai diriku yang dulu lagi, aku telah berubah. Aku kembali ke rumah dengan membawa aib yang berkepanjangan, dan suatu ketika kutanyakan kepadanya, "Bila kita akan berkahwin?" Apakah tidak secepatnya? Namun ternyata jawaban yang ia berikan sungguh menyakitkan, dengan nada menghina dan merendahkanku ia berkata, "Aku tak mahu menikah dengan wanita rendahan sepertimu!"

Wahai saudariku tercinta!

Kini engkau tahu bagaimana akhir dari hubungan kami yang jelas-jelas terlarang dalam agama ini. Oleh karena itu waspada dan berhati-hatilah jangan sampai engkau terjerumus dalam hubungan semacam itu. Jauhilah teman yang buruk perangai, yang suatu saat boleh saja ia menjerumuskanmu lalu menyeretmu ke dalam pergaulan yang rendah dan terlarang. Ia hiasi itu semua sehingga seakan-akan menarik dan merupakan hal biasa yang tidak akan berakibat apa-apa, tak akan ada aib dan lain sebagainya.

Jangan percaya puisi indahnya, sekali lagi jangan mudah percaya! Itu semua tak lain adalah tipu daya yang dilancarkan oleh syaitan dan teman-temannya. Dan jika engkau tak mahu berhati-hati maka sungguh hubungan haram itu akan berakibat sebagaimana yang telah kusebutkan di atas atau bahkan lebih parah dan menyakitkan lagi.

Berhati-hatilah jangan sampai engkau terpedaya dengan pujuk rayu para laki-laki pendosa itu yang kesukaannya hanya mempermainkan kehormatan orang lain. Mereka adalah pembohong, pendusta dan pengkhianat, walau salah satu dari mulut mereka terkadang menyampaikan kejujuran dan keikhlasan. Apa yang diinginkan mereka adalah sama, dan semua orang yang berakal mengetahui itu, seakan tiada yang tersembunyi. Berapa kali kita mendengarkan, demikian juga selain kita tentang perilaku keji mereka terhadap para gadis remaja.

Namun sayang seribu sayang bahawa sebahagian para gadis tak mampu mengambil ikhtibar dari peristiwa memalukan yang menimpa gadis lainnya. Mereka tak mempercayai segala ucapan dan nasihat yang diberikan kecuali setelah peristiwa itu benar-benar menimpa, dan setelah terlanjur menjadi korban kebiadaban lelaki tidak bermoral itu. Tatkala musibah dan aib yang mencoreng muka telah terjadi, maka ketika itulah ia baru terbangun dari keterlenaannya, timbullah penyesalan yang mendalam atas segala yang telah dilakukannya. Ia berangan-angan agar aib, derita, dan kegetiran itu segera berakhir, namun musim telah berlalu dan segalanya telah terjadi,yang hilang tiada mungkin kembali! "Mengapa semua jadi begini?"

Saudariku Tercinta!

Bagi yang terlanjur jatuh dalam hubungan yang haram dan terlarang, jika mahu berfikir maka tentu ia akan menjauhi cara seperti itu sejak awal mulanya. Sehingga tidak seorang pun mampu mengajaknya demikian berpetualang dalam cinta. Sebab dalam petualangan tersebut mempertaruhkan sesuatu yang paling mulia yang merupakan lambang harga diri dan kesucian wanita. Jika sekali telah hilang, maka tak akan mungkin kembali selamanya. Wanita mana yang menginginkan agar miliknya yang paling berharga hilang begitu saja dengan sia-sia demi kesenangan sekejap? Lalu setelah itu kembali ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat dalam keadaan terhina dan tersisih tiada mampu mendongakkan kepala?

Tiada lagi laki-laki yang menginginkannya, hidup terkucil dan penuh kerugian yang selalu mengiringi sisa umurnya. Hatinya makin teriris manakala melihat teman sebayanya atau yang lebih muda telah menjadi seorang isteri, seorang ibu rumah tangga dan pendidik generasi muda.

Oleh kerana itu wahai saudariku, fikirkanlah semua ini! Jauhilah olehmu hubungan muda-mudi yang melanggar aturan agama agar engkau tidak menjadi korban selanjutnya. Ambillah pelajaran dari peristiwa yang menimpa gadis selainmu, dan jangan sampai engkau menjadi pelajaran yang diambil oleh mereka. Ketahuilah bahawa wanita yang terjaga kehormatannya itu sangatlah mahal, jika ia mengkhianati dan tak menjaga kehormatan itu, maka kehinaanlah yang pantas baginya. Tetaplah engkau pada keadaan jiwamu yang suci dan mulia dan janganlah sekali-kali engkau membuatnya hina serta menurunkan martabat dan ketinggian nilainya.

Jangan kau kira bahawa untuk mendapatkan seorang suami yang baik hanya dapat diperoleh melalui sembang-sembang atau chit chat hingga lewat malam samada melalui telefon ataupun pacaran dan pergaulan bebas. Banyak di antara mereka yang jika dimintai pertanggungjawaban agar segera menikahi akan respon dengan mengatakan:

Bagaimana mungkin aku menikahi wanita sepertinya.
Bagaimana pula aku rela dengan tingkah laku dan caranya.
Bagi wanita yang telah mengkhianati kehormatannya sehari saja.
Maka tiada mungkin bagi diriku untuk memperisterinya.

Bila engkau tak menginginkan jawaban yang menyakitkan seperti ini maka jangan sekali-kali menjalin hubungan terlarang, cegahlah seupaya mungkin. Selagi dirimu dapat mengendalikan segala urusan yang menyangkut peribadimu, maka kemuliaan dan harga diri akan terjaga. Carilah suami dengan cara yang baik dan benar, sebab jika engkau mendapatkannya dengan cara gaul bebas dan cara-cara lain yang tidak benar, maka biasanya akan berakibat tersia-sianya rumah tangga dan bahkan perceraian. Rata-rata kehidupan mereka dipenuhi oleh duri, saling curiga, menuduh, dan penuh ketidakpercayaan.

Jangan kau percayai propaganda sesat yang sedang berleluasa dalam era kemajuan zaman atau mereka yang menggembar-gemburkan kebebasan kaum wanita yang mengharuskan menjalin cinta terlebih dahulu sebelum menikah. Janganlah melatah, sebab cinta sejati tidak akan ada kecuali setelah bernikah secara sah. Sedang selain itu, maka pada umumnya adalah cinta nafsu semata, hanya mengikuti angan-angan dan fatamorgana, sekadar menuruti kesenangan, hawa nafsu dan gelojak emosi belaka.

Ingatlah bahawa kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara, mungkin sebentar lagi engkau akan meninggalkannya. Maka jika ternyata engkau telah terkhilaf dengan dosa-dosamu maka bersegera saja bertaubat memohon ampunan sebelum ada dinding penghalang antara taubat dengan dirimu. Demi Allah nasihat ini kusampaikan dengan tulus untukmu dan itu semua semata-mata kerana rasa sayang dan cintaku kepadamu.

Umat manusia yang diciptakan Allah ini tidak dapat dibuka pintu fitrah yang tertutup itu melainkan dengan anak-anak kunci dari ciptaan Allah itu dan penyakit-penyakitnya tidak boleh diubati melainkan dengan penawar yang dicipta oleh Allah S.W.T. Allah telah menyediakan di dalam sistem hidup yang diaturkan oleh-Nya itu anak-anak kunci untuk membuka segala pintu yang tertutup dan penawar untuk mengubatkan segala penyakit:

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an itu sesuatu yang menjadi rahmat kepada orang-orang yang beriman.” (Surah al-Isra :82 )

“Sesungguhnya aI-Qur’an ini memberi hidayat ke jalan yang amat lurus.” (Surah al-Isra: 9)

Tetapi malangnya umat manusia tidak mahu mengembalikan ibu kunci kepada tukang pembuatnya dan tidak mahu membawa orang sakit kepada penciptanya. Mereka tidak bertindak dalam urusan diri mereka, kemanusiaan mereka, kebahagian atau kecelakaan mereka seperti mereka bertindak dalam urusan mesin-mesin dan alat-alat murah yang digunakan mereka dalam keperluan-keperluan seharian mereka yang kecil.


Mereka tahu jika mesin-mesin dan alat-alat itu rosak mereka akan memanggil mekanik kilang yang membuat mesin itu untuk memperbaikinya, tetapi mereka tidak menggunakan peraturan ini dalam usaha membetulkan manusia sendiri, iaitu dengan mengembalikan mereka kepada kilang yang mengeluarkan mereka dan tidak meminta petua dari Allah Pencipta yang telah mengadakan mesin-mesin manusia yang mengkagumkan ini, iaitu mesin manusia yang besar, mulia, halus dan seni, mesin yang tidak diketahui liku-liku dan pintu-pintunya melainkan oleh tukang yang membuatnya sendiri:

“Sesungguhnya Allah amat mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang telah menciptakan (kamu) tidak mengetahui (isi hati kamu), sedangkan Dialah Yang Maha Halus dan Maha Mendalam Ilmu-Nya” (Surah al-Mulk: 13 - 14)

Dari sinilah kecelakaan menimpa umat manusia yang sesat, umat manusia yang sengsara dan bingung, umat manusia yang tidak akan bertemu dengan petunjuk dan hidayat, kerehatan dan kebahagiaan melainkan apabila fitrah mereka (yang rosak itu) dikembalikan kepada Penciptanya yang Maha Besar, sebagaimana mesin-mesin yang murah itu dikembalikan kepada tukang-tukangnya yang arif.

As Syahid Sayyid Qutb

Merenung: Kita dengan Allah swt....

Umat manusia yang diciptakan Allah ini tidak dapat dibuka pintu fitrah yang tertutup itu melainkan dengan anak-anak kunci dari ciptaan Allah itu dan penyakit-penyakitnya tidak boleh diubati melainkan dengan penawar yang dicipta oleh Allah S.W.T. Allah telah menyediakan di dalam sistem hidup yang diaturkan oleh-Nya itu anak-anak kunci untuk membuka segala pintu yang tertutup dan penawar untuk mengubatkan segala penyakit:

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an itu sesuatu yang menjadi rahmat kepada orang-orang yang beriman.” (Surah al-Isra :82 )

“Sesungguhnya aI-Qur’an ini memberi hidayat ke jalan yang amat lurus.” (Surah al-Isra: 9)

Tetapi malangnya umat manusia tidak mahu mengembalikan ibu kunci kepada tukang pembuatnya dan tidak mahu membawa orang sakit kepada penciptanya. Mereka tidak bertindak dalam urusan diri mereka, kemanusiaan mereka, kebahagian atau kecelakaan mereka seperti mereka bertindak dalam urusan mesin-mesin dan alat-alat murah yang digunakan mereka dalam keperluan-keperluan seharian mereka yang kecil.


Mereka tahu jika mesin-mesin dan alat-alat itu rosak mereka akan memanggil mekanik kilang yang membuat mesin itu untuk memperbaikinya, tetapi mereka tidak menggunakan peraturan ini dalam usaha membetulkan manusia sendiri, iaitu dengan mengembalikan mereka kepada kilang yang mengeluarkan mereka dan tidak meminta petua dari Allah Pencipta yang telah mengadakan mesin-mesin manusia yang mengkagumkan ini, iaitu mesin manusia yang besar, mulia, halus dan seni, mesin yang tidak diketahui liku-liku dan pintu-pintunya melainkan oleh tukang yang membuatnya sendiri:

“Sesungguhnya Allah amat mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang telah menciptakan (kamu) tidak mengetahui (isi hati kamu), sedangkan Dialah Yang Maha Halus dan Maha Mendalam Ilmu-Nya” (Surah al-Mulk: 13 - 14)

Dari sinilah kecelakaan menimpa umat manusia yang sesat, umat manusia yang sengsara dan bingung, umat manusia yang tidak akan bertemu dengan petunjuk dan hidayat, kerehatan dan kebahagiaan melainkan apabila fitrah mereka (yang rosak itu) dikembalikan kepada Penciptanya yang Maha Besar, sebagaimana mesin-mesin yang murah itu dikembalikan kepada tukang-tukangnya yang arif.

As Syahid Sayyid Qutb
Kesolehan jiwa dan perilaku kedua ibu bapa memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk kesolehan anak-anak. Bahkan akan memberi manfaat bagi anak, baik du dunia mahupun di akhirat.

Pengaruh-pengaruh ini muncul kerana beberapa faktor, antaranya:-

a. Berkat dan balasan Allah swt atas amal-amal soleh seperti pemeliharaan, perlindungan, keluasan rezeki dan kesihatan yang dikurniakan kepada anak-anak.

b. Kecaman dan balasan Allah swt ke atas amal-amal buruk seperti kesesatan, musibah, penderitaan, penyakit, kebiadaban dan persoalan-persoalan pelik yang menimpa anak.

Justeru, kedua ibu bapa harus memperbanyakkan amal soleh, berakhlak mulis dan sentiasa memelihara hubungan dengan Allah swt dan menjadikan Rasulullah saw sebagai qudwah / suri teladan dalam kehidupan. Allah swt. berfirman yang bermaksud:

"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemahuanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. " (QS: Al Kahfi:82)


Kisah disebalik ayat di atas adalah ketika Nabi Musa as bersama Nabi Khidir as. melewati sebuah perkampungan, keduanya meminta penduduknya agar menyambut dan menjamu mereka. Namun mereka menolak. Kemudian, Nabi Musa as. dan Khidir as. melihat bangunan yang hampir roboh, lalu Khidir as. memperbaiki dinding rumah tersebut hingga tegak kembali. Lalu Musa as. berkata, "Jika engkau berkehendak, tentu engkau boleh mengambil upah atasnya." (Al Kahfi:77). Jawapan Khidir as. atas pernyataan Musa as. tersebut adalah:

"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh." (QS: Al Kahfi:82)

Perhatikanlah, bagaimana Allah swt. menjaga harta simpanan anak yatim tersebut, berkat kesolehan kedua orang tuanya. Apakah anda yakin bahawa harta simpanan yang dipelihara Allah swt tersebut berasal dari usaha yang haram? Tentu tidak! Kerana kedua orang tuanya itu adalah orang soleh, sudah tentu harta tersebut didapati dari jalan halal juga. Allah swt. berfirman yang bermaksud:

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khuatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaul sadid)." (QS: An Nisa':9)

Untuk itu, kita sebagai ibu bapa seharusnya bertaqwa kepada Allah swt. dengan selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan benar.

Wajarkan wahai para ibu bapa, jika tangan tang selalu kita gunakan untuk menganiaya orang digunakan juga untuk memohon kepada Allah agar diberi keturunan yang soleh. Wajarkan kita berdoa kepada Tuhan dengan mulut yang dikotori makanan bersumberkan yang haram, mulut yang berdusta, ghibah, mengadu domba, menghina, caki maki dan memfitnah. Apakah doa anda akan dimakbulkan sedangkan cara hidup kita bercanggah dengan cara hidup Islam.

Maka, sebagai ibu bapa, kita haruslah bertaqwa kepada Allah dengan melaksanakan amal soleh, agar doa dan usaha kita mendidik anak-anak diberkati dan diterima Allah swt.

Anak-anak yang selalu melihat ibu bapanya berzikir, solat dan berdoa, bertahmid, bertadarus quran, bertasbih dan bertakbir akan turut mengikut jejak dan meniru ucapan lailaha illahllah, subhanallah, alhamdulillah dan Allahu akbar dari orang tuanya.

Anak-anak yang di didik oleh orang tuanya pada malam hari untuk memberikan sedekah kepada fakir miskin secara sembunyi-sembunyi, akan berbeza jauh dengan anak-anak yang di suruh oleh orang tuanya, malam-malam untuk membeli rokok secara sembunyi-sembunyi.

Anak- yang selalu diperingatkan oleh ibu bapanya agar selepas solat maghrib membaca dan mentadabbur Al Quran adalah berbeza sahsiahnya dengan anak-anak yang di ajar oleh orang tuanya, selepas maghrib menatap tekun rancangan kartun "hero anak-anak" yang dianggapnya dapat mendidik jiwa anak-anaknya agar jadi soleh.

Anda akan melihat, anak yang selalu mendengar azan akan mengulang-ulang azan tersebut dengan gayanya tersendiri, dan anak yang selalu mendengar orang tuanya menyanyi lagu melalaikan, akan selalu juga mengulang-ulang lagu tersebut dengan gayanya tersendiri dan anda berbangga melihat telatah mereka...

Anak yang selalu diajari solat oleh orang tuanya, berbeza dengan anak yang diajari menonton filem dan mendengar muzik untuk hiburan semata.

Demikian juga anak-anak puteri kita, yang melihat ibunya sentiasa menutup aurat, memelihara malu dan kesucian tubuh dan jiwanya, tentu sang anak juga akan turut terpalit untuk mengikuti jejak ibu yang dikasihi. Sebaliknya anak puteri yang selalu melihat ibunya mendedahkan aurat di hadapan lelaki lain, selalu bersalaman dengan orang yang bukan muhrim, ibu yang sibuk dengan fesyen, gincu dan make up masa kini, maka puteri itu juga akan mempelajari semua perilaku sang ibu.

Justeru, anda sebagai ibu dan ayah, harus bertaqwa kepada Allah. Jadilah teladan yang baik bagi putera puteri mu dalam hal agama, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, akhlak yang ampuh, sahsiah dan peribadi tinggi serta tutur kata yang baik. Andalah sebenarnya "Jurulatih Modal Insan" yang amat penting untuk agama dan negara dalam membina generasi muslim rabbani.

Panduan Pendidikan Anak dari Sheikh Musthafa Al Adawy

Pengaruh Kesolehan Ibu Bapa Dalam pendidikan Anak-anak

Kesolehan jiwa dan perilaku kedua ibu bapa memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk kesolehan anak-anak. Bahkan akan memberi manfaat bagi anak, baik du dunia mahupun di akhirat.

Pengaruh-pengaruh ini muncul kerana beberapa faktor, antaranya:-

a. Berkat dan balasan Allah swt atas amal-amal soleh seperti pemeliharaan, perlindungan, keluasan rezeki dan kesihatan yang dikurniakan kepada anak-anak.

b. Kecaman dan balasan Allah swt ke atas amal-amal buruk seperti kesesatan, musibah, penderitaan, penyakit, kebiadaban dan persoalan-persoalan pelik yang menimpa anak.

Justeru, kedua ibu bapa harus memperbanyakkan amal soleh, berakhlak mulis dan sentiasa memelihara hubungan dengan Allah swt dan menjadikan Rasulullah saw sebagai qudwah / suri teladan dalam kehidupan. Allah swt. berfirman yang bermaksud:

"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemahuanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. " (QS: Al Kahfi:82)


Kisah disebalik ayat di atas adalah ketika Nabi Musa as bersama Nabi Khidir as. melewati sebuah perkampungan, keduanya meminta penduduknya agar menyambut dan menjamu mereka. Namun mereka menolak. Kemudian, Nabi Musa as. dan Khidir as. melihat bangunan yang hampir roboh, lalu Khidir as. memperbaiki dinding rumah tersebut hingga tegak kembali. Lalu Musa as. berkata, "Jika engkau berkehendak, tentu engkau boleh mengambil upah atasnya." (Al Kahfi:77). Jawapan Khidir as. atas pernyataan Musa as. tersebut adalah:

"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh." (QS: Al Kahfi:82)

Perhatikanlah, bagaimana Allah swt. menjaga harta simpanan anak yatim tersebut, berkat kesolehan kedua orang tuanya. Apakah anda yakin bahawa harta simpanan yang dipelihara Allah swt tersebut berasal dari usaha yang haram? Tentu tidak! Kerana kedua orang tuanya itu adalah orang soleh, sudah tentu harta tersebut didapati dari jalan halal juga. Allah swt. berfirman yang bermaksud:

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khuatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaul sadid)." (QS: An Nisa':9)

Untuk itu, kita sebagai ibu bapa seharusnya bertaqwa kepada Allah swt. dengan selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan benar.

Wajarkan wahai para ibu bapa, jika tangan tang selalu kita gunakan untuk menganiaya orang digunakan juga untuk memohon kepada Allah agar diberi keturunan yang soleh. Wajarkan kita berdoa kepada Tuhan dengan mulut yang dikotori makanan bersumberkan yang haram, mulut yang berdusta, ghibah, mengadu domba, menghina, caki maki dan memfitnah. Apakah doa anda akan dimakbulkan sedangkan cara hidup kita bercanggah dengan cara hidup Islam.

Maka, sebagai ibu bapa, kita haruslah bertaqwa kepada Allah dengan melaksanakan amal soleh, agar doa dan usaha kita mendidik anak-anak diberkati dan diterima Allah swt.

Anak-anak yang selalu melihat ibu bapanya berzikir, solat dan berdoa, bertahmid, bertadarus quran, bertasbih dan bertakbir akan turut mengikut jejak dan meniru ucapan lailaha illahllah, subhanallah, alhamdulillah dan Allahu akbar dari orang tuanya.

Anak-anak yang di didik oleh orang tuanya pada malam hari untuk memberikan sedekah kepada fakir miskin secara sembunyi-sembunyi, akan berbeza jauh dengan anak-anak yang di suruh oleh orang tuanya, malam-malam untuk membeli rokok secara sembunyi-sembunyi.

Anak- yang selalu diperingatkan oleh ibu bapanya agar selepas solat maghrib membaca dan mentadabbur Al Quran adalah berbeza sahsiahnya dengan anak-anak yang di ajar oleh orang tuanya, selepas maghrib menatap tekun rancangan kartun "hero anak-anak" yang dianggapnya dapat mendidik jiwa anak-anaknya agar jadi soleh.

Anda akan melihat, anak yang selalu mendengar azan akan mengulang-ulang azan tersebut dengan gayanya tersendiri, dan anak yang selalu mendengar orang tuanya menyanyi lagu melalaikan, akan selalu juga mengulang-ulang lagu tersebut dengan gayanya tersendiri dan anda berbangga melihat telatah mereka...

Anak yang selalu diajari solat oleh orang tuanya, berbeza dengan anak yang diajari menonton filem dan mendengar muzik untuk hiburan semata.

Demikian juga anak-anak puteri kita, yang melihat ibunya sentiasa menutup aurat, memelihara malu dan kesucian tubuh dan jiwanya, tentu sang anak juga akan turut terpalit untuk mengikuti jejak ibu yang dikasihi. Sebaliknya anak puteri yang selalu melihat ibunya mendedahkan aurat di hadapan lelaki lain, selalu bersalaman dengan orang yang bukan muhrim, ibu yang sibuk dengan fesyen, gincu dan make up masa kini, maka puteri itu juga akan mempelajari semua perilaku sang ibu.

Justeru, anda sebagai ibu dan ayah, harus bertaqwa kepada Allah. Jadilah teladan yang baik bagi putera puteri mu dalam hal agama, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, akhlak yang ampuh, sahsiah dan peribadi tinggi serta tutur kata yang baik. Andalah sebenarnya "Jurulatih Modal Insan" yang amat penting untuk agama dan negara dalam membina generasi muslim rabbani.

Panduan Pendidikan Anak dari Sheikh Musthafa Al Adawy

Friday, May 04, 2007


Apa Yang Kita Sibukkan?
Oleh : Cikgu Azmi Bahari


"Saya sibuk sekarang ni''. Saya tak ada masa''. Banyak kerja yang perlu saya siapkan".



Itulah jawapan yang selalu kita dengar bila kita ingin minta bantuan dari kawan-kawan....lebih-lebih lagi ketika kita ingin mengajak rakan kita kepada program-program yang berkaitan dengan Islam.Benarkah semua orang sibuk atau buat-buat sibuk?




Saya yakin memang semua orang sibuk, cuma persoalannya apa yang mereka sibukkan. Kata Imam al Ghazali "rugilah mereka yang sibuk tetapi segala kesibukan mereka hanya untuk dunia sahaja". Bagaimana pula dengan kita...apa yang kita sibukkan, adakah kita sibuk menyiapkan bekalan untuk hari pertemuan dengan Allah SWT atau sebaliknya sibuk dengan kenikmatan dunia hingga menyebabkan hati kita terlalu keras untuk mendengar peringatan atau nasihat? Berapa peratuskah kesibukan kita untuk Akhirat?



Mahukah kita tergolong dalam golongan orang-orang yang rugi sepertimana dimaksudkan oleh Imam Al Ghazali. Dalam satu surah Allah SWT berfirman yang maksudnya "Sesungguhnya orang-orang yang rugi itu adalah orang yang merugikan diri mereka dan ahli keluarga mereka di Hari Qiamat. Itulah 'kerugian' yang sebenarnya".



Sekiranya kita tidak fikirkan sekarang, kita akan menyesal pada hari pertemuan kita dengan Allah SWT, hari dimana akan dibentangkan kitab amalan kita....ada yang akan menerima kitabnya dari sebelah kanan, ada yang akan terima dari sebelah kirinya dan ada pula yang akan menerima kitab amalannya dari belakang...bagaimana pula yang kita harapkan. Dalam surah al Kahfi Allah SWT berfirman yang bermaksud "Dan dibentangkan kitab (Kitab amalan kita yang selama ini dicatat dengan begitu rapioleh malaikat yang menjaga di kiri dan kanan kita), kamu akan dapati orang-orang yang berdosa itu gementar ketakutan melihat apa yang ada di dalamnya, dan mereka berkata...celakalah kami, kitab apakah ini, tidak tinggal olehnya perkara kecil atau perkara besar melainkan semuanya dihitung, dan mereka dapati apa saja yang mereka kerjakan (di dunia) hadir/nampak di hadapan mereka"



Saat-saat beginikah baru kita nak muhasabah diri dan menyesali bahawa kesibukan diri kita selama ini hampir semuanya untuk dunia semata-mata.Apakah nilainya penyesalan kita pada masa itu? Sememangnya ramai yang menyesali perbuatan mereka pada masa itu dan minta supaya dikembalikan ke dunia untuk mereka beramal soleh.....tetapi kebanyakan permintaan ini Allah jawab dengan sindiran, kerana penyesalan ketika itu tidak bermakna lagi, seperti yang Allah rakamkan dalam surah As Sajdah (ayat 12)



"Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabb mereka, mereka berkata....Ya Rabb kami, Kami dah nampak dah, kami dah dengar...kembalikanlah kami (ke dunia), kami nak buat amal soleh, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang yakin"



Apakah nilainya penyesalan kita pada ketika itu...setelah jatuhnya ketetapan Allah ke atas diri kita.Sekaranglah masanya untuk kita renungkan masa-masa yang kita lalui, setakatmanakah ianya benar-benar bermanfaat untuk Akhirat kita dan berhati-hatilah dengan tipu daya dan belitan syaitan, kerana tipu dayanya terlalu halus.



Ibnu Qayyim al Jauziyah memberi beberapa gambaran tentang belitan-belitan syaitan untuk kita sentiasa awasi;



Pertamanya syaitan akan cuba membawa kita kepada syirik dan kekufuran. Syaitan akan mengajak kita kepada perkara-perkara atau keyakinan yang akan merosakkan aqidah kita kepada Allah SWT, mempercayai adanya sesuatu yang boleh menandingi kekuasaan Allah dalam bentuk individu atau sistem. Mungkin dikampung-kampung ada bomoh-bomoh yang boleh melihat nasib kita, bahkan baru-baru ni di sekolah tempat saya mengajar datang seorang MOTIVATOR yang mendakwa dapat bercakap terus dengan Allah swt, boleh berjumpa Rasulullah SAW...boleh melihat masa depan pelajar dan bermacam-macam lagi perkara yang merosakkan Aqidah dan boleh membatalkan amalan kita. Kesannya ramai pelajar-pelajar yang kebingungan. Jadi sekarang ini sudah mula timbul bomoh-bomoh, tukang tenun nasib dan Kahin-kahin zaman moden...dan dalam keadaan masyarakat yang tertekan ini masyarakat akan mudah menerima jalan penyelesaian yang mudah walau terpaksa mengorbankan Aqidah mereka.


Keduanya. Syaitan akan mengajak kita kepada perkara-perkara bid'ah, samada dalam bentuk menambah atau mengurangkan Deen Allah SWT iaitu Islam. Dibisikkan kita untuk menambah apa yang telah Allah putuskan atau mengurang atau menolak sebahagiannya. Kadang-kadang berlakunya kekeliruan dalam persoalan dimana letaknya kesalahan bid'ah. Contohnya ada masyarakat yang meletakkan bid'ahnya membina binaan di atas kuburan kerana memberatkan mayat, jadi dizaman moden ini sudah ada batu bata yang ringan seperti plastik...bahkan kebanyakan bangunan-bangunan di Singapura dan Johor dibina dari bahan seperti ini kerana lebih cepat dan mudah...jadi suatu hari nanti membuat binaan di atas kuburan tidak lagi bid'ah kerana tidak memberatkan mayat. BENARKAH BEGITU ????. Oleh itu perlu kita sedari, beratnya bid'ah itu bukan kerana memberatkan mayat atau sebagainya tetapi adalah natijah dari rosaknya aqidah kita; 1.KITA MERASAKAN BAHAWA ADANYA KEKURANGAN DALAM APA YANG TELAH ALLAH PUTUSKAN, SEOLAH-OLAHNYA ADA PERKARA YANG TIDAK TERMASUK DALAM ILMU ALLAH. 2.ATAUPUN APA YANG DIBAWA OLEH RASULULLAH SAW TIDAK SEMPURNA, ADA PERKARA-PERKARA YANG RASULULLAH SAW TERLUPA UNTUK SAMPAIKAN KEPADA KITA ATAU SENGAJA TIDAK DISAMPAIKAN KERANA PERKARA-PERKARA TERTENTU...JIKA BEGINI MAKA KITA MERAGUI KERASULAN RASULULLAH SAW, BUKANKAH RASULULLAH ITU SALAH SATU SIFATNYA IALAH TABLIGH (bukan jemaah tabligh, dan memang jemaah tabligh menagmbil kalimah tabligh ini dari sifat Rasulullah SAW) IAITU RASULULLAH SAW SAMPAIKAN SEMUA YANG ALLAH SAMPAIKAN KEPADANYA. Inilah perangkap-perangkap yang kita sering tertewas...bahkan banyak lagi yang tidak dapat kita bincangkan dalam ruangan ini.


Ketiga. Sekiranya masih gagal, syaitan akan mengajak kita untuk melakukan dosa-dosa besar; berzina, berjudi, melibatkan diri dengan riba dan sebagainya. Lebih malangnya...hari ini riba diberi nama-nama yang lain yang lebih menarik dan bunyinya 'macam soleh' ada yang disebut bunga, faedah dan sebagainya. Dan sekarang ini terdapat bermacam-macam bentuk perjudian moden, kalau dulu ada loteri...kemudian loteri 'kebajikan' sekarang ini diganti dengan sijil yang dijual di bank-bank, beli dengan harga tertentu...kalau nombor siri sijil yang kita beli itu 'naik' maka kita akan jadi jutawan segera.


Keempat. Sekiranya masih gagal maka syaitan akan mengajak kita pada dosa-dosa kecil sedangkan api yang besar dimulakan dengan ranting-ranting yang kecil. Mula-mula jumpa saja, tak buat apa-apa pun, salahkah kami sekadar nak berkenalan. Lepas tu duduk dekat-dekat sikit, tempat awam bukan bersunyi-sunyian, kemudian mula pimpin tangan ...lintas jalan 'darurat' kononya..lama kelamaan menjadi kebiasaan. Lepas tu mula jumpa di tempat-tempat tak ada orang dan seterusnya hingga terlahirlah anak-anak luar nikah dan sebagainya.


Kelima, jika masih gagal lagi, maka syaitan akan sibukkan kita dengan perkara-perkara mubah atau harus, banyak tidur, banyak ketawa, banyak gurauan hingga hilang kewibawan dan keseriusan kita, masa kita terabai begitu saja.


Keenam. Jika masih gagal lagi maka syaitan akan sibukkan kita dalam perkara-perkara yang kurang utama. Hari ini kita sering mendengar kegembiraan jemaah haji hingga ada yang berkali-kali mengerjakan haji...mengeluarkan belanja puluhan ribu, kami terdengar panggilan Kaabah dan sebagainya. Hinggakan Yusuf al Qaradawi menyebutkan ramai yang ahli-ahli jemaah haji merupakan orang-orang yang sama seperti tahun sebelumnya, bahkan ada yang mengerjakan haji setiap tahun sedangkan menurut Yusuf Al Qaradawi wajib haji hanya sekali sahaja, yang lainnya adalah sunat sahaja. Kita bergembira dengan amalan sunat sedangkan Ummat Islam dibeli aqidahnya di Indonesia dan diserata dunia. Jadi bagaimana kita melihat keutamaan, berdasarkan nafsu kita atau mengikut nilaian Allah SWT. Jika kita hubungkan dengan realiti di Malaysia...terlalu banyak institusi pendidikan Islam yang memerlukan dana untuk bertahan dan berkembang, banyak kerja-kerja dakwah yang memerlukan sumbangan kita....tetapi kita hanya berikan lebihan saja yang lainnya semuanya kita belanjakan dalam urusan yang kurang utama mengikut nilaian Allah SWT.

Apa Yang Kita Sibukkan???


Apa Yang Kita Sibukkan?
Oleh : Cikgu Azmi Bahari


"Saya sibuk sekarang ni''. Saya tak ada masa''. Banyak kerja yang perlu saya siapkan".



Itulah jawapan yang selalu kita dengar bila kita ingin minta bantuan dari kawan-kawan....lebih-lebih lagi ketika kita ingin mengajak rakan kita kepada program-program yang berkaitan dengan Islam.Benarkah semua orang sibuk atau buat-buat sibuk?




Saya yakin memang semua orang sibuk, cuma persoalannya apa yang mereka sibukkan. Kata Imam al Ghazali "rugilah mereka yang sibuk tetapi segala kesibukan mereka hanya untuk dunia sahaja". Bagaimana pula dengan kita...apa yang kita sibukkan, adakah kita sibuk menyiapkan bekalan untuk hari pertemuan dengan Allah SWT atau sebaliknya sibuk dengan kenikmatan dunia hingga menyebabkan hati kita terlalu keras untuk mendengar peringatan atau nasihat? Berapa peratuskah kesibukan kita untuk Akhirat?



Mahukah kita tergolong dalam golongan orang-orang yang rugi sepertimana dimaksudkan oleh Imam Al Ghazali. Dalam satu surah Allah SWT berfirman yang maksudnya "Sesungguhnya orang-orang yang rugi itu adalah orang yang merugikan diri mereka dan ahli keluarga mereka di Hari Qiamat. Itulah 'kerugian' yang sebenarnya".



Sekiranya kita tidak fikirkan sekarang, kita akan menyesal pada hari pertemuan kita dengan Allah SWT, hari dimana akan dibentangkan kitab amalan kita....ada yang akan menerima kitabnya dari sebelah kanan, ada yang akan terima dari sebelah kirinya dan ada pula yang akan menerima kitab amalannya dari belakang...bagaimana pula yang kita harapkan. Dalam surah al Kahfi Allah SWT berfirman yang bermaksud "Dan dibentangkan kitab (Kitab amalan kita yang selama ini dicatat dengan begitu rapioleh malaikat yang menjaga di kiri dan kanan kita), kamu akan dapati orang-orang yang berdosa itu gementar ketakutan melihat apa yang ada di dalamnya, dan mereka berkata...celakalah kami, kitab apakah ini, tidak tinggal olehnya perkara kecil atau perkara besar melainkan semuanya dihitung, dan mereka dapati apa saja yang mereka kerjakan (di dunia) hadir/nampak di hadapan mereka"



Saat-saat beginikah baru kita nak muhasabah diri dan menyesali bahawa kesibukan diri kita selama ini hampir semuanya untuk dunia semata-mata.Apakah nilainya penyesalan kita pada masa itu? Sememangnya ramai yang menyesali perbuatan mereka pada masa itu dan minta supaya dikembalikan ke dunia untuk mereka beramal soleh.....tetapi kebanyakan permintaan ini Allah jawab dengan sindiran, kerana penyesalan ketika itu tidak bermakna lagi, seperti yang Allah rakamkan dalam surah As Sajdah (ayat 12)



"Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabb mereka, mereka berkata....Ya Rabb kami, Kami dah nampak dah, kami dah dengar...kembalikanlah kami (ke dunia), kami nak buat amal soleh, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang yakin"



Apakah nilainya penyesalan kita pada ketika itu...setelah jatuhnya ketetapan Allah ke atas diri kita.Sekaranglah masanya untuk kita renungkan masa-masa yang kita lalui, setakatmanakah ianya benar-benar bermanfaat untuk Akhirat kita dan berhati-hatilah dengan tipu daya dan belitan syaitan, kerana tipu dayanya terlalu halus.



Ibnu Qayyim al Jauziyah memberi beberapa gambaran tentang belitan-belitan syaitan untuk kita sentiasa awasi;



Pertamanya syaitan akan cuba membawa kita kepada syirik dan kekufuran. Syaitan akan mengajak kita kepada perkara-perkara atau keyakinan yang akan merosakkan aqidah kita kepada Allah SWT, mempercayai adanya sesuatu yang boleh menandingi kekuasaan Allah dalam bentuk individu atau sistem. Mungkin dikampung-kampung ada bomoh-bomoh yang boleh melihat nasib kita, bahkan baru-baru ni di sekolah tempat saya mengajar datang seorang MOTIVATOR yang mendakwa dapat bercakap terus dengan Allah swt, boleh berjumpa Rasulullah SAW...boleh melihat masa depan pelajar dan bermacam-macam lagi perkara yang merosakkan Aqidah dan boleh membatalkan amalan kita. Kesannya ramai pelajar-pelajar yang kebingungan. Jadi sekarang ini sudah mula timbul bomoh-bomoh, tukang tenun nasib dan Kahin-kahin zaman moden...dan dalam keadaan masyarakat yang tertekan ini masyarakat akan mudah menerima jalan penyelesaian yang mudah walau terpaksa mengorbankan Aqidah mereka.


Keduanya. Syaitan akan mengajak kita kepada perkara-perkara bid'ah, samada dalam bentuk menambah atau mengurangkan Deen Allah SWT iaitu Islam. Dibisikkan kita untuk menambah apa yang telah Allah putuskan atau mengurang atau menolak sebahagiannya. Kadang-kadang berlakunya kekeliruan dalam persoalan dimana letaknya kesalahan bid'ah. Contohnya ada masyarakat yang meletakkan bid'ahnya membina binaan di atas kuburan kerana memberatkan mayat, jadi dizaman moden ini sudah ada batu bata yang ringan seperti plastik...bahkan kebanyakan bangunan-bangunan di Singapura dan Johor dibina dari bahan seperti ini kerana lebih cepat dan mudah...jadi suatu hari nanti membuat binaan di atas kuburan tidak lagi bid'ah kerana tidak memberatkan mayat. BENARKAH BEGITU ????. Oleh itu perlu kita sedari, beratnya bid'ah itu bukan kerana memberatkan mayat atau sebagainya tetapi adalah natijah dari rosaknya aqidah kita; 1.KITA MERASAKAN BAHAWA ADANYA KEKURANGAN DALAM APA YANG TELAH ALLAH PUTUSKAN, SEOLAH-OLAHNYA ADA PERKARA YANG TIDAK TERMASUK DALAM ILMU ALLAH. 2.ATAUPUN APA YANG DIBAWA OLEH RASULULLAH SAW TIDAK SEMPURNA, ADA PERKARA-PERKARA YANG RASULULLAH SAW TERLUPA UNTUK SAMPAIKAN KEPADA KITA ATAU SENGAJA TIDAK DISAMPAIKAN KERANA PERKARA-PERKARA TERTENTU...JIKA BEGINI MAKA KITA MERAGUI KERASULAN RASULULLAH SAW, BUKANKAH RASULULLAH ITU SALAH SATU SIFATNYA IALAH TABLIGH (bukan jemaah tabligh, dan memang jemaah tabligh menagmbil kalimah tabligh ini dari sifat Rasulullah SAW) IAITU RASULULLAH SAW SAMPAIKAN SEMUA YANG ALLAH SAMPAIKAN KEPADANYA. Inilah perangkap-perangkap yang kita sering tertewas...bahkan banyak lagi yang tidak dapat kita bincangkan dalam ruangan ini.


Ketiga. Sekiranya masih gagal, syaitan akan mengajak kita untuk melakukan dosa-dosa besar; berzina, berjudi, melibatkan diri dengan riba dan sebagainya. Lebih malangnya...hari ini riba diberi nama-nama yang lain yang lebih menarik dan bunyinya 'macam soleh' ada yang disebut bunga, faedah dan sebagainya. Dan sekarang ini terdapat bermacam-macam bentuk perjudian moden, kalau dulu ada loteri...kemudian loteri 'kebajikan' sekarang ini diganti dengan sijil yang dijual di bank-bank, beli dengan harga tertentu...kalau nombor siri sijil yang kita beli itu 'naik' maka kita akan jadi jutawan segera.


Keempat. Sekiranya masih gagal maka syaitan akan mengajak kita pada dosa-dosa kecil sedangkan api yang besar dimulakan dengan ranting-ranting yang kecil. Mula-mula jumpa saja, tak buat apa-apa pun, salahkah kami sekadar nak berkenalan. Lepas tu duduk dekat-dekat sikit, tempat awam bukan bersunyi-sunyian, kemudian mula pimpin tangan ...lintas jalan 'darurat' kononya..lama kelamaan menjadi kebiasaan. Lepas tu mula jumpa di tempat-tempat tak ada orang dan seterusnya hingga terlahirlah anak-anak luar nikah dan sebagainya.


Kelima, jika masih gagal lagi, maka syaitan akan sibukkan kita dengan perkara-perkara mubah atau harus, banyak tidur, banyak ketawa, banyak gurauan hingga hilang kewibawan dan keseriusan kita, masa kita terabai begitu saja.


Keenam. Jika masih gagal lagi maka syaitan akan sibukkan kita dalam perkara-perkara yang kurang utama. Hari ini kita sering mendengar kegembiraan jemaah haji hingga ada yang berkali-kali mengerjakan haji...mengeluarkan belanja puluhan ribu, kami terdengar panggilan Kaabah dan sebagainya. Hinggakan Yusuf al Qaradawi menyebutkan ramai yang ahli-ahli jemaah haji merupakan orang-orang yang sama seperti tahun sebelumnya, bahkan ada yang mengerjakan haji setiap tahun sedangkan menurut Yusuf Al Qaradawi wajib haji hanya sekali sahaja, yang lainnya adalah sunat sahaja. Kita bergembira dengan amalan sunat sedangkan Ummat Islam dibeli aqidahnya di Indonesia dan diserata dunia. Jadi bagaimana kita melihat keutamaan, berdasarkan nafsu kita atau mengikut nilaian Allah SWT. Jika kita hubungkan dengan realiti di Malaysia...terlalu banyak institusi pendidikan Islam yang memerlukan dana untuk bertahan dan berkembang, banyak kerja-kerja dakwah yang memerlukan sumbangan kita....tetapi kita hanya berikan lebihan saja yang lainnya semuanya kita belanjakan dalam urusan yang kurang utama mengikut nilaian Allah SWT.

Soalan:

Assalamualaikum,

Saya sebagai seorang isteri ingin membuat pertanyaan tentang kemusykilan saya tentang hak2 dan keutamaan saya sebagai seorang isteri. Ini kerana suami saya kelihatannya jauh lebih mementingkan kaum keluarganya sendiri berbanding isteri dan anaknya. Dia sering mengutamakan kepentingan saudara maranya dan sering membanding-bandingkan saya dengan anak2 saudaranya dan pernah menyuruh saya bersolek seperti anak saudara perempuannya. Sebagai seorang isteri tentu sahaja hati saya terguris.

Bila saya menyuarakan rasa hati alasan yang deberikan adalah kerana mereka semua telah lama bersamanya berbanding saya. Tindakannya meyebabkan saya sering berkecil hati.

Terima kasih.

BungaBiru

Jawapan1 :

Jawapan 1:

Saya ucapkan terima kasih diatas pertanyaan puan.

1. Kita rasa bangga sekiranya suami memberi nasihat dan teguran demi membina rumahtangga dan kasih sayang yang (mawaddah dan rahmah,)lagipun suami sebagai ketua keluarga.

2. Berhubung dengan sikap suami yang mementingkan ahli keluarganya sendiri saya berpendapat agar perkara ini dibincangkan bersama. kerana suami bertanggungjawab ke atas isteri,anak-anak dan ahli keluarga.

Akhirnya saya bersedia membentu sekiranya pasangan ini bersedia untuk berbincang.

Sekian, terima kasih.

Ustaz Salleh Saad

Penasihat Akademi Tarbawi

Jawapan 2

Sebelum menjawab persoalan ini, perlu dinyatakan jawapan ini hanyalah berdasarkan aduan puan yang menyoal. Kerana kami tidak mengetahui situasi yang sebenar dan hakiki. Ini juga disebabkan bila timbulnya sesuatu masalah, seringkali pihak isteri yang membuat pengaduan, bukan suami. Mungkin kerana sifat perempuan yang lebih mudah meluahkan rasa tidak puas hati mereka berbanding kaum lelaki, walaupun kadang-kadang punca masalah berbalik kepada kaum wanita sebenarnya.

Berbalik kepada soalan tindakan suami puan itu andainya aduan ini benar, maka amat tidak wajar sekali. Suami wajib mengutamakan ahli keluarganya dahulu berbanding kaum kerabat kerana suami akan ditanya tentang ahli keluarganya dahulu diakhirat nanti. Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud “ Manusia berdosa bila ia mensia-siakan orang yang ditanggung belanjanya”. Dalam riwayat lain, dari Jabir r.a, nabi bersabda yang bermaksud “Yang pertama kali diletakkan di timbangan amal manusia ialah nafkah kepada keluarganya”. Nafkah bukan sahaja yang zahir seperti makan minum sahaja, tetapi juga nafkah batin seperti keperluan seksual, kasih-sayang, kemesraan, hormat-menghormati dan sebagainya. Tentang sanak-saudara lain juga ada kewajipan yang mesti ditunaikan, tetapi mestilah diketahui keutamaan. Sanak-saudara suami puan, ada orang lain yang lebih perlu bertanggung jawab ke atas mereka berbanding suami puan. Namun puan jangan sampai menghalangnya pula dari menunaikan hak-hak sanak-saudaranya.

Berkenaan dengan bersolek, tidak ada salahnya jika isteri bersolek untuk menyenangkan pandangan suami. Malah bersolek, menghias diri, berdandan dan berwangi-wangian untuk suami itu adalah satu tanggungjawab isteri. Tetapi jika berhias untuk dilihat oleh selain suami dan lelaki-lelaki bukan muhrim, maka hukumnya sudah menjadi haram. Ketaatan seorang isteri kepada suami tertakluk dalam batasan syarak. Tidak boleh isteri taat kepada suami sekiranya arahan suami untuk melakukan sesuatu yang dimurkai Allah.

Membandingkan isteri dengan orang lain adalah tidak wajar kerana sudah menjadi sunnatullah makhluk sentiasa berbeza-beza kelebihan dan kekurangan diri. Sebagai bersangka baik, boleh jadi suami puan sekadar ingin memberi contoh semata-mata. Ikut sahajalah seleranya selagi tidak menyalahi hukum syarak.

Adalah dicadangkan puan menggunakan orang tengah yang sangat dihormati oleh suami puan untuk menyampaikan nasihat. Disamping puan juga wajib terus menunaikan hak-hak suami puan demi menjaga hatinya supaya menjadi lembut dan mengasihi puan seperti di awal perkahwinan. Dan akhir sekali, kesabaran seorang isteri di atas kelemahan diri suami pasti ada ganjarannya di sisi Allah. Wallahu a’lam.

Ustaz Rizal Ariffin

Penasihat Akademi Tarbawi


Masalah Suami Isteri

Soalan:

Assalamualaikum,

Saya sebagai seorang isteri ingin membuat pertanyaan tentang kemusykilan saya tentang hak2 dan keutamaan saya sebagai seorang isteri. Ini kerana suami saya kelihatannya jauh lebih mementingkan kaum keluarganya sendiri berbanding isteri dan anaknya. Dia sering mengutamakan kepentingan saudara maranya dan sering membanding-bandingkan saya dengan anak2 saudaranya dan pernah menyuruh saya bersolek seperti anak saudara perempuannya. Sebagai seorang isteri tentu sahaja hati saya terguris.

Bila saya menyuarakan rasa hati alasan yang deberikan adalah kerana mereka semua telah lama bersamanya berbanding saya. Tindakannya meyebabkan saya sering berkecil hati.

Terima kasih.

BungaBiru

Jawapan1 :

Jawapan 1:

Saya ucapkan terima kasih diatas pertanyaan puan.

1. Kita rasa bangga sekiranya suami memberi nasihat dan teguran demi membina rumahtangga dan kasih sayang yang (mawaddah dan rahmah,)lagipun suami sebagai ketua keluarga.

2. Berhubung dengan sikap suami yang mementingkan ahli keluarganya sendiri saya berpendapat agar perkara ini dibincangkan bersama. kerana suami bertanggungjawab ke atas isteri,anak-anak dan ahli keluarga.

Akhirnya saya bersedia membentu sekiranya pasangan ini bersedia untuk berbincang.

Sekian, terima kasih.

Ustaz Salleh Saad

Penasihat Akademi Tarbawi

Jawapan 2

Sebelum menjawab persoalan ini, perlu dinyatakan jawapan ini hanyalah berdasarkan aduan puan yang menyoal. Kerana kami tidak mengetahui situasi yang sebenar dan hakiki. Ini juga disebabkan bila timbulnya sesuatu masalah, seringkali pihak isteri yang membuat pengaduan, bukan suami. Mungkin kerana sifat perempuan yang lebih mudah meluahkan rasa tidak puas hati mereka berbanding kaum lelaki, walaupun kadang-kadang punca masalah berbalik kepada kaum wanita sebenarnya.

Berbalik kepada soalan tindakan suami puan itu andainya aduan ini benar, maka amat tidak wajar sekali. Suami wajib mengutamakan ahli keluarganya dahulu berbanding kaum kerabat kerana suami akan ditanya tentang ahli keluarganya dahulu diakhirat nanti. Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud “ Manusia berdosa bila ia mensia-siakan orang yang ditanggung belanjanya”. Dalam riwayat lain, dari Jabir r.a, nabi bersabda yang bermaksud “Yang pertama kali diletakkan di timbangan amal manusia ialah nafkah kepada keluarganya”. Nafkah bukan sahaja yang zahir seperti makan minum sahaja, tetapi juga nafkah batin seperti keperluan seksual, kasih-sayang, kemesraan, hormat-menghormati dan sebagainya. Tentang sanak-saudara lain juga ada kewajipan yang mesti ditunaikan, tetapi mestilah diketahui keutamaan. Sanak-saudara suami puan, ada orang lain yang lebih perlu bertanggung jawab ke atas mereka berbanding suami puan. Namun puan jangan sampai menghalangnya pula dari menunaikan hak-hak sanak-saudaranya.

Berkenaan dengan bersolek, tidak ada salahnya jika isteri bersolek untuk menyenangkan pandangan suami. Malah bersolek, menghias diri, berdandan dan berwangi-wangian untuk suami itu adalah satu tanggungjawab isteri. Tetapi jika berhias untuk dilihat oleh selain suami dan lelaki-lelaki bukan muhrim, maka hukumnya sudah menjadi haram. Ketaatan seorang isteri kepada suami tertakluk dalam batasan syarak. Tidak boleh isteri taat kepada suami sekiranya arahan suami untuk melakukan sesuatu yang dimurkai Allah.

Membandingkan isteri dengan orang lain adalah tidak wajar kerana sudah menjadi sunnatullah makhluk sentiasa berbeza-beza kelebihan dan kekurangan diri. Sebagai bersangka baik, boleh jadi suami puan sekadar ingin memberi contoh semata-mata. Ikut sahajalah seleranya selagi tidak menyalahi hukum syarak.

Adalah dicadangkan puan menggunakan orang tengah yang sangat dihormati oleh suami puan untuk menyampaikan nasihat. Disamping puan juga wajib terus menunaikan hak-hak suami puan demi menjaga hatinya supaya menjadi lembut dan mengasihi puan seperti di awal perkahwinan. Dan akhir sekali, kesabaran seorang isteri di atas kelemahan diri suami pasti ada ganjarannya di sisi Allah. Wallahu a’lam.

Ustaz Rizal Ariffin

Penasihat Akademi Tarbawi


Death is Certain

This is a tale of an average man,

Who acts contrary to Allah's Plan,

If you are reflected herein,

Then repent, and commit no sin

It was early in the morning at four,

When death knocked upon a bedroom door,

"Who is There?" the sleeping one cried,

"I'm Azrael, let me inside."

At once, the man began to shiver,

As one sweating in deadly fever,

He shouted to his sleeping wife,

"Don't let him take away my life."

"Please go away, O Angel of Death!

Leave me alone I am not ready yet.

My family on me depend,

Give me chance, O please perpend!"

The Angel knocked again and again,

"Friend! I will take your life without a pain.

It's your soul that Allah doth require

I come not with my own desire."

Bewildered, the man began to cry,

"O Angel! I am so afraid to die.

I will give you gold, and be your slave,

Don't send me to the unlit grave."

"Let me in, O Friend!", the Angel said,

"Open the door, get up from your bed,

If you do not allow me in,

I will walk through it like a Jinn"

The man held a gun in his right hand,

Ready to defy the Angel's stand.

"I will point my gun towards your head,

If you dare come in, I will shoot you dead."

By now, the Angel was in the room,

Saying, "O friend prepare for your doom.

Foolish man, Angels never die,

Put down your gun and do not sigh."

"Why are you afraid! Tell me O man,

To die according to Allah's plan?

Come, smile at me, do not be grim,

Be happy to return to Him."

"O Angel! I bow my head in shame,

I had no time to recite Allah's name,

From morn' till dusk, I made my wealth,

Not even caring for my health."

"Allah's commands, I never obeyed,

Nor five times a day I ever prayed.

A Ramadhan came, a Ramadhan went,

But no time had I to repent."

"The Hajj was already farz on me,

but I would not part with my money.

All charities, I did ignore.

Taking usury more and more."

"Some time I sipped my favorite wine,

with flirting women I sat to dine.

O Angel I appeal to you,

Spare my life for a year or two.

"The laws of the Quran I will obey,

I will begin Salaat this very day,

My fast and Hajj I will complete,

and keep away from self concet.

"I will refrain from usury,

and give all my wealth to charity.

Wine and wenches I will detest,

Allah's oneness I will attest."

"We Angels do what Allah demands,

We can not go against his commands.

Death is ordained for everyone,

Father, Mother, Daughter or son."

"I'm afraid, this moment is your last.

Now be reminded, more of your past.

I do understand your fears,

But it is now too late for tears."

"You lived in this world, two score or more,

Never did you, your people adore.

Your parents, you did not obey,

Hungry beggars, you turned away."

"Your two ill-gotten, female offspring,

In nightclubs, for livelihodd they sing.

Instead of making more Muslims,

You made your children non-muslim."

"You ignored the Muezzin's Azaan,

Nor did you read the Holy Quran.

Breaking promises all your life,

Backbiting friends and causing strife."

"From hoarded goods, great profits you made,

And your poor workers, you underpaid.

Horses and cards were your leisure,

Money making was your pleasure."

"You ate vitamins and grew more fat,

with the very poor and sick, you never sat.

A pint of blood you never gave,

which could a little baby save."

"O human, you have done enough wrong,

You bought properties for a song.

When the farmers appealed to you,

You did not have mercy, 'tis true."

"Paradise for you? I cannot tell,

Undoubtedly you will dwell in Hell.

There's no time for you to repent,

I'll take your soul, for which I am sent."

The ending, however, is very sad,

Eventually the man became mad.

With a cry he jumped out of bed,

And suddenly, he fell dead.

O Reader, take a moral from here,

Never know, your end may be near.

Change your living and make amends,

For heaven on your deeds depends.

This poem is woven around the following Quraanic verse:

"WHEREVER YOU BE DEATH WILL OVERTAKE YOU OUT, EVEN IF YOU BE IN TOWERS STRONG AND LOFTY."

NB: This poem was copied from the book "Death is Certain" by PET Publications, Peermohamad Ebrahim Trust., 139, Faran Housing Society, Karachi-74800 (Pakistan)

DEATH IS CERTAIN

Death is Certain

This is a tale of an average man,

Who acts contrary to Allah's Plan,

If you are reflected herein,

Then repent, and commit no sin

It was early in the morning at four,

When death knocked upon a bedroom door,

"Who is There?" the sleeping one cried,

"I'm Azrael, let me inside."

At once, the man began to shiver,

As one sweating in deadly fever,

He shouted to his sleeping wife,

"Don't let him take away my life."

"Please go away, O Angel of Death!

Leave me alone I am not ready yet.

My family on me depend,

Give me chance, O please perpend!"

The Angel knocked again and again,

"Friend! I will take your life without a pain.

It's your soul that Allah doth require

I come not with my own desire."

Bewildered, the man began to cry,

"O Angel! I am so afraid to die.

I will give you gold, and be your slave,

Don't send me to the unlit grave."

"Let me in, O Friend!", the Angel said,

"Open the door, get up from your bed,

If you do not allow me in,

I will walk through it like a Jinn"

The man held a gun in his right hand,

Ready to defy the Angel's stand.

"I will point my gun towards your head,

If you dare come in, I will shoot you dead."

By now, the Angel was in the room,

Saying, "O friend prepare for your doom.

Foolish man, Angels never die,

Put down your gun and do not sigh."

"Why are you afraid! Tell me O man,

To die according to Allah's plan?

Come, smile at me, do not be grim,

Be happy to return to Him."

"O Angel! I bow my head in shame,

I had no time to recite Allah's name,

From morn' till dusk, I made my wealth,

Not even caring for my health."

"Allah's commands, I never obeyed,

Nor five times a day I ever prayed.

A Ramadhan came, a Ramadhan went,

But no time had I to repent."

"The Hajj was already farz on me,

but I would not part with my money.

All charities, I did ignore.

Taking usury more and more."

"Some time I sipped my favorite wine,

with flirting women I sat to dine.

O Angel I appeal to you,

Spare my life for a year or two.

"The laws of the Quran I will obey,

I will begin Salaat this very day,

My fast and Hajj I will complete,

and keep away from self concet.

"I will refrain from usury,

and give all my wealth to charity.

Wine and wenches I will detest,

Allah's oneness I will attest."

"We Angels do what Allah demands,

We can not go against his commands.

Death is ordained for everyone,

Father, Mother, Daughter or son."

"I'm afraid, this moment is your last.

Now be reminded, more of your past.

I do understand your fears,

But it is now too late for tears."

"You lived in this world, two score or more,

Never did you, your people adore.

Your parents, you did not obey,

Hungry beggars, you turned away."

"Your two ill-gotten, female offspring,

In nightclubs, for livelihodd they sing.

Instead of making more Muslims,

You made your children non-muslim."

"You ignored the Muezzin's Azaan,

Nor did you read the Holy Quran.

Breaking promises all your life,

Backbiting friends and causing strife."

"From hoarded goods, great profits you made,

And your poor workers, you underpaid.

Horses and cards were your leisure,

Money making was your pleasure."

"You ate vitamins and grew more fat,

with the very poor and sick, you never sat.

A pint of blood you never gave,

which could a little baby save."

"O human, you have done enough wrong,

You bought properties for a song.

When the farmers appealed to you,

You did not have mercy, 'tis true."

"Paradise for you? I cannot tell,

Undoubtedly you will dwell in Hell.

There's no time for you to repent,

I'll take your soul, for which I am sent."

The ending, however, is very sad,

Eventually the man became mad.

With a cry he jumped out of bed,

And suddenly, he fell dead.

O Reader, take a moral from here,

Never know, your end may be near.

Change your living and make amends,

For heaven on your deeds depends.

This poem is woven around the following Quraanic verse:

"WHEREVER YOU BE DEATH WILL OVERTAKE YOU OUT, EVEN IF YOU BE IN TOWERS STRONG AND LOFTY."

NB: This poem was copied from the book "Death is Certain" by PET Publications, Peermohamad Ebrahim Trust., 139, Faran Housing Society, Karachi-74800 (Pakistan)

This entry was posted in :

Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah