Sunday, December 20, 2009


Penguasaan dakwah adalah kemampuan seorang aktivis dakwah dalam menarik perhatian dan mengusai massa dalam masyarakat yang beraneka ragam cara berfikir dan kefahaman serta tidak sama kedudukan dan budaya. Kemampuan dakwah yang perlu dimiliki oleh para aktivis dakwah adalah:

1. Kemampuan dakwah.

“ Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh, sambil berkata: "Sesungguhnya Aku adalah termasuk orang-orang yang menyerah diri." (Fushshilat:33)

Ayat di atas merupakan prinsip dakwah yang harus fahami. Menurut Allah, tidak ada kata yang lebih baik selain dari menyeru pada jalan-Nya. Setidaknya ada tiga tuntutan yang harus dilakukan oleh seorang aktivis dakwah untuk melihat kemampuan da’wiyah yang dimilikinya.

a. Sentiasa menyeru kepada Allah.
Bagi para du’ah, tugas dakwah sudah sebati dan melekat pada dirinya. Antara dakwah dan dirinya merupakan suatu kesatuan yang tidak mungkin dipisah. Sehinggakan tidak ada satu pun disisinya yang tidak bernilai dakwah. Dari ia mula tidur sehingga ia tidur kembali, proses tarbiyah yang dilalui telah menjadikannya aktivis dakwah yang tulen dan pejuang hakiki pada setiap masa dan keadaan. Waktunya hanya digunakan untuk dakwah semata dan amat faham dengan agenda menyebarluaskan dakwah dalam masyarakat. Ia terus bekerja, mengambil dan mencipta peluang untuk berdakwah dari mulai desahan nafasnya hinggalah ai dipanggil Allah swt. Inilah prinsip hidupnya yang selari dengan Al Quran:

”Katakanlah sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku untuk Rabb semesta alam...” (Al-An’aam:162).

b. Sentiasa mengerjakan amal soleh
Dienul Islam tidak hanya mementingkan ilmu dan kata-kata, Lebih dari itu, Islam amat memperhatikan amal soleh, apatah lagi ke atas jiwa dan cara hidup seorang aktivis dakwah. Al Quran secara tegas menjelaskan:

”Kenapa kalian menyuruh manusia supaya berbuat kebaikan sedang kalian lupa akan diri kalian sendiri (tidak melakukannya); padahal kalian semua membaca Kitab Allah (mengetahuinya), apakah kalian tidak berfikir?”

c. Sentiasa bertawakal kepada Allah
Maha suci Allah, ayat dari Fushshilat, ayat 33 di atas merupakan kalimah yang indah. Diawali dengan keutamaan menyeru kepada Allah, Seruan itu bukan cakap kosong dan hampa belaka, tetapi seruan itu adalah bertanggungjawab. Aktivis dakwah adalah sebagai penyeru dan berkewajipan pula untuk melaksanakan seruannya itu. Lalu apa pula setelah itu?


Sebagai penyeru, terkadang berhasil terkadang tidak upaya. Keberhasilan dan kegagalan dakwah hendaknya dikembalikan kepada Allah swt. Di sinilah pentingnya konsep tawakal. Dengan konsep tawakal para aktivis dakwah tidak akan terjerumus ke dalam lembah kesombongan kerana keberhasilan dalam dakwahnya. Selain itu ia tidak pula merasa jemu dan lelah, tatkala masyarakat menolak atau gagal misi dakwahnya.

2. Kemampuan Ilmiah.
Kemampuan ilmiah dirasai semakin penting tatkala para aktivis dakwah merentasi dakwah. Dan semakin menjadi keperluan dalam era dakwah masakini yang memasuki era globalisasi dan ledakan teknologi maklumat yang semakin pantas. Dengan berbekalkan kekuatan dan penguasaan ilmiah dari masa ke semasa akan dapat menghindarkan aktivis dakwah dari bersifat cetek ilmu dan pengetahuan semasa atau tidak ”up to date”. Namun sebaliknya aktivis dakwah dapat menyampaikan dakwahnya secara profesional, rasional, analitis dan ilmiah. Ia harus mampu memberi respon kepada persoalan-persoalan dan penyelelesaian kepada persoalan tersebut yang timbul dalam masyarakat. Ia mampu membawa suasana sekelilingnya kepada pentarbiyahan dan tidak terlarut kepada suasana. Dengan ilmunya juga ia memiliki kebijakan dalam mentarbiah mad’u sekitarnya.

Sebagai contoh, Imam Muslim meriwayatkan, suatu ketika Rasulullah saw berjalan di pasar bersama para sahabatnya. Tiba-tiba beliau menjumpai bangkai seekor anak kambing jelek kerana bentuk telinganya yang kecil. Baginda mengambilnya dengan mengangkat telinganya dan bersabda:

”Siapakah di antara kalian yang mahu membeli ini dengan harga satu dirham”?
”Sedikitpun kami tak ingin memilikinya, untuk apa benda seperti itu?” jawab para sahabat.
”Mahukan kalian jika benda ini aku berikan secara percuma?” Sabda Rasulullah saw lagi.
Demi Allah, andaikan binatang itu masih hidup, ia amat jelek bentuknya kerana telinganya kecil, apalagi binatang itu sudah menjadi bangkai,” jawab para sahabat.
Rasulullah saw. bersabda:
”Demi Allah, sesungguhnya nilai dunia itu lebih rendah di sisi Allah daripada bangkai yang kalian rendahkan ini.”

Demikianlah sikap kebijakan Rasulullah saw terhadap tarbiyah. Begitu banyak contoh-contoh lain untuk mengungkap kapasiti ilmiah Rasulullah saw dan para sahabat dalam mendepani urusan dakwah dan tarbiyah. Secara manusiawi, peristiwa hijrah Rasul bersama Abu Bakar r.a adalah sebuah contoh yang menggambarkan sikap dan pemikiran ilmiah baginda yang tidak dapat kita lupakan begitu sahaja. Mulai dari perencanaan, pemberangkatan, diperjalanan serta keupayaan-keupayaan penyelamatan dalam hijrah rasul, sarat dengan cara-cara dan kaedah ilmiah melalui daya analisis baginda yang rasional dan argumentatif.

3. Kemampuan kemahiran dan kepakaran dalam bidang masing-masing
Kemampuan ini mempunyai kaitan erat di antara kemampuan dakwah dan dan kemampuan ilmiah. Kemampuan dakwah harus di tunjang dengan kemampuan ilmiah agar dakwah yang dilaksanakan tidak tergelincir dengan landasan misi dan visi dakwah. Namun dakwah akan lebih efektif dan efisien jika aktivisnya dibekali dengan kemampuan kepakaran masing-masing yang tersendiri.

Abdurahman Bin Aus dan Mush’ab B. Umair adalah dua contoh yang boleh kita ungkapkan. Mereka berdakwah dengan memanfatkan kepakaran masing-masing selain dengan kemampuan dan kemahiran lain yang mereka miliki iaitu keahlian dalam perniagaan dan dalam menyampaikan bahan-bahan tarbiyah.

Aktivis dakwah dalam urusan sosial kemasyarakatan hari ini memerlukan aktivis dakwah yang memiliki kemampuan tambahan dengan meningkatkan kemampuan kepakaran yang boleh memberi manfaat kepada dakwah seperti kepakaran dalam bidang sukarelawan, paramedik, kaunseling, kemahiran ICT, menyampaikan ceramah motivasi, memberi tazkirah di surau atau masjid dan sebagainya selain dari kemampuan kepakaran yang sedia ada terbina dalam kerjaya masing-masing. Kesemua kepakaran yang dimiliki ini menjadi medan dakwah dan pengenalan kepada proses pentarbiyahan dalam masyarakat.

Justeru menekuni satu bidang ilmu tanpa melalaikan Al Quran sebagai minhajul hayah merupakan suatu program jangka panjang yang tepat. Selain itu Allah pun menegaskan:

”Katakanlah, (hai Muhammad) samakah kedudukan orang yang berpengetahuan dengan mereka yang tidak berpengetahuan?” (az Zumar:9)

Sabda Rasul saw:
” Orang-orang berilmu itu ibarat bebintang yang memberi penerangan (mereka yang di bumi), jika bintang-bintang itu redup, akan tersesatlah mereka (yang berjalan di bumi) itu.” (HR Ahmad).

Institusi Tarbiyah mampu menjadi asas kepada perubahan manusia hari ini dari kegelapan kepada cahaya. Agar perubahan mampu tercipta para aktivis dakwah dan tarbiyah harus memiliki dan meningkatkan ketiga-tiga kemampuan di atas agar dapat membantu para aktivis untuk mengarahkan perubahan masyarakat menuju jalan Allah swt. dengan tetap memperhatikan satu faktor: La haula walaa quwwata illaa billah.

Wallahua’lam.

Meningkatkan Penguasaan Berdakwah


Penguasaan dakwah adalah kemampuan seorang aktivis dakwah dalam menarik perhatian dan mengusai massa dalam masyarakat yang beraneka ragam cara berfikir dan kefahaman serta tidak sama kedudukan dan budaya. Kemampuan dakwah yang perlu dimiliki oleh para aktivis dakwah adalah:

1. Kemampuan dakwah.

“ Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh, sambil berkata: "Sesungguhnya Aku adalah termasuk orang-orang yang menyerah diri." (Fushshilat:33)

Ayat di atas merupakan prinsip dakwah yang harus fahami. Menurut Allah, tidak ada kata yang lebih baik selain dari menyeru pada jalan-Nya. Setidaknya ada tiga tuntutan yang harus dilakukan oleh seorang aktivis dakwah untuk melihat kemampuan da’wiyah yang dimilikinya.

a. Sentiasa menyeru kepada Allah.
Bagi para du’ah, tugas dakwah sudah sebati dan melekat pada dirinya. Antara dakwah dan dirinya merupakan suatu kesatuan yang tidak mungkin dipisah. Sehinggakan tidak ada satu pun disisinya yang tidak bernilai dakwah. Dari ia mula tidur sehingga ia tidur kembali, proses tarbiyah yang dilalui telah menjadikannya aktivis dakwah yang tulen dan pejuang hakiki pada setiap masa dan keadaan. Waktunya hanya digunakan untuk dakwah semata dan amat faham dengan agenda menyebarluaskan dakwah dalam masyarakat. Ia terus bekerja, mengambil dan mencipta peluang untuk berdakwah dari mulai desahan nafasnya hinggalah ai dipanggil Allah swt. Inilah prinsip hidupnya yang selari dengan Al Quran:

”Katakanlah sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku untuk Rabb semesta alam...” (Al-An’aam:162).

b. Sentiasa mengerjakan amal soleh
Dienul Islam tidak hanya mementingkan ilmu dan kata-kata, Lebih dari itu, Islam amat memperhatikan amal soleh, apatah lagi ke atas jiwa dan cara hidup seorang aktivis dakwah. Al Quran secara tegas menjelaskan:

”Kenapa kalian menyuruh manusia supaya berbuat kebaikan sedang kalian lupa akan diri kalian sendiri (tidak melakukannya); padahal kalian semua membaca Kitab Allah (mengetahuinya), apakah kalian tidak berfikir?”

c. Sentiasa bertawakal kepada Allah
Maha suci Allah, ayat dari Fushshilat, ayat 33 di atas merupakan kalimah yang indah. Diawali dengan keutamaan menyeru kepada Allah, Seruan itu bukan cakap kosong dan hampa belaka, tetapi seruan itu adalah bertanggungjawab. Aktivis dakwah adalah sebagai penyeru dan berkewajipan pula untuk melaksanakan seruannya itu. Lalu apa pula setelah itu?


Sebagai penyeru, terkadang berhasil terkadang tidak upaya. Keberhasilan dan kegagalan dakwah hendaknya dikembalikan kepada Allah swt. Di sinilah pentingnya konsep tawakal. Dengan konsep tawakal para aktivis dakwah tidak akan terjerumus ke dalam lembah kesombongan kerana keberhasilan dalam dakwahnya. Selain itu ia tidak pula merasa jemu dan lelah, tatkala masyarakat menolak atau gagal misi dakwahnya.

2. Kemampuan Ilmiah.
Kemampuan ilmiah dirasai semakin penting tatkala para aktivis dakwah merentasi dakwah. Dan semakin menjadi keperluan dalam era dakwah masakini yang memasuki era globalisasi dan ledakan teknologi maklumat yang semakin pantas. Dengan berbekalkan kekuatan dan penguasaan ilmiah dari masa ke semasa akan dapat menghindarkan aktivis dakwah dari bersifat cetek ilmu dan pengetahuan semasa atau tidak ”up to date”. Namun sebaliknya aktivis dakwah dapat menyampaikan dakwahnya secara profesional, rasional, analitis dan ilmiah. Ia harus mampu memberi respon kepada persoalan-persoalan dan penyelelesaian kepada persoalan tersebut yang timbul dalam masyarakat. Ia mampu membawa suasana sekelilingnya kepada pentarbiyahan dan tidak terlarut kepada suasana. Dengan ilmunya juga ia memiliki kebijakan dalam mentarbiah mad’u sekitarnya.

Sebagai contoh, Imam Muslim meriwayatkan, suatu ketika Rasulullah saw berjalan di pasar bersama para sahabatnya. Tiba-tiba beliau menjumpai bangkai seekor anak kambing jelek kerana bentuk telinganya yang kecil. Baginda mengambilnya dengan mengangkat telinganya dan bersabda:

”Siapakah di antara kalian yang mahu membeli ini dengan harga satu dirham”?
”Sedikitpun kami tak ingin memilikinya, untuk apa benda seperti itu?” jawab para sahabat.
”Mahukan kalian jika benda ini aku berikan secara percuma?” Sabda Rasulullah saw lagi.
Demi Allah, andaikan binatang itu masih hidup, ia amat jelek bentuknya kerana telinganya kecil, apalagi binatang itu sudah menjadi bangkai,” jawab para sahabat.
Rasulullah saw. bersabda:
”Demi Allah, sesungguhnya nilai dunia itu lebih rendah di sisi Allah daripada bangkai yang kalian rendahkan ini.”

Demikianlah sikap kebijakan Rasulullah saw terhadap tarbiyah. Begitu banyak contoh-contoh lain untuk mengungkap kapasiti ilmiah Rasulullah saw dan para sahabat dalam mendepani urusan dakwah dan tarbiyah. Secara manusiawi, peristiwa hijrah Rasul bersama Abu Bakar r.a adalah sebuah contoh yang menggambarkan sikap dan pemikiran ilmiah baginda yang tidak dapat kita lupakan begitu sahaja. Mulai dari perencanaan, pemberangkatan, diperjalanan serta keupayaan-keupayaan penyelamatan dalam hijrah rasul, sarat dengan cara-cara dan kaedah ilmiah melalui daya analisis baginda yang rasional dan argumentatif.

3. Kemampuan kemahiran dan kepakaran dalam bidang masing-masing
Kemampuan ini mempunyai kaitan erat di antara kemampuan dakwah dan dan kemampuan ilmiah. Kemampuan dakwah harus di tunjang dengan kemampuan ilmiah agar dakwah yang dilaksanakan tidak tergelincir dengan landasan misi dan visi dakwah. Namun dakwah akan lebih efektif dan efisien jika aktivisnya dibekali dengan kemampuan kepakaran masing-masing yang tersendiri.

Abdurahman Bin Aus dan Mush’ab B. Umair adalah dua contoh yang boleh kita ungkapkan. Mereka berdakwah dengan memanfatkan kepakaran masing-masing selain dengan kemampuan dan kemahiran lain yang mereka miliki iaitu keahlian dalam perniagaan dan dalam menyampaikan bahan-bahan tarbiyah.

Aktivis dakwah dalam urusan sosial kemasyarakatan hari ini memerlukan aktivis dakwah yang memiliki kemampuan tambahan dengan meningkatkan kemampuan kepakaran yang boleh memberi manfaat kepada dakwah seperti kepakaran dalam bidang sukarelawan, paramedik, kaunseling, kemahiran ICT, menyampaikan ceramah motivasi, memberi tazkirah di surau atau masjid dan sebagainya selain dari kemampuan kepakaran yang sedia ada terbina dalam kerjaya masing-masing. Kesemua kepakaran yang dimiliki ini menjadi medan dakwah dan pengenalan kepada proses pentarbiyahan dalam masyarakat.

Justeru menekuni satu bidang ilmu tanpa melalaikan Al Quran sebagai minhajul hayah merupakan suatu program jangka panjang yang tepat. Selain itu Allah pun menegaskan:

”Katakanlah, (hai Muhammad) samakah kedudukan orang yang berpengetahuan dengan mereka yang tidak berpengetahuan?” (az Zumar:9)

Sabda Rasul saw:
” Orang-orang berilmu itu ibarat bebintang yang memberi penerangan (mereka yang di bumi), jika bintang-bintang itu redup, akan tersesatlah mereka (yang berjalan di bumi) itu.” (HR Ahmad).

Institusi Tarbiyah mampu menjadi asas kepada perubahan manusia hari ini dari kegelapan kepada cahaya. Agar perubahan mampu tercipta para aktivis dakwah dan tarbiyah harus memiliki dan meningkatkan ketiga-tiga kemampuan di atas agar dapat membantu para aktivis untuk mengarahkan perubahan masyarakat menuju jalan Allah swt. dengan tetap memperhatikan satu faktor: La haula walaa quwwata illaa billah.

Wallahua’lam.

Sunday, December 13, 2009


Jalan perubahan

Jalan menuju pembebasan wilayah-wilayah Islam ialah dengan berusaha untuk mendirikan Khilafah Islamiyah yang menjadi pelindung, pembela dan pemelihara umat. Oleh itu berusaha untuk mendirikan Khilafah Islamiyah ini menjadi kewajipan bagi setiap muslim, dan tidak dapat digugurkan kewajipan ini sehingga Khilafah Islamiyah tertegak, bangunannya kuat dan mampu mengembalikan wilayah-wilayah Islam yang telah dirampas oleh musuh.

Jalan menuju Khilafah Islamiyah pula dimulai dengan membina generasi muslim.

1. Pembinaan generasi muslim

Pembinaan generasi muslim dimulai dengan pemilihan peribadi-peribadi. Mereka dibentuk dan dipersiapkan dengan persiapan Islam dengan menggunakan sumber-sumber yang muktabar. Mereka saling lengkap melengkapi untuk melaksanakan ‘amal Islami. Generasi ini menjadi asas bagi masyarakat Islam yang dicita-citakan. Peribadi-peribadi muslim adalah asas atau dasar bagi bangunan Islam yang kuat.

Beginilah da'wah yang dilakukan oleh Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam di Mekah. Selama tiga belas tahun baginda telah mengumpulkan peribadi-peribadi yang berjumlah tidak sampai 200 orang, yang menjadi benih dan asas yang kukuh bagi pembinaan masyarakat Islam.

Umat Islam tidak akan baik kecuali dianggotai oleh peribadi-peribadi yang baik. Peribadi yang baik pula tidak akan lahir kecuali dengan tarbiyah dan takwin yang lengkap dan seimbang.


Tujuan tarbiyah ialah untuk melahirkan peribadi muslim yang beribadah kepada Allah, takut hanya kepada Allah, iltizam hanya kepada hukum Allah, tidak bermusuhan kecuali kerana Allah, merasa mulia dengan din Allah, membersihkan tauhidnya hanya kepada Allah, menghormati syi'ar-syi'ar Allah, menjauhi larangan Allah, hati merasa kaya dan puas dengan beriman kepada Allah, bersifat qana'ah, tidak merasa gembira apabila mendapat dunia, tidak merasa sedih apabila kehilangan dunia, bertawakal kepada Allah, redha dengan ketentuan Allah, mengutamakan maslahat din, berterus terang dengan kebenaran dan mengikat diri serta konsisten dengan kebenaran.

Seterusnya, tidak berangan-angan panjang, bermuhasabah terhadap diri, berburuk sangka terhadap nafsu, mengambil yang halal, menjauhi yang syubhat, berakhlak baik, lemah lembut, memelihara kebersihan, menunaikan amanah, menepati janji, tidak berdusta, tawadhu', tidak hasad terhadap sesama muslim dan bersaudara serta mementingkan saudaranya.

Seterusnya lagi, memahami Islam dari sumber yang muktabar, mendahulukan yang wajib daripada yang sunat, hati tahan dan sabar, memperelokkan amal, meningkatkan kemahiran, berda'wah kepada Allah dan bukan kepada peribadinya, berharapkan Allah, mencegah kemungkaran bermula pada dirinya serta keluarganya, mengikuti sunnah Rasulullah Sallallahhu'alaihiwasallam dan banyak bertaubat serta mengucapkan istighfar.

Tujuan tarbiyah sebegini memerlukan sistem tarbiyah yang mantap dan ditegakkan oleh orang-orang berkemahuan kuat untuk membina diri mereka sendiri.

Hasan Al Banna menyedari hal ini, lalu beliau membangunkan manhaj usrah sebagai manhaj pendidikan yang membentuk peribadi yang lengkap dan seimbang.

Hasan Al Banna menyatakan, "Tujuan Ikhwan adalah membentuk generasi umat Islam yang baru dengan ajaran Islam yang haq dan berusaha untuk memberikan warna (rupabentuk) bagi umat ini dengan warna (rupabentuk) Islam yang sempurna dalam setiap aspek kehidupan. Firman Allah Subhanahuwata'ala:

"Sibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik sibghahnya daripada Allah."
(Al Baqarah (2): 138)


Cara mereka adalah dengan merubah adat kebiasaan umum dan mendidik para pendakwah dengan ajaran Islam sehingga mereka menjadi contoh kepada manusia lain dalam keiltizaman, keinginan menjadi contoh dan melaksanakan hukum-hukum Islam."

Kewajiban Beramal (2)


Jalan perubahan

Jalan menuju pembebasan wilayah-wilayah Islam ialah dengan berusaha untuk mendirikan Khilafah Islamiyah yang menjadi pelindung, pembela dan pemelihara umat. Oleh itu berusaha untuk mendirikan Khilafah Islamiyah ini menjadi kewajipan bagi setiap muslim, dan tidak dapat digugurkan kewajipan ini sehingga Khilafah Islamiyah tertegak, bangunannya kuat dan mampu mengembalikan wilayah-wilayah Islam yang telah dirampas oleh musuh.

Jalan menuju Khilafah Islamiyah pula dimulai dengan membina generasi muslim.

1. Pembinaan generasi muslim

Pembinaan generasi muslim dimulai dengan pemilihan peribadi-peribadi. Mereka dibentuk dan dipersiapkan dengan persiapan Islam dengan menggunakan sumber-sumber yang muktabar. Mereka saling lengkap melengkapi untuk melaksanakan ‘amal Islami. Generasi ini menjadi asas bagi masyarakat Islam yang dicita-citakan. Peribadi-peribadi muslim adalah asas atau dasar bagi bangunan Islam yang kuat.

Beginilah da'wah yang dilakukan oleh Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam di Mekah. Selama tiga belas tahun baginda telah mengumpulkan peribadi-peribadi yang berjumlah tidak sampai 200 orang, yang menjadi benih dan asas yang kukuh bagi pembinaan masyarakat Islam.

Umat Islam tidak akan baik kecuali dianggotai oleh peribadi-peribadi yang baik. Peribadi yang baik pula tidak akan lahir kecuali dengan tarbiyah dan takwin yang lengkap dan seimbang.


Tujuan tarbiyah ialah untuk melahirkan peribadi muslim yang beribadah kepada Allah, takut hanya kepada Allah, iltizam hanya kepada hukum Allah, tidak bermusuhan kecuali kerana Allah, merasa mulia dengan din Allah, membersihkan tauhidnya hanya kepada Allah, menghormati syi'ar-syi'ar Allah, menjauhi larangan Allah, hati merasa kaya dan puas dengan beriman kepada Allah, bersifat qana'ah, tidak merasa gembira apabila mendapat dunia, tidak merasa sedih apabila kehilangan dunia, bertawakal kepada Allah, redha dengan ketentuan Allah, mengutamakan maslahat din, berterus terang dengan kebenaran dan mengikat diri serta konsisten dengan kebenaran.

Seterusnya, tidak berangan-angan panjang, bermuhasabah terhadap diri, berburuk sangka terhadap nafsu, mengambil yang halal, menjauhi yang syubhat, berakhlak baik, lemah lembut, memelihara kebersihan, menunaikan amanah, menepati janji, tidak berdusta, tawadhu', tidak hasad terhadap sesama muslim dan bersaudara serta mementingkan saudaranya.

Seterusnya lagi, memahami Islam dari sumber yang muktabar, mendahulukan yang wajib daripada yang sunat, hati tahan dan sabar, memperelokkan amal, meningkatkan kemahiran, berda'wah kepada Allah dan bukan kepada peribadinya, berharapkan Allah, mencegah kemungkaran bermula pada dirinya serta keluarganya, mengikuti sunnah Rasulullah Sallallahhu'alaihiwasallam dan banyak bertaubat serta mengucapkan istighfar.

Tujuan tarbiyah sebegini memerlukan sistem tarbiyah yang mantap dan ditegakkan oleh orang-orang berkemahuan kuat untuk membina diri mereka sendiri.

Hasan Al Banna menyedari hal ini, lalu beliau membangunkan manhaj usrah sebagai manhaj pendidikan yang membentuk peribadi yang lengkap dan seimbang.

Hasan Al Banna menyatakan, "Tujuan Ikhwan adalah membentuk generasi umat Islam yang baru dengan ajaran Islam yang haq dan berusaha untuk memberikan warna (rupabentuk) bagi umat ini dengan warna (rupabentuk) Islam yang sempurna dalam setiap aspek kehidupan. Firman Allah Subhanahuwata'ala:

"Sibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik sibghahnya daripada Allah."
(Al Baqarah (2): 138)


Cara mereka adalah dengan merubah adat kebiasaan umum dan mendidik para pendakwah dengan ajaran Islam sehingga mereka menjadi contoh kepada manusia lain dalam keiltizaman, keinginan menjadi contoh dan melaksanakan hukum-hukum Islam."

Realiti umat Islam kini

Musuh-musuh Islam telah melakukan pelbagai konspirasi untuk melemahkan umat Islam. Pada tahun 1924 musuh-musuh Islam telah berjaya meruntuhkan khilafah Islamiyah yang menjadi wadah penyatuan umat meski pun pada masa itu khilafah Islamiyah telah lemah. Maka umat Islam pun berpecah-belah dan bercerai-berai. Negara Islam dibahagi-bahagikan kepada negara-negara yang kecil.

Musuh Islam mengangkat para pemimpin di negara-negara Islam dari kalangan umat Islam sendiri, tetapi menjadi boneka musuh. Musuh telah membuka jalan kepada bonekanya untuk menguasai kekayaan umat Islam.

Setelah musuh berjaya memecah-belahkan umat, maka musuh terus menyerang aqidah umat. Aqidah umat Islam dihakis dan nilai-nilai iman dipesongkan atau dihapuskan. Tarikat-tarikat sufi yang menyeleweng disokong dan disuburkan sehingga sebahagian umat mempercayai kemampuan luar biasa sheikh-sheikh yang mereka anggap sebagai wali. Ada di kalangan umat yang berbuat bid’ah di makam-makam tertentu yang mereka percaya boleh menyembuh penyakit dan meluaskan rezeki.

Musuh juga membuka pintu kepada ajaran komunisma, sekularisma dan ‘freemasonary’ agar terus menaburkan racun kepada din Islam.

Akibat dari kerja-kerja musuh itu lahirlah generasi umat Islam yang lemah aqidah dan jahil kefahaman terhadap Islam. Pemikiran mereka telah dijajah dan hati mereka telah mengilahkan selain daripada Allah Subhanahuwata’ala.

Namun, bukan setakat itu, musuh Islam meneruskan usaha menghancurkan umat Islam dengan memusnahkan nilai-nilai kebaikan yang masih tersisa di dalam hati-hati umat. Mereka menenggelamkan umat ke dalam lautan syahwat. Mereka mengarahkan perhatian umat kepada filem-filem, isu-isu sensasi, gambar-gambar yang menjolok mata, pertandingan sukan dan pelbagai aktiviti yang sia-sia serta merosakkan. Mereka pergunakan sepenuhnya media masa yang mereka kuasai untuk menghancurkan umat.

Wilayah-wilayah Islam pula sedikit demi sedikit dimusnahkan. Dulu Andalus, sekarang Palestin, Kashmir, Bosnia, Afghanistan, Chechen dan Iraq.

Musuh utama Islam, iaitu gerakan zionisme antarabangsa, telah mengumpulkan seluruh bangsa di bumi ini untuk menghancurkan umat Islam. Mereka dengan licik membuat penipuan dan rancangan untuk menyerang negara-negara Islam dari pelbagai penjuru. Pada setiap hari dunia dihidangkan dengan berita penghinaan, kezaliman dan pembunuhan terhadap umat. Umat Islam telah menjadi lebih terlantar daripada anak yatim yang terbiar.



Wajib melakukan perubahan

Realiti pahit yang dialami oleh umat Islam mewajibkan setiap muslim untuk melakukan perubahan. Setiap muslim yang menghadap Allah Subhanahuwata’ala, tetapi beliau tidak menolong din Nya akan berdosa. Kita merasa malu untuk berhadapan dengan Allah Subhanahuwata’ala jika kita tidak berbuat sesuatu untuk meninggikan kalimah Nya dan membebaskan negara-negara Islam daripada penguasaan musuh-musuh Nya.

Seandainya kita tidak bergerak dan berjuang mulai sekarang, maka hendaklah kita takut akan ancaman Allah Subhanahuwata’ala:


“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim sahaja di antara kamu,”
(Al Anfal (8): 25)



Dalil-dalil wajib berkerja untuk menegakkan Islam

Dalil-dalil yang mewajibkan muslim untuk berkerja melakukan perubahan dan menegakkan Islam ialah:

1. Jihad di jalan Allah Subhanahuwata’ala merupakan fardhu ‘ain bagi muslim apabila tanahnya dirampas oleh musuh. Apabila dia tidak mampu untuk membebaskannya, maka hukumnya wajib bagi mereka yang hampir, dan bagitulah seterusnya. Kewajipan ini tidak gugur kecuali dengan berkerja untuk membebaskan tanah-tanah yang telah dirampas itu. Hukum ini telah disepakati oleh para fuqaha’.

Kita semua telah masuk ke dalam kerangka wajib berjihad yang menjadi fardhu a’in.

2. Allah Subhanahuwata’ala telah mensifatkan umat Islam sebagai sebagai umat yang terbaik disebabkan mereka mengajak kepada ma’ruf dan mencegah daripada mungkar. Firman Allah Subhanahuwata’ala:


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah daripada mungkar, dan beriman kepada Allah.”
(Ali ‘Imran (3) : 110)

Mungkar yang paling besar yang berlaku pada umat ialah hilangnya syari’at dan hukum Allah yang syumul dalam sistem kehidupan umat.

Manakala ma’ruf yang paling besar ialah meninggikan kalimah Allah Subhanahuwata’ala, melaksanakan syari’at Nya dan mengembalikan umat kepada sistem kehidupan Islam yang syumul.

Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah tugas wajib bagi setiap muslim. Orang yang berilmu tidak boleh meninggalkan da’wah (amar ma’ruf dan nahi mungkar) di atas alasan masih belum beramal dengan ilmunya. Bahkan, dia wajib berusaha untuk beramal dengan ilmunya dan menegakkan da’wah Islamiyah. Orang yang kurang ilmu pula tidak boleh meninggalkan da’wah di atas alasan kekurangan ilmunya. Bahkan dia wajib menuntut ilmu, berusaha beramal dengan ilmunya dan menegakkan da’wah sesuai dengan kemampuannya.

Said bin Jubair menyatakan, “Seandainya seseorang tidak menyuruh kepada ma’ruf dan tidak mencegah daripada mungkar (kerana merasakan belum berilmu atau belum beramal dengan ilmunya), maka nescaya tidak akan ada seorang pun yang menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah daripada mungkar (kerana setiap manusia akan merasakan dia belum sempurna).”

Justeru itu muslim perlu menghayati panduan yang dinyatakan oleh Mustafa Masyhur:


“Perbaikilah dirimu dan serulah manusia lain (kepada Islam)”

Kewajiban Beramal (1)


Realiti umat Islam kini

Musuh-musuh Islam telah melakukan pelbagai konspirasi untuk melemahkan umat Islam. Pada tahun 1924 musuh-musuh Islam telah berjaya meruntuhkan khilafah Islamiyah yang menjadi wadah penyatuan umat meski pun pada masa itu khilafah Islamiyah telah lemah. Maka umat Islam pun berpecah-belah dan bercerai-berai. Negara Islam dibahagi-bahagikan kepada negara-negara yang kecil.

Musuh Islam mengangkat para pemimpin di negara-negara Islam dari kalangan umat Islam sendiri, tetapi menjadi boneka musuh. Musuh telah membuka jalan kepada bonekanya untuk menguasai kekayaan umat Islam.

Setelah musuh berjaya memecah-belahkan umat, maka musuh terus menyerang aqidah umat. Aqidah umat Islam dihakis dan nilai-nilai iman dipesongkan atau dihapuskan. Tarikat-tarikat sufi yang menyeleweng disokong dan disuburkan sehingga sebahagian umat mempercayai kemampuan luar biasa sheikh-sheikh yang mereka anggap sebagai wali. Ada di kalangan umat yang berbuat bid’ah di makam-makam tertentu yang mereka percaya boleh menyembuh penyakit dan meluaskan rezeki.

Musuh juga membuka pintu kepada ajaran komunisma, sekularisma dan ‘freemasonary’ agar terus menaburkan racun kepada din Islam.

Akibat dari kerja-kerja musuh itu lahirlah generasi umat Islam yang lemah aqidah dan jahil kefahaman terhadap Islam. Pemikiran mereka telah dijajah dan hati mereka telah mengilahkan selain daripada Allah Subhanahuwata’ala.

Namun, bukan setakat itu, musuh Islam meneruskan usaha menghancurkan umat Islam dengan memusnahkan nilai-nilai kebaikan yang masih tersisa di dalam hati-hati umat. Mereka menenggelamkan umat ke dalam lautan syahwat. Mereka mengarahkan perhatian umat kepada filem-filem, isu-isu sensasi, gambar-gambar yang menjolok mata, pertandingan sukan dan pelbagai aktiviti yang sia-sia serta merosakkan. Mereka pergunakan sepenuhnya media masa yang mereka kuasai untuk menghancurkan umat.

Wilayah-wilayah Islam pula sedikit demi sedikit dimusnahkan. Dulu Andalus, sekarang Palestin, Kashmir, Bosnia, Afghanistan, Chechen dan Iraq.

Musuh utama Islam, iaitu gerakan zionisme antarabangsa, telah mengumpulkan seluruh bangsa di bumi ini untuk menghancurkan umat Islam. Mereka dengan licik membuat penipuan dan rancangan untuk menyerang negara-negara Islam dari pelbagai penjuru. Pada setiap hari dunia dihidangkan dengan berita penghinaan, kezaliman dan pembunuhan terhadap umat. Umat Islam telah menjadi lebih terlantar daripada anak yatim yang terbiar.



Wajib melakukan perubahan

Realiti pahit yang dialami oleh umat Islam mewajibkan setiap muslim untuk melakukan perubahan. Setiap muslim yang menghadap Allah Subhanahuwata’ala, tetapi beliau tidak menolong din Nya akan berdosa. Kita merasa malu untuk berhadapan dengan Allah Subhanahuwata’ala jika kita tidak berbuat sesuatu untuk meninggikan kalimah Nya dan membebaskan negara-negara Islam daripada penguasaan musuh-musuh Nya.

Seandainya kita tidak bergerak dan berjuang mulai sekarang, maka hendaklah kita takut akan ancaman Allah Subhanahuwata’ala:


“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim sahaja di antara kamu,”
(Al Anfal (8): 25)



Dalil-dalil wajib berkerja untuk menegakkan Islam

Dalil-dalil yang mewajibkan muslim untuk berkerja melakukan perubahan dan menegakkan Islam ialah:

1. Jihad di jalan Allah Subhanahuwata’ala merupakan fardhu ‘ain bagi muslim apabila tanahnya dirampas oleh musuh. Apabila dia tidak mampu untuk membebaskannya, maka hukumnya wajib bagi mereka yang hampir, dan bagitulah seterusnya. Kewajipan ini tidak gugur kecuali dengan berkerja untuk membebaskan tanah-tanah yang telah dirampas itu. Hukum ini telah disepakati oleh para fuqaha’.

Kita semua telah masuk ke dalam kerangka wajib berjihad yang menjadi fardhu a’in.

2. Allah Subhanahuwata’ala telah mensifatkan umat Islam sebagai sebagai umat yang terbaik disebabkan mereka mengajak kepada ma’ruf dan mencegah daripada mungkar. Firman Allah Subhanahuwata’ala:


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah daripada mungkar, dan beriman kepada Allah.”
(Ali ‘Imran (3) : 110)

Mungkar yang paling besar yang berlaku pada umat ialah hilangnya syari’at dan hukum Allah yang syumul dalam sistem kehidupan umat.

Manakala ma’ruf yang paling besar ialah meninggikan kalimah Allah Subhanahuwata’ala, melaksanakan syari’at Nya dan mengembalikan umat kepada sistem kehidupan Islam yang syumul.

Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah tugas wajib bagi setiap muslim. Orang yang berilmu tidak boleh meninggalkan da’wah (amar ma’ruf dan nahi mungkar) di atas alasan masih belum beramal dengan ilmunya. Bahkan, dia wajib berusaha untuk beramal dengan ilmunya dan menegakkan da’wah Islamiyah. Orang yang kurang ilmu pula tidak boleh meninggalkan da’wah di atas alasan kekurangan ilmunya. Bahkan dia wajib menuntut ilmu, berusaha beramal dengan ilmunya dan menegakkan da’wah sesuai dengan kemampuannya.

Said bin Jubair menyatakan, “Seandainya seseorang tidak menyuruh kepada ma’ruf dan tidak mencegah daripada mungkar (kerana merasakan belum berilmu atau belum beramal dengan ilmunya), maka nescaya tidak akan ada seorang pun yang menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah daripada mungkar (kerana setiap manusia akan merasakan dia belum sempurna).”

Justeru itu muslim perlu menghayati panduan yang dinyatakan oleh Mustafa Masyhur:


“Perbaikilah dirimu dan serulah manusia lain (kepada Islam)”

Wednesday, December 09, 2009


Akhir November lalu menandakan hari kemenangan bagi umat Islam sempena Idul Adha. Di hari tersebut adalah kesempatan untuk bersama keluarga bagi meraikan hari yang mulia. Namun bagi kebanyakan warga Palestin, sambutan Idul Adha tidak terlalu meriah. Rajaa Abu Rahmah, berusia 19 tahun, hanya mempunyai satu keinginan di hari mulia tersebut - untuk melihat ayahnya dibebaskan dari penjara Israel.

Pada10 Julai 2009, Adeeb Abu Rahmah, seorang aktivis dan penganjur demonstrasi terkemuka daripada Tebing Barat yang diduduki desa Bilin, ditangkap ketika mengadakan demonstrasi mingguan. Adeeb sentiasa komited dengan aksi demonstrasi yang beliau anjurkan tanpa kekerasan. Beliau didakwa dengan kesalahan "hasutan yang mengarah pada kekerasan," alasan yang sering digunakan untuk mendakwa para demonstrasi kalangan masyarakat Palestin yang menentang penyitaan terhadap tanah mereka.

Seorang hakim memutuskan bahawa Adeeb boleh dilepaskan namun dengan syarat melarang beliau daripada menghadiri sebarang tunjuk perasaan, malangnya pendakwa raya berjaya meeyakinkan mahkamah bahawa Adeeb perlu di tahan, maka Adeeb akan ditahan sehingga akhir proses undang-undang. Adalah menjadi kebiasaan mana-mana kes yang di bentangkan di mahkamah tentera Israel akan berlangsung selama lebih dari satu tahun, bererti Addeb terpasa meninggalkan keluarganya yang tercinta dan merengkok di penjara.

Jody McIntyre (wartawan dari UK) telah mewawancara Rajaa, puteri sulung Adeeb, untuk melihat bagaimana keluarga itu menghadapi saat Idul Adha tanpa kelibat ayah tercinta.

Rajaa Abu Rahmah (RA): Saya ada tujuh adik perempuan dan dua orang adik lelaki. Saya belajar perubatan di Universiti al-Quds.

Jody McIntyre(JM): Pada pandangan anda mengapa ayah kamu ditangkap?

RA: Kerana dia berjuang melawan kewujudan tembok pemisahan dan penempatan haram Israel, dan untuk mempertahankan tanah air kami. Mereka berkata dalam penghakiman terhadap ayah saya bahawa mereka akan menjatukan hukuman yang keras untuk ayah saya untuk menjadikan pengajaran kepada orang lain yang menyertai perlawanan tanpa kekerasan, jadi saya kira mereka menggunakan ayah saya sebagai simbol untuk menghalang orang lain daripada meneruskan perjuangan mereka.


JM: Pihak berkuasa Israel berusaha mensabitkan ayah anda sebagai seorang yang penghasut kepada rusuhan keganasan, tetapi bolehkan anda ceritakan siapa yang sebenarnyar karektor ayah anda secara peribadi?

RA: Semua orang yang berjuang dengan beliau pada setiap minggu boleh memberitahu anda bahawa ayah saya bukan lelaki yang menganjur kekerasan. Namun yang lebih penting, kami punya hak untuk berada di tanah air kami, anda tidak boleh menghentikan mereka yang berjuang ini daripada menolak mereka daripada menentang pendudukan secara haram yang dilakukan Israel yang merampas tanah mereka. Ayah saya berjuang untuk haknya dengan caranya sendiri, dengan pergi ke tembok pemisahan tersebut untuk berdemonstrasi, dan berteriak-teriak agar suaranya didengar. Anda tidak boleh mengatakan bahawa itu salah bagi seorang lelaki untuk membela hak-haknya.

JM: Bagaimana kehidupan keluarga anda sejak ayah anda dimasukan ke penjara?

RA: Saya anak sulung, jadi tidak ada saudara untuk mengurus keluarga. Sebahagian besar adik-adik saya adalah anak-anak kecil. Sejak ayah di penjara, kami tidak mempunyai sumber pendapatan, sehingga sokongan kewangan kami semakin meruncing. Kejadian ini mempengaruhi perasaan kami, kami tidak mempunyai perasaan aman dan bimbang keselamatan kami.

Adik bongsu saya selalu menangis ketika teringatkan ayah kami, dan semua adik-adik sangat ketakutan ketika mereka melihat pasukan pendudukan Israel. Saya merasakan apabila mereka melihat tentera mengingatkan mereka tentang mengapa mereka tidak dapat bersama ayah mereka.

Kami berhadapan hari yang sukar, khususnya semasa Aidilfiti yang lalu dan sekarang Idul Adha ... ini adalah hari kedua kami telah dipaksa untuk menghabiskan saat bersama keluarga tanpa ayah kami. Hari-hari kegembiraan ini seharusnya menjadi waktu untuk keluarga bersama dan meraikan kebahagiaan, tetapi tanpa ayah kami di sisi, tidak ada kegembiraan lagi buat kamu. Bahkan kami menajdi lebih sedih memikirkan bahawa ayah berada di dalam keadaan yang tidak selesa, malahan menderita kesejukan penjara tentera Israel.

Adik saya Duaa berusia 18 tahun, beliau dijangka akan berkahwin pada musim panas ini, tetapi sekarang ayah kami telah dipenjarakan, maka kami harus menangguhkan perkahwinan ini sehingga ayah dibebaskan.

JM: Apakah anda tahu bila ayahmu akan dibebaskan?

RA: Mahkamah mengatakan bahawa kemungkinan ayah saya dipenjara selama14 bulan, tetapi mereka boleh memperbaharui keputusan tanpa batas waktu, sehingga tak satu pun daripada kami yang tahu bila kami akan bersua dengan ayah kami lagi.

JM: Apakah penangkapan ayah anda mejjejaskan pengajian anda?

RA: semester ini saya menghadapi banyak masalah untuk membayar yuran pengajian universiti saya, dan saya selalu terlepas tarikh akhir untuk membayar. Ianya mempengaruhi perasaan saya, sukar untuk saya memberikan tumpaun pada pemnelajaran saya kerana memikirkan ayah di penjara.

Namun, pengalaman juga membuat saya merasa lebih kuat. Sebagai anak sulung, saya tahu bahawa saya bertanggungjawab atas adik-adik, dan saya ingin berusaha untuk mengisi kekosongan yang telah ayah kami tingalkan.

JM: Apakah mesej anda kepada pihak berkuasa yang bertanggungjawab untuk menmenjarakan ayah anda?

RA: Ayah saya tidak melakukan apa-apa kesalahan pun untuk anda, dan dia mempunyai hak untuk membela tanah air yang telah anda rampas, maka anda harus melepaskan dia.

JM: Saat ayahmu dibebaskan kelak, apa yang akan menjadi perkara pertama yang anda katakan kepadanya?

RA: Bahawa saya merindukannya.

(Diterjemahkan oleh Mohd Razali Maarof. Sumber: www.haluanpalestin.org.)

Bebaskan Ayah Saya! Dia Hanya Berjuang Membebaskan Tanah Air Kami Yang Dirampas: Suara Kecil Gadis Palestin


Akhir November lalu menandakan hari kemenangan bagi umat Islam sempena Idul Adha. Di hari tersebut adalah kesempatan untuk bersama keluarga bagi meraikan hari yang mulia. Namun bagi kebanyakan warga Palestin, sambutan Idul Adha tidak terlalu meriah. Rajaa Abu Rahmah, berusia 19 tahun, hanya mempunyai satu keinginan di hari mulia tersebut - untuk melihat ayahnya dibebaskan dari penjara Israel.

Pada10 Julai 2009, Adeeb Abu Rahmah, seorang aktivis dan penganjur demonstrasi terkemuka daripada Tebing Barat yang diduduki desa Bilin, ditangkap ketika mengadakan demonstrasi mingguan. Adeeb sentiasa komited dengan aksi demonstrasi yang beliau anjurkan tanpa kekerasan. Beliau didakwa dengan kesalahan "hasutan yang mengarah pada kekerasan," alasan yang sering digunakan untuk mendakwa para demonstrasi kalangan masyarakat Palestin yang menentang penyitaan terhadap tanah mereka.

Seorang hakim memutuskan bahawa Adeeb boleh dilepaskan namun dengan syarat melarang beliau daripada menghadiri sebarang tunjuk perasaan, malangnya pendakwa raya berjaya meeyakinkan mahkamah bahawa Adeeb perlu di tahan, maka Adeeb akan ditahan sehingga akhir proses undang-undang. Adalah menjadi kebiasaan mana-mana kes yang di bentangkan di mahkamah tentera Israel akan berlangsung selama lebih dari satu tahun, bererti Addeb terpasa meninggalkan keluarganya yang tercinta dan merengkok di penjara.

Jody McIntyre (wartawan dari UK) telah mewawancara Rajaa, puteri sulung Adeeb, untuk melihat bagaimana keluarga itu menghadapi saat Idul Adha tanpa kelibat ayah tercinta.

Rajaa Abu Rahmah (RA): Saya ada tujuh adik perempuan dan dua orang adik lelaki. Saya belajar perubatan di Universiti al-Quds.

Jody McIntyre(JM): Pada pandangan anda mengapa ayah kamu ditangkap?

RA: Kerana dia berjuang melawan kewujudan tembok pemisahan dan penempatan haram Israel, dan untuk mempertahankan tanah air kami. Mereka berkata dalam penghakiman terhadap ayah saya bahawa mereka akan menjatukan hukuman yang keras untuk ayah saya untuk menjadikan pengajaran kepada orang lain yang menyertai perlawanan tanpa kekerasan, jadi saya kira mereka menggunakan ayah saya sebagai simbol untuk menghalang orang lain daripada meneruskan perjuangan mereka.


JM: Pihak berkuasa Israel berusaha mensabitkan ayah anda sebagai seorang yang penghasut kepada rusuhan keganasan, tetapi bolehkan anda ceritakan siapa yang sebenarnyar karektor ayah anda secara peribadi?

RA: Semua orang yang berjuang dengan beliau pada setiap minggu boleh memberitahu anda bahawa ayah saya bukan lelaki yang menganjur kekerasan. Namun yang lebih penting, kami punya hak untuk berada di tanah air kami, anda tidak boleh menghentikan mereka yang berjuang ini daripada menolak mereka daripada menentang pendudukan secara haram yang dilakukan Israel yang merampas tanah mereka. Ayah saya berjuang untuk haknya dengan caranya sendiri, dengan pergi ke tembok pemisahan tersebut untuk berdemonstrasi, dan berteriak-teriak agar suaranya didengar. Anda tidak boleh mengatakan bahawa itu salah bagi seorang lelaki untuk membela hak-haknya.

JM: Bagaimana kehidupan keluarga anda sejak ayah anda dimasukan ke penjara?

RA: Saya anak sulung, jadi tidak ada saudara untuk mengurus keluarga. Sebahagian besar adik-adik saya adalah anak-anak kecil. Sejak ayah di penjara, kami tidak mempunyai sumber pendapatan, sehingga sokongan kewangan kami semakin meruncing. Kejadian ini mempengaruhi perasaan kami, kami tidak mempunyai perasaan aman dan bimbang keselamatan kami.

Adik bongsu saya selalu menangis ketika teringatkan ayah kami, dan semua adik-adik sangat ketakutan ketika mereka melihat pasukan pendudukan Israel. Saya merasakan apabila mereka melihat tentera mengingatkan mereka tentang mengapa mereka tidak dapat bersama ayah mereka.

Kami berhadapan hari yang sukar, khususnya semasa Aidilfiti yang lalu dan sekarang Idul Adha ... ini adalah hari kedua kami telah dipaksa untuk menghabiskan saat bersama keluarga tanpa ayah kami. Hari-hari kegembiraan ini seharusnya menjadi waktu untuk keluarga bersama dan meraikan kebahagiaan, tetapi tanpa ayah kami di sisi, tidak ada kegembiraan lagi buat kamu. Bahkan kami menajdi lebih sedih memikirkan bahawa ayah berada di dalam keadaan yang tidak selesa, malahan menderita kesejukan penjara tentera Israel.

Adik saya Duaa berusia 18 tahun, beliau dijangka akan berkahwin pada musim panas ini, tetapi sekarang ayah kami telah dipenjarakan, maka kami harus menangguhkan perkahwinan ini sehingga ayah dibebaskan.

JM: Apakah anda tahu bila ayahmu akan dibebaskan?

RA: Mahkamah mengatakan bahawa kemungkinan ayah saya dipenjara selama14 bulan, tetapi mereka boleh memperbaharui keputusan tanpa batas waktu, sehingga tak satu pun daripada kami yang tahu bila kami akan bersua dengan ayah kami lagi.

JM: Apakah penangkapan ayah anda mejjejaskan pengajian anda?

RA: semester ini saya menghadapi banyak masalah untuk membayar yuran pengajian universiti saya, dan saya selalu terlepas tarikh akhir untuk membayar. Ianya mempengaruhi perasaan saya, sukar untuk saya memberikan tumpaun pada pemnelajaran saya kerana memikirkan ayah di penjara.

Namun, pengalaman juga membuat saya merasa lebih kuat. Sebagai anak sulung, saya tahu bahawa saya bertanggungjawab atas adik-adik, dan saya ingin berusaha untuk mengisi kekosongan yang telah ayah kami tingalkan.

JM: Apakah mesej anda kepada pihak berkuasa yang bertanggungjawab untuk menmenjarakan ayah anda?

RA: Ayah saya tidak melakukan apa-apa kesalahan pun untuk anda, dan dia mempunyai hak untuk membela tanah air yang telah anda rampas, maka anda harus melepaskan dia.

JM: Saat ayahmu dibebaskan kelak, apa yang akan menjadi perkara pertama yang anda katakan kepadanya?

RA: Bahawa saya merindukannya.

(Diterjemahkan oleh Mohd Razali Maarof. Sumber: www.haluanpalestin.org.)

Monday, December 07, 2009

Bilangan orang Yahudi yang dikaitkan dengan jurnalisme dan media berita amat besar pengaruhnya di Amerika Syarikat, misalnya, tiga dari jaringan televisyen dan radio utama dan terbesar di Amerika diterajui oleh eksekutif-eksekutif Yahudi-AS.
Mengapa mereka berkecimpung dalam media massa? Bagi mereka, kebebasan berbicara atau mengeluarkan pendapat adalah jantung demokrasi. Untuk melindungi kebebasan itu, mereka hadir dalam perusahaan-perusahaan penerbitan, bilik berita, dan stesyen-stesyen televisyen.

Terdapat enam tokoh jurnalisme dan media berita berdarah Yahudi dengan yang amat besar pengaruh dalam dunia global hari ini. Mereka adalah Baron Paul J. Reuter (1816-1899), Adolph Ochs (1858-1935), Joseph Pulitzer (1847-1911), David Sarnoff (1891-1971), William S. Paley, dan Rupert Murdoch (lahir 1931).

Mari kita berkenalan dengan Baron Paul J. Reuter (1816-1899), Adolph Ochs (1858-1935) dan Rupert Murdoch (lahir 1931).


Reuter’s News Service
Pelapor berita antarabangsa pertama dan terbesar di dunia dipelopori Baron Paul J. Reuter. Lelaki berdarah Yahudi dan kelahiran Jerman ini kemudian menetap di UK dan dihormati dengan baron, suatu gelar kebangsawanan Inggeris. Pusat berita antarabangsa pertama yang dibinanya dikenali sebagai Reuter’s News Service, suatu organisasi layanan berita terbesar di dunia.
Reuter juga menguasaidua jenis teknologi komunikasi yang lain. Pertama, komunikasi melalui kawat-kawat telegrafi; dan, kedua, komunikasi melalui kabel-kabel bawah laut. Kedua jenis komunikasi itu berguna sebagai jaringan pengiriman berita antara benua.


New York Times (NYT)

Akhbar Harian The New York Times (NYT), amat popular sehingga ia disebut dalam salah satu lirik “Saturday Night Fever” yang dibuat menjadi suatu hit dunia tahun 1980-an oleh The Bee Gees dari Australia. NYT memang salah satu akhbar harian berpengaruh di Amerika Syarikat dan dunia. Pemilik dan pengelola pada peringkat awalnya adalah Adolph Ochs,
seorang pengusaha kewartawanan berdarah Yahudi-AS.
Ochs pada peringkat awalnya tidak memiliki dan mengelola NYT. Penerbit akhbar kelahiran Ohio, Amerika Syarikat ini pada mula-mulanya membeli dan mengurus Chattanooga Times tahun 1878, akhbar terkemuka di Amerika Syarikat di sebelah selatan. Lapan belas tahun kemudian, dia membeli dan mengurus The New York Times.
Apa yang menyebabkan NYT menjadi akhbar harian yang berpengaruh? Barangkali, pandangan Adolph Ochs tentang dunia kewartawaman dapat menjelaskan sebab-sebabnya. Dia sangat memusuhi sensasionalisme dalam berita. Akan tetapi, dia menekankan liputan yang komprehensif, jujur, dan tidak berpihak. Sikap tidak berpihak itu dia tegaskan demikian: “tanpa rasa takut atau tanpa keberpihakan”.


News Corporation

Pengerusi dan Ketua Pegawai Eksekutif News Corporation: Rupert Murdoch

Warganegara: Amerika.

Lahir: 11 Mac 1931, di Melbourne, Australia.

Pendidikan: Worcester College, MA, 1953.

Keluarga: Anak Arthur Keith Lay (wartawan) dan Elisabeth Joy Greene (dermawan);
- berkahwin dengan Patricia Brooker (pramugari), bercerai; seorang anak;
- berkahwin dengan Anna Torv (wartawan dan novelis; bercerai); tiga orang anak
- berkahwin kali ketiga dengan Wendi Deng (setiausaha); dua orang anak

Kerjaya: Daily Express (London), 1953-1954, redaksi bahagian; Adelaide News, 1954 -, penerbit; Southern TV (Adelaide, Channel 9), 1959 -, pemilik; Sydney Daily dan Sunday Mirror, 1960 -, penerbit; Australia, 1964 -, pengasas dan penerbit; London News of the World, 1969 -, penerbit; London Mon, 1969 -, penerbit; News Antarabangsa, 1969-1987, pengerusi lembaga pengarah; 1969-1981, Chief Executive Officer; News Corporation, 1979 -- , CEO; Times Newspapers Holdings, 1982-1990, pengerusi lembaga pengarah; News Corporation, 1991 -, pengerusi lembaga pengarah; Twentieth Century Fox, 1992 -, CEO dan pengerusi lembaga pengarah; Fox License, 1992 -, CEO dan pengerusi papan; News Antarabangsa, 1994-1995, pengerusi lembaga pengarah; Times Newspapers Holdings, 1994, pengerusi lembaga pengarah; Fox Entertainment Group, 1995 -, CEO; British Sky Broadcasting, 1999 -, pengerusi lembaga pengarah; Shine Ltd, 2001 -, CEO dan pengerusi lembaga pengarah.

Pernah menerima anugerah : Humanitarian of the Year, United Jewish Appeal, 1997

Rangkaian syarikat beliau:

Filmed Entertainment - News Corporation
20th Century Fox
20th Century Fox Espanol
20th Century Fox Home Entertainment
20th Century Fox International
20th Century Fox Television
Blue Sky Studios
Fox Searchlight Pictures
Fox Studios Australia
Fox Studios LA
Fox Studios Baja
Fox Television Studios

Television - News Corporation
Fox Broadcasting Company
Fox Sports Australia
Fox Television Stations
FOXTEL
STAR

Cable Television owned by News Corporation
Fox Movie Channel
Fox News Channel
Fox Sports Digital
Fox Sports Enterprises
Fox Sports Espanol
Fox Sports Net
Fox Sports World
FUEL
FX
National Geographic Channel
SPEED Channel
Stats, Inc

Direct Broadcast & Satellite Television - News Corporation
BskyB
DIRECTV
FOXTEL
Sky Italia

Magazines - News Corporation
Inside Out
Donna Hay
News America Marketing
Smart Source
The Weekly Standard
Gemstar

Newspapers - News Corporation
Australasian region Newspapers:
Daily Telegraph
Fiji Times
Gold Coast Bulletin
Herald Sun
Newsphotos
Newspix
Newstext
NT News
Post Courier
Sunday Herald Sun
Sunday Mail
Sunday Tasmanian
Sunday Territorian
Sunday Times
The Advertiser
The Australian
The Courier Mail
The Mercury
The Sunday Mail
The Sunday Telegraph
Weekly Times
United Kingdom region Newspapers:
News International
News of the World
The Sun
The Sunday Times
The Times
Times Education Supplement
Times Higher Education Supplement
Times Literary Supplement
TSL Education
United States region Newspapers:
New York Post

Books - News Corporation
Harper Collins Publishers
- Australia
- Canada
- Childrens Books
- United States
- United Kingdom
Regan Books
Zondervan

Other Investments - News Corporation
MySpace.com Profile
Festival Records
Mushroom Records
National Rugby League - Australia
News Interactive
News Outdoor
Nursery World

Empayar Media Dikuasai Bangsa Yahudi?

Bilangan orang Yahudi yang dikaitkan dengan jurnalisme dan media berita amat besar pengaruhnya di Amerika Syarikat, misalnya, tiga dari jaringan televisyen dan radio utama dan terbesar di Amerika diterajui oleh eksekutif-eksekutif Yahudi-AS.
Mengapa mereka berkecimpung dalam media massa? Bagi mereka, kebebasan berbicara atau mengeluarkan pendapat adalah jantung demokrasi. Untuk melindungi kebebasan itu, mereka hadir dalam perusahaan-perusahaan penerbitan, bilik berita, dan stesyen-stesyen televisyen.

Terdapat enam tokoh jurnalisme dan media berita berdarah Yahudi dengan yang amat besar pengaruh dalam dunia global hari ini. Mereka adalah Baron Paul J. Reuter (1816-1899), Adolph Ochs (1858-1935), Joseph Pulitzer (1847-1911), David Sarnoff (1891-1971), William S. Paley, dan Rupert Murdoch (lahir 1931).

Mari kita berkenalan dengan Baron Paul J. Reuter (1816-1899), Adolph Ochs (1858-1935) dan Rupert Murdoch (lahir 1931).


Reuter’s News Service
Pelapor berita antarabangsa pertama dan terbesar di dunia dipelopori Baron Paul J. Reuter. Lelaki berdarah Yahudi dan kelahiran Jerman ini kemudian menetap di UK dan dihormati dengan baron, suatu gelar kebangsawanan Inggeris. Pusat berita antarabangsa pertama yang dibinanya dikenali sebagai Reuter’s News Service, suatu organisasi layanan berita terbesar di dunia.
Reuter juga menguasaidua jenis teknologi komunikasi yang lain. Pertama, komunikasi melalui kawat-kawat telegrafi; dan, kedua, komunikasi melalui kabel-kabel bawah laut. Kedua jenis komunikasi itu berguna sebagai jaringan pengiriman berita antara benua.


New York Times (NYT)

Akhbar Harian The New York Times (NYT), amat popular sehingga ia disebut dalam salah satu lirik “Saturday Night Fever” yang dibuat menjadi suatu hit dunia tahun 1980-an oleh The Bee Gees dari Australia. NYT memang salah satu akhbar harian berpengaruh di Amerika Syarikat dan dunia. Pemilik dan pengelola pada peringkat awalnya adalah Adolph Ochs,
seorang pengusaha kewartawanan berdarah Yahudi-AS.
Ochs pada peringkat awalnya tidak memiliki dan mengelola NYT. Penerbit akhbar kelahiran Ohio, Amerika Syarikat ini pada mula-mulanya membeli dan mengurus Chattanooga Times tahun 1878, akhbar terkemuka di Amerika Syarikat di sebelah selatan. Lapan belas tahun kemudian, dia membeli dan mengurus The New York Times.
Apa yang menyebabkan NYT menjadi akhbar harian yang berpengaruh? Barangkali, pandangan Adolph Ochs tentang dunia kewartawaman dapat menjelaskan sebab-sebabnya. Dia sangat memusuhi sensasionalisme dalam berita. Akan tetapi, dia menekankan liputan yang komprehensif, jujur, dan tidak berpihak. Sikap tidak berpihak itu dia tegaskan demikian: “tanpa rasa takut atau tanpa keberpihakan”.


News Corporation

Pengerusi dan Ketua Pegawai Eksekutif News Corporation: Rupert Murdoch

Warganegara: Amerika.

Lahir: 11 Mac 1931, di Melbourne, Australia.

Pendidikan: Worcester College, MA, 1953.

Keluarga: Anak Arthur Keith Lay (wartawan) dan Elisabeth Joy Greene (dermawan);
- berkahwin dengan Patricia Brooker (pramugari), bercerai; seorang anak;
- berkahwin dengan Anna Torv (wartawan dan novelis; bercerai); tiga orang anak
- berkahwin kali ketiga dengan Wendi Deng (setiausaha); dua orang anak

Kerjaya: Daily Express (London), 1953-1954, redaksi bahagian; Adelaide News, 1954 -, penerbit; Southern TV (Adelaide, Channel 9), 1959 -, pemilik; Sydney Daily dan Sunday Mirror, 1960 -, penerbit; Australia, 1964 -, pengasas dan penerbit; London News of the World, 1969 -, penerbit; London Mon, 1969 -, penerbit; News Antarabangsa, 1969-1987, pengerusi lembaga pengarah; 1969-1981, Chief Executive Officer; News Corporation, 1979 -- , CEO; Times Newspapers Holdings, 1982-1990, pengerusi lembaga pengarah; News Corporation, 1991 -, pengerusi lembaga pengarah; Twentieth Century Fox, 1992 -, CEO dan pengerusi lembaga pengarah; Fox License, 1992 -, CEO dan pengerusi papan; News Antarabangsa, 1994-1995, pengerusi lembaga pengarah; Times Newspapers Holdings, 1994, pengerusi lembaga pengarah; Fox Entertainment Group, 1995 -, CEO; British Sky Broadcasting, 1999 -, pengerusi lembaga pengarah; Shine Ltd, 2001 -, CEO dan pengerusi lembaga pengarah.

Pernah menerima anugerah : Humanitarian of the Year, United Jewish Appeal, 1997

Rangkaian syarikat beliau:

Filmed Entertainment - News Corporation
20th Century Fox
20th Century Fox Espanol
20th Century Fox Home Entertainment
20th Century Fox International
20th Century Fox Television
Blue Sky Studios
Fox Searchlight Pictures
Fox Studios Australia
Fox Studios LA
Fox Studios Baja
Fox Television Studios

Television - News Corporation
Fox Broadcasting Company
Fox Sports Australia
Fox Television Stations
FOXTEL
STAR

Cable Television owned by News Corporation
Fox Movie Channel
Fox News Channel
Fox Sports Digital
Fox Sports Enterprises
Fox Sports Espanol
Fox Sports Net
Fox Sports World
FUEL
FX
National Geographic Channel
SPEED Channel
Stats, Inc

Direct Broadcast & Satellite Television - News Corporation
BskyB
DIRECTV
FOXTEL
Sky Italia

Magazines - News Corporation
Inside Out
Donna Hay
News America Marketing
Smart Source
The Weekly Standard
Gemstar

Newspapers - News Corporation
Australasian region Newspapers:
Daily Telegraph
Fiji Times
Gold Coast Bulletin
Herald Sun
Newsphotos
Newspix
Newstext
NT News
Post Courier
Sunday Herald Sun
Sunday Mail
Sunday Tasmanian
Sunday Territorian
Sunday Times
The Advertiser
The Australian
The Courier Mail
The Mercury
The Sunday Mail
The Sunday Telegraph
Weekly Times
United Kingdom region Newspapers:
News International
News of the World
The Sun
The Sunday Times
The Times
Times Education Supplement
Times Higher Education Supplement
Times Literary Supplement
TSL Education
United States region Newspapers:
New York Post

Books - News Corporation
Harper Collins Publishers
- Australia
- Canada
- Childrens Books
- United States
- United Kingdom
Regan Books
Zondervan

Other Investments - News Corporation
MySpace.com Profile
Festival Records
Mushroom Records
National Rugby League - Australia
News Interactive
News Outdoor
Nursery World

Saturday, December 05, 2009



Get More Islamic Testi Here!


“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepadanya hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Qs. al-Taghâbun [64]: 11)

Tarbiah dari Tanah Perkuburan Terbesar di Padang Sumatera.



Get More Islamic Testi Here!


“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepadanya hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Qs. al-Taghâbun [64]: 11)

Friday, December 04, 2009


Akhlak berasal dari perkataan Al Khuluq. Al-Khuluq bererti tabiat atau tingkah laku. Menurut Iman Al Ghazali, akhlak merupakan gambaran tentang keadaan dalam diri manusia yang telah sebati dan daripadanya terbit tingkah laku secara mudah dan senang tanpa memerlukan pertimbangan atau pemikiran. Akhlak sangat penting dan pengaruhnya sangat besar dalam membentuk tingkah laku manusia. Apa saja yang lahir dari manusia atau segala tindak-tanduk manusia adalah sesuai dengan pembawaan dan sifat yang ada dalam jiwanya.

Tepatlah apa yang dikatakan oleh Al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin, “Sesungguhnya semua sifat yang ada dalam hati akan lahir pengaruhnya (tandanya) pada anggota manusia, sehingga tidak ada suatu perbuatan pun melainkan semuanya mengikut apa yang ada dalam hati manusia”.

Tingkah laku atau perbuatan manusia mempunyai hubungan yang erat dengan sifat dan pembawaan dalam hatinya. Umpama pokok dengan akarnya. Bermakna, tingkah laku atau perbuatan seseorang akan baik apabila baik akhlaknya, sepertimana pokok, apabila baik akarnya maka baiklah pokoknya. Apabila rosak akar, maka akan rosaklah pokok dan cabangnya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”
(Al- A’raf: 58)

Akhlaq yang mulia adalah matlamat utama bagi ajaran Islam. Ini telah dinyatakan oleh Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam dalam hadisnya (yang bermaksud, antara lain:


“Sesungguhnya aku diutuskan hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”.

Hal ini ditegaskan lagi oleh ayat al-Qur’an dalam firman Allah:

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”
(Al-Qalam: 4)


Juga dalam firman Allah swt. lagi:

"Orang –orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar dan kepada Allah kembali segala urusan."
(Al Hajj, 22 : 41)

Firman Allah swt. lagi:

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak–anak yatim, orang-orang miskin, (yang memerlukan pertolongngan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan solat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Al-Baqarah, 2: 177)

Akhlaq yang mulia adalah merupakan tanda dan hasil dari iman yang sebenar. Tidak ada nilai bagi iman yang tidak disertai oleh akhlak. Sebuah athar menyatakan (antara lain, bermaksud):

“Bukanlah iman itu hanya dengan cita – cita tetapi iman itu ialah keyakinan yang tertanam didalam hati dan dibuktikan dengan amalan”

Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam pernah ditanya: Apa itu agama? Baginda menjawab: Kemuliaan akhlaq (Husnul Khulq). Bila ditanya tentang kejahatan, baginda menjawab: Akhlaq yang buruk (Su’ul khalq).

Diriwayatkan dari Annawas bin Sam’an ra. berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw. Tentang bakti dan dosa, maka jawab Nabi saw. “Bakti itu baik budi pekerti, dan dosa itu ialah semua yang meragukan dalam hati dan tidak suka diketahui orang.” (HR. Muslim)

Abu Darda berkata, “Bersabda Nabi saw, “Tiada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat daripada husnul Khulq (akhlak yang baik).” (HR. At Tirmidzi)

Aisyah ra. Berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin yang dapat mengejar budi pekerti yang baik, darjat orang itu sama seperti orang yang terus menerus berpuasa dan solat malam.” (HR. Abu Daud)

Jabir ra. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang sangat saya kasihi dan terdekat denganku pada hari kiamat nanti adalah orang terbaik akhlaknya. Dan orang yang sangat aku benci dan terjauh dariku pada hari kiamat nanti adalah orang yang banyak bicara, sombong dalam pembicaraannya, dan berlagak menunjukan kepandaiannya.” (HR. At Tirmidzi).

Kekuatan akhlak lahir melalui proses panjang yang memerlukan kesediaan untuk sentiasa memberi komitmen dengan nilai-nilai Islam. Seorang ulama menjelaskan thariqah (jalan) untuk membina akhlak islami adalah dengan kemahuan untuk melaksanakan latihan (tadribat) dan pendidikan (tarbiyah). Setiap muslim memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi baik atau buruk, masalahnya adalah sejauh mana usaha kita untuk mendisiplinkan diri dengan nilai-nilai dan amalan Islam bagi melahirkan muslim yang berakhlak ampuh. Malangnya keampuhan akhlak inilah yang sering dilupakan. Malah kian rapuh sehingga hilangnya jatidiri muslim hakiki. Justeru menjadi punca lunturnya sinar Islam pada penghujung zaman. Gejala keruntuhan akhlak yang berlegar di sekeliling kita seperti zina hati, mata, lisan dan seumpamanya meruntun jiwa kita selaku pendokong agama. Keruntuhan yang tidak dikawal pada satu tahap yang minima membawa insan kepada bertuhankan nafsu, lantas melupakan terus Pencipta Yang Maha Esa.

Islam adalah ajaran yang benar untuk memperbaiki manusia dan membentuk akhlaknya demi mencapai kehidupan yang baik. Islam memperbaiki manusia dengan cara terlebih dahulu memperbaiki jiwa, membersihkan hati dan menanamkan sifat-sifat terpuji. Islam benar-benar dapat membawa manusia untuk mencapai kebahagiaan, kelapangan dan ketenteraman.

Sebaliknya manusia akan menjadi hina apabila ia merosakkan sifat, pembawaan dan keadaan dalam jiwanya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(Ar-Ra’d: 11)

Peribadi Yang Berakhlak Islami (1)


Akhlak berasal dari perkataan Al Khuluq. Al-Khuluq bererti tabiat atau tingkah laku. Menurut Iman Al Ghazali, akhlak merupakan gambaran tentang keadaan dalam diri manusia yang telah sebati dan daripadanya terbit tingkah laku secara mudah dan senang tanpa memerlukan pertimbangan atau pemikiran. Akhlak sangat penting dan pengaruhnya sangat besar dalam membentuk tingkah laku manusia. Apa saja yang lahir dari manusia atau segala tindak-tanduk manusia adalah sesuai dengan pembawaan dan sifat yang ada dalam jiwanya.

Tepatlah apa yang dikatakan oleh Al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin, “Sesungguhnya semua sifat yang ada dalam hati akan lahir pengaruhnya (tandanya) pada anggota manusia, sehingga tidak ada suatu perbuatan pun melainkan semuanya mengikut apa yang ada dalam hati manusia”.

Tingkah laku atau perbuatan manusia mempunyai hubungan yang erat dengan sifat dan pembawaan dalam hatinya. Umpama pokok dengan akarnya. Bermakna, tingkah laku atau perbuatan seseorang akan baik apabila baik akhlaknya, sepertimana pokok, apabila baik akarnya maka baiklah pokoknya. Apabila rosak akar, maka akan rosaklah pokok dan cabangnya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”
(Al- A’raf: 58)

Akhlaq yang mulia adalah matlamat utama bagi ajaran Islam. Ini telah dinyatakan oleh Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam dalam hadisnya (yang bermaksud, antara lain:


“Sesungguhnya aku diutuskan hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”.

Hal ini ditegaskan lagi oleh ayat al-Qur’an dalam firman Allah:

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”
(Al-Qalam: 4)


Juga dalam firman Allah swt. lagi:

"Orang –orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar dan kepada Allah kembali segala urusan."
(Al Hajj, 22 : 41)

Firman Allah swt. lagi:

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak–anak yatim, orang-orang miskin, (yang memerlukan pertolongngan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan solat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Al-Baqarah, 2: 177)

Akhlaq yang mulia adalah merupakan tanda dan hasil dari iman yang sebenar. Tidak ada nilai bagi iman yang tidak disertai oleh akhlak. Sebuah athar menyatakan (antara lain, bermaksud):

“Bukanlah iman itu hanya dengan cita – cita tetapi iman itu ialah keyakinan yang tertanam didalam hati dan dibuktikan dengan amalan”

Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam pernah ditanya: Apa itu agama? Baginda menjawab: Kemuliaan akhlaq (Husnul Khulq). Bila ditanya tentang kejahatan, baginda menjawab: Akhlaq yang buruk (Su’ul khalq).

Diriwayatkan dari Annawas bin Sam’an ra. berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw. Tentang bakti dan dosa, maka jawab Nabi saw. “Bakti itu baik budi pekerti, dan dosa itu ialah semua yang meragukan dalam hati dan tidak suka diketahui orang.” (HR. Muslim)

Abu Darda berkata, “Bersabda Nabi saw, “Tiada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat daripada husnul Khulq (akhlak yang baik).” (HR. At Tirmidzi)

Aisyah ra. Berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin yang dapat mengejar budi pekerti yang baik, darjat orang itu sama seperti orang yang terus menerus berpuasa dan solat malam.” (HR. Abu Daud)

Jabir ra. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang sangat saya kasihi dan terdekat denganku pada hari kiamat nanti adalah orang terbaik akhlaknya. Dan orang yang sangat aku benci dan terjauh dariku pada hari kiamat nanti adalah orang yang banyak bicara, sombong dalam pembicaraannya, dan berlagak menunjukan kepandaiannya.” (HR. At Tirmidzi).

Kekuatan akhlak lahir melalui proses panjang yang memerlukan kesediaan untuk sentiasa memberi komitmen dengan nilai-nilai Islam. Seorang ulama menjelaskan thariqah (jalan) untuk membina akhlak islami adalah dengan kemahuan untuk melaksanakan latihan (tadribat) dan pendidikan (tarbiyah). Setiap muslim memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi baik atau buruk, masalahnya adalah sejauh mana usaha kita untuk mendisiplinkan diri dengan nilai-nilai dan amalan Islam bagi melahirkan muslim yang berakhlak ampuh. Malangnya keampuhan akhlak inilah yang sering dilupakan. Malah kian rapuh sehingga hilangnya jatidiri muslim hakiki. Justeru menjadi punca lunturnya sinar Islam pada penghujung zaman. Gejala keruntuhan akhlak yang berlegar di sekeliling kita seperti zina hati, mata, lisan dan seumpamanya meruntun jiwa kita selaku pendokong agama. Keruntuhan yang tidak dikawal pada satu tahap yang minima membawa insan kepada bertuhankan nafsu, lantas melupakan terus Pencipta Yang Maha Esa.

Islam adalah ajaran yang benar untuk memperbaiki manusia dan membentuk akhlaknya demi mencapai kehidupan yang baik. Islam memperbaiki manusia dengan cara terlebih dahulu memperbaiki jiwa, membersihkan hati dan menanamkan sifat-sifat terpuji. Islam benar-benar dapat membawa manusia untuk mencapai kebahagiaan, kelapangan dan ketenteraman.

Sebaliknya manusia akan menjadi hina apabila ia merosakkan sifat, pembawaan dan keadaan dalam jiwanya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(Ar-Ra’d: 11)

Thursday, December 03, 2009


Tarbiah (pendidikan) Islamiah, bererti proses mempersiapkan manusia dengan persiapan yang menyeluruh yang menyentuh seluruh aspek kehidupannya, meliput rohani, jasmani dan akal fikiran. Termasuklah dalam lingkungan kehidupan duniawinya, dengan segala aspek hubungan dan kemaslahatan yang mengikatnya; dan kehidupan akhiratnya, dengan segala amalan yang dihisabnya; yang membuat Allah Subha Nahu wa Taala redha atau murka. Oleh kerana itu, ia bersifat integral (sepadu) dan menyeluruh; dan itulah yang membezakan sistem Islam dengan sistem atau aturan lain.

Ringkasnya, tarbiah Islamiah adalah proses penyiapan manusia yang soleh, yakni agar tercipta suatu keseimbangan (tawazun) dalam potensi, matlamat, ucapan serta tindakannya secara keseluruhan.

Keseimbangan potensi yang dimaksudkan adalah hendaknya jangan sampai kemunculan suatu potensi menyebabkan lenyapnya potensi yang lain atau suatu potensi sengaja dimandulkan untuk mewujudkan potensi yang lain. Inilah satu keistimewaan sistem Islam dan undang-undangnya. Juga keseimbangan antara potensi rohani, jasmani dan akal fikiran; keseimbangan antara kerohanian manusia dan kejasmaniannya, antara keperluan asas dan sekunder, antara realiti dan cita-citanya, antara wawasan pribadi dan jiwa kebersamaannya, antara keyakinan kepada alam ghaib dan keyakinan pada alam nyata, keseimbangan antara makan, minum, pakaian dan tempat tinggalnya, tanpa adanya sikap berlebih-lebihan di satu sisi dan pengabdian di sisi lain. Benar-benar keseimbangan yang mengantarkan kepada sikap adil, yakni adil dan saksama dalam segala aspek.

"Dan demikian (pula) Kami telah jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pertengahan." [Al-Baqarah: 143]

Bahkan keseimbangan adalah satu aturan yang Allah Subhanahu wa Taala tetapkan pada segenap makhlukNya; manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan bintang cakerawala di angkasa raya. Semua berjalan sesuai dengan hukum alam yang telah ditetapkan oleh yang Maha Pencipta alam ini. Itulah keistimewaan kedua yang ada pada sistem Islam.


Keistimewaan lain sistem tarbiyah Islamiyah ialah ia mendorong seseorang untuk memiliki dinamika yang tinggi dalam seluruh kehidupan dirinya beserta orang-orang disekelilingnya, dan juga termasuk bersama lingkungan alamnya. Ia juga merasa terdorong untuk memakmurkan bumi dan mengambil manfaat sebesar-besarnya baik dari samudera, angkasa, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun semua benda mati dengan prinsip bahawa semua itu telah ditundukkan oleh Allah Subha Nahu wa Taala untuknya. Ia tidak bersikap negatif dan pasif di dalam upaya meraih kemaslahatan diri dan masyarakat yang ia hidup dengannya atau lingkungan alam yang Allah tundukkan untuknya. Namun sebaliknya, ia bersikap positif dan responsif di bawah naungan agama yang agung dan moral yang tinggi ini.

Selain itu, tarbiah Islamiah memiliki keistimewaan dengan kemampuannya mengiringi fitrah manusia dalam menghadapi realiti kehidupan di bumi dan di alam material ini, juga mengiringi potensinya menuju tingkat keteladanan dan kepeloporan sehingga dapat memberi manfaat dan kemaslahatan bagi diri, agama dan masyarakatnya. Semua itu termasuk dalam batas yang Allah Subha Nahu wa Taala halalkan dan syariatkan. Di samping itu, Islam juga mengakui adanya kelemahan pada diri manusia ketika berhadapan dengan nafsu syahwat. Untuk menghadapi lemahnya manusia berhadapan dengan kewajiban, Islam datang dengan firman-Nya;

"Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama satu kesempitan." [Al-Hajj: 78]


Sedangkan untuk menghadapi lemahnya manusia berhadapan dengan godaan nafsu, Allah Subha Nahu wa Taala berfirman;

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik." [Ali-Imran: 14]

Apa Itu Tarbiah Islamiah?


Tarbiah (pendidikan) Islamiah, bererti proses mempersiapkan manusia dengan persiapan yang menyeluruh yang menyentuh seluruh aspek kehidupannya, meliput rohani, jasmani dan akal fikiran. Termasuklah dalam lingkungan kehidupan duniawinya, dengan segala aspek hubungan dan kemaslahatan yang mengikatnya; dan kehidupan akhiratnya, dengan segala amalan yang dihisabnya; yang membuat Allah Subha Nahu wa Taala redha atau murka. Oleh kerana itu, ia bersifat integral (sepadu) dan menyeluruh; dan itulah yang membezakan sistem Islam dengan sistem atau aturan lain.

Ringkasnya, tarbiah Islamiah adalah proses penyiapan manusia yang soleh, yakni agar tercipta suatu keseimbangan (tawazun) dalam potensi, matlamat, ucapan serta tindakannya secara keseluruhan.

Keseimbangan potensi yang dimaksudkan adalah hendaknya jangan sampai kemunculan suatu potensi menyebabkan lenyapnya potensi yang lain atau suatu potensi sengaja dimandulkan untuk mewujudkan potensi yang lain. Inilah satu keistimewaan sistem Islam dan undang-undangnya. Juga keseimbangan antara potensi rohani, jasmani dan akal fikiran; keseimbangan antara kerohanian manusia dan kejasmaniannya, antara keperluan asas dan sekunder, antara realiti dan cita-citanya, antara wawasan pribadi dan jiwa kebersamaannya, antara keyakinan kepada alam ghaib dan keyakinan pada alam nyata, keseimbangan antara makan, minum, pakaian dan tempat tinggalnya, tanpa adanya sikap berlebih-lebihan di satu sisi dan pengabdian di sisi lain. Benar-benar keseimbangan yang mengantarkan kepada sikap adil, yakni adil dan saksama dalam segala aspek.

"Dan demikian (pula) Kami telah jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pertengahan." [Al-Baqarah: 143]

Bahkan keseimbangan adalah satu aturan yang Allah Subhanahu wa Taala tetapkan pada segenap makhlukNya; manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan bintang cakerawala di angkasa raya. Semua berjalan sesuai dengan hukum alam yang telah ditetapkan oleh yang Maha Pencipta alam ini. Itulah keistimewaan kedua yang ada pada sistem Islam.


Keistimewaan lain sistem tarbiyah Islamiyah ialah ia mendorong seseorang untuk memiliki dinamika yang tinggi dalam seluruh kehidupan dirinya beserta orang-orang disekelilingnya, dan juga termasuk bersama lingkungan alamnya. Ia juga merasa terdorong untuk memakmurkan bumi dan mengambil manfaat sebesar-besarnya baik dari samudera, angkasa, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun semua benda mati dengan prinsip bahawa semua itu telah ditundukkan oleh Allah Subha Nahu wa Taala untuknya. Ia tidak bersikap negatif dan pasif di dalam upaya meraih kemaslahatan diri dan masyarakat yang ia hidup dengannya atau lingkungan alam yang Allah tundukkan untuknya. Namun sebaliknya, ia bersikap positif dan responsif di bawah naungan agama yang agung dan moral yang tinggi ini.

Selain itu, tarbiah Islamiah memiliki keistimewaan dengan kemampuannya mengiringi fitrah manusia dalam menghadapi realiti kehidupan di bumi dan di alam material ini, juga mengiringi potensinya menuju tingkat keteladanan dan kepeloporan sehingga dapat memberi manfaat dan kemaslahatan bagi diri, agama dan masyarakatnya. Semua itu termasuk dalam batas yang Allah Subha Nahu wa Taala halalkan dan syariatkan. Di samping itu, Islam juga mengakui adanya kelemahan pada diri manusia ketika berhadapan dengan nafsu syahwat. Untuk menghadapi lemahnya manusia berhadapan dengan kewajiban, Islam datang dengan firman-Nya;

"Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama satu kesempitan." [Al-Hajj: 78]


Sedangkan untuk menghadapi lemahnya manusia berhadapan dengan godaan nafsu, Allah Subha Nahu wa Taala berfirman;

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik." [Ali-Imran: 14]

Tuesday, December 01, 2009


Nabi saw. ada bersabda yang bermaksud:
“Barangsiapa di antara kamu yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia bersegera memberikan manfaat kepadanya.” (Diriwayatkan Muslim dari Jabir r.a)

Mengapa Rasulullah saw. menyerukan agar kita bersegera dalam memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan? Sudah tentulah seruan bersegera ini datangnya juga dari Allah swt. sebagaimana firman Allah swt. yang bermaksud:
”Maka berlumba-lumbalah kamu dalam pelbagai kebajikan.” (Al-Baqarah:148)

Melayani orang lain dan membantu keperluan mereka adalah termasuk daripada salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seorang da’ie agar dakwahnya sampai kepada masyarakat. Seorang da’ie bukanlah radio yang sentiasa memutar ulang pelbagai konsep dan pemikiran semata, tetapi seorang da’ie wajib menterjemahkan pemikiran dan konsep kefahamannya dalam bentuk tindakan nyata. Salah satunya adalah dengan turut merasakan permasalahan dan kesusahan umat. Dan berusaha semaksima mungkin untuk ikut membantu dan menyelesaikannya.

Rasulullah saw bersabda:
”Barangsiapa yang tidur tanpa peduli terhadap permasalahan kaum Muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka.”

Memang benar bahawa kita tidak mampu memenuhi segala keperluan masyarakat , juga tidak mungkin kita mampu memberi khidmat kepada semuanya. Namun hal ini tidak boleh menghalang kita untuk melakukan sesuatu yang mampu kita lakukan. Malahan kita diwajibkan untuk membantu dan memberi khidmat kita pada masyarakat sesuai dengan batas dan kemampuan, selebihnya adalah akhlak yang terpuji, sepertimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw:
”Kalian tidak akan mampu mencukupi keperluan manusia dengan harta kalian, kerananya cukupilah dengan akhlak kalian.”

Keimanan sebenarnya menuntut kita untuk mencintai saudara kita sepertimana kita mencintai diri sendiri. Hal ini hanya akan terealisasi tatkala kita berusaha dengan membantu dan turut serta menyelesaikan masalah dan keperluan mereka.

Demikian juga ukhwah, tidak akan teraplikasi di dunia ini kecuali dengan saling bantu membantu serta memenuhi keperluan mereka.

Justeru, da’ie yang sejati adalah da’ie yang hidup untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Sentiasa sensitif dan peka terhadap keperluan masyarakat dan orang-orang mukmin, dan bukannya pada kepentingan peribadi. Ia merasa bahagia tatkala dapat membahagiakan orang lain. Inilah yang dimaksudkan oleh Presiden HALUAN, merasa bahagia kerana dapat memberi.

Jika hal ini dapat kita laksanakan, maka akan terjalin hubungan yang erat antara da’ie dan masyarakat. Pada masa itu pengaruh da’ie akan sangat dirasai oleh masyarakat tersebut, sehingga dakwahnya membumi di hati masyarakat. Inilah yang dirasai oleh ahli-ahli HALUAN yang turun padang ketika kita mendidik berbakti di Misi Banjir Johor dan Pahang. Juga dipelbagai lagi misi dan projek kebajikan dan pendidikan yang kita jayakan. Masyarakat merasai kehadiran dakwah kita dan menuntut agar kita terus berkhidmat di bumi mereka.

Sebagai penutupnya, penulis hidangkan kepada anda, wahai relawan HALUAN yang dikasihi, pesanan Rasulullah saw kepada kita yang siap sedia mendidik berbakti:
”Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya. Barang siapa yang memenuhi keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang mengeluarkan seorang muslim dari kesusahan (di dunia) maka Allah akan mengeluarkannya dari kesusahan hari kiamat dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

”Allah tidak henti-hentinya memenuhi keperluan seseorang, selama orang itu memnuhi keperluan saudaranya” (HR. Thabrani)

”Sesiapa yang memasukan kebahagiaan ke dalam penguni rumah kaum muslimin, maka Allah tidak rela memberinya pahala selain syurga” (HR. Thabrani)

Penulis ucapkan tahniah kepada sekretariat dan pasukan Misi Kemanusiaan Padang HALUAN yang diberi peluang mendidik dan berbakti di Pariaman, Sumatera Barat Indonesia akibat gempabumi. Segala perasaan dan pengalaman dikongsikan kepada ahli HALUAN dan masyarakat di sepanjang mereka di sana sehingga membangkitkan rasa tidak sabar kepada pasukan Misi seterusnya terjun ke medan amal.

Dalam masa yang sama, musim tengkujuh mula melanda negeri-negeri pantai timur dan utara Semenanjung Malaysia. Beberapa kawasan sudah mula di landa bah akibat lebihan hujan yang turun tanpa henti. Ini peluang kita beramal, berkongsi perasaan dan duka dengan mangsa-mangsa banjir.

Sempena Aidil Adha yang baru meninggalkan kita, pasukan misi ”korbankan lembu” HALUAN sibuk mengadakan program korban di seluruh neara termasuk di perkampungan orang asli di Malaysia, program korban di Kemboja dan di perkampungan gemba bumi Padang Indonesia.

Manakala pasukan bantuan HALUAN untuk rakyat Palestin juga khabarnya baru pulang dari menziarahi perkhemahan pelarian Palestin disamping membawa bantuan dan sumbangan rakyat Malaysia.

Syabas para relawan HALUAN, teruskan memberi khidmat. Ayuh relawan HALUAN, khidmat anda masih diperlukan oleh masyarakat. Mari kita sertai gerombolan generasi yang bahagia berkerja untuk ummah. Mari kita menjadi generasi yang bersedia memberi khidmat tanpa di minta. Mari kita dekati masyarakat di saat-saat mereka memerlukan pertolongan kita.

Selamat mendidik dan berbakti dengan akhlak maknawiyah. Semoga kita tergolong dalam golongan yang benar-benar bekerja di medan dakwah dan tarbiyah.

Sumber

Bersegera Lakukan Kebajikan - Dari Medan Teori Ke Medan Amal


Nabi saw. ada bersabda yang bermaksud:
“Barangsiapa di antara kamu yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia bersegera memberikan manfaat kepadanya.” (Diriwayatkan Muslim dari Jabir r.a)

Mengapa Rasulullah saw. menyerukan agar kita bersegera dalam memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan? Sudah tentulah seruan bersegera ini datangnya juga dari Allah swt. sebagaimana firman Allah swt. yang bermaksud:
”Maka berlumba-lumbalah kamu dalam pelbagai kebajikan.” (Al-Baqarah:148)

Melayani orang lain dan membantu keperluan mereka adalah termasuk daripada salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seorang da’ie agar dakwahnya sampai kepada masyarakat. Seorang da’ie bukanlah radio yang sentiasa memutar ulang pelbagai konsep dan pemikiran semata, tetapi seorang da’ie wajib menterjemahkan pemikiran dan konsep kefahamannya dalam bentuk tindakan nyata. Salah satunya adalah dengan turut merasakan permasalahan dan kesusahan umat. Dan berusaha semaksima mungkin untuk ikut membantu dan menyelesaikannya.

Rasulullah saw bersabda:
”Barangsiapa yang tidur tanpa peduli terhadap permasalahan kaum Muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka.”

Memang benar bahawa kita tidak mampu memenuhi segala keperluan masyarakat , juga tidak mungkin kita mampu memberi khidmat kepada semuanya. Namun hal ini tidak boleh menghalang kita untuk melakukan sesuatu yang mampu kita lakukan. Malahan kita diwajibkan untuk membantu dan memberi khidmat kita pada masyarakat sesuai dengan batas dan kemampuan, selebihnya adalah akhlak yang terpuji, sepertimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw:
”Kalian tidak akan mampu mencukupi keperluan manusia dengan harta kalian, kerananya cukupilah dengan akhlak kalian.”

Keimanan sebenarnya menuntut kita untuk mencintai saudara kita sepertimana kita mencintai diri sendiri. Hal ini hanya akan terealisasi tatkala kita berusaha dengan membantu dan turut serta menyelesaikan masalah dan keperluan mereka.

Demikian juga ukhwah, tidak akan teraplikasi di dunia ini kecuali dengan saling bantu membantu serta memenuhi keperluan mereka.

Justeru, da’ie yang sejati adalah da’ie yang hidup untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Sentiasa sensitif dan peka terhadap keperluan masyarakat dan orang-orang mukmin, dan bukannya pada kepentingan peribadi. Ia merasa bahagia tatkala dapat membahagiakan orang lain. Inilah yang dimaksudkan oleh Presiden HALUAN, merasa bahagia kerana dapat memberi.

Jika hal ini dapat kita laksanakan, maka akan terjalin hubungan yang erat antara da’ie dan masyarakat. Pada masa itu pengaruh da’ie akan sangat dirasai oleh masyarakat tersebut, sehingga dakwahnya membumi di hati masyarakat. Inilah yang dirasai oleh ahli-ahli HALUAN yang turun padang ketika kita mendidik berbakti di Misi Banjir Johor dan Pahang. Juga dipelbagai lagi misi dan projek kebajikan dan pendidikan yang kita jayakan. Masyarakat merasai kehadiran dakwah kita dan menuntut agar kita terus berkhidmat di bumi mereka.

Sebagai penutupnya, penulis hidangkan kepada anda, wahai relawan HALUAN yang dikasihi, pesanan Rasulullah saw kepada kita yang siap sedia mendidik berbakti:
”Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya. Barang siapa yang memenuhi keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang mengeluarkan seorang muslim dari kesusahan (di dunia) maka Allah akan mengeluarkannya dari kesusahan hari kiamat dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

”Allah tidak henti-hentinya memenuhi keperluan seseorang, selama orang itu memnuhi keperluan saudaranya” (HR. Thabrani)

”Sesiapa yang memasukan kebahagiaan ke dalam penguni rumah kaum muslimin, maka Allah tidak rela memberinya pahala selain syurga” (HR. Thabrani)

Penulis ucapkan tahniah kepada sekretariat dan pasukan Misi Kemanusiaan Padang HALUAN yang diberi peluang mendidik dan berbakti di Pariaman, Sumatera Barat Indonesia akibat gempabumi. Segala perasaan dan pengalaman dikongsikan kepada ahli HALUAN dan masyarakat di sepanjang mereka di sana sehingga membangkitkan rasa tidak sabar kepada pasukan Misi seterusnya terjun ke medan amal.

Dalam masa yang sama, musim tengkujuh mula melanda negeri-negeri pantai timur dan utara Semenanjung Malaysia. Beberapa kawasan sudah mula di landa bah akibat lebihan hujan yang turun tanpa henti. Ini peluang kita beramal, berkongsi perasaan dan duka dengan mangsa-mangsa banjir.

Sempena Aidil Adha yang baru meninggalkan kita, pasukan misi ”korbankan lembu” HALUAN sibuk mengadakan program korban di seluruh neara termasuk di perkampungan orang asli di Malaysia, program korban di Kemboja dan di perkampungan gemba bumi Padang Indonesia.

Manakala pasukan bantuan HALUAN untuk rakyat Palestin juga khabarnya baru pulang dari menziarahi perkhemahan pelarian Palestin disamping membawa bantuan dan sumbangan rakyat Malaysia.

Syabas para relawan HALUAN, teruskan memberi khidmat. Ayuh relawan HALUAN, khidmat anda masih diperlukan oleh masyarakat. Mari kita sertai gerombolan generasi yang bahagia berkerja untuk ummah. Mari kita menjadi generasi yang bersedia memberi khidmat tanpa di minta. Mari kita dekati masyarakat di saat-saat mereka memerlukan pertolongan kita.

Selamat mendidik dan berbakti dengan akhlak maknawiyah. Semoga kita tergolong dalam golongan yang benar-benar bekerja di medan dakwah dan tarbiyah.

Sumber

Sunday, November 29, 2009



Kem Untuk Remaja di Kelantan



This entry was posted in :

Tuesday, November 24, 2009

Saturday, November 21, 2009


Menyedari banyaknya tugas amanah dakwah yang perlu dipikul, perajurit dakwah harus membangunkan keghairahannya dalam melaksanakan kewajipan dakwah. Keghairahan untuk terus melakukan kerja-kerja dakwah dan tarbiah serta berjuang demi tertegaknya dakwah ilallah, sehingga semangatnya berkobar-kobar. Tidak pernah lemah sedikitpun dalam menghadapi rintangan. Tidak pernah layu dengan bergilirnya zaman. Tidak pernah gentar kerana tentangan dan kepayahan. Ia bagaikan batu karang di tengah lautan yang kukuh menghadapi terjangan ombak.

Abul ‘Ala Al Maududi mengingatkan perajurit-perajuritnya;

”Bila kalian menyambut tugas dakwah ini tidak sebagaimana sikap kalian terhadap tugas yang menyangkut urusan peribadi kalian maka dakwah ini akan mengalami kekalahan yang nyata. Oleh kerana itu sambutlah tugas ini dengan ghairah.”

Amatlah tepat taujih Abul ‘Ala Al Maududi ini bila melihat sederetan tugas dan harapan umat. Bila sahaja perajurit dakwah memahami dengan betul maka mereka akan berupaya untuk menjaga keghairahannya agar tidak pernah redup sedikitpun. Ini kerana kelesuan dan kelemahan jiwa dalam menunaikan tugas berat ini akan menyebabkan dakwah dan harakah / organisasi kehilangan momentum.


Sebaliknya jiwa yang memiliki ghairah dalam menyambut tugas-tugas dakwah akan mudah untuk menyelesaikannya. Ia bahkan dapat menemukan celah-celah sempit untuk menjadi peluang besar yang akan menjadi menyebab kemenangan dakwah ini. Ia tidak pernah mundur tatkala bahaya menghadang. Ia tidak lelah ketika peluh bercucuran. Yang ada dalam benaknya adalah kami siap mengembangkan dakwah ini untuk sebuah kemenangan.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membezakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebahagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”.. (Ali Imran: 139 – 140).

Ghairah adalah suatu desakan emosi dan reaksi hati apabila melihat kehormatan Deen, harta, diri dan umat dinodai. Jiwa mukmin yang hidup semestinya mempunyai ghairah dalam amal Islami. Apabila kehilangan ghirah, itulah jiwa yang mandul,sakit atau mati. Ghairah orang mukmin adalah ghirah berasaskan iman dan demi meraih keredhaan Allah Subhanahuwata' ala.


Justeru itu sepantasnya bagi perajurit dakwah untuk selalu berusaha meningkatkan keghairahannya melalui amalan-amalan yang disunnahkan Rasulullah SAW. sehingga ghairahnya tidak kendur. Apakah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, mengkaji sejarah kepahlawanan Islam, membayangkan pahala dan balasan yang dijanjikan Allah SWT., bercermin dari kehidupan perajurit-perajurit dari kawasan-kawasan terpencil yang sangat bersemangat untuk menyebarluaskan dakwah ini ataupun dengan jalan-jalan lainnya. Amalan tersebut menjadi bahan bakar untuk semangatnya agar selalu bergelora.

Syeikh Muhammad Ahmad Rasyid mengingatkan;
“Gelorakan semangatmu wahai ikhwah dan jangan kendur sedikitpun, marilah maju bersama kafilah dakwah ini. Siapa yang tidak lagi bersemangat maka janganlah ikut barisan kami”.

Kemanakah hilangnya ghirah di jiwa umat kini? Sedangkan Deennya diperkotak-katikkan , kehormatannya dinodai dan cara hidupnya dijajah.

Membangun Ruh Keghairahan Dakwah dan Tarbiah


Menyedari banyaknya tugas amanah dakwah yang perlu dipikul, perajurit dakwah harus membangunkan keghairahannya dalam melaksanakan kewajipan dakwah. Keghairahan untuk terus melakukan kerja-kerja dakwah dan tarbiah serta berjuang demi tertegaknya dakwah ilallah, sehingga semangatnya berkobar-kobar. Tidak pernah lemah sedikitpun dalam menghadapi rintangan. Tidak pernah layu dengan bergilirnya zaman. Tidak pernah gentar kerana tentangan dan kepayahan. Ia bagaikan batu karang di tengah lautan yang kukuh menghadapi terjangan ombak.

Abul ‘Ala Al Maududi mengingatkan perajurit-perajuritnya;

”Bila kalian menyambut tugas dakwah ini tidak sebagaimana sikap kalian terhadap tugas yang menyangkut urusan peribadi kalian maka dakwah ini akan mengalami kekalahan yang nyata. Oleh kerana itu sambutlah tugas ini dengan ghairah.”

Amatlah tepat taujih Abul ‘Ala Al Maududi ini bila melihat sederetan tugas dan harapan umat. Bila sahaja perajurit dakwah memahami dengan betul maka mereka akan berupaya untuk menjaga keghairahannya agar tidak pernah redup sedikitpun. Ini kerana kelesuan dan kelemahan jiwa dalam menunaikan tugas berat ini akan menyebabkan dakwah dan harakah / organisasi kehilangan momentum.


Sebaliknya jiwa yang memiliki ghairah dalam menyambut tugas-tugas dakwah akan mudah untuk menyelesaikannya. Ia bahkan dapat menemukan celah-celah sempit untuk menjadi peluang besar yang akan menjadi menyebab kemenangan dakwah ini. Ia tidak pernah mundur tatkala bahaya menghadang. Ia tidak lelah ketika peluh bercucuran. Yang ada dalam benaknya adalah kami siap mengembangkan dakwah ini untuk sebuah kemenangan.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membezakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebahagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”.. (Ali Imran: 139 – 140).

Ghairah adalah suatu desakan emosi dan reaksi hati apabila melihat kehormatan Deen, harta, diri dan umat dinodai. Jiwa mukmin yang hidup semestinya mempunyai ghairah dalam amal Islami. Apabila kehilangan ghirah, itulah jiwa yang mandul,sakit atau mati. Ghairah orang mukmin adalah ghirah berasaskan iman dan demi meraih keredhaan Allah Subhanahuwata' ala.


Justeru itu sepantasnya bagi perajurit dakwah untuk selalu berusaha meningkatkan keghairahannya melalui amalan-amalan yang disunnahkan Rasulullah SAW. sehingga ghairahnya tidak kendur. Apakah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, mengkaji sejarah kepahlawanan Islam, membayangkan pahala dan balasan yang dijanjikan Allah SWT., bercermin dari kehidupan perajurit-perajurit dari kawasan-kawasan terpencil yang sangat bersemangat untuk menyebarluaskan dakwah ini ataupun dengan jalan-jalan lainnya. Amalan tersebut menjadi bahan bakar untuk semangatnya agar selalu bergelora.

Syeikh Muhammad Ahmad Rasyid mengingatkan;
“Gelorakan semangatmu wahai ikhwah dan jangan kendur sedikitpun, marilah maju bersama kafilah dakwah ini. Siapa yang tidak lagi bersemangat maka janganlah ikut barisan kami”.

Kemanakah hilangnya ghirah di jiwa umat kini? Sedangkan Deennya diperkotak-katikkan , kehormatannya dinodai dan cara hidupnya dijajah.

Thursday, November 19, 2009


Dakwah tidak mengenal uzur. Anas bin Malik mengatakan tentang Abdullah bin Ummi Maktum yang secara fizikalnya beliau buta. Tetapi pada perang Yarmuk, Abdullah bin Ummi Maktum hadir di tengah para mujahidin di medan perang, memakai baju besi, memegang bendera. Anas bin Malik bertanya, wahai Abdullah bin Ummi Maktum, bukankah Rasulullah saw telah memberi uzur kepadamu? Beliau menjawab, “Ya betul, memang dalam Al Quran telah diberikan uzur kepada orang buta. Tetapi sayamenginginkan dengan kehadiran saya di sini, di medan perang, paling tidak dapat menambah jumlah tentera Islam.”

Diceritakan lagi ketika tentera Holagu masuk ke kota Baghdad, terdapat seorang ulama yang juga buta. Dia menghadang tentera dengan mengayunkan pedang ke kanan dan ke kiri barangkali ada musuh yang kena. Secara logik, apa yang boleh dilakukan oleh orang yang dalam keadaan seperti itu? Barangkali kalau dia duduk di rumah dia tidak dosa dan tidak ada pertanggungjawabannya di sisi Allah. Tetapi masalahnya, dia ingin memberi sumbangan untuk Islam, ingin aktif, paling tidak ingin mati syahid. Dan benar dia mati syahid.


Kisah kisah seperti ini banyak dalam kisah tabiin. Yang kita inginkan dalam tarbiyah adalah para pewaris dakwah seperti itu. Meskipun dalam keadaan uzur namun tetap sahaja bersemangat berjuang, berjuang, berjuang. Menurut Ahmad bin Hambal kepada muridnya, “mataa yajidul abdu tha’marrahah?” Bila seseorang boleh beristirehat?” Dia menjawab, “Indamaa yatha’u ihda qadamaihi fil jannah” ketika salah satu kakinya menginjak syurga. Ertinya sebelum mati, tidak ada waktu untuk senang senang istirehat. Laa rahata li du’at illa ba’dal mamaat. Itu kata Syeikh Ahmad Rasyid. Jadi barangsiapa yang mahu istirahet silakan mati. Meskipun setelah itu juga belum tentu boleh istirehat kerana tidak ada amal yang di bawa.

Uzur dan Berehat-Rehat Di Jalan Dakwah


Dakwah tidak mengenal uzur. Anas bin Malik mengatakan tentang Abdullah bin Ummi Maktum yang secara fizikalnya beliau buta. Tetapi pada perang Yarmuk, Abdullah bin Ummi Maktum hadir di tengah para mujahidin di medan perang, memakai baju besi, memegang bendera. Anas bin Malik bertanya, wahai Abdullah bin Ummi Maktum, bukankah Rasulullah saw telah memberi uzur kepadamu? Beliau menjawab, “Ya betul, memang dalam Al Quran telah diberikan uzur kepada orang buta. Tetapi sayamenginginkan dengan kehadiran saya di sini, di medan perang, paling tidak dapat menambah jumlah tentera Islam.”

Diceritakan lagi ketika tentera Holagu masuk ke kota Baghdad, terdapat seorang ulama yang juga buta. Dia menghadang tentera dengan mengayunkan pedang ke kanan dan ke kiri barangkali ada musuh yang kena. Secara logik, apa yang boleh dilakukan oleh orang yang dalam keadaan seperti itu? Barangkali kalau dia duduk di rumah dia tidak dosa dan tidak ada pertanggungjawabannya di sisi Allah. Tetapi masalahnya, dia ingin memberi sumbangan untuk Islam, ingin aktif, paling tidak ingin mati syahid. Dan benar dia mati syahid.


Kisah kisah seperti ini banyak dalam kisah tabiin. Yang kita inginkan dalam tarbiyah adalah para pewaris dakwah seperti itu. Meskipun dalam keadaan uzur namun tetap sahaja bersemangat berjuang, berjuang, berjuang. Menurut Ahmad bin Hambal kepada muridnya, “mataa yajidul abdu tha’marrahah?” Bila seseorang boleh beristirehat?” Dia menjawab, “Indamaa yatha’u ihda qadamaihi fil jannah” ketika salah satu kakinya menginjak syurga. Ertinya sebelum mati, tidak ada waktu untuk senang senang istirehat. Laa rahata li du’at illa ba’dal mamaat. Itu kata Syeikh Ahmad Rasyid. Jadi barangsiapa yang mahu istirahet silakan mati. Meskipun setelah itu juga belum tentu boleh istirehat kerana tidak ada amal yang di bawa.

Wednesday, November 18, 2009


Langit diatas kita yang terbentang sejauh mata memandang terkadang ia berwarna biru cerah dan terkadang awan-awan berarak-arak menghiasinya, indah dan menyejukkan, namun ia terkadang menghitam gelap menakutkan dan serasa kurang bersahabat. Dan ia adalah ciptaan Allah.....

Demikian pula bumi yang kita injak-injak, kita ludahi, kita penuh sesaki dengan sampah dan kotoran, adakalanya ia begitu indah menawan, menenteramkan hati dan adakalanya pula ia serasa menjauh, menolak kehadiran kita, dan iapun ciptaan Allah juga.....

Mereka adalah diantara ciptaan-ciptaan Allah yang tidak pernah lepas dari orbit kepatuhan, lintasan ketaatan dan posisi kepasrahan.

Alangkah indahnya istiqamah mereka.....

Ketundukan mereka akan peranannya begitu wajar, ketaatan mereka adalah tidak dipaksakan. Tulus...Kita...??? Bagaimana dengan kita...???


Meneguhkan pendirian bahawa Rabb kita adalah Allah dan memelihara konsisten kita sebagai hamba sahaya diantara hamba-hamba Allah lainnya adalah perjuangan yang berat. Dan seringkali ia harus dibayar mahal dengan menitiskan air mata, mengeluarkan keringat dan mengalirkan darah.

Mungkin perjuangan untuk tetap istiqamah harus berakhir dengan hancur remuknya tubuh di tiang salib (Khubaib bin 'Ady), atau dijerumuskan kedalam penggorengan panas yang telah penuh dengan minyak mendidih (Siti Masithah), atau boleh jadi dengan rosaknya tubuh kerana dipanggang dek panas matahari, dihentam habis-habisan dan ditusuk dengan tombak dari pangkal peha hingga hujung kepala (Sumaiyyah).

Namun....Mereka telah merasakan semerbaknya pengorbanan dan memetik buahnya yang ranum dan wangi. Mereka telah mereguk telaga kebahagiaan dan meraih kenyamanan taman syurgawi yang kenikmatannya tidak mungkin tertandingi oleh kehidupan kita sekarang.

Lantas, bagaimana kita...?

Rasanya ketika diperintah oleh Rasulullah SAW untuk "Amantu bi 'l-Laahi, tsumma 'staqim", maka sikap kita mungkin akan sama seperti Sufyaan bin 'Abdi 'l-Laahi iaitu dengan kenyataan ini kita akan sibuk dan terlalu sibuk untuk tetap berupaya istiqamah dengan keimanan kita.

Pernyataan keimanan itu memerlukan penjelmaan, meminta bukti dan menuntut amal soleh. Memang pembuktian itu tidak harus berkalu dengan tragedi kekerasan, keterlaluan atau penyiksaan bahkan pembunuhan, namun kalaupun itu terjadi maka sudah sewajarnyalah kita menerimanya dan menikmati pengorbanan itu.
Pengorbanan (At-Tadhhiyyah) adalah hak setiap muslim. Setiap muslim sudah sewajarnya menuntut hak dirinya dan merelakan tubuhnya menjadi bukti pengorbanannya dalam rangka istiqamah dengan keimanannya kepada Allah SWT yang mencipta, memberi rezeki sekaligus membeli setiap diri kita.

Alangkah indahnya jika kita dapat mengakhiri kehidupan yang penuh sandiwara dan fatamorgana ini dengan istiqamah di jalanNya. Jalan yang telah ditempuh oleh para Nabi dan Rasul, para Shiddiqqiin (golongan yang jujur dengan syahadahnya), para Shoolihiin (golongan orang-orang yang soleh dan senantiasa menebar kesolehan) dan penerus-penerusnya.

Ya, inilah satu-satunya jalan yang akan menghantarkan kita kepada mardhatillah (keredhaan), jannahNya dan sudah pasti jalan yang indah...

"Diantara orang-orang yang beriman ada orang-orang benar dengan janjinya kepada Allah. Diantara mereka ada yang telah menunaikan janjinya (menemui syahidnya) dan diantara mereka ada yang masih menunggu-nunggu (untuk menemui syahidnya) dan sama sekali mereka tidak mengubah janjinya." (QS. Al-Ahzab:23)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ' Rabbunaa 'l-Laahu ' kemudian mereka istiqamah (meneguhkan pendirian), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan),'Janganlah kalian takut dan janganlah kalian sedih dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepada kalian" (QS. Fush-shilat:30)

Muhasabah Di Anjung Zulhijjah


Langit diatas kita yang terbentang sejauh mata memandang terkadang ia berwarna biru cerah dan terkadang awan-awan berarak-arak menghiasinya, indah dan menyejukkan, namun ia terkadang menghitam gelap menakutkan dan serasa kurang bersahabat. Dan ia adalah ciptaan Allah.....

Demikian pula bumi yang kita injak-injak, kita ludahi, kita penuh sesaki dengan sampah dan kotoran, adakalanya ia begitu indah menawan, menenteramkan hati dan adakalanya pula ia serasa menjauh, menolak kehadiran kita, dan iapun ciptaan Allah juga.....

Mereka adalah diantara ciptaan-ciptaan Allah yang tidak pernah lepas dari orbit kepatuhan, lintasan ketaatan dan posisi kepasrahan.

Alangkah indahnya istiqamah mereka.....

Ketundukan mereka akan peranannya begitu wajar, ketaatan mereka adalah tidak dipaksakan. Tulus...Kita...??? Bagaimana dengan kita...???


Meneguhkan pendirian bahawa Rabb kita adalah Allah dan memelihara konsisten kita sebagai hamba sahaya diantara hamba-hamba Allah lainnya adalah perjuangan yang berat. Dan seringkali ia harus dibayar mahal dengan menitiskan air mata, mengeluarkan keringat dan mengalirkan darah.

Mungkin perjuangan untuk tetap istiqamah harus berakhir dengan hancur remuknya tubuh di tiang salib (Khubaib bin 'Ady), atau dijerumuskan kedalam penggorengan panas yang telah penuh dengan minyak mendidih (Siti Masithah), atau boleh jadi dengan rosaknya tubuh kerana dipanggang dek panas matahari, dihentam habis-habisan dan ditusuk dengan tombak dari pangkal peha hingga hujung kepala (Sumaiyyah).

Namun....Mereka telah merasakan semerbaknya pengorbanan dan memetik buahnya yang ranum dan wangi. Mereka telah mereguk telaga kebahagiaan dan meraih kenyamanan taman syurgawi yang kenikmatannya tidak mungkin tertandingi oleh kehidupan kita sekarang.

Lantas, bagaimana kita...?

Rasanya ketika diperintah oleh Rasulullah SAW untuk "Amantu bi 'l-Laahi, tsumma 'staqim", maka sikap kita mungkin akan sama seperti Sufyaan bin 'Abdi 'l-Laahi iaitu dengan kenyataan ini kita akan sibuk dan terlalu sibuk untuk tetap berupaya istiqamah dengan keimanan kita.

Pernyataan keimanan itu memerlukan penjelmaan, meminta bukti dan menuntut amal soleh. Memang pembuktian itu tidak harus berkalu dengan tragedi kekerasan, keterlaluan atau penyiksaan bahkan pembunuhan, namun kalaupun itu terjadi maka sudah sewajarnyalah kita menerimanya dan menikmati pengorbanan itu.
Pengorbanan (At-Tadhhiyyah) adalah hak setiap muslim. Setiap muslim sudah sewajarnya menuntut hak dirinya dan merelakan tubuhnya menjadi bukti pengorbanannya dalam rangka istiqamah dengan keimanannya kepada Allah SWT yang mencipta, memberi rezeki sekaligus membeli setiap diri kita.

Alangkah indahnya jika kita dapat mengakhiri kehidupan yang penuh sandiwara dan fatamorgana ini dengan istiqamah di jalanNya. Jalan yang telah ditempuh oleh para Nabi dan Rasul, para Shiddiqqiin (golongan yang jujur dengan syahadahnya), para Shoolihiin (golongan orang-orang yang soleh dan senantiasa menebar kesolehan) dan penerus-penerusnya.

Ya, inilah satu-satunya jalan yang akan menghantarkan kita kepada mardhatillah (keredhaan), jannahNya dan sudah pasti jalan yang indah...

"Diantara orang-orang yang beriman ada orang-orang benar dengan janjinya kepada Allah. Diantara mereka ada yang telah menunaikan janjinya (menemui syahidnya) dan diantara mereka ada yang masih menunggu-nunggu (untuk menemui syahidnya) dan sama sekali mereka tidak mengubah janjinya." (QS. Al-Ahzab:23)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ' Rabbunaa 'l-Laahu ' kemudian mereka istiqamah (meneguhkan pendirian), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan),'Janganlah kalian takut dan janganlah kalian sedih dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepada kalian" (QS. Fush-shilat:30)

Tuesday, November 17, 2009


Syaqiq Al-Balkhy – seorang sufi – pergi berdagang mencari rezeki. Sebelum berangkat, ia berjumpa Ibrahim Adham, sahabatnya, kerana perjalanan dagangnya kali ini agak lama dan jauh.

Akan tetapi, beberapa hari sahaja Syaqiq pulang. Apabila dilihat Syaqiq di masjid, Ibrahim hairan dan bertanya: " Apa yang menjadikan kamu begitu cepat pulang?"

"Aku melihat sesuatu keajaiban dalam perjalananku, lalu aku pun pulang.’ Jawab Syaqiq.

Ibrahim bertanya: "Apa yang kau lihat?"

‘Di kala itu, aku duduk disebuah tempat yang sunyi sedang beristirehat. Di situ aku melihat seekor burung yang pincang dan buta matanya. Hatiku tersentuh hairan dan berkata," Bagaimana burung itu boleh hidup di tempat terperosok seperti ini sedangkan ia tidak boleh bergerak dan melihat semua sekali".

Tidak berapa lama kemudian datang seekor burung lain memberikan makanan kepadanya berkali-kali dalam sehari sehingga burung cacat tadi kenyang. Aku pun berkata dalam hati : sesungguhnya Yang memberi rezeki kepada burung itu juga berkuasa memberi rezeki kepadaku. Saat itu juga aku pulang."

Mendengar jawapan itu Ibrahim berkata" Engkau ini sungguh lucu , wahai Syaqiq ! Relakah kau jadikan dirimu sebagai burung yang pincang dan buta, yang hidupnya bergantung kepada orang lain ? Kenapa kau tidak jadikan dirimu sebagai burung yang kedua yang berusaha dengan dirinya dan untuk diri orang lain, yang tidak berupaya seperti orang buta dan cacat yang lain. Tidakkah kau tahu bahawa tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah."

Syaqiq pun bangkit dari tempat duduknya dan mencium tangan Ibrahim dan berkata ; " Engkaulah guruku yang sejati, wahai Abu Ishak (Ibrahim) ".

Tangan Di atas vs Tangan Di Bawah...


Syaqiq Al-Balkhy – seorang sufi – pergi berdagang mencari rezeki. Sebelum berangkat, ia berjumpa Ibrahim Adham, sahabatnya, kerana perjalanan dagangnya kali ini agak lama dan jauh.

Akan tetapi, beberapa hari sahaja Syaqiq pulang. Apabila dilihat Syaqiq di masjid, Ibrahim hairan dan bertanya: " Apa yang menjadikan kamu begitu cepat pulang?"

"Aku melihat sesuatu keajaiban dalam perjalananku, lalu aku pun pulang.’ Jawab Syaqiq.

Ibrahim bertanya: "Apa yang kau lihat?"

‘Di kala itu, aku duduk disebuah tempat yang sunyi sedang beristirehat. Di situ aku melihat seekor burung yang pincang dan buta matanya. Hatiku tersentuh hairan dan berkata," Bagaimana burung itu boleh hidup di tempat terperosok seperti ini sedangkan ia tidak boleh bergerak dan melihat semua sekali".

Tidak berapa lama kemudian datang seekor burung lain memberikan makanan kepadanya berkali-kali dalam sehari sehingga burung cacat tadi kenyang. Aku pun berkata dalam hati : sesungguhnya Yang memberi rezeki kepada burung itu juga berkuasa memberi rezeki kepadaku. Saat itu juga aku pulang."

Mendengar jawapan itu Ibrahim berkata" Engkau ini sungguh lucu , wahai Syaqiq ! Relakah kau jadikan dirimu sebagai burung yang pincang dan buta, yang hidupnya bergantung kepada orang lain ? Kenapa kau tidak jadikan dirimu sebagai burung yang kedua yang berusaha dengan dirinya dan untuk diri orang lain, yang tidak berupaya seperti orang buta dan cacat yang lain. Tidakkah kau tahu bahawa tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah."

Syaqiq pun bangkit dari tempat duduknya dan mencium tangan Ibrahim dan berkata ; " Engkaulah guruku yang sejati, wahai Abu Ishak (Ibrahim) ".

Wednesday, November 11, 2009


Dalam asmaul husna Allah SWT disebut sebagai Al ‘Alim (Yang Maha Mengetahui).

Bahawasanya ilmu Allah SWT tidak terbatas. Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, yang dahulu, sekarang ataupun masa depan, baik yang ghaib mahupun yang nyata:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahawa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi..”(Al Hajj:70)

“Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Al Hasyr:22)

Tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah SWT. Sebutir biji di dalam gelap gulita bumi yang berlapis tetap diketahui Allah SWT:

“Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib, tiadalah yang mengetahui kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun kayu pun, melainkan Dia mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang terang” (Al An’am:59)


Ilmu Allah SWT maha luas, tidak terjangkau dan tak terbayangkan oleh akal fikiran, tiada terbatas. Dia mengetahui apa yang telah berlaku, dan yang akan terjadi serta yang mengaturnya. Manusia, malaikat, dan makhluk manapun tidak akan mampu menyelami lautan ilmu Allah SWT. Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah saja manusia tidak akan mampu. Dalam tubuh manusia tidak semuanya terjangkau oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin didalami semakin jauh pula yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan, seperti jaringan kerja otak manusia masih merupakan hal yang teramat rumit untuk dikaji. Belum lagi tentang astronomi, berapa banyak bintang, galaksi di langit, berapa jauhnya, bagaimana cara mencapainya, proses terjadinya, apakah ada penghuninya, dan sebagainya. Jika kita menatap ke luar angkasa betapa kecil bumi ini bagaikan debu bahkan lebih kecil dari itu. Andaikan saja ada manusia yang menguasai planet bumi sebagai milik peribadinya, maka di hadapan alam di ruang angkasa ini dia hanyalah memiliki debu yang tidak bererti. Jika ada saja manusia menguasai bumi, dia hanya menguasai debu. Sementara kekuasaan, kerajaan Allah SWT tidak akan tertandingi sedikitpun jua.

Allah SWT menggambarkan betapa kecil dan tak berdayanya manusia bila dibandingkan dengan ilmu Allah SWT, dengan perumpamaan air laut bahkan tujuh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah SWT, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah tersebut dituliskan:

”Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelumhabis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula” (Al Kahfi:109)

“Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Luqman:27).

Allah SWT telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isi dan peristiwa yang terkandung di dalamnya merupakan fenomena yang sangat mengesankan dan menakjubkan akal serta hati sanubari manusia. Itulah alam semesta. Semaklah firman Allah SWT ini:

“Dia lah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi . Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al Hasyr: 24).

Hendaknya manusia senantiasa men-taddaburi ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah mahupun kauniyah. Ini kerana di sana terdapat lautan ilmu-Nya,serta dorongan dan motivasi untuk mengkaji mahupun melaksanakannya.

Hakikatnya Ilmu Kita Milik Yang Maha Mengetahui...


Dalam asmaul husna Allah SWT disebut sebagai Al ‘Alim (Yang Maha Mengetahui).

Bahawasanya ilmu Allah SWT tidak terbatas. Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, yang dahulu, sekarang ataupun masa depan, baik yang ghaib mahupun yang nyata:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahawa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi..”(Al Hajj:70)

“Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Al Hasyr:22)

Tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah SWT. Sebutir biji di dalam gelap gulita bumi yang berlapis tetap diketahui Allah SWT:

“Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib, tiadalah yang mengetahui kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun kayu pun, melainkan Dia mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang terang” (Al An’am:59)


Ilmu Allah SWT maha luas, tidak terjangkau dan tak terbayangkan oleh akal fikiran, tiada terbatas. Dia mengetahui apa yang telah berlaku, dan yang akan terjadi serta yang mengaturnya. Manusia, malaikat, dan makhluk manapun tidak akan mampu menyelami lautan ilmu Allah SWT. Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah saja manusia tidak akan mampu. Dalam tubuh manusia tidak semuanya terjangkau oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin didalami semakin jauh pula yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan, seperti jaringan kerja otak manusia masih merupakan hal yang teramat rumit untuk dikaji. Belum lagi tentang astronomi, berapa banyak bintang, galaksi di langit, berapa jauhnya, bagaimana cara mencapainya, proses terjadinya, apakah ada penghuninya, dan sebagainya. Jika kita menatap ke luar angkasa betapa kecil bumi ini bagaikan debu bahkan lebih kecil dari itu. Andaikan saja ada manusia yang menguasai planet bumi sebagai milik peribadinya, maka di hadapan alam di ruang angkasa ini dia hanyalah memiliki debu yang tidak bererti. Jika ada saja manusia menguasai bumi, dia hanya menguasai debu. Sementara kekuasaan, kerajaan Allah SWT tidak akan tertandingi sedikitpun jua.

Allah SWT menggambarkan betapa kecil dan tak berdayanya manusia bila dibandingkan dengan ilmu Allah SWT, dengan perumpamaan air laut bahkan tujuh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah SWT, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah tersebut dituliskan:

”Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelumhabis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula” (Al Kahfi:109)

“Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Luqman:27).

Allah SWT telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isi dan peristiwa yang terkandung di dalamnya merupakan fenomena yang sangat mengesankan dan menakjubkan akal serta hati sanubari manusia. Itulah alam semesta. Semaklah firman Allah SWT ini:

“Dia lah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi . Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al Hasyr: 24).

Hendaknya manusia senantiasa men-taddaburi ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah mahupun kauniyah. Ini kerana di sana terdapat lautan ilmu-Nya,serta dorongan dan motivasi untuk mengkaji mahupun melaksanakannya.

Wednesday, November 04, 2009


Jihad melawan hawanafsu ini pula terbahagi kepada 4 bahagian:-

1. Berjihad untuk mendapat hidayah(petunjuk) daripada Allah SWT.- kita berusaha, berikhtiar untuk mendapat petunjuk daripada Allah SWT.(petunjuk Allah ialah Islam itu sendiri).

2. Melaksanakan Islam, petunjuk Allah SWT itu di dalam kehidupan kita setiap hari dalam pelbagai aspek kehidupan kita.

3. Menyampaikan Islam yang telah kita laksanakan itu kepada orang lain.

4. Bersabar di dalam menyampaikan Islam kepada orang lain.


Jadi ada 4 peringkat jihad didalam melawan hawa nafsu ini yang mana apabila kita memperlengkapkan keempat-empat peringkat jihad ini maka barulah sempurna proses jihad kita melawan hawanafsu ini. Ini bermakna di dalam hidup kita ini setiap masa berkehendakkan kepada jihad dan lebih-lebih lagilah apabila kita hendak melahirkan dan melaksanakan Islam. Jadi di mana kita memperkatakan Islam maka di situlah kena ada jihad tidak kiralah sama ada diperingkat individu ataupun diperingkat jamaah. Kita seorang-seorang memerlukan jihad apabila nak melaksanakan Islam dan kita bersama-sama dengan sahabat-sahabat ataupun jamaah juga memerlukan jihad untuk melaksanakan Islam.

Mujahadah itu sebenarnya mempunyai makna yang cukup luas. Kita datang ke sini merupakan satu bentuk mujahadah, kita mendekatkan diri kita kepada suasana yang soleh, mendekatkan diri kepada sumber-sumber tarbiah yang betul seperti Al-Qur'an Al-Karim dan Sunnah Rasulullah SAW serta buku-buku yang dikarang oleh ulama-'ulama' yang muktabar semua itu termasuk dalam mujahadah. Kita hadir dalam halaqat, dalam tamrin dan program-program yang kita rancang, itu juga dikira mujahadah. Kita pergi menziarahi sahabat-sahabat kita, kita pergi menziarahi sanak-saudara kita dalam rangka nak menyebarkan kefahaman Islam misalnya pun dikira sebagai mujahadah,mujahadah untuk kita mendapat hidayah/petunjuk daripada Allah SWT.

Kita mendampingi orang-orang yang tertentu yang boleh membawa kita ke jalan yang haq maka itu juga dikira sebagai mujahadah. Kita mengelakkan diri kita daripada gangguan-gangguan maksiat, menjauhkan diri kita, anak-isteri, keluarga dan sahabat-sahabat kita daripada suasana-suasana yang tidak Islam dan dorongan-dorongan hawanafsu yang menyesatkan semua itu juga termasuk dalam usaha kita bermujahadah. Jadi alangkah luasnya kerja-kerja mujahadah yang perlu kita lakukan dalam rangka untuk kita mendapat hidayah daripada Allah SWT. Jadi semua usaha dan kerja-kerja yang kita lakukan sekiranya dibuat dengan penuh keikhlasan kerana Allah SWT maka itulah yang merupakan titik tolak yang betul ke arah untuk kita mendapat hidayah daripada Allah SWT. Jadi sekiranya apa yang kita buat, niat kita lillahi taala maka itulah jalan yang akan menyampaikan kita kepada hidayah Allah dan seterusnya membawa kita kepada makam(kedudukan) al-muttaqin ataupun orang-orang yang bertaqwa.


Untuk menuju ke arah muttaqin, untuk sampai kepada kedudukan orang-orang yang bertaqwa ini, kita dapati banyak berlaku kesalahan-kesalahan. Kita dapati di sana orang-orang yang salah didalam memahami konsep mujahadah ini, mereka melakukan mujahadah dengan konsep mereka yang tersendiri. Maka dengan sebab itulah kita dapati ramai yang bermujahadah tetapi tidak sampai kepada natijah yang betul yakni tidak mendapat hidayah daripada Allah SWT dan tidak dapat menjadi orang-orang yang benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT. Mereka bermujahadah tetapi tidak mendapat hidayah dan taqwa. Jadi inilah yang betul-betul kita hendak jaga supaya jalan yang kita lalui itu betul-betul mendapat taufik ataupun persetujuan daripada Allah SWT. Dalam hendak memastikan kita bermujahadah ini dengan taufik/jalan yang dipersetujui oleh Allah SWT ini maka sebab itulah kita tidak memilih jalan yang lain melainkan jalan ataupun uslub yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dalam rangka kita bermujahadah ini dan juga dalam rangka kita nak kembali mengambil Islam. Jadi kita bermujahadah ikut uslub Rasulullah SAW dan kita mengambil Islam ini juga ikut uslub ataupun jalan sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.

Justeru itu tidaklah boleh kita membuat kesimpulan manakala kita hendak bermujahadah kita buat menurut cara kita sendiri ataupun tektik tersendiri tanpa melihat dan mengikuti uslub yang sebenarnya yakni uslub Rasulullah SAW. Kita tidak boleh buat ataupun fikir dengan cara kita sendiri di dalam bermujahadah ini. Dalam hal mengikuti jalan yang betul untuk bermujahadah ini telah berlaku kekeliruan di dalam kefahaman dan jalan-jalan yang hendak diambil akibat daripada kejahilan seseorang itu tentang konsep mujahadah yang sebenarnya. Kejahilan seseorang itu terhadap jalan mujahadah yang telah dilalui oleh baginda Rasulullah SAW itulah yang menyebabkan berlakunya kesalahan-kesalahan, ketidak-fahaman dan kekeliruan-keliruan di dalam melaksanakan mujahadah ini.

Di sini perlulah memahami betul-betul qadiah ataupun permasalahan mujahadah ini dan jalan-jalan yang perlu kita ikuti di dalam rangka untuk kita mendapatkan hidayah daripada Allah SWT dan menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT. Jadi sebagaimana yang kita jelaskan tadi sekirannya jalan yang kita ikuti dalam bermujahadah ini tidak betul, walaupun kita bersungguh-sungguh melakukan mujahadah ini, kita mencurahkan masa dan tenaga , wang ringgit dan harta benda yang banyak tetapi kejalan yang tidak betul maka semuanya itu akan menjadi sia-sia sahaja dan tidak akan mendapat taufik dan hidayah daripada Allah SWT. Kita tidak akan sampai kepada petunjuk dan taqwa yang sebenarnya.

Di dalam hal bermujahadah ini Ustadz Syed Hawwa menjelaskan," Kita mestilah bermula daripada noktah iman kepada Allah SWT dan bermula dengan noktah mentauhidkan/mengEsakan Allah SWT ". Mujahadah yang betul itu mestilah bermula dengan beriman kepada Allah dan beriman kepada prinsip-prinsip keimanan yang lain serta bermula dengan mentauhidkan dan mengEsakan Allah SWT. Mujahadah itu mestilah bertitik-tolak dengan beriman kepada Allah dan beriman kepada prinsip-prinsip keimanan yang lain seperti beriman kepada Muhammadur Rasulullah dan yang lain-lain lagi. Hakikat ini mestilah diterima secara disedari .Ianya tidak boleh dialpakan ataupun dilalaikan sebab mungkin sesaorang muslim yang lahir di dalam suasana Islam ataupun yang lahir ditengah-tengah masyarakat Islam maka dia tidak akan merasai bahawa perkara ini disuruh dan dituntut yakni supaya dia bermujahadah bermula dengan beriman kepada Allah SWT. Bila kita sudah ada biah solehah(suasana yang Islamik) maka mungkin boleh berlaku di mana seseorang muslim yang lahir di dalam biah yang seperti ini, dia tidak merasa perkara ini dituntut yakni supaya dia bermujahadah bermula dengan keimanan kepada Allah SWT. Jadi inilah satu kesilapan yang besar yang telah berlaku di dalam sejarah Islam. Kita dapati apabila wujudnya Daulah Islamiah dalam waktu yang agak panjang maka telah lahirlah umat Islam yakni generasi-generasi yang baru di dalam daulah tadi tetapi manakala tidak diingatkan kepada mereka tentang perlunya mereka bermujahadah bermula dengan beriman kepada Allah SWT dalam ertikata yang sebenarnya maka berlakulah berbagai-bagai masalah di dalam perkembangan dakwah Islam ini.

Inilah kesalahan yang telah berlaku di dalam masyarakat Islam beberapa masa yang lalu. Bila sudah banyak umat Islam, semua Islam, individu Islam, keluarga Islam, masyarakat Islam dan daulah Islam maka terlupa mereka kepada satu hakikat untuk mengajak generasi yang baru ini kepada merasai apa yang pernah dirasai oleh generasi yang awal yakni bermujahadah dengan titik tolak keimanan kepada Allah SWT dan mentauhidkan serta mengEsakan Allah SWT. Dalam realiti kita, kalau kita tidak ambil berat ataupun kita tak memperdulikan perkara ini maka itulah yang akan membawa kepincangan kepada perkembangan Jamaah Islamiah yang kita dukung ini.

Biah ataupun suasana yang ada pada hari ini yang diwujud dan dirancang kewujudannya oleh sistem yang ada pada hari ini lambat laun akan mempengaruhi umat Islam dan tidak dinafikan kemungkinan kita juga boleh lari meninggalkan suasana Islam ini kepada suasana yang lain meskipun di sana masih terdapat keperibadian Islam yang masih boleh diperlihatkan. Namun sekiranya umat ini larut di dalam kemewahan syaksiah Islamiah sehinggakan terlupa kepada hakikat untuk bermujahadah ataupun perlunya setiap individu itu mengislahkan dan berusaha untuk dia kembali bermujahadah bermula dengan keimanan kepada Allah SWT maka kemungkinan untuk dia larut di dalam suasana yang tidak Islamik itu boleh berlaku.

Al-Qaid pernah berkata, " Perkara ini kalau kita tak perkenalkan atau kita tidak tekankan betul-betul di dalam proses tarbiah kita kepada generasi yang baru ini maka itu merupakan satu kesalahan yang besar di dalam kerja-kerja amal Islami yang kita lakukan ". Kalau kita tidak kata MUJAHADAH MESTI BERMULA DENGAN KEIMANAN KEPADA ALLAH SWT ,walaupun kita lahirkan mereka ditengah-tengah masyarakat Islam, tetapi kita akan kehilangan mereka, mereka akan diambil oleh sistem yang ada pada hari ini.

Walaupun kita berusaha ke arah perkembangan jamaah kita, kita menyusun banyak perancangan yang baru di dalam hendak memperkuatkan lagi struktur perkembangan Jamaah Islam tetapi bagi sahabat-sahabat yang baru janganlah kita lupa untuk memperjelaskan kepada mereka bahawa mujahadah ini mestilah bermula dengan kita beriman kepada Allah SWT. Mesti bermula dengan kita mentauhidkan Allah SWT dan mengEsakan Allah SWT. Maknanya di sini, setiap masa, setiap peringkat , setiap perkembangan dan setiap suasana , bagi setiap individu dan jamaah ataupun sesiapa sahaja yang berhajatkan kepada Islam maka mujahadahnya mestilah bermula dengan keimanan kepada Allah SWT. Tidak kira waktu, tidak kira tempat ataupun suasana, apabila dia bermujahadah maka dia mestilah bermula dengan menyelesaikan permasalahan awal iaitu beriman dan mentauhidkan Allah SWT. Itulah jalan mujahadah yang sebenarnya.

Kita dapati apabila berlaku kesilapan di dalam memahami konsep mujahadah ini maka akan berlakulah kerja yang sia-sia yang mana kita nampak semacam tidak mendapat hidayah daripada Allah SWT.

Oleh itu dalam rangka bermujahadah ini kita juga mengharapkan agar kita dapat mencerminkan sifat ataupun keperibadian Islam yang sebenar. Kita ingin menunjukkan Syaksiah Islam yang sempurna. Maka untuk tujuan itulah kita kena pastikan bahawa mujahadah yang kita lakukan mestilah bermula/bertitik tolak daripada keimanan kepada Allah SWT.

Kita lihat di dalam sirah yakni dizaman Rasulullah SAW dan para sahabat telah berlaku satu perubahan dan peralihan yang sungguh besar di dalam masyarakat Islam ketika itu di mana telah lahir betul-betul di dalam masyakat dan juga generasi para sahabat ketika itu mereka-mereka yang benar-benar bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT. Proses mujahadah yang mereka lakukan benar-benar telah menampakkan perubahan dan peralihan yang menyeluruh yakni daripada kufur kepada Iman dan daripada jahiliah kepada Islam.

Setelah terlaksana proses mujahadah yang bermula dengan beriman dan mentauhidkan Allah SWT serta memperbetulkan aqidah kita maka selepas itu barulah akan sampai pula kepada marhalah ataupun peringkat mujahadah yang kedua iaitu mujahadah untuk melaksanakan tugas-tugas yang diwajibkan, mujahadah untuk melaksanakan kewajipan yang difardukan oleh Islam dan juga mujahadah untuk meninggalkan perkara-perkara yang ditegah oleh Islam. Manakala telah sempurna mujahadah yang pertama tadi yakni mujahadah untuk beriman dan mentauhidkan Allah SWT maka barulah dia sampai kepada peringkat yang kedua yakni menyempurnakan Islam yang minima mengerjakan semua yang wajib dan meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah SWT) di dalam semua aspek kehidupan kita setiap hari . Diperingkat ini barulah seseorang itu dapat melakukan ibadahnya dengan betul, dia mendirikan solat lima waktu dengan betul, berpuasa pada bulan ramadan dengan betul, memberi zakat, naik haji dan melaksanakan amal Islami (kerja-kerja Islam) yang betul dalam ertikata yang sebenarnya.

Jadi kita sebagai anggota-anggota di dalam jamaah Islamiah yang mengikuti tarbiah ini mestilah terlebih dahulu mengikatkan hati kita dengan keimanan kepada Allah SWT. Sekiranya hati ini tidak diikat dengan keimanan kepada Allah SWT terlebih dahulu maka mujahadah-mujahadah yang lain itu dia akan jadi satu tradisi sahaja. Solat jadi tradisi, puasa tradisi ataupun dalam realiti kita yang berulang-alik menghadiri program-program halaqat, tamrin dan sebagainya tetapi tidak jelas betul-betul pada kita tentang hakikat mujahadah yang pertama ini maka penglibatan kita itu juga akan menjadi tradisi sahaja. Tidak ada keberkesanan yang sebenarnya. Maka sebab itulah di dalam proses tarbiah ini kita nak bawa hati dan jiwa kita ini merasai betul-betul akan hakikat keimanan dan hakikat mentauhidkan Allah SWT. Kita hendak ikatkan hati kita ini dengan keimanan kepada Allah SWT dan bukannya hendak ikatkan dia kepada yang rutin. Kita tak mahu berlaku yang macam ini, misalnya dalam halaqat dia hadir, dalam tamrin dia hadir dan dalam aktiviti-aktiviti yang lain dia juga hadir tetapi tidak diikat betul-betul dengan keimanan kepada Allah SWT. Jadi kita nak dia hadir itu adalah dalam rangka untuk merasai hubungan dia dengan Allah SWT, hubungan hati dan ruh dia dengan pencipta dia yakni Allah SWT.

Apabila telah sampai keperingkat mujahadah yang kedua tadi, kita melaksanakan yang fardu dan meninggalkan yang haram dengan betul maka insyaAllah penigkatan diri kita akan menjadi suatu yang cukup soleh. Akan bertambah lagi hidayah Allah SWT kepada kita yang seterusnya akan meningkatkan dan menyempurnakan lagi ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Itulah diantara beberapa panduan mengenai jalan-jalan mujahadah yang perlu kita lalui dan kita nak ajak mereka-mereka yang lain, anak-isteri kita, keluarga kita, saudara-mara dan masyarakat semua melaluinya dalam rangka untuk menyempurnakan perhambaan kita kepada Allah SWT dan dalam rangka untuk kita menuju kepada taqwa dalam ertikata yang sebenarnya. Kuatnya kita (umat Islam) ini adalah kerana kuatnya taqwa yang ada pada setiap individu di dalam Jamaah Islamiah ini. Kekuatan taqwa ini hendaklah sentiasa kita jaga dengan proses mujahadah ini, proses di mana kita berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkan hidayah Allah SWT pada setiap masa, setiap suasana dan setiap ketika.

Mujahadah (2)


Jihad melawan hawanafsu ini pula terbahagi kepada 4 bahagian:-

1. Berjihad untuk mendapat hidayah(petunjuk) daripada Allah SWT.- kita berusaha, berikhtiar untuk mendapat petunjuk daripada Allah SWT.(petunjuk Allah ialah Islam itu sendiri).

2. Melaksanakan Islam, petunjuk Allah SWT itu di dalam kehidupan kita setiap hari dalam pelbagai aspek kehidupan kita.

3. Menyampaikan Islam yang telah kita laksanakan itu kepada orang lain.

4. Bersabar di dalam menyampaikan Islam kepada orang lain.


Jadi ada 4 peringkat jihad didalam melawan hawa nafsu ini yang mana apabila kita memperlengkapkan keempat-empat peringkat jihad ini maka barulah sempurna proses jihad kita melawan hawanafsu ini. Ini bermakna di dalam hidup kita ini setiap masa berkehendakkan kepada jihad dan lebih-lebih lagilah apabila kita hendak melahirkan dan melaksanakan Islam. Jadi di mana kita memperkatakan Islam maka di situlah kena ada jihad tidak kiralah sama ada diperingkat individu ataupun diperingkat jamaah. Kita seorang-seorang memerlukan jihad apabila nak melaksanakan Islam dan kita bersama-sama dengan sahabat-sahabat ataupun jamaah juga memerlukan jihad untuk melaksanakan Islam.

Mujahadah itu sebenarnya mempunyai makna yang cukup luas. Kita datang ke sini merupakan satu bentuk mujahadah, kita mendekatkan diri kita kepada suasana yang soleh, mendekatkan diri kepada sumber-sumber tarbiah yang betul seperti Al-Qur'an Al-Karim dan Sunnah Rasulullah SAW serta buku-buku yang dikarang oleh ulama-'ulama' yang muktabar semua itu termasuk dalam mujahadah. Kita hadir dalam halaqat, dalam tamrin dan program-program yang kita rancang, itu juga dikira mujahadah. Kita pergi menziarahi sahabat-sahabat kita, kita pergi menziarahi sanak-saudara kita dalam rangka nak menyebarkan kefahaman Islam misalnya pun dikira sebagai mujahadah,mujahadah untuk kita mendapat hidayah/petunjuk daripada Allah SWT.

Kita mendampingi orang-orang yang tertentu yang boleh membawa kita ke jalan yang haq maka itu juga dikira sebagai mujahadah. Kita mengelakkan diri kita daripada gangguan-gangguan maksiat, menjauhkan diri kita, anak-isteri, keluarga dan sahabat-sahabat kita daripada suasana-suasana yang tidak Islam dan dorongan-dorongan hawanafsu yang menyesatkan semua itu juga termasuk dalam usaha kita bermujahadah. Jadi alangkah luasnya kerja-kerja mujahadah yang perlu kita lakukan dalam rangka untuk kita mendapat hidayah daripada Allah SWT. Jadi semua usaha dan kerja-kerja yang kita lakukan sekiranya dibuat dengan penuh keikhlasan kerana Allah SWT maka itulah yang merupakan titik tolak yang betul ke arah untuk kita mendapat hidayah daripada Allah SWT. Jadi sekiranya apa yang kita buat, niat kita lillahi taala maka itulah jalan yang akan menyampaikan kita kepada hidayah Allah dan seterusnya membawa kita kepada makam(kedudukan) al-muttaqin ataupun orang-orang yang bertaqwa.


Untuk menuju ke arah muttaqin, untuk sampai kepada kedudukan orang-orang yang bertaqwa ini, kita dapati banyak berlaku kesalahan-kesalahan. Kita dapati di sana orang-orang yang salah didalam memahami konsep mujahadah ini, mereka melakukan mujahadah dengan konsep mereka yang tersendiri. Maka dengan sebab itulah kita dapati ramai yang bermujahadah tetapi tidak sampai kepada natijah yang betul yakni tidak mendapat hidayah daripada Allah SWT dan tidak dapat menjadi orang-orang yang benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT. Mereka bermujahadah tetapi tidak mendapat hidayah dan taqwa. Jadi inilah yang betul-betul kita hendak jaga supaya jalan yang kita lalui itu betul-betul mendapat taufik ataupun persetujuan daripada Allah SWT. Dalam hendak memastikan kita bermujahadah ini dengan taufik/jalan yang dipersetujui oleh Allah SWT ini maka sebab itulah kita tidak memilih jalan yang lain melainkan jalan ataupun uslub yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dalam rangka kita bermujahadah ini dan juga dalam rangka kita nak kembali mengambil Islam. Jadi kita bermujahadah ikut uslub Rasulullah SAW dan kita mengambil Islam ini juga ikut uslub ataupun jalan sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.

Justeru itu tidaklah boleh kita membuat kesimpulan manakala kita hendak bermujahadah kita buat menurut cara kita sendiri ataupun tektik tersendiri tanpa melihat dan mengikuti uslub yang sebenarnya yakni uslub Rasulullah SAW. Kita tidak boleh buat ataupun fikir dengan cara kita sendiri di dalam bermujahadah ini. Dalam hal mengikuti jalan yang betul untuk bermujahadah ini telah berlaku kekeliruan di dalam kefahaman dan jalan-jalan yang hendak diambil akibat daripada kejahilan seseorang itu tentang konsep mujahadah yang sebenarnya. Kejahilan seseorang itu terhadap jalan mujahadah yang telah dilalui oleh baginda Rasulullah SAW itulah yang menyebabkan berlakunya kesalahan-kesalahan, ketidak-fahaman dan kekeliruan-keliruan di dalam melaksanakan mujahadah ini.

Di sini perlulah memahami betul-betul qadiah ataupun permasalahan mujahadah ini dan jalan-jalan yang perlu kita ikuti di dalam rangka untuk kita mendapatkan hidayah daripada Allah SWT dan menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT. Jadi sebagaimana yang kita jelaskan tadi sekirannya jalan yang kita ikuti dalam bermujahadah ini tidak betul, walaupun kita bersungguh-sungguh melakukan mujahadah ini, kita mencurahkan masa dan tenaga , wang ringgit dan harta benda yang banyak tetapi kejalan yang tidak betul maka semuanya itu akan menjadi sia-sia sahaja dan tidak akan mendapat taufik dan hidayah daripada Allah SWT. Kita tidak akan sampai kepada petunjuk dan taqwa yang sebenarnya.

Di dalam hal bermujahadah ini Ustadz Syed Hawwa menjelaskan," Kita mestilah bermula daripada noktah iman kepada Allah SWT dan bermula dengan noktah mentauhidkan/mengEsakan Allah SWT ". Mujahadah yang betul itu mestilah bermula dengan beriman kepada Allah dan beriman kepada prinsip-prinsip keimanan yang lain serta bermula dengan mentauhidkan dan mengEsakan Allah SWT. Mujahadah itu mestilah bertitik-tolak dengan beriman kepada Allah dan beriman kepada prinsip-prinsip keimanan yang lain seperti beriman kepada Muhammadur Rasulullah dan yang lain-lain lagi. Hakikat ini mestilah diterima secara disedari .Ianya tidak boleh dialpakan ataupun dilalaikan sebab mungkin sesaorang muslim yang lahir di dalam suasana Islam ataupun yang lahir ditengah-tengah masyarakat Islam maka dia tidak akan merasai bahawa perkara ini disuruh dan dituntut yakni supaya dia bermujahadah bermula dengan beriman kepada Allah SWT. Bila kita sudah ada biah solehah(suasana yang Islamik) maka mungkin boleh berlaku di mana seseorang muslim yang lahir di dalam biah yang seperti ini, dia tidak merasa perkara ini dituntut yakni supaya dia bermujahadah bermula dengan keimanan kepada Allah SWT. Jadi inilah satu kesilapan yang besar yang telah berlaku di dalam sejarah Islam. Kita dapati apabila wujudnya Daulah Islamiah dalam waktu yang agak panjang maka telah lahirlah umat Islam yakni generasi-generasi yang baru di dalam daulah tadi tetapi manakala tidak diingatkan kepada mereka tentang perlunya mereka bermujahadah bermula dengan beriman kepada Allah SWT dalam ertikata yang sebenarnya maka berlakulah berbagai-bagai masalah di dalam perkembangan dakwah Islam ini.

Inilah kesalahan yang telah berlaku di dalam masyarakat Islam beberapa masa yang lalu. Bila sudah banyak umat Islam, semua Islam, individu Islam, keluarga Islam, masyarakat Islam dan daulah Islam maka terlupa mereka kepada satu hakikat untuk mengajak generasi yang baru ini kepada merasai apa yang pernah dirasai oleh generasi yang awal yakni bermujahadah dengan titik tolak keimanan kepada Allah SWT dan mentauhidkan serta mengEsakan Allah SWT. Dalam realiti kita, kalau kita tidak ambil berat ataupun kita tak memperdulikan perkara ini maka itulah yang akan membawa kepincangan kepada perkembangan Jamaah Islamiah yang kita dukung ini.

Biah ataupun suasana yang ada pada hari ini yang diwujud dan dirancang kewujudannya oleh sistem yang ada pada hari ini lambat laun akan mempengaruhi umat Islam dan tidak dinafikan kemungkinan kita juga boleh lari meninggalkan suasana Islam ini kepada suasana yang lain meskipun di sana masih terdapat keperibadian Islam yang masih boleh diperlihatkan. Namun sekiranya umat ini larut di dalam kemewahan syaksiah Islamiah sehinggakan terlupa kepada hakikat untuk bermujahadah ataupun perlunya setiap individu itu mengislahkan dan berusaha untuk dia kembali bermujahadah bermula dengan keimanan kepada Allah SWT maka kemungkinan untuk dia larut di dalam suasana yang tidak Islamik itu boleh berlaku.

Al-Qaid pernah berkata, " Perkara ini kalau kita tak perkenalkan atau kita tidak tekankan betul-betul di dalam proses tarbiah kita kepada generasi yang baru ini maka itu merupakan satu kesalahan yang besar di dalam kerja-kerja amal Islami yang kita lakukan ". Kalau kita tidak kata MUJAHADAH MESTI BERMULA DENGAN KEIMANAN KEPADA ALLAH SWT ,walaupun kita lahirkan mereka ditengah-tengah masyarakat Islam, tetapi kita akan kehilangan mereka, mereka akan diambil oleh sistem yang ada pada hari ini.

Walaupun kita berusaha ke arah perkembangan jamaah kita, kita menyusun banyak perancangan yang baru di dalam hendak memperkuatkan lagi struktur perkembangan Jamaah Islam tetapi bagi sahabat-sahabat yang baru janganlah kita lupa untuk memperjelaskan kepada mereka bahawa mujahadah ini mestilah bermula dengan kita beriman kepada Allah SWT. Mesti bermula dengan kita mentauhidkan Allah SWT dan mengEsakan Allah SWT. Maknanya di sini, setiap masa, setiap peringkat , setiap perkembangan dan setiap suasana , bagi setiap individu dan jamaah ataupun sesiapa sahaja yang berhajatkan kepada Islam maka mujahadahnya mestilah bermula dengan keimanan kepada Allah SWT. Tidak kira waktu, tidak kira tempat ataupun suasana, apabila dia bermujahadah maka dia mestilah bermula dengan menyelesaikan permasalahan awal iaitu beriman dan mentauhidkan Allah SWT. Itulah jalan mujahadah yang sebenarnya.

Kita dapati apabila berlaku kesilapan di dalam memahami konsep mujahadah ini maka akan berlakulah kerja yang sia-sia yang mana kita nampak semacam tidak mendapat hidayah daripada Allah SWT.

Oleh itu dalam rangka bermujahadah ini kita juga mengharapkan agar kita dapat mencerminkan sifat ataupun keperibadian Islam yang sebenar. Kita ingin menunjukkan Syaksiah Islam yang sempurna. Maka untuk tujuan itulah kita kena pastikan bahawa mujahadah yang kita lakukan mestilah bermula/bertitik tolak daripada keimanan kepada Allah SWT.

Kita lihat di dalam sirah yakni dizaman Rasulullah SAW dan para sahabat telah berlaku satu perubahan dan peralihan yang sungguh besar di dalam masyarakat Islam ketika itu di mana telah lahir betul-betul di dalam masyakat dan juga generasi para sahabat ketika itu mereka-mereka yang benar-benar bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT. Proses mujahadah yang mereka lakukan benar-benar telah menampakkan perubahan dan peralihan yang menyeluruh yakni daripada kufur kepada Iman dan daripada jahiliah kepada Islam.

Setelah terlaksana proses mujahadah yang bermula dengan beriman dan mentauhidkan Allah SWT serta memperbetulkan aqidah kita maka selepas itu barulah akan sampai pula kepada marhalah ataupun peringkat mujahadah yang kedua iaitu mujahadah untuk melaksanakan tugas-tugas yang diwajibkan, mujahadah untuk melaksanakan kewajipan yang difardukan oleh Islam dan juga mujahadah untuk meninggalkan perkara-perkara yang ditegah oleh Islam. Manakala telah sempurna mujahadah yang pertama tadi yakni mujahadah untuk beriman dan mentauhidkan Allah SWT maka barulah dia sampai kepada peringkat yang kedua yakni menyempurnakan Islam yang minima mengerjakan semua yang wajib dan meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah SWT) di dalam semua aspek kehidupan kita setiap hari . Diperingkat ini barulah seseorang itu dapat melakukan ibadahnya dengan betul, dia mendirikan solat lima waktu dengan betul, berpuasa pada bulan ramadan dengan betul, memberi zakat, naik haji dan melaksanakan amal Islami (kerja-kerja Islam) yang betul dalam ertikata yang sebenarnya.

Jadi kita sebagai anggota-anggota di dalam jamaah Islamiah yang mengikuti tarbiah ini mestilah terlebih dahulu mengikatkan hati kita dengan keimanan kepada Allah SWT. Sekiranya hati ini tidak diikat dengan keimanan kepada Allah SWT terlebih dahulu maka mujahadah-mujahadah yang lain itu dia akan jadi satu tradisi sahaja. Solat jadi tradisi, puasa tradisi ataupun dalam realiti kita yang berulang-alik menghadiri program-program halaqat, tamrin dan sebagainya tetapi tidak jelas betul-betul pada kita tentang hakikat mujahadah yang pertama ini maka penglibatan kita itu juga akan menjadi tradisi sahaja. Tidak ada keberkesanan yang sebenarnya. Maka sebab itulah di dalam proses tarbiah ini kita nak bawa hati dan jiwa kita ini merasai betul-betul akan hakikat keimanan dan hakikat mentauhidkan Allah SWT. Kita hendak ikatkan hati kita ini dengan keimanan kepada Allah SWT dan bukannya hendak ikatkan dia kepada yang rutin. Kita tak mahu berlaku yang macam ini, misalnya dalam halaqat dia hadir, dalam tamrin dia hadir dan dalam aktiviti-aktiviti yang lain dia juga hadir tetapi tidak diikat betul-betul dengan keimanan kepada Allah SWT. Jadi kita nak dia hadir itu adalah dalam rangka untuk merasai hubungan dia dengan Allah SWT, hubungan hati dan ruh dia dengan pencipta dia yakni Allah SWT.

Apabila telah sampai keperingkat mujahadah yang kedua tadi, kita melaksanakan yang fardu dan meninggalkan yang haram dengan betul maka insyaAllah penigkatan diri kita akan menjadi suatu yang cukup soleh. Akan bertambah lagi hidayah Allah SWT kepada kita yang seterusnya akan meningkatkan dan menyempurnakan lagi ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Itulah diantara beberapa panduan mengenai jalan-jalan mujahadah yang perlu kita lalui dan kita nak ajak mereka-mereka yang lain, anak-isteri kita, keluarga kita, saudara-mara dan masyarakat semua melaluinya dalam rangka untuk menyempurnakan perhambaan kita kepada Allah SWT dan dalam rangka untuk kita menuju kepada taqwa dalam ertikata yang sebenarnya. Kuatnya kita (umat Islam) ini adalah kerana kuatnya taqwa yang ada pada setiap individu di dalam Jamaah Islamiah ini. Kekuatan taqwa ini hendaklah sentiasa kita jaga dengan proses mujahadah ini, proses di mana kita berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkan hidayah Allah SWT pada setiap masa, setiap suasana dan setiap ketika.

Tuesday, November 03, 2009


Islam telah menunjukkan kepada kita beberapa jalan yang boleh menyampaikan kita kepada taqwa dan salah satu diantara jalan-jalan tersebut ialah dengan kita bermujahadah. Berhubung dengan mujahadah ini Ustadz Syed Hawwa menjelaskan," Kita bermujahadah ini adalah untuk mendapatkan petunjuk daripada Allah SWT ". Oleh itu mujahadah ialah jalan untuk kita mendapat petunjuk daripada Allah SWT agar petunjuk itu masuk ke dalam hati kita. Jadi maknanya untuk mendapat dan memperoleh hidayah daripada Allah SWT maka perlu kepada mujahadah. Mujahadah juga merupakan jalan untuk kita menambahkan petunjuk. Setelah kita mendapat petunjuk kita hendak tingkatkan dan tambah lagi hidayah daripada Allah SWT iaitu dengan cara kita mempertingkat mujahadah.

Untuk melaksanakan mujahadah ini kita perlu mengikuti jalan yang betul. Sebab banyak orang yang berusaha dan bermujahadah tetapi tidak mendapat bimbingan dan hidayah daripada Allah SWT. Banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan bermati-matian bermujahadah tetapi tidak mendapat petunjuk daripada Allah SWT. Kerana apa? kerana jalannya tidak betul yakni tidak mengikut jalan yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.

Hidayah Allah SWT merupakan mukaddimah kepada taqwa. Apabila seseorang itu mendapat hidayah daripada Allah SWT hasil daripada bermujahadah maka hidayah ataupun petunjuk yang diperolehinya itu adalah merupakan mukaddimah kepada taqwa, mukaddimah untuk dia menjadi seorang yang muttaqin yakni yang bertaqwa kepada Allah SWT. Ini bermakna taqwa itu diperolehi hasil dari anugerah hidayah yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang bermujahadah. Taqwa bukan boleh kita buat-buat dalam jiwa kita tetapi dia mestilah dengan hidayah daripada Allah SWT. Ini bererti seseorang itu tidak boleh menjadi orang yang bertaqwa dengan akal fikirannya sendiri , dia nak berubah menjadi orang yang baik dengan menggunakan akal fikiran dia sendiri, tidak boleh, sebaliknya dia mestilah mendapat hidayah/petunjuk daripada Allah SWT dengan jalan bermujahadah sebagaimana yang disyariatkan oleh Allah SWT dan yang diajarkan oleh Islam kepada kita melalui Rasulullah SAW. Firman Allah SWT :

Terjemahannya:

"Dan orang-orang yang berjihaduntuk mencari keredhaan kami,benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang berbuat baik ".
( Surah al Ankabut : 69 )

Ini merupakan janji-janji Allah s.w.t kepada mereka yang bermujahadah, Allah s.w.t akan berikan kepada mereka hidayah. Sesungguhnya Allah s.w.t tidak pernah memungkiri janjinya. Sesungguhnya Allah benar-benar akan berserta dengan orang-orang yang berbuat baik.

Setelah mendapat hidayah daripada Allah SWT maka bermulalah kita menjadi seorang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Barulah kita menuju ke arah kehidupan orang-orang yang disebut sebagai Al-Muttaqin yakni yang bertaqwa kepada Allah SWT.Jika sekiranya kita tidak mendapat hidayah daripada Allah SWT maka ke arah menjadi orang-orang yang bertaqwa ini tidak akan wujud. Jadi kalau kita berusaha kuat mana sekalipun kalau tidak mendapat hidayah dari Allah SWT maka tidak akan ada mukaddimah, tidak akan ada permulaan ataupun titik tolak untuk kita menjadi seorang manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Oleh itu apabila kita bermujahadah ia akan menyampaikan kita kepada memperolehi hidayah daripada Allah SWT sementara hidayah yang kita perolehi itu pula akan menyampaikan kita kepada taqwa. Jadi itu hubungan di antara ketiga-tiga perkara, hubungan di antara mujahadah, hidayah, dan taqwa. Jadi mujahadah akan membawa kita kepada hidayah sementara hidayah pula akan membawa kita kepada taqwa. Jadi kalau kita tidak ikut jalan yang pertama ini yakni tidak bermujahadah maka tidak akan ada hidayah dan tidak ada taqwa dalam jiwa kita.

Satu perkara penting di dalam proses untuk kita bermujahadah dan mendapatkan hidayah daripada Allah SWT ialah uslub ataupun jalan-jalan yang kita lalui untuk bermujahadah itu mestilah mendapat taufik ataupun persetujuan daripada Allah SWT. Maknanya di sini, tidak semestinya orang yang bermujahadah itu akan mendapat hidayah daripada Allah SWT kerana ada orang yang bermujahadah tetapi dia tidak mendapat hidayah. Ini adalah kerana hikmah dan kebijaksanaan Allah SWT. Jadi kemungkinan ada berlaku kesilapan di dalam mujahadah seseorang itu ataupun dia bermujahadah tidak mengikut cara Rasulullah SAW bermujahadah, bagaimana Rasulullah SAW menunjukkan cara memperoses dan mengislah(memperbaiki) diri. Jadi dia bermujahdah tidak dengan taufik Allah SWT, tidak dengan persetujuan Allah SWT. Dia bermujahadah tanpa pertolongan dan hidayah daripada Allah SWT maka sebab itulah tidak melahirkan natijah yang sebenarnya.

Justeru itu di dalam langkah-langkah kita bermujahadah ke arah untuk mendapat hidayah dan taqwa daripada Allah SWT ini maka kita hendaklah memastikan terlebih dahulu bahawa jalan-jalan yang kita lalui di dalam bermujahadah ini mestilah terlebih dahulu mendapat taufik dan persetujuan daripada Allah SWT. Tidak boleh kita mereka-reka cara bermujahadah ini dengan akal fikiran ataupun dengan cara kita sendiri.

Titik-tolak yang betul untuk kita mendekatkan diri kepada Allah SWT ialah dengan bermujahadah. Kita berjihad dan berusaha. Sebab itulah ulama'-ulama' yang muktabar menggariskan bahawa jihad itu perlulah dijadikan sebagai matlamat hidup kita. Dalam hal matlamat hidup ini sekiranya kita baca Allah SWT berfirman;

Terjemahannya:

"Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka semua beribadah(mengabdikan diri) kepadaKu".
(Surah az Dzariyat : 56)


Walaupun istilah dia berbeza, matlamat kita ialah untuk beribadah kepada Allah, matlamat kita ialah untuk mengabdikan diri kepada Allah, matlamat kita ialah jihad untuk mencari keredhaan Allah tetapi disegi konsep/tasawwur ataupun perincian nya, dia akan menjurus kepada hakikat yang sama. Matlamat hidup kita sebagaimana yang telah digaris dan diperincikan oleh ulama'-ulama'yang muktabar ialah kita perlu menjadikan jihad itu sebagai tujuan kita diwujudkan. Kita diwujudkan adalah untuk berjihad menegakkan kalimah syahadah, menegakkan deen Allah SWT di atas muka bumi ini. Untuk itu sebelum kita berjihad hendaklah kita fahami jihad ini dengan betul kerana jihad ini ada bermacam-macam jenis dan ada tertibnya, yang mana perlu kita utamakan terlebih dahulu dan yang mana selepas itu. Jadi jihad ini ada jihad melawan hawa nafsu, melawan orang-orang kafir, melawan orang-orang munafik, orang-orang zalim dan sebagainya.

Jihad melawan hawanafsu merupakan jihad yang berterusan dan perlu diutamakan kerana hal ini telahpun dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagaimana sabdanya yang bermaksud :

" Seutama-utama jihad ialah orang yang berjihad terhadap hawanafsunya dalam mentaati Allah azzawajalla ".

Mujahadah (1)


Islam telah menunjukkan kepada kita beberapa jalan yang boleh menyampaikan kita kepada taqwa dan salah satu diantara jalan-jalan tersebut ialah dengan kita bermujahadah. Berhubung dengan mujahadah ini Ustadz Syed Hawwa menjelaskan," Kita bermujahadah ini adalah untuk mendapatkan petunjuk daripada Allah SWT ". Oleh itu mujahadah ialah jalan untuk kita mendapat petunjuk daripada Allah SWT agar petunjuk itu masuk ke dalam hati kita. Jadi maknanya untuk mendapat dan memperoleh hidayah daripada Allah SWT maka perlu kepada mujahadah. Mujahadah juga merupakan jalan untuk kita menambahkan petunjuk. Setelah kita mendapat petunjuk kita hendak tingkatkan dan tambah lagi hidayah daripada Allah SWT iaitu dengan cara kita mempertingkat mujahadah.

Untuk melaksanakan mujahadah ini kita perlu mengikuti jalan yang betul. Sebab banyak orang yang berusaha dan bermujahadah tetapi tidak mendapat bimbingan dan hidayah daripada Allah SWT. Banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan bermati-matian bermujahadah tetapi tidak mendapat petunjuk daripada Allah SWT. Kerana apa? kerana jalannya tidak betul yakni tidak mengikut jalan yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.

Hidayah Allah SWT merupakan mukaddimah kepada taqwa. Apabila seseorang itu mendapat hidayah daripada Allah SWT hasil daripada bermujahadah maka hidayah ataupun petunjuk yang diperolehinya itu adalah merupakan mukaddimah kepada taqwa, mukaddimah untuk dia menjadi seorang yang muttaqin yakni yang bertaqwa kepada Allah SWT. Ini bermakna taqwa itu diperolehi hasil dari anugerah hidayah yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang bermujahadah. Taqwa bukan boleh kita buat-buat dalam jiwa kita tetapi dia mestilah dengan hidayah daripada Allah SWT. Ini bererti seseorang itu tidak boleh menjadi orang yang bertaqwa dengan akal fikirannya sendiri , dia nak berubah menjadi orang yang baik dengan menggunakan akal fikiran dia sendiri, tidak boleh, sebaliknya dia mestilah mendapat hidayah/petunjuk daripada Allah SWT dengan jalan bermujahadah sebagaimana yang disyariatkan oleh Allah SWT dan yang diajarkan oleh Islam kepada kita melalui Rasulullah SAW. Firman Allah SWT :

Terjemahannya:

"Dan orang-orang yang berjihaduntuk mencari keredhaan kami,benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang berbuat baik ".
( Surah al Ankabut : 69 )

Ini merupakan janji-janji Allah s.w.t kepada mereka yang bermujahadah, Allah s.w.t akan berikan kepada mereka hidayah. Sesungguhnya Allah s.w.t tidak pernah memungkiri janjinya. Sesungguhnya Allah benar-benar akan berserta dengan orang-orang yang berbuat baik.

Setelah mendapat hidayah daripada Allah SWT maka bermulalah kita menjadi seorang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Barulah kita menuju ke arah kehidupan orang-orang yang disebut sebagai Al-Muttaqin yakni yang bertaqwa kepada Allah SWT.Jika sekiranya kita tidak mendapat hidayah daripada Allah SWT maka ke arah menjadi orang-orang yang bertaqwa ini tidak akan wujud. Jadi kalau kita berusaha kuat mana sekalipun kalau tidak mendapat hidayah dari Allah SWT maka tidak akan ada mukaddimah, tidak akan ada permulaan ataupun titik tolak untuk kita menjadi seorang manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Oleh itu apabila kita bermujahadah ia akan menyampaikan kita kepada memperolehi hidayah daripada Allah SWT sementara hidayah yang kita perolehi itu pula akan menyampaikan kita kepada taqwa. Jadi itu hubungan di antara ketiga-tiga perkara, hubungan di antara mujahadah, hidayah, dan taqwa. Jadi mujahadah akan membawa kita kepada hidayah sementara hidayah pula akan membawa kita kepada taqwa. Jadi kalau kita tidak ikut jalan yang pertama ini yakni tidak bermujahadah maka tidak akan ada hidayah dan tidak ada taqwa dalam jiwa kita.

Satu perkara penting di dalam proses untuk kita bermujahadah dan mendapatkan hidayah daripada Allah SWT ialah uslub ataupun jalan-jalan yang kita lalui untuk bermujahadah itu mestilah mendapat taufik ataupun persetujuan daripada Allah SWT. Maknanya di sini, tidak semestinya orang yang bermujahadah itu akan mendapat hidayah daripada Allah SWT kerana ada orang yang bermujahadah tetapi dia tidak mendapat hidayah. Ini adalah kerana hikmah dan kebijaksanaan Allah SWT. Jadi kemungkinan ada berlaku kesilapan di dalam mujahadah seseorang itu ataupun dia bermujahadah tidak mengikut cara Rasulullah SAW bermujahadah, bagaimana Rasulullah SAW menunjukkan cara memperoses dan mengislah(memperbaiki) diri. Jadi dia bermujahdah tidak dengan taufik Allah SWT, tidak dengan persetujuan Allah SWT. Dia bermujahadah tanpa pertolongan dan hidayah daripada Allah SWT maka sebab itulah tidak melahirkan natijah yang sebenarnya.

Justeru itu di dalam langkah-langkah kita bermujahadah ke arah untuk mendapat hidayah dan taqwa daripada Allah SWT ini maka kita hendaklah memastikan terlebih dahulu bahawa jalan-jalan yang kita lalui di dalam bermujahadah ini mestilah terlebih dahulu mendapat taufik dan persetujuan daripada Allah SWT. Tidak boleh kita mereka-reka cara bermujahadah ini dengan akal fikiran ataupun dengan cara kita sendiri.

Titik-tolak yang betul untuk kita mendekatkan diri kepada Allah SWT ialah dengan bermujahadah. Kita berjihad dan berusaha. Sebab itulah ulama'-ulama' yang muktabar menggariskan bahawa jihad itu perlulah dijadikan sebagai matlamat hidup kita. Dalam hal matlamat hidup ini sekiranya kita baca Allah SWT berfirman;

Terjemahannya:

"Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka semua beribadah(mengabdikan diri) kepadaKu".
(Surah az Dzariyat : 56)


Walaupun istilah dia berbeza, matlamat kita ialah untuk beribadah kepada Allah, matlamat kita ialah untuk mengabdikan diri kepada Allah, matlamat kita ialah jihad untuk mencari keredhaan Allah tetapi disegi konsep/tasawwur ataupun perincian nya, dia akan menjurus kepada hakikat yang sama. Matlamat hidup kita sebagaimana yang telah digaris dan diperincikan oleh ulama'-ulama'yang muktabar ialah kita perlu menjadikan jihad itu sebagai tujuan kita diwujudkan. Kita diwujudkan adalah untuk berjihad menegakkan kalimah syahadah, menegakkan deen Allah SWT di atas muka bumi ini. Untuk itu sebelum kita berjihad hendaklah kita fahami jihad ini dengan betul kerana jihad ini ada bermacam-macam jenis dan ada tertibnya, yang mana perlu kita utamakan terlebih dahulu dan yang mana selepas itu. Jadi jihad ini ada jihad melawan hawa nafsu, melawan orang-orang kafir, melawan orang-orang munafik, orang-orang zalim dan sebagainya.

Jihad melawan hawanafsu merupakan jihad yang berterusan dan perlu diutamakan kerana hal ini telahpun dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagaimana sabdanya yang bermaksud :

" Seutama-utama jihad ialah orang yang berjihad terhadap hawanafsunya dalam mentaati Allah azzawajalla ".

Tuesday, October 27, 2009


Semua kita membicarakan perubahan. Samada individu, organisasi, pertubuhan, kelab, persatuan, institusi, syarikat, parti politik mahupun negara. Sudah tentulah perubahan yang diingini adalah perubahan yang positif, perubahan yang membawa kepada kebaikan dan kejayaan.

Untuk melakukan perubahan memerlukan anjakan paradigma. Paradigma adalah dari perkataan Greek ‘paradeigma’, yang membawa maksud model, bentuk atau contoh. Maksud paradigma boleh diperjelaskan dengan kaedah kita melihat sesuatu situasi atau keadaan berasaskan kepada andaian umum, dan bagaimana kita boleh berjaya dalam lingkungan atau batasan yang ditetapkan.Anjakan paradigma menjuruskan kepada perpindahan dari satu situasi kepada situasi yang baru, yang melibatkan perubahan yang lebih positif.

Penulis bukanlah mahu membicarakan istilah anjakan paradigma kerana ianya telah banyak dibahaskan dan telah banyak teori-teori anjakan paradigma yang diperkenalkan. Sebaliknya penulis berhajat untuk mengajak para pencinta dakwah menelusuri sirah nabawiyah dalam melakukan anjakan paradigma yang hebat dan luarbiasa sehingga hari ini kita merasai akan nikmat kehidupan sebagai muslim.

Penulis mengajak para pembaca mengimbau kembali kepada peristiwa di tengah bukit Shafa, ketika Rasulullah saw. untuk pertama kali dalam sejarah dakwah berkumpul bersama beberapa orang pilihan yang terdiri dari pelbagai lapisan usia dan berasal dari pelbagai tempat. Di antara mereka ada yang masih anak-anak, ada yang tua, ada yang muda, ada yang kaya, ada yang miskin, ada tokoh terkenal, ada orang yang tidak terkenal, ada cerdik pandai dan terdidik, ada yang ummi dan buta huruf, ada yang berstatus hamba dan ada yang berstatus sebagai orang merdeka. Secara keseluruhan jumlah mereka boleh dihitung dengan jari dan tidak lebih dari seratus orang. Baginda saw. berkumpul bersama orang-orang pilihan ini di tengah-tengah bukit Shafa, menyirami mereka dengan semangat spiritual baginda, mentarbiah mereka membaca kitab Allah yang agung, dan melantunkan ayat-ayat Allah. Dan ketahuilah, dari mereka itulah baginda melakukan anjakan paradigma membangun umat yang baru, dengan dakwah baru dan untuk dunia baru.

Persoalannya, tidak inginkah kita berada dalam kelompok di atas yang sedia melakukan anjakan paradigma yang hebat dan luarbiasa melalui pimpinan Rasulullah saw. sehingga berjaya menggegarkan dunia ini dengan kalimah tauhid? Tidak mungkinkah generasi mendidik dan berbakti yang ada ini menjadi penyambung dari kelompok terdahulu itu? Tidak mungkinkah Anda menyampaikan dakwah baru untuk membentuk sebuah kelompok baru yang menjadi batu asas bagi berdirinya sebuah dunia baru?
Rasulullah saw. bersabda:

”Akan tetap ada sekelompok umatku yang muncul di atas kebenaran, yang tidak akan menjumpai bahaya dari siapa pun yang memusuhi mereka.” (Muslim)

Perhimpunan Bukit Shafa, benar-benar memberi anjakan baru kepada penulis. Mereka bersatu di sekeliling Nabi saw. Apa yang dicita-citakannya? Apa yang difikirkannya? Apa yang diinginkannya? Sampai sejauh manakah cita-cita kelompok yang mengadakan pertemuan dan pembicaraan secara sembunyi-sembunyi ini? Apakah yang diinginkan oleh orang-orang itu?

Mereka ingin menanamkan paradigma baru dalam pemikiran masyarakat, menegakkan dunia baru di muka bumi ini, dan menyusun bangunan baru dari struktur masyarakat, serta menyambung hubungan antara langit dan bumi.

Kelompok kecil yang terpisah dari masyarakat ini ingin membentangkan sistem kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan yang baru kepada umat manusia, dengan izin Allah. Tidak lama kemudian kelompok ini berhasil memancangkan panji-panji Allah di bumi, menyatukan hati manusia pada Tuhan manusia, menumbuhkan perasaan baru dalam hati, meletakkan kitab baru di hadapan umat manusia, dan menciptakan generasi teladan di tengah-tengah manusia, yang berhak mendapatkan sifat dan Allah swt.

“Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran: 110)

Apakah kunci kekuatan sehingga mereka mampu melakukan anjakan paradigma yang hebat dan luarbiasa ini? As Syahid Iman Hasan Al Banna menjelaskan, terdapat 3 faktor utama yang menjadi landasan tertegaknya dakwah tersebut dalam jiwa kelompok generasi awal di perhimpunan Bukit Shafa. Seandainya ketiga faktor itu berhasil dibina di dalam diri dan organisasi kita sebagaimana yang telah terwujud dalam diri mereka, niscaya kita akan dibawa melangkah di jalan kemuliaan dan kemenangan, sebagaimana yang telah terjadi pada mereka.

Pertama adalah unsur keimanan yang sempurna.

Keimanan inilah yang membersihkan mereka dari keinginan apa pun selain dakwah. Mereka telah mendengarkan seruan:

“Maka segeralah kembali kepada Allah.” (Adz-Dzariyat: 50)

Mereka menjadikan La ilaha Illallah sebagai slogan, pada saat yang sama mencampakkan slogan selainnya. Orang-orang musyrik berada dalam kesesatan, kerana mereka mempertuhan selain Allah. Orang-orang Parsi berada dalam kesesatan kerana mereka mengabdi kepada nafsu dan syahwat. Ahli Kitab berada dalam kesesatan kerana mereka menjadikan para pendeta dan orang-orang alim mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Bumi ini secara keseluruhan berputar di atas jalur kesesatan, kerana tidak mendapatkan petunjuk dan tidak mengambil cahaya dari Allah. Sedangkan mereka berada di atas kebenaran yang nyata kerana mereka telah menghindari penyembahan kepada berhala dan hawa nafsu serta menyerahkan seluruh pengabdian kepada Allah. Mereka tidak beribadah kecuali kepada Allah, tidak patuh kecuali kepada Allah, tidak bergantung kecuali kepada Allah, tidak memohon kecuali kepada Allah, dan tidak merasakan kebahagiaan kecuali kerana berdekatan dengan Allah. Mereka tidak merasa menderita kecuali oleh dosa yang menjauhkan dari Allah.

Mereka tahu bahawa bumi ini milik Allah yang diwariskan kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dan bahawa kesudahan yang baik akan diperoleh orang-orang yang bertaqwa. Kehidupan mereka telah diwarnai dengan sibghah (celupan) Allah.

“Sibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik sibghah-njz daripada Allah?” (Al-Baqarah: 138)

Kedua, unsur cinta, kesatuan hati, dan keterpautan jiwa.

Faktor apalagi yang mampu menjadikan mereka berselisih? Apakah mereka akan berselisih gara-gara kenikmatan dunia yang fana ataukah kerana perbezaan gaji, tugas, dan status, sedangkan mereka mengetahui bahawa,

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (Al-Hujurat: 13)

Jadi tidak ada faktor-faktor yang mengakibatkan mereka terpecah belah. Mereka bersatu dan bersaudara, yang satu tidak menghinakan yang lain, tetapi masing-masing mencintai saudaranya dengan sepenuh kecintaan, kecintaan yang mencapai tingkatan itsar (mengutamakan orang lain).

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Al-Hasyr: 9)

Mereka juga senantiasa menghayati firman Allah:

“Katakanlah, ‘Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khuatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan- Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah: 24)

Ketiga, adalah unsur keikhlasan dan pengorbanan.

Mereka telah faham semua ini, sehingga rela memberikan apa saja untuk Allah, hatta sehingga ada di antara mereka yang merasa keberatan mengambil ghanimah yang telah dihalalkan oleh Allah untuk mereka.

“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kalian ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik.” (Al-Anfal: 69)

Terhadap hal ini pun mereka merasa keberatan dan menghindari. Mereka meninggalkannya kerana mengharapkan pahala dari Allah swt. agar amal mereka tidak dikotori oleh cita-cita peribadi. Mereka melaksanakan visi dan misi dakwah dengan keikhlasan dan pengorbanan. Tidak mengharap sebarang ganjaran dunia.

Mereka sedia berkorban dalam memastikan risalah ini terus membumi sehingga berjaya mengubah aqidah umat. Anjakan paradigma mereka jelas, sehingga memberi momentum kepada perkembangan dakwah Islamiyyah.

Anjakan paradigma mereka amat kukuh. Bermula dari jiwa yang dibersihkan dengan aqidah yang benar, sehingga mereka meraih tingkatan iman yang tinggi dengan ma’rifatullah. Kemudian anjakan kesatuan hati, dari berpecah kepada ukhwah, cinta dan berkasih sayang sehingga mereka menyatu. Kemudian keikhlasan dan pengorbanan yang mendorong mereka untuk memberikan jiwa dan harta dalam rangka menggapai redha Allah, yang menyebabkan mereka tampil dalam profil seperti ini.

Faktor-faktor inilah yang telah mengeluarkan sekelompok manusia tersebut dari kehinaan kepada kemuliaan, dari perpecahan kepada kesatuan, dan dari kebodohan kepada ilmu. Mereka adalah pemberi petunjuk KPI kepada kita semua dalam menjayakan misi mendidik dan berbakti di medan dakwah yang mencabar ini.

Anjakan Paradigma Dari Kisah Di Bukit Shafa


Semua kita membicarakan perubahan. Samada individu, organisasi, pertubuhan, kelab, persatuan, institusi, syarikat, parti politik mahupun negara. Sudah tentulah perubahan yang diingini adalah perubahan yang positif, perubahan yang membawa kepada kebaikan dan kejayaan.

Untuk melakukan perubahan memerlukan anjakan paradigma. Paradigma adalah dari perkataan Greek ‘paradeigma’, yang membawa maksud model, bentuk atau contoh. Maksud paradigma boleh diperjelaskan dengan kaedah kita melihat sesuatu situasi atau keadaan berasaskan kepada andaian umum, dan bagaimana kita boleh berjaya dalam lingkungan atau batasan yang ditetapkan.Anjakan paradigma menjuruskan kepada perpindahan dari satu situasi kepada situasi yang baru, yang melibatkan perubahan yang lebih positif.

Penulis bukanlah mahu membicarakan istilah anjakan paradigma kerana ianya telah banyak dibahaskan dan telah banyak teori-teori anjakan paradigma yang diperkenalkan. Sebaliknya penulis berhajat untuk mengajak para pencinta dakwah menelusuri sirah nabawiyah dalam melakukan anjakan paradigma yang hebat dan luarbiasa sehingga hari ini kita merasai akan nikmat kehidupan sebagai muslim.

Penulis mengajak para pembaca mengimbau kembali kepada peristiwa di tengah bukit Shafa, ketika Rasulullah saw. untuk pertama kali dalam sejarah dakwah berkumpul bersama beberapa orang pilihan yang terdiri dari pelbagai lapisan usia dan berasal dari pelbagai tempat. Di antara mereka ada yang masih anak-anak, ada yang tua, ada yang muda, ada yang kaya, ada yang miskin, ada tokoh terkenal, ada orang yang tidak terkenal, ada cerdik pandai dan terdidik, ada yang ummi dan buta huruf, ada yang berstatus hamba dan ada yang berstatus sebagai orang merdeka. Secara keseluruhan jumlah mereka boleh dihitung dengan jari dan tidak lebih dari seratus orang. Baginda saw. berkumpul bersama orang-orang pilihan ini di tengah-tengah bukit Shafa, menyirami mereka dengan semangat spiritual baginda, mentarbiah mereka membaca kitab Allah yang agung, dan melantunkan ayat-ayat Allah. Dan ketahuilah, dari mereka itulah baginda melakukan anjakan paradigma membangun umat yang baru, dengan dakwah baru dan untuk dunia baru.

Persoalannya, tidak inginkah kita berada dalam kelompok di atas yang sedia melakukan anjakan paradigma yang hebat dan luarbiasa melalui pimpinan Rasulullah saw. sehingga berjaya menggegarkan dunia ini dengan kalimah tauhid? Tidak mungkinkah generasi mendidik dan berbakti yang ada ini menjadi penyambung dari kelompok terdahulu itu? Tidak mungkinkah Anda menyampaikan dakwah baru untuk membentuk sebuah kelompok baru yang menjadi batu asas bagi berdirinya sebuah dunia baru?
Rasulullah saw. bersabda:

”Akan tetap ada sekelompok umatku yang muncul di atas kebenaran, yang tidak akan menjumpai bahaya dari siapa pun yang memusuhi mereka.” (Muslim)

Perhimpunan Bukit Shafa, benar-benar memberi anjakan baru kepada penulis. Mereka bersatu di sekeliling Nabi saw. Apa yang dicita-citakannya? Apa yang difikirkannya? Apa yang diinginkannya? Sampai sejauh manakah cita-cita kelompok yang mengadakan pertemuan dan pembicaraan secara sembunyi-sembunyi ini? Apakah yang diinginkan oleh orang-orang itu?

Mereka ingin menanamkan paradigma baru dalam pemikiran masyarakat, menegakkan dunia baru di muka bumi ini, dan menyusun bangunan baru dari struktur masyarakat, serta menyambung hubungan antara langit dan bumi.

Kelompok kecil yang terpisah dari masyarakat ini ingin membentangkan sistem kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan yang baru kepada umat manusia, dengan izin Allah. Tidak lama kemudian kelompok ini berhasil memancangkan panji-panji Allah di bumi, menyatukan hati manusia pada Tuhan manusia, menumbuhkan perasaan baru dalam hati, meletakkan kitab baru di hadapan umat manusia, dan menciptakan generasi teladan di tengah-tengah manusia, yang berhak mendapatkan sifat dan Allah swt.

“Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran: 110)

Apakah kunci kekuatan sehingga mereka mampu melakukan anjakan paradigma yang hebat dan luarbiasa ini? As Syahid Iman Hasan Al Banna menjelaskan, terdapat 3 faktor utama yang menjadi landasan tertegaknya dakwah tersebut dalam jiwa kelompok generasi awal di perhimpunan Bukit Shafa. Seandainya ketiga faktor itu berhasil dibina di dalam diri dan organisasi kita sebagaimana yang telah terwujud dalam diri mereka, niscaya kita akan dibawa melangkah di jalan kemuliaan dan kemenangan, sebagaimana yang telah terjadi pada mereka.

Pertama adalah unsur keimanan yang sempurna.

Keimanan inilah yang membersihkan mereka dari keinginan apa pun selain dakwah. Mereka telah mendengarkan seruan:

“Maka segeralah kembali kepada Allah.” (Adz-Dzariyat: 50)

Mereka menjadikan La ilaha Illallah sebagai slogan, pada saat yang sama mencampakkan slogan selainnya. Orang-orang musyrik berada dalam kesesatan, kerana mereka mempertuhan selain Allah. Orang-orang Parsi berada dalam kesesatan kerana mereka mengabdi kepada nafsu dan syahwat. Ahli Kitab berada dalam kesesatan kerana mereka menjadikan para pendeta dan orang-orang alim mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Bumi ini secara keseluruhan berputar di atas jalur kesesatan, kerana tidak mendapatkan petunjuk dan tidak mengambil cahaya dari Allah. Sedangkan mereka berada di atas kebenaran yang nyata kerana mereka telah menghindari penyembahan kepada berhala dan hawa nafsu serta menyerahkan seluruh pengabdian kepada Allah. Mereka tidak beribadah kecuali kepada Allah, tidak patuh kecuali kepada Allah, tidak bergantung kecuali kepada Allah, tidak memohon kecuali kepada Allah, dan tidak merasakan kebahagiaan kecuali kerana berdekatan dengan Allah. Mereka tidak merasa menderita kecuali oleh dosa yang menjauhkan dari Allah.

Mereka tahu bahawa bumi ini milik Allah yang diwariskan kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dan bahawa kesudahan yang baik akan diperoleh orang-orang yang bertaqwa. Kehidupan mereka telah diwarnai dengan sibghah (celupan) Allah.

“Sibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik sibghah-njz daripada Allah?” (Al-Baqarah: 138)

Kedua, unsur cinta, kesatuan hati, dan keterpautan jiwa.

Faktor apalagi yang mampu menjadikan mereka berselisih? Apakah mereka akan berselisih gara-gara kenikmatan dunia yang fana ataukah kerana perbezaan gaji, tugas, dan status, sedangkan mereka mengetahui bahawa,

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (Al-Hujurat: 13)

Jadi tidak ada faktor-faktor yang mengakibatkan mereka terpecah belah. Mereka bersatu dan bersaudara, yang satu tidak menghinakan yang lain, tetapi masing-masing mencintai saudaranya dengan sepenuh kecintaan, kecintaan yang mencapai tingkatan itsar (mengutamakan orang lain).

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Al-Hasyr: 9)

Mereka juga senantiasa menghayati firman Allah:

“Katakanlah, ‘Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khuatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan- Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah: 24)

Ketiga, adalah unsur keikhlasan dan pengorbanan.

Mereka telah faham semua ini, sehingga rela memberikan apa saja untuk Allah, hatta sehingga ada di antara mereka yang merasa keberatan mengambil ghanimah yang telah dihalalkan oleh Allah untuk mereka.

“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kalian ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik.” (Al-Anfal: 69)

Terhadap hal ini pun mereka merasa keberatan dan menghindari. Mereka meninggalkannya kerana mengharapkan pahala dari Allah swt. agar amal mereka tidak dikotori oleh cita-cita peribadi. Mereka melaksanakan visi dan misi dakwah dengan keikhlasan dan pengorbanan. Tidak mengharap sebarang ganjaran dunia.

Mereka sedia berkorban dalam memastikan risalah ini terus membumi sehingga berjaya mengubah aqidah umat. Anjakan paradigma mereka jelas, sehingga memberi momentum kepada perkembangan dakwah Islamiyyah.

Anjakan paradigma mereka amat kukuh. Bermula dari jiwa yang dibersihkan dengan aqidah yang benar, sehingga mereka meraih tingkatan iman yang tinggi dengan ma’rifatullah. Kemudian anjakan kesatuan hati, dari berpecah kepada ukhwah, cinta dan berkasih sayang sehingga mereka menyatu. Kemudian keikhlasan dan pengorbanan yang mendorong mereka untuk memberikan jiwa dan harta dalam rangka menggapai redha Allah, yang menyebabkan mereka tampil dalam profil seperti ini.

Faktor-faktor inilah yang telah mengeluarkan sekelompok manusia tersebut dari kehinaan kepada kemuliaan, dari perpecahan kepada kesatuan, dan dari kebodohan kepada ilmu. Mereka adalah pemberi petunjuk KPI kepada kita semua dalam menjayakan misi mendidik dan berbakti di medan dakwah yang mencabar ini.

Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

There was an error in this gadget

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah