Showing posts with label Tarbiyah. Show all posts
Showing posts with label Tarbiyah. Show all posts

Monday, May 06, 2013


Di Jalan Dakwah..... Aku Mengenal Tarbiyah...

Di Jalan Dakwah ini kehidupanku berubah menjadi lebih bermakna...

Di Jalan Dakwah ini aku bercita untuk mengikuti perjuangan Nabi SAW dan para sahabatnya...

Di Jalan Dakwah ini aku mengenal para murabbi yang jujur untuk didampingi

Di Jalan Dakwah ini aku dambakan syurga Ilahi dan syahid...

Di Jalan Dakwah ini aku mengerti makna ukhwah di jalan Islami...

Di Jalan Dakwah ini aku merindukan taubat dan petunjuk Ilahi...

Di Jalan Dakwah ini aku terdorong membangunkan potensi dan kekuatan diri...

Di Jalan Dakwah ini aku belajar erti perjuangan dan jihad

Di Jalan Dakwah ini aku garap citaku membangunkan jiwa anak bangsa dan umat...

Di Jalan Dakwah ini setiap langkah jadi bermakna...

Di Jalan Dakwah ini aku mencintai isteriku tercinta...

Di Jalan Dakwah ini aku membina keluarga dakwahku...

Dan Di Jalan Dakwah ini aku bertebaran dengan visi dan misi Ilahi...

Allahu Rabbi, Dakwah telah memberiku lebih banyak dari apa yang seharusnya aku beri....

Ya Allah, semoga aku mampu istiqamah di Jalan Dakwah ini dan jangan biarkan aku meninggalkan Jalan Dakwah tanpa sesal di dada...

Abu Ridhwan, 6 Mei 2013, Kuantan Pahang.

Di Jalan Dakwah Aku Mengenal Tarbiyah


Di Jalan Dakwah..... Aku Mengenal Tarbiyah...

Di Jalan Dakwah ini kehidupanku berubah menjadi lebih bermakna...

Di Jalan Dakwah ini aku bercita untuk mengikuti perjuangan Nabi SAW dan para sahabatnya...

Di Jalan Dakwah ini aku mengenal para murabbi yang jujur untuk didampingi

Di Jalan Dakwah ini aku dambakan syurga Ilahi dan syahid...

Di Jalan Dakwah ini aku mengerti makna ukhwah di jalan Islami...

Di Jalan Dakwah ini aku merindukan taubat dan petunjuk Ilahi...

Di Jalan Dakwah ini aku terdorong membangunkan potensi dan kekuatan diri...

Di Jalan Dakwah ini aku belajar erti perjuangan dan jihad

Di Jalan Dakwah ini aku garap citaku membangunkan jiwa anak bangsa dan umat...

Di Jalan Dakwah ini setiap langkah jadi bermakna...

Di Jalan Dakwah ini aku mencintai isteriku tercinta...

Di Jalan Dakwah ini aku membina keluarga dakwahku...

Dan Di Jalan Dakwah ini aku bertebaran dengan visi dan misi Ilahi...

Allahu Rabbi, Dakwah telah memberiku lebih banyak dari apa yang seharusnya aku beri....

Ya Allah, semoga aku mampu istiqamah di Jalan Dakwah ini dan jangan biarkan aku meninggalkan Jalan Dakwah tanpa sesal di dada...

Abu Ridhwan, 6 Mei 2013, Kuantan Pahang.

Monday, April 23, 2012



Sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa akhirat menjadi obsesinya, maka Allah menjadikan semua urusannya lancar, hatinya kaya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa dunia menjadi obsesinya, maka Allah mengacaukan semua urusannya, menjadikannya miskin dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya.” Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad shahih

Barangsiapa akhirat menjadi kesibukan utamanya dan obsesinya (tujuan), maka setiap hari ia ingat perjalanan hidupnya kelak, apa pun yang ia lihat di dunia pasti ia hubungkan dengan akhirat, dan akhirat selalu ia sebut di setiap pembahasannya. Ia tidak bahagia kecuali kerana akhirat, tidak sedih kecuali kerana akhirat. Tidak redha kecuali kerana akhirat. Tidak marah kecuali kerana akhirat. Tidak bergerak, kecuali kerana akhirat. Dan tidak berusaha kecuali kerana akhirat.

Siapa saja yang dapat melaksanakan arah hidupnya sebagaimana di dalam hadis di atas, ia diberi tiga kenikmatan oleh Allah SWT. Nikmat yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya. Iaitu orang-orang yang menyiapkan jiwa mereka hanya untuk ALLAH SWT dan tidak ada selain DIA yang masuk ke hati mereka, baik dalam bentuk berhala-berhala dunia, atau perhiasan, atau kebendaan mahupun pemikiran .

Nikmat tersebut adalah:
1. Seluruh urusan lancar
Allah SWT memberinya ketenteraman dan kedamaian, mengumpulkan semua ideanya, meminimakan sifat lupanya, mengharmonikan keluarganya, menambah jalinan kasih sayang antara dirinya dan pasangannya, merukunkan anak-anaknya, mendekatkan anak-anak padanya, menyatukan kaum kerabat, menjauhkan konflik dari mereka, mengumpulkan hartanya, ia tidak gundah dan bimbang memikirkan pekerjaannya atau perniagaannya yang tidak begitu lancer perjalanannya, tidak bertindak seperti orang bodoh, membuat hati manusia terarah padanya, siapapun mencintainya dan melancarkan urusan-urusan yang lain.

2. Kaya hati
Nikmat yang paling agung adalah kaya hati, sebab Rasulullah SAW bersabda dalam hadis shahih, yang ertinya;

“ Kekayaan hakiki bukan bererti harta melimpah. Tapi, kekayaan ialah kekayaan hati” (HR. Muslim)

Imam Al Nawawi berkata; maksudnya, kekayaan terpuji itu bukan banyak harta dan perabot mahupun kewangan. Telah banyak sekali orang dibuat kaya oleh Allah, namun kekayaannya yang banyak itu tidak bermanfaat baginya dan ia berterusan mengejar dan menambah kekayaannya, tanpa peduli dari mana sumbernya.

Ia seperti orang miskin, kerana begitu kuat keinginannya. Orang berselera sedemikian itu miskin selama-lamanya. Tapi, kekayaan terpuji dan ideal menurut orang-orang sempurna adalah kekayaan hati.

Di riwayat lain disebutkan kekayaan jiwa. Maksudnya, orang yang punya kekayaan jiwa merasa senang dan redha dengan setiap rezekinya, menerimanya dengan lapang dada, dan syukur dengannya, tanpa memburu dan meminta-minta sehingga melupakan Tuhannya.
Barangsiapa dijaga jiwanya dari kerakusan, maka jiwanya tenteram, barakah, mendapatkan kebersihan, kemuliaan, dan pujian. Itu semua jauh lebih hebat dibandingkan dengan kekayaan yang diterima orang yang miskin hatinya. Kekayaan membuat orang yang miskin hati terpuruk dalam hal-hal hina dan perbuatan-perbuatan murahan, kerana kecilnya obsesi yang ia miliki. Akibatnya, ia menjadi orang kerdil di mata orang, hina di jiwa mereka, dan menjadi orang paling hina di sisi Allah.

Jika seseorang punya harta yang berlimpah, namun ia tidak qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki yang diberikan Allah SWT kepadanya, maka ia hidup terengah-engah seperti binatang buas dan menjadikan hartanya sebagai tuhan baru. Sungguh, ia orang miskin sejati, kerana orang miskin ialah orang yang selalu tidak punya harta dan senantiasa merasa memerlukannya.

Dikisahkan, seseorang berkata kepada orang zuhud, Ibrahim bin Adham, lalu berkata, “saya ingin anda menerima jubah ini dariku.” Ibrahim bin Adham berkata,”Kalau anda kaya, saya mahu menerima hadiah ini. Jika anda miskin, saya tidak mahu menerimanya.” Orang itu berkata,”saya orang kaya.”

Ibrahim bin Adham berkata,”Anda punya jubah berapa?” Orang itu menjawab,”Dua ribu jubah.” Ibrahim bin Adham berkata,”Apakah Anda ingin punya empat ribu jubah?” Orang itu menjawab, “Ya.” Ibrahim bin Adham berkata,”Kalau begitu anda miskin (kerana masih memerlukan jubah lebih banyak lagi). Saya tidak mahu menerima hadiah jubah ini darimu.”

3. Dunia datang kepadanya
Saat ia lari dari dunia, justeru dunia mengejarnya dalam keadaan tunduk. Seperti yang dikatakan Ibnu Al-Jauzi;

“Dunia itu bayangan. Jika engkau berpaling dari bayangan, maka bayangan itu mengekorimu. Jika engkau memburu bayangan, maka bayangan menghindari darimu. Orang zuhud tidak menoleh kepada bayangan malah diikuti bayangan. Sedangkan orang rakus tidak melihat bayangan setiapkali ia menoleh kepadanya.”

Sedang orang yang dunia menjadi obsesinya, ia hanya memikirkan dunia, bekerja kerananya, peduli kepadanya, tidak bahagia kecuali kerananya, tidak berteman dan memusuhi orang kerananya. Akibatnya, ia dihukum Allah dengan tiga hukuman;

1. Urusannya kacau
Allah SWT mengacaukan semua urusannya. Hatinya menjadi gundah tidak tenang, fikirannya kacau, jiwanya goncang dan kalut dalam hal yang kecil, apatah lagi yang besar. Allah SWT mengacau hartanya, mengacaukan anak-anak dan pasangannya. Allah SWT membuat manusia antipati kepadanya. Tidak ada seorangpun yang mencintainya sebab Allah SWT menentukannya dibenci orang di bumi.

2. Selalu miskin
Hukuman ini membuatnya selalu tidak puas, padahal memiliki harta banyak. Ia senantiasa merasa miskin. Dan itu menjadikannya lari hingga termengah-mengah di belakang harta.

3. Dunia lari darinya
Dunia selalu lari darinya. Ia memburu dunia namun dijauhi dan ia berlari dibelakangnya, persis seperti orang yang menyangka fatamorgana itu air. Ketika ia tiba di fatamorgana, ia tidak mendapatkan apa-apa.

Inilah yang membuat Utsman bin Affan RA berkata, “Obsesi dunia itu kegelapan di hati, sedang obsesi kepada akhirat itu cahaya di hati.”

Bagaimana karakteristik dari orang-orang yang terobsesi pada akhirat?
Kita dapat mengukur dengan membandingkannya pada diri kita. Sebelum mengenali cirinya, ada tiga kelompok yang perlu kita perhatikan:

1. Orang yang lebih sibuk dengan akhirat daripada dunia.
Mereka membuat hidupnya didominasi oleh akhirat. Dunia hanya diletakkan digenggaman tangannya bukan di hatinya. Ini adalah kelompok orang yang berjaya dengan sebenarnya.

2. Orang yang lebih sibuk dengan dunia daripada akhirat
Mereka begitu cinta dunia hingga dunia menguasainya dan membuatnya lupa total kepada akhirat dan mereka juga tidak tahu bahawa dunia itu jambatan menuju akhirat. Ini adalah kelompok orang yang celaka.

3. Orang yang sibuk dengan keduanya sekaligus.
Mereka tidak ingin masuk pada kelompok pertama atau kedua, namun ingin mendapatkan sebahagian karakteristik kelompok pertama dan sebahagian kelompok kedua. Ini adalah kelompok orang yang dalam keadaan kritikal.

Tentunya kita tidak ingin masuk ke dalam kelompok kedua dan ketiga, justeru kita perlu mengetahui karakteristik kelompok pertama iaitu orang-orang yang berjaya.

Karakteristik dari kelompok pertama antara lain:

1. Sedih kerana akhirat
Sedih kerana akhirat membuat dirinya punya perasaan takut kepada Allah Ta’ala menghisab dirinya pada Hari Kiamat, lalu ia menghisab dirinya sebelum ia dihisab kelak di akhirat.

2. Selalu mengadakan Muhasabah (evaluasi diri)
Umar bin Khattab RA berkata “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan, bersiap-siaplah menghadapi Hari Kiamat.”

3. Selalu beramal untuk akhirat
Amal soleh bukan hanya solat, puasa, membaca Al-Qur’an dan zikir, tapi amal soleh adalah apa saja yang dicintai Allah Ta’ala.

4. Terkesan pada jiwanya melihat kematian
Seorang tabi’in Ibrahim An Nakhai berkata, “Jika kami datang ke rumah orang yang meninggal atau mendengar ada orang yang meninggal dunia, hal itu membekas pada kami hingga berhari-hari, kerana kami tahu tatkala ajal datang pada orang tersebut, lalu membawanya ke syurga atau neraka”

Itulah pengingat bagi kita semua, bahawa sesungguhnya kehidupan ini adalah jalan untuk kembali kepada Allah, sekolah yang laporannya nanti akan dibentangkan di akhirat. Mari kita sama-sama mengevaluasi diri kita, selalu meluruskan niat kita hanya kepada Allah dan berdoa kepada-Nya memohon ketetapan iman di hati sampai pada hari penutup kita nanti.

“Yaa muqollibalquluub tsabbit qolbiy alaa diinika” Wahai Dzat yang membolak-balik hati, kokohkan hatiku tetap berada di atas agamamu.


Rujukan: Kitab Taujih Ruhiyah, Syeikh Abdul Hamid al- Bilali

Derita Cinta Dunia, Bahagia Cinta Akhirat



Sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa akhirat menjadi obsesinya, maka Allah menjadikan semua urusannya lancar, hatinya kaya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa dunia menjadi obsesinya, maka Allah mengacaukan semua urusannya, menjadikannya miskin dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya.” Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad shahih

Barangsiapa akhirat menjadi kesibukan utamanya dan obsesinya (tujuan), maka setiap hari ia ingat perjalanan hidupnya kelak, apa pun yang ia lihat di dunia pasti ia hubungkan dengan akhirat, dan akhirat selalu ia sebut di setiap pembahasannya. Ia tidak bahagia kecuali kerana akhirat, tidak sedih kecuali kerana akhirat. Tidak redha kecuali kerana akhirat. Tidak marah kecuali kerana akhirat. Tidak bergerak, kecuali kerana akhirat. Dan tidak berusaha kecuali kerana akhirat.

Siapa saja yang dapat melaksanakan arah hidupnya sebagaimana di dalam hadis di atas, ia diberi tiga kenikmatan oleh Allah SWT. Nikmat yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya. Iaitu orang-orang yang menyiapkan jiwa mereka hanya untuk ALLAH SWT dan tidak ada selain DIA yang masuk ke hati mereka, baik dalam bentuk berhala-berhala dunia, atau perhiasan, atau kebendaan mahupun pemikiran .

Nikmat tersebut adalah:
1. Seluruh urusan lancar
Allah SWT memberinya ketenteraman dan kedamaian, mengumpulkan semua ideanya, meminimakan sifat lupanya, mengharmonikan keluarganya, menambah jalinan kasih sayang antara dirinya dan pasangannya, merukunkan anak-anaknya, mendekatkan anak-anak padanya, menyatukan kaum kerabat, menjauhkan konflik dari mereka, mengumpulkan hartanya, ia tidak gundah dan bimbang memikirkan pekerjaannya atau perniagaannya yang tidak begitu lancer perjalanannya, tidak bertindak seperti orang bodoh, membuat hati manusia terarah padanya, siapapun mencintainya dan melancarkan urusan-urusan yang lain.

2. Kaya hati
Nikmat yang paling agung adalah kaya hati, sebab Rasulullah SAW bersabda dalam hadis shahih, yang ertinya;

“ Kekayaan hakiki bukan bererti harta melimpah. Tapi, kekayaan ialah kekayaan hati” (HR. Muslim)

Imam Al Nawawi berkata; maksudnya, kekayaan terpuji itu bukan banyak harta dan perabot mahupun kewangan. Telah banyak sekali orang dibuat kaya oleh Allah, namun kekayaannya yang banyak itu tidak bermanfaat baginya dan ia berterusan mengejar dan menambah kekayaannya, tanpa peduli dari mana sumbernya.

Ia seperti orang miskin, kerana begitu kuat keinginannya. Orang berselera sedemikian itu miskin selama-lamanya. Tapi, kekayaan terpuji dan ideal menurut orang-orang sempurna adalah kekayaan hati.

Di riwayat lain disebutkan kekayaan jiwa. Maksudnya, orang yang punya kekayaan jiwa merasa senang dan redha dengan setiap rezekinya, menerimanya dengan lapang dada, dan syukur dengannya, tanpa memburu dan meminta-minta sehingga melupakan Tuhannya.
Barangsiapa dijaga jiwanya dari kerakusan, maka jiwanya tenteram, barakah, mendapatkan kebersihan, kemuliaan, dan pujian. Itu semua jauh lebih hebat dibandingkan dengan kekayaan yang diterima orang yang miskin hatinya. Kekayaan membuat orang yang miskin hati terpuruk dalam hal-hal hina dan perbuatan-perbuatan murahan, kerana kecilnya obsesi yang ia miliki. Akibatnya, ia menjadi orang kerdil di mata orang, hina di jiwa mereka, dan menjadi orang paling hina di sisi Allah.

Jika seseorang punya harta yang berlimpah, namun ia tidak qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki yang diberikan Allah SWT kepadanya, maka ia hidup terengah-engah seperti binatang buas dan menjadikan hartanya sebagai tuhan baru. Sungguh, ia orang miskin sejati, kerana orang miskin ialah orang yang selalu tidak punya harta dan senantiasa merasa memerlukannya.

Dikisahkan, seseorang berkata kepada orang zuhud, Ibrahim bin Adham, lalu berkata, “saya ingin anda menerima jubah ini dariku.” Ibrahim bin Adham berkata,”Kalau anda kaya, saya mahu menerima hadiah ini. Jika anda miskin, saya tidak mahu menerimanya.” Orang itu berkata,”saya orang kaya.”

Ibrahim bin Adham berkata,”Anda punya jubah berapa?” Orang itu menjawab,”Dua ribu jubah.” Ibrahim bin Adham berkata,”Apakah Anda ingin punya empat ribu jubah?” Orang itu menjawab, “Ya.” Ibrahim bin Adham berkata,”Kalau begitu anda miskin (kerana masih memerlukan jubah lebih banyak lagi). Saya tidak mahu menerima hadiah jubah ini darimu.”

3. Dunia datang kepadanya
Saat ia lari dari dunia, justeru dunia mengejarnya dalam keadaan tunduk. Seperti yang dikatakan Ibnu Al-Jauzi;

“Dunia itu bayangan. Jika engkau berpaling dari bayangan, maka bayangan itu mengekorimu. Jika engkau memburu bayangan, maka bayangan menghindari darimu. Orang zuhud tidak menoleh kepada bayangan malah diikuti bayangan. Sedangkan orang rakus tidak melihat bayangan setiapkali ia menoleh kepadanya.”

Sedang orang yang dunia menjadi obsesinya, ia hanya memikirkan dunia, bekerja kerananya, peduli kepadanya, tidak bahagia kecuali kerananya, tidak berteman dan memusuhi orang kerananya. Akibatnya, ia dihukum Allah dengan tiga hukuman;

1. Urusannya kacau
Allah SWT mengacaukan semua urusannya. Hatinya menjadi gundah tidak tenang, fikirannya kacau, jiwanya goncang dan kalut dalam hal yang kecil, apatah lagi yang besar. Allah SWT mengacau hartanya, mengacaukan anak-anak dan pasangannya. Allah SWT membuat manusia antipati kepadanya. Tidak ada seorangpun yang mencintainya sebab Allah SWT menentukannya dibenci orang di bumi.

2. Selalu miskin
Hukuman ini membuatnya selalu tidak puas, padahal memiliki harta banyak. Ia senantiasa merasa miskin. Dan itu menjadikannya lari hingga termengah-mengah di belakang harta.

3. Dunia lari darinya
Dunia selalu lari darinya. Ia memburu dunia namun dijauhi dan ia berlari dibelakangnya, persis seperti orang yang menyangka fatamorgana itu air. Ketika ia tiba di fatamorgana, ia tidak mendapatkan apa-apa.

Inilah yang membuat Utsman bin Affan RA berkata, “Obsesi dunia itu kegelapan di hati, sedang obsesi kepada akhirat itu cahaya di hati.”

Bagaimana karakteristik dari orang-orang yang terobsesi pada akhirat?
Kita dapat mengukur dengan membandingkannya pada diri kita. Sebelum mengenali cirinya, ada tiga kelompok yang perlu kita perhatikan:

1. Orang yang lebih sibuk dengan akhirat daripada dunia.
Mereka membuat hidupnya didominasi oleh akhirat. Dunia hanya diletakkan digenggaman tangannya bukan di hatinya. Ini adalah kelompok orang yang berjaya dengan sebenarnya.

2. Orang yang lebih sibuk dengan dunia daripada akhirat
Mereka begitu cinta dunia hingga dunia menguasainya dan membuatnya lupa total kepada akhirat dan mereka juga tidak tahu bahawa dunia itu jambatan menuju akhirat. Ini adalah kelompok orang yang celaka.

3. Orang yang sibuk dengan keduanya sekaligus.
Mereka tidak ingin masuk pada kelompok pertama atau kedua, namun ingin mendapatkan sebahagian karakteristik kelompok pertama dan sebahagian kelompok kedua. Ini adalah kelompok orang yang dalam keadaan kritikal.

Tentunya kita tidak ingin masuk ke dalam kelompok kedua dan ketiga, justeru kita perlu mengetahui karakteristik kelompok pertama iaitu orang-orang yang berjaya.

Karakteristik dari kelompok pertama antara lain:

1. Sedih kerana akhirat
Sedih kerana akhirat membuat dirinya punya perasaan takut kepada Allah Ta’ala menghisab dirinya pada Hari Kiamat, lalu ia menghisab dirinya sebelum ia dihisab kelak di akhirat.

2. Selalu mengadakan Muhasabah (evaluasi diri)
Umar bin Khattab RA berkata “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan, bersiap-siaplah menghadapi Hari Kiamat.”

3. Selalu beramal untuk akhirat
Amal soleh bukan hanya solat, puasa, membaca Al-Qur’an dan zikir, tapi amal soleh adalah apa saja yang dicintai Allah Ta’ala.

4. Terkesan pada jiwanya melihat kematian
Seorang tabi’in Ibrahim An Nakhai berkata, “Jika kami datang ke rumah orang yang meninggal atau mendengar ada orang yang meninggal dunia, hal itu membekas pada kami hingga berhari-hari, kerana kami tahu tatkala ajal datang pada orang tersebut, lalu membawanya ke syurga atau neraka”

Itulah pengingat bagi kita semua, bahawa sesungguhnya kehidupan ini adalah jalan untuk kembali kepada Allah, sekolah yang laporannya nanti akan dibentangkan di akhirat. Mari kita sama-sama mengevaluasi diri kita, selalu meluruskan niat kita hanya kepada Allah dan berdoa kepada-Nya memohon ketetapan iman di hati sampai pada hari penutup kita nanti.

“Yaa muqollibalquluub tsabbit qolbiy alaa diinika” Wahai Dzat yang membolak-balik hati, kokohkan hatiku tetap berada di atas agamamu.


Rujukan: Kitab Taujih Ruhiyah, Syeikh Abdul Hamid al- Bilali

Sunday, March 25, 2012


Respon dari sebuah pertanyaan…:

Abi(rasa mesra) macamana pula andai kita sering kali mendengar sumber-sumber kekuatan seperti halaqah tarbawi dan juga liqo' tarbiyah, namun kita sering kali juga mengulangi dosa yang sama setiap hari..seperti gagal bangun subuh berjemaah di masjid atau tidur selepas subuh...mohon penjelasan dan taujihat dari Abi...:) .. (Akram Solihin)

Alhamdulillah, persoalan yang baik, ternyata anda amat peduli dengan sikap dan hubungan anda terhadap Allah SWT. Maka syukuri kerana dalam diri anda masih ada cahaya iman yang sensitif dengan dosa dan maksiat. Justeru tugas anda dan kita semua adalah mengaktifkan dinamika iman dan proses memperkukuhkan iman sehingga ia benar-benar menunjam ke dalam akar hati. Iman yang hidup akan membina satu perasaan positifnya kepada Allah, ingat sentiasa kepada Allah, lalu ia tunduk dengan penuh kekerdilan memohon keampunan kepada Allah. Firman Allah SWT:

“Dan mereka yang apabila melakukan perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun dosa-dosa mereka – dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah -, dan mereka juga tidak meneruskan (perbuatan buruk) yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya). Orang-orang yang demikian sifatnya, balasannya adalah keampunan dari Tuhan mereka, dan syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya; dan yang demikian itulah sebaik-baik balasan (bagi) mereka yang beramal” (Surah Ali ‘Imran: 135-136).

Dalam ayat di atas, hati yang tertarbiyah dengan keimanan akan memberi reaksi negatif terhadap perbuatan dosa-dosanya yang lalu. Kenapa? Kerana dia telah sedar akan akibat dari dosanya iaitu azab yang pedih di akhirat kelak, hatta di dunia lagi kita akan merasa azabnya seperti kehilangan ketenangan dalam jiwa.

Jangan pernah rasa lelah untuk bertaubat dan memohon keampunan kepada Allah dan jangan pernah rasa selesa saat beramal kerana merasakan diri kita sudah soleh. Berterusanlah kita memohon keampunan sebagaimana Rasulullah SAW telah contohkan kepada kita. Baginda sendiri tidak pernah berhenti beristigfar memohon keampunan dari Allah. Keampunan Allah SWT memang menanti buat kita seluas langit dan bumi, sabda Nabi SAW;

“Seorang telah melakukan satu dosa, lalu dia berkata: Wahai Tuhanku ampunilah dosaku. Lalu Allah azza wa jalla berfirman: HambaKu melakukan dosa dan dia mengetahui bahawa baginya tuhan yang boleh mengampun dan menghukumnya –dalam riwayat yang lain ditambah: Aku ampunkan dosanya-. Kemudian dia kembali melakukan dosa yang lain, dia berkata: Wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa ampunilah dosaku. Lalu Allah berfirman: HambaKu melakukan dan dia mengetahui bahawa baginya tuhan yang boleh mengampun dan menghukumnya–dalam riwayat yang lain ditambah: aku ampunkan dosanya-. Lalu dia melakukan dosa sekali lagi, dia berkata: wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa ampunilah dosaku. Lalu Allah berfirman: HambaKu melakukan dan dia mengetahui bahawa baginya tuhan yang boleh mengampun dan menghukumnya, maka aku ampunkan hambaKu ini, buatlah apa yang kau mahu aku ampunkan engkau”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Maka, mind set utama buat kita ialah, jangan pernah berhenti merayu keampunan dari Allah SWT, samada saat “mood” untuk beramal kita tinggi apatah lagi ketika iman kita lemah dan longlai untuk beramal.

Kita harus faham bahawa, lamanya berada dalam proses tarbiyah belum menjamin keberhasilan amal yang qawwi jika prosesnya hanya terhenti setakat di halaqah dan program-program semata. Ada satu perumpamaan menarik yang boleh kita gambarkan akan kesuburan tarbiyah seseorang dalam medan halaqah tarbawiyah samada akan melahirkan amal dan tindakan yang qawwi atau tidak.

“Bayangkan kita menanam sebuah tunas pohon di dua tempat. Jenis pohonnya sama, pemberian bajanya sama, kedalaman cangkulnya sama dan kualiti tunasnya juga sama. Namun ternyata kedua tunas itu tumbuh secara berbeza. Pohon yang satu begitu cepat tumbuh dan segera berdaun rimbun serta berbuah lebat, sedangkan pohon yang lainnya tumbuh juga tetapi begitu lambat, daunnya tidak begitu rimbun dan buahnya pun hanya muncul satu dua. Mengapa boleh terjadi sedemikian? Ianya kerana kualiti tanahnya memang berbeza. Tanah yang satu subur hingga mudah menumbuhkan dan menyuburkan tanaman, sedangkan yang lain gersang hingga tidak menumbuhkannya dengan baik.”

Justeru, kita harus muhasabah hati kita, apakah telah kita sediakan tapak semaian yang baik agar ketika melalui proses tarbiyah, benih iman itu akan subur di atas tapak semaian kita atau sebaliknya. Kerana itulah proses tarbiyah memberi fokus kepada perbinaan hati.

Persoalan seterusnya ialah bagaimana untuk mendorong jiwa kita agar bersemangat untuk melakukan amal-amal ibadah setelah jiwa kita tertarbiyah dengan IMAN? Saya cuba mengupas secara ringkas, selebihnya anda bertanyakan juga kepada para alim ulama dan para murabbi yang ikhlas.

Pertamanya saat melakukan amal, maka berdikit-dikitlah kita dalam beramal. Teruslah istiqamah dalam memproses jiwa. Lemah amal kerana jiwa kita yang lemah. Iman itu belum meresap sepenuh pada jiwa kita. InsyaAllah kebiasaan beramal yang sedikit tapi istiqamah akan melahirkan kebiasaan untuk meningkatkan lagi amal kita. Ya, kuncinya adalah istiqamah, walaupun sedikit. Kata ulama, sifat utama yang menghiasi jiwa mukmin adalah berusaha untuk istiqamah, :

-Istiqamah dalam hidayah.
-Istiqamah dalam keikhlasan.
-Istiqamah dalam kesabaran.

Inilah perkara yang terberat bagi setiap mukmin dan bahkan juga para Nabi.
Ayat Al Quran yang membuatkan Nabi Muhammad saw beruban rambutnya adalah perintah untuk istiqamah.

“Maka istiqamahlah (kamu) sebagaimana yang Aku perintahkan…” (QS Hud : 112)

Manakala inti dari istiqamah adalah kesabaran.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru RabbNya di pagi dan senja hari, dengan mengharap keredhaanNya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (kerana) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS Al Kahfi : 28)

Kedua, binalah keikhlasan dalam beramal. Amal yang ikhlas walaupun sedikit akan memberi kesan yang besar kepada jiwa dan amalan. Keikhlasan atau kesungguhan seseorang yang mahu meningkatkan kualiti amalnya hanya diketahui oleh Allah dan dirinya sendiri. Sebagai contoh, ketika hadir halaqah tarbiyah atau siri program tarbiyah, jagalah keikhlasan bahawa kita hadir untuk meraih redha allah dan mencari hidayah, inayah dan petunjuk Allah. Pada ketika kita melalukan taubat kita kepada Allah, jika ia lahir dari keikhlasan maka perasaan khusyuk, duka, insaf, mengharapkan keampunan Allah akan menyelinap masuk ke dalam setiap pelusuk jiwanya. Airmata keinsafan antara bukti kejujuran insan yang menyesal dan mengharapkan keampunan. Keinginan untuk berada dalam keampunan itu akan membawanya kepada azam untuk tidak mengulangi dosa. Justeru dia juga akan menanam tekad untuk mengukuhkan amalan ibadah yang wajib dan memperkayakan amalam-amalan yang sunat demi untuk meraih redha Allah yang berpanjangan, bukan mengharap pujian dari manusia.

Ketiganya, sentiasalah berdoa dan memohon kekuatan kepada Allah tanpa jemu agar Allah terus memberikan kekuatan kepada kita untuk meningkatkan amal kita sehingga aksi amal fardhu dan sunat itu akan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita seperti solat berjamaah pada setiap waktu, membaca al Quran dan sebagainya.

“Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau memesongkan hati kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada Kami limpah rahmat dari sisiMu; Sesungguhnya Engkau jualah Tuhan Yang melimpah-limpah pemberianNya” (Surah Ali ‘Imran: 8).

Selamat beramal dan semoga Allah berkahi kita semua dengan cahaya iman-Nya.

Soal Jawab: Tarbiyah Tidak Melahirkan Amal?


Respon dari sebuah pertanyaan…:

Abi(rasa mesra) macamana pula andai kita sering kali mendengar sumber-sumber kekuatan seperti halaqah tarbawi dan juga liqo' tarbiyah, namun kita sering kali juga mengulangi dosa yang sama setiap hari..seperti gagal bangun subuh berjemaah di masjid atau tidur selepas subuh...mohon penjelasan dan taujihat dari Abi...:) .. (Akram Solihin)

Alhamdulillah, persoalan yang baik, ternyata anda amat peduli dengan sikap dan hubungan anda terhadap Allah SWT. Maka syukuri kerana dalam diri anda masih ada cahaya iman yang sensitif dengan dosa dan maksiat. Justeru tugas anda dan kita semua adalah mengaktifkan dinamika iman dan proses memperkukuhkan iman sehingga ia benar-benar menunjam ke dalam akar hati. Iman yang hidup akan membina satu perasaan positifnya kepada Allah, ingat sentiasa kepada Allah, lalu ia tunduk dengan penuh kekerdilan memohon keampunan kepada Allah. Firman Allah SWT:

“Dan mereka yang apabila melakukan perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun dosa-dosa mereka – dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah -, dan mereka juga tidak meneruskan (perbuatan buruk) yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya). Orang-orang yang demikian sifatnya, balasannya adalah keampunan dari Tuhan mereka, dan syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya; dan yang demikian itulah sebaik-baik balasan (bagi) mereka yang beramal” (Surah Ali ‘Imran: 135-136).

Dalam ayat di atas, hati yang tertarbiyah dengan keimanan akan memberi reaksi negatif terhadap perbuatan dosa-dosanya yang lalu. Kenapa? Kerana dia telah sedar akan akibat dari dosanya iaitu azab yang pedih di akhirat kelak, hatta di dunia lagi kita akan merasa azabnya seperti kehilangan ketenangan dalam jiwa.

Jangan pernah rasa lelah untuk bertaubat dan memohon keampunan kepada Allah dan jangan pernah rasa selesa saat beramal kerana merasakan diri kita sudah soleh. Berterusanlah kita memohon keampunan sebagaimana Rasulullah SAW telah contohkan kepada kita. Baginda sendiri tidak pernah berhenti beristigfar memohon keampunan dari Allah. Keampunan Allah SWT memang menanti buat kita seluas langit dan bumi, sabda Nabi SAW;

“Seorang telah melakukan satu dosa, lalu dia berkata: Wahai Tuhanku ampunilah dosaku. Lalu Allah azza wa jalla berfirman: HambaKu melakukan dosa dan dia mengetahui bahawa baginya tuhan yang boleh mengampun dan menghukumnya –dalam riwayat yang lain ditambah: Aku ampunkan dosanya-. Kemudian dia kembali melakukan dosa yang lain, dia berkata: Wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa ampunilah dosaku. Lalu Allah berfirman: HambaKu melakukan dan dia mengetahui bahawa baginya tuhan yang boleh mengampun dan menghukumnya–dalam riwayat yang lain ditambah: aku ampunkan dosanya-. Lalu dia melakukan dosa sekali lagi, dia berkata: wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa ampunilah dosaku. Lalu Allah berfirman: HambaKu melakukan dan dia mengetahui bahawa baginya tuhan yang boleh mengampun dan menghukumnya, maka aku ampunkan hambaKu ini, buatlah apa yang kau mahu aku ampunkan engkau”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Maka, mind set utama buat kita ialah, jangan pernah berhenti merayu keampunan dari Allah SWT, samada saat “mood” untuk beramal kita tinggi apatah lagi ketika iman kita lemah dan longlai untuk beramal.

Kita harus faham bahawa, lamanya berada dalam proses tarbiyah belum menjamin keberhasilan amal yang qawwi jika prosesnya hanya terhenti setakat di halaqah dan program-program semata. Ada satu perumpamaan menarik yang boleh kita gambarkan akan kesuburan tarbiyah seseorang dalam medan halaqah tarbawiyah samada akan melahirkan amal dan tindakan yang qawwi atau tidak.

“Bayangkan kita menanam sebuah tunas pohon di dua tempat. Jenis pohonnya sama, pemberian bajanya sama, kedalaman cangkulnya sama dan kualiti tunasnya juga sama. Namun ternyata kedua tunas itu tumbuh secara berbeza. Pohon yang satu begitu cepat tumbuh dan segera berdaun rimbun serta berbuah lebat, sedangkan pohon yang lainnya tumbuh juga tetapi begitu lambat, daunnya tidak begitu rimbun dan buahnya pun hanya muncul satu dua. Mengapa boleh terjadi sedemikian? Ianya kerana kualiti tanahnya memang berbeza. Tanah yang satu subur hingga mudah menumbuhkan dan menyuburkan tanaman, sedangkan yang lain gersang hingga tidak menumbuhkannya dengan baik.”

Justeru, kita harus muhasabah hati kita, apakah telah kita sediakan tapak semaian yang baik agar ketika melalui proses tarbiyah, benih iman itu akan subur di atas tapak semaian kita atau sebaliknya. Kerana itulah proses tarbiyah memberi fokus kepada perbinaan hati.

Persoalan seterusnya ialah bagaimana untuk mendorong jiwa kita agar bersemangat untuk melakukan amal-amal ibadah setelah jiwa kita tertarbiyah dengan IMAN? Saya cuba mengupas secara ringkas, selebihnya anda bertanyakan juga kepada para alim ulama dan para murabbi yang ikhlas.

Pertamanya saat melakukan amal, maka berdikit-dikitlah kita dalam beramal. Teruslah istiqamah dalam memproses jiwa. Lemah amal kerana jiwa kita yang lemah. Iman itu belum meresap sepenuh pada jiwa kita. InsyaAllah kebiasaan beramal yang sedikit tapi istiqamah akan melahirkan kebiasaan untuk meningkatkan lagi amal kita. Ya, kuncinya adalah istiqamah, walaupun sedikit. Kata ulama, sifat utama yang menghiasi jiwa mukmin adalah berusaha untuk istiqamah, :

-Istiqamah dalam hidayah.
-Istiqamah dalam keikhlasan.
-Istiqamah dalam kesabaran.

Inilah perkara yang terberat bagi setiap mukmin dan bahkan juga para Nabi.
Ayat Al Quran yang membuatkan Nabi Muhammad saw beruban rambutnya adalah perintah untuk istiqamah.

“Maka istiqamahlah (kamu) sebagaimana yang Aku perintahkan…” (QS Hud : 112)

Manakala inti dari istiqamah adalah kesabaran.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru RabbNya di pagi dan senja hari, dengan mengharap keredhaanNya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (kerana) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS Al Kahfi : 28)

Kedua, binalah keikhlasan dalam beramal. Amal yang ikhlas walaupun sedikit akan memberi kesan yang besar kepada jiwa dan amalan. Keikhlasan atau kesungguhan seseorang yang mahu meningkatkan kualiti amalnya hanya diketahui oleh Allah dan dirinya sendiri. Sebagai contoh, ketika hadir halaqah tarbiyah atau siri program tarbiyah, jagalah keikhlasan bahawa kita hadir untuk meraih redha allah dan mencari hidayah, inayah dan petunjuk Allah. Pada ketika kita melalukan taubat kita kepada Allah, jika ia lahir dari keikhlasan maka perasaan khusyuk, duka, insaf, mengharapkan keampunan Allah akan menyelinap masuk ke dalam setiap pelusuk jiwanya. Airmata keinsafan antara bukti kejujuran insan yang menyesal dan mengharapkan keampunan. Keinginan untuk berada dalam keampunan itu akan membawanya kepada azam untuk tidak mengulangi dosa. Justeru dia juga akan menanam tekad untuk mengukuhkan amalan ibadah yang wajib dan memperkayakan amalam-amalan yang sunat demi untuk meraih redha Allah yang berpanjangan, bukan mengharap pujian dari manusia.

Ketiganya, sentiasalah berdoa dan memohon kekuatan kepada Allah tanpa jemu agar Allah terus memberikan kekuatan kepada kita untuk meningkatkan amal kita sehingga aksi amal fardhu dan sunat itu akan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita seperti solat berjamaah pada setiap waktu, membaca al Quran dan sebagainya.

“Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau memesongkan hati kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada Kami limpah rahmat dari sisiMu; Sesungguhnya Engkau jualah Tuhan Yang melimpah-limpah pemberianNya” (Surah Ali ‘Imran: 8).

Selamat beramal dan semoga Allah berkahi kita semua dengan cahaya iman-Nya.

Wednesday, February 08, 2012



Tugas melawan hawa nafsu bukanlah suatu yang mudah. Suatu saat ketika para sahabat dan Rasulullah SAW kembali dari perang Badar, Nabi SAW bersabda:

“Kita kembali dari perjuangan kecil, menuju kepada perjuangan yang lebih besar iaitu perjuangan terhadap hawa nafsu.” (HR al-Baihaqy)

Menyelaraskan hawa nafsu dengan apa yang Rasulullah SAW dan Allah SWT kehendaki amat berat kerana 4 perkara:

1.Hawa nafsu tidak terlihat

2.Hawa nafsu adalah sebahagian dari diri manusia itu sendiri

3.Dorongan dan pengaruh hawa nafsu tidak pernah berhenti sepanjang hayat manusia

4.Kita tidak diizinkan Allah untuk menghentikannya tetapi sekadar menaklukinya.

Justeru Nabi SAW menyimpulkan bahawa:

“Musuhmu yang paling ganas ialah nafsumu sendiri yang berada antara dua sisimu.” (HR al-Baihaqy)

Mereka yang sanggup melawan nafsu ialah mereka yang percaya kepada akhirat serta hari pembalasan. Inilah kekuatan dan keyakinan yang harus ada pada umat Islam. Keyakinan ini menjadikan mereka golongan yang sanggup mengetepikan keseronokan sementara demi untuk mencapai matlamat jangka panjang yang kekal abadi. Denis Waitley dalam Empires of the Mind berkata, “Saya berpendapat, salah satu punca utama yang menyebabkan Amerika bermasalah besar pada hari ini ialah, rakyatnya begitu asyik dan ghairah dengan keseronokan jangka pendek dan melupakan kepentingan jangka panjang.”

Ternyata kegagalan manusia dalam mengurus hawa nafsu mereka akan melahirkan masyarakat yang rosak. Allah SWT telah berfirman dalam surah Yusuf ayat 53 yang bermaksud:

“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan”.

Ini menunjukkan penekanan yang tegas bahawa nafsu membawa kepada kejahatan.

Mujahadah Hawa Nafsu
Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash RA, katanya: “Telah bersabda Rasulullah SAW: ‘Tidak benar-benar beriman seseorang daripada kamu sehingga hawa nafsunya menuruti apa yang aku bawa.”
(Hadis ini hadis hasan sahih yang kami riwayatkannya dari kitab al-Hujjah dengan sanad sahih.


Ada beberapa pengajaran yang boleh kita pelajari:
1.Hadis ini menerangkan bahawa salah satu daripada tuntutan iman bagi seseorang ialah hawa nafsunya mestilah tunduk dan menurut ajaran yang dibawa oleh Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW.

2.Sekiranya dia mengutamakan hawa nafsunya daripada mengamalkan ajaran Islam atau menyintai maksiat daripada amal kebajikan, maka imannya masih tidak sempurna.

3. Ungkapan ‘tidak benar-benar beriman’ dalam maksud hadis di atas bererti iman tidak sempurna, masih cacat atau tempang, bukan bererti telah jatuh kufur. Seseorang itu hanya jatuh kufur apabila dia menafi atau menolak mana-mana ajaran Islam.

4. Mujahadah hawa nafsu (berjihad melawan hawa nafsu) adalah mujahadah yang berat, yang tidak tertanggung dan tidak mampu dilaksanakan kecuali oleh orang yang benar-benar ikhlas beriman dan mencintai Allah serta Rasul-Nya.

Mujahadah bermaksud “berusaha untuk melawan dan menundukkan kehendak hawa nafsu.” Dalam sebuah hadis bertaraf hasan, nabi bersabda, “Seorang mujahid (iaitu seorang yang berjihad) ialah dia yang melawan hawa nafsunya kerana Allah.” Mengikut Said Hawa dalam Al-Asas fit Tafsir, “Secara dasarnya melawan hawa nafsu bermaksud menundukkan nafsu agar ia mengikut kehendak Allah dalam setiap perkara.” Apabila nafsu dapat dikalahkan seseorang akan mengutamakan perkara yang dicintai Allah dan mengetepikan kehendak peribadi.

Dalam Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali berkata, “Antara tanda kecintaan hamba kepada Allah ialah dia mengutamakan perkara yang disukai Allah daripada kehendak nafsu serta peribadi, sama ada dalam aspek zahir atau batin. Oleh itu seseorang yang mencintai Allah sanggup memikul kerja-kerja yang sukar serta sanggup melawan hawa nafsunya kerana Allah

Tips Melawan Hawa Nafsu.
Dalam Al-Asas fit Tafsir, Said Hawa berkata, “Takwa adalah hasil daripada hidayah dan hidayah adalah hasil daripada mujahadah. Justeru mujahadah melawan hawa nafsu adalah titik permulaan kepada takwa. Antara amalan yang membantu usaha untuk melawan hawa nafsu ialah bacaan Al-Quran, solat dan zikir. Nabi ketika disoal tentang jalan untuk mencapai syurga telah menjawab, ‘Bantulah dirimu dengan banyak bersujud’. Banyak bersujud bermaksud banyak bersolat dan banyak bersolat bermaksud banyak berzikir dan membaca Al-Quran.”

Selain itu, ada beberapa tips yang para ulama bimbingkan kepada kita, antaranya:

1.Hendaklah dia memperkuatkan rasa takutnya kepada Allah dan selalu mengingat berbagai kengerian siksa Allah diakhirat kelak.

2.Hendaklah dia meninggalkan segala sebab yang membuatnya terjatuh kembali kepada hasutan hawa nafsu.

3.Hendaklah dia meninggalkan rakan/kawan yang tidak baik, supaya dia tidak mudah termakan oleh ajakan hawa nafsu. Sebagai gantinya, hendaknya dia bergaul dengan orang-orang soleh yang mengamalkan agama Allah

4.Hendaklah dia menjauhi tempat-tempat yang dapat menjerumuskannya kepada hasutan hawa nafsu dan memperbanyak bersimpuh di dalam rumah Allah (Masjid).

5.Hendaklah dia selalu menyibukkan diri dengan zikrullah dan membaca Al-Quran, kerana hati yang lalai dari Allah sangat mudah bagi syaitan untuk mendorongnya kepada hawa nafsu.

6. Hendaklah dia komited dengan program-program tarbiyah ruhiyah dan sering menghadiri halaqah-halaqah ilmu yang dapat meningkatkan kefahaman dirinya untuk membina kekuatan iman dan melawan hawa nafsu.

7.Hendaklah dia sibukkan dirinya dengan program dan aktiviti yang bermanfaat seperti program dakwah dan sebagainya agar masanya tidak dibiarkan kosong dengan aktiviti yang tidak bermanfaat. Masa yang terbiar kosong akan menggalakan hawa nafsu menyibukkan dirinya dengan perkara yang melalaikan dan merosakan. Kata pepatah Arab;

"Nafsumu jika engkau tidak menyibukkannya dengan kebenaran, nescaya dia akan menyibukkan dirimu dengan kebatilan."

8.Sentiasa berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT

Imam Ibnu Jauzi juga ada memberikan beberapa tips dan motivasi kepada kita untuk membina kekuatan melawan asakkan hawa nafsu, antaranya:

-Seteguk kesabaran untuk memotivasi dirinya agar bersabar atas kepahitan yang dirasakan saat mengekang hawa nafsu. Kekuatan jiwa untuk menumbuhkan keberaniannya meminum seteguk kesabaran tersebut. Kerana hakikat keberanian tersebut adalah sabar barang sesaat! Sebaik-baik bekal dalam hidup seseorang hamba adalah sabar!.

-Selalu memeperhatikan hasil yang baik dan kesembuhan yang diperolehi dari seteguk kesabaran.

-Selalu mengingat pahitnya kepedihan yang dirasakan daripada kelazatan menuruti kehendak hawa nafsu. Kedudukan dan martabatnya di sisi Allah dan di hati para hamba-Nya lebih baik dan berguna daripada kelazatan mengikuti tuntutan hawa nafsu.

-Hendaklah lebih mengutamakan manis dan lazatnya menjaga kesucian diri dan kemuliaanya daripada kelazatan kemaksiatan.

-Hendaklah bergembira dapat mengalahkan musuhnya, membuat musuhnya merana dengan membawa kemarahan, kedukaan dan kesedihan! Kerana gagal meraih apa yang diinginkannya. Allah azza wa jalla suka kepada hamba yang dapat memperdaya musuhnya dan membuatnya marah (kesal). Allah berfirman : Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan demikian itu suatu amal soleh. (At-Taubah:120). Dan salah satu tanda cinta yang benar adalah membuat kemarahan musuh kekasih yang dicintainya dan menaklukannya (musuh kekasih tersebut).

-Senantiasa berfikir bahwa ia diciptakan bukan untuk memperturutkan hawa nafsu namun ia diciptakan untuk sebuah perkara yang besar, iaitu beribadah kepada Allah pencipta dirinya. Perkara tersebut tidak dapat diraihnya kecuali dengan menyelisihi hawa nafsu.

Penutup:Berbahagialah
Berbahagialah seorang hamba yang sentiasa mengenal dirinya dan musuhnya dan selalu berusaha untuk memperbaiki dirinya. Dialah hamba beruntung kerana semakin dia bersungguh-sungguh mengurus jiwa dan hatinya dengan keimanan kepada Allah, dan membersihkan hatinya dari gejolak hawa nafsu maka insyaallah dia akan semakin dekat dengan kepada ampunan Allah SWT dan kasih sayang Allah SWT.
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar berserta dengan orang-orang yang berbuat baik." (al-Ankabut: 69)

Tarbiyah: Melawan Hawa Nafsu



Tugas melawan hawa nafsu bukanlah suatu yang mudah. Suatu saat ketika para sahabat dan Rasulullah SAW kembali dari perang Badar, Nabi SAW bersabda:

“Kita kembali dari perjuangan kecil, menuju kepada perjuangan yang lebih besar iaitu perjuangan terhadap hawa nafsu.” (HR al-Baihaqy)

Menyelaraskan hawa nafsu dengan apa yang Rasulullah SAW dan Allah SWT kehendaki amat berat kerana 4 perkara:

1.Hawa nafsu tidak terlihat

2.Hawa nafsu adalah sebahagian dari diri manusia itu sendiri

3.Dorongan dan pengaruh hawa nafsu tidak pernah berhenti sepanjang hayat manusia

4.Kita tidak diizinkan Allah untuk menghentikannya tetapi sekadar menaklukinya.

Justeru Nabi SAW menyimpulkan bahawa:

“Musuhmu yang paling ganas ialah nafsumu sendiri yang berada antara dua sisimu.” (HR al-Baihaqy)

Mereka yang sanggup melawan nafsu ialah mereka yang percaya kepada akhirat serta hari pembalasan. Inilah kekuatan dan keyakinan yang harus ada pada umat Islam. Keyakinan ini menjadikan mereka golongan yang sanggup mengetepikan keseronokan sementara demi untuk mencapai matlamat jangka panjang yang kekal abadi. Denis Waitley dalam Empires of the Mind berkata, “Saya berpendapat, salah satu punca utama yang menyebabkan Amerika bermasalah besar pada hari ini ialah, rakyatnya begitu asyik dan ghairah dengan keseronokan jangka pendek dan melupakan kepentingan jangka panjang.”

Ternyata kegagalan manusia dalam mengurus hawa nafsu mereka akan melahirkan masyarakat yang rosak. Allah SWT telah berfirman dalam surah Yusuf ayat 53 yang bermaksud:

“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan”.

Ini menunjukkan penekanan yang tegas bahawa nafsu membawa kepada kejahatan.

Mujahadah Hawa Nafsu
Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash RA, katanya: “Telah bersabda Rasulullah SAW: ‘Tidak benar-benar beriman seseorang daripada kamu sehingga hawa nafsunya menuruti apa yang aku bawa.”
(Hadis ini hadis hasan sahih yang kami riwayatkannya dari kitab al-Hujjah dengan sanad sahih.


Ada beberapa pengajaran yang boleh kita pelajari:
1.Hadis ini menerangkan bahawa salah satu daripada tuntutan iman bagi seseorang ialah hawa nafsunya mestilah tunduk dan menurut ajaran yang dibawa oleh Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW.

2.Sekiranya dia mengutamakan hawa nafsunya daripada mengamalkan ajaran Islam atau menyintai maksiat daripada amal kebajikan, maka imannya masih tidak sempurna.

3. Ungkapan ‘tidak benar-benar beriman’ dalam maksud hadis di atas bererti iman tidak sempurna, masih cacat atau tempang, bukan bererti telah jatuh kufur. Seseorang itu hanya jatuh kufur apabila dia menafi atau menolak mana-mana ajaran Islam.

4. Mujahadah hawa nafsu (berjihad melawan hawa nafsu) adalah mujahadah yang berat, yang tidak tertanggung dan tidak mampu dilaksanakan kecuali oleh orang yang benar-benar ikhlas beriman dan mencintai Allah serta Rasul-Nya.

Mujahadah bermaksud “berusaha untuk melawan dan menundukkan kehendak hawa nafsu.” Dalam sebuah hadis bertaraf hasan, nabi bersabda, “Seorang mujahid (iaitu seorang yang berjihad) ialah dia yang melawan hawa nafsunya kerana Allah.” Mengikut Said Hawa dalam Al-Asas fit Tafsir, “Secara dasarnya melawan hawa nafsu bermaksud menundukkan nafsu agar ia mengikut kehendak Allah dalam setiap perkara.” Apabila nafsu dapat dikalahkan seseorang akan mengutamakan perkara yang dicintai Allah dan mengetepikan kehendak peribadi.

Dalam Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali berkata, “Antara tanda kecintaan hamba kepada Allah ialah dia mengutamakan perkara yang disukai Allah daripada kehendak nafsu serta peribadi, sama ada dalam aspek zahir atau batin. Oleh itu seseorang yang mencintai Allah sanggup memikul kerja-kerja yang sukar serta sanggup melawan hawa nafsunya kerana Allah

Tips Melawan Hawa Nafsu.
Dalam Al-Asas fit Tafsir, Said Hawa berkata, “Takwa adalah hasil daripada hidayah dan hidayah adalah hasil daripada mujahadah. Justeru mujahadah melawan hawa nafsu adalah titik permulaan kepada takwa. Antara amalan yang membantu usaha untuk melawan hawa nafsu ialah bacaan Al-Quran, solat dan zikir. Nabi ketika disoal tentang jalan untuk mencapai syurga telah menjawab, ‘Bantulah dirimu dengan banyak bersujud’. Banyak bersujud bermaksud banyak bersolat dan banyak bersolat bermaksud banyak berzikir dan membaca Al-Quran.”

Selain itu, ada beberapa tips yang para ulama bimbingkan kepada kita, antaranya:

1.Hendaklah dia memperkuatkan rasa takutnya kepada Allah dan selalu mengingat berbagai kengerian siksa Allah diakhirat kelak.

2.Hendaklah dia meninggalkan segala sebab yang membuatnya terjatuh kembali kepada hasutan hawa nafsu.

3.Hendaklah dia meninggalkan rakan/kawan yang tidak baik, supaya dia tidak mudah termakan oleh ajakan hawa nafsu. Sebagai gantinya, hendaknya dia bergaul dengan orang-orang soleh yang mengamalkan agama Allah

4.Hendaklah dia menjauhi tempat-tempat yang dapat menjerumuskannya kepada hasutan hawa nafsu dan memperbanyak bersimpuh di dalam rumah Allah (Masjid).

5.Hendaklah dia selalu menyibukkan diri dengan zikrullah dan membaca Al-Quran, kerana hati yang lalai dari Allah sangat mudah bagi syaitan untuk mendorongnya kepada hawa nafsu.

6. Hendaklah dia komited dengan program-program tarbiyah ruhiyah dan sering menghadiri halaqah-halaqah ilmu yang dapat meningkatkan kefahaman dirinya untuk membina kekuatan iman dan melawan hawa nafsu.

7.Hendaklah dia sibukkan dirinya dengan program dan aktiviti yang bermanfaat seperti program dakwah dan sebagainya agar masanya tidak dibiarkan kosong dengan aktiviti yang tidak bermanfaat. Masa yang terbiar kosong akan menggalakan hawa nafsu menyibukkan dirinya dengan perkara yang melalaikan dan merosakan. Kata pepatah Arab;

"Nafsumu jika engkau tidak menyibukkannya dengan kebenaran, nescaya dia akan menyibukkan dirimu dengan kebatilan."

8.Sentiasa berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT

Imam Ibnu Jauzi juga ada memberikan beberapa tips dan motivasi kepada kita untuk membina kekuatan melawan asakkan hawa nafsu, antaranya:

-Seteguk kesabaran untuk memotivasi dirinya agar bersabar atas kepahitan yang dirasakan saat mengekang hawa nafsu. Kekuatan jiwa untuk menumbuhkan keberaniannya meminum seteguk kesabaran tersebut. Kerana hakikat keberanian tersebut adalah sabar barang sesaat! Sebaik-baik bekal dalam hidup seseorang hamba adalah sabar!.

-Selalu memeperhatikan hasil yang baik dan kesembuhan yang diperolehi dari seteguk kesabaran.

-Selalu mengingat pahitnya kepedihan yang dirasakan daripada kelazatan menuruti kehendak hawa nafsu. Kedudukan dan martabatnya di sisi Allah dan di hati para hamba-Nya lebih baik dan berguna daripada kelazatan mengikuti tuntutan hawa nafsu.

-Hendaklah lebih mengutamakan manis dan lazatnya menjaga kesucian diri dan kemuliaanya daripada kelazatan kemaksiatan.

-Hendaklah bergembira dapat mengalahkan musuhnya, membuat musuhnya merana dengan membawa kemarahan, kedukaan dan kesedihan! Kerana gagal meraih apa yang diinginkannya. Allah azza wa jalla suka kepada hamba yang dapat memperdaya musuhnya dan membuatnya marah (kesal). Allah berfirman : Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan demikian itu suatu amal soleh. (At-Taubah:120). Dan salah satu tanda cinta yang benar adalah membuat kemarahan musuh kekasih yang dicintainya dan menaklukannya (musuh kekasih tersebut).

-Senantiasa berfikir bahwa ia diciptakan bukan untuk memperturutkan hawa nafsu namun ia diciptakan untuk sebuah perkara yang besar, iaitu beribadah kepada Allah pencipta dirinya. Perkara tersebut tidak dapat diraihnya kecuali dengan menyelisihi hawa nafsu.

Penutup:Berbahagialah
Berbahagialah seorang hamba yang sentiasa mengenal dirinya dan musuhnya dan selalu berusaha untuk memperbaiki dirinya. Dialah hamba beruntung kerana semakin dia bersungguh-sungguh mengurus jiwa dan hatinya dengan keimanan kepada Allah, dan membersihkan hatinya dari gejolak hawa nafsu maka insyaallah dia akan semakin dekat dengan kepada ampunan Allah SWT dan kasih sayang Allah SWT.
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar berserta dengan orang-orang yang berbuat baik." (al-Ankabut: 69)

Monday, January 30, 2012

Hari ini saya kongsikan penyampaian pengisian saya ketika berusrah di Pasir Mas malam semalam, semoga memberi manfaat buat pembaca, khususnya buat saya sendiri. Tulisan ini adalah susunan Al Marhum Syeikh Ustaz Dahlan Mohd Zain.

Yang dimaksudkan dengan peribadi ialah manusia itu sendiri dengan fizikalnya, mentalnya, spiritualnya dan juga akhlaqnya yang berbeza antara seseorang dengan seseorang yang lain. Peribadi Muslim tidak pernah terkenal dan tidak pernah bersinar di kalangan masyarakat manusia kecuali ianya dibina di atas Tauhid keImanan kepada Allah s.w.t. Peribadi yang tinggi dan mulia ini telah pernah lahir pada suatu kumpulan yang terkenal dengan panggilan Generasi Al Quran.

Generasi Yang Di Didik

Suatu generasi yang dididik, diasuh dan dipimpin sendiri oleh baginda Rasulullah s.a.w semasa hayat baginda. Generasi yang menjalani latihan Tauhid dan Keimanan kepada Allah s.w.t dan kepada prinsip-prinsip keImanan yang lain selama lebih kurang 13 tahun secara praktiknya. Generasi yang menjalani proses keImanan yang mentauhidkan Allah s.w.t dalam ertikata yang sebenar-benarnya, memenuhi sifat-sifat Uluhiyyah dan Rububiyyah dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Generasi yang ada suatu ketika dahulu, ketika menjalani latihan Tauhid telah diazab dengan berbagai azab dan siksaan serta gangguan malah secara bersatgu semua tenaga Jahiliyyah bagi menghalang dan menghapuskan Nur Iman sebagai asas pembentukan peribadi yang kian hari semakin bersinar dan meningkat dalam usaha pembentukannya. Itu tidak dapat menyekat kemaraannya. Firman Allah s.w.t :

Terjemahannya :

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai ( Surah at Taubah : 32 )

Dari latihan, didikan serta pimpinan junjungan kita Muhammad s.a.w yang berpandukan wahyu Allah s.w.t, al Quran al Karim sebagai sumber pembentukan, maka terbentuklah keperibadian Muslim pada kumpulan pertama para pemuda Quraisy. Kumpulan yang telah dilatih dan dididik sebagai jiwa tauhid tersebut telah tidak lagi terpengaruh atau dipengaruhi oleh nilai tamakkan dunia. Malah cita-cita memenangi keredhaan Allah s.w.t semata-mata. Kumpulan ketika mana mendengar panggilan Iman kepada Allah s.w.t dan kepada Rasul Nya, mereka merasakan kehidupan Jahiliyyah sudah tiada nilai lagi dan tidak lagi memberi kesan terhadap mereka. Jiwa mereka memberontak ketika berada di dalam cengkaman Jahiliyyah. Jiwa mereka tidak sabar-sabar lagi untuk pergi menyahut panggilan Iman kepada Allah s.w.t dan Rasul Nya.

Impak Tauhid

Setelah keyakinan tauhid benar-benar menguasai jiwa mereka, mereka terus menghulurkan tangan untuk mengikat janji setia dan penyerahan sepenuhnya dengan lafaz:- Aku bersaksi bahawa Tiada Illah melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad itu adalah Pesuruh Allah

Mereka menyerah jiwa raga mereka di bawah perintah Rasulullah s.a.w pada hal mereka mengetahui benar bahawa jiwa mereka diancam, hidup mereka tergugat dan mereka akan menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan untuk sampai kepada matlamat tersebut. Tetapi kumpulan yang dididik dan diasuh oleh Rasulullah s.a.w dengan al Quran al Karim ini memahami dan menyakini akan realiti tersebut. Firman Allah s.w.t :

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi ?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta . ( Surah al’Ankabut : 1-3 )

Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cubaan ) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan ( dengan bermacam-macam cubaan ) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman : Bilakah datangnya pertolongan Allah ?. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Surah al Baqarah : 214 )

Segala kesulitan, kesusahan dan pahit getir perjuangan dan jihad di Jalan Allah s.w.t yang mereka tempuhi itu tidak sesekali melemahkan Iman mereka. Malah Iman mereka kian bertambah yakin dan bertambah tabah menghadapi apa yang mereka sifatkan sebagai ujian dari Allah s.w.t. Ini dapat dilihat di dalam al Quran al Karim di dalam firman Allah s.w.t:

Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : Inilah yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul Nya . Dan yang demikian itu tidaklah menambahkan kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. ( Surah al Ahzab : 22 )

Tarbiyah di Madrasah Rasulullah SAW

Begitulah Rasulullah s.a.w mengasuh jiwa mereka dengan al Quran al Karim, mendidik hati nurani mereka dengan Iman, mengajak mereka patuhj kepada Allah dalam melaksanakan segala kewajipan yang diwajibkan oleh Allah s.w.t. Dengan didikan demikian maka kian bertambah tinggilah jiwa dan hati mereka, kita bertambah luhurlah akhlaq mereka dan kian bertambah bebaslah mereka dari kekuasaan kebendaan dan rintihan hawa nafsu yang menyesatkan dan terpancarlah rasa cintakan Allah s.w.t, Pencipta langit dan bumi serta segala sesuatu yang berada di dalamnya.

Rasulullah s.a.w juga mengajar mereka bersabar menghadapi kesusahan, mengajar mereka mengawal jiwa mereka yang pernah benar terlatih dengan peperangan semasa Jahiliyyah seolah-olah mereka dilahirkan bersama-sama peralatan senjata. Mereka dhidup di zaman yang tidak pernah sunyi daripada peperangan dan pertumpahan darah, seperti peperangan Basus, Dahit dan peperangan Ghabra. Begitu juga dengan peperangan al Fijar belum lagi sejuk dan masih terasa bahangnya. Tetapi Rasulullah s.a.w melalui asuhan dan didikan al Quran al Karim mengikut proses yang ditentukan oleh Allah s.w.t membendung jiwa peperangan dan semangat kebangsaan dengan arahan baginda yang bermaksud : “Hentikanlah kekerasan dan dirikan solah

Maka secara patuh mereka menghentikan peperangan dan kekerasan serta bersabar dalam menghadapi siksaan Kuffar Quraisy. Ini bukanlah kerana lemah dan takut. Sejarah tidak pernah mencatatkan bahawa seseorang Muslim di tahap Makkah pernah mempertahankan diri dari kezaliman Quraisy dengan senjata meskipun ia berkemampuan untuk berbuat demikian. Inilah suatu sifat kepatuhan dan ketaatan kepada kepimpinan hasil daripada pembentukan Rasulullah s.a.w mengikut proses yang ditentukan oleh Allah s.w.t yang tidak ada tolok bandingnya di dalam sejarah kemanusiaan.

Dengan roh tauhid dan keImanan, dengan pengajaran Nabi yang sempurna, dengan pendidikan yang teliti dan bijaksana, dengan peribadi Rasulullah s.a.w yang luarbiasa dan dengan Kitab suci al Quran al Karim yang dipenuhi dengan mukjizat, maka Rasulullah s.a.w dapat membangunkan kehidupan yang baru kepada Generasi Pertama dahulu dan mengangkat kembali nilai kemanusiaan yang hampir musnah. Kemudian Rasulullah s.a.w meletakkan di tempat yang sewajarnya untuk mengisi hidup baru kepada kemanusiaan.

Tarbiyah Melahirkan Peribadi Luarbiasa

Hasil dari usaha-usaha Rasulullah s.a.w yang gigih lahirlah peribadi Muslim seperti Abu Bakr as Siddiq yang terkumpul padanya sifat-sifat terpuji. Orang dahulunya tidak pernah menyangka dan tidak pernah disangka akan menjadi orang yang pertama meneruskan amanah Allah s.w.t yang ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w untuk memimpin manusia ini ke matlamat yang suci murni.

Lahir juga peribadi Muslim seperti ‘Umar al Khattab yang dahulunya mengembala unta bapanya, al Khattab, meskipun padanya terdapat sifat-sifat tegas dan berani tetapi tidak pernah menyediakan tapak untuk meletakkan ke tempat yang tinggi dan tiada siapa yang menyangka dengan pimpinan dan didikan baginda Rasulullah s.a.w tiba-tiba ‘Umar muncul menggemparkan alam ketika itu dengan kepintaran dan ketegasannya serta keberaniannya dapat merobohkan singgahsana Kaisar Romawi.

Kemudian dapat menegakkan di atas keruntuhan untuk pemerintahan Islam yang dapat mengatasi Romawi dan Farsi di segi pentadbiran dan peraturan dan ditambah pula dengan sifat-sifat wara’, taqwa, tegas dan adil yang menjadi contoh teladan zaman berzaman.

Juga lahir peribadi-peribadi seperti ‘Ali bin Abi Talib, ‘Aisyah, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Zaid bin Thabit, sebagai tokoh-tokoh ulama yang tiada bandingannya dari dahulu hingga sekarang dan mungkin juga di masa akan datang. Mereka ini adalah hasil daripada latihan dan didikan Madrasah Rasulullah s.a.w, maka terpancarlah ilmu pengetahuan daripada tokoh-tokoh tersebut dan kata-kata hikmat lahir daripada mulut-mulut mereka. Mereka bercakap maka seluruh zaman akan terdiam danmereka berkhutbah maka seluruh zaman menunggu-nunggu untuk merakamnya.

Dengan itu lahirlah kumpulan Islam hasil dari didikan Rasulullah s.a.w yang berasaskan Tauhid dan kemampuan mereka dalam bidang ilmu pengetahuan hasi dari pengajian mereka dari sumber al Quran al Karim dan as Sunnah an Nabawiyyah untuk mengepalai dan memimpin manusia ke arah kebaikan yang abadi.

Inilah satu revolusi pembentukan peribadi yang luarbiasa dan satu-satunya yang pernah berlaku di dalam sejarah kemanusiaan dan hingga kini revolusi seumpama itu berulang kembali. Revolusi yang menghasilkan kumpulan Mu’min sejati tampil mengepalai kepimpinan alam ke arah kesejahteraan dengan sifat-sifat kepimpinan yang tinggi dan mulia bagi menjamin kesejahteraan dan kejayaan manusia di bawah kepimpinan tersebut.


Keimanan: Apabila Jiwa Di Tarbiyah

Hari ini saya kongsikan penyampaian pengisian saya ketika berusrah di Pasir Mas malam semalam, semoga memberi manfaat buat pembaca, khususnya buat saya sendiri. Tulisan ini adalah susunan Al Marhum Syeikh Ustaz Dahlan Mohd Zain.

Yang dimaksudkan dengan peribadi ialah manusia itu sendiri dengan fizikalnya, mentalnya, spiritualnya dan juga akhlaqnya yang berbeza antara seseorang dengan seseorang yang lain. Peribadi Muslim tidak pernah terkenal dan tidak pernah bersinar di kalangan masyarakat manusia kecuali ianya dibina di atas Tauhid keImanan kepada Allah s.w.t. Peribadi yang tinggi dan mulia ini telah pernah lahir pada suatu kumpulan yang terkenal dengan panggilan Generasi Al Quran.

Generasi Yang Di Didik

Suatu generasi yang dididik, diasuh dan dipimpin sendiri oleh baginda Rasulullah s.a.w semasa hayat baginda. Generasi yang menjalani latihan Tauhid dan Keimanan kepada Allah s.w.t dan kepada prinsip-prinsip keImanan yang lain selama lebih kurang 13 tahun secara praktiknya. Generasi yang menjalani proses keImanan yang mentauhidkan Allah s.w.t dalam ertikata yang sebenar-benarnya, memenuhi sifat-sifat Uluhiyyah dan Rububiyyah dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Generasi yang ada suatu ketika dahulu, ketika menjalani latihan Tauhid telah diazab dengan berbagai azab dan siksaan serta gangguan malah secara bersatgu semua tenaga Jahiliyyah bagi menghalang dan menghapuskan Nur Iman sebagai asas pembentukan peribadi yang kian hari semakin bersinar dan meningkat dalam usaha pembentukannya. Itu tidak dapat menyekat kemaraannya. Firman Allah s.w.t :

Terjemahannya :

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai ( Surah at Taubah : 32 )

Dari latihan, didikan serta pimpinan junjungan kita Muhammad s.a.w yang berpandukan wahyu Allah s.w.t, al Quran al Karim sebagai sumber pembentukan, maka terbentuklah keperibadian Muslim pada kumpulan pertama para pemuda Quraisy. Kumpulan yang telah dilatih dan dididik sebagai jiwa tauhid tersebut telah tidak lagi terpengaruh atau dipengaruhi oleh nilai tamakkan dunia. Malah cita-cita memenangi keredhaan Allah s.w.t semata-mata. Kumpulan ketika mana mendengar panggilan Iman kepada Allah s.w.t dan kepada Rasul Nya, mereka merasakan kehidupan Jahiliyyah sudah tiada nilai lagi dan tidak lagi memberi kesan terhadap mereka. Jiwa mereka memberontak ketika berada di dalam cengkaman Jahiliyyah. Jiwa mereka tidak sabar-sabar lagi untuk pergi menyahut panggilan Iman kepada Allah s.w.t dan Rasul Nya.

Impak Tauhid

Setelah keyakinan tauhid benar-benar menguasai jiwa mereka, mereka terus menghulurkan tangan untuk mengikat janji setia dan penyerahan sepenuhnya dengan lafaz:- Aku bersaksi bahawa Tiada Illah melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad itu adalah Pesuruh Allah

Mereka menyerah jiwa raga mereka di bawah perintah Rasulullah s.a.w pada hal mereka mengetahui benar bahawa jiwa mereka diancam, hidup mereka tergugat dan mereka akan menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan untuk sampai kepada matlamat tersebut. Tetapi kumpulan yang dididik dan diasuh oleh Rasulullah s.a.w dengan al Quran al Karim ini memahami dan menyakini akan realiti tersebut. Firman Allah s.w.t :

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi ?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta . ( Surah al’Ankabut : 1-3 )

Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cubaan ) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan ( dengan bermacam-macam cubaan ) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman : Bilakah datangnya pertolongan Allah ?. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Surah al Baqarah : 214 )

Segala kesulitan, kesusahan dan pahit getir perjuangan dan jihad di Jalan Allah s.w.t yang mereka tempuhi itu tidak sesekali melemahkan Iman mereka. Malah Iman mereka kian bertambah yakin dan bertambah tabah menghadapi apa yang mereka sifatkan sebagai ujian dari Allah s.w.t. Ini dapat dilihat di dalam al Quran al Karim di dalam firman Allah s.w.t:

Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : Inilah yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul Nya . Dan yang demikian itu tidaklah menambahkan kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. ( Surah al Ahzab : 22 )

Tarbiyah di Madrasah Rasulullah SAW

Begitulah Rasulullah s.a.w mengasuh jiwa mereka dengan al Quran al Karim, mendidik hati nurani mereka dengan Iman, mengajak mereka patuhj kepada Allah dalam melaksanakan segala kewajipan yang diwajibkan oleh Allah s.w.t. Dengan didikan demikian maka kian bertambah tinggilah jiwa dan hati mereka, kita bertambah luhurlah akhlaq mereka dan kian bertambah bebaslah mereka dari kekuasaan kebendaan dan rintihan hawa nafsu yang menyesatkan dan terpancarlah rasa cintakan Allah s.w.t, Pencipta langit dan bumi serta segala sesuatu yang berada di dalamnya.

Rasulullah s.a.w juga mengajar mereka bersabar menghadapi kesusahan, mengajar mereka mengawal jiwa mereka yang pernah benar terlatih dengan peperangan semasa Jahiliyyah seolah-olah mereka dilahirkan bersama-sama peralatan senjata. Mereka dhidup di zaman yang tidak pernah sunyi daripada peperangan dan pertumpahan darah, seperti peperangan Basus, Dahit dan peperangan Ghabra. Begitu juga dengan peperangan al Fijar belum lagi sejuk dan masih terasa bahangnya. Tetapi Rasulullah s.a.w melalui asuhan dan didikan al Quran al Karim mengikut proses yang ditentukan oleh Allah s.w.t membendung jiwa peperangan dan semangat kebangsaan dengan arahan baginda yang bermaksud : “Hentikanlah kekerasan dan dirikan solah

Maka secara patuh mereka menghentikan peperangan dan kekerasan serta bersabar dalam menghadapi siksaan Kuffar Quraisy. Ini bukanlah kerana lemah dan takut. Sejarah tidak pernah mencatatkan bahawa seseorang Muslim di tahap Makkah pernah mempertahankan diri dari kezaliman Quraisy dengan senjata meskipun ia berkemampuan untuk berbuat demikian. Inilah suatu sifat kepatuhan dan ketaatan kepada kepimpinan hasil daripada pembentukan Rasulullah s.a.w mengikut proses yang ditentukan oleh Allah s.w.t yang tidak ada tolok bandingnya di dalam sejarah kemanusiaan.

Dengan roh tauhid dan keImanan, dengan pengajaran Nabi yang sempurna, dengan pendidikan yang teliti dan bijaksana, dengan peribadi Rasulullah s.a.w yang luarbiasa dan dengan Kitab suci al Quran al Karim yang dipenuhi dengan mukjizat, maka Rasulullah s.a.w dapat membangunkan kehidupan yang baru kepada Generasi Pertama dahulu dan mengangkat kembali nilai kemanusiaan yang hampir musnah. Kemudian Rasulullah s.a.w meletakkan di tempat yang sewajarnya untuk mengisi hidup baru kepada kemanusiaan.

Tarbiyah Melahirkan Peribadi Luarbiasa

Hasil dari usaha-usaha Rasulullah s.a.w yang gigih lahirlah peribadi Muslim seperti Abu Bakr as Siddiq yang terkumpul padanya sifat-sifat terpuji. Orang dahulunya tidak pernah menyangka dan tidak pernah disangka akan menjadi orang yang pertama meneruskan amanah Allah s.w.t yang ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w untuk memimpin manusia ini ke matlamat yang suci murni.

Lahir juga peribadi Muslim seperti ‘Umar al Khattab yang dahulunya mengembala unta bapanya, al Khattab, meskipun padanya terdapat sifat-sifat tegas dan berani tetapi tidak pernah menyediakan tapak untuk meletakkan ke tempat yang tinggi dan tiada siapa yang menyangka dengan pimpinan dan didikan baginda Rasulullah s.a.w tiba-tiba ‘Umar muncul menggemparkan alam ketika itu dengan kepintaran dan ketegasannya serta keberaniannya dapat merobohkan singgahsana Kaisar Romawi.

Kemudian dapat menegakkan di atas keruntuhan untuk pemerintahan Islam yang dapat mengatasi Romawi dan Farsi di segi pentadbiran dan peraturan dan ditambah pula dengan sifat-sifat wara’, taqwa, tegas dan adil yang menjadi contoh teladan zaman berzaman.

Juga lahir peribadi-peribadi seperti ‘Ali bin Abi Talib, ‘Aisyah, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Zaid bin Thabit, sebagai tokoh-tokoh ulama yang tiada bandingannya dari dahulu hingga sekarang dan mungkin juga di masa akan datang. Mereka ini adalah hasil daripada latihan dan didikan Madrasah Rasulullah s.a.w, maka terpancarlah ilmu pengetahuan daripada tokoh-tokoh tersebut dan kata-kata hikmat lahir daripada mulut-mulut mereka. Mereka bercakap maka seluruh zaman akan terdiam danmereka berkhutbah maka seluruh zaman menunggu-nunggu untuk merakamnya.

Dengan itu lahirlah kumpulan Islam hasil dari didikan Rasulullah s.a.w yang berasaskan Tauhid dan kemampuan mereka dalam bidang ilmu pengetahuan hasi dari pengajian mereka dari sumber al Quran al Karim dan as Sunnah an Nabawiyyah untuk mengepalai dan memimpin manusia ke arah kebaikan yang abadi.

Inilah satu revolusi pembentukan peribadi yang luarbiasa dan satu-satunya yang pernah berlaku di dalam sejarah kemanusiaan dan hingga kini revolusi seumpama itu berulang kembali. Revolusi yang menghasilkan kumpulan Mu’min sejati tampil mengepalai kepimpinan alam ke arah kesejahteraan dengan sifat-sifat kepimpinan yang tinggi dan mulia bagi menjamin kesejahteraan dan kejayaan manusia di bawah kepimpinan tersebut.


Saturday, January 28, 2012

Pada 24 Jan yang lepas, saya menghadiri jemputan program pembinaan remaja anjuran KeARAH Kelantan di Kota Bharu. Ketika hadir ke program ini saya merasa kagum dengan penganjur program kalangan mahasiswa kerana pada saat orang lain sibuk bercuti Raya Cina atau masih sedang berehat-rehat di rumah, mereka meninggalkan semua itu dan istiqamah berusaha menganjurkan program pembinaan remaja dan mahasiswa. Alhamdulillah, umat ini masih tetap miliki generasi muda yang cintakan Allah dan Rasul-Nya, yang cintakan dakwah dan tarbiyah.

Apa Yang Umat Hilang?

Menghimpunkan remaja dan belia, dan bercerita dengan mereka tentang tuntutan Islam dan harapan umat pada mereka bukan satu perkara yang mudah. Saya mengajak mereka untuk menilai realiti remaja masa kini. Ternyata pandangan mereka hampir sama. Mereka melihat remaja hari ini berada di jurang kehancuran, terjebak dengan keruntuhan akhlak dan diserang dengan virus permasalahan sosial. Persoalan seterusnya saya lontarkan, mengapa terjadi sedemikian? Mengapa remaja dan belia kita mudah terpengaruh dengan permasalahan ini? Apa yang hilang pada diri mereka?

Saya memberikan perumpamaan kepada mereka. Setiap kita ada sesuatu yang kita sayang. Ada yang sayangkan jam tangan, telefon bimbit, laptop, kekasih hati apatah lagi duit. Apabila perkara di atas hilang atau dicuri orang, apakah perasaan kita pada saat itu? Marah, sedih, menangis, kecewa, menyalah orang lain, berusaha mencari sampai dapat dan sebagainyakan. Begitulah manusia, begitu tinggi kecintaannya pada kebendaan dan sanggup menangis akibat kehilangannya. Lalu saya bertanyakan kepada mereka, bagaimana jika IMAN kita kepada Allah SWT hilang dalam diri kita? Akhlak Al Quran hilang pada diri kita, siapakah yang akan menangis, resah, bersedih dan pilu? Pernahkah kita menangis kerana memikirkan kehilangan yang besar itu? Lebih besar dari hilang jam tangan, telefon bimbit, laptop, kekasih hati mahupun duit.

Kesemua mereka bersetuju, permasalahan sosial dan keruntuhan akhlak hari ini berpunca dari kehakisan iman pada diri mereka. Begitu juga pada diri kita, tatkala iman semakin lusuh, maka akan berlaku kemerosotan pada akhlak dan hubungan kita kepada Allah SWT. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Sesungguhnya iman itu benar-benar mengalami kelesuan di dalam rongga (dada) salah seorang dari kamu seperti lusuhnya baju. Mintalah kepada Allah SWT agar Allah memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu”. (HR Thabrani)

Perbaharui Iman?

lman yang berada dalam jiwa kita sentiasa terdedah kepada kelunturan dan kelemahan kerana dijangkiti oleh berbagai penyakit seperti kesibukan urusan duniawi, terpedaya dengan cinta yang rapuh, selesa dengan kesenangan dan kebendaan dan lain-lain. Oleh itu kita perlu banyak memohon pertolongan kepada Allah SWT dengan sentiasa memperbaharui keimanan kita.

Memperbaharui iman, itulah kewajiban kita khasnya kepada anak muda hari ini. Projek memperharui iman ini kita sebut sebagai proses Tarbiyah lmaniyah. Proses ini mestilah berterusan, tidak boleh diabaikan atau dihentikan separuh jalan atau ditamatkan. Silibusnya mencakupi sepanjang hayat seorang muslim.

Menurut Al Syekh Mustafa Masyur, tarbiyah dan pembersihan jiwa diumpamakan seperti makanan dan siraman bagi pokok yang disemai atau ditanam. Jika pokok tidak dibajai dan disirami sentiasa, maka ia akan layu dan kering. la akan terus hidup subur jika dibajai dan disirami. Demikianiah manusia. Hidup sebenarnya bagi individu atau jemaah adalah kerana adanya iman. Hidup manusia sebenarnya adalah hidup hatinya dengan keimanan bukan hidup jasad yang akan fana. Iman di dalam hati itulah yang akan melahirkan kehidupan yang bermakna. Hati perlu digilap seialu kerana ia mungkin berkarat. Rasuluilah SAW bersabda yang bermaksud:

"Sesunggubnya hati manusia itu berkarat seperti berkaratnya besi. Sababat-sababat bertanya: Apakah pengilapnya wahai Rasulullah?. Rasulullah menerangkan: membaca Al Quran dan mengingati maut (mati).' (HR Al Baibaqi)

Kuasa Iman

Menurut Syed Qutb, orang yang memiliki iman yang kuat hanyalah orang-orang yang tidak menjadi hamba-sahaya dari siapapun selain Allah, dan tidak mengikuti siapapun kecuali RasulNya. Generasi beriman ini hanyalah orang yang dengan setulus hati percaya bahawa ajaran Allah dan RasulNya adalah kebenaran yang mutlak, dan apa pun yang bertentangan dengannya adalah sesat, dan apa pun yang baik bagi manusia dalam hidup di dunia ini mahupun di akhirat nanti seluruhnya telah terkandung dalam ajaran-ajaran Allah dan UtusanNya. Seseorang yang beriman sepenuhnya kepada kebenaran-kebenaran ini adalah orang yang selalu mencari petunjuk dari ajaran Allah dan RasulNya dalam setiap langkah-hidupnya dan yang menyangkut masalah yang dihadapinya, dan setelah mengetahui ajaran tersebut, lalu mengikutinya. Inilah yang dikatakan jiwa yang kuat imannya.

Iman adalah sumber kekuatan. Ia merupakan penjaga sekaligus pemelihara seseorang dari sikap meremehkan dosa yang akan mengheret kepada kemalasan untuk beramal. Orang yang lalai dan suka dengan maksiat sebenarnya pada dirinya tidak punya kekuatan. Krisis iman merupakan akar dari segala krisis. Ini kerana jiwa yang kosong dan terhijab dari keimanan tidak akan dapat menuntun pemiliknya ke jalan yang benar. Impak negatifnya juga akan dominan tatkala lemahnya interaksi, keterlibatan dan tanggungjawabnya terhadap pelbagai kewajiban Islam dan tuntutan dakwah. Hal ini adalah cerminan dari krisis iman yang bersemayam dalam hati.

Langkah Bina Iman

Setiap kita dituntut untuk memelihara dan meningkatkan iman dengan melakukan pendekatan diri kepada Allah SWT. Hanya diri kita sendiri yang paling berperanan agar dapat memelihara stabiliti dan kualiti iman kita. Caranya adalah dengan disiplin melakukan tilawatul-Qur’an, zikrullah, rutin membaca doa pagi serta petang, serta ibadah sunnah. Istiqamah dengan amal harian, meskipun sedikit, akan membuat stamina iman kita tetap kuat menghadapi pelbagai gangguan. Konsistensi diri dengan program-program tarbiyah insyaAllah akan dapat menyemarakkan lagi jiwa kita untuk beramal.

InsyaAllah, setelah melewati fasa mentarbiyah hati dengan ikhlas dan berjalan dengan baik, akan lahirlah para rijal da’wah yang ketangguhan jiwanya melebihi kemampuan serta ketahanan fizikalnya. Keberanian yang muncul dari semangat iman menjemput syahadah. Faktor inilah yang menjadikan mereka layak memperoleh pertolongan Allah, melalui kemenangan yang hampir tidak pernah putus. Pada saat inilah musuh-musuh Allah akan merasa gentar dengan kehadiran rijal da’wah yang menjadikan iman sebagai senjata utama kelajuan langkah perjuangannya.

Apakah yang akan memungkinkan kita dapat melahirkan rijal dakwah yang memiliki kekuatan iman yang mendalam? Rahsianya adalah sentiasa istiqamah. Istiqamah adalah akhlak terbesar Rasulullah SAW dan para sahabat RA. Istiqamah dalam 4 perkara:

- istiqamah dalam hidayah,

- istiqamah dalam keikhlasan,

- istiqamah dalam ketaatan dan

- istiqamah dalam kesabaran.

Inilah perkara terberat bagi setiap kita, para da’i dan bahkan para nabi untuk memilikinya dalam diri mereka. Ayat yang membuat Rasulullah SAW berubah rambutnya, adalah perintah untuk istiqamah.

“Maka istiqamahlah (kamu) sebagaimana yang Aku perintahkan…” (Hud: 112).

Dan inti dari istiqamah adalah kesabaran.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-Nya di pagi dan senja hari, dengan mengharap keredhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (kerana) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28).

Dalam perjalanan panjang dakwah dan tarbiyah ini, istiqamah dibangun melalui tarbiyah imaniyah yang terus-menerus, baik secara jama’i mahupun dzati (mandiri). Usrah dan halaqah tarbawi sangat dipenuhi dengan suasana ruhiyah dan peribadahan (munakh ruhi wa ta’abbudi), dan pelbagai aktiviti jama’i untuk tarqiyah ma’nawiyah dan tazkiyatun-nafs dilakukan secara berkala dan konsisten. Kemudian, diperkuatkan lagi dengan suasana saling menasihati dalam kebenaran (bil-haq), dalam kesabaran (bis-shabr) dan dalam kasih-sayang (bil-marhamah). Inilah yang saya serukan kepada para peserta yang hadir, semoga adik-adik ini menyahut seruan ini, insyaAllah.



Kehidupan: Keperluan Kepada Tarbiyah Imaniyah

Pada 24 Jan yang lepas, saya menghadiri jemputan program pembinaan remaja anjuran KeARAH Kelantan di Kota Bharu. Ketika hadir ke program ini saya merasa kagum dengan penganjur program kalangan mahasiswa kerana pada saat orang lain sibuk bercuti Raya Cina atau masih sedang berehat-rehat di rumah, mereka meninggalkan semua itu dan istiqamah berusaha menganjurkan program pembinaan remaja dan mahasiswa. Alhamdulillah, umat ini masih tetap miliki generasi muda yang cintakan Allah dan Rasul-Nya, yang cintakan dakwah dan tarbiyah.

Apa Yang Umat Hilang?

Menghimpunkan remaja dan belia, dan bercerita dengan mereka tentang tuntutan Islam dan harapan umat pada mereka bukan satu perkara yang mudah. Saya mengajak mereka untuk menilai realiti remaja masa kini. Ternyata pandangan mereka hampir sama. Mereka melihat remaja hari ini berada di jurang kehancuran, terjebak dengan keruntuhan akhlak dan diserang dengan virus permasalahan sosial. Persoalan seterusnya saya lontarkan, mengapa terjadi sedemikian? Mengapa remaja dan belia kita mudah terpengaruh dengan permasalahan ini? Apa yang hilang pada diri mereka?

Saya memberikan perumpamaan kepada mereka. Setiap kita ada sesuatu yang kita sayang. Ada yang sayangkan jam tangan, telefon bimbit, laptop, kekasih hati apatah lagi duit. Apabila perkara di atas hilang atau dicuri orang, apakah perasaan kita pada saat itu? Marah, sedih, menangis, kecewa, menyalah orang lain, berusaha mencari sampai dapat dan sebagainyakan. Begitulah manusia, begitu tinggi kecintaannya pada kebendaan dan sanggup menangis akibat kehilangannya. Lalu saya bertanyakan kepada mereka, bagaimana jika IMAN kita kepada Allah SWT hilang dalam diri kita? Akhlak Al Quran hilang pada diri kita, siapakah yang akan menangis, resah, bersedih dan pilu? Pernahkah kita menangis kerana memikirkan kehilangan yang besar itu? Lebih besar dari hilang jam tangan, telefon bimbit, laptop, kekasih hati mahupun duit.

Kesemua mereka bersetuju, permasalahan sosial dan keruntuhan akhlak hari ini berpunca dari kehakisan iman pada diri mereka. Begitu juga pada diri kita, tatkala iman semakin lusuh, maka akan berlaku kemerosotan pada akhlak dan hubungan kita kepada Allah SWT. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Sesungguhnya iman itu benar-benar mengalami kelesuan di dalam rongga (dada) salah seorang dari kamu seperti lusuhnya baju. Mintalah kepada Allah SWT agar Allah memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu”. (HR Thabrani)

Perbaharui Iman?

lman yang berada dalam jiwa kita sentiasa terdedah kepada kelunturan dan kelemahan kerana dijangkiti oleh berbagai penyakit seperti kesibukan urusan duniawi, terpedaya dengan cinta yang rapuh, selesa dengan kesenangan dan kebendaan dan lain-lain. Oleh itu kita perlu banyak memohon pertolongan kepada Allah SWT dengan sentiasa memperbaharui keimanan kita.

Memperbaharui iman, itulah kewajiban kita khasnya kepada anak muda hari ini. Projek memperharui iman ini kita sebut sebagai proses Tarbiyah lmaniyah. Proses ini mestilah berterusan, tidak boleh diabaikan atau dihentikan separuh jalan atau ditamatkan. Silibusnya mencakupi sepanjang hayat seorang muslim.

Menurut Al Syekh Mustafa Masyur, tarbiyah dan pembersihan jiwa diumpamakan seperti makanan dan siraman bagi pokok yang disemai atau ditanam. Jika pokok tidak dibajai dan disirami sentiasa, maka ia akan layu dan kering. la akan terus hidup subur jika dibajai dan disirami. Demikianiah manusia. Hidup sebenarnya bagi individu atau jemaah adalah kerana adanya iman. Hidup manusia sebenarnya adalah hidup hatinya dengan keimanan bukan hidup jasad yang akan fana. Iman di dalam hati itulah yang akan melahirkan kehidupan yang bermakna. Hati perlu digilap seialu kerana ia mungkin berkarat. Rasuluilah SAW bersabda yang bermaksud:

"Sesunggubnya hati manusia itu berkarat seperti berkaratnya besi. Sababat-sababat bertanya: Apakah pengilapnya wahai Rasulullah?. Rasulullah menerangkan: membaca Al Quran dan mengingati maut (mati).' (HR Al Baibaqi)

Kuasa Iman

Menurut Syed Qutb, orang yang memiliki iman yang kuat hanyalah orang-orang yang tidak menjadi hamba-sahaya dari siapapun selain Allah, dan tidak mengikuti siapapun kecuali RasulNya. Generasi beriman ini hanyalah orang yang dengan setulus hati percaya bahawa ajaran Allah dan RasulNya adalah kebenaran yang mutlak, dan apa pun yang bertentangan dengannya adalah sesat, dan apa pun yang baik bagi manusia dalam hidup di dunia ini mahupun di akhirat nanti seluruhnya telah terkandung dalam ajaran-ajaran Allah dan UtusanNya. Seseorang yang beriman sepenuhnya kepada kebenaran-kebenaran ini adalah orang yang selalu mencari petunjuk dari ajaran Allah dan RasulNya dalam setiap langkah-hidupnya dan yang menyangkut masalah yang dihadapinya, dan setelah mengetahui ajaran tersebut, lalu mengikutinya. Inilah yang dikatakan jiwa yang kuat imannya.

Iman adalah sumber kekuatan. Ia merupakan penjaga sekaligus pemelihara seseorang dari sikap meremehkan dosa yang akan mengheret kepada kemalasan untuk beramal. Orang yang lalai dan suka dengan maksiat sebenarnya pada dirinya tidak punya kekuatan. Krisis iman merupakan akar dari segala krisis. Ini kerana jiwa yang kosong dan terhijab dari keimanan tidak akan dapat menuntun pemiliknya ke jalan yang benar. Impak negatifnya juga akan dominan tatkala lemahnya interaksi, keterlibatan dan tanggungjawabnya terhadap pelbagai kewajiban Islam dan tuntutan dakwah. Hal ini adalah cerminan dari krisis iman yang bersemayam dalam hati.

Langkah Bina Iman

Setiap kita dituntut untuk memelihara dan meningkatkan iman dengan melakukan pendekatan diri kepada Allah SWT. Hanya diri kita sendiri yang paling berperanan agar dapat memelihara stabiliti dan kualiti iman kita. Caranya adalah dengan disiplin melakukan tilawatul-Qur’an, zikrullah, rutin membaca doa pagi serta petang, serta ibadah sunnah. Istiqamah dengan amal harian, meskipun sedikit, akan membuat stamina iman kita tetap kuat menghadapi pelbagai gangguan. Konsistensi diri dengan program-program tarbiyah insyaAllah akan dapat menyemarakkan lagi jiwa kita untuk beramal.

InsyaAllah, setelah melewati fasa mentarbiyah hati dengan ikhlas dan berjalan dengan baik, akan lahirlah para rijal da’wah yang ketangguhan jiwanya melebihi kemampuan serta ketahanan fizikalnya. Keberanian yang muncul dari semangat iman menjemput syahadah. Faktor inilah yang menjadikan mereka layak memperoleh pertolongan Allah, melalui kemenangan yang hampir tidak pernah putus. Pada saat inilah musuh-musuh Allah akan merasa gentar dengan kehadiran rijal da’wah yang menjadikan iman sebagai senjata utama kelajuan langkah perjuangannya.

Apakah yang akan memungkinkan kita dapat melahirkan rijal dakwah yang memiliki kekuatan iman yang mendalam? Rahsianya adalah sentiasa istiqamah. Istiqamah adalah akhlak terbesar Rasulullah SAW dan para sahabat RA. Istiqamah dalam 4 perkara:

- istiqamah dalam hidayah,

- istiqamah dalam keikhlasan,

- istiqamah dalam ketaatan dan

- istiqamah dalam kesabaran.

Inilah perkara terberat bagi setiap kita, para da’i dan bahkan para nabi untuk memilikinya dalam diri mereka. Ayat yang membuat Rasulullah SAW berubah rambutnya, adalah perintah untuk istiqamah.

“Maka istiqamahlah (kamu) sebagaimana yang Aku perintahkan…” (Hud: 112).

Dan inti dari istiqamah adalah kesabaran.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-Nya di pagi dan senja hari, dengan mengharap keredhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (kerana) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28).

Dalam perjalanan panjang dakwah dan tarbiyah ini, istiqamah dibangun melalui tarbiyah imaniyah yang terus-menerus, baik secara jama’i mahupun dzati (mandiri). Usrah dan halaqah tarbawi sangat dipenuhi dengan suasana ruhiyah dan peribadahan (munakh ruhi wa ta’abbudi), dan pelbagai aktiviti jama’i untuk tarqiyah ma’nawiyah dan tazkiyatun-nafs dilakukan secara berkala dan konsisten. Kemudian, diperkuatkan lagi dengan suasana saling menasihati dalam kebenaran (bil-haq), dalam kesabaran (bis-shabr) dan dalam kasih-sayang (bil-marhamah). Inilah yang saya serukan kepada para peserta yang hadir, semoga adik-adik ini menyahut seruan ini, insyaAllah.



Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah