Monday, January 31, 2011


Siapa berani berbuat dosa? Siapa pernah berbuat dosa? Jika kita banyak berbuat dosa, sekerap dan sebanyak mana pula penyesalan kita atas dosa dan kesilapan kita? Sekuat mana taubat kita kepada Allah SWT.?

Yakinkah kita betapa setiap perbuatan pasti terakam dengan rapi di sisi Allah SWT? Sehinggakan dosa-dosa kecil pun tercatat dalam dokumentasi yang tidak akan hilang.

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. (Az-Zalzalah: 7-8)

Kita sering menelaah kisah Rasulullah SAW, para sahabat RA dan para soleh terdahulu yang sangat menyesali kesalahannya, dan bersegera bertaubat kepada Allah SWT ada yang hanya kerana tertidur sehingga tidak sempat untuk solat malam, atau tidak sempat solat Subuh berjamaah di masjid, dan pelbagai kisah teladan mereka.

Mereka begitu sensitif dengan dosa-dosa mereka, walaupun ianya dosa kecil. Sikap mereka segera menyesali perbuatan tersebut saat di dunia sebelum dibangkitkan di akhirat patut menjadi inspirasi buat kita semua yang lebih banyak lagi melakukan dosa setiap saat.

Namun ada kelompok yang enggan menyesali dosa-dosanya di dunia kerana keangkuhan dan kesombongannya. Lalu Allah SWT rakamkan wajah suram dan penuh penyesalan mereka saat dibangkitkan di padang masyhar kelak:

“Dan (sungguh ngeri) jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal soleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (as Sajadah: 12)

Beruntunglah kita kerana Allah SWT telah mengkhabarkan lebih awal kisah benar sikap sombong dan angkuh manusia saat di dunia. Ianya menjadi peringatan kepada kita bersama. Betapa kasih dan sayangnya Allah SWT kepada kita kerana memperingatkan kita akan sikap manusia yang tidak ambil kisah urusannya terhadap sang penciptanya.

Sesungguhnya tidak ada gunanya penyesalan di akhirat. Di sana (akhirat) bukanlah tempat untuk menyesali, melainkan tempat menerima balasan. Balasan atas segala amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Dalam banyak ayat Alquran, Allah SWT sering menceritakan penyesalan orang-orang kafir.

''Dan mereka berkata: 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala'.''(Al-Mulk: 10).

Bersyukurlah kita yang masih hidup ini,bayangkan jika kita telah meninggalkan dunia ini dalam keadaan lalai bertaubat dan memohon keampunan kepada Allah SWT. Marilah kita yang masih di dunia ini segera memperbaharui keimanan kita kepada Allah SWT, segeralah bertaubat, berbuat kebajikan, segera menyambut seruan azan, menutup aurat, dan seluruh perkara yang diperintah Allah ke atas kita.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat” (Huud : 3)

Semoga kita tidak termasuk orang yang menyesal di hari kemudian kelak.

*Tulisan ini khusus ditujukan kepada diri penulis sendiri.

Menyesali Sebelum Terlambat


Siapa berani berbuat dosa? Siapa pernah berbuat dosa? Jika kita banyak berbuat dosa, sekerap dan sebanyak mana pula penyesalan kita atas dosa dan kesilapan kita? Sekuat mana taubat kita kepada Allah SWT.?

Yakinkah kita betapa setiap perbuatan pasti terakam dengan rapi di sisi Allah SWT? Sehinggakan dosa-dosa kecil pun tercatat dalam dokumentasi yang tidak akan hilang.

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. (Az-Zalzalah: 7-8)

Kita sering menelaah kisah Rasulullah SAW, para sahabat RA dan para soleh terdahulu yang sangat menyesali kesalahannya, dan bersegera bertaubat kepada Allah SWT ada yang hanya kerana tertidur sehingga tidak sempat untuk solat malam, atau tidak sempat solat Subuh berjamaah di masjid, dan pelbagai kisah teladan mereka.

Mereka begitu sensitif dengan dosa-dosa mereka, walaupun ianya dosa kecil. Sikap mereka segera menyesali perbuatan tersebut saat di dunia sebelum dibangkitkan di akhirat patut menjadi inspirasi buat kita semua yang lebih banyak lagi melakukan dosa setiap saat.

Namun ada kelompok yang enggan menyesali dosa-dosanya di dunia kerana keangkuhan dan kesombongannya. Lalu Allah SWT rakamkan wajah suram dan penuh penyesalan mereka saat dibangkitkan di padang masyhar kelak:

“Dan (sungguh ngeri) jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal soleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (as Sajadah: 12)

Beruntunglah kita kerana Allah SWT telah mengkhabarkan lebih awal kisah benar sikap sombong dan angkuh manusia saat di dunia. Ianya menjadi peringatan kepada kita bersama. Betapa kasih dan sayangnya Allah SWT kepada kita kerana memperingatkan kita akan sikap manusia yang tidak ambil kisah urusannya terhadap sang penciptanya.

Sesungguhnya tidak ada gunanya penyesalan di akhirat. Di sana (akhirat) bukanlah tempat untuk menyesali, melainkan tempat menerima balasan. Balasan atas segala amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Dalam banyak ayat Alquran, Allah SWT sering menceritakan penyesalan orang-orang kafir.

''Dan mereka berkata: 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala'.''(Al-Mulk: 10).

Bersyukurlah kita yang masih hidup ini,bayangkan jika kita telah meninggalkan dunia ini dalam keadaan lalai bertaubat dan memohon keampunan kepada Allah SWT. Marilah kita yang masih di dunia ini segera memperbaharui keimanan kita kepada Allah SWT, segeralah bertaubat, berbuat kebajikan, segera menyambut seruan azan, menutup aurat, dan seluruh perkara yang diperintah Allah ke atas kita.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat” (Huud : 3)

Semoga kita tidak termasuk orang yang menyesal di hari kemudian kelak.

*Tulisan ini khusus ditujukan kepada diri penulis sendiri.

Kehidupan hari ini sangat mencabar keimanan kita. Kita hampir dikelilingi dengan perkara-perkara syubhat dan membangkitkan nafsu syahwat. Ditambah lagi dengan kemungkaran fitnah, tersebar luasnya kemungkaran, beraneka ragamnya penyimpangan-penyimpangan dalam memahami kehidupan, semakin mencengkamnya musuh dan semakin beratnya ujian dan cubaan ke atas umat Islam.

Permasalahan dan cabaran di atas benar-benar akan menguji kedinamikan iman kita. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Sesungguhnya iman itu benar-benar mengalami kelesuan di dalam rongga (dada) salah seorang dari kamu seperti lusuhnya baju. Mintalah kepada Allah SWT agar Allah memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu”. (HR Thabrani)


Rajulun Tsabtun

Justeru kita perlu melayakkan diri kita menjadi rajulun tsabtun, lelaki (termasuk juga wanita) yang thabat (tetap), teguh dan stabil keimanannya menghadapi persoalan-persoalan di atas. Tsabat menurut Dr. Muhammad bin Hasan adalah istiqamah atas petunjuk, memegang teguh ketaqwaan, mengendalikan diri untuk menyusuri jalan kebenaran dan kebaikan, tidak berpaling ke kanan atau ke kiri mengikuti hawa nafsu dan kehendak syaitan, serta segera kembali bertaubat di saat dosa menyelaputi hati dan jiwa mula beransur dikuasai dunia yang melekakan.

Nabi Ibrahim AS pernah berpesan kepada putera puterinya:

“ Dan Nabi Ibrahim pun berwasiat dengan agama itu kepada anak-anaknya, dan (demikian juga) Nabi Yaakub (berwasiat kepada anak-anaknya) katanya: “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama (Islam) ini menjadi ikutan kamu, maka janganlah kamu mati melainkan kamu dalam keadaan Islam”. (Al-Baqarah:132)

Benar sekali! Kita perlu mempertahankan keaslian keislaman kita, jangan sampai Islam kita dikotori dan bercampur aduk dengan perisa-perisa Islam palsu yang kini melambak dipasaran. Akibatnya pemuda pemudi kita hanya islam pada namanya sahaja sedangkan jalan kehidupannya berkiblatkan cara hidup taghut dan logika pemikiran.

Berpegang teguh kepada Islam apabila menghadapi ujian dan mehnah merupakan salah satu syarat untuk berjaya dalam menegakkan Islam. Keteguhan yang berterusan bukanlah sesuatu yang mudah untuk diperolehi. Ia perlu melalui pendidikan (tarbiyah) hari demi hari tanpa rasa jemu. Pendidikan bersumberkan al-Quran dan as-Sunnah, sirah para sahabat dan perjuangan ulamak-ulamak muktabar.

Iman & Taqwa Kunci Tsabat

Ayuh kita thabat dengan Al Quran dan as-Sunnah, insyaAllah kita akan diberikan kekuatan dan petunjuk oleh Allah SWT untuk tetap istiqamah dengan Islam. Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, nescaya Allah memberikan dua bahagian daripada rahmat-Nya kepadamu, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Hadid:28)

Firman Allah SWT lagi:

“Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allah, nescaya Dia akan memberikan kepadamu ‘furqan’* dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar.” (al-Anfal:29)

Firman Allah SWT lagi:

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (ath-Talaq:2-3)

Dari tiga ayat di atas, ternyata kunci thabat adalah ketinggian taqwa kita kepada Allah SWT.

Orang yang bertaqwa akan selalu mendapatkan jalan keluar yang mententeramkan batinnya walau bagaimana besar dan rumitnya permasalahan dan cabaran yang sedang dihadapi.

Ketika menafsirkan firman Allah Subha Nahu Wa Ta’ala ini, Sayyid Qutb berkata;

“Inilah bekal tersebut dan persiapan perjalanan… bekal ketaqwaan yang sentiasa menggugah hati dan membuatnya selalu peka, waspada, hati-hati serta selalu di dalam konsentrasi penuh… bekal cahaya yang menerangi liku-liku perjalanan sepanjang mata memandang. Orang bertaqwa tidak akan tertipu oleh bayangan yang menghalangi pandangannya yang jelas dan benar… itulah bekal penghapus segala kesalahan, bekal yang menjanjikan kedamaian dan ketenteraman, bekal yang membawa harapan atas kurnia Allah SWT; di saat bekal-bekal lain sudah sirna dan semua amal tidak lagi berguna…

Kata Sayyid Qutb lagi;

“Taqwa adalah kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus kepada Allah, selalu waspada dan hati-hati agar tidak sampai kena duri jalanan… Jalan kehidupan yang bertaburan duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhuatiran dan keraguan, harapan atas segala sesuatu yang tidak dapat diperolehi. Ketakutan palsu daripada sesuatu yang tidak layak ditakuti.. dan banyak duri-duri lainnya.”

Tsabat Pakaian Iman

Thabat adalah pakaian Rasulullah dan para sahabat. Perjuangan mereka benar-benar menguji ketaatan dan konsistensi mereka dengan jalan aqidah yang mereka yakini. Suatu saat, kaum kafir Quraish menawarkan perdamaian kepada Rasulullah agar baginda menghentikan seruan dakwahnya. Dengan penuh keyakinan dan keteguhan baginda menjawab:

“Demi Allah! Andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan persoalan ini (dakwah), saya tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama-NYA atau aku binasa kerananya.” (As-sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisham)

Baginda tidak pernah berpaling dari kerjaya besarnya. Baginda tetap tegar dan tidak lemah walau ditimpa pelbagai ujian berat dan halangan ke atas jalan dakwahnya, sejak hari pertama lagi. Sebut sahaja apa jenis ujian yang tidak ditempuh oleh baginda, disekat, dihalang, cubaan rasuah, cubaan pangkat, cubaan kedudukan dan pengaruh, diejek, dibaling batu, diancam bunuh, diembargo, di pulau, diserbu, diserang dan sebagainya, namun baginda tidak pernah tunduk. Semua itu tetap tidak mampu menghentikan baginda dari menyampaikan dakwah dan menyebarluaskan Islam di muka bumi.

Wahai pemuda pemudi Islam, pakaikanlah diri kita dengan pakaian thabat, mari sertai pasukan rajulun tsabtun, kerana ini adalah pakaian rasmi amilin Islam dan pendokong dakwah Rasulullah SAW dan para nabi yang sebelumnya.

Dari Ibnu Abbas RA beliau berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Telah diberitakan kepadaku tentang umat (nabi-nabi terdahulu).Ada Nabi yang berjaya dakwahnya disertai umatnya, ada Nabi yang disertai sekelompok pengikut, ada Nabi yang disertai sepeluh pengikut, ada Nabi yang hanya disertai lima pengikut dan ada Nabi yang hanya diserta dirinya sahaja.” (HR Bukhari)

Para Nabi terdahulu juga mencontohkan kepada kita sikap thabat dan istiqamah mereka mendepani dakwah dalam kehidupan, meskipun tiada seorang yang mahu mengikuti jejak kebenaran yang mereka bawa.

“Dan berapa banyak dari Nabi-nabi (dahulu) telah berperang dengan disertai oleh ramai orang-orang yang taat kepada Allah, maka mereka tidak merasa lemah semangat akan apa yang telah menimpa mereka pada jalan (agama) Allah dan mereka juga tidak lemah tenaga dan tidak pula mahu tunduk (kepada musuh). dan (ingatlah), Allah sentiasa mengasihi orang-orang yang sabar. Dan tidaklah ada yang mereka ucapkan semasa berjuang), selain daripada berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami! ampunkanlah dosa-dosa Kami dan perbuatan Kami yang melampau dalam urusan kami, dan teguhkanlah tapak pendirian Kami (dalam perjuangan); dan tolonglah Kami mencapai kemenangan terhadap kaum yang kafir. (‘Ali Imran: 146-147)


Teguhkanlah Hati Kami!

Semoga kita beroleh sikap thabat dengan Islam dalam kehidupan kita seterusnya membolehkan kita istiqamah untuk melaksanakan segala tuntutan-tuntutannya. Dari Syahr bin Haushab, beliau berkata bahawa saya pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummul Mukminin! Doa apakah yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW ketika baginda berada di sisimu?” Dia menjawab, “Baginda sering membaca:

“Ya Tuhan yang membolak balikkan hati! Teguhkanlah hatiku atas agama-Mu.”

Lalu Ummu Salah bertanya kepada Rasulullah SAW mengapa doa itu yang sering dibacakan. Baginda menjawab:

“Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusiapun melainkan hatinya berada di antara dua jari Allah. Siapa sahaja yang dikehendaki, Dia akan meluruskannya. Siapa sajaha yang dikehendaki, Dia akan memalingkannya (dari kebenaran.) (HR Tirmidzi)

Firman Allah SWT dan semoga doa ini menjadi bekalan dalam setiap hari dalam kehidupan kita:

“(Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau memesongkan hati Kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada Kami limpah rahmat dari sisiMu; Sesungguhnya Engkau jualah Tuhan yang melimpah-limpah pemberianNya. (‘Ali Imran:8)


Artikel ini adalah petikan tulisan penulis di langitIlahi.com>

Ya Allah! Teguhkanlah Hati Kami


Kehidupan hari ini sangat mencabar keimanan kita. Kita hampir dikelilingi dengan perkara-perkara syubhat dan membangkitkan nafsu syahwat. Ditambah lagi dengan kemungkaran fitnah, tersebar luasnya kemungkaran, beraneka ragamnya penyimpangan-penyimpangan dalam memahami kehidupan, semakin mencengkamnya musuh dan semakin beratnya ujian dan cubaan ke atas umat Islam.

Permasalahan dan cabaran di atas benar-benar akan menguji kedinamikan iman kita. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Sesungguhnya iman itu benar-benar mengalami kelesuan di dalam rongga (dada) salah seorang dari kamu seperti lusuhnya baju. Mintalah kepada Allah SWT agar Allah memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu”. (HR Thabrani)


Rajulun Tsabtun

Justeru kita perlu melayakkan diri kita menjadi rajulun tsabtun, lelaki (termasuk juga wanita) yang thabat (tetap), teguh dan stabil keimanannya menghadapi persoalan-persoalan di atas. Tsabat menurut Dr. Muhammad bin Hasan adalah istiqamah atas petunjuk, memegang teguh ketaqwaan, mengendalikan diri untuk menyusuri jalan kebenaran dan kebaikan, tidak berpaling ke kanan atau ke kiri mengikuti hawa nafsu dan kehendak syaitan, serta segera kembali bertaubat di saat dosa menyelaputi hati dan jiwa mula beransur dikuasai dunia yang melekakan.

Nabi Ibrahim AS pernah berpesan kepada putera puterinya:

“ Dan Nabi Ibrahim pun berwasiat dengan agama itu kepada anak-anaknya, dan (demikian juga) Nabi Yaakub (berwasiat kepada anak-anaknya) katanya: “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama (Islam) ini menjadi ikutan kamu, maka janganlah kamu mati melainkan kamu dalam keadaan Islam”. (Al-Baqarah:132)

Benar sekali! Kita perlu mempertahankan keaslian keislaman kita, jangan sampai Islam kita dikotori dan bercampur aduk dengan perisa-perisa Islam palsu yang kini melambak dipasaran. Akibatnya pemuda pemudi kita hanya islam pada namanya sahaja sedangkan jalan kehidupannya berkiblatkan cara hidup taghut dan logika pemikiran.

Berpegang teguh kepada Islam apabila menghadapi ujian dan mehnah merupakan salah satu syarat untuk berjaya dalam menegakkan Islam. Keteguhan yang berterusan bukanlah sesuatu yang mudah untuk diperolehi. Ia perlu melalui pendidikan (tarbiyah) hari demi hari tanpa rasa jemu. Pendidikan bersumberkan al-Quran dan as-Sunnah, sirah para sahabat dan perjuangan ulamak-ulamak muktabar.

Iman & Taqwa Kunci Tsabat

Ayuh kita thabat dengan Al Quran dan as-Sunnah, insyaAllah kita akan diberikan kekuatan dan petunjuk oleh Allah SWT untuk tetap istiqamah dengan Islam. Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, nescaya Allah memberikan dua bahagian daripada rahmat-Nya kepadamu, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Hadid:28)

Firman Allah SWT lagi:

“Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allah, nescaya Dia akan memberikan kepadamu ‘furqan’* dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar.” (al-Anfal:29)

Firman Allah SWT lagi:

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (ath-Talaq:2-3)

Dari tiga ayat di atas, ternyata kunci thabat adalah ketinggian taqwa kita kepada Allah SWT.

Orang yang bertaqwa akan selalu mendapatkan jalan keluar yang mententeramkan batinnya walau bagaimana besar dan rumitnya permasalahan dan cabaran yang sedang dihadapi.

Ketika menafsirkan firman Allah Subha Nahu Wa Ta’ala ini, Sayyid Qutb berkata;

“Inilah bekal tersebut dan persiapan perjalanan… bekal ketaqwaan yang sentiasa menggugah hati dan membuatnya selalu peka, waspada, hati-hati serta selalu di dalam konsentrasi penuh… bekal cahaya yang menerangi liku-liku perjalanan sepanjang mata memandang. Orang bertaqwa tidak akan tertipu oleh bayangan yang menghalangi pandangannya yang jelas dan benar… itulah bekal penghapus segala kesalahan, bekal yang menjanjikan kedamaian dan ketenteraman, bekal yang membawa harapan atas kurnia Allah SWT; di saat bekal-bekal lain sudah sirna dan semua amal tidak lagi berguna…

Kata Sayyid Qutb lagi;

“Taqwa adalah kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus kepada Allah, selalu waspada dan hati-hati agar tidak sampai kena duri jalanan… Jalan kehidupan yang bertaburan duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhuatiran dan keraguan, harapan atas segala sesuatu yang tidak dapat diperolehi. Ketakutan palsu daripada sesuatu yang tidak layak ditakuti.. dan banyak duri-duri lainnya.”

Tsabat Pakaian Iman

Thabat adalah pakaian Rasulullah dan para sahabat. Perjuangan mereka benar-benar menguji ketaatan dan konsistensi mereka dengan jalan aqidah yang mereka yakini. Suatu saat, kaum kafir Quraish menawarkan perdamaian kepada Rasulullah agar baginda menghentikan seruan dakwahnya. Dengan penuh keyakinan dan keteguhan baginda menjawab:

“Demi Allah! Andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan persoalan ini (dakwah), saya tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama-NYA atau aku binasa kerananya.” (As-sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisham)

Baginda tidak pernah berpaling dari kerjaya besarnya. Baginda tetap tegar dan tidak lemah walau ditimpa pelbagai ujian berat dan halangan ke atas jalan dakwahnya, sejak hari pertama lagi. Sebut sahaja apa jenis ujian yang tidak ditempuh oleh baginda, disekat, dihalang, cubaan rasuah, cubaan pangkat, cubaan kedudukan dan pengaruh, diejek, dibaling batu, diancam bunuh, diembargo, di pulau, diserbu, diserang dan sebagainya, namun baginda tidak pernah tunduk. Semua itu tetap tidak mampu menghentikan baginda dari menyampaikan dakwah dan menyebarluaskan Islam di muka bumi.

Wahai pemuda pemudi Islam, pakaikanlah diri kita dengan pakaian thabat, mari sertai pasukan rajulun tsabtun, kerana ini adalah pakaian rasmi amilin Islam dan pendokong dakwah Rasulullah SAW dan para nabi yang sebelumnya.

Dari Ibnu Abbas RA beliau berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Telah diberitakan kepadaku tentang umat (nabi-nabi terdahulu).Ada Nabi yang berjaya dakwahnya disertai umatnya, ada Nabi yang disertai sekelompok pengikut, ada Nabi yang disertai sepeluh pengikut, ada Nabi yang hanya disertai lima pengikut dan ada Nabi yang hanya diserta dirinya sahaja.” (HR Bukhari)

Para Nabi terdahulu juga mencontohkan kepada kita sikap thabat dan istiqamah mereka mendepani dakwah dalam kehidupan, meskipun tiada seorang yang mahu mengikuti jejak kebenaran yang mereka bawa.

“Dan berapa banyak dari Nabi-nabi (dahulu) telah berperang dengan disertai oleh ramai orang-orang yang taat kepada Allah, maka mereka tidak merasa lemah semangat akan apa yang telah menimpa mereka pada jalan (agama) Allah dan mereka juga tidak lemah tenaga dan tidak pula mahu tunduk (kepada musuh). dan (ingatlah), Allah sentiasa mengasihi orang-orang yang sabar. Dan tidaklah ada yang mereka ucapkan semasa berjuang), selain daripada berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami! ampunkanlah dosa-dosa Kami dan perbuatan Kami yang melampau dalam urusan kami, dan teguhkanlah tapak pendirian Kami (dalam perjuangan); dan tolonglah Kami mencapai kemenangan terhadap kaum yang kafir. (‘Ali Imran: 146-147)


Teguhkanlah Hati Kami!

Semoga kita beroleh sikap thabat dengan Islam dalam kehidupan kita seterusnya membolehkan kita istiqamah untuk melaksanakan segala tuntutan-tuntutannya. Dari Syahr bin Haushab, beliau berkata bahawa saya pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummul Mukminin! Doa apakah yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW ketika baginda berada di sisimu?” Dia menjawab, “Baginda sering membaca:

“Ya Tuhan yang membolak balikkan hati! Teguhkanlah hatiku atas agama-Mu.”

Lalu Ummu Salah bertanya kepada Rasulullah SAW mengapa doa itu yang sering dibacakan. Baginda menjawab:

“Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusiapun melainkan hatinya berada di antara dua jari Allah. Siapa sahaja yang dikehendaki, Dia akan meluruskannya. Siapa sajaha yang dikehendaki, Dia akan memalingkannya (dari kebenaran.) (HR Tirmidzi)

Firman Allah SWT dan semoga doa ini menjadi bekalan dalam setiap hari dalam kehidupan kita:

“(Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau memesongkan hati Kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada Kami limpah rahmat dari sisiMu; Sesungguhnya Engkau jualah Tuhan yang melimpah-limpah pemberianNya. (‘Ali Imran:8)


Artikel ini adalah petikan tulisan penulis di langitIlahi.com>

Tuesday, January 25, 2011




Alhamdulillah, syukur tidak terhingga penulis zahirkan kepada Allah SWT atas kurniaan cahayamata ketiga, yang selamat dilahirkan pada Isnin, 24 Jan 2011, 6.20perang di HRPZ II, Kota Bharu Kelantan Darulnaim. 15 hari isteri penulis 'menginap' di wad 25 HRPZ II, hampir 3 minggu penulis tidak "outstation" dan terpaksa menolak jemputan program di luar Kelantan. Akhirnya Allah anugerahkan berita gembira buat kami sekeluarga. Alhamdulillah isteri dan putera ketiga berada dalam keadaan sihat dan ceria.

Ya Allah! Satu lagi amanah besar engkau berikan kepada kami, semoga kami mampu melaksanakan amanah ini dengan mendidik anak-anak kami dengan iman dan ketaqwaan.

Jazakallah kepada rakan-rakan, sahabat dan akhwat atas doa, ambil berat dan ziarah kalian, sesungguhnya semua itu memberi kekuatan dan inspirasi buat kami.Terima kasih juga buat para jururawat,pelatih dan para doktor yang bekerja dengan jujur dan amanah, semoga kalian juga beroleh kebaikan dan pahala disisi Allah SWT.

Selamat datang Ahmad Rushdan Hakimi Mohd Razali ke dunia yang fana. Semoga dikau membesar menjadi putera yang mencintai Allah, Rasulullah, ummat dan akhirat.





Kelahiran Cahaya Mata Ketiga: Syukur Kepada Allah SWT




Alhamdulillah, syukur tidak terhingga penulis zahirkan kepada Allah SWT atas kurniaan cahayamata ketiga, yang selamat dilahirkan pada Isnin, 24 Jan 2011, 6.20perang di HRPZ II, Kota Bharu Kelantan Darulnaim. 15 hari isteri penulis 'menginap' di wad 25 HRPZ II, hampir 3 minggu penulis tidak "outstation" dan terpaksa menolak jemputan program di luar Kelantan. Akhirnya Allah anugerahkan berita gembira buat kami sekeluarga. Alhamdulillah isteri dan putera ketiga berada dalam keadaan sihat dan ceria.

Ya Allah! Satu lagi amanah besar engkau berikan kepada kami, semoga kami mampu melaksanakan amanah ini dengan mendidik anak-anak kami dengan iman dan ketaqwaan.

Jazakallah kepada rakan-rakan, sahabat dan akhwat atas doa, ambil berat dan ziarah kalian, sesungguhnya semua itu memberi kekuatan dan inspirasi buat kami.Terima kasih juga buat para jururawat,pelatih dan para doktor yang bekerja dengan jujur dan amanah, semoga kalian juga beroleh kebaikan dan pahala disisi Allah SWT.

Selamat datang Ahmad Rushdan Hakimi Mohd Razali ke dunia yang fana. Semoga dikau membesar menjadi putera yang mencintai Allah, Rasulullah, ummat dan akhirat.





Wednesday, January 12, 2011


Sesungguhnya dakwah menjadi tinggi dan mulia dengan ketinggian dan kemuliaan pendukungnya. Imam Hasan al-Banna mengatakan: "Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seseorang yang dalam situasi mempersiapkan dan membekali diri, berfikir tentang keberadaannya pada segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berfikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam keadaan siap. Bila diseru ia menyambut seruan itu.

Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar ruang lingkup yang ia persiapkan diri untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya.

Anda dapat membaca cita-cita tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya. Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di sebalik perjuangan.

Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin."

Da’i Yang Bergerak Kerana Allah SWT
Ya! Itulah nilai seorang da’i dari kacamata Al Banna. Bagaimana dengan kita? Apakah kita seorang da’i, atau masih terkapar-kapar dalam kelemasan duniawi yang mengasyikkan. Apakah kita sudah faham akan matlamat kehidupan atau masih teraba-raba dalam kehidupan.

”Sesungguhnya orang-orang yang tidak menaruh ingatan akan menemui Kami (pada hari akhirat untuk menerima balasan), dan yang redha (berpuashati) dengan kehidupan dunia semata-mata serta merasa tenang tenteram dengannya, dan orang-orang yang tidak mengindahkan ayat-ayat (keterangan dan tanda-tanda kekuasasaan) kami, mereka yang demikian keadaannya (di dunia), tempat kediaman mereka (di akhirat) ialah neraka, disebabkan keingkaran dan kederhakaan yang mereka telah lakukan.” (Yunus: 7-8)

Dakwah adalah kerja besar. Projek raksasa. Dakwah adalah suatu proses mengubah yang jahil kepada faham akan matlamat kehidupannya, dari kehidupan batil kepada kebenaran Ilahi, dari manusia hina kepada mukmin rabbani.

Dakwah adalah perubahan. Berani berdakwah ertinya harus siap berubah, mengubah diri sendiri mahupun mengubah orang lain. Kerana perubahan adalah keperluan, maka yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan perubahan itu menjadi lebih menyenangkan.

Sungguh, menjadi seorang da’i yang menyeru dirinya, kaum keluarganya dan masyarakatnya kepada Allah SWT adalah muslim yang memiliki potensi untuk meraih kejayaan, pahala dan kebaikan yang dijanjikan Allah SWT.

Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam) dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji) dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya. (‘Ali Imran: 104)

Rasulullah SAW bersabda:

“Apakah engkau dapat menyampaikan kepada kaum engkau tentang dakwahku, semoga Allah memberi manfaat kepada mereka dengan (dakwah) engkau, dan memberi pahala kepadamu pada mereka.” (Shahih al-Jami’, no. 176 (Hasan)

"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk niscaya untuknya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR. Muslim)


Walaupun besar manapun ganjaran yang Allah SWT janjikan, tidak semua yang mahu menyambutnya. Hatta yang pernah melaksanakan dakwah, akhirnya meninggalkan kerja besar ini dek kerana terpengaruh dengan hambatan dunia. Firman Allah SWT:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah kurnia yang amat besar.” (QS Fathir: 32)


Berdakwahlah Walau Dimana Pun Berada
Apa sahaja kedudukan kita, samada pelajar, mahasiswa, guru, pengurus, pegawai, usahawan dan sebagainya, bawalah risalah dakwah. Rasulullah SAW sendiri tidak pernah mengasingkan kehidupan baginda dengan dakwah. Hatta dalam keadaan dakwah Rasulullah SAW berada dalam fasa lemah dan terhimpit, baginda tetap melaksanakan risalah dakwah yang mulia ini. Rasulullah SAW telah mencontohkan kepada kita bahawa setiap detik perjalanan kehidupan adalah dakwah.

Imam Ahmad telah memberitakan dari putera Sa'ad, sedang ayah Sa'ad sendiri yang menunjukkan jalan ke Rakubah (perjalanan di antara Mekah dengan Madinah). Berkata putera Sa'ad, bahawa ayahku telah menceritakan kepadaku, bahawa Rasulullah SAW bersama-sama dengan Abu Bakar RA telah singgah di kampungku. Sebenarnya Abu Bakar RA ingin melihat puterinya yang kecil sedang disusukan di kampung kami dan Rasulullah SAW pula inginkan jalan pendek ke Madinah. Berkata Sa'ad kepada Rasulullah SAW: "jalan melalui Rakubah ini ada dua orang perompak dari suku Aslam, dikenali orang dengan panggilan Dua yang terhina!, jika engkau ingin melalui jalan ini, kami akan menunjukkannya". Rasulullah SAW menjawab: "Tidak mengapa, tunjukkanlah jalannya kepada kami!". Berkata Sa'ad seterusnya: "Kami pun berjalan melalui Rakubah itu, dan apabila kami dilihat oleh dua orang perompak itu, salah seorang mereka berkata kepada temannya: "Ini orang dari Yaman, barangkali!". Apabila kami bertemu dua orang perompak itu, Rasulullah SAW pun menyeru mereka supaya masuk Islam, dijelaskannyalah kepada keduanya tentang agama yang diajarkannya. Akhirnya mereka berdua setuju dan memeluk Islam. "Siapa nama kamu berdua?" tanya Rasuluilah SAW "Nama kami?". Mereka tersenyum."orang panggil kami dua orang yang terhina! Barangkali kerana perbuatan kami yang jahat". "Tidak", jawab Rasulullah SAW. "Mulai sekarang kamu berdua dipanggil sebagai dua orang yang dimuliakan, kerana telah dimuliakan oleh Islam. Kami sekarang hendak menuju Madinah. Nanti temui kami di Madinah!" Rasulullah SAW berpesan kepada mereka berdua. (Musnad Ahmad 4:74; Majma'uz-Zawa'id 6:58)


Berdakwah Sehingga Ke Akhir Hayat
Seorang da'i itu adalah yang berlari memohon syahadah kepada Allah SWT di saat melakukan tugas dakwah ilallah. Sebagaimana syahidnya 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi RA yang mendakwahkan kaumnya kepada Islam. 'Urwah adalah satu dari dua tokoh besar kaum musyrikin yang disebutkan dalam firman Allah, tentang perkataan kaum musyrikin:

"Dan mereka berkata, "Mengapa al-Qur'an tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makah dan Thaij) ini?" (QS. az-Zukhruf: 31)

Ketika ia menyatakan dirinya bergabung bersama Islam, sekaligus mendakwahkan kaumnya kepada Islam, bertubi-tubi tombak dan anak panah dari segala arah merobek tubuhnya hingga syahid.

Karektor Perajurit Dakwah
Adapun perajurit dakwah adalah pahlawan. Kerana dia rela mengambil peranan di tengah kesulitan, menapaki risiko di saat orang menghindar, meraih momentum saat manusia masih terlena hina, dan menyusun kerja besar saat orang lain belum tersedar.

Untuk membentuk perajurit seperti itu, diperlukan energi yang besar dan kerja yang keras. Ada beberapa karakter khas perajurit istimewa ini dalam dakwah, sebagaimana berikut:

1. Bersedia membina diri (tarbiyah dzatiyah)
Dalam dakwah, perajurit sejati adalah mereka yang bersedia membina diri dan menyerahkan segala komitmennya buat perjuangan dakwah. Komitmennya tulus, tujuannya lurus, amal-amalnya bukan untuk mencari fulus, kerjanya serius, fikirannya diasah terus, dan langkah-langkahnya maju terus.
Allah SWT berfirman:

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah kerana bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran: 146)

2. Bertransaksi di jalan Illahi dengan penuh kesedaran dan kefahaman
Yang dimaksudkan adalah kesedaran untuk menukar harta, jiwa, nyawa dan dirinya dengan syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tanpa paksaan. Tanpa tekanan.
Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 111)

3. Sabar, tidak menyerah hati kepada yang lain selain Islam
Kerana komitmennya inilah, perajurit dakwah tidak mahu berjual hatinya kepada yang lain. Ini kerana ia yakin bahawa Allah tidak mungkin ingkar janji. Kerana itulah, tetaplah anda wahai penerus risalah Rasulullah saw di jalan dakwah ilallah.

“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul-Mu. Dan jangan Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS Ali Imran: 194)

Perajurit dakwah yang ikhlas adalah bukti, mana emas mana loyang, mana yang asli dan mana yang palsu, dan sebagainya. Justeru itu, perajurit dakwah yang sejati tidak akan mengkhianati Allah. Tetap setia pada komitmen awal, bahawa Islam adalah agama yang fitrah. Maka ia setia mengikuti Rasululah tanpa banyak membantah.

4. Berani: Siap mengambil Risiko Terberat

Kerana komitmen inilah, para sahabat Nabi menempatkan diri sebagai pembela Nabi, menukar kecintaan diri untuk sepenuh hati pada Nabi. Dalam kafilah inilah ramai perajurit-perajurit pilihan dengan pelbagai keistimewaan. Ada Sa’ad bin Abi Waqqash pemanah jitu pertama atas rekomendasi Rasulullah. Ada Abu Dujanah dengan pedang terhunusnya menjadi benteng Nabi. Ada Khubaib bin Adi yang tidak rela Nabi disakiti walau hanya tertusuk duri sekalipun. Ada pula Ummu Sulaim dengan belati kecilnya yang sentiasa mendampingi Nabi dalam Perang Uhud. Itu semua perlu komitmen keberanian dalam berhadapan dengan berisiko.

Jalan dakwah jalan mulia, bukanlah jalan yang bertabur bunga. Jalan suci tetapi sepi, tanpa puji. Jalan para nabi yang banyak dikhianati. Jalan para ulama yang tegar. Jalan orang-orang besar yang penuh risiko. Tapi ingatlah, yang penting bukan label melainkan peranan. Sebab, Menjadi penting itu baik, tapi menjadi baik itu jauh lebih penting.

Jadilah perajurit sejati dalam dakwah. Bangkitkan momentum dan energi dakwah dalam diri. Dengan segala komitmen dan kesetiaan yang penuh risiko. Ingatlah, syurga Allah bukan untuk orang-orang yang bermalasan. Jika kita menolong agama Allah, niscaya Allah SWT pasti akan menolong kita.

Mengisi Jawatan Perajurit Dakwah


Sesungguhnya dakwah menjadi tinggi dan mulia dengan ketinggian dan kemuliaan pendukungnya. Imam Hasan al-Banna mengatakan: "Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seseorang yang dalam situasi mempersiapkan dan membekali diri, berfikir tentang keberadaannya pada segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berfikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam keadaan siap. Bila diseru ia menyambut seruan itu.

Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar ruang lingkup yang ia persiapkan diri untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya.

Anda dapat membaca cita-cita tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya. Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di sebalik perjuangan.

Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin."

Da’i Yang Bergerak Kerana Allah SWT
Ya! Itulah nilai seorang da’i dari kacamata Al Banna. Bagaimana dengan kita? Apakah kita seorang da’i, atau masih terkapar-kapar dalam kelemasan duniawi yang mengasyikkan. Apakah kita sudah faham akan matlamat kehidupan atau masih teraba-raba dalam kehidupan.

”Sesungguhnya orang-orang yang tidak menaruh ingatan akan menemui Kami (pada hari akhirat untuk menerima balasan), dan yang redha (berpuashati) dengan kehidupan dunia semata-mata serta merasa tenang tenteram dengannya, dan orang-orang yang tidak mengindahkan ayat-ayat (keterangan dan tanda-tanda kekuasasaan) kami, mereka yang demikian keadaannya (di dunia), tempat kediaman mereka (di akhirat) ialah neraka, disebabkan keingkaran dan kederhakaan yang mereka telah lakukan.” (Yunus: 7-8)

Dakwah adalah kerja besar. Projek raksasa. Dakwah adalah suatu proses mengubah yang jahil kepada faham akan matlamat kehidupannya, dari kehidupan batil kepada kebenaran Ilahi, dari manusia hina kepada mukmin rabbani.

Dakwah adalah perubahan. Berani berdakwah ertinya harus siap berubah, mengubah diri sendiri mahupun mengubah orang lain. Kerana perubahan adalah keperluan, maka yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan perubahan itu menjadi lebih menyenangkan.

Sungguh, menjadi seorang da’i yang menyeru dirinya, kaum keluarganya dan masyarakatnya kepada Allah SWT adalah muslim yang memiliki potensi untuk meraih kejayaan, pahala dan kebaikan yang dijanjikan Allah SWT.

Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam) dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji) dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya. (‘Ali Imran: 104)

Rasulullah SAW bersabda:

“Apakah engkau dapat menyampaikan kepada kaum engkau tentang dakwahku, semoga Allah memberi manfaat kepada mereka dengan (dakwah) engkau, dan memberi pahala kepadamu pada mereka.” (Shahih al-Jami’, no. 176 (Hasan)

"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk niscaya untuknya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR. Muslim)


Walaupun besar manapun ganjaran yang Allah SWT janjikan, tidak semua yang mahu menyambutnya. Hatta yang pernah melaksanakan dakwah, akhirnya meninggalkan kerja besar ini dek kerana terpengaruh dengan hambatan dunia. Firman Allah SWT:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah kurnia yang amat besar.” (QS Fathir: 32)


Berdakwahlah Walau Dimana Pun Berada
Apa sahaja kedudukan kita, samada pelajar, mahasiswa, guru, pengurus, pegawai, usahawan dan sebagainya, bawalah risalah dakwah. Rasulullah SAW sendiri tidak pernah mengasingkan kehidupan baginda dengan dakwah. Hatta dalam keadaan dakwah Rasulullah SAW berada dalam fasa lemah dan terhimpit, baginda tetap melaksanakan risalah dakwah yang mulia ini. Rasulullah SAW telah mencontohkan kepada kita bahawa setiap detik perjalanan kehidupan adalah dakwah.

Imam Ahmad telah memberitakan dari putera Sa'ad, sedang ayah Sa'ad sendiri yang menunjukkan jalan ke Rakubah (perjalanan di antara Mekah dengan Madinah). Berkata putera Sa'ad, bahawa ayahku telah menceritakan kepadaku, bahawa Rasulullah SAW bersama-sama dengan Abu Bakar RA telah singgah di kampungku. Sebenarnya Abu Bakar RA ingin melihat puterinya yang kecil sedang disusukan di kampung kami dan Rasulullah SAW pula inginkan jalan pendek ke Madinah. Berkata Sa'ad kepada Rasulullah SAW: "jalan melalui Rakubah ini ada dua orang perompak dari suku Aslam, dikenali orang dengan panggilan Dua yang terhina!, jika engkau ingin melalui jalan ini, kami akan menunjukkannya". Rasulullah SAW menjawab: "Tidak mengapa, tunjukkanlah jalannya kepada kami!". Berkata Sa'ad seterusnya: "Kami pun berjalan melalui Rakubah itu, dan apabila kami dilihat oleh dua orang perompak itu, salah seorang mereka berkata kepada temannya: "Ini orang dari Yaman, barangkali!". Apabila kami bertemu dua orang perompak itu, Rasulullah SAW pun menyeru mereka supaya masuk Islam, dijelaskannyalah kepada keduanya tentang agama yang diajarkannya. Akhirnya mereka berdua setuju dan memeluk Islam. "Siapa nama kamu berdua?" tanya Rasuluilah SAW "Nama kami?". Mereka tersenyum."orang panggil kami dua orang yang terhina! Barangkali kerana perbuatan kami yang jahat". "Tidak", jawab Rasulullah SAW. "Mulai sekarang kamu berdua dipanggil sebagai dua orang yang dimuliakan, kerana telah dimuliakan oleh Islam. Kami sekarang hendak menuju Madinah. Nanti temui kami di Madinah!" Rasulullah SAW berpesan kepada mereka berdua. (Musnad Ahmad 4:74; Majma'uz-Zawa'id 6:58)


Berdakwah Sehingga Ke Akhir Hayat
Seorang da'i itu adalah yang berlari memohon syahadah kepada Allah SWT di saat melakukan tugas dakwah ilallah. Sebagaimana syahidnya 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi RA yang mendakwahkan kaumnya kepada Islam. 'Urwah adalah satu dari dua tokoh besar kaum musyrikin yang disebutkan dalam firman Allah, tentang perkataan kaum musyrikin:

"Dan mereka berkata, "Mengapa al-Qur'an tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makah dan Thaij) ini?" (QS. az-Zukhruf: 31)

Ketika ia menyatakan dirinya bergabung bersama Islam, sekaligus mendakwahkan kaumnya kepada Islam, bertubi-tubi tombak dan anak panah dari segala arah merobek tubuhnya hingga syahid.

Karektor Perajurit Dakwah
Adapun perajurit dakwah adalah pahlawan. Kerana dia rela mengambil peranan di tengah kesulitan, menapaki risiko di saat orang menghindar, meraih momentum saat manusia masih terlena hina, dan menyusun kerja besar saat orang lain belum tersedar.

Untuk membentuk perajurit seperti itu, diperlukan energi yang besar dan kerja yang keras. Ada beberapa karakter khas perajurit istimewa ini dalam dakwah, sebagaimana berikut:

1. Bersedia membina diri (tarbiyah dzatiyah)
Dalam dakwah, perajurit sejati adalah mereka yang bersedia membina diri dan menyerahkan segala komitmennya buat perjuangan dakwah. Komitmennya tulus, tujuannya lurus, amal-amalnya bukan untuk mencari fulus, kerjanya serius, fikirannya diasah terus, dan langkah-langkahnya maju terus.
Allah SWT berfirman:

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah kerana bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran: 146)

2. Bertransaksi di jalan Illahi dengan penuh kesedaran dan kefahaman
Yang dimaksudkan adalah kesedaran untuk menukar harta, jiwa, nyawa dan dirinya dengan syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tanpa paksaan. Tanpa tekanan.
Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 111)

3. Sabar, tidak menyerah hati kepada yang lain selain Islam
Kerana komitmennya inilah, perajurit dakwah tidak mahu berjual hatinya kepada yang lain. Ini kerana ia yakin bahawa Allah tidak mungkin ingkar janji. Kerana itulah, tetaplah anda wahai penerus risalah Rasulullah saw di jalan dakwah ilallah.

“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul-Mu. Dan jangan Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS Ali Imran: 194)

Perajurit dakwah yang ikhlas adalah bukti, mana emas mana loyang, mana yang asli dan mana yang palsu, dan sebagainya. Justeru itu, perajurit dakwah yang sejati tidak akan mengkhianati Allah. Tetap setia pada komitmen awal, bahawa Islam adalah agama yang fitrah. Maka ia setia mengikuti Rasululah tanpa banyak membantah.

4. Berani: Siap mengambil Risiko Terberat

Kerana komitmen inilah, para sahabat Nabi menempatkan diri sebagai pembela Nabi, menukar kecintaan diri untuk sepenuh hati pada Nabi. Dalam kafilah inilah ramai perajurit-perajurit pilihan dengan pelbagai keistimewaan. Ada Sa’ad bin Abi Waqqash pemanah jitu pertama atas rekomendasi Rasulullah. Ada Abu Dujanah dengan pedang terhunusnya menjadi benteng Nabi. Ada Khubaib bin Adi yang tidak rela Nabi disakiti walau hanya tertusuk duri sekalipun. Ada pula Ummu Sulaim dengan belati kecilnya yang sentiasa mendampingi Nabi dalam Perang Uhud. Itu semua perlu komitmen keberanian dalam berhadapan dengan berisiko.

Jalan dakwah jalan mulia, bukanlah jalan yang bertabur bunga. Jalan suci tetapi sepi, tanpa puji. Jalan para nabi yang banyak dikhianati. Jalan para ulama yang tegar. Jalan orang-orang besar yang penuh risiko. Tapi ingatlah, yang penting bukan label melainkan peranan. Sebab, Menjadi penting itu baik, tapi menjadi baik itu jauh lebih penting.

Jadilah perajurit sejati dalam dakwah. Bangkitkan momentum dan energi dakwah dalam diri. Dengan segala komitmen dan kesetiaan yang penuh risiko. Ingatlah, syurga Allah bukan untuk orang-orang yang bermalasan. Jika kita menolong agama Allah, niscaya Allah SWT pasti akan menolong kita.

Friday, January 07, 2011


Alhamdulillah, hari ini Jumaat, cuaca begitu redup dan indah setelah beberapa hari hujan turun tanpa henti. Hari ini penulis menunaikan solat Jumaat bersama Ahmad Ridhwan, anak sulung penulis, sudah 7 tahun beliau kini. Penulis juga teruja mendengar khutbah Jumaat yang penuh bersemangat disampaikan oleh khatib Masjid As Salam, Pengkalan Chepa. Khutbah kali ini mengajak muslimin meluruskan matlamat kehidupan agar selari dengan tuntutan Allah SWT, khususnya dalam pergaulan seharian. Hari ini corak pergaulan generasi muda amat dibimbangi. Pergaulan mereka begitu mudah terpisah dari panduan dan tatacara yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat RA. Kesannya berleluasa pergaulan dan seks bebas, coupling haram, zina, anak luar nikah, pembuangan bayi dan 1001 anasir kemaksiatan.

Khatib mengajak seluruh umat Islam, pertubuhan bukan kerajaan (NGO) Islam, jawatankuasa masjid, sekolah dan institusi pendidikan, badan potitik dan alim ulama berganding bahu membanting tulang melipatgandakan usaha berdakwah dan mentarbiyah umat agar umat terbangun kembali dengan peribadi dan keindahan Islam.

Ya! Itulah yang cuba penulis fahamkan diri penulis, tugas dan tanggungjawab dakwah tidak akan pernah padam selagi Islam tidak menjadi sistem kehidupan manusia, khususnya umat Islam. Hari ini tugas dakwah telah diswastakan kepada majlis agama dan alim ulama semata. Sedangkan permasahanan sosial semakin parah menjangkiti umat, khususnya terhadap generasi muda.

Sukar sangatkah kerja-kerja dakwah ini? Memang sukar kalau kita tidak pernah mahu faham akan tuntutan yang telah ditaklifkan kepada kita. Dakwah memang sukar kalau kita tidak memiliki peribadi mithali. Belum lagi kalau diminta berdakwah kepada golongan non muslim. Namun jika ditanya kepada para duah dan pendakwah yang ikhlas melaksanakan amanah dakwah samada sukarkah kerja dakwah ini, pasti mereka akan menjawab, Allah SWT tidak akan bertanya susah atau senang kerja dakwah ini, tetapi Allah SWT akan tanya apa sumbangan kita kepada Islam dan umat.

“Allah SWT tahu kemampuan kita” begitulah kalimah pendek yang diungkapkan oleh murabbi penulis, Al Marhum Syeikh Dato’ Kaya Bakti Ustaz Dahlan Mohd Zain ketika berbicara dengan anak didiknya akan tanggungjawab berat dalam melaksanakan misi dan visi dakwah Ilallah.

Yang pastinya, kerja dakwah ini samada susah atau senang, pulangannya tetap berbaloi di akhirat kelak jika dilakukan dengan ikhlas.

Bagi menbangkitkan syuur dan syiar kita semua untuk memulakan dakwah, penulis kongsikan kisah yang membahagiakan kita pada hari Jumaat yang mulia ini, semoga ianya dapat mendasyatkan kembali potensi dakwah yang ada pada diri kita untuk melakukan sesuatu buat umat ini, walaupun ianya kelihatan seperti kecil usahanya.

Pada setiap Jumaat, selepas selesai menunaikan solat Jumaat, seorang Imam dan anaknya yang berumur 7 tahun akan berjalan menyusuri jalan di kota itu dan menyebarkan risalah bertajuk “Jalan-jalan Syurga” dan beberapa karya Islamik yang lain .

Pada satu Jumaat yang indah, pada ketika Imam dan anaknya itu hendak keluar seperti biasa meghulurkan risalah-risalah Islam itu, hari itu menjadi amat dingin dan hujan mulai turun. Anak kecil itu mula membetulkan jubahnya yang masih kering dan panas dan seraya berkata“Ayah! Saya dah bersedia”

Ayahnya terkejut dan berkata “Bersedia untuk apa?”. “Ayah bukankah ini masanya kita akan keluar menyampaikan risalah Allah”

“Anakku! Bukankah sejuk keadaan di luar tu dan hujan juga agak lebat”
“Ayah bukankah masih ada manusia yang akan masuk neraka walaupun ketika hujan turun”

Ayahnya menambah “Ayah tidak bersedia hendak keluar dalam keadaan cuaca sebegini”

Dengan merintih anaknya merayu “Benarkan saya pergi ayah?”

Ayahnya berasa agak ragu-ragu namun menyerahkan risalah-risalah itu kepada anaknya “Pergilah nak dan berhati-hatilah. Allah bersama-sama kamu!”

“Terima kasih Ayah” Dengan wajah bersinar-sinar anaknya itu pergi meredah hujan dan susuk tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan itu.

Anak kecil itu pun menyerahkan risalah-risalah tersebut kepada sesiapa pun yang dijumpainya. Begitu juga dia akan mengetuk setiap rumah dan memberikan risalah itu kepada penghuninya.
Setelah dua jam, hanya tinggal satu saja risalah “Jalan-jalan Syurga” ada pada tangannya. Dia berasakan tanggungjawabnya tidak akan selesai jika masih ada risalah di tangannya. Dia berpusing-pusing ke sana dan ke mari mencari siapa yang akan diserahkan risalah terakhirnya itu namun gagal.

Akhirnya dia ternampak sebuah rumah yang agak terperosok di sebuah jalan dan mula mengatur langkah menghampiri rumah itu.Apabila sampai sahaja anak itu dirumah tersebut, lantas ditekannya loceng rumah itu sekali. Ditunggunya sebentar dan ditekan sekali lagi namun tiada jawapan. Diketuk pula pintu itu namun sekali lagi tiada jawapan. Ada sesuatu yang menahannya daripada pergi, mungkin rumah inilah harapannya agar risalah ini diserahkan. Dia mengambil keputusan menekan loceng sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.

Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan dalam lingkungan 50an. Mukanya suram dan sedih. “Nak, apa yang makcik boleh bantu?”

Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah seperti malaikat yang turun dari langit. “Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang Allah amat sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik. Saya datang ini hanya hendak menyerahkan risalah akhir ini dan makcik adalah orang yang paling bertuah”. Dia senyum dan tunduk hormat sebelum melangkah pergi.

“Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu” dalam nada yang lembut, jawab wanita tua itu.

Minggu berikutnya sebelum waktu solat Jumaat bermula, seperti biasa Imam memberikan ceramahnya. Sebelum selesai dia bertanya ” Ada sesiapa nak menyatakan sesuatu”

Tiba-tiba sekujur tubuh bangun dengan perlahan dan berdiri. Dia adalah perempuan separuh umur itu.

“Saya rasa tiada sesiapa dalam perhimpunan ini yang kenal saya. Saya tak pernah hadir ke majlis ini walaupun sekali. Untuk pengetahuan anda, sebelum Jumaat minggu lepas saya bukan seorang Muslim. Suami saya meninggal beberapa tahun lepas dan meninggalkan saya keseorangan dalam dunia ini” Air mata mulai bergenang di kelopak matanya.

“Pada Jumaat minggu lepas saya mengambil keputusan untuk membunuh diri. Jadi saya ambil kerusi dan tali. Saya letakkan kerusi di atas tangga menghadap anak tangga menuruni. Saya ikat hujung tali di galang atas dan hujung satu lagi diketatkan di leher. Apabila tiba saat saya untuk terjun, tiba-tiba loceng rumah saya berbunyi. Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya, siapa pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab. Kemudian ia berbunyi lagi. Kemudian saya mendengar ketukan dan loceng ditekan sekali lagi”.

“Saya bertanya sekali lagi. Belum pernah pun ada orang yang tekan loceng ini setelah sekian lama. Lantas saya melonggarkan tali di leher dan terus pergi ke pintu”

“Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak yang comel itu. Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti malaikat”.

“Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang Allah amat sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik” itulah kata-kata yang paling indah yang saya dengar”.

“Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan. Saya kemudian menutup pintu dan terus baca risalah itu setiap muka surat . Akhirnya kerusi dan tali yang hampir-hampir menyentap nyawa saya diletakkan semula ditempat asal. Aku tak perlukan itu lagi”.

“Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang yang bahagia, yang menjadi hamba kepada Tuhan yang satu Allah SWT. Di belakang risalah terdapat alamat ini dan itulah sebabnya saya di sini hari ini. Jika tidak disebabkan malaikat kecil yang datang pada hari itu tentunya roh saya ini akan berada selama-lamanya di dalam neraka”

Tiada satu pun anak mata di masjid itu yang masih kering. Ramai pula yang berteriak dan bertakbir ALLAHUAKBAR!

Imam lantas turun dengan pantas dari mimbar lantas terus memeluk anaknya yang berada di kaki mimbar dan menangis sesungguh-sungguh hatinya.

Jumaat ini dikira Jumaat yang paling indah dalam hidupnya. Tiada anugerah yang amat besar dari apa yang dia ada pada hari ini. Iaitu anugerah yang sekarang berada di dalam pelukannya. Seorang anak yang seumpama malaikat.

Biarkanlah air mata itu menitis. Air mata itu anugerah Allah kepada makhlukNya yang penyayang

Jom kita mulakan kerja besar kita, kerja dakwah!, bermula dengan mendakwahi diri kita agar menjadi hamba Allah yang soleh, kemudian kita menyeru manusia lainnya kepada Allah, berusaha menyolehkan (musleh) mereka dengan cara hidup Islam.

Ingat! Allah SWT sentiasa menyayangi dan memelihara kita!

Dakwah: Allah SWT Tahu Kemampuan Kita


Alhamdulillah, hari ini Jumaat, cuaca begitu redup dan indah setelah beberapa hari hujan turun tanpa henti. Hari ini penulis menunaikan solat Jumaat bersama Ahmad Ridhwan, anak sulung penulis, sudah 7 tahun beliau kini. Penulis juga teruja mendengar khutbah Jumaat yang penuh bersemangat disampaikan oleh khatib Masjid As Salam, Pengkalan Chepa. Khutbah kali ini mengajak muslimin meluruskan matlamat kehidupan agar selari dengan tuntutan Allah SWT, khususnya dalam pergaulan seharian. Hari ini corak pergaulan generasi muda amat dibimbangi. Pergaulan mereka begitu mudah terpisah dari panduan dan tatacara yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat RA. Kesannya berleluasa pergaulan dan seks bebas, coupling haram, zina, anak luar nikah, pembuangan bayi dan 1001 anasir kemaksiatan.

Khatib mengajak seluruh umat Islam, pertubuhan bukan kerajaan (NGO) Islam, jawatankuasa masjid, sekolah dan institusi pendidikan, badan potitik dan alim ulama berganding bahu membanting tulang melipatgandakan usaha berdakwah dan mentarbiyah umat agar umat terbangun kembali dengan peribadi dan keindahan Islam.

Ya! Itulah yang cuba penulis fahamkan diri penulis, tugas dan tanggungjawab dakwah tidak akan pernah padam selagi Islam tidak menjadi sistem kehidupan manusia, khususnya umat Islam. Hari ini tugas dakwah telah diswastakan kepada majlis agama dan alim ulama semata. Sedangkan permasahanan sosial semakin parah menjangkiti umat, khususnya terhadap generasi muda.

Sukar sangatkah kerja-kerja dakwah ini? Memang sukar kalau kita tidak pernah mahu faham akan tuntutan yang telah ditaklifkan kepada kita. Dakwah memang sukar kalau kita tidak memiliki peribadi mithali. Belum lagi kalau diminta berdakwah kepada golongan non muslim. Namun jika ditanya kepada para duah dan pendakwah yang ikhlas melaksanakan amanah dakwah samada sukarkah kerja dakwah ini, pasti mereka akan menjawab, Allah SWT tidak akan bertanya susah atau senang kerja dakwah ini, tetapi Allah SWT akan tanya apa sumbangan kita kepada Islam dan umat.

“Allah SWT tahu kemampuan kita” begitulah kalimah pendek yang diungkapkan oleh murabbi penulis, Al Marhum Syeikh Dato’ Kaya Bakti Ustaz Dahlan Mohd Zain ketika berbicara dengan anak didiknya akan tanggungjawab berat dalam melaksanakan misi dan visi dakwah Ilallah.

Yang pastinya, kerja dakwah ini samada susah atau senang, pulangannya tetap berbaloi di akhirat kelak jika dilakukan dengan ikhlas.

Bagi menbangkitkan syuur dan syiar kita semua untuk memulakan dakwah, penulis kongsikan kisah yang membahagiakan kita pada hari Jumaat yang mulia ini, semoga ianya dapat mendasyatkan kembali potensi dakwah yang ada pada diri kita untuk melakukan sesuatu buat umat ini, walaupun ianya kelihatan seperti kecil usahanya.

Pada setiap Jumaat, selepas selesai menunaikan solat Jumaat, seorang Imam dan anaknya yang berumur 7 tahun akan berjalan menyusuri jalan di kota itu dan menyebarkan risalah bertajuk “Jalan-jalan Syurga” dan beberapa karya Islamik yang lain .

Pada satu Jumaat yang indah, pada ketika Imam dan anaknya itu hendak keluar seperti biasa meghulurkan risalah-risalah Islam itu, hari itu menjadi amat dingin dan hujan mulai turun. Anak kecil itu mula membetulkan jubahnya yang masih kering dan panas dan seraya berkata“Ayah! Saya dah bersedia”

Ayahnya terkejut dan berkata “Bersedia untuk apa?”. “Ayah bukankah ini masanya kita akan keluar menyampaikan risalah Allah”

“Anakku! Bukankah sejuk keadaan di luar tu dan hujan juga agak lebat”
“Ayah bukankah masih ada manusia yang akan masuk neraka walaupun ketika hujan turun”

Ayahnya menambah “Ayah tidak bersedia hendak keluar dalam keadaan cuaca sebegini”

Dengan merintih anaknya merayu “Benarkan saya pergi ayah?”

Ayahnya berasa agak ragu-ragu namun menyerahkan risalah-risalah itu kepada anaknya “Pergilah nak dan berhati-hatilah. Allah bersama-sama kamu!”

“Terima kasih Ayah” Dengan wajah bersinar-sinar anaknya itu pergi meredah hujan dan susuk tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan itu.

Anak kecil itu pun menyerahkan risalah-risalah tersebut kepada sesiapa pun yang dijumpainya. Begitu juga dia akan mengetuk setiap rumah dan memberikan risalah itu kepada penghuninya.
Setelah dua jam, hanya tinggal satu saja risalah “Jalan-jalan Syurga” ada pada tangannya. Dia berasakan tanggungjawabnya tidak akan selesai jika masih ada risalah di tangannya. Dia berpusing-pusing ke sana dan ke mari mencari siapa yang akan diserahkan risalah terakhirnya itu namun gagal.

Akhirnya dia ternampak sebuah rumah yang agak terperosok di sebuah jalan dan mula mengatur langkah menghampiri rumah itu.Apabila sampai sahaja anak itu dirumah tersebut, lantas ditekannya loceng rumah itu sekali. Ditunggunya sebentar dan ditekan sekali lagi namun tiada jawapan. Diketuk pula pintu itu namun sekali lagi tiada jawapan. Ada sesuatu yang menahannya daripada pergi, mungkin rumah inilah harapannya agar risalah ini diserahkan. Dia mengambil keputusan menekan loceng sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.

Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan dalam lingkungan 50an. Mukanya suram dan sedih. “Nak, apa yang makcik boleh bantu?”

Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah seperti malaikat yang turun dari langit. “Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang Allah amat sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik. Saya datang ini hanya hendak menyerahkan risalah akhir ini dan makcik adalah orang yang paling bertuah”. Dia senyum dan tunduk hormat sebelum melangkah pergi.

“Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu” dalam nada yang lembut, jawab wanita tua itu.

Minggu berikutnya sebelum waktu solat Jumaat bermula, seperti biasa Imam memberikan ceramahnya. Sebelum selesai dia bertanya ” Ada sesiapa nak menyatakan sesuatu”

Tiba-tiba sekujur tubuh bangun dengan perlahan dan berdiri. Dia adalah perempuan separuh umur itu.

“Saya rasa tiada sesiapa dalam perhimpunan ini yang kenal saya. Saya tak pernah hadir ke majlis ini walaupun sekali. Untuk pengetahuan anda, sebelum Jumaat minggu lepas saya bukan seorang Muslim. Suami saya meninggal beberapa tahun lepas dan meninggalkan saya keseorangan dalam dunia ini” Air mata mulai bergenang di kelopak matanya.

“Pada Jumaat minggu lepas saya mengambil keputusan untuk membunuh diri. Jadi saya ambil kerusi dan tali. Saya letakkan kerusi di atas tangga menghadap anak tangga menuruni. Saya ikat hujung tali di galang atas dan hujung satu lagi diketatkan di leher. Apabila tiba saat saya untuk terjun, tiba-tiba loceng rumah saya berbunyi. Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya, siapa pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab. Kemudian ia berbunyi lagi. Kemudian saya mendengar ketukan dan loceng ditekan sekali lagi”.

“Saya bertanya sekali lagi. Belum pernah pun ada orang yang tekan loceng ini setelah sekian lama. Lantas saya melonggarkan tali di leher dan terus pergi ke pintu”

“Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak yang comel itu. Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti malaikat”.

“Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang Allah amat sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik” itulah kata-kata yang paling indah yang saya dengar”.

“Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan. Saya kemudian menutup pintu dan terus baca risalah itu setiap muka surat . Akhirnya kerusi dan tali yang hampir-hampir menyentap nyawa saya diletakkan semula ditempat asal. Aku tak perlukan itu lagi”.

“Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang yang bahagia, yang menjadi hamba kepada Tuhan yang satu Allah SWT. Di belakang risalah terdapat alamat ini dan itulah sebabnya saya di sini hari ini. Jika tidak disebabkan malaikat kecil yang datang pada hari itu tentunya roh saya ini akan berada selama-lamanya di dalam neraka”

Tiada satu pun anak mata di masjid itu yang masih kering. Ramai pula yang berteriak dan bertakbir ALLAHUAKBAR!

Imam lantas turun dengan pantas dari mimbar lantas terus memeluk anaknya yang berada di kaki mimbar dan menangis sesungguh-sungguh hatinya.

Jumaat ini dikira Jumaat yang paling indah dalam hidupnya. Tiada anugerah yang amat besar dari apa yang dia ada pada hari ini. Iaitu anugerah yang sekarang berada di dalam pelukannya. Seorang anak yang seumpama malaikat.

Biarkanlah air mata itu menitis. Air mata itu anugerah Allah kepada makhlukNya yang penyayang

Jom kita mulakan kerja besar kita, kerja dakwah!, bermula dengan mendakwahi diri kita agar menjadi hamba Allah yang soleh, kemudian kita menyeru manusia lainnya kepada Allah, berusaha menyolehkan (musleh) mereka dengan cara hidup Islam.

Ingat! Allah SWT sentiasa menyayangi dan memelihara kita!

Realiti hari ini, manusia menjadi serba boleh tanpa mengira samada halal atau haram. Tatkala membaca akhbar-akhbar tempatan terpampang laporan-laporan pelik kisah kebobrokan masyarakat Islam dengan seribu satu macam penyakit-penyakit hati dan kemaksiatan. Kisah-kisah ini disensasikan dan dipopularkan ketengah masyarakat, tidak pasti samada ianya bertujuan untuk mendidik dan menyedarkan masyarakat atau sekadar bahan pelaris jualan. Masalahnya setelah disensasikan kisah-kisah luka dan memalukan umat Islam ini, tidak pula dibentangkan dengan pandangan dan jalan-jalan penyelesaian menurut Islam agar masyarakat dapat mengambil pelajaran.

Di Ambang Kehancuran
Apabila kita kembali ke zaman sebelum kemunculan dakwah Rasulullah SAW, manusia juga berada di ambang kehancuran lantaran kebudayaan yang menyebabkan tertegaknya tamadun ketika itu yang dipenuhi dengan kegelapan tanpa wahyu dari Tuhan.

“Tamadun adalah umpama suatu pohon rendang yang bayang-bayangnya meliputi seluruh dunia; sekarang ia telah terhoyong hayang, dimakan reput hingga ke akar umbinya. Dan di tengah-tengah kerosakan yang sebegitu meluas lahirlah seorang insan yang bakal menyatukan seluruh alam”

Demikian kata J.H Denison dalam bukunya Emotion as the Basic of Civilization. Umat pada saat itu dan pada hari ini diumpamakan seperti sebuah rumah yang telah dilanda gempa bumi yang dahsyat. Semua yang berada di dalamnya menjadi tunggang langgang, menyebabkan barang-barang berselerakan di sana sini. Ketika kemanusiaan sedang berada dalam kesesakan nafas di ambang kegelapan, Allah SWT memilih Muhammad SAW untuk membangkitkan semula dan mengeluarkan manusia seluruhnya daripada kegelapan kepada cahaya. Firman Allah SWT:

(Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia daripada gelap gelita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (iaitu) menuju jalan Rab yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.(Ibrahim:1)

Rasulullah SAW memecah belenggu-belenggu jahiliyyah dan khurafat dan mengajak manusia kepada pengabdian hanya sanya kepada Allah SWT yang akan membebaskan mereka daripada segala bentuk ikatan lain. Baginda SAW mengembalikan kepada mereka kesenangan hidup yang sebenarnya. Firman Allah SWT:

“(iaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka daripada mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang daripada mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-‘Araf: 157)

Apakah masyarakat Islam hari ini tidak mengetahui akan sirah mulia ini, di mana Rasulullah SAW membawa penyelesaian total yang membersihkan manusia dari kepalitan kegelapan akibat panduan rekacipta manusia kepada cahaya kebenaran dan kebahagiaan berpandukan wahyu Ilahi. Justeru mengapa umat Islam seperti terkapai-kapai mencari penyelesaian permasalahan kerosakan umat. Kuncinya adalah dengan kita mengikuti jalan-jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Firman Allah SWT:

"Katakanlah: Jika kamu kasihkan Allah ikutlah aku nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu . Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (’Ali Imran:31)

Umat Melupakan Rasulullah SAW?
Sekarang kita semakin faham, permasalahan umat hari ini adalah kerana tidak menjadikan Rasulullah SAW sebagai pemutus kata dan pemimpin ikutan kita dalam segenap kehidupan. Sebaliknya masyarakat Islam hanya mengambil sebahagian yang mereka sukai yang sesuai dengan kehendak nafsu manusia dan meninggalkan sebahagian yang mereka rasa berat untuk diikuti. Ternyata penyerahan hidup manusia terhadap risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW tidak bulat dan tekad lagi, berbanding dengan sikap generasi pertama yang mendokong risalah Rasul SAW dengan begitu tinggi dan bersungguh-sungguh.

Beriman dengan Rasulullah SAW sebenarnya menuntut kita supaya menyerahkan hidup kita kepada arahan Rasulullah SAW. Iaitu mentaati apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang olehnya dengan senang hati. Ini semua memerlukan tarbiyyah yang betul, sebagaimana Rasulullah SAW telah mentarbiyah generasi pertama sehingga generasi ini menjadi tulang belakang kepada kebangkitan tamadun Islam.

Di zaman Rasulullah SAW kehebatan Islam kelihatan dengan jelas. Manakala zaman kini, masyarakat mengaku Islam, tetapi kehebatan Islam tidak kelihatan. Justeru itu kita mestilah melaksanakan kembali Islam dan meninggalkan jahiliyyah.

Beriman Kepada Rasulullah SAW
Dalam konteks beriman kepada Rasulullah SAW, terdapat bebarapa tuntutan, antaranya:

1.Kita perlu didik hati kita hingga redha dengan Rasulullah SAW. Redha bukan sahaja dari segi perkataan kita tetapi juga dari tindakan seharian kita, dalam setiap tempat dan ketika mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

Sabda Rasulullah SAW:

"Bertuahlah orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah melihatku. "

2.Kita menghormati dan mencintai Rasulullah SAW walaupun baginda telah lama meninggalkan kita. Menghormati apa yang ditinggalkan oleh baginda, iaitu Islam yang merupakan ajaran wahyu Allah SWT.

Dalam satu sirah, Tabib bin Qais pernah bercakap dengan suara yang tinggi di hadapan Rasulullah SAW. Turunlah ayat Allah SWT:

"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengangkat suara kamu melebihi suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyedari." (al Hujurat: 2) .

Mendengar ayat tersebut Tabib bin Qais menangis dan hanya duduk dalam rumah, tidak keluar. Rasulullah SAW menyuruh sahabat-sahabat baginda menziarahinya untuk mengetahui mengapa beliau tidak keluar dari rumah. Apabila tiba di rumah Tabib, dia berkata kepada sahabat yang datang:

"Aku telah mengangkat suaraku lebih daripada suara Rasulullah SAW dan Allah SWT telah menurunkan ayat tersebut. Aku rasa Allah SWT memarahiku dan tentulah aku akan dimasukkan ke dalam neraka. "

Para sahabat menceritakan hal Tabib kepada Rasulullah SAW. Maka baginda bersabda:

"Sesungguhnya dia (Tabib) ialah ahli syurga."

Kemudian, berita itu disampaikan kepada Tabib.


Dalam soal cinta kepada Rasulullah SAW, baginda ada bersabda:

”Tidak sempurna iman seseorang kamu sehinggalah dia sanggup menjadikan aku lebih dikasihi daripada dirinya, anaknya, hartanya dan manusia seluruhnya."

3.Kita perlu mencontohi Rasulullah SAW dalam membentuk ummah atau generasi. Generasi awal yang dididik oleh Rasulullah SAW dikenali sebagai Generasi al-Quran yang Unik. Mereka menerima arahan sepertimana komando menerima arahan daripada ketua, malah lebih daripada itu.

Dalam realiti yang tenat kini, kita perlukan satu generasi yang berdaya dan mampu untuk mendokong Islam. Oleh itu kita amat perlu kepada tarbiyah (pendidikan) Islamiyah yang berterusan. Semoga dengan itu lahir kembali InsyaAllah satu generasi yang mempersiapkan segenap potensi dan kepakaran yang dimilikinya untuk taat kepada Allah SWT dan sanggup memikul tugas yang berat, taklif Rabbani.

"Adalah pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi sesiapa yang berharap untuk bertemu dengan Allah dan Hari Akhirat, dan mengingati Allah sebanyak-banyaknya". (Al Ahzab : 21)

4.Kita perlu sentiasa terikat dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dengan cara ini, InsyaAllah kita akan dapat merasai nikmat Islam seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT. Para sahabat RA meninggalkan harta ketika berhijrah untuk mengikuti Rasulullah SAW kerana mereka dapat merasai kenikmatan Islam dan Iman.


5.) Kita perlu beribadah kepada Allah SWT seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam satu sirah, Rasulullah SAW ditanya: "Apakah erti Ehsan?" Jawab baginda: "Kamu mengabdikan diri kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu."

Marilah kita menghayati dan mengikuti madrasah Rasulullah SAW, kembali kepada jalan fitrah yang akan membangkitkan kembali kekuatan umat yang sebenar. Dengan kita mengikuti jalan-jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, insyaAllah Allah akan membantu perjuangan kita membela agama-NYA:

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah.” (an-Nisaa’ : 80)

Mengapa Tinggalkan Rasulullah SAW?


Realiti hari ini, manusia menjadi serba boleh tanpa mengira samada halal atau haram. Tatkala membaca akhbar-akhbar tempatan terpampang laporan-laporan pelik kisah kebobrokan masyarakat Islam dengan seribu satu macam penyakit-penyakit hati dan kemaksiatan. Kisah-kisah ini disensasikan dan dipopularkan ketengah masyarakat, tidak pasti samada ianya bertujuan untuk mendidik dan menyedarkan masyarakat atau sekadar bahan pelaris jualan. Masalahnya setelah disensasikan kisah-kisah luka dan memalukan umat Islam ini, tidak pula dibentangkan dengan pandangan dan jalan-jalan penyelesaian menurut Islam agar masyarakat dapat mengambil pelajaran.

Di Ambang Kehancuran
Apabila kita kembali ke zaman sebelum kemunculan dakwah Rasulullah SAW, manusia juga berada di ambang kehancuran lantaran kebudayaan yang menyebabkan tertegaknya tamadun ketika itu yang dipenuhi dengan kegelapan tanpa wahyu dari Tuhan.

“Tamadun adalah umpama suatu pohon rendang yang bayang-bayangnya meliputi seluruh dunia; sekarang ia telah terhoyong hayang, dimakan reput hingga ke akar umbinya. Dan di tengah-tengah kerosakan yang sebegitu meluas lahirlah seorang insan yang bakal menyatukan seluruh alam”

Demikian kata J.H Denison dalam bukunya Emotion as the Basic of Civilization. Umat pada saat itu dan pada hari ini diumpamakan seperti sebuah rumah yang telah dilanda gempa bumi yang dahsyat. Semua yang berada di dalamnya menjadi tunggang langgang, menyebabkan barang-barang berselerakan di sana sini. Ketika kemanusiaan sedang berada dalam kesesakan nafas di ambang kegelapan, Allah SWT memilih Muhammad SAW untuk membangkitkan semula dan mengeluarkan manusia seluruhnya daripada kegelapan kepada cahaya. Firman Allah SWT:

(Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia daripada gelap gelita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (iaitu) menuju jalan Rab yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.(Ibrahim:1)

Rasulullah SAW memecah belenggu-belenggu jahiliyyah dan khurafat dan mengajak manusia kepada pengabdian hanya sanya kepada Allah SWT yang akan membebaskan mereka daripada segala bentuk ikatan lain. Baginda SAW mengembalikan kepada mereka kesenangan hidup yang sebenarnya. Firman Allah SWT:

“(iaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka daripada mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang daripada mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-‘Araf: 157)

Apakah masyarakat Islam hari ini tidak mengetahui akan sirah mulia ini, di mana Rasulullah SAW membawa penyelesaian total yang membersihkan manusia dari kepalitan kegelapan akibat panduan rekacipta manusia kepada cahaya kebenaran dan kebahagiaan berpandukan wahyu Ilahi. Justeru mengapa umat Islam seperti terkapai-kapai mencari penyelesaian permasalahan kerosakan umat. Kuncinya adalah dengan kita mengikuti jalan-jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Firman Allah SWT:

"Katakanlah: Jika kamu kasihkan Allah ikutlah aku nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu . Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (’Ali Imran:31)

Umat Melupakan Rasulullah SAW?
Sekarang kita semakin faham, permasalahan umat hari ini adalah kerana tidak menjadikan Rasulullah SAW sebagai pemutus kata dan pemimpin ikutan kita dalam segenap kehidupan. Sebaliknya masyarakat Islam hanya mengambil sebahagian yang mereka sukai yang sesuai dengan kehendak nafsu manusia dan meninggalkan sebahagian yang mereka rasa berat untuk diikuti. Ternyata penyerahan hidup manusia terhadap risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW tidak bulat dan tekad lagi, berbanding dengan sikap generasi pertama yang mendokong risalah Rasul SAW dengan begitu tinggi dan bersungguh-sungguh.

Beriman dengan Rasulullah SAW sebenarnya menuntut kita supaya menyerahkan hidup kita kepada arahan Rasulullah SAW. Iaitu mentaati apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang olehnya dengan senang hati. Ini semua memerlukan tarbiyyah yang betul, sebagaimana Rasulullah SAW telah mentarbiyah generasi pertama sehingga generasi ini menjadi tulang belakang kepada kebangkitan tamadun Islam.

Di zaman Rasulullah SAW kehebatan Islam kelihatan dengan jelas. Manakala zaman kini, masyarakat mengaku Islam, tetapi kehebatan Islam tidak kelihatan. Justeru itu kita mestilah melaksanakan kembali Islam dan meninggalkan jahiliyyah.

Beriman Kepada Rasulullah SAW
Dalam konteks beriman kepada Rasulullah SAW, terdapat bebarapa tuntutan, antaranya:

1.Kita perlu didik hati kita hingga redha dengan Rasulullah SAW. Redha bukan sahaja dari segi perkataan kita tetapi juga dari tindakan seharian kita, dalam setiap tempat dan ketika mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

Sabda Rasulullah SAW:

"Bertuahlah orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah melihatku. "

2.Kita menghormati dan mencintai Rasulullah SAW walaupun baginda telah lama meninggalkan kita. Menghormati apa yang ditinggalkan oleh baginda, iaitu Islam yang merupakan ajaran wahyu Allah SWT.

Dalam satu sirah, Tabib bin Qais pernah bercakap dengan suara yang tinggi di hadapan Rasulullah SAW. Turunlah ayat Allah SWT:

"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengangkat suara kamu melebihi suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyedari." (al Hujurat: 2) .

Mendengar ayat tersebut Tabib bin Qais menangis dan hanya duduk dalam rumah, tidak keluar. Rasulullah SAW menyuruh sahabat-sahabat baginda menziarahinya untuk mengetahui mengapa beliau tidak keluar dari rumah. Apabila tiba di rumah Tabib, dia berkata kepada sahabat yang datang:

"Aku telah mengangkat suaraku lebih daripada suara Rasulullah SAW dan Allah SWT telah menurunkan ayat tersebut. Aku rasa Allah SWT memarahiku dan tentulah aku akan dimasukkan ke dalam neraka. "

Para sahabat menceritakan hal Tabib kepada Rasulullah SAW. Maka baginda bersabda:

"Sesungguhnya dia (Tabib) ialah ahli syurga."

Kemudian, berita itu disampaikan kepada Tabib.


Dalam soal cinta kepada Rasulullah SAW, baginda ada bersabda:

”Tidak sempurna iman seseorang kamu sehinggalah dia sanggup menjadikan aku lebih dikasihi daripada dirinya, anaknya, hartanya dan manusia seluruhnya."

3.Kita perlu mencontohi Rasulullah SAW dalam membentuk ummah atau generasi. Generasi awal yang dididik oleh Rasulullah SAW dikenali sebagai Generasi al-Quran yang Unik. Mereka menerima arahan sepertimana komando menerima arahan daripada ketua, malah lebih daripada itu.

Dalam realiti yang tenat kini, kita perlukan satu generasi yang berdaya dan mampu untuk mendokong Islam. Oleh itu kita amat perlu kepada tarbiyah (pendidikan) Islamiyah yang berterusan. Semoga dengan itu lahir kembali InsyaAllah satu generasi yang mempersiapkan segenap potensi dan kepakaran yang dimilikinya untuk taat kepada Allah SWT dan sanggup memikul tugas yang berat, taklif Rabbani.

"Adalah pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi sesiapa yang berharap untuk bertemu dengan Allah dan Hari Akhirat, dan mengingati Allah sebanyak-banyaknya". (Al Ahzab : 21)

4.Kita perlu sentiasa terikat dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dengan cara ini, InsyaAllah kita akan dapat merasai nikmat Islam seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT. Para sahabat RA meninggalkan harta ketika berhijrah untuk mengikuti Rasulullah SAW kerana mereka dapat merasai kenikmatan Islam dan Iman.


5.) Kita perlu beribadah kepada Allah SWT seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam satu sirah, Rasulullah SAW ditanya: "Apakah erti Ehsan?" Jawab baginda: "Kamu mengabdikan diri kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu."

Marilah kita menghayati dan mengikuti madrasah Rasulullah SAW, kembali kepada jalan fitrah yang akan membangkitkan kembali kekuatan umat yang sebenar. Dengan kita mengikuti jalan-jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, insyaAllah Allah akan membantu perjuangan kita membela agama-NYA:

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah.” (an-Nisaa’ : 80)

Wednesday, January 05, 2011


Kehidupan kita sebenarnya adalah ujian daripada Allah SWT. Firman Allah SWT dalam Al Quran yang bermaksud:

“Dia lah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) - untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya; dan ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi orang-orang yang bertaubat).” (Al-Mulk:2)

Dalam ayat di atas, hidup dan mati adalah ujian daripada Allah. Bukan hanya keadaan susah sahaja menjadi ujian dalam kehidupan kita, tetapi kesenangan juga adalah ujian kepada manusia.

“Tiap-tiap diri akan merasai mati, dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan; dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan.” (Al-Anbiya’:35)

Allah SWT menguji manusia dengan kesenangan, kemuliaan, kedudukan tinggi dan kekayaan, Allah SWT juga menguji manusia dengan kesempitan, kepayahan, kemiskinan dan kemelaratan, tujuan hanya satu samada manusia akur, ingat dan taat kepada Allah SWT atau sebaliknya. Allah SWT telah merakamkan dalam Al Quran bagaimana situasi umat-umat terdahulu yang tertipu dengan kesenangan kehidupan yang mereka nikmati sehingga mereka enggan mendengar seruan kebenaran yang di bawakan oleh para Nabi:

“Apakah kamu belum memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (iaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain, dan kaum Thamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Diraun yang mempunyai pasak-pasaka (tentera-tentera yang ramai) yang berbuat banyak kerosakan dalam negeri itu, kerana itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka pelbagai azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (Al Fajr: 6-14)

Begitulah realitinya bangsa-bangsa terdahulu yang diuji dengan kekuatan, kebijakan, kepandaian, kesenangan dan kemewahan, namun semua itu sudah tidak bererti lagi, sebaliknya menjadi bahana kepada mereka di dunia dan di akhirat akibat kekufuran mereka terhadap Allah SWT.

Hari ini, kehidupan manusia tidak jauh bezanya dengan kaum-kaum yang disebutkan oleh Allah SWT di dalam ayat-ayat di atas. Negara-negara mundur di dunia sedang bertungkus lumus menuju kepada Negara membangun, Negara-negara membangun seperti Malaysia, sedang berusaha menuju kepada Negara maju, dan Negara-negara maju seperti Amerika Syarikat dan Jepun sedang berlumba-lumba menjadi Negara “super power”.

Mereka yang beroleh kesenangan dan kemewahan janganlah menyangka bahawa mereka telah mendapat keberkatan dan kemuliaan dalam kehidupan. Manakala mereka yang ditimpa kesusahan, kemiskinan dan kepayahan janganlah pula menyangka bahawa Allah SWT tidak membela kehidupan mereka. Firman Allah SWT:

“Adapun manusia apabila Tuhannya menguji lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata:Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: Tuhanku menghinakanku.” (Al Fajr: 15 – 16)


Begitulah kesilapan manusia dalam memahami tasawur kehidupan. Allah SWT mengujinya dengan kesenangan, kemuliaan, kekayaan atau kedudukan yang tinggi, tetapi manusia tidak menyedari hakikat ujian yang sedang dilalui, Sebaliknya manusia menganggap apa yang diperolehnya adalah merupakan patanda bahawa dia patut dimuliakan oleh Allah SWT. Manusia sebegini menganggap bahawa kemuliaan pada pandangan Allah diukur dengan banyaknya kesenangan dunia yang diperolehinya.

Allah SWT juga menguji manusia dengan membatasi rezeki mereka, dan manusia sekali lagi menganggap cubaan tersebut sebagai balasan. Dia merasakan bahawa Allah SWT telah menjadikannya miskin untuk menghinakannya.

Sesungguhnya konsep yang diambil oleh manusia di dalam kedua-duanya situasi di atas adalah salah. Menurut Sayyid Qutb, kekayaan dan kemiskinan adalah dua bentuk ujian yang Allah SWT berikan ke atas para hambaNya.

Nilai kita di sisi Allah SWT bukan kerana kesenangan hidup yang Allah berikan kepada kita. Allah berikan rezeki kepada orang yang baik dan juga kepada orang yang engkar kepada Allah SWT. Persoalannya, adakah kita sebagai hamba Allah menggunakan rezeki yang Allah berikan untuk laksanakan tanggungjawab kita di jalan Allah?

“ (Ibadat itu dikerjakan oleh) orang-orang yang kuat imannya yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau berjual-beli daripada menyebut serta mengingati Allah, dan mendirikan sembahyang serta memberi zakat; mereka takutkan hari (kiamat) yang padanya berbalik-balik hati dan pandangan.“
(an Nur : 37)


Ketahuilah bahawa ujian harta dan kesenangan akan mendedahkan manusia samada dia akan merendah diri dan bersyukur kepada Tuhannya atau bersikap angkuh dan sombong. Manakala ujian kesusahan dan kemiskinan menguji kesabarannya di dalam berhadapan dengan ujian tersebut .

“Dan Dia lah yang menjadikan malam dan siang silih berganti untuk sesiapa yang mahu beringat (memikirkan kebesaranNya), atau mahu bersyukur (akan nikmat-nikmatNya itu).“ (al Furqan : 62)

“ Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia; dan berbuat baiklah (kepada hamba-hamba Allah) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmatNya yang melimpah-limpah); dan janganlah engkau melakukan kerosakan di muka bumi; sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerosakan.“ (Surah al Qasas : 77)

Sekiranya manusia faham akan konsep sebenar ujian kesenangan dan kesusahan dalam kehidupan ini, dia akan menyedari bahawa remehnya kesenangan dunia ini berbanding ganjaran kesenangan yang hakiki yang akan mereka perolehi di akhirat kelak. Seorang muslim yang benar, tidak akan menghiraukan lagi kepalsuan kekayaan dan keperitan sementara atas kemiskinan yang dihadapi, sebaliknya dia akan merasa tenteram terhadap imannya dan kedudukannya di sisi Allah SWT. Begitulah positifnya sikap seorang muslim yang benar, baginya ujian kesenangan dan kesusahan di dunia adalah jalan kepadanya untuk meraih ganjaran yang kekal yang akan diperolehi di akhirat kelak. Firman Allah SWT:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam syurgaKu.” (Al Fajr: 27-30)

“(Ingatlah) bahawa kehidupan dunia (yang tidak berdasarkan iman dan taqwa) hanyalah ibarat permainan dan hiburan; dan jika kamu beriman serta bertaqwa, Allah akan memberikan kamu pahala amal kamu, dan Ia tidak meminta kepada kamu harta benda kamu (melainkan untuk memberikan kamu barang yang lebih baik daripadanya).“ (Muhammad : 36)

Kehidupan Adalah Satu Ujian


Kehidupan kita sebenarnya adalah ujian daripada Allah SWT. Firman Allah SWT dalam Al Quran yang bermaksud:

“Dia lah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) - untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya; dan ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi orang-orang yang bertaubat).” (Al-Mulk:2)

Dalam ayat di atas, hidup dan mati adalah ujian daripada Allah. Bukan hanya keadaan susah sahaja menjadi ujian dalam kehidupan kita, tetapi kesenangan juga adalah ujian kepada manusia.

“Tiap-tiap diri akan merasai mati, dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan; dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan.” (Al-Anbiya’:35)

Allah SWT menguji manusia dengan kesenangan, kemuliaan, kedudukan tinggi dan kekayaan, Allah SWT juga menguji manusia dengan kesempitan, kepayahan, kemiskinan dan kemelaratan, tujuan hanya satu samada manusia akur, ingat dan taat kepada Allah SWT atau sebaliknya. Allah SWT telah merakamkan dalam Al Quran bagaimana situasi umat-umat terdahulu yang tertipu dengan kesenangan kehidupan yang mereka nikmati sehingga mereka enggan mendengar seruan kebenaran yang di bawakan oleh para Nabi:

“Apakah kamu belum memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (iaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain, dan kaum Thamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Diraun yang mempunyai pasak-pasaka (tentera-tentera yang ramai) yang berbuat banyak kerosakan dalam negeri itu, kerana itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka pelbagai azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (Al Fajr: 6-14)

Begitulah realitinya bangsa-bangsa terdahulu yang diuji dengan kekuatan, kebijakan, kepandaian, kesenangan dan kemewahan, namun semua itu sudah tidak bererti lagi, sebaliknya menjadi bahana kepada mereka di dunia dan di akhirat akibat kekufuran mereka terhadap Allah SWT.

Hari ini, kehidupan manusia tidak jauh bezanya dengan kaum-kaum yang disebutkan oleh Allah SWT di dalam ayat-ayat di atas. Negara-negara mundur di dunia sedang bertungkus lumus menuju kepada Negara membangun, Negara-negara membangun seperti Malaysia, sedang berusaha menuju kepada Negara maju, dan Negara-negara maju seperti Amerika Syarikat dan Jepun sedang berlumba-lumba menjadi Negara “super power”.

Mereka yang beroleh kesenangan dan kemewahan janganlah menyangka bahawa mereka telah mendapat keberkatan dan kemuliaan dalam kehidupan. Manakala mereka yang ditimpa kesusahan, kemiskinan dan kepayahan janganlah pula menyangka bahawa Allah SWT tidak membela kehidupan mereka. Firman Allah SWT:

“Adapun manusia apabila Tuhannya menguji lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata:Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: Tuhanku menghinakanku.” (Al Fajr: 15 – 16)


Begitulah kesilapan manusia dalam memahami tasawur kehidupan. Allah SWT mengujinya dengan kesenangan, kemuliaan, kekayaan atau kedudukan yang tinggi, tetapi manusia tidak menyedari hakikat ujian yang sedang dilalui, Sebaliknya manusia menganggap apa yang diperolehnya adalah merupakan patanda bahawa dia patut dimuliakan oleh Allah SWT. Manusia sebegini menganggap bahawa kemuliaan pada pandangan Allah diukur dengan banyaknya kesenangan dunia yang diperolehinya.

Allah SWT juga menguji manusia dengan membatasi rezeki mereka, dan manusia sekali lagi menganggap cubaan tersebut sebagai balasan. Dia merasakan bahawa Allah SWT telah menjadikannya miskin untuk menghinakannya.

Sesungguhnya konsep yang diambil oleh manusia di dalam kedua-duanya situasi di atas adalah salah. Menurut Sayyid Qutb, kekayaan dan kemiskinan adalah dua bentuk ujian yang Allah SWT berikan ke atas para hambaNya.

Nilai kita di sisi Allah SWT bukan kerana kesenangan hidup yang Allah berikan kepada kita. Allah berikan rezeki kepada orang yang baik dan juga kepada orang yang engkar kepada Allah SWT. Persoalannya, adakah kita sebagai hamba Allah menggunakan rezeki yang Allah berikan untuk laksanakan tanggungjawab kita di jalan Allah?

“ (Ibadat itu dikerjakan oleh) orang-orang yang kuat imannya yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau berjual-beli daripada menyebut serta mengingati Allah, dan mendirikan sembahyang serta memberi zakat; mereka takutkan hari (kiamat) yang padanya berbalik-balik hati dan pandangan.“
(an Nur : 37)


Ketahuilah bahawa ujian harta dan kesenangan akan mendedahkan manusia samada dia akan merendah diri dan bersyukur kepada Tuhannya atau bersikap angkuh dan sombong. Manakala ujian kesusahan dan kemiskinan menguji kesabarannya di dalam berhadapan dengan ujian tersebut .

“Dan Dia lah yang menjadikan malam dan siang silih berganti untuk sesiapa yang mahu beringat (memikirkan kebesaranNya), atau mahu bersyukur (akan nikmat-nikmatNya itu).“ (al Furqan : 62)

“ Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia; dan berbuat baiklah (kepada hamba-hamba Allah) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmatNya yang melimpah-limpah); dan janganlah engkau melakukan kerosakan di muka bumi; sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerosakan.“ (Surah al Qasas : 77)

Sekiranya manusia faham akan konsep sebenar ujian kesenangan dan kesusahan dalam kehidupan ini, dia akan menyedari bahawa remehnya kesenangan dunia ini berbanding ganjaran kesenangan yang hakiki yang akan mereka perolehi di akhirat kelak. Seorang muslim yang benar, tidak akan menghiraukan lagi kepalsuan kekayaan dan keperitan sementara atas kemiskinan yang dihadapi, sebaliknya dia akan merasa tenteram terhadap imannya dan kedudukannya di sisi Allah SWT. Begitulah positifnya sikap seorang muslim yang benar, baginya ujian kesenangan dan kesusahan di dunia adalah jalan kepadanya untuk meraih ganjaran yang kekal yang akan diperolehi di akhirat kelak. Firman Allah SWT:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam syurgaKu.” (Al Fajr: 27-30)

“(Ingatlah) bahawa kehidupan dunia (yang tidak berdasarkan iman dan taqwa) hanyalah ibarat permainan dan hiburan; dan jika kamu beriman serta bertaqwa, Allah akan memberikan kamu pahala amal kamu, dan Ia tidak meminta kepada kamu harta benda kamu (melainkan untuk memberikan kamu barang yang lebih baik daripadanya).“ (Muhammad : 36)

Wednesday, December 29, 2010


Kalau saya tanyakan pada anda, di antara syurga dan neraka, yang mana anda pilih? Saya sudah tentu pilih syurga. Anda, pasti pilih syurgakan? Selain syurga, apa pilihan yang kita ada? Neraka! Semoga Allah lindungi kita dari azab neraka. Ada pilihan ketiga tak? Tidak ada pilihan keempat, kelima dan seterusnya.Bahkan tiada pilihan tengah-tengah. Yang ada hanya 2 pilihan, syurga atau neraka.

Pilih Jalan
Di dunia yang sedang kita berprestasi ini, kita juga perlu pilih jalan kehidupan, kalau nak syurga, maka kita juga perlu memilih jalan yang akan membawa kita ke syurga, kemudian istiqamah melalui jalan tersebut. Kalau kita melalui jalan-jalan ke neraka, apakah kita akan sampai ke syurga? Maknanya, untuk memilih ke syurga, kita wajib memilih dan melalui jalan-jalan yang membawa kita ke syurga, insyaAllah kita akan sampai ke syurga dengan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Kata Ibnu Taimiyah, kalau kita melakukan amalan-amalan syurga, bererti kita telah memasuki taman-taman syurga dunia, barang siapa yang tidak memasuki taman syurga di dunia, dia tidak akan mampu memasuki taman syurga di akhirat kelak.

Maka marilah kita bermuhasabah, sudah sejauh mana kita istiqamah melalui jalan-jalan ke syurga? Beramallah dengan amalan ke syurga, walaupun sedikit tetapi tetap istiqamah. Sebaliknya janganlah kita berangan memilih ke syurga tetapi secara sedar atau tidak, setiap hari kita memilih dan melalui jalan-jalan kegelapan yang menuju ke neraka, walaupun kita tidak pilih untuk menuju ke sana.

Kita sedar kita lemah, terkadang buat salah dan silap, terikut juga lorong-lorong kegelapan. Maka bersegeralah bertaubat kerana taubat adalah jalan terbaik menuju ke syurga.

“..dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (An-Nuur:31).

Hijrah Jalan
Taubat yang kita lakukan adalah hijrah kita dari jalan kegelapan kepada jalan cahaya, kemudian istiqamahlah di jalan cahaya itu.

“Wahai orang-orang yang beriman! bertaubatlah kamu kepada Allah dengan " taubat Nasuha", Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai.” (At-Tahrim:8)

Rasulullah SAW sendiri yang terlindung dari dosa, bahkan baginda merupakan pemimpin dan penunjuk jalan-jalan ke syurga, tidak pernah terlepas memohon keampunan dari Allah SWT.

“Demi Allah, aku minta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-NYA sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari.” (Riwayat Al Bukhari)

Sebenarnya kita sudah ditunjukkan jalan-jalan menuju ke syurga oleh pemilik syurga, Allah SWT. Malangnya kita yang terlupa, buat-buat lupa atau enggan untuk memilih dan melalui jalan-jalan itu.

Terlupa Jalan?
Akhirnya di akhirat kelak, Allah SWT akan melupakan kita, dan pada saat itu kita tidak ada pilihan lain, kita akan menjadi penghuni neraka Allah SWT. Firman-NYA:

"Demikianlah keadaannya! telah datang ayat-ayat keterangan Kami kepadaMu, lalu engkau melupakan serta meninggalkannya, dan demikianlah engkau pada hari ini dilupakan serta ditinggalkan". (Thaha: 126)
“dan (sebaliknya) sesiapa yang berada di dunia ini (dalam keadaan) buta (matahatinya), maka ia juga buta di akhirat dan lebih sesat lagi dari jalan yang benar.” (Al-Isra’: 72)


Justeru janganlah kita leka dan lalai dalam kehidupan. Selalulah ‘check’, jalan yang mana sedang kita lalui di sepanjang kehidupan. Ingat! Kita tidak ada pilihan melainkan memilih jalan ke syurga dan istiqamah di atas jalan tersebut.

Penulis akhiri tips dari Saidina Ali Bin Abi Thalib RA dengan enam jalan menuju ke syurga dan menghindari jalan ke neraka, semoga memberi panduan buat kita bersama.

“Barangsiapa menghimpun enam pengetahuan, maka tidak sukar baginya mencari syurga dan menjauhi neraka. Pertama, mengenali Allah kemudian mentaati-NYA, Kedua, mengenali syaitan kemudian menentangnya. Ketiga mengenali akhirat kemudian mengharapnya. Keempat, mengenali dunia, kemudian menjauhinya (zuhud). Kelima mengenali kebenaran lalu mengikutinya. Keenam mengenali kebatilan, kemudian menghindarinya.”

Tidak Ada Pilihan Ketiga


Kalau saya tanyakan pada anda, di antara syurga dan neraka, yang mana anda pilih? Saya sudah tentu pilih syurga. Anda, pasti pilih syurgakan? Selain syurga, apa pilihan yang kita ada? Neraka! Semoga Allah lindungi kita dari azab neraka. Ada pilihan ketiga tak? Tidak ada pilihan keempat, kelima dan seterusnya.Bahkan tiada pilihan tengah-tengah. Yang ada hanya 2 pilihan, syurga atau neraka.

Pilih Jalan
Di dunia yang sedang kita berprestasi ini, kita juga perlu pilih jalan kehidupan, kalau nak syurga, maka kita juga perlu memilih jalan yang akan membawa kita ke syurga, kemudian istiqamah melalui jalan tersebut. Kalau kita melalui jalan-jalan ke neraka, apakah kita akan sampai ke syurga? Maknanya, untuk memilih ke syurga, kita wajib memilih dan melalui jalan-jalan yang membawa kita ke syurga, insyaAllah kita akan sampai ke syurga dengan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Kata Ibnu Taimiyah, kalau kita melakukan amalan-amalan syurga, bererti kita telah memasuki taman-taman syurga dunia, barang siapa yang tidak memasuki taman syurga di dunia, dia tidak akan mampu memasuki taman syurga di akhirat kelak.

Maka marilah kita bermuhasabah, sudah sejauh mana kita istiqamah melalui jalan-jalan ke syurga? Beramallah dengan amalan ke syurga, walaupun sedikit tetapi tetap istiqamah. Sebaliknya janganlah kita berangan memilih ke syurga tetapi secara sedar atau tidak, setiap hari kita memilih dan melalui jalan-jalan kegelapan yang menuju ke neraka, walaupun kita tidak pilih untuk menuju ke sana.

Kita sedar kita lemah, terkadang buat salah dan silap, terikut juga lorong-lorong kegelapan. Maka bersegeralah bertaubat kerana taubat adalah jalan terbaik menuju ke syurga.

“..dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (An-Nuur:31).

Hijrah Jalan
Taubat yang kita lakukan adalah hijrah kita dari jalan kegelapan kepada jalan cahaya, kemudian istiqamahlah di jalan cahaya itu.

“Wahai orang-orang yang beriman! bertaubatlah kamu kepada Allah dengan " taubat Nasuha", Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai.” (At-Tahrim:8)

Rasulullah SAW sendiri yang terlindung dari dosa, bahkan baginda merupakan pemimpin dan penunjuk jalan-jalan ke syurga, tidak pernah terlepas memohon keampunan dari Allah SWT.

“Demi Allah, aku minta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-NYA sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari.” (Riwayat Al Bukhari)

Sebenarnya kita sudah ditunjukkan jalan-jalan menuju ke syurga oleh pemilik syurga, Allah SWT. Malangnya kita yang terlupa, buat-buat lupa atau enggan untuk memilih dan melalui jalan-jalan itu.

Terlupa Jalan?
Akhirnya di akhirat kelak, Allah SWT akan melupakan kita, dan pada saat itu kita tidak ada pilihan lain, kita akan menjadi penghuni neraka Allah SWT. Firman-NYA:

"Demikianlah keadaannya! telah datang ayat-ayat keterangan Kami kepadaMu, lalu engkau melupakan serta meninggalkannya, dan demikianlah engkau pada hari ini dilupakan serta ditinggalkan". (Thaha: 126)
“dan (sebaliknya) sesiapa yang berada di dunia ini (dalam keadaan) buta (matahatinya), maka ia juga buta di akhirat dan lebih sesat lagi dari jalan yang benar.” (Al-Isra’: 72)


Justeru janganlah kita leka dan lalai dalam kehidupan. Selalulah ‘check’, jalan yang mana sedang kita lalui di sepanjang kehidupan. Ingat! Kita tidak ada pilihan melainkan memilih jalan ke syurga dan istiqamah di atas jalan tersebut.

Penulis akhiri tips dari Saidina Ali Bin Abi Thalib RA dengan enam jalan menuju ke syurga dan menghindari jalan ke neraka, semoga memberi panduan buat kita bersama.

“Barangsiapa menghimpun enam pengetahuan, maka tidak sukar baginya mencari syurga dan menjauhi neraka. Pertama, mengenali Allah kemudian mentaati-NYA, Kedua, mengenali syaitan kemudian menentangnya. Ketiga mengenali akhirat kemudian mengharapnya. Keempat, mengenali dunia, kemudian menjauhinya (zuhud). Kelima mengenali kebenaran lalu mengikutinya. Keenam mengenali kebatilan, kemudian menghindarinya.”

Monday, December 27, 2010

Penulis baru-baru ini dijemput menjadi pembicara forum “Keagungan Cinta, Bunga Bukan Sekuntum, Kumbang Bukan Seekor, Tetapi…” anjuran sebuah persatuan mahasiswa di KUIS Selangor.

Berbicara tentang cinta di hadapan para pemuda dan pemudi Islam memerlukan satu kekuatan ruhiyah (HDA= Hubungan dengan Allah) dan interaksi yang tinggi dengan Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Ini kerana generasi muda begitu ghairah dan teruja tatkala mendengar kalimah cinta. Dan semakin mencabar lagi, ramai juga para remaja remaji dan para pemuda pemudi Islam kita hari ini telah dipesongkan kefahaman mereka terhadap erti cinta yang sebenar, sehinggakan generasi muda ini terpedaya dengan cinta palsu lagi rapuh. Mereka lebih rela mendahului cintanya kepada manusia berbanding kepada cinta yang agung dan tertinggi yakni cinta kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan Islam, yang kita sebutkan sebagai cinta berpaksikan wahyu.

Asas Cinta Berpaksikan Wahyu
Walaubagaimanapun ada satu persoalan yang timbul. Siapa, di mana dan bagaimanakah model percintaan yang berpaksikan wahyu? Sudah tentu generasi muda ini memerlukan petunjuk dan model untuk mereka memahami dan menyelami erti cinta yang sebenar lantas mencontohinya. Hari ini contoh yang ada di luar sana kebanyakkan adalah cinta yang berpaksikan hawa nafsu dan kepentingan peribadi semata, sehingga berlaku perlanggaran syara’ dan adab-adab akhlak Islam. Cinta seringkali diperalatkan untuk melangsaikan keghairahan nafsu dan kebejadan iblis laknatullah. Ini menjadi satu cabaran buat umat Islam untuk mengetengahkan kepada para pemuda pemudi model cinta teragung agar mereka tidak kehilangan model rujukan.

Sebenarnya model itu ada pada diri Rasulullah SAW, para sahabat, para ulama dan para du’ah, tetapi tidak dipopularitikan atau dijadikan panduan dan ikutan, sebaliknya manusia hari ini lebih suka mempopularitikan model cinta palsu lagi rapuh kerana model tersebut glamour dan terkini kononnya. Media massa, media cetak dan media elektronik lebih dominan dan berminat mengetengahkan episod cinta manusia yang terpisah dari tujuan dan kemuliaan cinta itu sendiri. Mereka berjaya mengolah cinta yang berasaskan hawa nafsu menjadi cinta mulia dan agung. Demi kemakmuran manusia sejagat , kita mesti menangani fenomena cinta palsu ini dengan nilai fikrah yang suci dan iman yang komited kepada Allah SWT.

Islam tidak melarang kita bercinta selagi mana cintanya berpaksikan kepada wahyu. Bagaimana kita mahu bercinta berpaksikan kepada wahyu?

Pertamanya, sudah tentulah paksi kefahamannya sebelum bercinta adalah bersumberkan wahyu, bukan bersumberkan cinta barat yang slogannya cinta tanpa batas, cinta musim salji, cinta bollywood atau cinta melayu yang mula kehilangan adab tatasusilanya. Kesemua cinta tersebut asasnya dipengaruhi hawa nafsu dan bisikan syaitan.

Islam agama yang sempurna lagi lengkap, justeru Islam memandu manusia dalam segala hal, samada sebelum, semasa mahupun selepas melakukan sesuatu urusan. Contohnya, sebelum solat, ada persiapan dan mindsettingnya, semasa solat ada rukun, adab-adab wajib dan sunnatnya, dan selepas solat ada outcomes atau natijah yang harus dijelmakan oleh muslim dalam kehidupannya. Semuanya samada pra, ketika dan pasca sesuatu urusan itu mestilah asas dan paksinya bersumberkan wahyu. Tidak boleh kita pandai-pandai mencipta citarasa dan gaya kita sendiri. Bolehkah kita nak solat tanpa ada wudhu’? Bolehkah solat ikut ‘style’ yang kita suka? Bolehkah selepas solat kita minum arak, berjudi dan ber…… lagi? Dan makin teruk lagi kalau tak solat langsung.. kalau tak solat, hidup berpaksikan wahyu ke?

Begitu juga dalam urusan cinta, sebelum mahu bercinta, perlu ada kefahamannya, agar tidak tersalah faham. Untuk memahami cinta, kita tidak boleh pisahkan cinta dengan sang pemilik cinta, iaitu Allah SWT. Maka titik tolak untuk kita memulakan cinta, mestilah merujuk akreditasi yang telah Allah SWT tetapkan.
Kepada yang masih ‘single’ atau sedang berpacaran tanpa lesen sah, mari kita tadabbur, ayat cinta dari Allah SWT yang akan menjadi panduan untuk kita, apakah mindsetting yang betul dan tepat sebelum kita benar-benar mahu menemukan cinta yang terhebat. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan (kemaluan) mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; Sesungguhnya Allah amat mendalam pengetahuannya tentang apa yang mereka kerjakan. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan (kemaluan) mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka…..” (An Nuur: 30 – 31)

Tundukan Pandanganmu
Sesungguhnya Islam berusaha keras membangun individu dan masyarakat yang bersih, jauh dari rangsangan-rangsangan berahi, dan dorongan-dorongan nafsu bergejolak setiap waktu. Proses rangsangan akan terus berjalan tanpa pernah henti, sehingga manusia mudah mengikut nafsu haiwaninya. Pandangan mata, dandanan yang mengundang selera, dan penampilan diri dan pemakaian yang tidak mengikut paksi syara’, menjadi bunga-bunga yang membangkitkan selera nafsu. Ketahuilah ramai yang terjatuh cinta adalah kerana faktor-faktor selera nafsu yang terbangkit dek kerana melihat si pulan dan si pulan.

Islam memandu kita untuk memulakan cinta, iaitu dengan menundukkan pandangannya terlebih dahulu sebelum mencari cinta manusia. Ertinya mengalihkan dengan cepat pandangan yang tanpa sengaja melihat sesuatu yang telah Allah haramkan. Menundukkan pandangan bagi seorang lelaki menunjukkan peribadi yang beradab mulia. Ia merupakan usaha untuk membersihkan jiwa dengan meredam gejolak nafsu yang ingin memperhatikan keindahan, pesona dan fitnah yang ada pada wajah atau fisik lawan jenisnya. Dengan menjaga pandangan ini, maka tertutuplah pintu pertama yang menyeret kepada penyimpangan dan godaan. Ini karektor peribadi yang jujur dalam mencari cinta.

Hari ini perasaan rindu dan sayang bergejolak antara lelaki dan wanita bukan mahram, puncanya, matanya telah pun awal-awal lagi melakukan zina mata, dia engkar kepada tips dan panduan Allah SWT. Maka sebenarnya perasaan cinta, rindu dan sayang itu muncul atas dasar nafsu, bukan wahyu.

Bercinta Bersama Syaitan?
Selepas kita lulus syarat pertama, menjaga pandangan, syarat seterusnya kita dengarkan pesanan Rasulullah SAW:

“Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka janganlah dia bertemu bersendirian di suatu tempat dengan seorang wanita yang tiada sertanya mahram daripadanya kerana sesungguhnya yang ketiganya tentulah syaitan.” ( Riwayat Imam Ahmad )

“Janganlah seseorang lelaki bertemu sendirian dengan seorang wanita yang tidak halal baginya kerana bahawasanya yang ketiganya tentu syaitan kecuali jika dengan mahramnya. ( Riwayat Imam Ahmad )

Kalau mahu bercinta, jangan ada langsung niat mahu berjumpa berdua-duaan. Maknanya,selama ini, pasangan couple ‘haram’ yang bertebaran di shopping complex, taman bunga, atas motor, tepi tasik, tepi laut dan sebagainya adalah pasangan yang tidak bercinta berpaksikan wahyu, sebaliknya saat mereka menyuburkan cinta, mereka ditemani syaitan. Wah! Indahnya cinta mereka!.

“Kalau nak buat juga, macamana, kami bukannya buat apa-apapun, Duduk-duduk aje, sembang-sembang aje”. Ayat ini anda boleh simpan dulu, nanti gunakan semula saat perbicaraan di mahkamah Allah SWT. Masa tu, jadilah peguam bela kepada diri sendiri dan gunakanlah hujah-hujah bernas anda itu.

Apakah kita masih tidak faham? Pasangan yang tetap merasakan bahawa cinta mereka yang belum dapat lesen sah ini betul dan tidak salah, sebenarnya telah pun membuat keputusan menolak cinta berpaksikan wahyu! Bahaya tu, lebih kurang sama tak menolak wahyu, menolak Al Quran, menolak Rasulullah SAW. menolak cara hidup Islam! Firman Allah SWT:


“Maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Taha : 123-124)


Fikir-fikirkan.

Alam Penzinaan
Akhir sekali buat catatan kali ini, tips sebelum kita mahu bercinta, dan kita mahu bercinta berpaksikan wahyu, fahami pesanan ‘keras’ Rasulullah SAW buat kita semua:

”Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bahagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka orang yang bercouple tanpa lesen sah ini adalah orang yang telah memiliki semua kuncinya. Bila-bila saja dia boleh masuk ke alam perzinaan.

Bukankah saat berdua-duaan itu tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang?
Bukankah dengan berpacaran, ia akan sering melembut-lembutkan suara di hadapan kekanda/adindanya?
Bukankah orang yang berpacaran senantiasa memikirkan dan membayangkan keadaan kekanda/adindanya?
Maka farjinya pun akan segera mengikutinya. Akhirnya penyesalan tinggalah penyesalan.

Semoga anda sudah menemui formula bagaimana mahu bercinta berpaksikan wahyu. Mudah sahaja, ikut dengan taat apa yang Allah SWT dan Rasulullah SAW ajarkan kepada kita. Untuk ikut ajaran dan panduan itu, maka binalah dulu cinta anda kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, barulah insyaAllah anda tidak akan merasa berat dan beban untuk ikut dan patuh setiap tips cinta berpaksikan wahyu yang diberikan di atas. Selamat beramal dan selamat menemui cinta hakiki!

Cinta Berpaksikan Wahyu

Penulis baru-baru ini dijemput menjadi pembicara forum “Keagungan Cinta, Bunga Bukan Sekuntum, Kumbang Bukan Seekor, Tetapi…” anjuran sebuah persatuan mahasiswa di KUIS Selangor.

Berbicara tentang cinta di hadapan para pemuda dan pemudi Islam memerlukan satu kekuatan ruhiyah (HDA= Hubungan dengan Allah) dan interaksi yang tinggi dengan Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Ini kerana generasi muda begitu ghairah dan teruja tatkala mendengar kalimah cinta. Dan semakin mencabar lagi, ramai juga para remaja remaji dan para pemuda pemudi Islam kita hari ini telah dipesongkan kefahaman mereka terhadap erti cinta yang sebenar, sehinggakan generasi muda ini terpedaya dengan cinta palsu lagi rapuh. Mereka lebih rela mendahului cintanya kepada manusia berbanding kepada cinta yang agung dan tertinggi yakni cinta kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan Islam, yang kita sebutkan sebagai cinta berpaksikan wahyu.

Asas Cinta Berpaksikan Wahyu
Walaubagaimanapun ada satu persoalan yang timbul. Siapa, di mana dan bagaimanakah model percintaan yang berpaksikan wahyu? Sudah tentu generasi muda ini memerlukan petunjuk dan model untuk mereka memahami dan menyelami erti cinta yang sebenar lantas mencontohinya. Hari ini contoh yang ada di luar sana kebanyakkan adalah cinta yang berpaksikan hawa nafsu dan kepentingan peribadi semata, sehingga berlaku perlanggaran syara’ dan adab-adab akhlak Islam. Cinta seringkali diperalatkan untuk melangsaikan keghairahan nafsu dan kebejadan iblis laknatullah. Ini menjadi satu cabaran buat umat Islam untuk mengetengahkan kepada para pemuda pemudi model cinta teragung agar mereka tidak kehilangan model rujukan.

Sebenarnya model itu ada pada diri Rasulullah SAW, para sahabat, para ulama dan para du’ah, tetapi tidak dipopularitikan atau dijadikan panduan dan ikutan, sebaliknya manusia hari ini lebih suka mempopularitikan model cinta palsu lagi rapuh kerana model tersebut glamour dan terkini kononnya. Media massa, media cetak dan media elektronik lebih dominan dan berminat mengetengahkan episod cinta manusia yang terpisah dari tujuan dan kemuliaan cinta itu sendiri. Mereka berjaya mengolah cinta yang berasaskan hawa nafsu menjadi cinta mulia dan agung. Demi kemakmuran manusia sejagat , kita mesti menangani fenomena cinta palsu ini dengan nilai fikrah yang suci dan iman yang komited kepada Allah SWT.

Islam tidak melarang kita bercinta selagi mana cintanya berpaksikan kepada wahyu. Bagaimana kita mahu bercinta berpaksikan kepada wahyu?

Pertamanya, sudah tentulah paksi kefahamannya sebelum bercinta adalah bersumberkan wahyu, bukan bersumberkan cinta barat yang slogannya cinta tanpa batas, cinta musim salji, cinta bollywood atau cinta melayu yang mula kehilangan adab tatasusilanya. Kesemua cinta tersebut asasnya dipengaruhi hawa nafsu dan bisikan syaitan.

Islam agama yang sempurna lagi lengkap, justeru Islam memandu manusia dalam segala hal, samada sebelum, semasa mahupun selepas melakukan sesuatu urusan. Contohnya, sebelum solat, ada persiapan dan mindsettingnya, semasa solat ada rukun, adab-adab wajib dan sunnatnya, dan selepas solat ada outcomes atau natijah yang harus dijelmakan oleh muslim dalam kehidupannya. Semuanya samada pra, ketika dan pasca sesuatu urusan itu mestilah asas dan paksinya bersumberkan wahyu. Tidak boleh kita pandai-pandai mencipta citarasa dan gaya kita sendiri. Bolehkah kita nak solat tanpa ada wudhu’? Bolehkah solat ikut ‘style’ yang kita suka? Bolehkah selepas solat kita minum arak, berjudi dan ber…… lagi? Dan makin teruk lagi kalau tak solat langsung.. kalau tak solat, hidup berpaksikan wahyu ke?

Begitu juga dalam urusan cinta, sebelum mahu bercinta, perlu ada kefahamannya, agar tidak tersalah faham. Untuk memahami cinta, kita tidak boleh pisahkan cinta dengan sang pemilik cinta, iaitu Allah SWT. Maka titik tolak untuk kita memulakan cinta, mestilah merujuk akreditasi yang telah Allah SWT tetapkan.
Kepada yang masih ‘single’ atau sedang berpacaran tanpa lesen sah, mari kita tadabbur, ayat cinta dari Allah SWT yang akan menjadi panduan untuk kita, apakah mindsetting yang betul dan tepat sebelum kita benar-benar mahu menemukan cinta yang terhebat. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan (kemaluan) mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; Sesungguhnya Allah amat mendalam pengetahuannya tentang apa yang mereka kerjakan. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan (kemaluan) mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka…..” (An Nuur: 30 – 31)

Tundukan Pandanganmu
Sesungguhnya Islam berusaha keras membangun individu dan masyarakat yang bersih, jauh dari rangsangan-rangsangan berahi, dan dorongan-dorongan nafsu bergejolak setiap waktu. Proses rangsangan akan terus berjalan tanpa pernah henti, sehingga manusia mudah mengikut nafsu haiwaninya. Pandangan mata, dandanan yang mengundang selera, dan penampilan diri dan pemakaian yang tidak mengikut paksi syara’, menjadi bunga-bunga yang membangkitkan selera nafsu. Ketahuilah ramai yang terjatuh cinta adalah kerana faktor-faktor selera nafsu yang terbangkit dek kerana melihat si pulan dan si pulan.

Islam memandu kita untuk memulakan cinta, iaitu dengan menundukkan pandangannya terlebih dahulu sebelum mencari cinta manusia. Ertinya mengalihkan dengan cepat pandangan yang tanpa sengaja melihat sesuatu yang telah Allah haramkan. Menundukkan pandangan bagi seorang lelaki menunjukkan peribadi yang beradab mulia. Ia merupakan usaha untuk membersihkan jiwa dengan meredam gejolak nafsu yang ingin memperhatikan keindahan, pesona dan fitnah yang ada pada wajah atau fisik lawan jenisnya. Dengan menjaga pandangan ini, maka tertutuplah pintu pertama yang menyeret kepada penyimpangan dan godaan. Ini karektor peribadi yang jujur dalam mencari cinta.

Hari ini perasaan rindu dan sayang bergejolak antara lelaki dan wanita bukan mahram, puncanya, matanya telah pun awal-awal lagi melakukan zina mata, dia engkar kepada tips dan panduan Allah SWT. Maka sebenarnya perasaan cinta, rindu dan sayang itu muncul atas dasar nafsu, bukan wahyu.

Bercinta Bersama Syaitan?
Selepas kita lulus syarat pertama, menjaga pandangan, syarat seterusnya kita dengarkan pesanan Rasulullah SAW:

“Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka janganlah dia bertemu bersendirian di suatu tempat dengan seorang wanita yang tiada sertanya mahram daripadanya kerana sesungguhnya yang ketiganya tentulah syaitan.” ( Riwayat Imam Ahmad )

“Janganlah seseorang lelaki bertemu sendirian dengan seorang wanita yang tidak halal baginya kerana bahawasanya yang ketiganya tentu syaitan kecuali jika dengan mahramnya. ( Riwayat Imam Ahmad )

Kalau mahu bercinta, jangan ada langsung niat mahu berjumpa berdua-duaan. Maknanya,selama ini, pasangan couple ‘haram’ yang bertebaran di shopping complex, taman bunga, atas motor, tepi tasik, tepi laut dan sebagainya adalah pasangan yang tidak bercinta berpaksikan wahyu, sebaliknya saat mereka menyuburkan cinta, mereka ditemani syaitan. Wah! Indahnya cinta mereka!.

“Kalau nak buat juga, macamana, kami bukannya buat apa-apapun, Duduk-duduk aje, sembang-sembang aje”. Ayat ini anda boleh simpan dulu, nanti gunakan semula saat perbicaraan di mahkamah Allah SWT. Masa tu, jadilah peguam bela kepada diri sendiri dan gunakanlah hujah-hujah bernas anda itu.

Apakah kita masih tidak faham? Pasangan yang tetap merasakan bahawa cinta mereka yang belum dapat lesen sah ini betul dan tidak salah, sebenarnya telah pun membuat keputusan menolak cinta berpaksikan wahyu! Bahaya tu, lebih kurang sama tak menolak wahyu, menolak Al Quran, menolak Rasulullah SAW. menolak cara hidup Islam! Firman Allah SWT:


“Maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Taha : 123-124)


Fikir-fikirkan.

Alam Penzinaan
Akhir sekali buat catatan kali ini, tips sebelum kita mahu bercinta, dan kita mahu bercinta berpaksikan wahyu, fahami pesanan ‘keras’ Rasulullah SAW buat kita semua:

”Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bahagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka orang yang bercouple tanpa lesen sah ini adalah orang yang telah memiliki semua kuncinya. Bila-bila saja dia boleh masuk ke alam perzinaan.

Bukankah saat berdua-duaan itu tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang?
Bukankah dengan berpacaran, ia akan sering melembut-lembutkan suara di hadapan kekanda/adindanya?
Bukankah orang yang berpacaran senantiasa memikirkan dan membayangkan keadaan kekanda/adindanya?
Maka farjinya pun akan segera mengikutinya. Akhirnya penyesalan tinggalah penyesalan.

Semoga anda sudah menemui formula bagaimana mahu bercinta berpaksikan wahyu. Mudah sahaja, ikut dengan taat apa yang Allah SWT dan Rasulullah SAW ajarkan kepada kita. Untuk ikut ajaran dan panduan itu, maka binalah dulu cinta anda kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, barulah insyaAllah anda tidak akan merasa berat dan beban untuk ikut dan patuh setiap tips cinta berpaksikan wahyu yang diberikan di atas. Selamat beramal dan selamat menemui cinta hakiki!

Friday, December 24, 2010


Anda bercita-cita untuk menjadi cemerlang? Siapa model yang kita jadikannya sebagai teladan dalam kehidupan. Islam tidak pernah kurang dalam melahirkan suri teladan yang luar biasa dalam perjalanan risalahnya. Rasulullah SAW yang merupakan suri teladan terbaik di sepanjang kehidupan umat ini telah membentuk dan membina generasi contoh dan ikutan yang luarbiasa untuk kita jejaki dan teladani.

Pada pandangan anda, apakah kecemerlangan yang akan dapat kita contohi daripada seorang pemuda yang hanya bekerja sebagai pengembala kambing? Inilah luarbiasanya tarbiyah Rasulullah SAW, baginda mampu melakukan anjakan paradigma ke dalam hati dan jiwa seorang pemuda pengembala kambing sehingga akhirnya pemuda itu pernah diangkat menjadi Gabenor Mesir.

Ayuh kita menjejaki pemuda luarbiasa yang hebat dan cemerlang, ‘Uqbah bin ‘Amir al Juhaniy.

Sayangkan Kambing
‘Uqbah bin ‘Amir al Juhaniy adalah di antara 12 orang pemuda yang memeluk Islam dan tinggal jauh dari kota Madinah untuk mengembala kambing di kawasan perkampungan. Setelah memeluk Islam di Kota Madinah, beliau dan sahabat-sahabatnya terpaksa berangkat ke pendalaman kampung untuk meneruskan kerja asasi mereka, mengembala kambing.

Suatu hari mereka berbincang dan berpandangan: “Tiada gunanya jika kita tidak bertemu Rasulullah SAW setiap hari untuk memahami agama dan mendengar wahyu dari langit. Apa kata setiap hari seorang kalangan kita bergilir-gilir pergi ke Yathrib. TInggalkan kambingnya dan mereka yang tidak ikut serta kalangan kita akan menjaganya.

Pada pandangan anda, apakah respon ‘Uqbah?

‘Uqbah telah berkata:

“Kamu semua pergilah bergilir-gilir bertemu Rasulullah SAW. Biar saya sahaja yang menjaga kambing kamu semua. Kerana saya sangat kasihan kepada kambing saya untuk ditinggalkan kepada orang lain.”

Pelik jawapan ‘Uqbah kan? Dia lebih sayangkan kambingnya daripada bertemu dengan Rasulullah SAW. Terkadang kita juga begitu, kita lebih sayangkan sesuatu sehingga tidak sanggup untuk melepaskannya atau meninggalkannya berbanding daripada melakukan perubahan dan anjakan paradigma untuk menuju kecemerlangan yang lebih besar dan hakiki. Kita sering berfikiran negatif dan tidak yakin untuk melakukan perubahan yang terbaik.

Tetapi kisah ‘Uqbah ini insyaAllah akan mengubah persepsi kita tentang kehidupan. Setelah saban hari sahabat-sahabat ‘Uqbah bergilir-gilir keluar mengunjungi Rasulullah SAW, ,mereka pulang membawa pelbagai ilmu dan ayat-ayat Allah SWT.

‘Uqbah berkata:

“Apabila mereka pulang, saya mengambil apa yang mereka dengar. Saya belajar apa yang mereka fahami. Namun setelah beberapa ketika, saya memuhasabah diri saya. Saya sudah buat kesilapan. Adakah disebabkan beberapa ekor kambing yang tidak menggemuk dan mengkayakan, saya sanggup mempersia-siakan diri saya daripada bersahabat dengan Rasulullah SAW. Saya juga merugi kerana idak mengambil kefahaman agama daripada mulut baginda SAW sendiri tanpa perantaraan. Kemudian saya meninggalkan kambing-kambing saya dan pergi ke Madinah untuk tinggal di masjid dekat dengan Rasulullah SAW. “

Muhasabah dan Bertindaklah
Inilah ciri pertama jika anda mahu cemerlang dan berjaya, muhasabah, kenali kelemahan dan kesilapan diri. Lakukan analisis SWOT pada diri sendiri (Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman). Kemudian lakukan perubahan dengan berhijrah, meninggalkan sikap, pemikiran dan cita-cita kerdil kepada sikap, pemikiran dan cita-cita yang lebih tinggi dan besar manfaatnya pada diri kita sendiri.
Untuk lakukan penghijrahan dan anjakan paradigma memerlukan keberanian diri. ‘Uqbah mengajar kita untuk berani membuat keputusan, bertindak lakukan perubahan, yakin dengan keputusan dan berserah kepada Allah SWT semata. Beliau tidak pernah menyangka bahawa natijah dari hijrah dan keputusan besar yang telah beliau lakukan, dengan izin Allah SWT, beliau akhirnya menjadi seorang ulama sahabat yang tersohor, syeikh qurra (mahir dengan bacaan Al Quran, ilmuwan profesional, panglima terkemuka yang membuka negeri Islam dan gabenor yang terbilang.

Beliau tidak terbayang ketika membuat keputusan meninggalkan kambingnya dan bergerak menuju Allah dan Rasul-NYA, beliau akan diletakkan di barisan hadapan tentera ketika membuka pusat dunia, Damsyik. Beliau akhirnya Allah izin memampukan beliau membina sebuah rumahdi kebun yang menghijau yang terletak di Bab Tuma (salah sebuah pintu masuk ke kota lama Damsyik).

‘Uqbah juga tidak tergambar bahawa satu hari kelak, beliau menajdi salah seorang panglima yang membuka ‘Zamrud Hijau Dunia’, Mesir. Bahkan menjadi gabenor di sana.

Asas Kecemerlangan Ialah KEIMANAN
Subhanallah, luarbiasa! Inilah kunci kejayaan yang sebenar. Lakukan perubahan , penghijrahan dan anjakan paradigma kerana dan demi memenuhi tuntutan Allah dan Rasul. InsyaAllah, Allah akan membantu dan bersama-sama dengan kita. Allah akan memuliakan kita disisinya di dunia, dan pasti di akhirat.
Bukanlah bermakna mengembala kambing itu kerja yang tidak mulia, jangan salah faham, sedangkan Rasulullah SAW sendiri pernah mengembala kambing. Sebaliknya mesej dalam kisah ‘Uqbah ini cuba untuk mentarbiyah kita bahawa kita boleh berjaya untuk melakukan apa sahaja yang kita ingini, menjadi doktor pakar, usahawan berjaya, penternak kambing berjaya, guru terbilang, atau apa sahaja yang diimpikan, namun titik tolak dan muntalaqnya mestilah berpaksikan mencari keredhaan Allah SWT semata dan meneruskan perjuangan risalah dakwah Rasulullah SAW.

Mungkin selama ini kita berusaha untuk cemerlang dan berjaya, tetapi asasnya hanya kerana kepentingan diri sendiri, dan kemewahan dunia semata, tidak dikaitkan langsung dengan hakikat penghambaan kepada Allah dan kebersamaan dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Terlalu kerdil aspirasi kehidupan kita di sisi Allah. Dan kalau kita berjaya pundengan aspirasi kerdil tersebut, kejayaan itu adalah palsu, kerana di akhirat kelak, kejayaan itu tidak dapat menyertai kita sebagai bukti amal yang sebenarnya. Bimbang-bimbang ianya menjadi beban kepada kita saat penghisaban di hadapan Allah SWT.

‘Uqbah telah mengajar kita sesuatu yang bermakna dalam kehidupan ini. Daripada sekadar menjadi pemuda kerdil kepada pemimpin umat. Rahsianya, mulakan dengan ‘bedah siasat’ terhadap diri kita dengan jujur. Luruskan kembali cita-cita dan matlamat kehidupan kita. Kepada yang masih tercari-cari momentum kejayaan, lakukan analisis SWOT dan muhasabah. Hijrahlah dari kelalaian, kealpaan dan cita-cita kerdil kepada keseriusan, kesungguhan dan cita-cita yang tinggi, juruskan niat dan tujuan kerana Allah dan Rasul, buktikan dengan tindakan usaha tanpa kenal penat dan lelah, akhirnya bulatkan keyakinan sepenuhnya kepada janji Allah, insyaAllah anda bakal menjadi pemuda Islam yang didambakan ummat.

Nantikan ibrah yang seterusnya dari pengalaman kehidupan ‘Uqbah bin ‘Amir al Juhaniy. InsyaAllah akan membangkitkan lagi motivasi jiwa dan iman anda untuk melakukan anjakan paradigma daripada pemuda biasa-biasa kepada pemuda yang luar dari biasa!

Rahsia Kecemerlangan: Belajar Dari ‘Uqbah bin ‘Amir al Juhaniy


Anda bercita-cita untuk menjadi cemerlang? Siapa model yang kita jadikannya sebagai teladan dalam kehidupan. Islam tidak pernah kurang dalam melahirkan suri teladan yang luar biasa dalam perjalanan risalahnya. Rasulullah SAW yang merupakan suri teladan terbaik di sepanjang kehidupan umat ini telah membentuk dan membina generasi contoh dan ikutan yang luarbiasa untuk kita jejaki dan teladani.

Pada pandangan anda, apakah kecemerlangan yang akan dapat kita contohi daripada seorang pemuda yang hanya bekerja sebagai pengembala kambing? Inilah luarbiasanya tarbiyah Rasulullah SAW, baginda mampu melakukan anjakan paradigma ke dalam hati dan jiwa seorang pemuda pengembala kambing sehingga akhirnya pemuda itu pernah diangkat menjadi Gabenor Mesir.

Ayuh kita menjejaki pemuda luarbiasa yang hebat dan cemerlang, ‘Uqbah bin ‘Amir al Juhaniy.

Sayangkan Kambing
‘Uqbah bin ‘Amir al Juhaniy adalah di antara 12 orang pemuda yang memeluk Islam dan tinggal jauh dari kota Madinah untuk mengembala kambing di kawasan perkampungan. Setelah memeluk Islam di Kota Madinah, beliau dan sahabat-sahabatnya terpaksa berangkat ke pendalaman kampung untuk meneruskan kerja asasi mereka, mengembala kambing.

Suatu hari mereka berbincang dan berpandangan: “Tiada gunanya jika kita tidak bertemu Rasulullah SAW setiap hari untuk memahami agama dan mendengar wahyu dari langit. Apa kata setiap hari seorang kalangan kita bergilir-gilir pergi ke Yathrib. TInggalkan kambingnya dan mereka yang tidak ikut serta kalangan kita akan menjaganya.

Pada pandangan anda, apakah respon ‘Uqbah?

‘Uqbah telah berkata:

“Kamu semua pergilah bergilir-gilir bertemu Rasulullah SAW. Biar saya sahaja yang menjaga kambing kamu semua. Kerana saya sangat kasihan kepada kambing saya untuk ditinggalkan kepada orang lain.”

Pelik jawapan ‘Uqbah kan? Dia lebih sayangkan kambingnya daripada bertemu dengan Rasulullah SAW. Terkadang kita juga begitu, kita lebih sayangkan sesuatu sehingga tidak sanggup untuk melepaskannya atau meninggalkannya berbanding daripada melakukan perubahan dan anjakan paradigma untuk menuju kecemerlangan yang lebih besar dan hakiki. Kita sering berfikiran negatif dan tidak yakin untuk melakukan perubahan yang terbaik.

Tetapi kisah ‘Uqbah ini insyaAllah akan mengubah persepsi kita tentang kehidupan. Setelah saban hari sahabat-sahabat ‘Uqbah bergilir-gilir keluar mengunjungi Rasulullah SAW, ,mereka pulang membawa pelbagai ilmu dan ayat-ayat Allah SWT.

‘Uqbah berkata:

“Apabila mereka pulang, saya mengambil apa yang mereka dengar. Saya belajar apa yang mereka fahami. Namun setelah beberapa ketika, saya memuhasabah diri saya. Saya sudah buat kesilapan. Adakah disebabkan beberapa ekor kambing yang tidak menggemuk dan mengkayakan, saya sanggup mempersia-siakan diri saya daripada bersahabat dengan Rasulullah SAW. Saya juga merugi kerana idak mengambil kefahaman agama daripada mulut baginda SAW sendiri tanpa perantaraan. Kemudian saya meninggalkan kambing-kambing saya dan pergi ke Madinah untuk tinggal di masjid dekat dengan Rasulullah SAW. “

Muhasabah dan Bertindaklah
Inilah ciri pertama jika anda mahu cemerlang dan berjaya, muhasabah, kenali kelemahan dan kesilapan diri. Lakukan analisis SWOT pada diri sendiri (Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman). Kemudian lakukan perubahan dengan berhijrah, meninggalkan sikap, pemikiran dan cita-cita kerdil kepada sikap, pemikiran dan cita-cita yang lebih tinggi dan besar manfaatnya pada diri kita sendiri.
Untuk lakukan penghijrahan dan anjakan paradigma memerlukan keberanian diri. ‘Uqbah mengajar kita untuk berani membuat keputusan, bertindak lakukan perubahan, yakin dengan keputusan dan berserah kepada Allah SWT semata. Beliau tidak pernah menyangka bahawa natijah dari hijrah dan keputusan besar yang telah beliau lakukan, dengan izin Allah SWT, beliau akhirnya menjadi seorang ulama sahabat yang tersohor, syeikh qurra (mahir dengan bacaan Al Quran, ilmuwan profesional, panglima terkemuka yang membuka negeri Islam dan gabenor yang terbilang.

Beliau tidak terbayang ketika membuat keputusan meninggalkan kambingnya dan bergerak menuju Allah dan Rasul-NYA, beliau akan diletakkan di barisan hadapan tentera ketika membuka pusat dunia, Damsyik. Beliau akhirnya Allah izin memampukan beliau membina sebuah rumahdi kebun yang menghijau yang terletak di Bab Tuma (salah sebuah pintu masuk ke kota lama Damsyik).

‘Uqbah juga tidak tergambar bahawa satu hari kelak, beliau menajdi salah seorang panglima yang membuka ‘Zamrud Hijau Dunia’, Mesir. Bahkan menjadi gabenor di sana.

Asas Kecemerlangan Ialah KEIMANAN
Subhanallah, luarbiasa! Inilah kunci kejayaan yang sebenar. Lakukan perubahan , penghijrahan dan anjakan paradigma kerana dan demi memenuhi tuntutan Allah dan Rasul. InsyaAllah, Allah akan membantu dan bersama-sama dengan kita. Allah akan memuliakan kita disisinya di dunia, dan pasti di akhirat.
Bukanlah bermakna mengembala kambing itu kerja yang tidak mulia, jangan salah faham, sedangkan Rasulullah SAW sendiri pernah mengembala kambing. Sebaliknya mesej dalam kisah ‘Uqbah ini cuba untuk mentarbiyah kita bahawa kita boleh berjaya untuk melakukan apa sahaja yang kita ingini, menjadi doktor pakar, usahawan berjaya, penternak kambing berjaya, guru terbilang, atau apa sahaja yang diimpikan, namun titik tolak dan muntalaqnya mestilah berpaksikan mencari keredhaan Allah SWT semata dan meneruskan perjuangan risalah dakwah Rasulullah SAW.

Mungkin selama ini kita berusaha untuk cemerlang dan berjaya, tetapi asasnya hanya kerana kepentingan diri sendiri, dan kemewahan dunia semata, tidak dikaitkan langsung dengan hakikat penghambaan kepada Allah dan kebersamaan dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Terlalu kerdil aspirasi kehidupan kita di sisi Allah. Dan kalau kita berjaya pundengan aspirasi kerdil tersebut, kejayaan itu adalah palsu, kerana di akhirat kelak, kejayaan itu tidak dapat menyertai kita sebagai bukti amal yang sebenarnya. Bimbang-bimbang ianya menjadi beban kepada kita saat penghisaban di hadapan Allah SWT.

‘Uqbah telah mengajar kita sesuatu yang bermakna dalam kehidupan ini. Daripada sekadar menjadi pemuda kerdil kepada pemimpin umat. Rahsianya, mulakan dengan ‘bedah siasat’ terhadap diri kita dengan jujur. Luruskan kembali cita-cita dan matlamat kehidupan kita. Kepada yang masih tercari-cari momentum kejayaan, lakukan analisis SWOT dan muhasabah. Hijrahlah dari kelalaian, kealpaan dan cita-cita kerdil kepada keseriusan, kesungguhan dan cita-cita yang tinggi, juruskan niat dan tujuan kerana Allah dan Rasul, buktikan dengan tindakan usaha tanpa kenal penat dan lelah, akhirnya bulatkan keyakinan sepenuhnya kepada janji Allah, insyaAllah anda bakal menjadi pemuda Islam yang didambakan ummat.

Nantikan ibrah yang seterusnya dari pengalaman kehidupan ‘Uqbah bin ‘Amir al Juhaniy. InsyaAllah akan membangkitkan lagi motivasi jiwa dan iman anda untuk melakukan anjakan paradigma daripada pemuda biasa-biasa kepada pemuda yang luar dari biasa!

Tuesday, December 21, 2010

Dalam satu mesyuarat tergempar yang diadakan di Darun Nadwah, Mekah, sekumpulan manusia berkumpul dan berfikir apa yang patut mereka lakukan untuk menjatuhkan Muhammad. Pelbagai idea dan pandangan telah diutarakan, namun semuanya dirasakan tidak efektif, kecuali ada satu pandangan yang menarik perhatian mereka:

“Aku punya satu cadangan. Kita pilih tiga puluh pemuda yang kuat-kuat dari seluruh kabilah suku Quraisy. Kita berikan mereka setiap seorang sebilah pedang yang tajam. Kemudian suruh mereka menebas Muhammad serentak. Dengan begitu, darah Muhammad tumpah di tangan kabilah-kabilah ini.”

Itulah pandangan populis dari Abu Jahal, gengster besar yang menentang dakwah Rasulullah SAW.

Apa yang boleh kita belajar dari situasi ini?

Al Haq vs Al Bathil

Pertama, pakatan jahiliah dan penentang kebenaran, mereka bersekongkol dan bersatu hati untuk melemahkan kebenaran hatta sedia untuk menghancurkan Islam dengan apa cara sekalipun, asalkan kemenangan berpihak kepada mereka. Ini yang kita perlu sedar. Sejarah ini akan terus beulang dan berulang. Menariknya mereka akan mengadakan ‘musyawarah’ dan bersungguh-sungguh memberikan buah fikiran untuk mencari jalan terbaik memenangkan kebatilan yang mereka yakini. Mereka serius terlibat untuk memberi dokongan dan sokongan. Dan mereka bersatu mencari jalan untuk melemahkan Islam.

Tahukah anda bahawa Yahudi Israel telah memulakan perancangan menubuhkan Negara haram mereka sejak tahun 1897 dalam Kongres Pertama Zionis di Switzerland . Pada tahun 1917, melalui Perisytiharan Balfour kerajaan Britain berjanji untuk menyokong penubuhan negara Yahudi di Palestin. Pada tahun 1936, Suruhanjaya Peel mencadangkan Palestin dibahagikan kepada negara untuk orang Yahudi dan negara untuk orang Arab. Negara-negara Arab dan rakyat Palestin tidak bersetuju dan menentang usaha jahat barat dan Yahudi, Namun saat itu negara Arab dan umat Islam tidak punyai kekuatan akibat perpecahan.
Hasilnya adalah Resolusi 181 yang membahagikan Palestin di antara orang Yahudi dan Arab. Yahudi menerima 56% kawasan mandat British yang diduduki oleh ramai orang Yahudi sementara Jerusalem akan ditadbir oleh PBB. Pelan ini diterima oleh majoriti masyarakat Yahudi tetapi ditolak oleh masyarakat Arab.

Pada 29 November 1947, pelan ini diundi dalam Perhimpunan Agung PBB. Keputusannya 33 menyokong, 13 menentang dan 10 berkecuali.

Demikianlah kebatilan dibela dan diperjuangkan dengan bersungguh-sungguh oleh para pendukungnya, Oleh kerana itulah Ali bin Abi Thalib ra pernah menyatakan :

"Al-haq yang tidak diurus dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang terurus dengan baik".

Benarkah begitu? Secara jujur mari kita melihat ealiti umat Islam hari ini? Tidak perlu pergi jauh, kita menilai realiti diri umat, diri kita. Bagaimana dengan kita semua? Masih menyendiri di dalam rumah atau bilik masing-masing dan tidak ambil kisah dengan situasi umat dan Islam masakini?

Atau masih menjadi juara dalam ‘mesyuarat kedai kopi’ dan menjadi pengkritik hebat akan pelbagai isu yang dibangkitkan. Semua orang tak kena dan tak betul…selepas penat minum teh dan kopi, pulang ke rumah tanpa melakukan sebarang usaha pembaikan diri dan umat.

Bagaimana pula khabar institusi surau dan masjid? Masih tercari-cari qariah masjid yang sedia berbakti untuk memakmurkan surau dan masjid. Sedangkan kedua institusi ini amat penting dalam mentarbiyah umat, namun terkadang terkapar dan tidak berfungsi dengan baik kerana ketiadaan individu yang sanggup menawar diri (meluangkan masa) untuk bersama dalam pasukan al haq untuk merancang program dakwah, tarbiyah dan keilmuan di surau dan masjid.

Sedangkan hakikatnya, kerja-kerja dakwah dan men”soleh”kan umat bukan kerja mengisi masa lapang dalam kehidupan kita, tetapi ianya sunnah terbesar yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Rasulullah SAW dan para sahabat RA berdakwah secara sedar dan faham , mereka mencagarkan kehidupan mereka dengan segala pengorbanan yang terbaik dan termampu mereka berikan demi membumikan kalimat tauhid.

Pemuda: Kekuatan Islam atau Agen Bathil?

Keduanya, pro jahiliyah juga menjadikan pemuda sebagai agen pelaksana perancangan jahat mereka. Jahiliyah sedia menghimpun para pemuda mereka yang terbaik untuk mendokong cita-cita mereka. Tahukah kita bahawa gerombolan pemuda dan pemudi Yahudi datang dari barat, timur, utara dan selatan, meninggalkan tanah tumpah darah mereka semata untuk mendirikan negara haram Israel di atas puing-puing bangunan dan darah para syuhada Palestin yang berserakan. Bahkan mereka tidak puas dengan Israel yang kecil itu. Mereka menyeru kepada penubuhan “Israel Raya” iaitu menguasai seluruh daerah sepanjang Sungai Eufrat ke sungai Nil. Anak-anak mereka semenjak kecil diwajibkan mempelajari dan menguasai kitab Thalmud, sumber rujukan mereka yang antara kandungannya mendidik anak –anak dan pemuda mereka bahawa bangsa mereka adalah bangsa terbaik dan bangsa lain adalah binatang dan tunggangan untuk mereka.

Apa khabar pula dengan remaja dan pemuda kita saat ini? Kepada ibu bapa yang memiliki anak remaja dan remaji, saat ini, di mana anak muda mudimu? Sedang menelaah ilmu, mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin masa depan Islam yang berintegriti dan berketerampilan, atau sedang menghabiskan masa entah ke mana sehinggakan kita pun tidak sedar dan ketahui di mana mereka saat ini?

Bagaimana pula penghayatan pemuda dan pemudi kita dengan Al Quran? Di hati atau dalam almari? Menjadi cara hidup atau sekadar penghias dinding rumah?

Sesungguhnya, musuh Islam sedar bahawa Islam juga diperkuatkan oleh para pemuda. Justeru mereka juga telah mengadakan konspirasi dan perancangan terperinci untuk merosakan potensi dan kekuatan para pemuda Islam agar pemuda dan pemudi Islam tidak mampu bersaing dan sekualiti dengan pemuda dan pemudi mereka.

Mereka telah berjaya mempengaruhi para pemuda pemudi Islam dengan pelbagai cara dan pendekatan agar jauh dari sumber kekuatan Islam yang sebenar. Dalam satu khutbah yang disampaikan oleh Dr. Yusof al-Qaradhawi, beliau menyebut:

“Demi Allah, saya terpukul menyaksikan fenomena menyedihkan yang berlaku di kalangan pemuda, baik di kalangan Arab mahupun kaum muslimin. Pemuda Islam menghadapi fenomena lemahnya akhlak dan sukakan kemungkaran. Para pemuda Islam tidak memiliki impian dan cita-cita besar untuk menegakkan risalah dalam hidup mereka. Andai mereka ada cita-cita mulia ini, pastilah mereka tidak akan memikirkan perkara-perkara yang telah menyisihkan jatidiri mereka sebagai muslim.”

Keluhan ulama tersohor ini ada benarnya. Hari ini yang menjadi agen cara hidup barat dan bukan Islam bukan diterajui oleh pemuda barat, tetapi dipimpin dan dibarisi oleh anak muda Islam sendiri. Pemuda barat kini telah menjadi idol dan pujaan anak muda Islam. Anak muda Islam menjadi pengikut setia mereka dan bersedia mempertahankan pegangan dan kefahaman mereka yang semakin jauh dari kebenaran.

Apakah kita ketiadaan pemuda pemudi Islam yang boleh diharapkan? Yakinlah, Islam tidak akan pernah kehilangan pemuda rabbani yang mulia yang sedia mempertahankan kalimah thoiyyibah. Malahan Islam pernah melahirkan pemuda contoh yang luarbiasa untuk kita jadikan teladan dalam kehidupan kita. Saidina Ali bin Abi Talib, pemuda luarbiasa yang semenjak kecil telah bergabung dengan dakwah Rasulullah SAW. Islam dihiasi dengan kewibawaan Mu’sab Bin Umair, pemuda yang pernah diusir dan diharamkan menyentuh kekayaan keluarganya sendiri, yang akhirnya menjadi murabbi dan da’i “special” dikirimkan oleh Rasulullah SAW meneruskan misi dakwah ke Madinah sehingga mencetuskan fenomena baru di Madinah. Dan ramai lagi para pemuda yang bergabung dengan pasukan dakwah Rasulullah SAW. Mereka bersungguh dan serius berhimpun di sekeliling Rasulullah SAW, menanti arahan dengan penuh siap siaga, memimpin umat mendepani dakwah dan berjihad mempertahankan kalimah Allah!

Andai sahaja pemuda pemudi Islam kita ini berfikir dan bertindak seperti Usamah bin Zaid, seusia 18 tahun memimpin pasukan jihad yang dibelakangnya dibarisi oleh sahabat-sahabat terkemuka, atau berfikir dan memiliki kualiti diri seperti Muhammad Bin Al-Qasim Ats-Tsaqafi yang memimpin pasukan Islam untuk membuka India saat beliau berusia 17 tahun, apakah ianya mustahil untuk dilahirkan kembali?

Kita perlu bersama dan bersatu hati, melakukan sinergi melahirkan kembali pemuda pemudi yang sedar dan faham akan tanggungjawab mereka terhadap Islam. Mereka yang sedar dan faham, akan melahirkan pemuda pemudi yang memiliki sahsiah dan peribadi unggul, kekuatan iman dan taqwa yang tinggi dan semangat juang yang tidak kenal penat dan lelah dalam membumikan masa depan adalah milik Islam. Dan kita adalah sebahagian dari pemuda pemudi tersebut, insyaAllah!

Ayuh, persiapkan dirimu!

Pada Diri Pemuda Ada Kekuatan

Dalam satu mesyuarat tergempar yang diadakan di Darun Nadwah, Mekah, sekumpulan manusia berkumpul dan berfikir apa yang patut mereka lakukan untuk menjatuhkan Muhammad. Pelbagai idea dan pandangan telah diutarakan, namun semuanya dirasakan tidak efektif, kecuali ada satu pandangan yang menarik perhatian mereka:

“Aku punya satu cadangan. Kita pilih tiga puluh pemuda yang kuat-kuat dari seluruh kabilah suku Quraisy. Kita berikan mereka setiap seorang sebilah pedang yang tajam. Kemudian suruh mereka menebas Muhammad serentak. Dengan begitu, darah Muhammad tumpah di tangan kabilah-kabilah ini.”

Itulah pandangan populis dari Abu Jahal, gengster besar yang menentang dakwah Rasulullah SAW.

Apa yang boleh kita belajar dari situasi ini?

Al Haq vs Al Bathil

Pertama, pakatan jahiliah dan penentang kebenaran, mereka bersekongkol dan bersatu hati untuk melemahkan kebenaran hatta sedia untuk menghancurkan Islam dengan apa cara sekalipun, asalkan kemenangan berpihak kepada mereka. Ini yang kita perlu sedar. Sejarah ini akan terus beulang dan berulang. Menariknya mereka akan mengadakan ‘musyawarah’ dan bersungguh-sungguh memberikan buah fikiran untuk mencari jalan terbaik memenangkan kebatilan yang mereka yakini. Mereka serius terlibat untuk memberi dokongan dan sokongan. Dan mereka bersatu mencari jalan untuk melemahkan Islam.

Tahukah anda bahawa Yahudi Israel telah memulakan perancangan menubuhkan Negara haram mereka sejak tahun 1897 dalam Kongres Pertama Zionis di Switzerland . Pada tahun 1917, melalui Perisytiharan Balfour kerajaan Britain berjanji untuk menyokong penubuhan negara Yahudi di Palestin. Pada tahun 1936, Suruhanjaya Peel mencadangkan Palestin dibahagikan kepada negara untuk orang Yahudi dan negara untuk orang Arab. Negara-negara Arab dan rakyat Palestin tidak bersetuju dan menentang usaha jahat barat dan Yahudi, Namun saat itu negara Arab dan umat Islam tidak punyai kekuatan akibat perpecahan.
Hasilnya adalah Resolusi 181 yang membahagikan Palestin di antara orang Yahudi dan Arab. Yahudi menerima 56% kawasan mandat British yang diduduki oleh ramai orang Yahudi sementara Jerusalem akan ditadbir oleh PBB. Pelan ini diterima oleh majoriti masyarakat Yahudi tetapi ditolak oleh masyarakat Arab.

Pada 29 November 1947, pelan ini diundi dalam Perhimpunan Agung PBB. Keputusannya 33 menyokong, 13 menentang dan 10 berkecuali.

Demikianlah kebatilan dibela dan diperjuangkan dengan bersungguh-sungguh oleh para pendukungnya, Oleh kerana itulah Ali bin Abi Thalib ra pernah menyatakan :

"Al-haq yang tidak diurus dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang terurus dengan baik".

Benarkah begitu? Secara jujur mari kita melihat ealiti umat Islam hari ini? Tidak perlu pergi jauh, kita menilai realiti diri umat, diri kita. Bagaimana dengan kita semua? Masih menyendiri di dalam rumah atau bilik masing-masing dan tidak ambil kisah dengan situasi umat dan Islam masakini?

Atau masih menjadi juara dalam ‘mesyuarat kedai kopi’ dan menjadi pengkritik hebat akan pelbagai isu yang dibangkitkan. Semua orang tak kena dan tak betul…selepas penat minum teh dan kopi, pulang ke rumah tanpa melakukan sebarang usaha pembaikan diri dan umat.

Bagaimana pula khabar institusi surau dan masjid? Masih tercari-cari qariah masjid yang sedia berbakti untuk memakmurkan surau dan masjid. Sedangkan kedua institusi ini amat penting dalam mentarbiyah umat, namun terkadang terkapar dan tidak berfungsi dengan baik kerana ketiadaan individu yang sanggup menawar diri (meluangkan masa) untuk bersama dalam pasukan al haq untuk merancang program dakwah, tarbiyah dan keilmuan di surau dan masjid.

Sedangkan hakikatnya, kerja-kerja dakwah dan men”soleh”kan umat bukan kerja mengisi masa lapang dalam kehidupan kita, tetapi ianya sunnah terbesar yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Rasulullah SAW dan para sahabat RA berdakwah secara sedar dan faham , mereka mencagarkan kehidupan mereka dengan segala pengorbanan yang terbaik dan termampu mereka berikan demi membumikan kalimat tauhid.

Pemuda: Kekuatan Islam atau Agen Bathil?

Keduanya, pro jahiliyah juga menjadikan pemuda sebagai agen pelaksana perancangan jahat mereka. Jahiliyah sedia menghimpun para pemuda mereka yang terbaik untuk mendokong cita-cita mereka. Tahukah kita bahawa gerombolan pemuda dan pemudi Yahudi datang dari barat, timur, utara dan selatan, meninggalkan tanah tumpah darah mereka semata untuk mendirikan negara haram Israel di atas puing-puing bangunan dan darah para syuhada Palestin yang berserakan. Bahkan mereka tidak puas dengan Israel yang kecil itu. Mereka menyeru kepada penubuhan “Israel Raya” iaitu menguasai seluruh daerah sepanjang Sungai Eufrat ke sungai Nil. Anak-anak mereka semenjak kecil diwajibkan mempelajari dan menguasai kitab Thalmud, sumber rujukan mereka yang antara kandungannya mendidik anak –anak dan pemuda mereka bahawa bangsa mereka adalah bangsa terbaik dan bangsa lain adalah binatang dan tunggangan untuk mereka.

Apa khabar pula dengan remaja dan pemuda kita saat ini? Kepada ibu bapa yang memiliki anak remaja dan remaji, saat ini, di mana anak muda mudimu? Sedang menelaah ilmu, mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin masa depan Islam yang berintegriti dan berketerampilan, atau sedang menghabiskan masa entah ke mana sehinggakan kita pun tidak sedar dan ketahui di mana mereka saat ini?

Bagaimana pula penghayatan pemuda dan pemudi kita dengan Al Quran? Di hati atau dalam almari? Menjadi cara hidup atau sekadar penghias dinding rumah?

Sesungguhnya, musuh Islam sedar bahawa Islam juga diperkuatkan oleh para pemuda. Justeru mereka juga telah mengadakan konspirasi dan perancangan terperinci untuk merosakan potensi dan kekuatan para pemuda Islam agar pemuda dan pemudi Islam tidak mampu bersaing dan sekualiti dengan pemuda dan pemudi mereka.

Mereka telah berjaya mempengaruhi para pemuda pemudi Islam dengan pelbagai cara dan pendekatan agar jauh dari sumber kekuatan Islam yang sebenar. Dalam satu khutbah yang disampaikan oleh Dr. Yusof al-Qaradhawi, beliau menyebut:

“Demi Allah, saya terpukul menyaksikan fenomena menyedihkan yang berlaku di kalangan pemuda, baik di kalangan Arab mahupun kaum muslimin. Pemuda Islam menghadapi fenomena lemahnya akhlak dan sukakan kemungkaran. Para pemuda Islam tidak memiliki impian dan cita-cita besar untuk menegakkan risalah dalam hidup mereka. Andai mereka ada cita-cita mulia ini, pastilah mereka tidak akan memikirkan perkara-perkara yang telah menyisihkan jatidiri mereka sebagai muslim.”

Keluhan ulama tersohor ini ada benarnya. Hari ini yang menjadi agen cara hidup barat dan bukan Islam bukan diterajui oleh pemuda barat, tetapi dipimpin dan dibarisi oleh anak muda Islam sendiri. Pemuda barat kini telah menjadi idol dan pujaan anak muda Islam. Anak muda Islam menjadi pengikut setia mereka dan bersedia mempertahankan pegangan dan kefahaman mereka yang semakin jauh dari kebenaran.

Apakah kita ketiadaan pemuda pemudi Islam yang boleh diharapkan? Yakinlah, Islam tidak akan pernah kehilangan pemuda rabbani yang mulia yang sedia mempertahankan kalimah thoiyyibah. Malahan Islam pernah melahirkan pemuda contoh yang luarbiasa untuk kita jadikan teladan dalam kehidupan kita. Saidina Ali bin Abi Talib, pemuda luarbiasa yang semenjak kecil telah bergabung dengan dakwah Rasulullah SAW. Islam dihiasi dengan kewibawaan Mu’sab Bin Umair, pemuda yang pernah diusir dan diharamkan menyentuh kekayaan keluarganya sendiri, yang akhirnya menjadi murabbi dan da’i “special” dikirimkan oleh Rasulullah SAW meneruskan misi dakwah ke Madinah sehingga mencetuskan fenomena baru di Madinah. Dan ramai lagi para pemuda yang bergabung dengan pasukan dakwah Rasulullah SAW. Mereka bersungguh dan serius berhimpun di sekeliling Rasulullah SAW, menanti arahan dengan penuh siap siaga, memimpin umat mendepani dakwah dan berjihad mempertahankan kalimah Allah!

Andai sahaja pemuda pemudi Islam kita ini berfikir dan bertindak seperti Usamah bin Zaid, seusia 18 tahun memimpin pasukan jihad yang dibelakangnya dibarisi oleh sahabat-sahabat terkemuka, atau berfikir dan memiliki kualiti diri seperti Muhammad Bin Al-Qasim Ats-Tsaqafi yang memimpin pasukan Islam untuk membuka India saat beliau berusia 17 tahun, apakah ianya mustahil untuk dilahirkan kembali?

Kita perlu bersama dan bersatu hati, melakukan sinergi melahirkan kembali pemuda pemudi yang sedar dan faham akan tanggungjawab mereka terhadap Islam. Mereka yang sedar dan faham, akan melahirkan pemuda pemudi yang memiliki sahsiah dan peribadi unggul, kekuatan iman dan taqwa yang tinggi dan semangat juang yang tidak kenal penat dan lelah dalam membumikan masa depan adalah milik Islam. Dan kita adalah sebahagian dari pemuda pemudi tersebut, insyaAllah!

Ayuh, persiapkan dirimu!

Wednesday, December 15, 2010


Beberapa orang tentera Yahudi Israel melepaskan berdas-das tembakan ke udara dengan penuh kegembiraan setelah mereka berjaya membunuh dua orang pemuda yang dikehendaki. Kedua pemuda tersebut merupakan komandan batalion ‘Izzudin Al Qassam”. Mereka berdua ialah ‘Imaad Aql berusia 24 tahun dan Khalid Zeir berusia 26 tahun pada saat kesyahidan mereka.

Berapa umur anda saat ini? Apa pekerjaan dan aktiviti anda saat ini? Apakah selari dengan peribadi dan perjuangan kedua mujahid di atas? Atau anda sendiri tidak pernah mengenal identiti mereka?

Mencontohi Amal ‘Imaad Aql

‘Imaad Aql lahir pada 9/6/1971. Namanya ‘Imaad di pilih oleh keluarganya sempena nama panglima Islam yang menentang tentera salib, 'Imaduddin Zanky.

Masjid An Nur adalah medan terbiah keduanya selepas rumahnya sendiri. Tidak sukar mendidik kanak-kanak sepertinya yang terkenal dengan kepintaran dalam pelajaran. Dalam usia seawal 12 tahun, 'Imad sudah didedahkan dengan perjuangan Ikhwanul Muslimin. Apabila tercetusnya Intifadhah (1987), dia mula melibatkan diri terjun ke medan perjuangan bersama rakan-rakannya melastik dan melontarkan batu kearah pasukan tentera Israel yang lengkap bersenjata. Usia muda tidak menjadikannya gerun melihat kedatangan tentera pengganas berkenaan.

Setelah tamat pengajian di peringkat menengah, 'Imad memohon untuk belajar di Maahad Al Amal dalam bidang perubatan. Namun cita-citanya tidak kesampaian kerana beliau ditangkap pada 23/9/1988. Abangnya 'Adil turut ditahan. Makhamah tentera yang membicarakannya menjatuhkan hukuman penjara selama 18 bulan kerana 'kesalahan' terlibat dengan gerakan Hamas menentang rejim Israel. Beliau kemudiannya dibebaskan pada bulan Mac 1990. Tetapi tidak lama. Beberapa ketika selepas itu beliau ditahan lagi kerana dituduh merekrut seorang pemuda untuk menjadi mujahid. Selepas dibebaskan, 'Imad menjadi lebih bersemangat. Dengan siapa saja dia berbual, pasti perbincangannya tidak akan lari dari topik jihad dan syahid. Kisah-kisah Khalid Al Walid, Saifuddin Qutuz, Salahuddin Al-Ayyubi dan Abu Ubaidah Al-Jarrah sentiasa bermain di bibirnya.

Pada Rabu 24 November 1993 di perkampungan Syaja’yyah sebelah utara Gaza, sekitar 200 pasukan tentera Israel lengkap dengan senjata canggih dan kostum anti peluru, diiringi beberapa helicopter tentera dikerahkan unruk mengepung seorang pemuda bernama ‘Imaad ‘Aql. Beliau di”hendaki” Israel kerana telah berjaya membunuh 11 orang tentera Yahudi di samping terlibat dengan usaha menjatuhkan kerajaan haram Israel.

Situasi semakin kritikal. Kedudukan ‘Imaad terancam. Namun beliau tidak gentar. Beliau sempat berbicara kepada 2 orang temannya:

“Inilah saat yang paling tepat untuk menyumbangkan seluruh kemampuan jiwa dan ragaku di jalan jihad, sebuah jalan yang telah aku lalui selama bertahun-tahun, jalan kemuliaan yang menjadi pilihanku sejak kecil. Kematian di jalan ini insyaAllah akan mengantarku ke pintu syurga.”

Ternyata Allah SWT mengabulkan impiannya. Dengan deretan 60 buah kenderaan tentera Israel dan deruan sejumlah helikopter tentera yahudi mengepung beliau, pesta pembantaian oleh musuh-musuh Allah ini tercetus. Mereka begitu dendan dan hasad atas keperwiraan dan keberanian ‘Imaad ‘Aql.

‘Imaad ‘Aql akhirnya syahid. Sekitar 70 peluru bersarang di tubuh badannya, termasuk di bahagian kepala dan wajahnya. Ternyata tenteta-tentera kera itu tidak pernah puas membantai ‘Imaad ‘Aql, mereka merobek dan menghancurkan sisa tubuh perindu syurga Allah itu dengan keji. Bumi Gaza untuk sekian kalinya bermandiakan darah syuhada dan menyaksikan kehebatan, keberanian dan ketinggian iman pahlawan yang bernama ‘Imaad ‘Aql.

Ibunda ‘Imaad ‘Aql mengatakan bahawa beliau tidak mampu mengenali anaknya yang sudah hancur berkeping-keping. Dia hanya mampu memeluk bahagian kaki anaknya sebagai perpisahan terakhir. Lebih dari 5000 pemuda Palestin mengiringi jenazah ‘Imaad ‘Aql saat menuju ke tanah perkuburan al-Manazhir. Kesyahidan ‘Imaad ‘Aql membangkitkan perasaan kemarahan penduduk Palestin. Mereka bangkit melawan pasukan Yahudi sehingga merebak ke seluruh bandar Gaza.

Firman Allah SWT:

“Golongan terdahulu dan awal di kalangan Muhajirin dan Ansar serta orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah redha kepada mereka dan mereka pun redha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lama. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Apa Yang Kita Perjuangkan?

Inilah secebis kisah perjuangan ‘Imaad ‘Aql. Beliau sekadar mengulangi sejarah kesyahidan para sahabat Rasulullah SAW sebelumnya. Beliau mengajarkan kepada kita di era moden ini, kehidupan bukan sekadar bersukaria , duduk bersantai-santai dan bersenang lenang sambil berbicara yang remeh temeh sebagaimana yang dinikmati oleh pemuda Islam hari ini. 'Imaad 'Aql mencontohkan kepada kita karektor jiwa pemuda yang berjiwa besar dan mencintai akhirat. Inilah kebahagiaan sebenar dalam kehidupan. Kehidupan bagi seorang pemuda muslim yang sebenar adalah sama sebagaimana apa yang telah Rasulullah SAW dan para sahabat RA teladankan kepada kita, mempertahankan kesucian Islam. Para pemuda di zaman Rasulullah SAW mempersiapkan diri mereka dengan iman dan taqwa dan segala kekuatan yang dimiliki untuk memperkuatkan Islam.

Peranan dan fungsi kita di era moden ini juga adalah sama sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW, apatah lagi setelah umat kehilangan khilafah Islam pada tahun 1924. Malangnya umat seperti kehilangan jatiditi dan nilai perjuangan. Nilai perjuangan mereka hari ini berkisar sekadar memenuhi keperluan peribadi semata. Sudah ribuan dan jutaan graduan muslim menamatkan pengajian mereka, sudah ribuan ulama, teknokrat dan profesional dilahirkan, namun umat Islam seperti kelemasan dan kehilangan tiang penguatnya. Ke mana perginya mereka ini semua?

Hari ini kita melihat kehidupan kita dan tuntutan Islam terpisah seolah-olah kehidupan kita berada di satu lembah manakala tuntutan perjuangan dakwah dan mempertahankan Islam berada di satu lembah yang lain, Islam berada di suatu lembah manakala umat Islam berada di suatu lembah yang lain. Kesannya, Islam dan umat Islam menjadi sasaran musuh. Ustaz Sa’id Hawwa ada menyatakan:

“Kita dapati Islam dan kaum Muslimin menjadi sasaran musuh luar dan dalam...”

Begitulah berjayanya musuh-musuh Islam khususnya mempengaruhi generasi muda, mengasingkan jiwa umat dengan perjuangan dan tugas asasi kita. Semua ini berpunca dari kelemahan umat memelihara kebersihan Aqidah mereka. Aqidah umat Islam tidak lagi berfungsi akibat pengaruh sistem kehidupan bukan Islam yang mengarah kepada kecintaan dunia semata. Sedangkan da’wah Rasulullah SAW mengajak kepada aqidah yang soheh, hidup dan berfungsi. Aqidah yang menerima Allah SWT sebagai Ilah dan Rabb. Menerima HakimiyyahNya. Menerima Deen-Nya serta mendaulat dan mempertahankannya di sepanjang hayat.

Umat kelihatan seperti telah meninggalkan sebahagian dari tuntutan Al Quran dan mengambil hanya yang disukai oleh hawa nafsu. Firman Allah SWT:

“Apakah kamu beriman dengan sebahagian al-Kitab dan ingkar dengan sebahagian yang lain? Tiadalah balasan orang yang berbuat demikian daripada kamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan di Hari Akhirat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah daripada apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)

Sedangkan hakikatnya kita perlu menghayati dan melaksanakan seluruh tuntutan Islam dalam kehidupan dan tiada pengasingan atau pemisahan dalam mana-mana aspek kehidupan. Firman Allah SWT:

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan syaitan.” (al-Baqarah: 208)

Proses Kembali Matlamat Kehidupan

Mari kita proses kembali matlamat kehidupan kita dengan melaksanakan tarbiyah (didikan) Islamiyah yang benar untuk melahirkan muslim yang serasi dan komited dengan Islam. Muslim yang berkerja untuk Islam sepanjang hayat. Muslim yang memiliki sifat-sifat mahmudah seperti yang dimiliki para sahabat Rasulullah SAW. Muslim yang menjadi rijal dan mujahid yang mukhlis. Muslim yang terikat dengan akhirat. Muslim yang merasai Ukhuwwah Fillah.

Didikan (Tarbiyah) yang dijalankan di atas asas Iman akan melahirkan kesungguhan di dalam kerja-kerja da’wah. Al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna r.a. menyatakan:

“Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam menyampaikan dan memasukkan da’wah di hati sahabat-sahabatnya Generasi Awal ialah menyeru mereka supaya beriman dan beramal. Kemudian dihimpun hati mereka dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan, mereka berhimpun di atas kekuatan aqidah dan kekuatan kesatuan, maka jadilah mereka jamaah contoh yang semestinya terjulang kalimah dan da’wahnya, memperolehi kemenangan walaupun ahli-ahli bumi seluruhnya tidak menyetujui dan menentang mereka.”

Ini barisan muslimin yang bangkit sebagai du’at. Mereka berda’wah kepada keluarga dan masyarakat agar kembali kepada Islam sebagai Deen Allah yang bersifat Kamil dan Mutakamil. Inilah model kita, inilah perjuangan dan halatuju kita, inikah standard dan petunjuk aras (KPI) kita.

Menegakkan kembali Deen Allah SWT adalah amanah Qubra (besar) dan taklif Rabbani. Generasi pemuda yang memilih jalan dakwah dan perjuagan Islam, andalah yang harus memikul amanah dan taklif ini kerana pemuda biasa yang telah menjadikan dunia untuk dicintainya, tidak mampu memikul tugas besar ini. Kehadiran pemuda yang mencintai jalan dakwah ini akan emenguatkan umat kerana kita adalah salah seorang daripada pejuang aqidah yang bertanggungjawab menjaga antara ribuan penjuru-penjuru Islam yang perlu dikawal dan dipertahankan agar musuh tidak dapat menceroboh.

Bersama-samalah kita memikul tugas yang mulia ini. Mengajak masyarakat ke jalan Allah SWT secara jama’i, dengan penuh rasa Ukhuwwah dan dengan mempersaksikan Qudwah Hasanah demi pengabdian kepada Allah SWT.

Medan da’wah dan berkerja untuk Islam (du’at) adalah medan yang Allah SWT muliakan. Begitu juga du’at menjadi mulia di atas medan ini. Du’at hidup dan mati di atasnya. Du’at beristiqamah di atasnya hingga kembali bertemu Allah SWT dalam keadaan mendapat kasih-Nya dan terselamat daripada kemurkaan-Nya.

Ya, kita mengakui kualiti amal dan iman kita masih rendah berbanding dengan ‘Imaad Aql, apatah lagi jika dibandingkan dengan kualiti amal dan iman para sahabat RA. Justeru kita perlu sedar bahawa banyak perkara, kerja dan persiapan yang perlu kita usahakan. Jangan berlemah lagi, jawatan du'at sedia menanti buat para pemuda pemudi rabbani. Ayuh kita langkahkan tapak-tapak suci, lepaskan semua beban dalam diri, raih kemenangan yang hakiki, gapai syurga yang pasti.

Wallahu’alam.

Apa Yang Kita Perjuangkan?


Beberapa orang tentera Yahudi Israel melepaskan berdas-das tembakan ke udara dengan penuh kegembiraan setelah mereka berjaya membunuh dua orang pemuda yang dikehendaki. Kedua pemuda tersebut merupakan komandan batalion ‘Izzudin Al Qassam”. Mereka berdua ialah ‘Imaad Aql berusia 24 tahun dan Khalid Zeir berusia 26 tahun pada saat kesyahidan mereka.

Berapa umur anda saat ini? Apa pekerjaan dan aktiviti anda saat ini? Apakah selari dengan peribadi dan perjuangan kedua mujahid di atas? Atau anda sendiri tidak pernah mengenal identiti mereka?

Mencontohi Amal ‘Imaad Aql

‘Imaad Aql lahir pada 9/6/1971. Namanya ‘Imaad di pilih oleh keluarganya sempena nama panglima Islam yang menentang tentera salib, 'Imaduddin Zanky.

Masjid An Nur adalah medan terbiah keduanya selepas rumahnya sendiri. Tidak sukar mendidik kanak-kanak sepertinya yang terkenal dengan kepintaran dalam pelajaran. Dalam usia seawal 12 tahun, 'Imad sudah didedahkan dengan perjuangan Ikhwanul Muslimin. Apabila tercetusnya Intifadhah (1987), dia mula melibatkan diri terjun ke medan perjuangan bersama rakan-rakannya melastik dan melontarkan batu kearah pasukan tentera Israel yang lengkap bersenjata. Usia muda tidak menjadikannya gerun melihat kedatangan tentera pengganas berkenaan.

Setelah tamat pengajian di peringkat menengah, 'Imad memohon untuk belajar di Maahad Al Amal dalam bidang perubatan. Namun cita-citanya tidak kesampaian kerana beliau ditangkap pada 23/9/1988. Abangnya 'Adil turut ditahan. Makhamah tentera yang membicarakannya menjatuhkan hukuman penjara selama 18 bulan kerana 'kesalahan' terlibat dengan gerakan Hamas menentang rejim Israel. Beliau kemudiannya dibebaskan pada bulan Mac 1990. Tetapi tidak lama. Beberapa ketika selepas itu beliau ditahan lagi kerana dituduh merekrut seorang pemuda untuk menjadi mujahid. Selepas dibebaskan, 'Imad menjadi lebih bersemangat. Dengan siapa saja dia berbual, pasti perbincangannya tidak akan lari dari topik jihad dan syahid. Kisah-kisah Khalid Al Walid, Saifuddin Qutuz, Salahuddin Al-Ayyubi dan Abu Ubaidah Al-Jarrah sentiasa bermain di bibirnya.

Pada Rabu 24 November 1993 di perkampungan Syaja’yyah sebelah utara Gaza, sekitar 200 pasukan tentera Israel lengkap dengan senjata canggih dan kostum anti peluru, diiringi beberapa helicopter tentera dikerahkan unruk mengepung seorang pemuda bernama ‘Imaad ‘Aql. Beliau di”hendaki” Israel kerana telah berjaya membunuh 11 orang tentera Yahudi di samping terlibat dengan usaha menjatuhkan kerajaan haram Israel.

Situasi semakin kritikal. Kedudukan ‘Imaad terancam. Namun beliau tidak gentar. Beliau sempat berbicara kepada 2 orang temannya:

“Inilah saat yang paling tepat untuk menyumbangkan seluruh kemampuan jiwa dan ragaku di jalan jihad, sebuah jalan yang telah aku lalui selama bertahun-tahun, jalan kemuliaan yang menjadi pilihanku sejak kecil. Kematian di jalan ini insyaAllah akan mengantarku ke pintu syurga.”

Ternyata Allah SWT mengabulkan impiannya. Dengan deretan 60 buah kenderaan tentera Israel dan deruan sejumlah helikopter tentera yahudi mengepung beliau, pesta pembantaian oleh musuh-musuh Allah ini tercetus. Mereka begitu dendan dan hasad atas keperwiraan dan keberanian ‘Imaad ‘Aql.

‘Imaad ‘Aql akhirnya syahid. Sekitar 70 peluru bersarang di tubuh badannya, termasuk di bahagian kepala dan wajahnya. Ternyata tenteta-tentera kera itu tidak pernah puas membantai ‘Imaad ‘Aql, mereka merobek dan menghancurkan sisa tubuh perindu syurga Allah itu dengan keji. Bumi Gaza untuk sekian kalinya bermandiakan darah syuhada dan menyaksikan kehebatan, keberanian dan ketinggian iman pahlawan yang bernama ‘Imaad ‘Aql.

Ibunda ‘Imaad ‘Aql mengatakan bahawa beliau tidak mampu mengenali anaknya yang sudah hancur berkeping-keping. Dia hanya mampu memeluk bahagian kaki anaknya sebagai perpisahan terakhir. Lebih dari 5000 pemuda Palestin mengiringi jenazah ‘Imaad ‘Aql saat menuju ke tanah perkuburan al-Manazhir. Kesyahidan ‘Imaad ‘Aql membangkitkan perasaan kemarahan penduduk Palestin. Mereka bangkit melawan pasukan Yahudi sehingga merebak ke seluruh bandar Gaza.

Firman Allah SWT:

“Golongan terdahulu dan awal di kalangan Muhajirin dan Ansar serta orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah redha kepada mereka dan mereka pun redha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lama. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Apa Yang Kita Perjuangkan?

Inilah secebis kisah perjuangan ‘Imaad ‘Aql. Beliau sekadar mengulangi sejarah kesyahidan para sahabat Rasulullah SAW sebelumnya. Beliau mengajarkan kepada kita di era moden ini, kehidupan bukan sekadar bersukaria , duduk bersantai-santai dan bersenang lenang sambil berbicara yang remeh temeh sebagaimana yang dinikmati oleh pemuda Islam hari ini. 'Imaad 'Aql mencontohkan kepada kita karektor jiwa pemuda yang berjiwa besar dan mencintai akhirat. Inilah kebahagiaan sebenar dalam kehidupan. Kehidupan bagi seorang pemuda muslim yang sebenar adalah sama sebagaimana apa yang telah Rasulullah SAW dan para sahabat RA teladankan kepada kita, mempertahankan kesucian Islam. Para pemuda di zaman Rasulullah SAW mempersiapkan diri mereka dengan iman dan taqwa dan segala kekuatan yang dimiliki untuk memperkuatkan Islam.

Peranan dan fungsi kita di era moden ini juga adalah sama sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW, apatah lagi setelah umat kehilangan khilafah Islam pada tahun 1924. Malangnya umat seperti kehilangan jatiditi dan nilai perjuangan. Nilai perjuangan mereka hari ini berkisar sekadar memenuhi keperluan peribadi semata. Sudah ribuan dan jutaan graduan muslim menamatkan pengajian mereka, sudah ribuan ulama, teknokrat dan profesional dilahirkan, namun umat Islam seperti kelemasan dan kehilangan tiang penguatnya. Ke mana perginya mereka ini semua?

Hari ini kita melihat kehidupan kita dan tuntutan Islam terpisah seolah-olah kehidupan kita berada di satu lembah manakala tuntutan perjuangan dakwah dan mempertahankan Islam berada di satu lembah yang lain, Islam berada di suatu lembah manakala umat Islam berada di suatu lembah yang lain. Kesannya, Islam dan umat Islam menjadi sasaran musuh. Ustaz Sa’id Hawwa ada menyatakan:

“Kita dapati Islam dan kaum Muslimin menjadi sasaran musuh luar dan dalam...”

Begitulah berjayanya musuh-musuh Islam khususnya mempengaruhi generasi muda, mengasingkan jiwa umat dengan perjuangan dan tugas asasi kita. Semua ini berpunca dari kelemahan umat memelihara kebersihan Aqidah mereka. Aqidah umat Islam tidak lagi berfungsi akibat pengaruh sistem kehidupan bukan Islam yang mengarah kepada kecintaan dunia semata. Sedangkan da’wah Rasulullah SAW mengajak kepada aqidah yang soheh, hidup dan berfungsi. Aqidah yang menerima Allah SWT sebagai Ilah dan Rabb. Menerima HakimiyyahNya. Menerima Deen-Nya serta mendaulat dan mempertahankannya di sepanjang hayat.

Umat kelihatan seperti telah meninggalkan sebahagian dari tuntutan Al Quran dan mengambil hanya yang disukai oleh hawa nafsu. Firman Allah SWT:

“Apakah kamu beriman dengan sebahagian al-Kitab dan ingkar dengan sebahagian yang lain? Tiadalah balasan orang yang berbuat demikian daripada kamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan di Hari Akhirat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah daripada apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)

Sedangkan hakikatnya kita perlu menghayati dan melaksanakan seluruh tuntutan Islam dalam kehidupan dan tiada pengasingan atau pemisahan dalam mana-mana aspek kehidupan. Firman Allah SWT:

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan syaitan.” (al-Baqarah: 208)

Proses Kembali Matlamat Kehidupan

Mari kita proses kembali matlamat kehidupan kita dengan melaksanakan tarbiyah (didikan) Islamiyah yang benar untuk melahirkan muslim yang serasi dan komited dengan Islam. Muslim yang berkerja untuk Islam sepanjang hayat. Muslim yang memiliki sifat-sifat mahmudah seperti yang dimiliki para sahabat Rasulullah SAW. Muslim yang menjadi rijal dan mujahid yang mukhlis. Muslim yang terikat dengan akhirat. Muslim yang merasai Ukhuwwah Fillah.

Didikan (Tarbiyah) yang dijalankan di atas asas Iman akan melahirkan kesungguhan di dalam kerja-kerja da’wah. Al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna r.a. menyatakan:

“Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam menyampaikan dan memasukkan da’wah di hati sahabat-sahabatnya Generasi Awal ialah menyeru mereka supaya beriman dan beramal. Kemudian dihimpun hati mereka dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan, mereka berhimpun di atas kekuatan aqidah dan kekuatan kesatuan, maka jadilah mereka jamaah contoh yang semestinya terjulang kalimah dan da’wahnya, memperolehi kemenangan walaupun ahli-ahli bumi seluruhnya tidak menyetujui dan menentang mereka.”

Ini barisan muslimin yang bangkit sebagai du’at. Mereka berda’wah kepada keluarga dan masyarakat agar kembali kepada Islam sebagai Deen Allah yang bersifat Kamil dan Mutakamil. Inilah model kita, inilah perjuangan dan halatuju kita, inikah standard dan petunjuk aras (KPI) kita.

Menegakkan kembali Deen Allah SWT adalah amanah Qubra (besar) dan taklif Rabbani. Generasi pemuda yang memilih jalan dakwah dan perjuagan Islam, andalah yang harus memikul amanah dan taklif ini kerana pemuda biasa yang telah menjadikan dunia untuk dicintainya, tidak mampu memikul tugas besar ini. Kehadiran pemuda yang mencintai jalan dakwah ini akan emenguatkan umat kerana kita adalah salah seorang daripada pejuang aqidah yang bertanggungjawab menjaga antara ribuan penjuru-penjuru Islam yang perlu dikawal dan dipertahankan agar musuh tidak dapat menceroboh.

Bersama-samalah kita memikul tugas yang mulia ini. Mengajak masyarakat ke jalan Allah SWT secara jama’i, dengan penuh rasa Ukhuwwah dan dengan mempersaksikan Qudwah Hasanah demi pengabdian kepada Allah SWT.

Medan da’wah dan berkerja untuk Islam (du’at) adalah medan yang Allah SWT muliakan. Begitu juga du’at menjadi mulia di atas medan ini. Du’at hidup dan mati di atasnya. Du’at beristiqamah di atasnya hingga kembali bertemu Allah SWT dalam keadaan mendapat kasih-Nya dan terselamat daripada kemurkaan-Nya.

Ya, kita mengakui kualiti amal dan iman kita masih rendah berbanding dengan ‘Imaad Aql, apatah lagi jika dibandingkan dengan kualiti amal dan iman para sahabat RA. Justeru kita perlu sedar bahawa banyak perkara, kerja dan persiapan yang perlu kita usahakan. Jangan berlemah lagi, jawatan du'at sedia menanti buat para pemuda pemudi rabbani. Ayuh kita langkahkan tapak-tapak suci, lepaskan semua beban dalam diri, raih kemenangan yang hakiki, gapai syurga yang pasti.

Wallahu’alam.

Jom Sertai TeenACE Jun 2013

Pautan Tarbawi ♥

Langitilahi.Com

halaqahmuntijah

HALUANPalestin

Menyumbang Untuk Palestin

Kolej Tarbiyah Dakwah